Smart Patient
Mengupas Rahasia Menjadi Pasien Cerdas
Sinopsis
Tahukah Anda, tidak semua penyakit membutuhkan obat, antibiotik dapat membuat bakteri jahat di dalam tubuh menjadi kuat, dan kejang demam adalah "monster" yang baik hati?

Tahukah juga Anda bahwa sebagai pasien, kita memiliki hak untuk menolak tindakan medis dan mendapatkan penjelasan yang memadai dari dokter?

Beragam fakta mengejutkan seputar kesehatan dan kedokteran, dipaparkan dengan jernih dan tidak berat sebelah di dalam buku ini. Penulis yang juga seorang dokter, mengajak kita mengetahui bagaimana menggunakan obat secara rasional, tidak bersikap panik saat jatuh sakit atau berurusan dengan rumah sakit, bersikap kritis terhadap informasi medis yang banyak beredar, plus aneka tips bermanfaat seputar panduan menjadi pasien cerdas.

Untuk menjadi dokter memang ada sekolahnya, tapi tidak ada sekolah formal untuk menjadi pasien. Karena itu pasien harus punya bekal yang memadai dan buku ini adalah salah satu bekalnya.
Pengantar
Sistem kesehatan di negara kita ini seperti masalah yang tidak jelas ujung pangkalnya. Ganti menteri ganti kebijakan, tapi masalah tetap saja ada. Masalah mendasar yang sering menjadi pangkal sengketa masalah kesehatan adalah hubungan dokter dengan pasien. Sudah cukup banyak pemberitaan mengenai gugatan malpraktek dokter yang penyelesaiannya entah bagaimana, beritanya tidak muncul lagi.

Kasus malpraktek adalah puncak gunung es dari masalah lain yang tidak disadari ada: irrational use of medicine. Singkatnya, pasien mendapatkan obat, tindakan medis, pemeriksaan penunjang bahkan perawatan yang tidak tepat, atau dengan kata lain: tidak diperlukan. Agnes dalam bukunya ini dengan sangat baik mengajak kita untuk menjadi pasien yang cerdas agar terhindar dari irrational use of medicine. Untuk jadi dokter memang ada sekolahnya, meskipun apakah nantinya menjadi dokter yang baik atau tidak, banyak faktor tambahan lain. Sebaliknya, tidak ada sekolah formal untuk menjadi pasien. Karena itu, pasien harus punya bekal supaya bisa menjadi pasien yang baik. Pasien yang baik bukanlah pasien yang menurut dan memasrahkan 100% pada dokter. Pasien yang baik adalah konsumen yang mengerti jelas permasalahan, bisa membantu dokter dalam mengambil keputusan dan menjalankan keputusan tersebut dengan baik. Jadi, pasien adalah partner kerja dokter.

Buku ini saya referensikan untuk menjadi buku pintar cara menjadi pasien yang baik. Ditulis oleh seorang dokter yang sekaligus menjadi konsumen kesehatan, tentu bisa lebih dalam menggali masalah yang ada dari sudut pandang yang lebih lebar.

Pesan Agnes pada saya untuk menyampaikan kritik pada buku ini membuat kening saya berkerut. Maaf Nes, susah! Buat saya buku ini sudah sangaaaat baik. Wajib dibaca oleh semua orang. Semua orang pasti pernah mengalami jadi pasien kan?
Di Balik Buku 'Smart Patient'
Sebelumnya, saya sudah membaca beberapa karya Mbak Agnes Tri Harjaningrum, di antaranya One Gigabyte of Love (tulisan beliau termasuk yang paling saya sukai) dan Family Traveler. Khusus dengan membaca buku terakhir ini (yang juga diterbitkan LPPH), saya semakin memahami gaya menulis beliau. Padat dan detail, sarat kandungan informasi. Rupanya Mbak Agnes menulis selama tiga tahun. Satu lagi bukti bahwa ketergesaan patut dihindari untuk mematangkan karya semaksimal mungkin.

Naskah sepanjang 140-an halaman ini berjudul awal Menjadi Pasien Cerdas. Itu pun sudah mengena bagi saya, relevan dengan isinya dan mengajarkan masyarakat agar tidak .pasrah.. Kasus-kasus yang dipaparkan, sebagaimana dijelaskan oleh penulisnya di muka, menyangkut anak-anak dan penyakit .ringan. yang acap kali menyerang mereka. Saya teringat dialog dalam film seri Family Ties, bahwa pasutri menunggui anaknya demam sebanyak 12 kali dalam setahun.

Buku ini ditulis dengan jujur oleh Mbak Agnes. Beliau tidak segan mengakui, misalnya, bahwa sekalipun dirinya seorang dokter, tak urung diserang panik kala anaknya sakit di Belanda dan dokter tidak memberikan obat apa pun. Secara gamblang diterangkanlah bahaya antibiotik apabila dipandang sebagai .obat wajib. dan tak ubahnya camilan (saking seringnya diminta setiap kali merasa sakit atau demam) serta Sistem Penggunaan Obat Rasional. Benar-benar membuka mata dan perlu dibaca oleh para orangtua di Indonesia.

Dengan blak-blakan pula, Mbak Agnes memaparkan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi pun tidak lantas mudah memahami bahaya konsumsi obat yang semena-mena. Uraian yang tak kalah menarik, bagi saya, menyangkut stigma bahwa dokter yang ramai dikunjungi pasien justru perlu .disangsikan. kesaksamaan cara memeriksanya. Apalagi yang sampai masuk sekali dua-tiga orang. Terngiang kembali cerita saudara yang antre dokter sampai tengah malam dan nomor gilirannya seratus sekian.

Tanpa bermaksud membandingkan secara berlebihan (baca: ambil sisi positifnya, bukan berarti mendewakan), buku ini menjelaskan ketatnya aturan dokter di Belanda. Pasien tidak boleh nyeruduk atau datang dadakan. Kalau dipikir-pikir ini benar juga, bukankah dokter juga manusia dan butuh istirahat? Bila cara kerjanya ngarawu ku siku (ambil sana-sini), dokter akan kelelahan dan tidak dapat menjalankan tugas dengan semestinya. Sikap tegas ini saya coba terapkan dalam pekerjaan, kendati masih dalam skala kecil.

Poin penting lain yang melekat dalam ingatan saya ialah anjuran untuk tidak panik jika anggota keluarga sakit. Beristirahat pun bukan berarti berbaring di tempat tidur sepanjang hari.

Tidak banyak yang saya otak-atik dari naskah ini, selain merapikan beberapa ejaan dan memiringkan sejumlah istilah dalam kalimat .gado-gado. yang dimaklumi mengingat Mbak Agnes bermukim di negeri bunga tulip. Juga meringkas kalimat yang mengandung repetisi dan terlalu majemuk, di samping mengubah sedikit beberapa dialog agar lebih mengindonesia.

Harapan saya, buku Smart Patient dapat bermanfaat bagi banyak orang. BTW, saya yang menulis sinopsis back cover-nya kecuali kalimat terakhir:)

Terima kasih banyak, Mbak Dee dan tim LPPH, karena menorehkan catatan membahagiakan dalam perjalanan kepenyuntingan saya.

[Sumber: Blog Rini Nurul]
Review
Jujur, saya bukan tipe orang yang peduli dengan kesehatan, pemakaian obat, dan hal kedokteran lainnya. Kalau sakit, saya nggak aware, mikirnya paling flu. Kalau harus ke dokter, saya pasti mengharap dokter memberi obat buat saya. Terus, saya paling malas tanya-tanya, buat saya dokter pasti tahu deh. Namun kejadian demi kejadian membuat saya mulai pasang alarm. Kasus seorang rekan yang diberi belasan jenis obat padahal sebenarnya obat yang dibutuhkan hanya beberapa jenis saja, kasus sepupu saya yang salah diagnosis, dan tentu yang cukup heboh ya kasus Prita, adalah beberapa contoh betapa kita (orang Indonesia) sebagian besar memang kurang peduli soal kesehatan dan kedokteran. Sebagai pasien kita cenderung "percaya begitu saja" terhadap dokter. Padahal dokter ya manusia juga.

Nah, baca buku ini benar-benar membuka mata saya tentang bagaimana menjadi pasien yang peduli, aware, dan tentu, cerdas. Banyak fakta-fakta menarik dan bahkan mengejutkan yang disodorkan oleh penulis yang juga seorang dokter. Posisi sebagai dokter sekaligus konsumen kesehatan membuat tuturan penulis tidak subjektif.

Kelebihan lain adalah cara tuturnya yang seperti memoar/kisah, sehingga pembaca merasa dekat.
Endorsements
"Buku ini sangat bagus sekali dan saya referensikan menjadi buku pintar cara menjadi pasien yang baik. Ditulis oleh seorang dokter yang sekaligus menjadi konsumen kesehatan, tentu bisa lebih dalam menggali masalah yang ada dari sudut pandang yang luas." (Endah Cintraresmi, Dokter Spesialis Anak, bekerja di RSAB Harapan Kita, Jakarta)

"Sudah bukan jamannya lagi menyerahkan tanggung jawab kesehatan hanya kepada dokter. Menjadi konsumen kesehatan yang cerdas sudah tidak bisa ditawar lagi agar bisa 'bekerja sama' dengan para dokter dalam mengambil keputusan dan anak terhindar dari tindakan medis yang salah. Banyak sumber yang bisa digunakan sebagai media belajar, salah satunya buku ini." (Samsul Nur Abidin, Karyawan Swasta)
Daftar Isi
I. Buka Mata
1.1 Dimana Salahnya?
1.2 Rational Use of Medicines (RUM)
1.3 Ke Dokter = Dapat Obat?
1.4 Pintar-pintar Memilih Dokter
1.5 'Perselingkuhan' Dokter-Detailer
1.6 Agar Jaman Pre-antibiotik Tak Bangkit
1.7 Kesalahan Medis yang Membuat Miris
1.8 Situasi Sulit Mari Bangkit

II. Pasien Cerdas
2.1 Menjadi Pasien Cerdas, Yuk Mulai dari Sekarang!
2.2 Bingung, Belajar dan Berhasil
2.3 Berinternet Berbekal 'Kompas'
2.4 Second Opinion, Mengapa Perlu?

III. Pedomannya
3.1 Tips untuk Mengurangi Kesalahan Medis
3.2 'Berjabatan' dengan Panik Ketika Anak Sakit
3.3 Mengobati Demam, hanya membuat termometer Happy?
3.4 Penanganan Demam Terkini pada Anak
3.5 Kejang demam, si 'Monster Baik Hati'
3.6 Common Cold, Tak Perlu Membuat Hilang Akal
3.7 Diare? Beri ORT!
3.8 Diare Tak Butuh Obat dan Susu Mahal
3.9 Viral Exantems
Komentar Anda
blog comments powered by Disqus