"Mimpikan mimpi yang menjulang, dan jadilah seperti yang kau mimpikan. Visi yang kau miliki adalah janji seperti apa kau suatu hari nanti, cita-cita yang kau miliki adalah ramalan yang akan kau ungkapkan pada akhirnya"
(James Allen)
Aku suka sekali bermimpi, terutama sejak disini. Mimpi membuat semangatku melambung tinggi. Ya, walaupun kadang mimpi yang tak kesampaian bisa membuat seseorang jatuh ke jurang yang teramat dalam, tapi aku tetap suka bermimpi. Aku percaya dengan ucapan tokoh-tokoh terkenal itu, dan aku hampir tak yakin kalau mimpi bisa membuat orang jatuh. Kalaupun jatuh, rasanya itu hanya sebuah proses untuk memperkuat diri, jalan untuk meraih mimpi, begitu barangkali. Tentu saja hidup memang semua karena Allah. Tapi buatku, Allah membantuku hidup lewat mimpi. Mimpilah yang membuat aku hidup. Hanya dengan mimpi dan bermimpi lah aku bisa menatap hari esok dengan wajah lebih cerah.
Aku bermimpi ingin keliling dunia. I love travelling sooo much. Kata orang bijak, "travelling is en enemy for the judge minded people". Hmm... tuh kan, ada pembenarannya lagi :-). Tapi betul koq, melihat dunia baru membuat pikiran lebih terbuka dan wawasan bertambah sehingga akhirnya membuat seseorang menjadi lebih bijak. Itulah sebabnya aku tetap simpan mimpi itu dalam benakku. Aku tak mau menghilangkannya karena aku memang betul-betul ingin menjelajah dunia. Mimpi ini ada jauh sebelum aku pergi kesini. Tepatnya sejak aku menikah dengan suamiku dan sering jalan-jalan dengannya. Ternyata, sekarang mimpi untuk keliling Eropa sudah terbuka lebar. Padahal dulu betul-betul tak terbayangkan. Jadi, mimpi keliling dunia, kenapa tidak?
Satu hal lagi yang aku mimpikan dari travelling. Ketika anak-anakku sudah cukup besar dan bisa dititipkan nanti, aku ingin honey moon lagi dengan suamiku ke Venesia. Kabarnya, Venesia merupakan salah satu tempat paling romantis di dunia. Wow, kebayang kalau aku bisa kesana berdua suamiku tanpa gangguan anak-anak. Hmm pasti dunia serasa milik berdua, hi hi. Rejuvenate love di tempat seperti itu, mmm...Aku akan selalu memimpikannya...
Mimpi tentang keluarga buatku lain lagi. Bersama suamiku, aku ingin membangun keluarga impian, keluarga spiritual. Inside, spiritual, love, itu jadi motto kami. Bersama-sama mencari 'diri', mengolah spiritualitas ini, kemudian menjadi cinta buat kami dan buat sekitar kami, rahmatanlil'alamin. Aku ingin, anak-anakku kelak, dengan bangga berkata " aku telah mengenal diriku dan juga Tuhanku. Aku telah menjadi diriku sendiri bunda, dengan Allah sebagai pemanduku...". Keluarga yang penuh kehangatan dan cinta. Keluarga yang selalu memaknai setiap detik-detik waktunya. Keluarga yang tak menjadi korban rutinitas dan kehidupan yang terkadang membosankan. Keluarga yang selalu menjadikan setiap hari menjadi baru dan penuh makna. Keluarga seperti ini betul-betul membangun pondasi rumah bagi keluarganya. Bukan hanya mendirikan tenda yang dengan mudah diterpa angin. Tentu saja tak lupa, keluarga seperti itu akan selalu menghubungkan segalanya dengan yang Maha Kuasa. Hmm... andai semua itu bukan hanya mimpi...
Kini, aku sedang 'melepaskan' profesiku sebagai seorang dokter. Apakah selamanya akan begitu? Ah, aku tak mau begitu. Barangkali lebih tepat kalau aku disebut sedang semedi he he, berguru pada alam. Aku adalah wanita dengan segala kelebihan dan kekurangan masa laluku. Semua membentuk, mamahat, dan menjadikan aku seperti hari ini. Aku bukan seorang wanita yang bisa duduk manis, memberikan service memuaskan kepada suami dalam urusan rumah tangga. Jujur saja, setelah menjadi Full Time Mom disini, aku semakin mengenal diriku. Ternyata, aku memang wanita 'pemberontak'. Aku bosan, aku jenuh dengan rutinitas yang itu-itu saja tanpa ada tantangan. Aku punya masa lalu, aku punya karakter, aku cinta pekerjaanku dulu. I'm a woman that have my own live. Aku juga memiliki kehidupan sendiri yang aku ingin menghargainya, menikmatinya. Aku punya mimpi tentang diriku yang tak mungkin dibelenggu begitu saja hanya semata-mata karena kodrat wanita yang memang mengharuskan menjadi pendamping suami. Bukan itu mauku.
Pilihan berada disini aku ambil, tak semata-mata karena nasib, bukan pula lantaran kodrat wanita. Aku disini karena aku punya mimpi tentang sebuah keluarga, tentang impian keliling dunia. Tapi bukan berarti semua itu kemudian mengorbankan mimpi tentang diriku sendiri, oh tidak, aku betul-betul tak mau begitu. Aku mau semuanya. Kemarukkah aku? Hmm boleh-boleh saja bilang begitu. Namun yang pasti, aku ingin semua impianku bisa menjadi nyata. 'My own life' memang sedikit terenggut disini di awal kedatanganku. Tapi betapa bersyukurnya aku diberi seorang suami yang sangat mengerti aku. Perlahan tapi pasti aku mulai membangun lagi mimpi tentang karirku, menikmati dan menghargai diriku sendiri.
Apakah yang kulakukan? Aku menulis. Ya menulis membuatku hidup. Menulis memberikan banyak manfaat dan juga tantangan. Aku bermimpi menjadi penulis, dokter yang penulis tepatnya. Aku bermimpi membuat buku yang bermanfaat suatu hari nanti. Aku juga bermimpi akan melanjutkan studiku sepulang dari sini nanti. Aku ingin menjadi dokter spesialis anak yang juga penulis. Walaupun bukan seorang dokter spesialis anak, namun dokter Faisal Baraas mungkin telah memberiku inspirasi, entahlah...
Aku tak tahu apakah semua itu kelak bisa menjadi nyata. Satu hal yang pasti, semua impian itu membuat hari-hariku disini menjadi tak lagi suram dan membosankan. Aku belajar dan belajar lagi. Aku menulis dan terus menulis. Aku menulis apapun yang bisa dan ingin kutulis. Entah kapan semua ini akan berbuah atau bahkan mungkin tak kunjung berbuah. Tapi aku yakin ada masa dimana pohon yang ditanam akan berbuah. Ada masa dimana mimpi akan terealisasi. Allah pun berkata "Aku adalah seperti persangkaan umatKu". Aku berprasangka baik pada Allah, bahwa Dia akan mewujudkan mimpi itu, dan siapa tahu memang begitu adanya nanti. Wallahualam...
5 Juli 2006
Aku menulis ini sebagai catatan hati sebagai pengingat diri.
Haruskah Aku Membuang Mimpi?
Aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang pediatrician. Kini haruskah aku mencoretnya dari daftar impianku? Buat apa aku memimpikannya lagi? Terlalu banyak yang harus aku korbankan. Bukankah aku bisa membuat impian baru? Baru saja aku membaca kisah yang ditulis oleh seorang sahabatku. Ia menuliskan 'rapot merah' menjadi seorang residen (calon spesialis) di bagian Anak. Melanjutkan spesialisasi di bagian Anak sama saja seperti masuk ke sarang macan. Memasukinya berarti mengabdikan 80-90 % waktu kita untuk rumah sakit. Bukan, bukan hanya terjadi dalam 6 bulan pertama masa penyesuaian, tapi bertahun-tahun! Bayangkan 4 atau 5 tahun hingga usai masa studi, aku hanya punya secuil waktu untuk keluargaku! 'Sarang macan' itu tentu saja rawan perceraian. Tak ada alasan untuk menolak tugas dari senior, bahkan ketika anak sakit sekalipun. Tak heran kalau cukup banyak mangsa berguguran disana, banyak kawan yang mengundurkan diri, nggak sanggup!
Uh membacanya nyaliku betul-betul ciut. Bukankah aku juga pernah bermimpi untuk membangun keluarga spiritual? Aku mulai merajutnya sekarang, dan aku mulai menikmatinya. Akankah semua itu harus kuhentikan ditengah jalan hanya karena impian menjadi seorang dokter anak? Apa yang kucari? Ambisi, karir, aktualisasi diri, atau apa? Tak cukup puaskah aku dengan segala nikmat yang telah Allah berikan padaku sehingga aku rela memasuki sarang macan itu? Aku bisa menulis, aku bisa membuat impian baru, mengambil S2 misalnya, lalu melamar menjadi dosen. Indah kan? Aku masih bisa mengawasi anak-anakku dengan baik. Aku masih bisa kencan dengan suamiku. Kami masih bisa berlibur kapan pun kami mau. Mengapa aku harus mempersulit hidupku dengan masuk sarang macan itu. Belum lagi biayanya selangit.Ah...sudahlah... bulat keputusanku, akan kucoret mimpi menjadi seorang pediatrician itu dari hidupku!
Heei...tunggu...! Mengapa ada suara kecil di sudut hatiku yang menolaknya. "Tidaaak! Jangan! Jangan kau tutup mimpi itu Nes, bukan kau yang berhak menutupnya," begitu bisiknya. Wahai hati yang berbisik, tidak kah kau lihat betapa banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan jika aku masih saja memimpikannya? "Nes, please...tunggu...lupakah kamu, apa tugasmu dan siapakah dirimu sesungguhnya? Jangan mengaku-aku dirimu adalah dirimu, kamu tidak punya hak Nes!"
Glek! Tuhan...maafkan aku....lagi-lagi aku alpa! Bukankah tugasku hanya mengabdi Tuhan? Aku sudah belajar membuang jauh-jauh ambisi itu dari hidupku. Bukan karir, bukan harta, bukan aktualisasi diri, bukan nama yang kucari Tuhan. Hanya Engkau yang kucari, bukankah itu janjiku dulu ketika aku merasakan nikmatnya bersamaMu? Bukankah itu yang selalu kuucapkan dalam setiap sholatku,"Hidupku, matiku, hanya lah untukMu wahai Ilahi Robbi...."
Lalu kemana janji itu? Mengapa aku harus menutup mimpi? Mengapa aku harus khawatir dengan perkawinanku, anak-anakku, hidupku? Bukankah mereka adalah titipanMu? Bagaimana kalau Engkau memang menakdirkan aku untuk menjadi seorang dokter anak?Bukankah kemajuan sebuah bangsa ada ditangan anak-anak yang masih suci itu? Bagaimana kalau Allah ingin agar tanganku nanti bisa membantu membersihkan anak-anak Indonesia dari obat-obatan yang tidak perlu dan mengoptimalkan tumbuh kembang mereka? Bagaimana kalau Dia menugaskan aku untuk ikut mengurai benang kusutnya kesehatan anak di Indonesia?
Halaaah...ge-er nya aku ini, sok kepake! Lha wong sekarang ini pekerjaan yang didepan mata cuma urusan anak di rumah, computer, dan jualan kue gitu lho, koq pake bawa-bawa bangsa segala, ngayal kali ye! Ya Allah barangkali itu memang hanya anganku. Tetapi sungguh… menjadi apapun diriku, kini tak lagi membuat kepalaku berdenyut. Bila aku harus beralih profesi sekalipun, tak bisa lagi bertemu dengan pasien-pasien seperti dulu, aku rela. Dua tahun sudah hingga detik ini, Kau tempa aku dengan begitu banyak pelajaran kehidupan. Muara kebahagiaan adalah Engkau Tuhan. Gelisah, was-was, gundah, dan tangis seketika menjelma kedamaian saat kukembalikan semua padaMu. Hendak menjadi apa diriku bagiku tak lagi penting Tuhan. Hanya satu pintaku, peganglah tanganku selalu, bawalah aku ke jalan yang Kau mau.
Hei, apakah aku gila? Jadi aku masih membuka peluang untuk masuk ke sarang macan itu? Bagaimana dengan anak-anakku, suamiku, keluarga impianku? Dalam jalan pengabdian seharusnya kekhawatiran apapun tak lagi ada. Ketika kupasrahkan hidupku padaNya, seharusnya aku hanya perlu berjalan dan berjalan. Aku tak akan sudi memasuki sarang macan itu bila bukan karena perintahNya. Yang sekarang ingin aku lakukan adalah membuka mata dan hatiku lebar-lebar agar pilihan yang kuambil adalah pilihanNya. Ketika semua dariNya, ketika Dia yang bekerja, bukankah semua yang tiada bisa menjadi ada? Sebesar apapun cintaku pada suami dan anak-anakku, sekuat apa pun aku menjaga mereka, mereka bukanlah milikku. Mengapa tak kutitipkan mereka pada Sang Empunya? Bukankah Ia yang akan mengatur semua?
Jadi mengapa aku harus takut melanjutkan mimpi? Mengapa pula aku harus ngeri kehilangan profesi? Ah itu semua tak berarti, ada yang lebih hakiki, apalagi kalau bukan mengabdi! Hanya satu yang aku takuti, jika aku tak bisa membersihkan hati! Bila itu terjadi, masihkah Ia mau menuntunku dalam mengabdi? Tuhan, ijinkan aku menuliskan semua ini, sekedar untuk mengingatkan diri. Semoga aku tak alpa lagi, bahwa hidup dan matiku hanyalah untukMu wahai Robbi….


















