“Dokter, ada pasien dengan penurunan kesadaran Dok, bisa tolong dilihat dulu Dok?” Yak itulah suguhan hari pertamaku di satu-satunya rumah sakit di kota kecil ini. Aku bergegas berjalan ke bangsal anak yang tampak tua, kusam, dengan beberapa dinding retak dan berjamur di dalamnya. Mataku segera terpaku pada seorang anak lelaki yang sedang terbaring lemah. Usianya 2 tahun, tapi berat-badannya hanya 5 kg, serupa bayi berusia 2 bulan saja. Badannya sudah seperti kulit berbalut tulang. Matanya terpejam. Sungkup oksigen sudah menutupi hidung dan mulutnya, namun nafasnya tetap berat, cepat dan dalam. Pemeriksaan menunjukkan diagnosis kearah radang otak ditambah syok sepsis, sepsis berat dengan multi organ failure, ditambah gizi buruk marasmik pula. Diagnosis ala kadarnya mengingat pemeriksaan penunjang yang sangat minim di kota ini.

“Intubasi, anak ini harus diintubasi segera,” kataku pada dokter jaga dan perawat disana. Intubasi merupakan salah satu prosedur untuk menyelamatkan nyawa, ketika seorang anak tidak lagi mendapat kecukupan oksigen akibat fungsi paru atau otak yang terganggu. Sebuah selang akan dimasukkan ke saluran nafas, kemudian idealnya selang ini akan dihubungkan dengan mesin ventilator, sehingga pernafasan si anak diambil alih oleh mesin. Namun ventilator adalah barang mahal dan langka, bahkan di Jakarta. Apalagi di kota sekecil ini. Jalan keluarnya adalah menggantikan mesin tersebut dengan tangan manusia yang memompa semacam balon pengganti mesin. Dua puluh empat jam memompa, non stop! Jika orangtua tertidur kelelahan dan berhenti memompa, maka berhenti pulalah nafas sang anak. Sehingga, dibutuhkan 2 atau 3 orang pengganti, karena seorang saja tidak mungkin sanggup bertahan memompa 24 jam.

“Ya Dok, tapi pembiayaan mereka masih umum (biaya sendiri). Dan orangtua barangkali keberatan untuk memompa karena tidak ada keluarga lain yang membantu,” jawab perawat. Hmm…Masalah klasik yang juga sering terjadi di Jakarta: biaya dan ketiadaan ventilator.
Orangtua mana yang mau kehilangan anaknya. Orangtua mana yang ingin bilang, “Saya tidak ada uang Dok, biarlah anak saya bernafas seperti ini saja, menunggu ajal tiba.” Uh, sungguh menyakitkan mendengarnya. Namun, itulah yang kerap terjadi, bukan hanya di kota ini, bahkan di kota besar seperti Jakarta, ketika keluarga belum memiliki BPJS atau masih dalam pembiayaan umum.

Akhirnya, setelah rundingan keluarga, seperti sudah kuduga kata-kata itulah yang benar diucapkannya. “Saya pasrah Dokter, tidak ada biaya. Biarlah begini saja.” Huff…Kalau sudah begini caranya, segala cara harus dicoba, siapa tahu keajaiban Tuhan bekerja.”Baiklah, kalau begitu tolong pastikan antibiotik dosis meningitis masuk, berikan mannitol, deksametason, dan topangan apakah disini ada obat topangan untuk jantungnya?” Tanyaku pada perawat. “Ada Dok, tapi kami tidak punya syringe pump (Alat pompa infus yang bisa meneteskan cairan dengan persisi)”. Phff…” Ya sudah kalau begitu berikan yang ada saja,” Kataku akhirnya.

Aku berlalu dari bangsal itu sambil membayangkan wajah ibunya yang berkaca-kaca, yang harus siap menyerahkan anaknya kepada Yang Kuasa dengan segera, akibat ketiadaan alat dan biaya. Anak ini tidak akan bertahan lama, tidak lama lagi, pasti dia sudah tidak ada, batinku.

Hitung-hitungan teori anak ini seharusnya sudah tidak akan tertolong memang. Dengan nafas yang menjelang satu-satu itu, dengan multi organ failure dan infeksi beratnya itu, sungguh rasanya sulit membayangkan anak ini bisa selamat. Namun, keajaiban Tuhan itu memang ada. Ketika aku datang lagi keesokan harinya, dokter jaga dan perawat melaporkan,”Anak itu bangun Dok! Dia sudah bisa membuka mata dan nafas beratnya mulai membaik Dok.” Wow…alhamdulillah…sungguh, keajaiban Tuhan memang ada, mungkin karena kedua orang tuanya yang dengan kuat berdoa.

Tapi laporan berikutnya membuat ketakjubanku segera sirna.” Tapi Dok, keluarganya memutuskan untuk pulang paksa, karena anaknya sudah bangun katanya.”
What? Gubrak! Setengah mati susah payah kami berupaya supaya anak ini sadar lagi supaya sesaknya perlahan pergi, dan ketika si anak baru saja terlihat membaik, pengobatan yang sama sekali belum tuntas itu harus diputus ditengah jalan dengan semena-mena. Grrrh…

Begitulah memang realita. Padahal dia anak satu-satunya. Kakak pertamanya meninggal saat balita. Kakak keduanya pun mengalami nasib yang sama. Entahlah, apa yang ada di benak keluarganya. Mungkin lagi-lagi ketiadaan uang menjadi penghambat segalanya.

Aku hanya bisa mengelus dada. Mengucap syukur karena tidak harus berada dalam posisi serupa. Mengucap syukur karena bisa tinggal di kota dengan segala kelengkapannya.Sungguh, nikmat mana lagi yang bisa didustakan, ketika kita dikaruniai anak-anak yang sehat dan lucu, yang ketika sakit semua obat dan alat tersedia, biayanya juga ada. Karena nyatanya, keberuntungan itu hanya milik sebagian kecil manusia saja. Karena nyatanya, sebagian besar anak-anak Indonesia, terutama yang di pelosok sana, tidak seberuntung anak-anak kita. Maka, nikmat mana lagi yang kamu dustakan.

Ruteng, 16 Januari 2016


Hai. Rindu aku mengetikkan jari jemariku lagi. Berada di pulau nun jauh ini, sendiri lagi, membangkitkan kenangan lama yang tak bisa kulupa.

Dingin yang seketika menyergap dan suasana rumah yang tidak modern ini membuat ingatanku melayang pada sosok lelaki tua di Bordeaux sana, bapak kosku dulu. Bayangan saat aku menjinjing dua koper besar memasuki rumah itu, lalu disambut dengan komunikasi bahasa tarsan karena aku hanya bisa ngomong ‘Je m’appele Agnes’ dan ‘sava bien, merci’, tiba-tiba berkelebat di kepala ini. Tempat kos paling murah yang bisa aku dapatkan saat itu, rumah jadul ala Prancis yang kuno kusam, tidak ber wifi, persis seperti di tempat ini: dingin, jadul, sepi, sendiri. Kesendirian yang sama, saat aku meninggalkan suami dan anak-anakku dulu, kini kualami lagi. Meski kali ini hanya akan sebentar saja, namun semua membuat campur aduk rasa yang sama.

Antara Ruteng dan Bordeaux, sungguh berbeda memang. Namun, ada geliat rasa yang sama. Ketika pagi bersinar cerah, dinginnya udara yang luar biasa segar di Ruteng, lalu membawa ingatanku saat bersepeda dalam segarnya udara Bordeaux. Saat berjalan ke sebuah toko swalayan di Ruteng, membeli barang-barang keseharian, tiba-tiba saja bermunculan di kepalaku deretan toko-toko mungil di Bordeaux, swalayan besarnya, café-café cantiknya. Aaah sungguh aneh. Mengapa ada rasa yang s¬-ama. Begitu pula ketika aku mencari makan. Di Ruteng ini, kebanyakan hanya ada warung-warung pinggir jalan, saat sedang melahap nasi dengan ikan bakar, dengan semena-menanya, berkelebat pula gambaran aku yang sedang membuka kulkas untuk mengambil selembar ikan salmon ditemani roti prancis di kamar kos milik bapak tua itu.

Apanya yang sama? Pergi sekolah meninggalkan keluarga pertama kali, mungkin? Kali ini aku juga menunaikan tugas sekolah, meninggalkan keluarga pertama kali setelah bersama-sama lagi. Sama-sama pergi ke kota kecil yang dingin? Sama-sama kota dengan banyak gereja? Sama sama bertemu dengan keindahan alam? Sama-sama mendapat pengalaman yang menantang? Entahlah… Yang pasti kutemukan lagi sebuah kehidupan tanpa hiruk pikuk kota besar. Kutemukan lagi keramahan asli penduduk sekitar, dan hei! Aku menemukan rasa itu lagi, rasa rindu yang sama untuk merangkai kata-kata lagi. Aku, ingin menulis lagi.

Ah Ruteng, kau memang bukan Bordeaux. Tapi ada getar sama yang kurasa, yang membuatku tak mungkin melupakanmu juga.


Missing December in Diemen

Read More: Lain-lain

Lima bulan berlalu, sejak Diemen ditinggalkan
Dan, ini Desember Kawan.
Kami duduk di sebuah fast food restaurant sambil bilang:
Dulu, jika sedang weekend, kita sering membeli ini di Amsterdam Arena.
Yaa dan rasanya lebih enak. Ini nggak enak, timpal si Sulung.

Dan …dan aku…aku rindu suasana Desember di kota itu, tambahnya.
Aku rindu kerlap kerlip lampu yang menemani dinginnya malam.
Aku rindu memakai jaket tebal
Aku rindu jalan-jalan di Kavelstraat sambil melihat orang-orang lain yang sama-sama bersepatu boot dan berjaket tebal menikmati dingin dan lampu-lampu itu.
Itu cozy banget! Aku rindu semua itu huhuhu….

Keep reading…


Welcome Home

Read More: Cinta dan Puisi

Sepuluh tahun Kawan, bukan waktu yang sebentar.
Tak mudah untuk bilang selamat tinggal.
Terlalu banyak kenangan indah yang tak bisa dilupakan.
Terlalu banyak hal yang dia ajarkan : tentang kemandirian, tentang kerasnya hidup di negeri orang yang mendewasakan, tentang toleransi, tentang kejujuran, tentang peradaban, tentang kemanusiaan, tentang ciptaan Tuhan yang begitu beragam.

Banyak orang bilang, ngapain pulang? Bukankah ia adalah kenyamanan?
Memutuskan pulang itu seperti kau meninggalkan istana yang sudah setengah mati kau bangun lalu kau tinggalkan untuk maju ke medan perang.
Hidupmu kembali bergelombang, bahkan riaknya kadang menyeretmu ke pusaran paling dalam, hingga membuatmu tak mampu lagi berkata-kata selain: Tuhan, hanya Engkau sebaik-baik penolong, tolong aku Tuhan.

Keep reading…