Indahnya Keukenhof

Musim semi begitu cantik, dan romantis tentu saja. Apalagi di taman bunga Keukenhof yang terletak di kota Lisse, Belanda. Setiap bulan April hingga Mei, Keukenhof tak pernah sepi pengunjung. Tujuh juta bunga yang ditanam di area seluas 32 hektar ini betul-betul menyedot pengunjung. Tak hanya tulip, tapi bunga-bunga sepeti narcis, muscari, hyacinth, dafodyl dan beragam bunga lainnya, tertata begitu indah dan menawan.

Kami berangkat bersama rombongan PPI-Groningen, dengan mengendarai bis sewaan. Hari Sabtu, tanggal 23 April 2005, pukul 8.20 pagi dari central Groningen, bis membawa kami pergi ke kota Lisse–kota kecil yang terletak di dekat bandar udara Schippol Amsterdam. Perjalanan yang biasanya memakan waktu 2,5 jam, kali ini molor hingga hampir 4 jam karena kemacetan yang terjadi ketika kami telah mendekati Lisse. Ternyata, hari Sabtu dengan cuaca yang begitu cerah ini tak disia-siakan oleh sebagian besar turis yang ingin mengunjungi Keukenhof. Bis-bis pariwisata dan mobil-mobil pribadi betul-betul menyemut ke arah Keukeunhof.

Pengunjung hari itu luar biasa melimpah, atau memang biasa seperti ini tampaknya, entahlah. Bahkan untuk pergi ke toilet di dekat pintu masuk pun antrian begitu panjang. Kami diberi waktu 5 jam oleh panitia, untuk mengitari seluruh Keukenhof. Pukul 5.00 sore kami harus sudah berkumpul kembali di dalam bis. Hmm, waktu yang teramat singkat untuk mengitari area secantik dan seluas ini.

Setelah menunjukkan ticket–seharga 12,5 Euro untuk dewasa, dan 5,5 Euro bagi anak-anak–kepada penjaga ticket yang memakai jas dan berdasi rapi, kami langsung berpencar dengan kawan-kawan. Pemandangan unik yang pertama menarik hati kami adalah rangkaian bonggol bunga (bulb) yang ditanam dan ditata apik menyerupai wajah ratu Belanda. Di sepanjang jalan, di kanan kiri tampak sekumpulan bunga-bunga indah dan juga taman-taman ala berbagai negara. Bunga tulip yang kami jumpai betul-betul beraneka warna, ada orange, pink, kuning, putih, dan ada juga black tulip lho. Sayangnya kami tak menemukannya karena terbatasnya waktu. Selain tulip, perpaduan bunga muscari biru dan hyacynth pink yang tertata apik, tampak indah pula dipandang.

Kami sempat memasuki sebuah taman yang mirip dengan taman bunga nusantara di Cipanas. Taman tersebut dihiasi dengan kerang-kerang yang disebar sepanjang taman. Anak-anak malah sibuk memunguti kerang-kerang tersebut untuk dibawa pulang. Perjalanan yang cukup membuat kaki pegal ini tak lupa pula kami selingi dengan berfoto ditempat-tempat yang unik dan cantik. Di taman bunga keukenhof tersebar 80 buah patung karya pematung tersohor Belanda. Ada patung berbentuk wajah manusia, patung binatang, dan ada juga 2 buah patung biji di dekat danau, yang dikelilingi bunga, cantik sekali.

Ketika melewati air mancur yang menyembur bergantian, anak-anak senang sekali menyaksikannya. Mereka juga sangat antusias ketika melihat taman bermain untuk anak-anak. Saking banyaknya anak-anak yang ingin bermain, untuk memainkan salah satu permainan pun harus antri. Tepat sekali untuk mengajarkan budaya antri kepada anak-anak. Ada permainan serodotan yang tinggi menjulang, ada tali titian, dan ada pula permainan meluncur dengan katrol yang cukup mendebarkan. Malik dan Lala pun mencobanya. Bunda sempat khawatir sewaktu Malik mencobanya, karena permainan itu sebetulnya untuk anak besar. Tapi ternyata malik berani, walaupun setelah selesai jantungnya berdegup kencang sekali saat bunda memegangnya.

Di dekat taman bermain itu sebetulnya ada maze, tapi karena waktu yang tak memungkinkan, kami melewatkannya. Lalu Malik dan Lala meminta kami untuk melewati jembatan goyang. Wah, mereka betah sekali enjot-enjotan disana. Begitu pula ketika melihat kincir angin, anak-anak meminta untuk memasukinya. Pergi ke tempat seperti ini dengan anak-anak memang tak bisa bergerak cepat. Apalagi kalau ingin memuaskan keingintahuan mereka, waktu 5 jam sungguh tak cukup.

Kami berusaha menjelaskan kepada anak-anak tentang apa yang mereka lihat. Tentang mengapa bunga tulip menjadi kaya warna seperti itu, tentang bonggol, dan juga tentang kincir angin. Tapi, jujur saja, karena persiapan bacaan ayah bunda kurang, jadi tak cukup banyak yang kami sampaikan kepada mereka.

Tempat yang paling cantik adalah di daerah danau. Danau itu dihiasi dengan pohon-pohon rindang di sekelililngnya, juga kelompok-kelompok bunga yang ditata sedemikian rupa. Angsa putih yang cantik juga turut memperindah danau tersebut. Apalagi 2 buah patung bonggol yang terpahat indah di pinggir danau. Semua membuat daerah ini tampak begitu menawan. Sayangnya waktu 5 jam telah hampir habis. Kami menikmati daerah paling indah ini hanya sejenak saja. Padahal Malik dan Lala pun begitu senang berloncat-loncatan di atas bulatan-bulatan papan kayu bak teratai yang terapung di atas air. Hmm…sungguh sayang.

You May Also Like

About the Author: Agnes