Menguasai Bahasa tuk Mewarnai Dunia

“Setahu saya sekolah-sekolah kita, selalu fokus pada rumus, angka, dan rule. Bahkan yang diajarkan di bahasa (Inggris) adalah grammar dan pronounciation. Grammar itu penting, tetapi tanpa keberanian berbicara dan menulis, anak-anak kita tidak akan pergi ke mana-mana. Mereka bahkan bisa menjadi sangat takut berbicara, kala grammar-nya lupa, atau pronounciation-nya salah. Padahal, di dunia internasional keberanian untuk berbicara akan membuka masa depan seseorang. Orang-orang yang beranilah yang akan menguasai dunia. Yaitu berani salah selagi muda, tapi terus belajar mengoreksi diri. Yuk pupuk keberanianmu!”- Rhenald Khasali on Ekonomi Bahasa Inggris

Aku bukan seorang yang piawai dalam belajar bahasa. Belajar bahasa Belanda pernah berbulan-bulan, tapi kemajuannya kaya siput. Belajar bahasa Jerman intensif dalam seminggu pernah, tapi sekarang bablas lupa. Belajar bahasa Prancis dalam 21 jam juga pernah, tapi nasibnya juga sama, yang kuingat hanya ‘Bonjour’ saja.

Menyadari bahwa aku bukanlah seorang yang berbakat dalam menguasai bahasa, cita-citaku hanya satu, aku cuma ingin piawai dalam bahasa Inggris! Menguasai bahasa ini menjadi impianku sejak dulu karena bagiku bahasa Inggris adalah jendela dunia. Tanpa menguasai bahasa ini, aku tak akan bisa kemana-mana seperti yang dibilang pak Rhenald. Dulu sewaktu sebelum sekolah master, aku bisa sih ngomong bahasa Inggris basa-basi, ngobrol ringan sana sini. Tapi itu saja ga cukup, aku ingin menguasai dan jago. Aku ingin melangkah lebih jauh, go internasional dan keliling dunia. Bagaimana mungkin bisa kalau bahasa Inggrisku pas-pasan. Mimpi-mimpi ini jugalah yang membuat aku sangat termotivasi untuk bisa merasakan sekolah di luar negeri. Karena aku yakin dengan sekolah, mau ga mau bahasa Inggrisku dipaksa untuk maju. Aku masih ingat bagaimana aku jungkir balik belajar bahasa yang satu ini demi bisa mendaftar beasiswa. Ujian Toefl harus mengulang sampai 3 kali, setiap hari harus nonton BBC, latihan ngomong sama suami, memaksa baca novel bahasa Inggris, dan belajar menulis essay dalam bahasa Inggris berkali-kali. Pokoknya perjuanganku setengah mati, ya karena itu tadi, otakku memang agak lemah dalam hal bahasa, sehingga usaha dan waktu yang kubutuhkan rasanya harus jauh lebih lama daripada orang lain.

Untungnya, perjuanganku tak sia-sia. Meski setelah selesai sekolah saat ini, bahasa Inggrisku juga masih belepotan disana-sini, at least aku sudah lumayan bisa menulis essay academic (meski grammarnya masih harus dikoreksi berulang-ulang), dan bisa presentasi cukup lancar (meski harus latihan dulu berkali-kali).

Dan entah kenapa sejak kemarin, hariku menjadi abu-abu lagi, ya normal sih, ga mungkin lah hari cerah ceria selalu kan, begitulah alam bekerja. Aku sedang loyo, kehilangan semangat untuk menulis novel impian dan juga jurnal. Setelah membaca-baca requirement untuk menulis jurnal, rasanya terlalu ribet, belum tentu keterima pulak. Kalau pun keterima prosesnya panjaaang dan lama, huf! Aku sempat mikir, apa yang kucari sih, udah lah buat apa nulis jurnal, toh kalo mau kerja di Indo, yang begini-begini ga dibutuhkan. Suamiku terus mengingatkan,”Iya, apa sih yang Mama cari? Mama ga cari apa-apa koq, Cuma dipake aja sama sama Allah, itu yang harus Mama cari, mau dipake apa sama Allah dan harus ikhlas dipake apapun sama Allah.” Duh, diomongin begitu sama suamiku, aku jadi ga enak hati. Akhirnya, karena si loyo masih menggelayuti, aku cuma bisa berdoa,”Ya Allah, tolong tunjukkan, apa tugasku sekarang, sebelum aku pulang forgood ke Indonesia. Kalau memang aku harus menulis, kasih aku semangat dan kasih aku kemudahan Tuhan, pliiis, aku betul-betul sedang di jurang kelesuan.”

Hari ini aku mencoba bangkit, membaca dan mencari-cari semangat dari luar. Tuhan memang maha baik, permohonanku dikabulkan. Aku dipertemukan pada tulisan pak Rhenald Khasali diatas. “Tanpa keberanian berbicara dan menulis, kita tidak akan pergi ke mana-mana.” Kata-kata itu lalu teruus saja terngiang-ngiang di kepalaku. Kalau aku ga mencoba menulis jurnal, dan ga pernah publish, aku ga akan kemana-mana. Dalam dunia akademik, publish jurnal itu modal utama. Dan aku tak ingin hanya menjadi jago kandang saja. “Padahal, di dunia internasional keberanian untuk berbicara akan membuka masa depan seseorang. Orang-orang yang beranilah yang akan menguasai dunia.”

Ya, aku harus berani bicara dalam dunia internasional, setidaknya lewat jurnal, lewat tulisan, agar karyaku dibaca orang. Aku coba lagi mengingat-ingat kata-kata seniorku, bahwa Indonesia itu,’black hole’, jurnal tentang Indonesia dan yang dibuat oleh orang Indonesia masih sangat jarang. Ayolah, bangkit dan mulai menulis. Kalau mau go internasional, ga ada cara lain selain menulis di jurnal, itu yang kuingat juga dari seorang seniorku. Aku mencoba sangat keras untuk menyemangati diri sendiri. Lumayanlah, hari ini lebih baik, keinginan itu kembali muncul, meskipun belum terang benderang.

Paling tidak hari ini aku mendapat semangat lagi untuk membuat anak-anakku jago berbahasa Inggris. Aku teringat saat-saat pertama kuliah tahun lalu di Berlin. Aku dan kebanyakan orang Asia lainnya, jadi jarang bertanya, mengeluarkan pendapat dan ngobrol ngalor ngidul dengan lancar, salah satunya karena terhambat bahasa. Semua memang sudah lulus Toefl, tapi betul kata pak Rhenald, soal ngomong lain cerita, begitu juga soal membaca dan menulis. Kalau ada tugas journal reading, aku harus bangun lebih pagi supaya bisa menyelesaikan bacaan, karena aku sadar, aku butuh waktu lebih lama dari teman-teman untuk membaca jurnal yang bahasanya tingkat tinggi itu. Dan aku selalu memaksa diriku sendiri untuk ngobrol, dan melibatkan diri dalam pembicaraan dengan teman-teman supaya kemampuan bicaraku bisa meningkat.

Kadang, aku iri dengan teman-teman dari India, Africa dan Pakistan, mereka ngomong bahasa Inggris sungguh lancar meskipun logatnya kadang sulit dicerna. Teman dari Africa bilang,”Sejak masuk sekolah SD, di semua sekolah bahkan public, kami harus ngomong bahasa Inggris di sekolah. Kalau ada yang ga ngomong bahasa Inggris, pantatnya dipukul atau di setrap di depan kelas.” Teman dari Pakistan juga mengaminkan,”Iya kami juga di sekolah di paksa untuk ngomong bahasa Inggris, jadi ya sudah terbiasa.” Cerita dari India lain lagi. Temanku si meksiko sampe bilang,”Orang India itu kerjanya bahkan lebih dari 24 jam hehe. Jadi ya lulusan kedokteran di India itu sudah dipersiapkan untuk lulus ujian bisa kerja jadi dokter di US. Bahasa Inggris udah pasti jago, mereka juga harus publish paper dan tes-tes yang diujikan di Amerika mereka udah dipersiapkan. Makanya begitu lulus banyak banget dokter dari India yang bisa langsung ke Amerika.” Hoo gitu ya, aku cuma bisa melongo. Negaraku apa kabar ya, ko rasanya masih sibuk ngomongin korupsi dan artis infotaiment mulu. Huf!

Dan tiba juga suatu masa dimana bahasa Inggris kami orang Asia, dikritik habis-habisan di depan kelas oleh seorang dosen yang tidak disukai semua orang, sebut sama namanya Mr Go. Saat itu kami sedang mempresentasikan outline tesis, satu persatu di depan kelas. Dan beberapa orang Asia termasuk diriku dikritik dengan pedas. “Saya ga ngerti apa yang kamu tulis. Sepertinya kamu harus ikut academic writing. Gimana saya bisa kasih nilai kalau saya ga ngerti apa yang kamu tulis,” katanya dengan sinis. Malah temanku orang Asia lain dikritik lebih pedas lagi sampai nangis di depan banyak orang. Untungnya teman-temanku yang lain sungguh baik hati. Beberapa orang langsung nyata-nyata protes.”Stop, saya ga setuju anda ngomong begitu di depan kelas. Bukankah anda bisa bilang per person di ruangan? Ini sama sekali kritik yang tidak membangun!” protes temanku asal Africa. Dan mereka yang kritis lain juga pada protes. Hebat lah pokoknya, kami jadi merasa solid banget saat itu. Meskipun sampe tempat kos akhirnya aku juga nangis bombay karena sempat merasa desperado dan menjadi orang paling bodoh sedunia.

Belakangan aku baca dari beberapa artikel, ternyata orang Asia memang kerap kesulitan soal bahasa ketika harus sekolah di LN, bukan hanya Indonesia, tapi juga negara sekitarnya. Alasannya karena kita punya akar bahasa yang sangat berbeda. Kita ga kenal artikle, ga kenal plural singular dan lain-lain, jadi sangat wajar kalau bahasa ini jadi masalah. Phfuih saat itu membacanya, aku lega, ternyata aku ga sendirian. Ini memang masalah orang Asia pada umumnya, jadi buat apa merasa menjadi orang paling bodoh sedunia? Kemudian aku bangkit dan terus bangkit, hingga akhirnya sekolahku selesai, bahkan abstractku bisa diterima di congres internasional. Ingin rasanya kutunjukkan pada Mr Go yang jumawa itu. Nih liat, meskipun aku orang Asia, meskipun bahasa Inggrisku pas-pasaan, tapi aku bisa! Hush! Tapi ga boleh punya niat begitu ya, dosa mengotori hati hehe.

Yang jelas dari kejadian itu aku selalu berjanji bahwa apapun yang terjadi, anak-anakku harus bisa menguasai bahasa Inggris. Bukan hanya tahu grammar dan sedikit bicara, tapi bisa bicara dengan lancar, menulis dan berani mengeluarkan ide-idenya. Karena seperti yang dibilang pak Rhenald Khasali,”Tanpa keberanian bicara dan menulis, kita tak akan pergi kemana-mana.” Thanks pak Rhenald, semoga jurnal pertamaku bisa kutulis dan bisa keterima, agar kesempatanku tuk melihat dunia semakin terbuka, bahkan memberi warna? Who knows.

You May Also Like

About the Author: Agnes