Pengabdian Dua Puluh Empat Jam

Seorang kawan meninggal,
disaat usianya belum mencapai empat puluhan.
Sejenak aku terhenyak
Sejenak aku terdiam
Sungguh, umur itu adalah rahasia Tuhan
Aku, kamu dan kita, tinggal menunggu ajal
Tinggal menunggu paluNya diketukkan
Yang entah kapan
Sekarang, besok atau tahun depan

Kematian itu mengingatkan
Akan sejatinya sebuah masa depan
Karena kini, hidup hanyalah kepura-puraan
sandiwara yang hanya sebentar

Namun mengapa, pengingat itu hanya sekedar pengingat
Yang umurnya tak lama
Yang hanya sekejap datang untuk kemudian terbang

Esok kita kembali lupa
Kembali sikut, kembali sikat
Kembali jahat dan berbuat maksiat
Kembali menggores dan menggerus hati orang-orang sekitar
Kembali buas, kembali beringas
mengejar-ngejar harta dan dunia yang begitu seksi nan menggoda

Dan lagi-lagi kita kembali lupa
Bahwa sesungguhnya ibadah kita, hidup dan mati kita
hanyalah UntukNya semata.
Bahwa sesungguhnya di setiap nafas, di setiap denyut nadi manusia,
hanya Dia, hanyalah Dia, Tuhan, yang seharusnya dihadirkan
dalam setiap nafas, dalam setiap detik kehidupan
Bukan uang, bukan pekerjaan, dan bukan pula kekasih tersayang

Wahai Tuhanku,
Tuhan yang Maha menggenggam nyawa,
Tuhan yang Maha menggenggam hati,
Genggamkanlah juga dalam hati-hati ini,
Ingatan tentang kematian,
Ingatan tentang Engkau dalam setiap nafas kami
Dan ingatan tentang sebuah pengabdian, dua puluh empat jam…

Jakarta, 16 February 2013
*Renungan Sabtu Pagi, setelah kehilangan seorang kawan, satu angkatan*

You May Also Like

About the Author: Agnes