Missing December in Diemen

Lima bulan berlalu, sejak Diemen ditinggalkan
Dan, ini Desember Kawan.
Kami duduk di sebuah fast food restaurant sambil bilang:
Dulu, jika sedang weekend, kita sering membeli ini di Amsterdam Arena.
Yaa dan rasanya lebih enak. Ini nggak enak, timpal si Sulung.

Dan …dan aku…aku rindu suasana Desember di kota itu, tambahnya.
Aku rindu kerlap kerlip lampu yang menemani dinginnya malam.
Aku rindu memakai jaket tebal
Aku rindu jalan-jalan di Kavelstraat sambil melihat orang-orang lain yang sama-sama bersepatu boot dan berjaket tebal menikmati dingin dan lampu-lampu itu.
Itu cozy banget! Aku rindu semua itu huhuhu….

Dan..dan aku merindukan suasana pulang kedinginan lalu mandi air hangat dan duduk di bawah penghangat sambil minum susu panas chocomel.

Dan aku rindu sup hangat bikinan ayah, berisi wortel ayam dan seledri, itu enak banget.
Disana bersih, disini toilet umumnya selalu kotor.
Disana ada Albert Heijn, sayuran dan buahnya segar-segar dan murah!
Aku rindu makan buah-buah segar dan sayuran itu!

Disana aku juga selalu bisa kemana-mana sendiri naik tram, naik sepeda.
Yaa!.Aku rindu naik sepeda ke sekolah! Matanya berbinar lalu padam. Dulu aku pikir, enak kalau bisa punya mobil dan ke sekolah tidak perlu naik sepeda, ternyata aku salah besar! Itu sama sekali salah, naik sepeda ke sekolah itu, di jalur khusus sepeda sambil menikmati alam itu jauh jauh lebih menyenangkan! Beneran!
Aaaah…Desember in Diemen..aku rindu!

Suatu saat aku akan kembali kesana, aku mau tinggal di Eropa lagi, katanya.
Tunggu…! Aku…aku juga! Sahut si Bungsu tak mau kalah. Aku lebih suka disana.
Aku bisa kemana-mana sendirian naik sepeda. Jalan bareng teman-teman. Yang paling kurindukan adalah, ketika aku sedang stress, aku bisa melepas semua lelah dan stressku jalan-jalan naik sepeda atau tram ke taman, melihat burung-burung terbang dan binatang-binatang berseliweran atau aku jalan-jalan ke pertokoan dan jajan kue di café sambil membeli minuman. Aaah stressku langsung hilang.

Aku rindu melihat binatang-binatang berseliweran.

Dan aku merindukan dingin. Aku merindukan salju. Aku rindu bermain salju bersama teman-teman. Aku juga rindu kedinginan lalu mandi air hangat dan minum susu chocomel! Itu asik banget!

Dan aku ga suka disini, disini itu rasis. Kalo ada bule semua bilang woow itu bule ganteeng. Kalo ada negro dibilang ih iteeem. Kamu Cina, kamu Islam, kamu Kristen, itu dibedain. Kalo disana, mau kamu Islam, Kristen, Cina, niger, bule semuanya sama, ga ada yang ngata-ngatain, semua sama.

Disini kita ga bisa naik sepeda ke sekolah sendirian, ga bisa naik tram. Dulu aku bahkan bisa pergi ke kota lain sendirian, sama teman-teman! Aku rindu itu!

Mendengar mereka berkata-kata itu kenangan-kenangan ritual kami bertahun-tahun di kota itu berkelebat, berseliweran menyayat hati.

Aku juga…aku juga rindu! Semua yang kalian katakan itu juga persis menyelimuti hatiku.
Ayah? Apa juga rindu?

Iya…Ayah rindu jalan-jalannya, jalan-jalan dalam dingin ditemani hangatnya gemerlap lampu warna-warni, cozy Desember!

Aaah semua begitu indah untuk dikenang. Diemen… we miss you…*Tears..
“Ila sudah janji akan menjemputku di Schippol bersama ayahnya, kalo aku kesana lagi,” kata si bungsu.”
“Dan aku bisa tinggal di rumah Me sahabatku dan jalan-jalan sama dia.” Sahut kakaknya.

Hatiku semakin teriris mendengarnya. Dan tiba-tiba saja terselip sebuah rasa penyesalan, benarkah pilihanku untuk pulang? Aku seolah mencerabut kebahagiaan mereka yang lebih senang berada disana. Apalagi melihat perjalananku yang tak mulus disini yang kadang membuatku ingin berhenti.

But no, suara hati tak pernah bohong. Kami pulang karena suara hati yang memanggil. Demi akidah anak-anak, demi manfaat yang akan jauh lebih banyak. Let’s see, mari menunggu bukti, masihkah ada keajaiban suara hati? Meski penuh duri, aku yakin ada rencana Tuhan yang belum dibukakan. Kami hanya harus bertahan dan bersabar.

Sabar ya Sayang, suatu saat nanti kita akan kembali, mengenang semua keindahan…belum waktunya kini, karena saat ini kita sedang ditugaskan untuk bertahan dan bersabar. Ya bertahan dan bersabar, hingga waktunya datang, ketika rahasia Tuhan dibukakan.

You May Also Like

About the Author: Agnes