Kenapa Buka Kerudung?

Perempuan itu cantik, secantik perempuan padang pasir lainnya. Lipstik dan eye shadow berwarna senada menghias wajahnya. Anting-anting besar yang menggelantung ditelinganya, semakin membuat ia terlihat menawan. Ia berasal dari Irak, negara muslim. Namun mengapa rambut coklat bergelombang miliknya ia biarkan tampak? Tak ada penutup kepala disana. Ah itu biasa. Disini, aku sering berjumpa dengan pendatang perempuan asal Iran, Irak, Turki, Maroko yang tak lagi berkerudung. Padahal di negaranya hijab itu selalu mereka pakai. Kenapa ya? Pertanyaan itu sering mampir di kepalaku. Tapi kesempatan untuk berdialog dengan mereka belum kesampaian, hingga hari kemarin.

“Hoofdoek (kerudung) itu untuk menjaga pandangan orang lain terhadap kita kan,” katanya dengan bahasa campur-campur, Belanda dan Inggris. Ia adalah teman satu kelompokku di Noorderportcollege, tempat sekolah bahasa.Di tempat les bahasa Belanda ini, kami memang sering menggunakan bahasa campur-campur. Maklum, kosa kata bahasa Belanda kami belum terlalu banyak.

Aku hanya mengangguk menyambut pendapatnya. Aku tak ingin berdebat. Aku hanya ingin tahu alasan apa yang ada di benaknya. “Aku juga dulu berkerudung seperti kamu saat tiba disini. Tapi aku punya pengalaman buruk. Sudah lah aku tak ingin menceritakannya. Yang jelas orang-orang Belanda memang sudah membentuk opini negatif terhadap orang-orang yang berkerudung,” lanjutnya lagi.

Yup. Aku setuju dengan pendapat ini. Aku pun beberapa kali mengalami perlakuan tidak enak karena kerudung yang aku pakai. Ya memang tidak semua orang Belanda begitu, yang baik juga banyak. Tapi sudah jamak kalau kerudung, muslim, diidentikkan dengan teroris. Kadang berita-berita di luar sana sungguh memojokkan kaum muslim, tak adil. Ah tapi sudahlah, aku memilih untuk tak bicara soal itu, mengotori hati saja.

Jadi, apa alasannya untuk tak lagi menggunakan tutup kepala? “Disini, kalau kita pakai kerudung, orang-orang malah memandang aneh. Orang-orang bukannya menghindar menatap kita, tapi malah semakin menatap kita. Menatap dengan pandangan tak suka kadang. Jadi esensi kerudung sudah tak bisa lagi dipakai di negara ini. Aku dan teman-temanku akhirnya kebanyakan nggak pake kerudung lagi disini,” jawabnya.

Oh, itu rupanya alasannya, masuk akal memang, walaupun tak masuk ke hatiku hehe. Dia terdiam, tak ingin melanjutkan topik itu lagi. Ganti topik deh. “I’m a dentist in my land, and my man is a dokter,” begitu bahasa campur-campurnya. Suaminya sedang mengambil spesialis radiologi disini. Dan ia ingin bekerja sebagai dokter gigi juga disini. “Aturannya memang sulit, tapi bukan tak mungkin. Kita harus coba kan,” katanya mengakhiri pembicaraan.

Diskusi itu sangat singkat. Tapi rasa penasaran ku tentang mengapa perempuan asal negara-negara muslim tak lagi berkerudung setelah tinggal disini, mulai terjawab. Aku menghargai pendapat mereka. Semua orang tentu berproses dan bertanggung jawab atas pilihan masing-masing. Prosesku pun berbeda. Aku tak bicara hukum syariat berkerudung. Aku bicara manfaat yang kurasakan.

Menurutku, hijab utama yang harus dijaga adalah hati. Dan penutup kepala yang kukenakan ini sangat membantu dalam proses menjaga hati. Walaupun disini orang memandang aneh kepadaku, biarlah. Walaupun kata sebagian orang, kerudung yang kupakai cuma kerudung gaul, biarlah. Yang jelas dengan kerudung ini lah aku berproses menyapu dan menggosok kotoran-kotoran yang mengerak di hatiku. Pembersihan hati yang entah kapan bersihnya. Kerudungku ini pun menjadi saksi prosesku mencari Tuhan. Semoga di suatu masa, pencarianku berujung jua…

You May Also Like

About the Author: Agnes

4 Comments

  1. amiin insya allah nes. ga ada yang tahu hati kita kan selain Dia :)..biarkan aja mungkin ya selentingan nada yang agak ga sesuai dengan melodi lagu kita, dan ga ada salahnya tetap berpikiran positif aja ttg nada nada itu :)..

  2. Iya say, kadang-kadang orang melihat cuma dari fisik ya, apalagi orang melayu hehe. Satu nih nasehat dari pelatihan ESQ yang pingin aku pegang terus, buang jauh-jauh paradigma, prasangka, karena itu betul-betul bisa menutup hati. Semua manusia yang hadir di depan kita adalah guru yang dihadirkan Allah. Duh indah nian kalo aku bisa praktekin itu ya :-) Doain ya say :-)

  3. assalamualaikum…
    saya pribadi merasa prihatin atas kondisi zaman sekarang yang sudah semakin parah,
    mana wanita muslimahnya????
    mudah mudahan saja nanti saya diizinkan bisa ketemu dengan sosok muslimah yang selama ini saya impikan…
    amiiiiieeenn

Comments are closed.