<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agnes Tri Harjaningrum &#187; Books and Writing</title>
	<atom:link href="http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/category/buku/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp</link>
	<description>Mengenal diri, berbagi inspirasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 23:22:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengapa Tak Menulis</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/1315</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/1315#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 10:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta dan Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnes.ismailfahmi.org/wp/?p=1315</guid>
		<description><![CDATA[Nulis? Makhluk apaan tuh?
Ogah ah&#8230;
Ga ada ide!
Ga ada waktu!
Ga ada bakat!
Sulit!
Betulkah begitu?
Coba pikir-pikir dulu.

Menulis itu bisa mengurangi stress dan depresi kata para ahli
Menulis itu membuatmu lebih mengenal diri
Menulis bisa memperkaya hati
Menulis artinya melihat detil kehidupan
Menulis artinya mensyukuri hidup yang telah diberikan
Tak perlu terkenal
Tak perlu titel kebanggaan
Karena menulis sejatinya adalah kegiatan kerakyatan
Menulis hanya membutuhkan kemauan
Menulis dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nulis? Makhluk apaan tuh?<br />
Ogah ah&#8230;<br />
Ga ada ide!<br />
Ga ada waktu!<br />
Ga ada bakat!<br />
Sulit!</p>
<p>Betulkah begitu?<br />
Coba pikir-pikir dulu.</p>
<p><span id="more-1315"></span></p>
<p>Menulis itu bisa mengurangi stress dan depresi kata para ahli<br />
Menulis itu membuatmu lebih mengenal diri<br />
Menulis bisa memperkaya hati<br />
Menulis artinya melihat detil kehidupan<br />
Menulis artinya mensyukuri hidup yang telah diberikan</p>
<p>Tak perlu terkenal<br />
Tak perlu titel kebanggaan<br />
Karena menulis sejatinya adalah kegiatan kerakyatan<br />
Menulis hanya membutuhkan kemauan</p>
<p>Menulis dan menyebarkan<br />
Seperti dua sejoli yang bergandengan<br />
Ilmu yang bermanfaat diturunkan<br />
Amal yang tak terputus sebagai ganjaran</p>
<p>Masihkah tersimpan keengganan?</p>
<p>Ps: Puisi ini kubuat setelah diminta untuk sharing soal manfaat menulis di acara temu darat Salamaa tanggal 12 Juni 2010. Ya sekalian untuk mengingatkan diri sendiri juga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/1315/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My second book: &#8216;Family Traveler&#8217;</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/1022</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/1022#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 07:55:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnes.ismailfahmi.org/wp/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[Finally, my second book, selengkapnya di : http://familytraveler.ismailfahmi.org/


“Sesungguhnya, buku ini kutuliskan sebagai salah satu bentuk syukurku pada Allah, pemilik ragaku. Dia, dengan segala kuasaNya, telah memberi aku kesempatan menjelajahi negeri-negeri orang, yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Menuliskannya, bagiku sama seperti membuat peer (pekerjaan rumah) dari Tuhan.”
Demikian penggalan dari pengantar penulis yang kubuat dalam buku ‘Family [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Finally, my second book, selengkapnya di : <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;73f1e392fe03257a3077df88c43e3509&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://familytraveler.ismailfahmi.org/" target="_blank">http://familytraveler.ismailfahmi.org/</a></p>
<p><a href="http://agnes.ismailfahmi.org/wp/wp-content/uploads/2010/03/Familiy-traveler.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1023" title="Familiy traveler" src="http://agnes.ismailfahmi.org/wp/wp-content/uploads/2010/03/Familiy-traveler-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a></p>
<p><span id="more-1022"></span></p>
<p>“Sesungguhnya, buku ini kutuliskan sebagai salah satu bentuk syukurku pada Allah, pemilik ragaku. Dia, dengan segala kuasaNya, telah memberi aku kesempatan menjelajahi negeri-negeri orang, yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Menuliskannya, bagiku sama seperti membuat peer (pekerjaan rumah) dari Tuhan.”</p>
<p>Demikian penggalan dari pengantar penulis yang kubuat dalam buku ‘Family Traveller’. Sudah lama memang aku ingin menuliskan kisah perjalananku selama traveling di beberapa negara di Eropa dan ketika gayung bersambut, aku selesai menulisnya, aku sungguh lega. Ternyata tak butuh waktu lama, empat bulan setelah naskah kuserahkan pada penerbit, bukunya sudah selesai cetak. “InsyaAllah Jumat ini (5 Maret 2010) udah ada di semua toko buku besar, seperti Gramedia, Gunung agung, TM Bookstore,” kata penerbit. Waah senangnya!</p>
<p>Selasa, tanggal 23 February lalu, tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba aku diwawancara radio Ranesi Belanda, dan akhirnya aku lebih banyak ditanya soal buku ini. Salah satu pertanyaannya menarik,”Apa hubungannya dan apa manfaatnya pengalaman jalan-jalan di Eropa untuk masyarakat Indonesia?” Aku sempat merenung sejenak mengingat apa yang telah kualami dan kutulis. Tapi akhirnya, aku dengan yakin menjawab bahwa buku ini sangat berkaitan dengan masyarakat Indonesia, karena aku menuliskan hikmah dari perjalananku, tips-tips bagi yang mau traveling murah di Eropa, kritik-kritik sosial berkaitan dengan Indonesia, tips agar bisa berlibur dengan fun bersama anak-anak, juga menyimpulkan bahwa kalau yang dicari kebahagiaan, sesungguhnya liburan bersama anak itu tidak harus jauh dari rumah dan mahal. Kalau bisa ya Alhamdulillah tapi kalau enggak….gimana?</p>
<p>Penasaran kan? So, tunggu apa lagi, segera hunting dan selamat membaca bukunya yaa!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/1022/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Make a list of your obsession</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/929</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/929#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 17:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>
		<category><![CDATA[English Corner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnes.ismailfahmi.org/wp/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[“Make a list of your obsession,” said Natalie Goldberg on ‘Writing Down the Bones and I agree with her. Although sometimes, I couldn’t write all of my obsessions, but make a list can make me keep writing. My obsession now is to write in English about everything I want. After writing two short essays, I [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Make a list of your obsession,” said Natalie Goldberg on ‘Writing Down the Bones and I agree with her. Although sometimes, I couldn’t write all of my obsessions, but make a list can make me keep writing. My obsession now is to write in English about everything I want. After writing two short essays, I think it is nice to write about something personal in English because I get a feeling that if I write in this language, just few people will be interested to read my writing (for Indonesian people I mean). Besides, writing personal things in English seem to be more elegant and it won’t make me look ‘naked’.</p>
<p><span id="more-929"></span></p>
<p>Why should you publish your writing then? Why don’t you just keep your writing in your secret diary? Firstly, I want to practice my English of course, and if I just write it in my diary, I would have less motivation to write in  good English. Luckily, I have a private supervisor who is always pleased to correct my work. Who else? My husband of course!  The impact is good. I get a strong motivation to read an English book at least one hour a day to improve my vocabulary. Secondly, I also realize that maybe there are some people out there who have same problems with me and may be they need ‘friends’, who knows. But sorry, I have asked my husband to remove the comments  corner because there are so much spams and sometimes I also don’t have time to answer the comments. Honestly, after the comments corner was off, I feel more comfortable. I feel like I have a place to flee, to hide and I can say anything there to release my feeling. Weird, isn’t it? Whatever, but that is what I feel.</p>
<p>So, back to my obsession, writing in English is one of my way to prepare for my study, actually. I will continue my master degree in English so what will it be if I can’t write in that language. I know that in the university I have to write in a formal way, academic way, and it is very different with writing in a blog like this. But, it doesn’t matter, there must be some advantages if I am used to write this language.</p>
<p>After I write my first article in English ‘Why do I write’, my husband said that I should continue writing in English because my writing is good. He said that I have a talent, I was born to be a writer, and he had a feeling that someday I will write an English book because whatever my language in writing is, it must be good. Ehm…his compliment made me ‘fly’ a bit, but then I said,”Please Honey..don’t dream so high about writing an English book,” Even though several years ago I had ever dream about writing an English book if I can live in an English speaking country, but now, I don’t dare dreaming about that. I know how hard to write a book even in my own languange, besides, finally I still live in the Netherlands, not in an English speaking country.  My obsession to write in English is just for adding my skill. It is nice if we have several skills, isn’t it? And I’m sure, someday I will get an advantage from it.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/929/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Why Do I Write?</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/911</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/911#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 17:39:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Diary Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[English Corner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnes.ismailfahmi.org/wp/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[“Why do I write? Why do I write? Why do I write?,” Just like a bee buzzing around flowers, this question come up to my mind ever and ever again, wherever I am. Yes, Why do I write? Isn’t it odd? I have been writing for several years, but I never ask this question, this [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Why do I write? Why do I write? Why do I write?,” Just like a bee buzzing around flowers, this question come up to my mind ever and ever again, wherever I am. Yes, Why do I write? Isn’t it odd? I have been writing for several years, but I never ask this question, this fundamental question. This question keep bothering me since somebody suggested me to ask my self about it.</p>
<p>Then, in a lovely evening, when my children was playing around me and my husband was working in his ‘laboratory’, I took a deep breath, lied in my bed, pondered to answer this question deeply. I tried to look for the answer, but my mind just kept silent and my heart didn’t give any signal even one clue. I waited and waited, hoping the answer would pop up in my mind, but useless. I felt bad and tired. Oh God, why is it so difficult to answer the question?</p>
<p><span id="more-911"></span></p>
<p>“Why do you think I write?” I asked my husband suddenly. “Hmm..good question,” He said. His warm eyes stared at me for a second and then he continued,” Who else will write about medical problems if not you.  How many doctors who write compare to million doctors in Indonesia? How many books are written by doctors? Our country still needs a lot of books, even though there are some similar books, more books, hundred books, thousand books are still needed. You have a talent, a chance, you have to be the one who write, like or dislike. That is your destiny!”</p>
<p>What? Destiny? I woke up and looked at him. “How dare you said about destiny. I never have a dream to be a writer, I want to be a doctor! You know how hard to write a book and sometimes I even want to cry and scream as hard as I can when I stuck, didn’t know what I had to write. I’m struggling with my self, collecting spirit to continue writing my unfinished book. That’s why I need several years to write it, several years Honey! You know it” I got upset.</p>
<p>“Of course I know, but that is your destiny, believe me,” my husband murmured.</p>
<p>Oh Nooooo! Please don’t! I don’t want to be a writer! Sometimes,  my heart screamed and made an affirmation that I don’t like writing and don’t want to be a writer. There was a time when I falled in love with writing and there was also a time when I hated writing. But, maybe my husband is right, I don’t know. The more I run, the more ‘universe conspire’ to make writing become closer to me.</p>
<p>When I falled in love with writing, I was very happy knowing that writing can make us healthier, younger and reduce wrinkle, according to Fatima Mernissi, a famous woman writer. I was also glad when Dr Pennebaker, a researcher, said that writing can reduce stress, solve problems, clear our mind and increase our knowledge. But, when I hated writing, I didn’t want to write at all for months, for years. I didn’t touch my diary, I even felt pain in my heart when I heard about writing. It was weird, indeed. But, I really have experienced a feeling as I was fly in the sky but then falled down to the deepest part of the earth.</p>
<p>So, when ‘universe conspire’ to make writing become closer to me, I feel like stand up in the middle of a tiny bridge that has no handle. If I don’t go away through the bridge, I will fall down to the left or to the right of the river. I’m in the middle of nowhere, looking for a light that can make me go through the bridge. That’s why  it was so difficult for me to answer question,’why do I write.’</p>
<p>Several weeks ago, I read someone&#8217;s article about his dream to be a writer. He had read tremendous books, wrote several articles and hoping  a publisher could publish his works. He really wanted to be a writer but he hadn’t got a chance yet. Reading his dream touched me a lot that time. His writing gave me a strong message,”Look, somebody out there really wants to be a writer and look at you now, you even didn’t do anything to achieve it, universe has opened the chance for you, just like that.” Oh, I feel so ungrateful. I do apologize to God because of my thankless.</p>
<p>Now, after reading several resources looking for the answer, I understand that writing is not about destiny (even though somewhat true), writing is about a choice! There is no doubt anymore about the advantages of writing, either for ourselves or the reader. But, whoever you are, you can be a writer, you don&#8217;t have to be talented, you can choose to be a writer with your own reason.Become a writer doesn’t mean you have to publish books or articles in the newspaper. If we can publish our books and become famous that is just the side effect. But actually, writing is about a choice and spiritual activities for ourselves.</p>
<p>Thinking a lot about that recently make me realize that for me now, writing is not only a way to express my feeling, to speak, to spread my idea, to increase my knowledge, to keep my brain healthy, to keep me younger than my age, but also to appreciate my live, to live twice, to enjoy my live in detail, to know my selves deeply and to to be grateful with my wonderful life. So, when you ask me now ‘why do I write’? I can answer it surely that I write because it is my choice to be grateful to have a wonderful life!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/911/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Listen a lot, Memanusiakan Anak dan Bermimpi</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/897</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/897#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 18:45:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Diary Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing Teman]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnes.ismailfahmi.org/wp/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[“Read a lot, listen a lot, and write a lot,” tips penting dari Natalie Goldberg dalam bukunya ‘ Writing Down the Bones’ itu kucatat dan kurekam baik-baik dalam memoriku.Seorang yang ingin menulis atau menjadi penulis, tidak bisa menganggap sepele ‘listen a lot,’ with all of  your body. Sering kita ngobrol ngalor ngidul dengan siapapun atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Read a lot, listen a lot, and write a lot</em>,” tips penting dari Natalie Goldberg dalam bukunya ‘ Writing Down the Bones’ itu kucatat dan kurekam baik-baik dalam memoriku.Seorang yang ingin menulis atau menjadi penulis, tidak bisa menganggap sepele ‘<em>listen a lot,’ with all of  your body</em>. Sering kita ngobrol ngalor ngidul dengan siapapun atau jalan-jalan ke suatu tempat, tapi kalau kita tak berusaha mendengar dengan seluruh indra kita, banyak hal yang kemudian terabaikan dan terlupa.</p>
<p><span id="more-897"></span>Sejak ingat tips itu, aku lalu merenung-renung, apakah aku selama ini sudah melakukannya? Kadang ya kadang tidak, aku sadar, aku harus lebih mengasahnya lagi. Namun soal ‘<em>listen a lot’</em>, aku rasa, sejak aku mulai tertarik dengan dunia tulis menulis, tanpa sadar, ketika ada hal-hal menarik untuk dicatat, otakku sudah langsung ingin merekamnya baik-baik. Kalau aku beruntung, aku akan mencatatnya dalam diariku, lalu hal menarik itu akan menjadi sebuah tulisan, namun kalau tidak tercatat, kejadian menarik itu lalu hanya tinggal kenangan. Herannya, kalau kejadian itu sungguh menarik, kadang meski aku malas mencatat, ada dorongan yang menarik-narikku untuk menulisnya. Meski waktu terus berjalan ditelan kesibukan,  beberapa bulan kemudian dorongan itu tiba-tiba muncul lagi. Aku kemudian sangat ingin menuliskannya, merecall semua memory tentangnya dan akhirnya jadilah sebuah tulisan. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi barangkali, ketika kita sudah meniatkan dan ‘mengajak’ tubuh kita untuk ‘<em>listen a lot’. </em></p>
<p>Kemarin, saat di perjalanan pulang dari Zootermer ke Diemen, kawan baikku yang seorang perawat dengan senang hati mengantarkan aku pulang. Sepanjang jalan kami ngobrol banyak hal. Aku lalu bertanya di mana dia bekerja.”Aku kerja di RS St. Lucas, di bagian anak,” Jawabnya. Tiba-tiba saja barisan kata-kata Natalie Goldberg soal ‘listen a lot’ langsung muncul di kepalaku. Seperti seorang bos menyuruh sekretarisnya untuk mencatat, otakku seperti berkata padaku,”Ayo, dengarkan dan catat baik-baik!” Dan inilah hasil <em>‘Listen a lot’</em> ku kemarin dengan kawan perawatku itu.</p>
<p>Sejak punya anak, aku sangat <em>concern</em> pada dunia anak-anak. Herannya, kehidupanku di Belanda pun membuat aku bertemu dengan beberapa wanita hebat yang urusannya tak jauh dari seputar anak. Mereka telah menginspirasi aku, mengobarkan semangatku sehingga mimpi-mimpiku yang semula sudah kukubur dalam-dalam kembali bangkit. Karena itu lah pendengaranku menjadi lebih sensitif ketika seseorang menyebut tentang permasalahan seputar anak. Mungkin itu pula sebabnya, saat temanku itu bilang bahwa ia bekerja di bagian anak, aku jadi langsung alert.</p>
<p>Alhamdulillah, anak-anakku belum pernah punya pengalaman dirawat inap di rumah sakit di Belanda, jadi aku tak memiliki gambaran seperti apa perawatan bagi anak-anak sakit di Belanda.  Yang kutahu, dulu ketika kaki putriku masuk ke jari-jari sepeda dan perlu di gips, dokter dan perawatnya sangat ramah padanya. Sebelum di gips, perawat menjelaskan padanya apa saja yang akan dilakukan dokter pada kakinya. Lalu, setelah di gips dan pulang, ia boleh memilih hadiah, hadiahnya saat itu adalah boneka rusa yang lucu. Dan setelah perawatan selesai, lalu gips dicopot, anakku pun mendapat diploma gips! Wah tentu saja dia senang bukan kepalang. Oya, saat hendak digips, putriku juga boleh memilih warna gipsnya, ada merah, putih, biru, hijau, sayangnya waktu itu tidak ada pink, jadi putriku pilih warna merah.</p>
<p>Begitu juga saat anak bungsuku (4 tahun usianya kala itu) tangannya kejepit pintu. Sebelum di rontgen, dia boleh memilih sticker dan kertas mewarnai. Setelah selesai di perban (karena alhamdulillah ga ada yang patah), dia boleh memilih hadiah boneka lucu juga. Pokoknya pulang dari rumah sakit, anak-anakku bahagia banget karena mendapat hadiah dari rumah sakit.</p>
<p>Tapi ternyata itu belum seberapa, karena menurut kawanku yang perawat tadi, anak-anak yang di rawat berhari-hari biasanya setelah dirawat bahkan tak mau pulang ke rumah! Haa? Koq bisa? “Ya gimana enggak, wong di rumah sakit semua mainan disediain. Ada Wii, ada play stasion, game komputer, TV dan bahkan setiap setelah mendapat tindakan mereka dapat satu hadiah. Setelah di ambil darah dapat hadiah, setelah dilakukan sonde, diinfus, diambil darah lagi, ya dapat hadiah lagi. Jadi pulang dari rumah sakit, anak-anak itu bisa membawa sekarung hadiah!” Wow! Cuma kata itu yang bisa keluar dari mulutku.</p>
<p>Anak-anak yang sakit itu sangat dimanusiakan. Di setiap ruang kamar bahkan ada 2 orang pedagogish werker (ahli pedagogi) yang khusus menangani masalah psikologis anak. Sebelum di infus misalnya, si pedagogis ini akan memberikan gambar-gambar dan penjelasan pada si anak apa saja yang akan dilakukan dokter nanti padanya.”Kamu akan diinfus. Nanti jarum dan selang ini akan dimasukkan ke tubuhmu, supaya kamu ga dehidrasi. Itu memang sakit, tapi hanya sebentar, tapi tubuh kamu memerlukannya,” begitu kira-kira penjelasan sang ahli pedagogi.</p>
<p>Jadi, anak sama sekali tidak dibohongi. Karena memang disuntik sakit ya akan dibilang sakit. Anak-anak pun pastinya takut ada yang menangis, tapi itu bukan alasan untuk lantas boleh membohongi mereka. Akan lebih menyakitkan bagi mereka bila mereka dibohongi. Jadi mereka tetap diberi penjelasan sebelum dilakukan tindakan. “Dari umur berapa Mba, anak-anak itu diberi penjelasan?” tanyaku penasaran. “Ya sejak mereka bisa ngomong,” jawab si Mba. “Kalau anaknya masih bayi, orangtuanya yang dipanggil dan diberi penjelasan.”</p>
<p>Oya, disini perawat tidak boleh pasang infus, pasang infus adalah pekerjaan dokter. &#8220;Di Belanda itu pekerjaan perawat dan dokter lebih jelas, kalau di Indonesia dulu, menurutku ga terlalu jelas pembagiannya,&#8221; jelas temanku. Asyiknya lagi, orangtua-orangtua ini diberi pilihan, mau melihat anaknya saat diinfus atau tidak. Dan dokter yang menginfus hanya boleh diberi kesempatan dua kali. Setelah dua kali gagal, harus dokter lain atau supervisornya yang menggantikannya, kasihan kan kalau anak ditusuk-tusuk dan gagal terus.</p>
<p>Hmm…mendengarnya, aku langsung teringat rumah sakit-rumah sakit di Indonesia. Aku dengar, sekarang sudah ada rumah sakit-rumah sakit swasta yang memberikan pelayanan oke, meski bayarnya selangit, dan tentu saja hanya anak-anak kalangan ‘the have’ yang bisa merasakannya. Sementara disini, semua anak mendapatkan perlakuan yang sama, karena setiap warga memang wajib ikut asuransi kesehatan. Jadi kuncinya memang ada di asuransi kesehatan. Tapi kalau ngomongin asuransi kesehatan di Indonesia, kepalaku jadi senut-senut. Aku lebih baik bermimpi, agar suatu saat anak-anak yang sakit di Indonesia juga bisa mendapatkan perlakuan yang layak dari orang dewasa di sekitarnya.</p>
<p>Pesan dari ‘Listen a lot’ ku hari itu memang singkat, tapi membuat semangatku menguat untuk mengejar mimpi-mimpiku. ‘Listen a lot’ dan tetaplah bermimpi, itu lah pelajaran besar bagiku dari obrolanku dengan temanku hari itu. “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu,” kata Aray dalam buku Sang Pemimpi. Dan semoga Tuhan berkenan memeluk mimpi-mimpiku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/897/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Book Review, ‘Catatan Cinta Sang Istri’ karya Meidya Derni</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/879</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/879#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 11:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnes.ismailfahmi.org/wp/?p=879</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama aku dikirimi buku ini langsung oleh penulisnya dari Amerika, wah seneng banget dong (makasih ya mba Me), tapi baru kali ini aku sempat bikin reviewnya.
Buku ini mengisahkan pengalaman pribadi penulis dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang seperti naik roller coaster, kata penulis. Yang menarik, penulis bukan hanya mengisahkan perjuangan beratnya, suka dukanya melalui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama aku dikirimi buku ini langsung oleh penulisnya dari Amerika, wah seneng banget dong (makasih ya mba Me), tapi baru kali ini aku sempat bikin reviewnya.</p>
<p>Buku ini mengisahkan pengalaman pribadi penulis dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang seperti naik roller coaster, kata penulis. Yang menarik, penulis bukan hanya mengisahkan perjuangan beratnya, suka dukanya melalui pernikahan tahun-tahun pertama, tapi juga ada quote-quote penyemangat, serta tips-tips praktis yang bisa diterapkan untuk menjadi orang yang lebih baik dan mencapai kebahagiaan keluarga.<br />
<span id="more-879"></span><br />
Membaca buku ini serasa membaca pengalaman pribadiku sendiri. Ada bagian-bagian yang membuatku merasa ‘gue banget’ saat penulis menceritakan perjuangan hidup di luar negeri, menemani suami yang sedang studi dengan gaji pas-pasan, dengan dua orang anak masih kecil-kecil pula. Ditambah lagi sebelumnya penulis tidak bisa masak, terbiasa hidup enak di Indonesia, terbiasa aktif, punya penghasilan sendiri, persis seperti yang kualami. Namun tentu saja, pengalaman penulis yang menikah tanpa pacaran sebelumnya, dan baru mengenal pasangan setelah di boyong suami ke Amerika, sungguh sebuah perjuangan berat yang aku tidak mengalaminya. Jadi boleh dibilang, perjuangan penulis dobel-dobel disini. Hidup di luar negeri saja sudah berat, apalagi baru memulai adaptasi dengan pasangan ditambah dengan cobaan-cobaan yang datang bertubi-tubi, wah!</p>
<p>Namun, hebatnya, penulis bisa mengambil pelajaran dari setiap jeritan hati dan penderitaan yang ia rasakan sehingga malah menghasilkan tips-tips berharga. Menikah adalah sebuah jenjang dalam kehidupan seseorang yang memang membawa perubahan luar biasa. Ketika perbedaan dengan pasangan begitu terasa, seringnya pernikahan bukannya membawa bahagia tapi malah petaka. Di buku ini, penulis menceritakan bagaimana perjuangannya berdamai dengan perbedaan hingga bisa menciptakan keluarga yang harmonis dan bahagia. Buku ini sungguh layak dibaca oleh siapa saja, yang belum menikah, hendak menikah maupun yang sudah menikah. Banyak cerita dan tips bermanfaat yang membuat kita tergoda untuk melaksanakannya. Banyak pula tebaran hikmah yang membuat kita merasa malu bila tidak menjadi orang yang bersyukur. </p>
<p>11 February 2010</p>
<p>Dedicated to mba Me, sang wanita tangguh…<br />
Teruslah berkarya dan menebar wangi bunga dimana-mana mba!  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/879/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cooking with Love â€“ A tribute to Bunda Inong Alm</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/555</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/555#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 23:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>
		<category><![CDATA[inong]]></category>
		<category><![CDATA[Resep]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[ <a href=http://web.me.com/pinot/cookinglove/video.html>video CWL</a>

Aku hanya mengenalnya di dunia maya. Dan aku memang hanya sejenak bertegur sapa dengannya. Tapi ketika mendengar dia tiada, hatiku seperti terbelah dua. Tiba-tiba saja air mataku menggenang di pelupuk mata. Tak henti aku membaca kisah detik-detik terakhir hidupnya, dan tak henti pula aku menyusut bulir-bulir air di sudut mata. Dia perempuan biasa yang luar biasa. Kehadirannya menjadi inspirasi bagi para ibu-ibu muda. Karena dia, banyak ibu-ibu muda tiba-tiba sembuh dari sakitnya. Haa? Sakit apa rupanya? Sakit alergi, alergi masuk dapur! Termasuk aku salah satunya.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agnes.ismailfahmi.org/wp/wp-content/uploads/2008/11/cooking-with-love-book-banner.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-569" title="cooking-with-love-book-banner" src="http://agnes.ismailfahmi.org/wp/wp-content/uploads/2008/11/cooking-with-love-book-banner-285x300.jpg" alt="" width="285" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/apKuJTshSsQ&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;hl=en&amp;fs=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/apKuJTshSsQ&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;hl=en&amp;fs=1" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Aku hanya mengenalnya di dunia maya. Dan aku memang hanya sejenak bertegur sapa dengannya. Tapi ketika mendengar dia tiada, hatiku seperti terbelah dua. Tiba-tiba saja air mataku menggenang di pelupuk mata. Tak henti aku membaca kisah detik-detik terakhir hidupnya, dan tak henti pula aku menyusut bulir-bulir air di sudut mata. Dia perempuan biasa yang luar biasa. Kehadirannya menjadi inspirasi bagi para ibu-ibu muda. Karena dia, banyak ibu-ibu muda tiba-tiba sembuh dari sakitnya. Haa? Sakit apa rupanya? Sakit alergi, alergi masuk dapur! Termasuk aku salah satunya.<br />
<span id="more-555"></span><br />
Bunda Inong, begitu ia biasa disapa. Aku mengenalnya tak sengaja pada tahun dua ribu lima. Saat itu aku sedang  blog walking dan melihat-lihat blog nya. Foto dirinya dan keluarganya terpampang disana. Tiba-tiba saja suamiku yang berada di sebelahku berkata,â€Rasanya aku kenal dengan suaminya. Itu kan Haris, teman seangkatanku waktu di elektro sembilan dua.â€</p>
<p>Tak lama, aku pun meninggalkan â€˜jejakâ€™ dalam blog nya. Aku bertanya soal suaminya dan menitipkan salam dari suamiku kepada suaminya.  Dalam blog milikku ketika itu, tercatat balasan darinya:</p>
<blockquote><p>â€œSunday 05 June &#8211; 2005&amp;time=2:33:29 am:<br />
Mbak Agnes, makasih ya udah mampir di blog kami, eh rupanya para ayah sudah saling kenal sejak lama, salam balik dari ayahnya anak2..â€</p></blockquote>
<p><!--more--></p>
<p>Sejak itu aku mulai tertarik mengamati sosoknya. Bagiku, banyak persamaan diantara kami rasanya. Usia kami hampir sama dan kami sama-sama punya suami alumni elektro angkatan sembilan dua. Selain itu, kami sama-sama menemani suami kami tinggal di luar Indonesia. Jumlah anak kami pun sama, malah sama-sama sepasang pula. Bedanya, dia begitu piawai mengelola dapurnya. Dia suka menjual kue-kue buatannya  dan bahkan membuat komunitas memasak dalam milis â€˜Dapur Bundaâ€™. Sedangkan aku? Hmmâ€¦memasak  untuk keluargaku saja, aku masih terbata-bata.</p>
<p>Melihat resep-resep masakan dalam blog nya aku menjadi tergoda. Kalau dia bisa, mengapa aku tak bisa? Dan aku pun lalu kerap masuk dalam blognya, untuk mencotek resep-resep masakannya dan berkonsultasi tentu saja. Dari tulisan-tulisannya, aku bisa menangkap sosoknya yang hangat dan ramah. Dia rajin bertegur sapa dengan sesama blogger. Dia pun pernah mengunjungi blog milikku dan meninggalkan dua buah pesan disana. Pesan pertama darinya tercatat dalam salah satu tulisanku yang berjudul â€˜Resep Fuyunghai Nyontek.â€ Saat itu aku bercerita tentang resep fuyunghai  yang aku contek dari penjual pujasera di Bandung. Dia mengomentari tulisanku dengan kocaknya.</p>
<blockquote><p>â€œinong said,</p>
<p>Thu, 2005-09-22 14:49</p>
<p>wah jangan2 pujaseranya bangkrut karena banyak yang ikutan nyontek resep..ihihihihihihâ€</p>
<p>Pesan kedua ada dalam resep bakso yang aku buat. Duh..betapa tersanjungnya aku saat itu karena resepku â€˜diintipâ€™ sang pakar.</p>
<p>â€œinong said,</p>
<p>Thu, 2005-09-22 14:46</p>
<p>mbak Agnes, saya boleh pinjem resepnya ya, mo dicoba di rumah, kalau sukses ntar saya cerita2,&#8230;. boleh ya? makasih..</p>
<p>salam<br />
inongâ€</p></blockquote>
<p>Tak banyak memang pesan-pesan yang ia tinggalkan dalam blog milikku. Setelah itu aku pun jarang kontak-kontakan lagi dengannya, walaupun aku tetap menjadi pembaca dan pencontek setia blog resep-resepnya. Tapi herannya, kabar duka yang datang tiba-tiba saat itu membuat tidurku tak nyenyak dua malam. Kami memang tak pernah bertemu muka. Kami memang hanya bersapa sejenak saja. Namun kehilangan dia seperti kehilangan sahabat lama. Seorang sahabat, yang telah memberiku semangat untuk bisa memasak apa saja. Dari kisah-kisah dalam blog resep miliknya, satu pesan yang kutangkap disana. â€˜ Memasak apa pun menjadi mudah, asalkan dibuat dengan penuh cinta.â€™</p>
<p>Karena itulah ketika dua tahun lalu ada tawaran menjadi volunteer dalam â€˜proyek cinta untuk Bunda Inongâ€™ untuk mengenang kepergiannya, aku langsung mendaftarkan diri. Lama tak kudengar kabar tentang proyek buku resep itu. Tak tahunya, akhir bulan Juli lalu, aku mendapat email seperti ini dari Wiwit:</p>
<p>â€œDear mbak2 yang cantik, baik hati &amp; pintar memasak,<br />
Sebagian dari mbak2 mungkin sudah melihat pengumuman yang saya buat tentang volunteer terpilih dalam buku resep Bunda Inong disini</p>
<p>Bagi yang belum membaca, saya persilahkan untuk membaca jurnal tsb :)<br />
Sekali lagi kami, selaku penyusun mengucapkan selamat kepada mbak-mbak yang terpilih dan terima kasih atas partisipasinya. â€œ</p>
<p>Saat itu aku masih belum â€˜ngehâ€™ karena dua tahun bukan waktu yang sebentar. Lalu aku pun meluncur ke taut yang diberikan oleh Wiwit. Ternyata..oh ternyataâ€¦betapa girangnya hatiku, aku terpilih jadi volunteer untuk buku â€˜Cooking With Loveâ€™(CWL) â€“ A tribute to Bunda Inong Almh! Wah..tentu saja aku senang karena ternyata dari sekian banyak volunteer yang mendaftar hanya terpilih 20 orang saja.  Dan namaku akan masuk dalam sebuah buku resep, bareng dengan para koki beken, Pak Bondan Winarno &#8216;Mak Nyuss&#8217; dan Bara Pattiradjawane! Wowâ€¦what a surprise! Hiii..norak ya! Cuma tertulis namanya aja seneng :-). Walau diembel-embeli norak sekalipun, yang jelas aku betul-betul bahagia karena bisa ikut berperan dalam buku resep ini. Buku yang dibuat dengan penuh cinta, untuk mewujudkan impian seorang bunda yang telah tiada.</p>
<p>Untuk Bunda Inong, untuk seorang sahabat yang telah memberiku semangat, semoga pesan cinta dalam buku  ini dapat kuat terserap, sehingga bukan saja tercipta hidangan yang lezat tapi juga bisa menebarkan aura cinta dimana-mana!</p>
<p>From Groningen with loveâ€¦.</p>
<p>Agnes, yang menulis sambil menyusut air mata hiksâ€¦</p>
<p>Ps: Congrat and big thanks buat para penyusun buku ini (Mba Wanda Hazman, Mba Sofie Dewayani, Mba Eva Y. Nukman, Mba Mamiek Syamil dan Wiwit Wijayanti) kalian betul-betul tim yang hebat! Salut bangeet! Mmuahâ€¦:-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/555/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku dan Buku Rame-Rame</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/543</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/543#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 00:20:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, aku bisa ikutan kontribusi dalam buku-buku berikut ini, walaupun cuma dikiit banget kontribusinya tapi ya seneng juga, moga-moga ada manfaatnya buat yang baca. Foto gambar covernya ada disini : http://bundaagnes.multiply.com/photos/album/67/Aku_dan_Buku_Rame-rame

Yang paling baru dan katanya baru aja beredar di toko-toko buku di Indonesia adalah buku 'One Gigabyte of Love: Cerita Cinta para Blogger Multiply Indonesia'. Buku ini hasil karya para MPers yang di edit oleh mba Helvy Tiana Rosa dan mas Tomy, suaminya. Dari 200 tulisan para MPers yang masuk, terpilih 53 tulisan untuk dibukukan. Senang deh pas baca namaku ada disitu, trus fotoku juga ikut mejeng rame-rame di halaman belakang buku, asik kan numpang beken, hii dasar narsis hehe. Isi bukunya pasti seru dong, jangan lupa pada beli ya :-). Hasil penjualan bukunya kalo ga salah buat disumbangkan deh, jadi sambil beli sambil beramal gitu loh :-)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_587" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://agnes.ismailfahmi.org/wp/wp-content/uploads/2008/11/onegigabook.jpg"><img class="size-medium wp-image-587" title="onegigabook" src="http://agnes.ismailfahmi.org/wp/wp-content/uploads/2008/11/onegigabook-300x211.jpg" alt="One Gigabyte of Love Book" width="300" height="211" /></a><p class="wp-caption-text">One Gigabyte of Love Book</p></div>
<p>Alhamdulillah, aku bisa ikutan kontribusi dalam buku-buku berikut ini, walaupun cuma dikiit banget kontribusinya tapi ya seneng juga, moga-moga ada manfaatnya buat yang baca. Foto gambar covernya ada disini : http://bundaagnes.multiply.com/photos/album/67/Aku_dan_Buku_Rame-rame</p>
<p>Yang paling baru dan katanya baru aja beredar di toko-toko buku di Indonesia adalah buku &#8216;One Gigabyte of Love: Cerita Cinta para Blogger Multiply Indonesia&#8217;. Buku ini hasil karya para MPers yang di edit oleh mba Helvy Tiana Rosa dan mas Tomy, suaminya. Dari 200 tulisan para MPers yang masuk, terpilih 53 tulisan untuk dibukukan. Senang deh pas baca namaku ada disitu, trus fotoku juga ikut mejeng rame-rame di halaman belakang buku, asik kan numpang beken, hii dasar narsis hehe. Isi bukunya pasti seru dong, jangan lupa pada beli ya :-). Hasil penjualan bukunya kalo ga salah buat disumbangkan deh, jadi sambil beli sambil beramal gitu loh :-)<span id="more-543"></span></p>
<p>Sedangkan dalam buku Serba-serbi menyusui, yang terbit tahun 2007 ini sebenernya aku cuma kontribusi kasih endorsment doang. Buku ini cocok buat hadiah buat ibu-ibu yang baru melahirkan. Beredar di toko buku di Indo udah hampir setahunan, jadi kalo mau beli pasti ketemu di toko buku. Isinya kumpulan diskusi ibu-ibu di milis WRM seputar menyusui, tapi seru koq, praktis dan informatif. Jadi berguna banget untuk ibu-ibu yang baru melahirkan. Soo..jangan lupa beli juga :-).</p>
<p>Naa kalo buku &#8216;Peranan Orangtua dan praktisi dalam membantu tumbuh kembang anak berbakat&#8217; aku ikut jadi salah satu penyusunnya. Buku ini disusun dari hasil seminar online WRM dengan nara sumber ibu Adi D.Nugroho dan ibu Julia Van Tiel. Isinya seru banget, aga-aga melawan mainstream gitu, tapi berguna banget biar mata kita terbuka dan ga ngoyo dalam mengasuh anak tapi juga tetap serius mengikuti usia tumbuh kembang si anak. Pokoknya bermanfaat banget buku ini buat para orangtua baru terutama. Soo..yang belum punya, segera cari di toko buku ya hehe maksa deh :-)</p>
<p>Dalam buku &#8216;Spirituality in Work&#8217;, aku ikutan nyumbang satu artikel yang judulnya &#8216;mengkhitan pertama kali&#8217;. Sebenernya udah lama buku ini terbitnya, tapi aku baru tahu penampakan covernya belakangan ini. Buku ini terbit malah sebelum buku pertamaku terbit. Isinya jujur aja aku belum baca semua hehe maap. Tapi bisa baca resensinya yang aku copy dari koran republika.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/543/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air Mata untuk &#8216;Sang Pemimpi&#8217;</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/503</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/503#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Oct 2006 12:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Hari ini airmataku tak berhenti menetes. Tangis itu sejenak kerap berhenti, tapi tak lama. Saat suamiku bertanya, "Ada apa Sayang?" Air mataku tak mau kompromi. Ia langsung mengucur lagi. Kenapa sih? Bete? Berantem? Kesel? Capek? 

Oh bukan! Sungguh bukan. Aku menjadi seperti itu gara-gara membaca sebuah buku! OMG! Aje gile! Segitunya..ck..ck..ck...! Yup! Buku itu memang luar biasa. Pokoknya aku ngefands berat deh sama buku-buku karangan Andrea Hirata itu. Sekarang saja rasanya aku sudah tak sabar ingin membaca buku ketiga dan keempatnya.

Baru saja aku membaca buku "Sang Pemimpi", buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Aku belum sempat membuat review Laskar Pelangi. Tapi kesimpulanku sama, kedua buku ini sungguh memesona. Keduanya sanggup membuatku tertawa dan menangis. Bukan cuma itu, makna yang terselip dari ceritanya, daleem! Makna-makna yang tersebar itu yang membuatku menangis. Dan keunikan cerita yang dikemas dengan humor-humor yang cerdas membuatku kadang tak berhenti tertawa. Aku kagum dengan kemampuan penulis membuat metafora yang juga cerdas dan lucu. Novel ini dituturkan penulisnya berdasarkan kisah nyata. Barangkali  ini lah kekuatan lain yang membuat aku sebagai pembaca merasa begitu terpikat.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini airmataku tak berhenti menetes. Tangis itu sejenak kerap berhenti, tapi tak lama. Saat suamiku bertanya, &#8220;Ada apa Sayang?&#8221; Air mataku tak mau kompromi. Ia langsung mengucur lagi. Kenapa sih? Bete? Berantem? Kesel? Capek?</p>
<p>Oh bukan! Sungguh bukan. Aku menjadi seperti itu gara-gara membaca sebuah buku! OMG! Aje gile! Segitunya..ck..ck..ck&#8230;! Yup! Buku itu memang luar biasa. Pokoknya aku ngefands berat deh sama buku-buku karangan Andrea Hirata itu. Sekarang saja rasanya aku sudah tak sabar ingin membaca buku ketiga dan keempatnya.</p>
<p>Baru saja aku membaca buku &#8220;Sang Pemimpi&#8221;, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Aku belum sempat membuat review Laskar Pelangi. Tapi kesimpulanku sama, kedua buku ini sungguh memesona. Keduanya sanggup membuatku tertawa dan menangis. Bukan cuma itu, makna yang terselip dari ceritanya, daleem! Makna-makna yang tersebar itu yang membuatku menangis. Dan keunikan cerita yang dikemas dengan humor-humor yang cerdas membuatku kadang tak berhenti tertawa. Aku kagum dengan kemampuan penulis membuat metafora yang juga cerdas dan lucu. Novel ini dituturkan penulisnya berdasarkan kisah nyata. Barangkali  ini lah kekuatan lain yang membuat aku sebagai pembaca merasa begitu terpikat.</p>
<p><span id="more-503"></span></p>
<p>Aku terheran-heran melihat seorang anak muda yang cinta mati kepada kuda hingga membuatnya lupa makan dan sekolah. Aku tertawa menyaksikan kegilaan anak-anak muda kreatif menjahili gurunya. Aku mengelus dada menyaksikan kekejaman hidup yang harus mereka pikul. Terlahir untuk melarat. Hidup mereka begitu susah bahkan sejak mereka baru bisa membuka mata.</p>
<p>Aku menangis haru, saat menjumpai kebeningan hati mereka. Air mataku menggenang menyaksikan bara api semangat dalam diri mereka. &#8220;Tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati.&#8221;<br />
&#8220;Kita tak &#8216;kan pernah mendahului nasib!&#8221;<br />
&#8220;Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!&#8221;</p>
<p>Mimpi itu membuat mereka setegar karang.  Dan air mataku tumpah menyaksikan kebesaran Tuhan di penghujung cerita. Subhanallah..subhanallah..hanya itu yang bisa kuucapkan. Betapa sempurnanya Tuhan mengatur potongan-potongan mozaik hidup mereka. Aku melongok hidupku. Sungguh malu rasanya aku. Diberi hidup senikmat ini tapi kadang masih juga selalu merasa kurang. Lihatlah mereka, hidup begitu kejam pada mereka. Tapi mereka tak berhenti bermimpi, tak berhenti berjuang, tak berhenti berpositive thingking. Dan&#8230;tengoklah, kun fayakun! Allahu Akbar! Seperti tongkat Musa membelah laut merah, akhirnya pungguk pun tak lagi merindukan bulan. &#8216;Hanya&#8217; karena mimpi!</p>
<p>Inspiring! Buku ini membuat aku sebagai pembaca tergerak untuk tak mengabaikan mimpi-mimpiku. Semangat buku ini menulariku untuk berjuang dan terus berjuang seberat apapun tantangan yang menghadang. Dan yang terpenting, buku ini pun membuat ku semakin melihat kebesaran dan keadilan Tuhan pada umatnya. Highly recomended book deh pokoknya!  Nggak heran kalo buku ini langsung cetak ulang dalam sepuluh hari!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/503/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review &#8216;Bumi Manusia&#8217;</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/496</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/496#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jul 2006 12:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books and Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Ketebalan buku 'Bumi Manusia' milik Pramudya Ananto Toer ini awalnya membuat aku malas membacanya. Bayangkan, 524 halaman bo! Tapi suamiku mau membaca buku ini. Dan setiap habis keluar dari WC (karena doi pasti bacanya di WC hehe), suamiku selalu berdecak kagum,"Gile...emang hebat tenan nih Pramudya bikin kata-kata..." Lain hari dia berkata,"Seru Ma, dia bisa bikin pembaca penasaran...nggak bisa berhenti baca nih." Duh...duh...diprovokasi begitu terus akhirnya pelan-pelan kulirik juga itu buku. Awalnya cuma tiap ke WC( hehe idem, tempat paling tenang sedunia buat baca soale hihi), eeh ga taunya aku malah nggak bisa berhenti baca buku itu. Akhirnya buku itu kulalap habis dari siang sampe  sampe tamat jam 3 pagi! Bela-belain nggak tidur coba hehe.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketebalan buku &#8216;Bumi Manusia&#8217; milik Pramudya Ananto Toer ini awalnya membuat aku malas membacanya. Bayangkan, 524 halaman bo! Tapi suamiku mau membaca buku ini. Dan setiap habis keluar dari WC (karena doi pasti bacanya di WC hehe), suamiku selalu berdecak kagum,&#8221;Gile&#8230;emang hebat tenan nih Pramudya bikin kata-kata&#8230;&#8221; Lain hari dia berkata,&#8221;Seru Ma, dia bisa bikin pembaca penasaran&#8230;nggak bisa berhenti baca nih.&#8221; Duh&#8230;duh&#8230;diprovokasi begitu terus akhirnya pelan-pelan kulirik juga itu buku. Awalnya cuma tiap ke WC( hehe idem, tempat paling tenang sedunia buat baca soale hihi), eeh ga taunya aku malah nggak bisa berhenti baca buku itu. Akhirnya buku itu kulalap habis dari siang sampe  sampe tamat jam 3 pagi! Bela-belain nggak tidur coba hehe.</p>
<p><span id="more-496"></span></p>
<p>Dari isi ceritanya, buku ini membuatku semakin bersyukur karena terlahir di jaman modern. Kisah &#8216;Mama&#8217; alias Nyai Ontosoroh, gundik milik Herman Mellema, pejabat Belanda yang membelinya saat itu membuatku bergidik. Perempuan yang sudah berusia 14 tahun dianggap perawan tua. Dan sejak gadis-gadis mendapatkan menstruasi pertamanya, biasanya mereka akan dipingit. Pemandangan yang boleh mereka lihat hanya lah sebatas dapur dan kamar-kamar dalam rumah. Hari-hari mereka dipenuhi kecemasan menunggu   nasib.</p>
<p>Bersambung&#8230;belanja dulu&#8230;ah..mumpung lagi pada banting harga neh&#8230;</p>
<p>Belanja berrhari-hari nih  :-), untung ada yang protes, kalo enggak, ga bakal disambung nih tulisan, pamalesan.com hehe.</p>
<p>Ya begitulah, kehidupan gadis-gadis itu seperti diselimuti kabut. Kabut itu tersibak bila datang pria budiman meminang mereka. Tapi bila pria jahat yang datang, kabut menjelma badai tak berujung. Tak jarang mereka dijadikan istri kesekian dan kemudian dibuang begitu saja bila sang pria telah bosan. Sakinem, Nyai Ontosoroh muda, sedikit beruntung karena diambil oleh  lelaki Belanda kaya dan baik hati pula. Namun tetep saja hatinya dendam tiada tara. Karena ia dijadikan gundik. Dan parahnya, ayahnya sendiri yang tega menjualnya. Bayangkan, betapa wanita saat itu tak punya daya. Tiga puluh lima gulden, harga untuk seorang Sakinem, sang kembang desa.</p>
<p>Buku ini juga membuka lagi kenanganku pada pelajaran sejarah Indonesia. Betapa penjajahan menebarkan ngilu dalam hati-hati manusia yang terjajah. Secerdas apapun engkau, sekaya apapun engkau, tak akan berarti apa-apa karena engkau seorang pribumi. Kasta-kasta itu begitu terasa, pribumi, Indo dan Belanda totok. Sungguh, bersyukur lah aku karena hidup di jaman ini yang tak lagi mengenal kasta-kasta. Walaupun rasialisme masih tampak dimana-mana, tapi setidaknya kini manusia masih bisa dihargai dari karya dan kecerdasannya.</p>
<p>Mama menjadi pemeran pembantu utama dalam buku ini. Tokoh utama adalah Minke, seorang pria pribumi yang beruntung bisa sekolah di HBS. Bersekolah di tempat itu sangat hebat. Umumnya hanya anak Belanda totok, atau Indo yang bisa bersekolah disitu. Ayah Minke punya pangkat, karena itu lah ia bisa masuk HBS. Tokoh pembantu lain adalah Annelis putri Nyai Ontosoroh yang parasnya bak bidadari. Minke jatuh cinta padanya. Percintaan dengan bidadari memang asoy, tapi tak bisa gratis. Sejak itu lah hidup Minke penuh masalah. Selesai satu masalah timbul lagi masalah baru. Karena begitu lah sejatinya manusia yang memijak bumi, tak pernah lepas dari masalah. Dan Pramudya mengemasnya dengan apik, lembar demi lembar selalu membuatku penasaran.</p>
<p>Dengan kalimat yang ringkas dan metafora sederhana Pramudya membuat buku ini menjadi mudah dicerna. Dan bagi pembaca yang hendak belajar bagaimana membuat kalimat yang singkat dan padat saat menulis, secara tidak langsung Pramudya mengajarkannya dalam buku ini. Tapi perlu perubahan niat untuk mempelajarinya. Bila ingin menikmati alur cerita, tak perlu pasang niat untuk mempelajari kalimat dan bahasa. Tapi, bila ingin mengambil pelajaran tentang teknik menulis, niat harus dipegang.</p>
<p>Jadi membaca buku ini selain menghibur juga bisa sebagai sarana belajar  tentang penulisan. Bukan itu saja kata-kata bernas juga banyak bertebaran dalam buku ini. Bisa membuat pembaca semakin bijak kalau pandai mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Tak percaya? Baca sendiri bukunya :-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/496/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
