Archives for “Cinta dan Puisi”

Miss You So

Filed under Cinta dan Puisi, English Corner

I woke up

You were not there

Didn’t know why

There was a pang

There was a frightening

There was a longing

In my heart

Couldn’t imagine

If you and me

have to be apart

I will miss you

I even miss you so

Now.

Diemen, 10 March 2010

When my beloved one, goes for a while.


Usia Baru Fase Baru

Filed under Cinta dan Puisi, Diary Spiritual

Kemarin hari ulang tahunku.
Sudah tua rasanya aku.
Begitu cepat hari berlalu,
tiba-tiba saja, anak-anakku sudah bisa merencanakan acara seru.
Aku begitu terharu.
Duh Tuhanku, betapa kufurnya aku kalau tak mensyukuri semua nikmatMu.

Salah satu tahun tersulit dalam hidupku adalah tahun lalu.
Lahir dan batinku rasanya diadu-adu.
Air mataku sering meluncur tak menentu.
Tapi janji Allah tak pernah palsu,
sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, aku sangat yakin itu.
Dan setelah semua berlalu,
ada keindahan, kenikmatan, yang tak terbilang,
bersemayam dalam relung hatiku.
Kadang aku kerap merindukan rasa itu.
Rasa yang munculnya, aneh, selalu ketika hari-hariku sedang kelabu.
Ya, sebetulnya tidak aneh,
bukankah Tuhan beserta orang-orang yang remuk hatinya, kata temanku.
Ya, aku sangat setuju.
Karena pengalamanku juga berbicara begitu.

Kini, tiga bulan berlalu, setelah lewat tahun baru.
Usai semua kejadian itu, aku benar-benar mengalami fase baru.
Kota tempat tinggalku, rumahku, kegiatanku, semua baru.
Dan aku sangat menikmati itu.
Terimakasih Tuhan, janjiMu memang tak pernah palsu
Semoga fase baru ini semakin membuatku bermutu dimataMu


Tanda-tanda?

Filed under Cinta dan Puisi

“Yah ini bagus ga?” Aku kecentilan begaya-gaya di depan suamiku.
“Bagus.” *Kepalanya nengok bentar, terus matanya balik ke kompi.*
“Yah ini kan murah lagi discount, dari 40 euro jadi 5 euro coba, keren kan.”
“Iya Ma. Kereen.” *Ngeliat lagi ke aku bentar, lalu si mata balik lagi depan kompi.*

“Yah, kata temenku beli panci mending yang sekalian mahal biar awet, ga nyampah, kan sayang lingkungan juga kan Yah. Bole ya beli ya.” *ngerayu mode on*
“Iyaa.”
“Mumpung murah ni yah, kalo di toko mahal banget lo, mana ini ongkos kirim gratis lagi, ga pa pa kan Yah, kan pake duit keringetku sendiri ya kan Say.”
“Iya Ma boleeh.”

Selengkapnya…


Ajari Aku Memeluk Duri

Filed under Cinta dan Puisi

Tuhan,
Rasa ini seperti duri
yang menusuk-nusuk kaki

Tuhan,
Andai aku boleh bilang
Aku ingin selalu terbang

Tuhan,
Duri ini tak nyaman
Tapi aku sungguh paham
Ia adalah tamu kehormatan bukan?

Tuhan,
Ajari aku memeluk duri
Agar aku lagi-lagi tak begini

Tuhan,
Aku juga paham
Tamu-tamu itu Kau pergilirkan bukan?

Namun,
Mengapa aku tak juga belajar
Oh Tuhan, tolong!
Ajari aku memeluk sang duri!


Duduklah saja Sayang, katamu dini hari tadi
Kubuatkan hadiah spesial di hari jadimu ini
Bukankah tadi perut hanya kita isi dengan roti
Dan kau pun beraksi persis seperti koki
Cemplung sana cemplung sini
Potong sana potong sini
Dan tarraaa! Hadiah untukku pun tersaji!

Semangkuk Indomie pada pukul satu pagi
Sungguh, ini kado yang paling membuatku geli!
Tapi bukan hanya geli, aku juga happy
Meja makan kita sesesak tumpukan jerami
Mangkuk-mangkuk kita tak kebagian posisi
Tapi kau tak pernah mengambil hati
Ah Cinta, kau ini selalu membuatku bertanya lagi
Terbuat dari apa sesungguhnya hatimu ini?

Belum lagi bila kulirik tumpukan lain di ruang dapur
Ugh, rasanya ingin kugembok saja pintu dapur itu seumur-umur
Belakangan ini dapurku kerap ngebul
Pamali nolak rejeki, begitu kan kata orang
Padahal deadline pekerjaan mengejar-ngejar
Padahal amanah lain baru saja kuemban
Dan anak-anakku, mereka pun butuh belaian
Duh Tuhan, aku memang senang
Tapi ritme hidupku lagi-lagi seperti komedi putar

Kau ingat kan masa-masa sulit itu
Dalam hitungan hari baru saja ia berlalu
Isak ku kembali kau dengar
Amarah pun kembali ku umbar
Anak-anakku, entah apa kabar
Istri macam apa aku ini, kau butuh istri baru barangkali
Begitu ucapku, lantaran PMS, depresi, feeling guilty, dan entah apa lagi
Kau seperti dejavu bukan?

Aku lihat lelahmu yang hampir meremukkan sendi-sendimu
Aku lihat kesalmu yang dengan penuh juang kau perangi
Aku dengar degup jantungmu ketika tahun terakhir studi membayangimu
Aku dengar desah nafasmu ketika timbunan deadline seolah akan menerkammu

Tapi mengapa, ketika dejavu itu bukan lagi dejavu
ketika ia nyata membentang di depan matamu
Kau masih saja bisa memberikan bahumu untukku
Kau masih saja bisa meniadakan dirimu
Kau masih saja bisa menjelma peri penolongku
Ah Cinta, terbuat dari apa sesungguhnya hatimu?

Hiks…maafkan aku Cinta, tanganku hanya dua,
dan aku selalu kalah melawan pembagian waktu
Tapi kau sangat tahu kan Cinta,
Aku bisa gila kalau hidupku hanya kuisi dengan termangu saja
Dan kau juga tahu kan Cinta,
Ide-ide yang menari di kepalaku lebih membuat hidupku berseri
lebih menarik ketimbang tarian piring dan bumbu dapur warna-warni
Maafkan aku, aku bukan istri sholehah ya Cinta?

Dan jawabmu seringkali membuatku tergugu
Memasak, menyetrika dan mencuci itu bukan kewajiban istri
Semua itu bisa kita bagi, ucapmu
Ah Cinta, itu katamu, tapi apa kata dunia, kesahku
Mengapa tak kau didik saja aku menjadi istri sholehah itu Cinta?
Aku tak ingin mendidik, aku hanya ingin menggali potensimu, jawabmu
Tapi Cinta, lihat akibatnya, komedi putar itu bergerak kencang lagi
Ripple, itu namanya, sungguh wajar untuk sebuah perubahan, jawabmu lagi
Ah Cinta… aku hanya bisa termangu dan kembali tergugu

Andai kau tahu betapa sempurna engkau mengajari aku
Dengan caramu, dengan kasihmu, dengan ucapmu, dengan hatimu
Hadiah itu, semangkuk indomie pada pukul satu pagi itu
Menjadi begitu bermakna, tak tergantikan dengan emas permata
Semangkuk indomie pada pukul satu pagi
Kado yang membuatku geli, tapi juga membuatku menangis lagi
Terimakasihku tak kan pernah cukup Cinta…

Buat Cintaku seorang…

Groningen
19 Maret 2007
Saat musim semi bersalju


‘Sakau’ Mudik

Filed under Cinta dan Puisi

Mudik? Katanya sudah tradisi
Mudik? Apanya yang asyik?
Mudik ? Bikin orang pada sakit!
Sakit karena pengeluaran nggak sedikit
Sakit karena di jalan terhimpit-himpit

Tapi kenapa mudik seperti ganja?
Candunya tak mengenal usia dan kasta
Demi mudik banyak orang mendadak gila
“Mobil baru neh, bakal mudik,” kata si kaya
“Ngutang dikit, bakal beli bensin,” kata orang biasa
“Aku, di atap kereta ndak apa,”kata orang tak punya

Hey! Kemana akal mereka?
Sehingga rela melakukan apa saja!
Demi mudik yang tak seberapa
Apa gunanya?
Apa maunya?

Gila! Mungkin memang gila
Tapi semua itu fakta!
Dan aku tak ingin seperti mereka
Ah masa? Angin pun tak kan percaya!
Memangnya kenapa kalau menjadi seperti mereka?

Duhai Mudik, kenapa kau bikin addict?
Seperti ganja, ya seperti ganja!
Satu dua lebaran masih biasa saja
Tapi tiga? Ugh!…diubun-ubun rasanya
Karenamu, aku ‘sakau’ menahan rindu!

Oooh Mudik… mahkluk apa gerangan dirimu?!

Groningen, Menjelang hari Fitri, 21 Oktober 2006
‘Sakau’ memang asoy! Gara-gara dah tiga lebaran nggak pulang hiks…

Mohon maaf lahir batin buat semua…
Selamat lebaran yaaa….:-)


“Ah Dia…”

Filed under Cinta dan Puisi

Aku kelelahan baru pulang dari Almere. Aku dan keluargaku baru tiba dirumah pukul 23.00. Wuih capeknya luar biasa karena kami pergi dari subuh tadi. Apalagi semalam aku kurang tidur, hanya tidur 2 jam saja! Mau langsung tidur? Wah jelas tak bisa. Malam ini aku dan teman-temanku harus memulai acara seminar online WRM yang ke-5. Masalahnya aku belum persiapkan sama sekali. Alhasil, setelah membacakan buku untuk Malik dan mengantarkan anak-anakku tidur, aku harus duduk dulu di depan kompi untuk mempersiapkan bagian yang harus aku posting.

Nol-nol lewat 5 menit. Tiba-tiba ada kiriman hall mark masuk ke inboxku. Dari siapa? Hmm…dari siapa lagi kalau bukan dari dia. Buat apa tengah malam kirim hall mark? Buat apa ya?

Ah dia, membuka kirimannya, lelahku menjelma menjadi air mata. Air mata syukur dan cinta…

Ah dia, selalu saja sama. Membuat terimakasihku tak pernah berhenti terucap untuknya…

Ah dia, pesannya begitu indah kubaca, begini bunyinya:

Ah dia, selalu membuat doa yang sama, demi cinta yang terbina. Semoga Allah mengabulkan semuanya….


Tujuh Lembar Kelopak Kehidupan

Filed under Cinta dan Puisi

kutulis untukmu
tujuh tahun cintaku

sembilan tahun yang lalu
catatan itu masih bersih
tanpa sebuah titik pun
hingga ku bertemu dia terkasih

bukan namanya hidup
jika tak ada detak
perjalananku denganmu
bagai roda sarat gejolak

pasangan sayapku,
sebanyak butir embun kau bertanya
kenapa di diriku cinta itu bersemayam
dari berjuta manusia kepadamu hanya

sunyi sendiri merenung aku
haruskah kucari jawaban semua
ketika hati sudah tahu
tak perlu apa bagaimana mengapa

begitulah kehidupan berujar
meski tak selalu dicari ada
namun tujuh lembar kelopak mawar
bertutur tentang hakekat cinta

pasangan sayapku,
tak terhitung bilangan malam
walau lelah berdentang tiga
kita berbincang tanpa terpejam

menggali makna setiap peristiwa
kala kita dipisahkan ruang
menjadi wakil sang kuasa
meninggikan nilai setiap ciptaan

bukan hanya rasa ataupun cinta
mengikat kita dalam kesempurnaan
hanya bersamamu kutemukan jawabnya
perjalanan spiritual menyaksikan Dia

pasangan sayapku,
tujuh lembar kelopak mawar itu
tujuh lapis langit menuju
tujuh tahun perjalanan cinta rindu

kau dihadirkan untuk menyempurnakanku
lengkap kini sayap kiri kananku
bersamamu aku menghadap Kekasihku
itulah alasan mengapa bersatu

Groningen,
17 November 2005

Ismail Fahmi


Tujuh Tahun Berlalu

Filed under Cinta dan Puisi

17 November 2005

Tujuh tahun yang lalu, kau pinang aku dengan sepenuh rasa. Cinta, haru, lega, syukur, dan entah apa. Seperti tanggul yang lepas, sedu sedanmu kala itu tak tertahan, tumpah. Pertanda betapa beban itu sirna dan berubah menjadi luapan bahagia.

Kekasihku, kau dicipta untuk mengajari aku mengurai duka menjadi suka, dan juga sebaliknya. Lihatlah, betapa sejak kau ikrarkan cinta, sejoli duka dan suka pun kian lekat menemani kita. Kekasihku, kau dicipta untuk membantu aku mengepak bersama. Terbang tinggi ke nirwana mencari sang pencipta. Lihatlah, bersamamu, pencarian itu menjadi kian bermakna. Semoga saja akan bertemu akhirnya.

Kekasihku, tujuh tahun berlalu tanpa terasa, tapi kau masih saja tetap sama. Angkaramu tiada, kesabaranmu tak ada dua.

Kekasihku, tujuh tahun berlalu tanpa terasa, dan buah cinta kita semakin besar saja. Sebagai ayah, kau sungguh luar biasa.

Kekasihku, mengarungi hidup bersamamu adalah anugrah tak terkira. Kau lah samudra itu. Tempat aku menumpahkan semua. Seburuk apapun yang tertumpah, kau pun tak berubah. Ya, karena kau memang samudra.

Kekasihku, mengarungi hidup bersamamu membuatku bak putri raja. Kau bisa menjadi apa saja sesuai yang kupinta.

Kekasihku, kau telah berikan segalanya, betapa aku mensyukurinya.

Kekasihku, namun maafkan aku bila syukur itu kadang tak menjelma. Aku kerap terbuai dengan duka itu, masa lalu. Dan kau tau, semua tak mudah bagiku.

Kekasihku, kini 7 tahun berlalu. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu. Bersamamu kuingin menatap lagi hari baru. Merajut cinta dan cinta lagi. Membangun mimpi kau dan aku lagi.

Kekasihku, kini 7 tahun berlalu. Sungguh aku tahu, cinta itu tak pernah redup dari binar matamu.

Kekasihku, andai kau tahu, akupun juga begitu.

Hari ini kuputar lagi memori itu. Kenangan indah saat kau meminangku dulu.

Hari ini kutatap lagi wajahmu. Wajah saat kau bersamaku di pelaminan itu.

Dan kau tahu, menatapmu, getaran itu mengalir begitu saja. Getar cinta yang sama.

Kekasihku, andai kau tahu, betapa aku mencintaimu, betapa aku membutuhkanmu, betapa ingin aku selalu bersamamu…

Kini. Nanti. Selamanya. Hanya doa itu yang selalu kupinta. Semoga…

Kupersembahkan dengan segala cinta untuk kekasihku, setelah tujuh tahun berlalu…


Engkau Laksana Telaga

Filed under Cinta dan Puisi

Air mataku tumpah tak terkira
Memendam rindu tiada tara
Tak kusangka betapa aku tersiksa
Ketika belahan jiwa tiada di depan mata

Badai itu mencabik-cabik kita
Menghempas, menusuk dan menorehkan luka
Kadang aku menjadi gelombang yang murka
Saking nyerinya, saking aku tak kuasa

Namun kau laksana baja
Tak bergeming dengan segala murka
Kau bahkan laksana telaga
Meneduhkan, menyirami jiwa yang dahaga

Dirimu yang bagaikan baja
Dirimu yang bagaikan telaga
Membuat semua badai reda
Membuat rindu dan cinta, selalu ada

Kupersembahkan bagimu, pasangan sayapku
Dengan segala rindu dan cinta…


Kepada Bunga Musim Semi

Filed under Cinta dan Puisi

Musim semi ini memang segar
Membuat bunga itu pun tampak indah
Kuning mudanya mengundang hati menyapa pagi
Meresapi embun kasih Illahi

Bagaimanapun indahnya sang bunga
Kasih senantiasa lebih indah
Lahir dari sifat Kekasih
Yang tumbuh selalu tanpa sang musim

Gadis kecil itupun tersenyum
Kepada bunga lambaiannya terayun
Kasihnya membelai pucuk-pucuk putih
Dia mengingatkanku kepada Sang Kekasih


Kuharap Dikau Tetap Sayang

Filed under Cinta dan Puisi

Bulan April, Ibu.
Petugas itu bilang padamu.
Aik akan diperiksa tidak hari ini.
Namun kau sudah kadung pergi.

Maafkan daku sayang,
Telah membuat pagi yang berharga terbang.
Percayalah ada selembar benang,
Membangun pikiran anak kita tersayang.

I love you
Without U
My love becomes yo.

Ps: gara-gara ayah salah kasih jadwal buat ke Thuiszorg, jadilah sebuah puisi


Cinta Seperti Salju

Filed under Cinta dan Puisi

Dik Agnes,
Bagai salju di musim semi,
diselimuti hangat sinar mentari pagi,
meleleh, menetes, membasahi,
tunas cinta di hati.

Seperti pertama kali menatapmu,
tujuh tahun yang lalu,
wajah cantik di balik kerudung,
hanya kagum yang kumampu.

I love you….

Ps: Salju memang sumber inspirasi. Puisi ketika salju turun tebal lagi.


Salju, Inspirasi Sebuah Keromantisan

Filed under Cinta dan Puisi, ,

ILU-salju.jpg

Salju memang cantik. Apalagi salju yang tebal. Ketika mata memandang, gumpalannya yang menutupi seluruh jalan dan atap-atap rumah, membuat bibir ini mau tak mau harus bergumam “Subhanallah, indah sekali” Seperti hamparan permadani putih yang menawan. Ya, dia memang cantik ketika tebal. Tapi saat sudah mencair, hiii… jadi jijay bajay deh. Sekalipun begitu, bagiku dia tetap saja menawan. Karena ternyata, dia juga menjadi inspirasi bagi sebuah keromantisan. Keromantisan yang membuat cintaku bersemi lagi dan lagi…

Selengkapnya…


Terimakasih untuk seorang istri

Filed under Cinta dan Puisi

Istriku kemarilah
Duduklah di depanku
Dengan tenang bernafaslah
Biarkan hatiku mengarungi
Hingga sejuk embun kurasakan
Ketika kaki batinku menyentuh
Samudera keikhlasanmu

Debur hasrat jiwamu
Menjadi sunyi
Di depan mata mungil bersinar
Yang memintamu penuh harap
“Bacakan aku cerita, Bunda”

Bak usapan ombak kepada tepian
Cinta agungmu penuh kesabaran
Mengalir membelai dua pasang telinga
Bersama ribuan kisah yang kau dendangkan

Dibukanya genggaman mungil
Tapi tiada tampak yang dicarinya
Pecahlah tangis di malam sunyi
“Dimana kereta kecilku..hu..hu..”

Suara lembut penuh sayang dan pasti
Sejuk menyirami hati mungil
“Kamu hanya bermimpi, sayang.
Jangan menangis, tidurlah kembali”

Kadang, hanya tiga jam dirimu terlelap
Anak-anak minta dekapan
Menghempaskan istirahatmu malam itu

Adalah pondok kecil
Dibangun di atas suka maupun lara
Menjejak tanah kering maupun lumpur
Yang lampu kecilnya
Memancarkan cahaya menerobos lobang-lobang dinding
Kesanalah kita beristirahat

Istriku tataplah
Sinaran syukur memancar
Dari dada laki-laki di depanmu
Tak akan pernah ada sesal
Hanya cinta semata
Yang menggunung dan menyamudra

Anugerah adalah engkau
Istriku…

Ps: Dia membuatkan puisi ini setelah aku menulis ‘Sound of a Mother’