Archives for “Diary Kesehatan”

Hasil Konsultasi GGD Malik

Filed under Diary Kesehatan, Lala dan Malik

Hari kamis tanggal 10 Juli lalu giliran Malik yang ke GGD. Malik ditimbang dan diukur tingginya. Beratnya 24,5 kg dan tingginya 128,5 cm. Lalu juga ditanya soal imunisasi, tahun depan aik akan dapat imunisasi ulangan 2 kali. Biasa deh lalu aik ditanya, kamu di pesten ga, di sekolah gimana suka ga. Apa kamu suka mimpi buruk? Aik jawab,”Ya aku suka mimpi buruk kalo aku sakit.” Hehe inget dia. Terus si mevrouw nya liat Aik ngantuk. Aik ditanya jam berapa tidurnya. Aik jawab jam setengah sepuluh malem. Wah langsung deh mevrownya kaget.”Itu terlalu malem untuk anak Belanda, anak Belanda tidur jam 8 malam biasanya. Anak itu butuh tidur cukup untuk proses pertumbuhannya meskipun kebutuhan tiap anak beda. Tapi rata-rata untuk umur malik butuh 10 jam.”

Selengkapnya…


GGD, Pos Yandu-nya Anak Besar

Filed under Diary Kesehatan, Lala dan Malik, Tentang Belanda

Kemarin adalah kali terakhir Lala pergi ke GGD, tempat ini semacam posyandu komplit untuk anak usia 4 tahun hingga remaja. Biasanya, setiap tahun ada panggilan dari GGD untuk tiap anak. Anak-anak ini akan diperiksa pertumbuhan berat badan-tinggi badannya apakah masih dalam batas normal atau tidak, imunisasinya lengkap atau tidak, ada keluhan mata atau tidak, bagaimana pola makannya, olahraga, dan juga orangtuanya akan ditanya ada kesulitan ga dalam mengasuhnya. Kalau ada masalah, akan dibuatkan janjian khusus atau dirujuk khusus ke tempat yang diperlukan.

Selengkapnya…


Komunikasi Dokter Gigi yang Oke

Filed under Diary Kesehatan, Diary Parenting, Lala dan Malik

Pulang sekolah Malik ke dokter gigi. Aik udah bete di sekolah, bunda dateng pertanyaannya langsung gini,”Aik ga mau dicabut gigi!” katanya sambil merengut. “Ga dicabut koq Ik, kan kata dokternya cuma ditambal.”

Sepanjang jalan Aik bete, pas nunggu di ruang tunggu juga masih bete dan ketakutan kalo dicabut. Pas giliran masuk, Aik nangis. Dokternya langsung bilang,”Kenapa kamu nangis?”

Selengkapnya…


Cabut Gigi M3

Filed under Diary Kesehatan, Lala dan Malik

Kartu bunda sakit gigi

Kartu bunda sakit gigi

Seminggu lalu aku ke dokter gigi. Niatnya sih cuma mau lapor-lapor dulu karena di daerah gigi M3 (molar tiga) aku yang kiri sering bengkak gusinya. Saat itu gusiku juga masih agak-agak bengkak dikit. Sampe ruangan periksa, dokter langsung rontgen area gigiku kanan kiri. Habis itu eeh ndilalah lah koq dokternya bilang langsung suruh cabut saat itu juga. Haduuuh mati aku rek! Nggak ada persiapan fisik dan emosional blas! Aku kalo suruh ‘ngobok-ngobok’ sih mau, tapi giliran di obok-obok, walaah keringet dingin dan mules deh langsung.

Selengkapnya…


Perempuan memang rawan terkena cystitis (infeksi saluran kencing). Menurut penelitian, 1-3 wanita dari 10 wanita, setiap tahunnya mengalami cystitis. Bahkan, 1 dari 20 wanita, any time, mengalami cystitis tanpa gejala. Hanya 10 % saja yang gejalanya muncul. Ada juga perempuan yang sering sekali mengalami cystitis, biasanya disebut recurrent cystitis. Kenapa ya? Karena saluran uretra yang menghubungkan lubang kencing (uretra) dan kandung kencing milik perempuan lebih pendek dibandingkan laki-laki.

Alhasil, aku pun beberapa kali terkena penyakit yang satu ini. Pertama, dulu sekali aku sempat terkena honeymoon cystitis. Namanya saja honeymoon, apalagi kalau bukan cystitis yang kerap dialami pengantin baru. Kedua, waktu aku masih jadi s co-asisten di RSHS. Ketiga waktu aku sudah kerja di klinik. Nah, sekarang aku terkena lagi nih, berarti ini yang ke-empat kalinya. Hmm…apa karena aku jorok, kurang bersih-bersih? Oh, tidak lah yaw, masa sih aku jorok hehe. Dan ternyata poor hygiene tidak terbukti sebagai penyebab cystitis lho. Malah sebaliknya, terlalu sering bersih-bersih lah yang kerap menjadi penyebab. Koq bisa? Ya, karena dengan sering bersih-bersih memakai sabun pembersih malah bisa merubah keseimbangan flora normal di daerah genital. Selain itu, gosokan-gosokan yang terjadi saat bersih-bersih malah bisa menyebabkan kerusakan kulit di daerah genital. Akibatnya, apalagi kalau bukan si bakteri malah mudah berkembang biak.

Jadi bagaimana, apa perempuan tidak boleh membersihkan daerah genitalnya? Ya bukan begitu juga dong ya. Bersih-bersih dengan sabun cukup dilakukan sehari sekali, dan sebaiknya bukan sabun antiseptik. Lalu arah cebok juga penting, harus dari arah depan ke belakang.

Apa keluhan yang kualami? Sering kencing, kencing tak lampias atau istilah bahasa Jawanya anyang-anyangen, dan juga nyeri di perut kiri bawah. Kalau yang kedua dulu malah aku mengalami nyeri saat kencing dan ada darah dalam urine. Saat datang ke huisart, asisten dokter disana langsung menyuruhku untuk periksa urine. Dan ternyata betul, ditemukan leukosit dan darah dalam urineku. Dokter pun meresepkan Thrimetoprim sulfat 300 mg untukku. Aku harus meminumnya sebelum tidur selama 10 hari.

Perlahan tapi pasti keluhanku berkurang, dan tentu saja antibiotik itu aku habiskan. Disini kalau membeli obat selalu disertai kertas petunjuk yang berisi penjelasan lengkap, tidak hanya sekedar leaflet obat.

Tapi ternyata setelah obatku habis, keluhanku datang lagi. Aku masih bolak-balik ke toilet, tak lampias kalau kencing. Dan baru saja aku kembali dari dokter. Apa yang dilakukan dokter? Aku disuruh melakukan pemeriksaan urine kultur. Asiknya, aku tak perlu ke laboratorium, bisa diwakilkan sama suamiku hehe. Aku cuma dibekali botol untuk mengisi urineku, surat pengantar dan amplop. Nanti suamiku tinggal memasukkan amplop itu ke kotak seperti kotak pos di laboratorium. Dan hasilnya keluar dalam 3 hari, dikirimkan ke dokter keluargaku.

Selama menunggu hasil, aku diberi obat Nitrofurantoine MC 50 mg. Dosisnya 4 kali sehari selama 3 hari. Moga-moga setelah hasil kultur keluar, dan diberi obat yang kedua ini, aku bisa sembuh total deh. Soalnya sungguh tak nyaman kan kalau harus bolak-balik ke WC.

Tadi aku sempat tanya ke dokter,”Jangan-jangan ada batu dok, koq perut bawah ku sakit sih?” Tapi si dokter jawab, kalau di negara tropis seperti di Indonesia kasus batu ginjal memang banyak karena cuaca panas, cairan banyak keluar, tapi orang jarang minum. Kalau disini kan dingin, jadi kasusnya jarang. Lho, jadi nggak papa nih aku jarang minum? Ya tidak bisa begitu dong, tetap saja aku harus minum 1,5 liter sampai 2 liter sehari. Itu cukup. Kalau di Irak kata huisartku, disana orang butuh 3 liter sehari. Tapi menurut penelitian terbaru kebutuhan cairan sekarang dilihat dari kebutuhan kalori, pokoknya ada rumusnya. Bagaimana tepatnya? Wah aku belum ada waktu ngulik-ngulik masalah ini. Yang jelas, jangan lupa untuk banyak minum deh!


Diploma Gips Lala

Filed under Diary Kesehatan

“Lala mau pilih gips warna apa, merah, biru, atau ungu?” tanya perawat di rumah sakit itu ramah. “Even denken (Pikir dulu yaa),” jawab Lala sambil senyum senang. “Ik will Rood (Aku mau yang merah),” kata Lala akhirnya. Hmm…enak betul ya, warna gips bisa milih hehe. Sebetulnya, kaki Lala tidak perlu di gips berat lagi. Gips kali ini hanya gips ringan, dan yang berwarna merah itu adalah plester untuk membalut kaki Lala. Tapi mengetahui gips barunya menjadi berwarna merah, Lala tentu saja senang. Itulah yang terjadi saat Lala kontrol memeriksakan kakinya di rumah sakit. Bukan hanya itu, setelah semua selesai, ‘kaki baru’ Lala diberi sepatu sandal juga. Warnanya hitam, kata perawatnya untuk memudahkan Lala saat berjalan, jadi Lala tak perlu pakai kruk lagi. Eh, masih ada lagi, Lala juga dapat diploma gips! Waah senyum Lala langsung mengembang lagi. Bangga betul lo Lala dikasih diploma gips :-)

Selengkapnya…


Dari Gips Lala Belajar

Filed under Diary Kesehatan

Lala-kakigips-fila.jpg
Kaki Lala digips dan hadiah boneka Fila

Membayangkan anak patah tulang dan kaki atau tangannya harus digips? Aduuh…baru membayangkan saja sudah ngilu rasanya. Tapi ternyata ini benar-benar terjadi pada Lala kemarin. Untungnya, patah tulangnya masih diragukan. Yang jelas ankle kaki kirinya mengalami pembengkakan dan terluka. Kaki Lala masuk ke jeruji sepeda saat Lala sedang dibonceng naik sepeda. Accident itu terjadi saat Lala merubah posisi duduk. Saat berangkat Lala membonceng dengan posisi laki-laki (kaki terbuka). Tapi saat kejadian, posisi Lala sudah berubah menjadi posisi duduk perempuan. Dasar bocah, pindah asal pindah, nggak ngomong-ngomong hehe, kejadian deh. Ketika hal itu terjadi, sempat terdengar bunyi “krek..krek..” tanda kaki Lala atau sepatunya barangkali, terputar roda sepeda. Iih ngilu kan.

Setelah dilakukan rontgen, gambaran rontgennya masih meragukan, entah patah atau hanya sekedar contusio. Yang jelas dokter memutuskan untuk memperlakukan ankle nya seperti kasus patah tulang. Jadi, Lala harus digips! Hmm…musibah memang bisa terjadi kapan saja, padahal beberapa hari lagi Lala ulangtahun. Tapi, kejadian ini mengajari Lala banyak hal. Ya, mesti akan selalu ada mutiara dibalik duka kan.Aku masih belum ‘ngeh’ kalau terjadi sesuatu pada kaki Lala, karena kebetulan tetangga baikku yang giliran menjemput Lala dan Malik dari sekolah. Lala masih bisa berjalan naik tangga sepulang sekolah,walau tentu saja harus kutuntun. Aku hanya heran, Lala menangis tak berhenti. Waktu kutanya, mengapa Lala menangis terus, alasannya Lala marah sama Aik dan juga mengantuk. Anehnya, Lala tak juga mengijinkan aku membuka kaos kakinya. Akhirnya, karena curiga, aku bujuk dia untuk membuka kaos kakinya, dan ternyata, O..O…ankle kaki kiri Lala menggelembung bengkak, dan tampak bagian kulitnya pun berdarah, karena terkelupas sekira diameter 2 cm.

Lala-kakibengkak.jpg
Aduuh bengkak dan merah…

Wah, harus segera ke dokter nih, pikirku sedikit panik. Lala menangis terus, dan ayah Lala belum pulang kerja. Aku terpaksa mengendong Lala ke tempat dokter. Dan Malik, tentu saja mengikutiku di belakang. Untung saja tempat praktek dokter keluarga kami dekat, jadi aku tak terlalu lelah mengangkat beban Lala yang 17 kg itu. Karena tak juga berhenti menangis, dan selalu mengeluh sakit, aku berkata pada Lala,”La, Lala dzikir aja sama Allah ya, berdoa sama Allah biar Lala sembuh, Lala sekarang sakit, Lala lagi dilatih sama Allah jadi anak yang sabar, minta ketenangan sama Allah ya sayang ya.” Dan Lala pun mengikuti saranku, bergumam “Ya Allahu..ya Allahu…” tapi sambil tetap menangis. Tiba di tempat dokter, cek sana-cek sini, dokter langsung menyuruh agar Lala dibawa ke emergency rumah sakit, untuk dirontgen dan diterapi sesuai hasil rontgen.

Sambil menunggu kedatangan ayah, Lala aku baringkan di tempat tidur. Lala tetap saja menangis. Tapi, Malik seketika menjadi penolong Lala, sigap dan cepat lho dia. Waktu mbak Lala minta dihibur, Aik langsung memasang tampang lucu sambil mengeluarkan mantra ajaib,”heri feluthet, tukafelarit…” Setelah itu, Lala menjadi sedikit tenang, dan menarik napas dalam. Eh, baru sebentar tenang, Lala sudah nangis lagi. “Huaa..Lala nggak bisa berhenti nangisnya, ambilin minum Ik, mbak Lala haus…hiks..hiks…,”kata Lala sambil berusaha menahan tangis. Dan Aik, dengan sigap berlari mengambil gelas berisi air minum buat kakaknya. “Ini mbak,” kata Aik.

Teguk…teguk…teguk, Lala meminum air dengan cepat. Tapi…”huaa…huaa…mbak Lala masih belum bisa berhenti nangisnya huaa…Mbak Lala inget apa dong Bun biar berhenti nangis, apa Bun?!” tanya Lala emosi sambil menangis lagi. “Wah, gimana ya biar mbak Lala tenang, baca buku ya sayang, mau buku apa mbak Lala?” tanya bunda. Ternyata mbak Lala ingin baca buku ‘Pak Belgeduel’. “Aik, tolong mbak Lala diambilin buku ya,” kata bunda minta tolong. Hap! dan Aik pun langsung meloncat keluar mencari buku yang dimaksud.

Lala tampaknya betul-betul mengandalkan Aik. Sewaktu ingin pipis, bunda mengangkat Lala, tapi Lala tetap keukeuh ingin ditemani Aik. “Temenin mbak Lala Ik,” kata Lala memaksa. “Iya mbak, Aik disini,” jawab Aik sambil mengikuti kakaknya ke toilet. Aduuh bunda jadi geli campur haru deh melihatnya. Lala duduk ditoilet pun Aik dengan setia menemani mbak Lala dipinggir bunda.

Akhirnya, ayah datang, dan pergilah kami ke rumah sakit. Lala sudah tenang, hanya agak ketakutan. Tapi perawat dan dokter disana tampaknya memang terlatih dalam menghadapi anak-anak. Ketika datang, kami disambut oleh seorang perawat laki-laki yang ramah, Edwin namanya. Dia memperkenalkan diri, dan menyalami kami satu persatu, termasuk Lala. Dengan ramah, dia mengajak ngobrol Lala,dan kemudian menjelaskan pada Lala tindakan apa yang akan dilakukan pada kakinya. Bayangkan, anak sekecil Lala pun diberi penjelasan detil oleh perawat itu. Lala diberitahu bahwa kakinya hanya akan dirontgen, “nggak sakit koq” kata perawat itu. Dan semua itu cukup menenangkan Lala. Ketika di rontgen, Lala cukup ko-operatif, dan setelah selesai, Lala senang karena perawat memberinya hadiah kertas bergambar untuk diwarnai.

Setelah dokter memeriksa hasil rontgen, kami dipanggil dan dijelaskan tentang ketidakyakinannya akan gambaran tulang yang patah. Karena, garis yang diduga patahan tulang ankle Lala terletak di garis tulang yang masih tumbuh, jadi dokter ragu entah patah atau tidak. Dan kami pun diberitahu bahwa, Lala tetap harus digips. Menunggu giliran digips lama juga, tapi untung disediakan tempat bermain. Lala dan Malik mewarnai dan bermain-main disana. Hingga akhirnya tibalah giliran Lala untuk digips.

Sebelum di gips, lagi-lagi perawat menjelaskan pada Lala tentang apa yang akan dilakukannya. “Nanti kakimu akan digips, dan akan sedikit sakit, ” kata perawat laki-laki itu. Dan ia pun menjelaskan pada kami tindakan apa yang akan dilakukan, serta apa-apa saja yang harus kami lakukan selanjutnya. “Lala akan digips, ini hanya untuk mengistirahatkan kakinya. Jadi, bagian atas tidak digips, masih diberi ruang untuk ‘bernapas’ karena kakinya bengkak. Setelah seminggu Lala harus kontrol, nanti gipsnya dibuka, dan baru ketahuan, apakah anklenya patah atau tidak. Tapi bila dalam seminggu, Lala panas tinggi, kakinya berbau atau jd sakit dan merah sekali, harus segera hubungi dokter ya. Oya, kalian bisa beli kruk buat Lala, tapi gratis koq sudah termasuk asuransi,tinggal tunjukkan saja kartu berobat ini.” Perawat itu menjelaskan panjang lebar.

“Eh, koq lukanya nggak dibersihin dulu sih, langsung digips, apa nggak khawatir ada bakteri?” tanya bunda penasaran. “Tampaknya lukanya bersih, karena tadi tertutup kaos kaki kan. Lagipula, kalau kami bersihkan, kami nggak yakin apakah lukanya malah bersih atau sebaliknya. Lagipula akan sangat sakit, kasian anaknya,” jawabnya lagi.

Oke, siap ya La. Dan Lala pun duduk di kursi yang bisa dinaik turunkan.”Oh, Leuk (asyik)” kata Lala sambil nyengir. Pertama, kaki Lala diberi semacam kaos kaki panjang hingga lutut. Lalu kertas putih lembut seperti kertas yang sering dipakai penjahit baju dibalutkan di kaki Lala. Setelah itu, mulailah cast dipasang di kaki kiri dan kanan Lala. Selanjutnya, dilapis dengan semacam kassa basah. Terakhir, baru deh dibalut dengan bahan keras. Tarraa…selesailah sudah. Dan ternyata, Lala dikasih hadiah lagi. Apa hadiahnya? Boneka rusa! Hmm…tentu saja Lala senang, Malik jadi iri pengen punya juga. Dan Lala pun berkata pada sang perawat,”Mag ik voor mijn broertje ook? (boleh nggak buat adekku juga?). “Oo… ini hanya buat anak yang sakit, kalian main bersama aja ya,” kata si perawat lagi.

Lala-kakigips.jpg

Ah…legaa…berakhirlah kehebohan sore kemarin. Dan apa yang Lala dapatkan dari kejadian ini? Lala bisa belajar mengatasi rasa takut, rasa sakit, mendapatkan pengalaman berharga di rumah sakit, dan dapat boneka pula! Boneka itu diberi nama Pipi Fila. Aik yang memberi nama Pipi, dan Fila nama pemberian Lala. Artinya, anak yang sholeh dan baik hati, gitu kata Lala. Hmm…sakit dan sehat, suka dan duka, ternyata memang nikmat kalau dijalani sama mesranya… Semoga Lala cepet sembuh ya sayang…


Ligasi ke-2

Filed under Diary Kesehatan

Ligasi yang kedua kali ini ternyata tak terlalu nyeri. Nyeri ketika tindakan saja. Selanjutnya aku bisa melakukan kegiatan apapun tanpa obat. Dokter ahli pencernaan itu ternyata ingat padaku. Pertama kali melihatku, dia langsung mengajak aku masuk ke ruang tindakan, padahal ada beberapa pasien lain yang menunggu. Ya, jarang-jarang kan pasien kerudungan seperti aku gini. Makanya dia ingat barangkali.

Menurut si dokter, haemoroid ku sangat membaik. Dia hanya perlu meligasi sekali lagi. Setelah itu aku sudah tak perlu kontrol kecuali ada keluhan. Sebetulnya ada satu tonjolan pembuluh darah arteri lagi, tapi kecil, jadi tak perlu diligasi katanya. Aku hanya perlu menjaga makanan. Harus banyak serat, buah dan tentu saja, brown bread.Oya, si dokter juga menyuruhku untuk rajin exersice, mengencangkan otot-otot spinchter anus. Dalam posisi berbaring, dengan kaki lurus, aku disuruh mengangkat kedua kaki, kurang lebih 10 cm. Lalu, sambil mengangkat kaki, aku diminta untuk menahan otot-otot sekitar anus selama hitungan detik. Latihan ini sebaiknya dilakukan sesering mungkin setiap hari. Tentu saja semua itu tidak menjamin haemoroid ku tak kambuh lagi. Tapi yang pasti aku harus mencegahnya dengan menjaga makanan dan rajin melakukan exercise tersebut.


Aduh…Ngilunya…

Filed under Diary Kesehatan

Aduh! Kapok pok deh. Sakiiit sekali, ngilu pula. Aku pun tak kuasa menahan air mata. Saking sakitnya. Acara pembersihan karang gigi tadi pagi ternyata ‘mengerikan’ hehe. Tapi pembersihannya tak sampai 40 menit, hanya 15 menit saja. Setelah itu aku diajari cara membersihkan gusi sekira 15 menit lamanya. Jadi total ya 30 menit.

Dulu aku juga beberapa kali pernah dibersihkan karang gigi macam ini. Kalau ke dokter gigi swasta di Indo, biasanya dibersihkan yang atas dulu. Lalu kontrol seminggu, baru yang bawah digarap. Itupun harus bolak-balik buang ludah dan kumur karena tak tahan mulut mangap terus. Aku tak tahu apakah di Indonesia sekarang alat-alatnya pun sudah semakin canggih. Terakhir aku ke dokter gigi tahun 2004, ya masih seperti itu. Sedangkan disini, 30 menit sudah beres semua. Lalu ada alat khusus untuk menyemprotkan sedikit cairan, supaya tak perlu membuang ludah atau berkumur. Alat itu dipegang oleh asisten si dokter. Aku disuruh berkumur hanya setelah tindakan selesai. Dan selama tindakan, aku pun tak merasa ingin membuang ludah. Jadi lebih nyaman deh rasanya.Salutnya aku kepada dokter gigi disini, mereka menjelaskan permasalahan ku secara detail, dan mengajarkan cara membersihkan gusi pun betul-betul detail. Barangkali di Indonesia juga banyak dokter gigi yang semacam ini, sayangnya aku dan keluargaku, belum pernah bertemu dengan dokter gigi yang semacam ini di Bandung. Kalau ada, wah aku mau deh jadi langganannya.

Pertama aku diajari cara membersihkan gigi memakai tusuk gigi khusus lewat model gigi plastik. Lalu aku disuruh melakukannya sendiri. Itupun tak cukup sekali, semua bagian gigi depan, bawah, dan geraham harus aku lakukan sendiri di depan matanya. Setelah si dokter merasa aku sudah cukup terampil, barulah semua selesai dan aku diijinkan pulang.

Tusuk gigi itu ukurannya seperti tusuk gigi yang ada di rumah makan. Bisa dibeli di supermarket yang ada di Groningen seharga 2 euro. Tapi bedanya, tusuk gigi untuk gusi ini bentuknya tidak bulat. Bagian bawah datar, dan bagian atas melengkung seperti busur. Ketika membersihkan gusi, bagian yang datar harus menghadap gusi. Lalu gosokkan ke kanan, kiri dan ke depan sela gigi, 10 kali untuk tiap sela gigi. Ritual ini harus dilakukan sekali sehari setelah makan malam. Kalau rajin dillakukan, insya Allah gusi menjadi sehat. Calculus, plak atau karang gigi enggan menempel lagi.

Aku mau rajin ah. Daripada gusiku bengkak terus dan harus sering-sering dibersihkan seperti tadi. Hiii kapok lah yaw…


Ginggivitis

Filed under Diary Kesehatan

Tadi pagi aku ke dokter gigi diantar ayah dan Aik. Bahasa Belandanya dokter gigi itu Tandart. Wow, aku terkagum-kagum deh waktu masuk ke tempat prakteknya, kayak si kabayan masuk kota aje hehe. Di ruang tunggu nya seperti biasa, pasti ada tempat mainan untuk anak-anak. Ada kursi berbentuk gigi, mainan lego dan mobil-mobilan. Hmm langsung deh Aik antusias bermain lego.

Waktu aku dipanggil masuk ke ruang tindakan, aku langsung disuruh duduk di kursi pemeriksaan. Lalu si dokter gigi menyapa aku dengan ramah “Where are you come from? Do you like live in Groningen?” dan lain-lain deh. Aku ceritakan tentang gusiku yang selalu berdarah setiap habis gosok gigi. Keluhan ini sudah lama sekali, hampir setahun barangkali. Dokter gigi itu langsung memeriksa gigiku. Hebatnya, setelah itu gigiku juga langsung di Rontgen. Di Indonesia ada nggak ya, acara baru datang langsung di rontgen macam begini. Kalaupun ada pasti buat kasus-kasus susah aja kali ya. Aku pernah ke dokter gigi di Indo dengan keluhan yang sama, beberapa kali, dan ganti-ganti dokter gigi pula. Tapi tak ada satu pun yang menyuruhku untuk rontgen. Cara rontgennya juga lucu. ( aku yang norak n kurang elmu apa memang disini yang canggih ya hehe) Pokoknya aku disuruh buka mulut, lantas ada selembar kertas film (seukuran negatif film di tukang-tukang foto itu lho )yang dilapisi plastik dimasukan ke mulutku. Waktu aku disuruh tutup mulut, langsung deh gigiku dijepret. Gigiku di rontgen 2 kali, kiri dan kanan. Hasilnya langsung muncul saat itu juga.

Setelah itu, si dokter menghampiriku sambil membawa kertas bergambar gigi. Wah hebat, dia langsung menerangkan mengenai kondisi gigiku. Hmm, asyik sekali kan, aku jadi betul-betul tahu keadaan gigiku. Penjelasannya pun sangat jelas. Menurut dokter itu, gusi yang normal warnanya adalah pink. Tapi ketika gusi mengalami peradangan, gusi akan berwarna merah dan bengkak. Ini terjadi akibat sisa-sisa makanan yang menempel di sela-sela gusi dan gigi (karang gigi barangkali). Kalau dibiarkan berlarut-larut, lama-lama peradangan itu akan menjalar ke tulang gigi. Tulang gigiku bisa rusak, habis dan akhirnya gigiku pun tanggal. Menurut si dokter, hasil rontgen gigiku bagus, tidak ada caries maupun yang lain. Aku hanya mengalami ginggivitis alias radang gusi. Gigiku hanya perlu dibersihkan saja dari sisa-sisa makanan yang menempel. Setelah itu aku akan diajari bagaimana menyikat gusi. Aku harus membuat janji lagi untuk membersihkan karang gigi ini. Katanya pembersihan seluruh karang gigi ini memakan waktu 40 menit.

Akhirnya semua selesai dan tanggal 8 Maret jam 11.10 siang, aku disuruh kembali lagi untuk acara pembersihan karang gigi itu. Hii pasti ngilu deh…


Ketularan Ayah

Filed under Diary Kesehatan

Akhirnya, aku ketularan ayah juga. Wah parah deh kalau aku sedang sakit seperti ini. Anak-anak terlantar, rumah berantakan, makanan juga yang siap saji aja. Sudah 3 hari ini nih aku menggigil terus, badan linu-linu, kedua lubang hidung betul-betul mampet . Aku hanya bisa bernapas lewat mulut. Jadi nya ya dying banget. Kalau di Indo sedang kayak begini, bisa tinggal beli sayur depan rumah, apa beli lauk. Kalau disini…? Wuah bingung. Ayah mau coba cari sih di toko Semarang, tapi khawatir juga ada campuran yang aneh-aneh. Kalau pun beli ya yang betul-betul sayur aja. Tadi aku pergi ke dokter. Dia hampir kasih obat yang sama dengan punya ayah, untung aku bilang. “It does’nt work dok, I’ve try for 2 days”. Akhirnya dia memberiku resep xylometazoline HCL 0,1 %, obat yang diteteskan ke hidung. Dosisnya 2 sampai 3 tetes selama 4- 6 kali pemberian dalam 24 jam. Obat ini termasuk dalam golongan Adrenalin (Adrenaline-achtige middelen) atau sejenis sympathicomimetica. Gunanya barangkali untuk mengkontriksikan mukosa yang edema kali ya.

Waktu aku tanya, “can I use antihistamin or decongestant via oral?”. Aku punya rhinitis alergi sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Si dokter bilang, kalau anti histamin diminumnya kalau mulai musim semi, saat bunga-bunga mulai tumbuh. Decongestan lebih baik yang lokal, efek sampingnya lebih sedikit. Tapi aku alerginya debu, tungau sama kecoa koq dok. Eh dia tak tau apa itu kecoa ternyata.”Cocroach dok, an insect” jawabku. Keukeuh da nggak tau ceunah. Taunya mite alias tungau aja si dokter teh hehe. Aduh mudah-mudahan aku cepet sembuh deh ya. Kasian anak-anakku terlantar dan suamiku repot harus mengurus semuanya. Oya tadi Aik jadi bolos sekolah gara-gara aku tak mungkin bisa menjemputnya. Hmh pokoknya kalau bunda sakit, repot pot deh…


Ayah Sakit Batuk Pilek

Filed under Diary Kesehatan

Ayah sakit batuk dan pilek, seperti dulu lagi. Badan ayah sempat panas juga. Kasihan deh ayah, padahal lagi sibuk berat membuat laporan akhir tahun. Senin depan laporannya mau dievaluasi oleh Profesor dan supervisor ayah.

Ayah malah sempat bolos lho waktu hari Rabu kemarin. Ayah sudah sempat ke dokter juga. Kata ayah, dokternya bilang penyakitnya virus seperti biasa. Oya, si dokter malah mengajak ngobrol panjang tentang kopi Bondowoso katanya. Hi hi ada ada saja ya si dokter.

Ayah diberi obat Budesonide Nevel Gf 100, neusspray 2 mg/ml. Dosisnya 2 x sehari, 2 puff di kedua hidung. Biasanya kalau pakai obat ini, batuk ayah jadi tak berkepanjangan. Ya moga-moga aja ayah cepat sembuh. Jangan nularin bunda ya yaah….


Bunda di Ligasi Lagi

Filed under Diary Kesehatan

Bangun tidur, badan rasanya meriang semua, sakit nelen pula. Mana harus ke rumah sakit lagi janjian sama dokter gastroenterolog tea. Ya udah terpaksa deh, karena ga ada makanan, ayah bikin mie brokoli yang disenengin lala itu. Trus lala kan batuk-batuk terus, n dia udah bilang ga mau sekolah. Pagi-pagi udah ngomel ‘Ayah mau lala tambah sakit, kalo keanginan nanti lala tambah sakit’. Walah kudu berantem lagi sama lala pagi-pagi males ah, ya udahlah ga usah sekolah aja, akhirnya bolos deh dia. Tiap pagi tu emang kerjaan kita beranteeeem mulu ama lala. Ya lala itu kan kalo orang bilang mah lelet banget. Tapi kalo kata mbak ema, kita yang musti ngertiin dia, dia itu tipikal anak otak kanan dan visual. Jadi kalo emaknya ga sabaran ga akan nyambung deh. Wah ngeselin banget kadang kadang, jam udah menunjukkan pukul setengah sembilan gitu, dia masih pelan-pelan ngunyah roti, disuruh pake sepatu lamaaaa banget, disuruh pake jaket lamaaaa banget. Gimana jadi ga sering berantem. Kalo lagi normal si oke, tapi kalo lagi bete, wuah berantem malah bikin tambah lama aja kan. Tapi ya gimana, kadang-kadang eman g hilang kesabaran juga sih gara-gara leletnya itu, n ngomelnya yg panjang banget itu kalo dia lagi marah kan tambah bikin ggrh gitu lo.Ya udah akhirnya berangkatlah kami ke martini Zieken huis. Aku ga kuat naik sepeda jadi semua naek sepeda ayah dibonceng. Trus sampe sana ternyata langsung disuruh ligasi sama dokternya. Hah kaget kan gw, tapi dokternya cuma bilang ‘very quick koq…’ Walah…ya gimana lagi deh. Trus dengan agak2 deg2an gitu masuklah aku keruang tindakan. Inget pas ama dr Shen sakit kan. Tapi ternyata ga terlalu sakit. Pas aku tanya kenapa koq dateng lagi n lagi sih si ambeien ini. Si dokter bilang, ya memang begitu, kaya pergi ke dentist aja several time, karena emang jaringannya berkelainan, gitu ceunah. Trus aku disuruh makan brown bread min 6 pieces tiap hari. Aduh mak…but I eat rice dok… Ya I know ceunah, but you have to. Ya sutralah akhirnya pulang-pulang langsung beli roti, obat dan selei.

Sampe rumah langsung ambruk aku, n kerasa pula senut-senut di anus. Trus langsung minum obat n mapan. Ayah bilang ke anak-anak, anak-anak sekarang ga boleh ganggu bunda ya, bunda lagi sakit. Awalnya aik bilang, bunda ga boleh sakit, bunda kenapa sakit? Trus sama ayah dibilangin, tempat eenya bunda sakit tadi habis diobatin sama pak dokter. Kenapa? katanya. Trus bunda bilang, karena dulu melahirkan aik sama lala. Kirain dia mau tanya lagi, tapi ternyata udah tuh ga tanya lagi . Ya udah tidur pulaslah bunda, dan karena ayah cuma bisa masak mie brokoli, ya itulagi deh yang dimakan siang sama anak2. Kesian banget ga sih, tapi gimana lagi. Oya ayah terpaksa bolos hari ini, soalnya aku ga sanggup ngurus anak-anak.

Habis tidur lelap lumayan lama, gantian ayah yang teler, trus tidur. Anak-anak anteng maen sama nonton TV. Ya emang sih, Tv tu jadi senjata terakhir dalam kondisi kaya gini, kalo ga gitu mana bisa mereka liat ayah bunda istirahat. Trus karena bunda dah cukup seger n penasaran sama tulisan lebaran yang belum kelar, lembur deh bunda bikin tulisan. Sampe om pandu dateng jam 8 gitu, baru bunda selesai. Habis itu karena kesian liat anak2 seharian makan mie ya udah aku paksain masak opor plus ngangetin bakso buat pandu.

Nah nah malemnya pas mau tidur nih, lala kan dah teler bobo duluan, sedangkan aik baru bangun karena bobo sore. Jadi dia baru tidur jam setengah 12 malem. Habis minta bacain buku mari menyanyi itu, trus aku suruh berdoa. Dia berdoa ‘Bismika Allahumma ahya wa bismika amut’ Amin. Trus aku bilang lagi, ‘eh aik berdoanya gimana sama Allah yang ada di hati aik’ Taunya dia bergumam…’tempat eek nya bunda biar sembuh’ gitu katanya. Hi hi bunda ngakak sambil seneng banget. Aduh makasih sayang, seneng sekali bunda didoain sama aik. Gimana…gimana ik… trus aku tuntun diikutin sama dia ‘Ya Allah, sembuhkanlah tempat eeknya bunda, namanya anus ik, iya anus’ katanya. He he lucu banget deh, n seneng banget dapet doa dari anakku, ternyata cerita ayah berkesan buat dia nempel.

Waktu itu juga pernah, malemnya dia makan strawberry, trus kayanya dipegang sampe tidur. Hasilnya ya belepotanlah tempat tidur bunda yang putih jadi warna merah. Pas dia bangun n liat, dia tanya, bunda ini apa? Aku bilang, itu kan strawberrynya aik, td malem aik lupa ya dipegang terus. Nah trus ga lama ayah dateng liat, trus bilang. ‘Ih aik mens ya, tu liat merah merah dibawah aik’ Eh dia marah ‘ bukan ayah! aik kan laki-laki, masa aik mens’ katanya gitu. He he pinter dia, inget apa yang diomongin sama ayah bunda. Dia kan suka liat kalo aku pipis trus ada mensnya, atau lagi tembus di rok atau kasur gitu. Trus dia selalu tanya, itu apa? Nah kesempatan kan mencicil pendidikan sex. Aku jelasin, ini darah mens yang keluar dari rahimnya bunda. Nanti kalo mbak lala udah besar juga mens kaya bunda. Kalo laki-laki nggak mens, aik juga nggak mens. Untung ga tanya lagi, belum kali, ntar pasti nanyanya lebih susah kalo dia dah tambah umur.


Malik Pergi ke Thuiszorg

Filed under Diary Kesehatan

Hari ini Malik bolos sekolah karena harus pergi ke Thuiszorg di Corpus de horn. Thuiszorg itu adalah semacam klinik untuk anak-anak berusia 0 sampai 4 tahun. Disana ada perawat dan dokter yang akan selalu memeriksa tumbuh kembang anak, dan imunisasi anak. Jadi semua urusan mulai dari sulit makan, tidur, pertumbuhan TB dan BB anak, semua di lakukan disitu. Mungkin seperti posyandu di Indonesia barangkali ya. Tapi kalau yang ini mengurusi anak satu kota, lebih lengkap dan gratis lagi. Tiap anak pasti dijadwal untuk bertemu dokter dan perawat tiap beberapa bulan sekali tergantung keperluannya.Waktu baru datang ke Groningen ini, kami dikirimi surat untuk mengisi lembaran imunisasi apa saja yang sudah didapat sama Malik. Tapi karena aku masih pusing dengan masalah adaptasi, lalu baca artikel-artikel tentang vaksinasi yang masih pro kontra, jadinya aku cuekin si surat itu. Ternyata, seorang perawat dari sana datang ke rumahku. Dia heran kenapa aku tak membalas surat itu. Wah aku bilang “Sory, I’m not answered because I’m still confused to decide that I want to give vactination for my son or not”. Ya, kami ngobrol seputar tumbuh kembang Malik dari lahir, mulai dari berat lahir, panjang badan, apgar, kapan dia mulai bicara, jalan, dan lain-lain. Aku ingat betul semua tentang Malik karena aku mencatatnya, tapi lupa, semua catatan itu tak kubawa.

Tadi, kami menemui suster itu lagi. Dia bertanya, “Do you have any question or any problem about Malik?” Ayah yang mulai tanya, tentang feeding, sama sleeping time nya Aik. Anak-anak kan suka tidurnya jam 9 atau 10 malem, sedangkan anak sini tidurnya jam 7 atau jam 8 malam. Ya, suster itu hanya bilang, itu masalah kebiasaan atau aturan yang harus ditegakkan. Aku juga sudah tahu teorinya, anak harus punya koridor, aturan. Anak usia egosentris memang selalu melawan, negativistik, tapi orangtua tetap harus memberi aturan dan koridor. Anak akan merasa lebih nyaman dan aman ketika hidupnya teratur.

Informasi lain yang penting dari suster tadi, karena disini cahaya matahari kurang, anak sampai 4 tahun harus diberi tambahan vitamin D. Untuk vitamin lain, Huisart sendiri tidak menganjurkan apapun bila makanan anak dirasa sudah cukup. Tapi, untuk vitamin D aku pikir memang perlu ya.

Oya tadi aku juga bertanya, kemana aku bisa mencari psikolog untuk lala. Suster itu menganjurkan aku bertanya pada pihak sekolah, karena di sekolah tersedia katanya.

Setelah itu, kami harus menunggu agak lama, baru kemudian bertemu dokter. Dokternya masih muda, bahasa Inggrisnya aku pikir juga kurang bagus. Dia banyak tak mengerti apa yang ku bilang. Dia juga berkata sama, apakah aku punya pertanyaan tentang Malik atau tidak. Malik diperiksa mata tadi. Disuruh pakai kacamata kuda he he, warna coklat besar, satu mata ditutup, bergantian. Malik pintar ketika disuruh menunjuk semua benda yang ada, dia bisa menjawab dengan tepat seperti clock, house,cat, dan auto. Campur-campur pakai bahasa Inggris dan Belanda. Setelah itu diperiksa mata pakai opthalmoscop, diraba leher, dperiksa suara paru-paru, perut , scrotum dan penis.

Oya, tadi aku sempat sedikit bersitegang dengan si dokter. Walaupun WHO, IDAI sudah memberikan penjelasan tentang amannya MMR dan thimerosal. Tapi aku ingin mendapat penjelasan lebih dari dokter disini. Aku bilang, aku masih belum bisa memutuskan apakah anakku mau divaksinasi BMR atau tidak. Aku bilang, waktu malik usia 15 bulan, saat seharusnya di MMR, waktu itu sedang booming pro kontra MMR menyebabkan autism. Si dokter bilang, “it’s good”. Aku bilang, ya aku tahu bagus, tapi kenapa ada banyak dokter, yang tidak setuju. Aku baca dari internet. Terus dia bilang, “You know internet…” Dalam hati aku agak-agak kesal. Whats wrong with internet?.

Aku bilang juga akhirnya,” aku juga baca dari buku dok. Kenapa buku itu ada, kalau kasusnya tidak ada?” Maksudku, aku ingin dia menjelaskan bagusnya dimana dan kenapa, tapi dia cuma bilang bagus. Ya akhirnya aku bilang, aku perlu informasi untuk bahan pertimbangan. Oke akhirnya dia kasih, tapi dalam bahasa belanda. Walah bahasa Belandaku baru level 1 euy…
Ya…akhirnya, Malik akan disuruh balik lagi ketika usianya 3 tahun 9 bulan nanti. Rencananya mau divaksin DPT ulang. Begitulah cerita Thuiszorg hari ini….


Lala sakit lagi

Filed under Diary Kesehatan

Kemarin, lala nggak masuk sekolah lagi. Sebetulnya sih karena ayah telat bangun gara-gara nyambangi tamu sampe after midnight. Tapi juga karena hidung lala mulai meler dan batuk. Sakit lagi….sakit lagi. Hari ini dia bolos lagi, karena batuknya semakin menjadi. Jam 10 pagi aku antar dia ke huisart, dokter keluarga. Awalnya si dokter cuma tanya ke aku ‘Do you know how many times children get sick every year?” Aku bilang, “I don’t know exactly, 5 time maybe”. He he terus dia ketawa, “You should read a journal, children get sick 12 time a year. Its common in children, viral infection”.“O, ya, it means children can get sick one time a month, but lala, one time a week dok… I’m just worried about her school, she always absent every week”. Baru deh dia agak-agak mikir, bete juga sih tadi karena hampir disuruh pulang begitu saja tanpa dikasih apa-apa. Waktu aku bilang ” She has asma in Indonesia dok, is it possible that her cough happen because her asma, mild asma maybe?” Wah aku bener-bener belagak pasien bodoh aja. Padahal aku tau betul dari buku Tatalaksana terbaru asma, bila ditemukan gejala tunggal hanya batuk persisten saja, tanpa ada gejala klasik asma lain seperti wheezing dan sesak, harus dipertimbangkan adanya suatu hipereaktif jalan nafas (HRB) yang merupakan suatu gejala serangan asma. Therapinya juga sama dengan terapi asma klasik. Buktinya, tiap lala batuk sering gitu, terus aku kasih obatnya Malik mendingan tuh. Aku pinginnya lala dirujuk ke spesialis biar dapat obat kaya Malik juga, biar ga minta punya Malik. Tapi si dokter nggak berpikir ke arah asma, sebel deh.

Si dokter terus meriksa lala, karena dia tidak menemukan suara apapun di paru-paru lala, dia cuma bilang,” that is not asma, there is nothing on her lung”. Hmh sebel deh, iya dok..iya…tapi… aduh tadi aku lupa pula istilah HRB, yang jelas aku pingin lala dirujuk ke spesialis anak. Akhirnya aku tanya lagi, “It could be there is something in her imune system dok..?” Terus dia bilang, biasanya gejalanya more severe kalo ada gangguan sistem imun. Dia cerita “My doughter has system imune disease an get a bone marrow transplantation, but the case is very rare”. Karena aku keukeuh , worrie about her school, akhirnya dia kasih aku surat buat ke laboratorium, buat periksa darah rutin sama CRP. Ya lumayan lah daripada suruh pulang nganggur. Harusnya sih periksa sekarang, tapi kan ayah lagi ke Utrech, jadi paling baru besok deh…