Home » Diary Kesehatan

Diploma Gips Lala

“Lala mau pilih gips warna apa, merah, biru, atau ungu?” tanya perawat di rumah sakit itu ramah. “Even denken (Pikir dulu yaa),” jawab Lala sambil senyum senang. “Ik will Rood (Aku mau yang merah),” kata Lala akhirnya. Hmm…enak betul ya, warna gips bisa milih hehe. Sebetulnya, kaki Lala tidak perlu di gips berat lagi. Gips kali ini hanya gips ringan, dan yang berwarna merah itu adalah plester untuk membalut kaki Lala. Tapi mengetahui gips barunya menjadi berwarna merah, Lala tentu saja senang. Itulah yang terjadi saat Lala kontrol memeriksakan kakinya di rumah sakit. Bukan hanya itu, setelah semua selesai, ‘kaki baru’ Lala diberi sepatu sandal juga. Warnanya hitam, kata perawatnya untuk memudahkan Lala saat berjalan, jadi Lala tak perlu pakai kruk lagi. Eh, masih ada lagi, Lala juga dapat diploma gips! Waah senyum Lala langsung mengembang lagi. Bangga betul lo Lala dikasih diploma gips :-)

Read More »

Dari Gips Lala Belajar

Lala-kakigips-fila.jpg
Kaki Lala digips dan hadiah boneka Fila

Membayangkan anak patah tulang dan kaki atau tangannya harus digips? Aduuh…baru membayangkan saja sudah ngilu rasanya. Tapi ternyata ini benar-benar terjadi pada Lala kemarin. Untungnya, patah tulangnya masih diragukan. Yang jelas ankle kaki kirinya mengalami pembengkakan dan terluka. Kaki Lala masuk ke jeruji sepeda saat Lala sedang dibonceng naik sepeda. Accident itu terjadi saat Lala merubah posisi duduk. Saat berangkat Lala membonceng dengan posisi laki-laki (kaki terbuka). Tapi saat kejadian, posisi Lala sudah berubah menjadi posisi duduk perempuan. Dasar bocah, pindah asal pindah, nggak ngomong-ngomong hehe, kejadian deh. Ketika hal itu terjadi, sempat terdengar bunyi “krek..krek..” tanda kaki Lala atau sepatunya barangkali, terputar roda sepeda. Iih ngilu kan.

Setelah dilakukan rontgen, gambaran rontgennya masih meragukan, entah patah atau hanya sekedar contusio. Yang jelas dokter memutuskan untuk memperlakukan ankle nya seperti kasus patah tulang. Jadi, Lala harus digips! Hmm…musibah memang bisa terjadi kapan saja, padahal beberapa hari lagi Lala ulangtahun. Tapi, kejadian ini mengajari Lala banyak hal. Ya, mesti akan selalu ada mutiara dibalik duka kan.

Read More »

Aduh…Ngilunya…

Aduh! Kapok pok deh. Sakiiit sekali, ngilu pula. Aku pun tak kuasa menahan air mata. Saking sakitnya. Acara pembersihan karang gigi tadi pagi ternyata ‘mengerikan’ hehe. Tapi pembersihannya tak sampai 40 menit, hanya 15 menit saja. Setelah itu aku diajari cara membersihkan gusi sekira 15 menit lamanya. Jadi total ya 30 menit.

Dulu aku juga beberapa kali pernah dibersihkan karang gigi macam ini. Kalau ke dokter gigi swasta di Indo, biasanya dibersihkan yang atas dulu. Lalu kontrol seminggu, baru yang bawah digarap. Itupun harus bolak-balik buang ludah dan kumur karena tak tahan mulut mangap terus. Aku tak tahu apakah di Indonesia sekarang alat-alatnya pun sudah semakin canggih. Terakhir aku ke dokter gigi tahun 2004, ya masih seperti itu. Sedangkan disini, 30 menit sudah beres semua. Lalu ada alat khusus untuk menyemprotkan sedikit cairan, supaya tak perlu membuang ludah atau berkumur. Alat itu dipegang oleh asisten si dokter. Aku disuruh berkumur hanya setelah tindakan selesai. Dan selama tindakan, aku pun tak merasa ingin membuang ludah. Jadi lebih nyaman deh rasanya.

Read More »

Ginggivitis

Tadi pagi aku ke dokter gigi diantar ayah dan Aik. Bahasa Belandanya dokter gigi itu Tandart. Wow, aku terkagum-kagum deh waktu masuk ke tempat prakteknya, kayak si kabayan masuk kota aje hehe. Di ruang tunggu nya seperti biasa, pasti ada tempat mainan untuk anak-anak. Ada kursi berbentuk gigi, mainan lego dan mobil-mobilan. Hmm langsung deh Aik antusias bermain lego.

Waktu aku dipanggil masuk ke ruang tindakan, aku langsung disuruh duduk di kursi pemeriksaan. Lalu si dokter gigi menyapa aku dengan ramah “Where are you come from? Do you like live in Groningen?” dan lain-lain deh. Aku ceritakan tentang gusiku yang selalu berdarah setiap habis gosok gigi. Keluhan ini sudah lama sekali, hampir setahun barangkali. Dokter gigi itu langsung memeriksa gigiku. Hebatnya, setelah itu gigiku juga langsung di Rontgen. Di Indonesia ada nggak ya, acara baru datang langsung di rontgen macam begini. Kalaupun ada pasti buat kasus-kasus susah aja kali ya. Aku pernah ke dokter gigi di Indo dengan keluhan yang sama, beberapa kali, dan ganti-ganti dokter gigi pula. Tapi tak ada satu pun yang menyuruhku untuk rontgen.

Read More »

Ketularan Ayah

Akhirnya, aku ketularan ayah juga. Wah parah deh kalau aku sedang sakit seperti ini. Anak-anak terlantar, rumah berantakan, makanan juga yang siap saji aja. Sudah 3 hari ini nih aku menggigil terus, badan linu-linu, kedua lubang hidung betul-betul mampet . Aku hanya bisa bernapas lewat mulut. Jadi nya ya dying banget. Kalau di Indo sedang kayak begini, bisa tinggal beli sayur depan rumah, apa beli lauk. Kalau disini…? Wuah bingung. Ayah mau coba cari sih di toko Semarang, tapi khawatir juga ada campuran yang aneh-aneh. Kalau pun beli ya yang betul-betul sayur aja.

Read More »

Ayah Sakit Batuk Pilek

Ayah sakit batuk dan pilek, seperti dulu lagi. Badan ayah sempat panas juga. Kasihan deh ayah, padahal lagi sibuk berat membuat laporan akhir tahun. Senin depan laporannya mau dievaluasi oleh Profesor dan supervisor ayah.

Ayah malah sempat bolos lho waktu hari Rabu kemarin. Ayah sudah sempat ke dokter juga. Kata ayah, dokternya bilang penyakitnya virus seperti biasa. Oya, si dokter malah mengajak ngobrol panjang tentang kopi Bondowoso katanya. Hi hi ada ada saja ya si dokter.

Ayah diberi obat Budesonide Nevel Gf 100, neusspray 2 mg/ml. Dosisnya 2 x sehari, 2 puff di kedua hidung. Biasanya kalau pakai obat ini, batuk ayah jadi tak berkepanjangan. Ya moga-moga aja ayah cepat sembuh. Jangan nularin bunda ya yaah….

Read More »

Malik Pergi ke Thuiszorg

Hari ini Malik bolos sekolah karena harus pergi ke Thuiszorg di Corpus de horn. Thuiszorg itu adalah semacam klinik untuk anak-anak berusia 0 sampai 4 tahun. Disana ada perawat dan dokter yang akan selalu memeriksa tumbuh kembang anak, dan imunisasi anak. Jadi semua urusan mulai dari sulit makan, tidur, pertumbuhan TB dan BB anak, semua di lakukan disitu. Mungkin seperti posyandu di Indonesia barangkali ya. Tapi kalau yang ini mengurusi anak satu kota, lebih lengkap dan gratis lagi. Tiap anak pasti dijadwal untuk bertemu dokter dan perawat tiap beberapa bulan sekali tergantung keperluannya.

Read More »

Lala sakit lagi

Kemarin, lala nggak masuk sekolah lagi. Sebetulnya sih karena ayah telat bangun gara-gara nyambangi tamu sampe after midnight. Tapi juga karena hidung lala mulai meler dan batuk. Sakit lagi….sakit lagi. Hari ini dia bolos lagi, karena batuknya semakin menjadi. Jam 10 pagi aku antar dia ke huisart, dokter keluarga. Awalnya si dokter cuma tanya ke aku ‘Do you know how many times children get sick every year?” Aku bilang, “I don’t know exactly, 5 time maybe”. He he terus dia ketawa, “You should read a journal, children get sick 12 time a year. Its common in children, viral infection”.

Read More »