Archives for “Diary Spiritual”

Yesterday, Today, Tomorrow and in The End

Filed under Diary Spiritual, English Corner

When mortals are alive, they worry about death. When they’re full, they worry about hunger. Theirs is the Great Uncertainty. But sages don’t consider the past. And they don’t worry about the future. Nor do they cling to the present. And from moment to moment they follow the Way.” ( Bodhidharma quotes)

Yesterday, I had a Grey day. Then, my husband sent me this quote and I was touched. It reminded me not to worry about the future and to enjoy the present time, moment to moment. I’m learning to live in the present time, moment to moment, but I never know that in fact it is just easy to say, very hard to do. My thoughts, my monkey minds, always grips me, like a tiger grasps its prey.

Selengkapnya…


Behavior Change

Filed under Diary Parenting, Diary Spiritual, English Corner, Lala dan Malik

“If you have set a rule, discussed it with your children and they have agreed, no more discussion!” Said Marlyn, the psychologist of Malik. “When they broke the rule, don’t argue a lot because children in your children’s age need your authority. I don’t say that there is no room for discussions, of course they also need discussions, but not for the rule that you have made. The story will be different if we talk about adolescent, we have to be more flexible, but again, in your children’s age they need disciplines,” Marlyn continued.

That was one of our conversation’s topic in our second meeting last Friday, when my husband and I came to the psychologist. Why we had to go to the psychologist, then? The story began when we met Malik’s teacher in November 2009, and he wondered whether my son like to go to school or not. He said that my son was easy to get angry, cranky, often looked sad at school and preferred to be alone. I was surprised to hear that because I also had the same problems at home, and it has been happening since 1,5 years ago. I noticed that indeed my son has changed his behaviors and it made me sad because lately, I argued a lot with him and I was often loose my patient. Before that, he was a sweet, cute,  an easy going child and I had never got a a ‘bad story’ from his teacher as well. Every body liked him and I seldom had any problems with him.

Selengkapnya…


Will It Be Wonderful in The End?

Filed under Diary Parenting, Diary Spiritual, English Corner

I’m crying, again. Everybody said that I’m a  happy person, always cheerful and my live is perfect. But nobodies know about my sorrow, my problems and what I feel, except my husband of course.  I always said to my husband,”If my husband is not you, maybe I have got depressed and ran away from this country.” Even though I didn’t have money to go back to my homeland, probably I could do anything to leave my husband, to fly away as far as I can. Fortunately, God gives me a husband like him, a perfect husband for me. He just like an angel who can cure my broken wings so we could fly together again. He is  my shoulder to cry on, my ‘harbor’ for all of my suffering. Without him, I’m nothing. Without him, I’m drowning.

Selengkapnya…


Why Do I Write?

Filed under Books and Writing, Diary Spiritual, English Corner

“Why do I write? Why do I write? Why do I write?,” Just like a bee buzzing around flowers, this question come up to my mind ever and ever again, wherever I am. Yes, Why do I write? Isn’t it odd? I have been writing for several years, but I never ask this question, this fundamental question. This question keep bothering me since somebody suggested me to ask my self about it.

Then, in a lovely evening, when my children was playing around me and my husband was working in his ‘laboratory’, I took a deep breath, lied in my bed, pondered to answer this question deeply. I tried to look for the answer, but my mind just kept silent and my heart didn’t give any signal even one clue. I waited and waited, hoping the answer would pop up in my mind, but useless. I felt bad and tired. Oh God, why is it so difficult to answer the question?

Selengkapnya…


Ndak Usah Ngoyo

Filed under Diary Spiritual, Sharing Teman

Aku yakin, tamu memang membawa berkah, seperti kata falsafah. Keberkahan itu kadang bukan dalam bentuk materi, tapi pesan-pesan penting yang seperti sengaja didatangkan Tuhan. Semenjak pindah ke rumah baru di Diemen, setiap sekali atau dua kali sebulan, selalu ada tamu menginap di rumahku. Aku jadi banyak bertemu orang, baik kawan lama maupun baru. Mereka pun datang dengan segala keunikan dan pesan. Bulan November tahun 2009 lalu, rumahku bahkan pernah diinapi oleh Mba Asma Nadia dan bang Isa, yang sebelumnya hanya aku tahu lewat dunia maya.

Selengkapnya…


Read a lot, listen a lot, and write a lot,” tips penting dari Natalie Goldberg dalam bukunya ‘ Writing Down the Bones’ itu kucatat dan kurekam baik-baik dalam memoriku.Seorang yang ingin menulis atau menjadi penulis, tidak bisa menganggap sepele ‘listen a lot,’ with all of  your body. Sering kita ngobrol ngalor ngidul dengan siapapun atau jalan-jalan ke suatu tempat, tapi kalau kita tak berusaha mendengar dengan seluruh indra kita, banyak hal yang kemudian terabaikan dan terlupa.

Selengkapnya…


Being ‘Alien’

Filed under Diary Spiritual, Tentang Belanda

Aku tak pernah menyangka bila akhirnya perjalanan hidup membuatku harus mencicipi rasanya keterasingan, menjadi orang asing, menjadi sosok aneh yang tak lazim. Kadang, mereka memandangku sebelah mata, mentatap lama-lama, dan menganggapku sebagai manusia penebar murka. Meski memang tak semua, namun awalnya berat juga. Aku bahkan sempat menitikkan air mata.

Suatu kali ketika aku sedang berbelanja di pasar tradisional ala Eropa, aku telah menunggu dengan lama dan berusaha bertanya. Namun sang penjual tak mau menyapaku juga. Meski akhirnya aku dilayaninya, namun dipandangnya aku dengan mata tak suka. Kali lain, ketika aku dekat dengan anak-anak balita Belanda lantaran kerap menjaga mereka saat jam istirahat sekolah, orangtua-orangtua mereka sering menghunjamkan matanya padaku lama-lama. Pernah, anak bule ganteng berumur 5 tahun bernama Boaz, ketika papanya menjemput, dipamerkannya aku pada papanya dan disapanya aku dengan mesra. Ayahnya yang semula menatapku sekilas lalu segera membalikkan badannya. Dipandanginya aku dari ujung kaki sampai ujung kepala, hingga kemudian ia berlalu bersama anaknya. Sreet! Hatiku tergores seketika. Betapa hina aku dimatanya, hingga ia harus memelototi aku sedemikian rupa. Ah, sudahlah biarkan saja, tak kenal maka tak sayang begitu kan kata orang, hiburku mencoba menghapus goresan luka.

Selengkapnya…


Nikmat mana lagi yang Kudustakan

Filed under Diary Spiritual

Semalam, ada yang sesak dalam dadaku, ketika kupeluk semua cintaku. Aku begitu terharu. Nikmat mana lagi yang kudustakan? Sepulang dari sekolah malam hari, (karena aku dan suamiku harus bertemu dengan gurunya anak-anak), mereka tetap menagih acara ‘pesta’ untukku. What a surprise! Belum pernah ada pesta ulang tahun untukku selama ini. Mungkin karena dulu anak-anak masih kecil. Tapi sekarang mereka beranjak besar. Dari beberapa hari lalu, aku memang mendengar mereka kasak-kusuk dengan ayahnya, untuk merencanakan acara spesial buatku. Hmm…aku tak menyangka, ternyata mereka serius!.

Selengkapnya…


Usia Baru Fase Baru

Filed under Cinta dan Puisi, Diary Spiritual

Kemarin hari ulang tahunku.
Sudah tua rasanya aku.
Begitu cepat hari berlalu,
tiba-tiba saja, anak-anakku sudah bisa merencanakan acara seru.
Aku begitu terharu.
Duh Tuhanku, betapa kufurnya aku kalau tak mensyukuri semua nikmatMu.

Salah satu tahun tersulit dalam hidupku adalah tahun lalu.
Lahir dan batinku rasanya diadu-adu.
Air mataku sering meluncur tak menentu.
Tapi janji Allah tak pernah palsu,
sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, aku sangat yakin itu.
Dan setelah semua berlalu,
ada keindahan, kenikmatan, yang tak terbilang,
bersemayam dalam relung hatiku.
Kadang aku kerap merindukan rasa itu.
Rasa yang munculnya, aneh, selalu ketika hari-hariku sedang kelabu.
Ya, sebetulnya tidak aneh,
bukankah Tuhan beserta orang-orang yang remuk hatinya, kata temanku.
Ya, aku sangat setuju.
Karena pengalamanku juga berbicara begitu.

Kini, tiga bulan berlalu, setelah lewat tahun baru.
Usai semua kejadian itu, aku benar-benar mengalami fase baru.
Kota tempat tinggalku, rumahku, kegiatanku, semua baru.
Dan aku sangat menikmati itu.
Terimakasih Tuhan, janjiMu memang tak pernah palsu
Semoga fase baru ini semakin membuatku bermutu dimataMu


Lagi-lagi Hoofddoek

Filed under Diary Spiritual, Tentang Belanda

Belakangan ini hari-hariku sedang padat banget. Suamiku sedang conference ke Canary Island. Sementara jadwal kerjaku seminggu full dari pagi sampe sore pulak. Mana kerjaanku, kerja pakai otot. Pulang-pulang aku harus jemput anak-anak sekolah lalu sampe rumah masih harus masak buat anak kos. Kadang aku juga harus antar jemput anak-anak berenang, sepak bola, les piano. Wuah pokoknya fully booked, hari seperti berlari rasanya. Tapi cerita ini nggak ingin kulewatkan, jadi aku sempatkan menuliskannya sebagai catatan hati.

Selengkapnya…


Penaklukan Arogansi Intelektual

Filed under Diary Spiritual

Ada fase baru dalam hidupku kini. Studi suamiku hampir usai sudah. Menjelang pulang sama dengan pembengkakan. Ya, apalagi kalau bukan pembengkakan uang. Belum lagi mimpi-mimpiku masih melambai tak mau terbang. Aku ini doyan jalan. Turki, Maroko, Umroh, duh sungguh sayang kalau tempat-tempat itu dilewatkan. Impianku untuk sekolah lagi pun masih terbayang, tentu saja uang pun dibutuhkan. Ongkos pesawat Amsterdam-Jakarta mahalnya bukan kepalang. Apalagi biaya sekolah.Terlepas akan kemanakah Allah hendak membawa kami menetap nantinya, tetap saja kami harus sejenak pulang. Sejak tiba di negeri ini pertengahan tahun 2004, kami belum pernah sekali pun pulang.

Selengkapnya…


Dimanakah Kebenaran?

Filed under Diary Spiritual

Terinspirasi dari postingan tulisan-tulisan Adian Husaini Vs Jalaludin Rahmat yang lagi hot di beberapa milis. Masing-masing berkata dengan dalil Al Qur’an. Ketika semua pendapat berkata bahwa apa yang dikatakannya berdasarkan AlQuran, Si A bilang si B sesat, si B bilang si A harus diluruskan. Si A antipati pada si B dan juga sebaliknya. Si A bilang si B memlintir ayat, demikian juga sebaliknya. Lalu siapakah yang bisa dipercaya? Ini seperti cerita lama, cerita saat aku mahasiswa. Tak henti aku mencari, aku tetap limbung dan bingung. Mengapa dunia sekitarku isinya hanya perdebatan saja? Aku lelah! Dimana kedamaian itu? Dimana Islam yang rahmatanlil’alamin itu? Mana yang harus kupilih dan dimanakah kebenaran itu sesungguhnya?

Kini, satu hal yang kuyakini, bahasa-bahasa yang menebarkan kebencian, bahasa-bahasa yang menjadikan pikiran dan logika sebagai raja, tak bisa masuk ke hatiku. Aku tak lagi bingung dan limbung seperti dulu. Mengapa? Karena aku yakin, rajanya manusia adalah hati bukan pikiran atau logika. Dalam hati manusia lah ‘rumah’ Allah berada. Islam adalah kedamaian, rasa Allah itu damai, nikmat, sejuk, indah…bukan rasa siksa, bukan rasa benci dan rasa-rasa negatif lainnya.

Puisi ini hanya nasehat untuk diriku sendiri, hasil renunganku, dan sebagai pengingat, dari perjalanan spiritual yang aku alami. Karena setiap orang punya perjalanan diri masing-masing, sangat mungkin bila puisi ini tak akan berlaku buat orang lain. Pencarian kebenaran adalah pencarian yang tak berujung, hingga maut memisahkan. Dan aku pun ingin terus berjalan.Wallahualam bisawab.

Preamble:

Ketika manusia saling menuding, menunjuk, berteriak
“Aku lah kebenaran!”
Dimanakah ia, sang kebenaran itu sesungguhnya?
Barangkali puisi ini bisa menjawabnya
Namun tentu saja kebenaran hanyalah milikNya
Karena manusia hanya bisa meraba-raba
Semoga saja benar adanya

Tapi tak berhak sesungguhnya
Manusia berkata,”Aku lah sang juara!
Bukankah manusia hanyalah tempat salah dan dosa?
Menuding, menunjuk tak akan membuatnya mulia
Tunjuklah hati, tunjuklah diri,
Sudahkah ia bersujud, tunduk dan selalu menyebut
Allah…Allah..Allah dan Allah….?
Sungguh, tak ada juara itu, melainkan Allah!

Dimanakah Kebenaran?

Demi Dia yang menguasai langit dan semesta
Demi Dia yang menggenggam jiwa-jiwa manusia
Ketika tiba masanya semesta menunduk
Ketika tiba masanya jiwa-jiwa membuka tabir dirinya
Siapa kamu? Apa? Apa yang kau lakukan di dunia?

Wajah-wajah pucat menjawab
Aku si anu yang beragama anu
Apa agamamu? Islam? Yahudi? Nasrani atau Majusi?
Bukan! Agamamu adalah nafsu!
Nafsu yang membuatmu lupa
Kepada siapa sesungguhnya kamu akan kembali

Agama bukan lah Tuhan , Tuhan adalah Allah
Sungguh! Tuhan adalah Allah!
Allah lah Tuhan itu, yang satu!
Yang wajib kau sembah dengan segala penghambaan tertinggi
Yang wajib kau sembah seperti bumi mengabdi padaNya

Kau tahu bumi?
Bumi itu tak henti berputar, berputar dan berputar
Tanpa jeda, tanpa titik, tanpa koma!
Terus dan terus seperti roda, ya seperti roda
Roda-roda yang berputar dengan kekuatan tak berhingga

Dan kau, manusia. Bukankah kau manusia?
Mengapa kau tak berkaca pada bumi?
Yang tak pernah sejenak pun melupakan Tuhannya.
Mengapa kau sembah ia sang nafsu durjana
Kau tahu nafsu itu?
Ia tak berupa tapi pintarnya luar biasa
Mengapa, mengapa kau menghamba padanya?

Nafsu itu seperti ular bermata tiga
Jelinya luar biasa
Sedikit saja kau lupa padaNya
Ia akan membelitmu sekuat-kuatnya
Dan kau, tak berkutik dibuatnya!

Ia akan berdalih, ayo lah ini demi agama
Ia pun berkata, hei! Mereka musuh-musuh kita
Allah yang bicara, sungguh, Tuhan kita yang bicara
Apa kau tak ingin masuk surga?
Dan, kau pun terpedaya!

Tuhan itu mulia, tidakkah kau melihatnya?
Ia lah Sang Maha,
yang tak pernah mengijinkan umatnya saling hina
kau caci ia, kau maki ia, kau tuding ia
sebagai sang pakar pembuat onar
Sungguh, muliakah itu disisiNya?

Mengapa, tidak kau tiru ia, Muhammad nabi kita
Betapa santunnya ia, betapa elok tingkah dan lakunya
Sungguh, ia tak pernah berdalih atas nama agama
Muhammad seperti bumi, yang tak henti sejenak pun mengingatNya
Muhammad seperti laut, yang teduh dan siap menampung apa saja

Manusia, hei manusia! Mengapa tak kau ikuti ia,mereka
Nabi-nabi pendahulu manusia, sejak Adam dan Hawa
Mereka hanya menyembahNya, bukan, bukan ‘sang ular bermata tiga’
Tak berkutik sang nafsu, tercekik ia, mati ia
Karena tak ada jeda, sejenak pun tak ada
Tak pernah mereka biarkan sang ular menerkam, membelit
menyentuh, mendekat, bahkan melihat pun sang ular tak kuasa

Orang-orang mulia itu selalu terjaga
Menyebut, memanggil, menjerit, berteriak memanggil-manggil Tuhannya.
Allah..Allah..Allah..Allah…Allah…Allah dan Allah begitu seterusnya
Tak henti seperti bumi mengelilingi matahari
Mana sanggup ia, sang ular, bahkan menatap pun ia tak bisa

Ikutilah…Ikutilah mereka
Mereka yang selalu memanggil-manggil Allah dalam hatinya
Mereka yang tak pernah sedetik pun melupakanNya
Hingga ia, sang ular berbisa tertunduk, mengerut, takut.
Tidak, tak! Tak akan ia sanggup menyelusup ke dalam jiwa-jiwa
Jiwa-jiwa yang selalu menyebut, memanggil, menjerit
dan tersungkur berbisik Allah…Allah..Allah…Allahu..Allah!

Bukan! Bukan agama, bukan pula manusia
Bukan! Bukan ayat bukan pula hadits yang membuatmu selamat
Tapi Ia, Ia sang Maha yang mengajarkan kemuliaan pada umatNya
Sungguh, agama hanya lah sebuah jalan, ia bukan Tuhan!
Tuhanmu adalah Allah! Mengapa kau lupa? Mengapa kau tega?
Tega membuat manusia lainnya jatuh, tersungkur, terpuruk, ternoda
Terhina dan ternista padahal ia dan mereka, milikNya jua

Bukan! Bukan dengan kebencian
Bukan! Bukan dengan kebanggaan
Bukan pula keangkuhan
Tapi kesabaran, kedamaian, kenikmatan,
Kenyamanan, kesederhanaan, kebahagiaan
bagi semua umat manusia

AlQuran diturunkan bukan untuk dipuja
AlQuran adalah jalan keselamatan
Dan jalan keselamatan tak akan membuat mereka,
umat-umatnya saling sikut, saling timpuk, saling tunjuk
atas nama agama, dengan nama agama, dengan dalih agama
Itu kah jalan keselamatan? Seperti itu kah jalan Tuhan?

Lalu dimana kebenaran?
Kebenaran adalah Allah
Ia lah kebenaran sejati
lewat AlQuran Allah menjelma kebenaran
Karena itu baca lah ia
Baca ia, tapi dengan mata

Bukan, bukan dengan mata biasa
Tapi mata yang selalu menunduk, menekuk
Menembus segumpal nokhtah dalam dada
Mata yang bisa membaca tanpa harus membukanya
Ia lah dia sang mata hati

Hati yang di dalamnya seperti bumi
Yang tak berhenti menyebut namanya
Yang tak ada jeda untuk selalu mengingatNya
Sungguh itu lah dia, jalan keselamatan
Jalan nabi-nabi kita
Yang bersamanya kemuliaan selalu ada

Dengan namaMu ya Allah
Salamun qoulam mirrabbirrahim

Groningen, 19 Januari 2007

Saat badai menjelma asa


Ketika Tirai Menjelma Lentera

Filed under Diary Spiritual

Ketika hati bertanya
Dimana, dimana aku
Aku, aku adalah sebuah lentera
Sinarnya menerangi jagat jiwa

Ketika hati bertanya
Dimana, dimana tempat kembalimu
Engkau, aku kamu siapapun itu tak akan pernah tahu
Hingga tabir itu terkuak, terbuka menganga

Aku adalah sebuah pencarian panjang
Hingga maut memisahkan
Aku bukanlah sesuatu yang mudah kau pandang
Ia seperti mutiara di dalam sekam
Ia tak mampu kau buka tanpa kau tertunduk, menggosoknya
Menggalinya, menguak tabir tabirnya satu per-satu

Hingga tabir itu memancarkan lentera
temaram hangat membuai jiwa
Tidak! Tak! Ia tak akan pudar
Ia selalu dan selalu menyala
Memesona mengguncang dunia

Kau tahu betapa semua itu hanya akan membuatmu bisu
Tak mampu berkata-kata
Tak mampu bicara
diam seribu bahasa
Kau, sungguh! Kau tak akan mampu bilang apa-apa
Bibirmu kelu wajahmu pias membiru
Bila kau tahu bagaimana rasanya

Rasa apa?
Rasa ketika tirai menjelma lentera
Kau terpaku, menganga tak percaya
Bahagia itu tak bernama
Bahagia itu nikmatnya tak bisa kau raba

Bila suatu ketika tabir menjelma lentera
Seperti malam mengurai fajar.
Bila masa itu tiba terbuka menganga
seperti cahaya menembus jagat raya
Saat-saat itu akan berbuah juga

Ketika kau berjuang menguaknya
Satu demi satu, berlari berjalan merangkak
Satu demi satu, berpeluh melepuh rapuh
Hingga kerak-kerak itu legamnya tak lagi kelam
Perlahan, seperti angin bertiup tak kencang
Sinarnya merona kemilau menyala
Menghidupkan lentera!
Oh sungguh! tiada asa seindah asa kepada lentera
Oh sungguh! indah itu tak berupa saking luar biasa
Subhanallah! Maha suci Engkau wahai pemilik semesta!

Ingatlah ketika engkau bertanya siapa Tuhanmu
dan kau menjawab,” Tuhanku adalah Allah!”
Siapakah dia yang menjawab itu
Aku, ya ,aku sang lentera
Yang dulu menyala dan kini pudar kelam padam

Oh sungguh!..sungguh merugi dia!
Dia siapa? Dia! ya dia!
Dia yang enggan merunduk membuka tabir lama
Tabir itu, kau tahu tabir itu?
Itulah ia yang mengantarkan manusia ke jalan samudra
Jalan-jalan orang yang dimuliakan, disucikan, disempurnakan!
Wahai manusia sungguh tak Kuciptakan bumi dan segala isinya
kecuali hanya dan hanya sebagai bukti perumpaan jagat jiwa.

Manusia oooh manusia, mengapa tak kau buka tabir itu
Sungguh sungguh sungguh! Itu lah jalannya!
Jalan menuju cinta, jalan menuju samudra tak bertepi
Jalan menuju Sang Maha, penguasa jagat jiwa dan semesta

Sungguh bukalah ia wahai jiwa-jiwa!
Sungguh tak ada tempat terindah selain mutiara itu
Mutiara jagat jiwa ketika bersamanya lentera menyala
Hilang hilang sebuah peradaban
Kau tahu mengapa?
Karena tak ada, tak ada! Satu pun tak ada
Satu jiwa yang mau berupaya
Membuka lapisan kerak-keraknya
Hingga kelam menyelimuti jagat jiwa

Oooh tidak! Jangan! Jangan lakukan itu lagi
Cukup. Cukup sudah satu peradaban musnah.
Jangan! Jangan ulangi ia. jangan contoh ia.
Karena sesungguhnya bumi dan semesta bertasbih
Menunggu sebuah peradaban mulia.
Dimana didalamnya lentera-lentera itu menyala
Bagaikan api menembus kelamnya jutaan malam
Sungguh! Pesonanya tiada dua!

Salamun Qoulammirrobbirrhohim
Allahuma sholliala sayyidina Muhammad

Ketika kabut bersahaja

Groningen, 22 Desember 2006


Ketika AkuTerhina

Filed under Diary Spiritual

Aku hanyalah setitik air diantara luasnya samudra.
Aku, siapa aku ini, manusia yang entah telah berapa lama mendua
Menduakan cintaku padaNya
Hanya karena meminta puji, pujinya manusia.

Aku siapakah aku ini
Mengapa aku resah gelisah
Ketika dunia berkata
Hai kamu gila
Kenapa harus resah dan gundah
Bukahkah puji hanya milik Allah semata?

Aku tak ingin lari dari semuanya
Aku ingin menikmati saja
Hari-hari tanpa puji
Hari-hari penuh caci
Karena semua membuatku tahu diri
Mengerti bahwa aku tak punya diri

Aku bukan siapa-siapa
Aku hanyalah sebuah titik diantara luasnya samudra
Akankah mengalahkan samudra
Oh tidak, jangan jangan lakukan semua
Sesungguhnya samudra itu hanyalah ingiin menampung
Semua kesahmu semua nodamu
Sesungguhnya ia hanyalah ingin menyucikan jiwa-jiwa

Jiwa-jiwa yang ingin mendekat kepadaNya
Kepada sang pemilik Cinta
Sungguh nikmatnya tiada dua
Bila aku bisa menerima semuanya
Hina caci maki itu biasa
Karena segala puji hanya milik Dia

Dia sang penguasa samudra
Dia sang pemilik langit dan jagatraya
Dia yang menuntunku kejalan samudra
Dia yang membuatku merana untuk sebuah jalan cinta
Oh sungguh indahnya tiada tara.

Sungguh sungguh sungguh tiada mutiara seindah dalam samudra
Sungguh sungguh sungguh tiada rela Ia dibagi dua
CInta ya cinta itu hanya untukNya
Jangan jangan kau bagi ia dengan sebuah nista
Nista namanya kalau kau masih saja resah gelisah gundah
Ketika kau dihina

Sudah biarlah
Biarlah mereka berkata apa
Karena sesungguhnya engkau memang layak terhina
Engkau sungguh sungguh layak terhina
Kau tau mengapa
Karena engkau bukan siapa-siapa

Engkau hanyalah setitik noda diantara samudra
Engkau hanyalah sebuah keniscayaan diantara semua
Hanya dan hanya Dia sesungguhnya yang Maha sempurna
Jangan jangan kau duakan cintaNya
Biar biarkan mereka berkata apa
Karena dikala kau memendam rasa
Sesunggguhnya cinta itu memburai menaungi seluruh jiwa

Allahuma sholli Ala syayidina Muhammad…
Sungguh tak Aku ciptakan Muhammad kecuali agar engkau meneladaninya
Sungguh tak mungkin Aku membuatmu menderita
tanpa Aku membuatmu sempurna jiwa dan raga
Tunggu hingga tiba saatnya
Jika kau rela selalu menyucikan jiwa

Maha suci Engkau ya Allah dengan segala rasa cinta
Sungguh aku tak ingin mendua
Sungguh aku tak akan mendua
Karena dibalik raga ini Engkaulah didalamnya
Engkaulah pengatur jagat jiwa
Sungguh aku hanya bisa menjadi mata-mata

Tiada Tuhan selain Engkau ya Allah

Sallamunqoulamirrobirrahim..

Groningen, 8 Desember 2006
Ketika mendung bercahaya


Aku merasa perlu untuk mengikat proses belajarku dalam kejadian poligaminya Aagym yang kemaren bikin aku kecewa. Ternyata betul, pasti ada pesan Allah dari kejadian ini buatku. Aku menangis, aku tertawa, aku kecewa, aku bahagia semua dari Allah. Ternyata betul, tidak sia-sia air mata yang kukeluarkan, aku dapat banyak sekali pelajaran. Karena itu lah aku ingin mencatatnya.

Pertama, tentang kacamata, (thanks to mbak eva yang sudah dengan tepat menggambarkan apa penyebab kekecewaanku :-)), ya rupanya si kacamata ini penyebabnya. Tanpa sadar aku sudah memaksakan kacamataku untuk dipakai orang lain, (dalam hal ini Aa Gym sebagai tokoh yang kukagumi). Dan akibat dari pemaksaan kacamata ini, aku jadi terlibat secara emosional. Pelajarannya, aku jadi ingin lebih menyelam ke dalam diri. Ternyata, apapun itu, lebih baik aku menjadi penonton saja untuk kejadian-kejadian manusia di luar diriku.

Terbukti, kalau aku masih saja memaksakan kacamataku untuk dipakai orang lain, saat baca-baca berita seputar beliau, masih ada saja komentar-komentar jail yang keluar dari mulutku.Padahal sang dai sudah kasih klarifikasi ya, dan sudah menjelaskan duduk perkaranya( walaupun masih diplomatis). Mbok yao mulutku ini diem aja, memaklumi pilihan belio saja, wong belio ya nggak melakukan dosa koq, wong memang nggak dilarang agama koq. Tapi ya begitu lah, teuteup ini mulut ga bisa dikunci hehe. Contohnya dan yang paling hobi kusebut-sebut hehe,”Kalau gitu, kenapa harus sama mantan model cantik dan lebih muda? Kenapa harus poligami yang jadi solusi untuk kehancuran moral? Apa nggak ada cara lain? Emergensi exit itu kan bisa diada-adain, siapa yang bisa mengukur emergensi ato bukan? Walaupun istrinya ikhlas dan anak-anaknya ikhlas, tapi kan teteup mereka harus melewati proses sakit, padahal menyakiti hati itu kan ga boleh,”…dst..dst… Kesian deh suamiku musti jadi keranjang sampah menampung jailnya mulutku hehe.

Tapi untungnya, suamiku selalu mengingatkan untuk cukup menonton saja kejadian di luar sana.Pelajaran yang lebih pentingnya adalah soal menyelam ke dalam diri. Aku dan suamiku jadi mengevaluasi lagi, apa sih sebetulnya kacamata kami dalam soal poligami dan keluarga? Aku lagi-lagi diskusi sama suamiku, dan minta masukan juga dari seorang sahabat. ‘Kacamata’ kami akhirnya berbicara begini:

- Meskipun tidak dilarang, dan bukan anjuran, poligami bagi kami adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa. Rosulullah adalah manusia yang luar biasa. Beliau adalah manusia yang sudah dimaksum, segala ucap, langkah dan laku beliau semua sudah disetir oleh Allah. Soal keadilan, tentu saja Rosulullah sangat bisa berlaku adil baik fisik dan jiwa, karena Allah sudah memberikan banyak kelebihan pada beliau. Dan istri-istri beliau pun diberi kemampuan lebih, bukan sembarang manusia pula.Tapi manusia biasa? Hmm… wallahualam. Jadi, poligami bukan pilihan kami.

-Agama diciptakan justru untuk mengekang hawa nafsu. Jadi bagi kami poligami tidak bisa dijadikan solusi untuk mengekang hawa nafsu. Mestinya agama lah yang bisa mengekang hawa nafsu itu. Sehingga keinginan untuk punya TTM atau keinginan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan libido mestinya tidak diikuti, karena sudah berusaha baik-baik mengikuti jalan agama (seperti sholat, puasa, zikir, shodaqoh, zakat, dll).

-Keluarga adalah inti dari masyarakat. Keluarga yang baik akan melahirkan masyarakat yang baik pula. Dari sini lah kerusakan moral bisa dicegah. Dan dalam keluarga, cinta adalah intinya, cinta dari Allah yang telah dianugrahkan kepada hati-hati kami. Bila kami membersihkan hati-hati kami, maka cinta Allah itu akan semakin memancar kepada kami. Karena itu kami ingin memelihara cinta itu sebaik-baiknya, menggalinya lagi dan lagi. Menggosok kerak-kerak dalam hati kami lagi dan lagi. Kami ingin membangun cinta, cinta dan cinta itu dalam keluarga. Karena kami yakin dari sanalah cinta itu akan menyebar ke sekitar dan alam semesta.

-Kami merasa, dengan poligami, cinta yang telah dititipkan kepada kami itu tak akan lagi bisa kami jaga baik-baik. Contohnya, semalam aku menatap anak-anakku yang tertawa dengan riangnya karena digelitiki suamiku. Ah sungguh betapa bahagianya aku melihatnya. Dan aku membayangkan seandainya saat itu ada istri lain dan anak-anak lain dalam rumah itu, akankah aku sebahagia itu? Duh membayangkannya saja sudah ngilu. Bisakah aku menjaga cinta dengan hati yang ngilu? Sungguh, aku tak mampu!

-Bagi kami cara termudah untuk membersihkan hati adalah dengan bersyukur dan bersyukur. Karena hanya dengan selalu bersyukur, jalan menuju keikhlasan itu terbuka lebar. Cara lainnya tentu dengan ibadah-ibadah yang sudah dianjurkan oleh agama. Tapi yang sangat membantu rasanya dengan banyak-banyak berpuasa, karena puasa bisa membersihkan hati dan mengendalikan diri. (Semoga kami dijauhkan dari rasa malas untuk melakukannya).
Insya Allah kami yakin, asalkan kami selalu meluruskan niat untuk selalu membersihkan hati seperti ini, Allah akan memudahkan.

-Nafsu dan cinta bedanya tipiiiis sekali. Karena itu membersihkan hati sebersih-bersihnya ini menjadi tugas yang teramat penting. Disanalah ‘rumah’ Allah bersemayam. Badan ini hanya wadah. Ketika wadah dan hati sudah bersih, Sang Empunya wadah lah yang akan bekerja.

-Kami hanya ingin menyaksikan saja episode-episode manusia di luar diri kami sebagai jalan munculnya pesan dan petunjuk bagi perjalanan diri kami. Biarlah orang lain yang melakukan poligami itu menjadi urusan Allah. Di dalam Allah, diluar pun Allah, dimana-mana Allah. Allah sudah atur semua, tugas kami hanya bersih-bersih.

Kira-kira begitu kesimpulan kami. Kalau dari suamiku, bahasanya begini:

Keluarga itu seperti masyarakat kecil.
Kebahagiaan dalam penerbangannya,
hanya akan terasa jika Allah memberikan anugerah
berupa rasa cinta di dalamnya.

Rasa cinta yang dari Allah ini bersemayam di dalam hati
seperti mutiara yang tersembunyi dalam kerang.
Rasa cinta itu bersinar ke luar, ke sekitar,
seperti cahaya lampu
yang menerobos bola kaca yang jernih.

Tugas kita hanyalah membersihkan hati,
sebersih-bersihnya,
agar mutiara itu nampak,
agar cahaya itu menyemburat ke luar.

Dan untuk membersihkan hati,
tugas kita hanyalah BERSYUKUR.
Mensyukuri segala yang ada,
karena itulah pemberian dari Allah.
Dia Yang Maha Tahu kebutuhan kita,
dan jangan sekali-kali kita jahil
dalam memanipulasi keadaan keluarga dan diri kita.

Hanya dalam hati yang bersih saja,
cinta suci dari Allah akan keluar membuat bahagia keluarga.

Dan pada gilirannya,
sebuah keluarga yang penuh cinta dari Allah,
akan dipersembahkan olehNya
kepada masyarakat, bangsa, dunia, dan alam semesta
sebagai rahmat.

Namun, cinta dan nafsu itu tipis sekali batasnya.
Cukuplah kita berusaha membersihkan hati, sebersih-bersihnya.
Dan Allahlah yang akan membimbing
perjalanan orang-orang yang ingin membersihkan hatinya.

Biarlah orang-orang yagn melakukan poligami
itu menjadi urusan Allah.
Itu juga dari Allah, karena Dia punya maksud tertentu,
untuk memperlihatkan kepada kita hikmah.

Dan cukuplah buat kami,
melihat ke dalam diri dan membersihkannya.
Semoga cinta dari Allah semakin bersemi.

Amin…amin ya Robal alamin….Ya Allah mampukan kami….semoga ini bukan hanya menjadi sekedar ucapan dan tulisan belaka…


Hiks..hiks…aku semalem nangis, sungguh! Tahu kenapa? Karena aku baca berita Aagym kawin lagi huhuhu. Berita itu betul-betul mempengaruhi aku. Membuat aku yang sebetulnya lagi sok sibuk ini (deuuuh…hehe), yang lagi kejar tayang sama urusan tulis menulis maksudnya, terpaksa harus menghentikan sejenak kegiatanku itu, untuk merenung, berdiskusi sama suamiku dan mencari kedalam diriku apa sebetulnya yang Allah mau aku belajar dari kejadian ini. Asliii aku jadi ga konsen buat melanjutkan kerjaanku. Sediiih, piluuu, dan lain-lain deh perasaanku.

Hah segitunya? Hiks hiks iyaa. Kenapa? Karena, saudara-saudara…aku itu pernah mengalami jatuh bangun dalam proses pencarian agamaku. Tau sendiri deh banyak jalan menuju Allah kan. Daan Aagym ini termasuk orang yang kukagumi, karena dakwah-dakwahnya begitu sejuk, berbicara tentang kebersihan hati dan rasanya nyambung sama pencarianku. ‘Rumah Allah ada di dalam hati kita,” kira-kira itu yang mewakili pencarianku, dan nasehat-nasehat Aagym selama ini cocook banget dengan prinsipku itu.

Dan sekarang ketika dia menikah lagi, glegar..glegaar! Seperti petir menggelegar deh, hatiku hancur berkeping-keping hiks hiks…Duuuh segitunya hehe. Iya banget, soalnya aku tuh paling tidak suka dengan yang namanya poligami! Biar kata aku seorang muslimah berjilbab pula, tapi itulah prinsipku. Dibawah ini aku copy isi hati temenku, laki-laki loh, yang juga kecewa mendengar berita ini. Dan karena pendapat dia itu mewakili pendapatku, maka kupostinglah disini. Makasih banget yaaa Isaa karena sudah mewakili perasaanku, aku ijin untuk taro disini yaa :-)

Hal utama yang paling bikin aku kesulut dan sebel adalah, gara-gara blio yang panutan dan bersih ini menikah lagi, dan kata-katanya tadi pagi di radio, bahwa ga sembarangan orang bisa menikah lagi, harus betul-betul siap, aku malah sebel. Aku jadi mikir, apakah artinya seseorang yang sudah makin tinggi ilmunya dan makin beriman itu kemudian ujiannya adalah dengan berpoligami? Oh nooo! Apakah kemudian wanita yang paling beriman dan paling ikhlas itu adalah wanita yang dengan rela dan ikhlas hatinya, senang-senang saja ketika suaminya menikah lagi? Oh noooo!

Tau nggak, aku semalem sampe nangis dalam sujudku. Aku bilang gini ke Allah,” Ya Allah, aku memang hinaaa…apalah aku ini, siapalah aku ini dibandingkan Aagym yang bersih hati dan sangat dekat denganMu itu. Tapi, kenapa hatiku pedih ya Allah ketika aku seolah merasa bahwa orang yang dekat denganMu itu Kau ’suruh’ untuk menikah lagi. Kenapa hatiku teriak-teriak ya Allah?” Hiks hiks…

Hmm kacau ya aku, tapi begitulah yang terjadi semalam. Dan hikmah terbesarnya barangkali ini, kata-kata temanku ini sungguh mewakili hikmah yang kudapat itu,”

Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Memang kita tidak bisa mengaitkan
nilai-nilai kebenaran (baca: khotbah2 Aa Gym) dengan sesorang tokoh,
apalagi mencoba menjalani hidup dg mengikuti jalan hidup dan jalan
pemikiran sang tokoh. Kita, mau tidak mau, suka tidak suka, harus
mengaitkan nilai-nilai kebenaran tsb dengan Sang Pencipta Kebenaran
itu sendiri. Apabila kebenaran itu ada pada diri seorang tokoh, maka
anggaplah itu sebagai kebetulan, dan tidak menjadikan kita melihat dia
sebagai sosok yang bisa/pantas ditiru dalam segalanya. Wallahu a’lam.

Suka atau tidak suka, hanya kepada Allah lah aku bersandar, bukan kepada sang tokoh!

Oya karena aku ga ngerti soal ayat-ayat Quran, jadi aku ga berani ngomong macem-macem soal dalil.
Tapi kata-kata temenku ini mewakili banget yang ada dalam hatiku sekarang:

“Kecewa berat denger Aa Gym menikah lagi. Bukan karena dia tidak berhak
melakukan itu, atau itu hukumnya haram/halal; melainkan karena yang
dia lakukan itu utk — ukuran tokoh yang mengumandangkan sikap
positif, kehalusan akhlak, kemanusiaan, cinta damai, dan prinsip2
humanisme universal lainnya secara lantang — adalah sangat tidak
patut dan sangat tidak pantas. Ini akan membawa preseden buruk bagi
orang-orang yang mengaguminya spt:

1. Semakin banyak orang yang tidak percaya thd orang yang berbicara
mengenai kebaikan, karena menganggap ‘kebaikan’ yang dikhotbahkan itu
cuma di mulut, cuma utk dibayar sbg ustad, cuma utk populeritas, cuma
utk meningkatkan untung bisnis sampingannya.

2. Semakin banyak laki-laki (terutama yang tidak bertanggung jawab)
yang merasa mendapat justifikasi moral dan justifikasi contoh/teladan;
bahwa poligami adalah jalan atau tuntunan moral untuk menjadi utuh
dunia-akhirat, tanpa berpikir panjang. Ini menjadi pembenaran yang
ujung-ujungnya akan berakhir dg debat kusir antara pasangan
suami-istri, yang memang sang suami sudah tidak lagi punya itikad baik
di dalam pernikahannya.

Trus, kenapa poligami dianggap buruk? Poligami yg dijalani oleh Nabi
adalah utk menolong mereka yang saat itu terlantar krn suami meninggal
dalam peperangan. Terlebih, para sahabat Nabi pun melakukannya karena
istri2 mereka adalah istri2 yang sudah dinikahi jauh2 hari sebelum
mereka memeluk Islam. Kita harus lihat juga, budaya arab (bahkan bukan
hanya arab) masa Nabi dahulu adalah sangat wajar seorang laki2
memiliki istri banyak, bahkan jauh lebih banyak dari sekedar 4 seperti
yang dibolehkan Islam. Kenapa dulu poligami tidak masalah? Karena
struktur masyarakat dan budaya yang ada ketika itu yang mendukung; di
mana saat itu laki-laki benar-benar menjadi tulang punggung keluarga
dan budaya kebebasan berpendapat pada wanita masih sangat minim. Ini
lain sekali dengan masa sekarang; dengan banyaknya wanita sudah
berpendidikan tinggi, peran wanita yang semakin besar – bahkan sudah
umum dijumpai wanita yg memimpin laki-laki. Apa jadinya, kalau mencoba
memaksakan menerapkan budaya zaman dahulu pada kondisi sosial saat
ini? Banyak kejadian, perempuan yang terlantar, teraniaya krn tidak
dipenuhi haknya, dan dijadikan ‘warga kelas dua’, disembunyikan, tdk
bisa bergaul normal dg sekitarnya, hanya karena suaminya berpoligami
atau dia mau menjadi istri muda. Poligami tidak bisa dilihat sebagai
masalah syariat halal-haram per se. Harus dilihat dalam konteks
sosial.

Syariat poligami dlm Islam yang “membolehkan” poligami harus dilihat
dalam pengertian “tidak melarang” atau “membuka jalan dalam keadaan
darurat”; dan sama sekali bukan dalam pengertian anjuran. Coba
jujurkan hati dalam memaknai dalil yang selalu dibawa-bawa penceramah
dalam berbicara poligami:

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah)
seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu
adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS.4:3).

Jelas, di sini tidak ada sama sekali pengertian “anjuran”. Yang ada
adalah “jalan darurat” atau “dibolehkan dengan kondisi tertentu”.

Coba bandingkan dengan dalil menikah yang memang dianjurkan di dalam
Islam:

“Dan nikahilah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan
orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan
perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan
kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian
(diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya…”
(QS.24:32-33).

Cobalah jujur dan obyektif dalam memaknai perbedaan kedua hal
tersebut. Jelas sekali mana yang anjuran, dan mana yang bukan.

Aa Gym menikah memang ada kaitannya dengan ridho/tidaknya sang istri
pertama. Walaupun itu memang betul, tetapi saya rasa, tanggung jawab
moral beliau thd masyarakat, thd nilai2 yang dia khotbahkan selama ini
adalah juga penting (kalau tdk bisa disebut lebih penting). Tdk bisa,
dalam satu saat Aa Gym menggunakan standar sbg tokoh masyarakat,
sedangkan di saat lain menggunakan standar ganda dg melakukan sesuatu
yang kalau kita mau obyektif, lebih sering terjadi efek negatifnya
daripada efek positifnya di masyarakat. Jadi buat Aa Gym, ridho/tdknya
istri pertama (spt tercermin pada jawaban Aa Gym thd penanya di radio)
bukanlah faktor satu2nya penentu dalam mengambil langkah poligami ini.

Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Memang kita tidak bisa mengaitkan
nilai-nilai kebenaran (baca: khotbah2 Aa Gym) dengan sesorang tokoh,
apalagi mencoba menjalani hidup dg mengikuti jalan hidup dan jalan
pemikiran sang tokoh. Kita, mau tidak mau, suka tidak suka, harus
mengaitkan nilai-nilai kebenaran tsb dengan Sang Pencipta Kebenaran
itu sendiri. Apabila kebenaran itu ada pada diri seorang tokoh, maka
anggaplah itu sebagai kebetulan, dan tidak menjadikan kita melihat dia
sebagai sosok yang bisa/pantas ditiru dalam segalanya. Wallahu a’lam.”


Untuk Sahabat Lama

Filed under Diary Spiritual

“Teruslah menjadi penyentuh bagi kekasih-dan permata-hati kalian. Karena orang-orang yang kalian sentuh tidak akan pernah meninggalkan dan melupakan kalian, sekalipun suatu saat mereka jauh. Seperti aku, yang pernah kalian sentuh, meskipun secara tidak sengaja.”

Membacanya, aku tak berhenti mengusap air mata. Dia, seorang sahabat lama, tiba-tiba hadir dalam inboxku. Tulisannya tentang ‘penyentuh’ membuat ku merasa begitu berarti. Aku yang selama ini masih saja tak banyak bersyukur, kini disentil lagi. Betapa syukurku mestinya tak boleh putus, terus dan terus.

Dulu, Allah hadirkan dia kepadaku, agar padanya aku bisa menimba ilmu. Sejujurnya, surat-suratnya dan pemikiran-pemikirannya telah banyak menginspirasi aku. Dia turut andil membuatku menjadi seorang agnes seperti yang sekarang.

Kukutip kata-katanya disini, sebagai pengingat, bila aku sedang ‘kumat’. Mataku semakin terbuka, betapa keserhanaan dan sesuatu yang tak berarti kadang bisa menjadi inspirasi yang begitu kuat menghunjam bagi seseorang. Itulah buah dari kejujuran barangkali.

Ketika aku sudah menikah dan punya anak, dia tetap tak berhenti menginspirasi aku. Dan tulisan yang dikirimkannya hari ini, malah membuat suamiku semakin sayang padaku. Membacanya lagi…air mataku tak juga berhenti. Syukur…dan hanya bersyukur…Rupanya Allah mengirimkan dia hari ini untuk menyampaikan pesan itu lagi. Terimakasih Allah-ku…karena telah kau hadirkan orang-orang seperti dia dalam hidupku…

Terimakasih sahabatku…


Menjadi Seputih Melati

Filed under Diary Spiritual

Ramadhan lagi…
Ramadhan ketiga di negeri ini…
Begitu banyak duri yang Kau beri…
Wahai Ilahi Robbi…
Namun semua tak berarti…
Saat kulihat pesan yang tersembunyi…

Duh Gusti…
Rasanya begitu hina diri ini…
Tapi ternyata janjiMu tak salah lagi…
Kau begitu dekat, sedekat urat nadi
Sungguh nikmat, nikmat sekali
Saat cintaMu mengaliri diri

Jangan…jangan biarkan hanya hari ini…
Sungguh, aku ingin lebih lama lagi…
Meski kulihat gemerlap dunia menghampiri
Bertubi-tubi, bahkan mungkin hingga kumati..
Tapi sungguh Gusti…
KeindahanMu tak tertandingi

Ramadhan lagi
Saatnya aku menempa diri
Entah, aku tak mengerti
Setiap ia datang lagi
Aku seperti berada di puncak gunung tertinggi
Dan ketika ia pergi, aku harus turun dan mendaki lagi

Rhobbi, bantu aku menjadi seputih melati
Agar terang selalu menyinari
Bukan, bukan untuk berbangga hati
Karena kutahu aku hanya melakoni
Sesungguhnya, hidupku tak punya arti
Karena Engkaulah penguasa diri

Seputih melati, itulah cita-citaku tertinggi
Agar ketika kembali
Engkau yang Maha Suci
Menerimaku di tempat tertinggi
Mungkinkah itu terjadi?
Semoga aku tak hanya bermimpi

Awal Ramadhan
23 September 2006
Ketika aku ‘Mabuk’ lagi


Secuil Hati yang Kembali

Filed under Diary Spiritual

“Apa sih gunanya belajar bahasa? Buat apa? Toh aku akan pulang. Di Indonesia nanti, apa gunanya bahasa Belanda, mendingan juga memperdalam bahasa Inggris, pasti kepakenya. Hmm…bingung. Ikut ujian apa jangan ya…? Rajin belajar apa jangan ya…? Tapi sayang juga kalau kesempatan dibuang. Tapi lagiii, waktuku untuk menulis dan bermesraan dengan kompi jadi jauuh berkurang. Padahal banyaak banget yang ingin aku tulis. Huaah..pusing!”

Belakangan ini aku memang pusing sama urusan les bahasa ini. Melihat latar belakangku, dosenku sangat menganjurkan aku untuk ikut staad examen II. Padahal, waduuh bicaraku masih belepotan. Tapi kenapa aku bersemangat? Aku juga heran, kenapa aku semangat ya? padahal kadang-kadang pikiran yang mengatakan belajar bahasa Belanda ini tak berguna sering sekali muncul.

So why? Alasan utama adalah karena tiba-tiba saja aku begitu diberi kemudahan untuk melanjutkan les bahasa Belanda ini. Aku seharusnya masih berada di level 2, tapi kalau aku di level 2, pemerintah Belanda tidak akan memberi subsidi, jadi aku dinaikkan di level 3. Subsidi tidak diberikan untuk level 1 dan 2. Itulah sebabnya aku dinaikkan ke level 3 dengan catatan,”Kamu harus belajar ekstra keras ya,” pesan pengujiku dulu.

Berapakah biaya yang harus aku keluarkan? Bayangkan, 15 euro saja saudara-saudara! Lima belas Euro (sekira 150 ribu perak) selama 6 bulan, tiap hari pula. Sedangkan les di tempat lain, tiga bulan bisa menghabiskan biaya hingga 300 atau 400 euro. Ya memang bagi orang yang menikah dengan warga Belanda sih bisa gratis. Tapi aku kan bukan termasuk di dalamnya. Jadii, aku berusaha membaca pesan ini dengan baik. Mungkin, Allah memang punya rencana lain sehingga aku harus belajar bahasa Belanda. Siapa tahu aku jadi bisa kerja di bidang kesehatan. Karena bila aku bisa menggondol sertifikat staad examen II, peluang ini terbuka. Siapa tahu aku bisa dapat uang tambahan, tabungan buat sekolah.

Dan, belajarlah aku disana dengan penuh semangat. Tapii…semalam air mataku mengucur deras lagi. Mataku bengkak lagi. Tiba-tiba saja secuil hatiku seolah terbang pergi. Hampa. Kosong. Rindu lagi. Semakin merasa jauh dengan ‘cinta’ ku. Semakin merasa tak berarti. Ah, apa sih yang terjadi, sehingga begitu besar dampaknya?

Aku menemukan website tentang peluang kerja di sektor kesehatan bagi pendatang di negeri ini ( http://www.ribiz.nl/en/diplomaandwork/Aforeigndiploma/assessment/assessmentvoorartsen.aspx). Ternyata, peraturannya njelimeet banget! Imposible deh aku bisa kerja di sektor kesehatan, jangankan dokter, fisioterapis, bidan dan bidang-bidang yang teknis saja sulit banget. Padahal aku tidak ingin muluk-muluk kerja jadi dokter di Belanda koq, yang ringan dan yang lucu aja, tapi masih berhubungan sama kesehatan gitu.

Tapi sejak semalam…hopeless…Terkuburlah sudah impianku untuk bekerja di bidang kesehatan. Lalu buat apa aku meneruskan les bahasa yang sudah separo jalan ini? “Kalau mau jadi tukang bersih-bersih mah, sekedar bisa cuap-cuap seadanya juga cukup,”keluhku pada suamiku. “Buat apa? Buat apa? Gara-gara les bahasa Belanda, aku semakin jarang baca-baca tentang ilmu kesehatan. Gara-gara les bahasa Belanda, aku semakin jarang menulis. Dan ternyata bahasa yang aku pelajari ini nantinya tidak akan bisa membuatku bertemu lagi dengan ia yang kurindu.” Hiks…pilu.

“Kita kan tak mengerti tentang masa depan Sayang. Allah bisa berkehendak apapun. Nanti akan tiba saatnya Mama bisa sekolah lagi, bisa bertemu lagi dengan si ‘cinta’.” Suamiku menghibur.”Ya, dan aku sudah terlanjur tua, tak bisa diterima. Lagipula uang darimana? Biaya sekolah begitu menggila,” sungutku kesal.

Aaah…! Kenapa rasa ini kerap mendatangiku lagi. Begitu besarkah cintaku pada si ‘cinta’? Hei! Ini bukan dirimu. Kau bukan orang yang selalu berpikir negatif itu kan. Ayo, bangunlah! Berserah diri! Berserah diri! Berserah diri! Bersyukur! Bersyukur dan bersyukur! Lihat sekelilingmu! Lihat apa yang sudah kau peroleh disini! Kau hanya menyaksi! Kau hanya mengabdi! Lihaat! Buka mata, buka telinga dan buka hati, kau bukan siapa-siapa, kau bukan apa-apa, hanya manusia! Hanya sesosok tubuh mungil berjiwa yang mengaku mencinta Tuhannya. Apa artinya? Tak akan berarti apa-apa selama kau tidak Berserah diri!

Hiks…rentetan-rentetan teguran itu mengalir perlahan dalam kalbuku. Ya Allah…sesungguhnya aku hanya bisa mengabdi, menyaksi dan berserah diri. Tak pantas aku protes Tuhan, tak pantas. Betapa aku tak tahu diri dengan segala yang telah Kau beri. Hiks… Berserah diri, berserah diri, berserah diri. Lahaula wala quwata illah bilah…Akhirnya hanya ituuu saja yang mampu aku ucapkan dalam sujudku, hingga akhirnya batinku diliputi kesejukan. Secuil hati yang pergi itu perlahan kembali.

Sesungguhnya ia tak pernah pergi. Ia ada, tak kemana-mana hanya bersembunyi sebentar saja. Ia akan muncul lagi asalkan aku ingat lagi, bahwa aku hanya mampu berserah diri.

My life is just now. I have to do my best whatever comes in my eyes…Hopes You always give me the way…

“Your daily life is your temple and your religion. When you enter into it take with you your all.” (Kahlil Gibran)


Ia Akan Pergi

Filed under Diary Spiritual

Ketika ia hendak pergi
Ada bening mengalir di sudut mata ini
Ketika ia tinggal sehari lagi
Ada rindu yang seketika menghampiri

Rindu suasana
Rindu sanak saudara
Rindu tanah air tercinta
Rindu berjumpa lagi dengannya

Ah, mengapa kini baru terasa
Betapa ia begitu berharga
Ia yang meluruhkan angkara murka
Ia yang mampu menyejukkan jiwa

Jangan, jangan pergi secepat ini
Baru sejenak murka itu pergi
Baru setetes sejuk itu meresap di hati
Akankah mereka hilang lagi?

Ah, salahku sendiri
Tiga puluh hari kulalui
Dengan setengah hati
Ampuni aku ya Robbi…

Untuk sahabat-sahabatku tersayang. Menjelang hari yang fitri, mohon dimaafkan segala salah dan dosa yang mestinya kerap ada. Karena aku hanyalah manusia. Kadang aku tak kuasa menghindari semuanya.

Mohon maaf lahir dan batin. Selamat Idul Fitri 1426 H

Lebaran tinggal sehari lagi. Apa yang kudapati di bulan suci ini? Tak banyak memang. Tapi aku berharap yang sedikit ini mampu bertahan, tak lagi hilang. Ini kali kedua aku menjumpainya di negeri ini. Pertama, kutemui ia dengan penuh air mata. Air mata segala rasa, pelajaran berharga dari yang Maha Kuasa. Kini, kujumpai ia tanpa air mata. Barangkali karena memang sudah saatnya aku mencicipi sedikit permata. Bukankah air mata selalu membawa permata?

Ah, jangan-jangan aku aja yang gede rasa. Merasa dapat permata. Hmm…barangkali memang iya. Tapi tak apalah sesekali aku gede rasa, karena gede rasa kali ini kudapat dari perenungan yang cukup lama.

Seperti memetik buah. Buah dari pohon yang diberi pupuk setahun lamanya. Pupuk selalu tak enak, kotor dan bau. Tapi buah, selalu nikmat rasanya. Buah itu kupetik satu persatu, sejak air mata berkurang satu demi satu.

Dua butir permata dihadirkan Allah kepadaku menjelang bulan puasa lalu. Tiba-tiba saja aku diminta menulis tentang puasa ramadan dihubungkan dengan kesehatan. Tiba-tiba pula aku diminta menjadi nara sumber mengenai topik yang serupa. Awalnya aku diminta mengisi pengajian ibu-ibu di Delft, tak lama PPME Amsterdam pun memintaku untuk hadir pula. Tapi yang ini bukan hanya ibu-ibu, bersama bapak-bapaknya juga. Oiya, pengajian online salamaa pun memintaku berbagi pula. Tentu saja mau tak mau aku harus mempelajari betul tentang puasa dihubungkan dengan kesehatan ini. Dan ternyata, subhanallah. Kekuatan puasa memang luar biasa. Dari semua pengalaman mempelajari puasa, berbagi dan meresapinya, aku semakin merasa bahwa aku butuh puasa. Perasaan tentram, nyaman dan zero ketika berpuasa itu seperti candu jadinya. Membuatku tak ingin berhenti untuk berpuasa, semoga aku bisa.

Permata kedua hadir sebulan sebelum puasa. Aku menitip beberapa buku dari Indonesia. Tapi entah mengapa, bapakku menyelipkan buku itu. Buku panduan sholat khusu’. Tentu Allah sudah mengaturnya. Hmm.. lagi-lagi aku gede rasa. Ah biar saja, bagiku di dunia ini, kebetulan itu tak ada. Semua atas skenarioNya. Awalnya suamiku yang membacanya, dan ia merasa tercerahkan. Aku penasaran dan mencobanya pula. Hmm ternyata…nikmatnya memang tiada dua. Ya walaupun hanya sesekali aku bisa merasakannya. Tapi pengalaman ini sangat berharga. Beri aku kemampuan untuk selalu mengasahnya Tuhan…

Sesudah permata, tentu akan ada lagi babak air mata selanjutnya. Karena begitulah dunia, berputar seperti roda. Hanya satu yang kupinta, kekuatan dan kekuatan. Tiada daya dan Upaya kecuali kekuatan dariMu ya Allah. Jadikan aku manusia, seperti yang Kau mau… Entah mengapa, tak ada doa lain yang bisa kuminta, selalu itu-itu saja. Karena aku selalu merasa tubuh ini hanyalah wadah yang tak bisa apa-apa tanpa Kekuatan dariNya.


Ketika Usia Bertambah Satu

Filed under Diary Spiritual

Ketika usia bertambah satu, ada kesedihan disana, tapi juga diselingi tawa. Sedih karena merasa semakin tua, kalah bersaing dengan anak-anak muda. Tapi tak lupa tertawa karena semakin tua, pikiran dan hati pun kian dewasa. Mestinya begitu, tapi entah pada usia keberapa. Karena tak jarang pula, di usianya yang sudah berkepala lima, enam atau 7, hati dan pikiran manusia tetap seperti balita.

Ketika usia bertambah satu, ada makna yang hadir disana. Betapa selama puluhan tahun mengarungi samudra, Tuhan begitu sayang padanya. DiberiNya ia segala. Kecantikan, ketampanan, kecerdasan, karir yang menjulang, pasangan yang ideal, serta anak-anak yang lucu dan menawan. Namun sayang seribu sayang tak sedikit pula manusia yang tetap saja alpa. Lupa mensyukuri semuanya. Tetap saja kurang, tetap saja bimbang.Ketika usia bertambah satu, mestinya ada pelajaran berharga disana. Saat ujian menghadang, kala hinaan dan cemoohan menyerang, akankah ia tetap tegar? Sewaktu iri dan dengki menyelusup ke relung hati, apakah ia tergerogoti? Saat manusia-manusia lain menariknya kesana kemari, tetapkah ia diam? Bisakah ia tak bergeming, tetap menuju shirotol mustaqim? Sesungguhnya, dikala manusia hanya menanam dan menanam, tanpa ingin dipuji, tanpa takut dimaki, ketika itulah jalan lurus menyertai. Sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untukMu ya Rhobbi… Ketika itulah usia pikiran dan hati betul-betul bertambah lagi.


‘Aku’ yang Enggan juga Pergi

Filed under Diary Spiritual

Kebenaran hanya milik Allah. Tapi manusia kerap merasa menjadi orang yang paling benar. Semua orang memiliki ke’aku’an yang memang menjadi sifat dasar manusia. Sanggupkan keegoisan dalam diri itu luntur dan akhirnya sirna oleh tempaan kehidupan? Padahal, bila ia pergi, ‘pertemuannya’ dengan Tuhan hanya sejengkal lagi. Sulit. Sungguh sulit memang. Tentu saja butuh pengorbanan. Tenaga, pikiran, dan air mata mesti terkuras untuk melenyapkannya. Tapi ia–keegoisan dalam diri–tetap tak mau juga pergi.

Mengapa ia membandel? Mengapa ia suka sekali berdiam dalam jiwa manusia? Mengapa begitu sulit? Setelah badai bertubi-tubi datang, menghempas dan memporak-porandakan hati, tetap saja ia enggan pergi. Terkikis mungkin, tapi sedikit sekali. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Karena masih banyak lagi, ribuan bahkan jutaan manusia yang tetap mengeras seperti batu karang. Bahkan untuk sekedar menyadari bahwa ia memang ada pun sungguh sulit bagi manusia seperti ini.Bila ia telah pergi, apapun yang datang, manusia tentu tak kan lagi terpengaruhi . Cintanya betul-betul cinta mati. Cacian menjadi sama indahnya dengan pujian. Sakit sama rasanya dengan sehat. Bahagia bergandengan sama mesranya dengan duka. Semua menjadi tiada, tak lagi terombang-ambing kesana kemari, karena di ‘dalam’ sana ada kedamaian yang luar biasa, begitu indahnya.


Entah, berapa banyak sudah air mata yang tumpah akibat badai. Tak tahu, nyeri seperti apa yang pernah berkunjung, menggunung, menyayat relung dada ini. Enggan ku menghitung telah berapa malam istanaku porak poranda lantaran badai. Sungguh, tak mau rasanya dia mendatangiku lagi. Sakit Tuhan, pedih,ngilu… hancur, remuk dan entah apalagi kata-kata yang pantas untuk mengungkapkan semua itu. Saking tak enaknya. Saking aku tak berdaya.

Mengapa harus kualami semua ini Tuhan? Kenapa? Berlumuran dosakah aku? Tak pantaskah aku hidup dalam ketenangan yang abadi, tanpa gelombang , tiada pasang. Tidak layakkah aku mendapatkannya Tuhan? Ataukah ini yang namanya ujian? Beragam pertanyaan seperti ini kerap berkeliaran dalam benakku. Namun aku ingat betul petuah dari pak Kyai Simin “wis…wis..jangan pernah pertanyakan masalah itu nduk. Terima saja, ikhlaskan saja apa kehendak Allah buat diri kita, hati-hati, pertanyaan-pertanyaan semacam itu malah bisa membuat musyrik kalau diikuti.”

Hmm… barangkali memang pak Kyai betul. Tapi betapa banyak manusia yang hidupnya berlenggang kangkung, aman-nyaman sejahtera tanpa riak-riak besar. Hanya suka yang menyapa, hanya tawa yang menemani hari-harinya. Kalaupun luka datang menghampiri mereka, cuma secuil saja. Tak pernah menggores, tidak pernah menganga, tak juga pilu terasa menusuk hatinya. Lantas, mengapa tak Kau buat aku seperti mereka? Kenapa Tuhan? Mengapa? Atau apakah aku telah salah bertanya? Ya, mungkin memang aku yang telah salah menduga. Betulkah aku hanya berburuk sangka?

Hatiku dilliputi bimbang. Jangan-jangan… Tuhan menciptakan manusia seperti mereka, karena ingin memberikan pelajaran bagi manusia lainnya. Jangan-jangan suka dan duka memang sudah sepantasnya mewarnai kehidupan manusia. Jangan-jangan… Tuhan sebetulnya sedang memberiku anugrah. Jangan-jangan… Allah hanya sedang berkata “Aku sedang memberimu hadiah sayang, enjoy it…syukuri, ikhlaskan semua badai!. Kau telah kupilih, Kau lah yang ingin kuberi kehormatan! Jika kau bisa melewatinya dan mengambil ribuan makna darinya, Jiwamu akan melompat tinggi. Tinggi sekali. Dia akan membuatmu menjadi orang yang kuat. Dia akan memberimu kearifan, kedamaian, serta cinta yang lebih dan lebiih… banyak lagi. Hadiah yang tak pernah dirasakan oleh manusia yang tak pernah mengalaminya. Pelajaran berharga yang tak kan pernah kau dapatkan dari sekolah ternama manapun di bumi ini. Kado terindah untuk mengarungi bahtera kehidupan.”

Aku hanya termangu, tak percaya mendengarnya. Betulkah begitu? Namun Dia seperti berkata lagi ” Bukankah itu sebuah kehormatan, sayang? Apa namanya kalau bukan permata? Dan kau tahu? kau telah Kupilih. Percayalah, badai adalah anugrah yang luar biasa, bersyukurlah. Karena sesungguhnya, Aku hanya akan memberikannya kepada manusia-manusia pilihan. Manusia pilihan yang sanggup melewati badai. Manusia yang bisa menikmatinya, mensyukurinya, mengikhlaskannya, dan berjuang sekuat tenaga untuk keluar dari semua badai. Manusia semacam itu tak banyak jumlahnya. Tapi mereka percaya, dan tahu sekali, bahwa badai adalah serangkaian kehormatan. Setelah badai datang berkunjung, hadiah besar telah menanti dihadapannya, kenikmatan menunggu di pelupuk matanya. Aku tahu, kamu termasuk didalamnya. Bangunlah! Bangkitlah! Hadiah itu telah menanti di ujung sana. ”

Aku terkesiap. Betulkah Tuhan? Mengapa begitu sulit? Kenapa harus jatuh bangun, terseok-seok dan tertatih-tatih?. Gelombang itu kadang tak bosan menghampiriku lagi, menghempas… terus dan terus. Aku semakin tak berdaya. Aku menjadi lebur, kosong, dan hampir tiada. Hanya sebuah doa yang sanggup keluar, entah darimana “Lahaula walaquwata Illabillah…” Lagi…dan lagi… cuma itu yang mampu terucap Tuhan. Aku percaya… hadiah itu memang ada. Sedikit demi sedikit aku mulai merasakannya. Perlahan-lahan nikmat itu mulai ada. Aku mensyukuri semuanya. Segala puji hanya untukMu karena, telah Kau berikan padaku kehormatan ini. Hanya satu yang kupinta, selalu dan selalu, beri aku kekuatan…kekuatan dan kekuatan…Karena kini aku semakin tersadar… aku bukan siapa-siapa dan tak bisa apa-apa… Hanya Engkaulah yang Maha Besar, Hanya Engkaulah pemilik segala rasa, jiwa, benak, raga dan semuanya… Aku tak mampu, tiada tenaga, daya, dan tak mungkin bisa, jika Kau tak memberikannya…


Luka Membawa Permata

Filed under Diary Spiritual

“Setangguh apapun seseorang membentengi dirinya dengan waspada dan kehati-hatian, sesekali luka pasti datang berkunjung, entah fisik maupun psikis. Tapi sesungguhnya, luka membawa permata, bila manusia bisa menemukannya.” begitu tutur Gede Prama dalam sebuah bukunya.

Bukan hidup namanya kalau tak berpelangi. Selagi senyum tersungging di pintu dapur, sang tangis telah menanti di kamar tidur. Saat duka kian melanda di ruang tamu, bahagia telah menunggu di ujung ruang lainnya.

Hidupku pun dipenuhi pelangi. Bahagia selalu ada, duka pun tak bisa kutolak. Sekuat apapun aku berusaha menghindar, luka tetap datang menghampiriku. Bisakah aku menemukan permata? Luka selalu membawa tangis dan air mata, yang tak kunjung sirna. Luka begitu pedih, perih, nyeri, dan sakit sekali. Namun semua luka adalah pupuk bagi jiwa. Pupuk tak pernah indah, kotoran pembuatnya. Semakin sering diberi pupuk, kian suburlah pohon jiwa.

Pupuk membuat pohon berbuah manis, begitu pula adanya permata. Permata bukanlah barang yang bisa dibeli dengan tangan hampa. Ada harga yang harus dibayar dari sebuah permata. Luka-lah bayarannya.

Terima semua luka, syukuri keberadaannya, ikhlaskan dia, karena dengannya bathin ini menjadi kaya, permata menghampirinya.

“Aku terima semua luka ini ya Allah, sebagai pupuk bagi jiwa. Kuatkan aku menerimanya. Semoga, kugenggam juga sang permata, suatu hari nanti…”


Doa Malik dan Lala buat Bunda

Filed under Diary Spiritual

Waktu aku sedang ‘dying’ kemarin, aku iseng-iseng ‘curhat’ sama Lala “La, bunda nggak bisa napas, hidung bunda mampet, bunda napasnya jadi lewat mulut, nggak enak banget rasanya La…gimana ya La ?” Eh, tak tahunya dia menjawab “berdoa bun, biar sembuh”. He he pinter tuh anak. “Wah iya ya, kalo gitu Lala doain bunda dong nanti ya…” pintaku. Lala cuma mengangguk.

Malam sebelum tidur tadi, aku mengeluhkan hal yang sama padanya. Hidungku mampet lagi. Aku ingat tentang percakapan tentang berdoa ini, lalu aku mengingatkan Lala “La, katanya mau doain bunda, gimana berdoanya?”“Morgen (besok) bun ”

“Oke deh kalo gitu”

Tapi ternyata dia langsung mengangkat tangannya dan berdoa “Ya Allah, sembuhkanlah bundaku, supaya besok bisa jalan-jalan lagi, amin”

“Wah, bagus sekali doanya, makasih ya sayang… Aik juga berdoa dong buat bunda…” Iseng-iseng aku ‘memaksa’ Aik yang berbaring disebelahku untuk mendoakan aku hehe. Rupanya, manjur! Tanpa acara mengangkat tangan kayak Lala, Aik berdoa,

“Ya Allah, biarkanlah bunda sembuh, biar…biar…biar…mmm…biar bunda bisa cerita lagi, amin”

Hi hi hi anak-anakku, lucu-lucu dan pada pinter berdoa deh sekarang, walaupun doanya karena dipaksa bunda hehe. Makasih ya sayang…