Home » Diary Spiritual

86.400 Kali Harus Berterimakasih Sama Allah Setiap Hari

Diskusi ayah dan anak sambil gulat, ditulis oleh ayah Ismail Fahmi, diedit dengan semena-mena oleh si emak. Suatu hari setelah sholat maghrib terjadi dialog antara si bungsu dan ayahnya. Tapi berhubung si bungsu demen maen gulat dan ia mengaku sedang hiperaktif maka diajaklah ayahnya ngobrol sambil main gulat,”Yah Aik lagi hiperaktif , Aik mau gulat sama ayah!” Jadilah akhirnya dialog berlangsung sambil main gulat :) Ciaat..ciaat..uugh! “Ayah harus jatuh! Hmmh…” Setelah memasang kuda-kuda…tubuh kecil Aik lalu berusaha keras mendorong tubuh ayahnya. Si ayah tak mau kalah…tangan-tangannya berusaha menahan tubuh Aik….

Read More »

Karena Kau adalah Sejatinya Belahan Jiwa

Aku membara Rasanya ingin berhenti saja Aku tersiksa Harus memilih antara dua neraka Dan hari itu Kau buat aku tak mengenalmu Karena kau yang merelakanku pergi Karena kau yang sangat sibuk mengurus itu ini Belum lagi urusan rumah dan para kurcaci yang menguras energimu hingga titik tertinggi

Read More »

Just Like Day and Night

My heart stopped beating for a moment when I saw again how a scalpel cut the uterus, blood here and there, and the head of the baby who then appeared from the open womb. The bluish baby cried. The resuscitation team then made the baby warm and after several minutes, the bluish colour of the baby turned to pink. The baby came to the world, healthy. It was an amazing process.

Read More »

Ramadhan is ongezond! Ramadhan itu ga sehaaat!

Waktu lagi chat sama suami, tiba-tiba aku dapat kabar bahwa si bungsu anakku malah lebih memilih ga punya agama daripada ga bisa hidup gara-gara menderita karena puasa! OMG! Gubraks banged ga seeh! Opo tumon hehe Padahal belakangan ini sering kulihat status fb teman-teman yang bilang,”Alhamdulillah anakku puasanya tamat terus. Senangnya punya anak pinter puasa,” dan seterusnya…dan seterusnya… Duh senang dan bangga banget dong pasti orangtuanya. Nah diriku apa kabar dong jadinya? :D Begini dongeng lengkapnya : (ditulis oleh ayahnya si bungsu dan diedit dengan semena-mena oleh istrinya si ayah :D)

Read More »

There was a time

There was a time… When I felt so bad I cried Till the tears run dry I screamed Till the words dry out But… At the end of the day The only thing I could do Was just nothing

Read More »

Vanish, Wait, and Reveal

Many things I know But I have to keep silent Many things break my heart But I have to stand still and be strong Many things I don’t know And I have to keep on learning

Read More »

Pohon dan Rumputnya, Buku dan Peernya

Suatu hari setelah si bungsu berbuat sesuatu yang ngeseliiin banget dan bikin ngurut dada. Si Bunda: “Hmh..capeek! Percuma ngasuh anak sendiri, dengan tangan sendiri dari sejak lahir, hasilnya kaya begitu tuh, mendingan kaya anaknya si A, B ato C aja deh taro di pesantren aja pulangin ke Indonesia, biar bener.” Suaminya si bunda: “Are you sure Mom?” Kalau kita nanam pohon kan pasti akan tumbuh rumput, ya kewajiban kita dong untuk mencabuti rumput tersebut.”

Read More »

Expectations, Reality and Dream

“Expectations can kill you, take a distance from the world, from your monkey mind, no attachment. Just be nothing..be zero… just pray, wait and give it all to the Almighty. Let God plays His scenario and keep our mind zero, because most of the time what make us suffer is our mind! “ I am a dreamer, and I put a lot of effort to achieve it. Usually I make several plans A, B, C, D, and then I feel safe and comfort. By the same time, consciously or not…

Read More »

Happiness in marriage, fight for it

“Don’t ever feel alone. If you are sad, I am sad. If you are sick, I am also sick. We are going through all of this together. You are not alone…I won’t let you alone. Trust me… I’ll be with you…forever…” I felt like I was drowning. I couldn’t see anything. Dark, everywhere was dark. My tears were hovering in my eyes and I yelled out: Why? Why? Why it seems that I don’t deserve to be happy. Where are You my Lord? Just watching me in pain like this?…

Read More »

Percakapan Dua Insan, Ketika Badai Datang

Badai itu datang lagi. Entah mengapa, datangnya selalu menjelang musim semi, menjelang umurku bertambah satu lagi. Dan sang badai tentu saja, selalu memporak porandakan hati. Harus seperti itu supaya bisa naik kelas lebih tinggi, kata pak Kyai. Badai, angin putting beliungnya menderu-deru di hati. Gelungan ombaknya menggoyah-goyahkan ketetapan hati. Tampang dilipat-lipat, mulut terkunci lekat. Tak hendak beranjak, maunya hanya bergelung selimut menutup tubuh rapat-rapat. Kalau bisa rasanya esok hari dunia ini tak perlu ada lagi.

Read More »