Home » Diary Spiritual

Ketika Tirai Menjelma Lentera

Ketika hati bertanya
Dimana, dimana aku
Aku, aku adalah sebuah lentera
Sinarnya menerangi jagat jiwa

Ketika hati bertanya
Dimana, dimana tempat kembalimu
Engkau, aku kamu siapapun itu tak akan pernah tahu
Hingga tabir itu terkuak, terbuka menganga

Aku adalah sebuah pencarian panjang
Hingga maut memisahkan
Aku bukanlah sesuatu yang mudah kau pandang
Ia seperti mutiara di dalam sekam
Ia tak mampu kau buka tanpa kau tertunduk, menggosoknya
Menggalinya, menguak tabir tabirnya satu per-satu

Hingga tabir itu memancarkan lentera
temaram hangat membuai jiwa
Tidak! Tak! Ia tak akan pudar

Read More »

Ketika Aku Terhina

Aku hanyalah setitik air diantara luasnya samudra. Aku, siapa aku ini, manusia yang entah telah berapa lama mendua Menduakan cintaku padaNya Hanya karena meminta puji, pujinya manusia. Aku siapakah aku ini Mengapa aku resah gelisah Ketika dunia berkata Hai kamu gila Kenapa harus resah dan gundah Bukahkah puji hanya milik Allah semata?

Read More »

Ketika AkuTerhina

Aku hanyalah setitik air diantara luasnya samudra.
Aku, siapa aku ini, manusia yang entah telah berapa lama mendua
Menduakan cintaku padaNya
Hanya karena meminta puji, pujinya manusia.

Aku siapakah aku ini
Mengapa aku resah gelisah
Ketika dunia berkata
Hai kamu gila
Kenapa harus resah dan gundah
Bukahkah puji hanya milik Allah semata?

Aku tak ingin lari dari semuanya
Aku ingin menikmati saja
Hari-hari tanpa puji
Hari-hari penuh caci
Karena semua membuatku tahu diri
Mengerti bahwa aku tak punya diri

Aku bukan siapa-siapa
Aku hanyalah sebuah titik diantara luasnya samudra

Read More »

‘Kacamataku’ (Summary Air Mata untuk Sang Dai)

Aku merasa perlu untuk mengikat proses belajarku dalam kejadian poligaminya Aagym yang kemaren bikin aku kecewa. Ternyata betul, pasti ada pesan Allah dari kejadian ini buatku. Aku menangis, aku tertawa, aku kecewa, aku bahagia semua dari Allah. Ternyata betul, tidak sia-sia air mata yang kukeluarkan, aku dapat banyak sekali pelajaran. Karena itu lah aku ingin mencatatnya.

Pertama, tentang kacamata, (thanks to mbak eva yang sudah dengan tepat menggambarkan apa penyebab kekecewaanku :-)), ya rupanya si kacamata ini penyebabnya. Tanpa sadar aku sudah memaksakan kacamataku untuk dipakai orang lain, (dalam hal ini Aa Gym sebagai tokoh yang kukagumi). Dan akibat dari pemaksaan kacamata ini, aku jadi terlibat secara emosional. Pelajarannya, aku jadi ingin lebih menyelam ke dalam diri. Ternyata, apapun itu, lebih baik aku menjadi penonton saja untuk kejadian-kejadian manusia di luar diriku.

Read More »

Air Mata untuk seorang Dai, hiks..hiks…

Hiks..hiks…aku semalem nangis, sungguh! Tahu kenapa? Karena aku baca berita Aagym kawin lagi huhuhu. Berita itu betul-betul mempengaruhi aku. Membuat aku yang sebetulnya lagi sok sibuk ini (deuuuh…hehe), yang lagi kejar tayang sama urusan tulis menulis maksudnya, terpaksa harus menghentikan sejenak kegiatanku itu, untuk merenung, berdiskusi sama suamiku dan mencari kedalam diriku apa sebetulnya yang Allah mau aku belajar dari kejadian ini. Asliii aku jadi ga konsen buat melanjutkan kerjaanku. Sediiih, piluuu, dan lain-lain deh perasaanku.

Hah segitunya? Hiks hiks iyaa. Kenapa? Karena, saudara-saudara…aku itu pernah mengalami jatuh bangun dalam proses pencarian agamaku. Tau sendiri deh banyak jalan menuju Allah kan. Daan Aagym ini termasuk orang yang kukagumi, karena dakwah-dakwahnya begitu sejuk, berbicara tentang kebersihan hati dan rasanya nyambung sama pencarianku. ‘Rumah Allah ada di dalam hati kita,” kira-kira itu yang mewakili pencarianku, dan nasehat-nasehat Aagym selama ini cocook banget dengan prinsipku itu.

Read More »

Untuk Sahabat Lama

“Teruslah menjadi penyentuh bagi kekasih-dan permata-hati kalian. Karena orang-orang yang kalian sentuh tidak akan pernah meninggalkan dan melupakan kalian, sekalipun suatu saat mereka jauh. Seperti aku, yang pernah kalian sentuh, meskipun secara tidak sengaja.”

Membacanya, aku tak berhenti mengusap air mata. Dia, seorang sahabat lama, tiba-tiba hadir dalam inboxku. Tulisannya tentang ‘penyentuh’ membuat ku merasa begitu berarti. Aku yang selama ini masih saja tak banyak bersyukur, kini disentil lagi. Betapa syukurku mestinya tak boleh putus, terus dan terus.

Dulu, Allah hadirkan dia kepadaku, agar padanya aku bisa menimba ilmu. Sejujurnya, surat-suratnya dan pemikiran-pemikirannya telah banyak menginspirasi aku. Dia turut andil membuatku menjadi seorang agnes seperti yang sekarang.

Read More »

Menjadi Seputih Melati

Ramadhan lagi…
Ramadhan ketiga di negeri ini…
Begitu banyak duri yang Kau beri…
Wahai Ilahi Robbi…
Namun semua tak berarti…
Saat kulihat pesan yang tersembunyi…

Duh Gusti…
Rasanya begitu hina diri ini…
Tapi ternyata janjiMu tak salah lagi…
Kau begitu dekat, sedekat urat nadi
Sungguh nikmat, nikmat sekali
Saat cintaMu mengaliri diri

Jangan…jangan biarkan hanya hari ini…
Sungguh, aku ingin lebih lama lagi…
Meski kulihat gemerlap dunia menghampiri
Bertubi-tubi, bahkan mungkin hingga kumati..
Tapi sungguh Gusti…
KeindahanMu tak tertandingi

Ramadhan lagi

Read More »

Secuil Hati yang Kembali

“Apa sih gunanya belajar bahasa? Buat apa? Toh aku akan pulang. Di Indonesia nanti, apa gunanya bahasa Belanda, mendingan juga memperdalam bahasa Inggris, pasti kepakenya. Hmm…bingung. Ikut ujian apa jangan ya…? Rajin belajar apa jangan ya…? Tapi sayang juga kalau kesempatan dibuang. Tapi lagiii, waktuku untuk menulis dan bermesraan dengan kompi jadi jauuh berkurang. Padahal banyaak banget yang ingin aku tulis. Huaah..pusing!”

Belakangan ini aku memang pusing sama urusan les bahasa ini. Melihat latar belakangku, dosenku sangat menganjurkan aku untuk ikut staad examen II. Padahal, waduuh bicaraku masih belepotan. Tapi kenapa aku bersemangat? Aku juga heran, kenapa aku semangat ya? padahal kadang-kadang pikiran yang mengatakan belajar bahasa Belanda ini tak berguna sering sekali muncul.

Read More »

Ia Akan Pergi

Ketika ia hendak pergi
Ada bening mengalir di sudut mata ini
Ketika ia tinggal sehari lagi
Ada rindu yang seketika menghampiri

Rindu suasana
Rindu sanak saudara
Rindu tanah air tercinta
Rindu berjumpa lagi dengannya

Ah, mengapa kini baru terasa
Betapa ia begitu berharga
Ia yang meluruhkan angkara murka
Ia yang mampu menyejukkan jiwa

Jangan, jangan pergi secepat ini
Baru sejenak murka itu pergi
Baru setetes sejuk itu meresap di hati
Akankah mereka hilang lagi?

Ah, salahku sendiri
Tiga puluh hari kulalui
Dengan setengah hati
Ampuni aku ya Robbi…

Untuk sahabat-sahabatku tersayang. Menjelang hari yang fitri, mohon dimaafkan segala salah dan dosa yang mestinya kerap ada. Karena aku hanyalah manusia. Kadang aku tak kuasa menghindari semuanya.

Mohon maaf lahir dan batin. Selamat Idul Fitri 1426 H

Read More »

Ketika Usia Bertambah Satu

Ketika usia bertambah satu, ada kesedihan disana, tapi juga diselingi tawa. Sedih karena merasa semakin tua, kalah bersaing dengan anak-anak muda. Tapi tak lupa tertawa karena semakin tua, pikiran dan hati pun kian dewasa. Mestinya begitu, tapi entah pada usia keberapa. Karena tak jarang pula, di usianya yang sudah berkepala lima, enam atau 7, hati dan pikiran manusia tetap seperti balita.

Ketika usia bertambah satu, ada makna yang hadir disana. Betapa selama puluhan tahun mengarungi samudra, Tuhan begitu sayang padanya. DiberiNya ia segala. Kecantikan, ketampanan, kecerdasan, karir yang menjulang, pasangan yang ideal, serta anak-anak yang lucu dan menawan. Namun sayang seribu sayang tak sedikit pula manusia yang tetap saja alpa. Lupa mensyukuri semuanya. Tetap saja kurang, tetap saja bimbang.

Read More »