Home » Diary Spiritual

‘Aku’ yang Enggan juga Pergi

Kebenaran hanya milik Allah. Tapi manusia kerap merasa menjadi orang yang paling benar. Semua orang memiliki ke’aku’an yang memang menjadi sifat dasar manusia. Sanggupkan keegoisan dalam diri itu luntur dan akhirnya sirna oleh tempaan kehidupan? Padahal, bila ia pergi, ‘pertemuannya’ dengan Tuhan hanya sejengkal lagi. Sulit. Sungguh sulit memang. Tentu saja butuh pengorbanan. Tenaga, pikiran, dan air mata mesti terkuras untuk melenyapkannya. Tapi ia–keegoisan dalam diri–tetap tak mau juga pergi.

Mengapa ia membandel? Mengapa ia suka sekali berdiam dalam jiwa manusia? Mengapa begitu sulit? Setelah badai bertubi-tubi datang, menghempas dan memporak-porandakan hati, tetap saja ia enggan pergi. Terkikis mungkin, tapi sedikit sekali. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Karena masih banyak lagi, ribuan bahkan jutaan manusia yang tetap mengeras seperti batu karang. Bahkan untuk sekedar menyadari bahwa ia memang ada pun sungguh sulit bagi manusia seperti ini.

Read More »

Badai, Betulkah Kau Hadiah dari Tuhan?

Entah, berapa banyak sudah air mata yang tumpah akibat badai. Tak tahu, nyeri seperti apa yang pernah berkunjung, menggunung, menyayat relung dada ini. Enggan ku menghitung telah berapa malam istanaku porak poranda lantaran badai. Sungguh, tak mau rasanya dia mendatangiku lagi. Sakit Tuhan, pedih,ngilu… hancur, remuk dan entah apalagi kata-kata yang pantas untuk mengungkapkan semua itu. Saking tak enaknya. Saking aku tak berdaya.

Read More »

Luka Membawa Permata

“Setangguh apapun seseorang membentengi dirinya dengan waspada dan kehati-hatian, sesekali luka pasti datang berkunjung, entah fisik maupun psikis. Tapi sesungguhnya, luka membawa permata, bila manusia bisa menemukannya.” begitu tutur Gede Prama dalam sebuah bukunya.

Bukan hidup namanya kalau tak berpelangi. Selagi senyum tersungging di pintu dapur, sang tangis telah menanti di kamar tidur. Saat duka kian melanda di ruang tamu, bahagia telah menunggu di ujung ruang lainnya.

Hidupku pun dipenuhi pelangi. Bahagia selalu ada, duka pun tak bisa kutolak. Sekuat apapun aku berusaha menghindar, luka tetap datang menghampiriku. Bisakah aku menemukan permata?

Read More »

Doa Malik dan Lala buat Bunda

Waktu aku sedang ‘dying’ kemarin, aku iseng-iseng ‘curhat’ sama Lala “La, bunda nggak bisa napas, hidung bunda mampet, bunda napasnya jadi lewat mulut, nggak enak banget rasanya La…gimana ya La ?” Eh, tak tahunya dia menjawab “berdoa bun, biar sembuh”. He he pinter tuh anak. “Wah iya ya, kalo gitu Lala doain bunda dong nanti ya…” pintaku. Lala cuma mengangguk.

Malam sebelum tidur tadi, aku mengeluhkan hal yang sama padanya. Hidungku mampet lagi. Aku ingat tentang percakapan tentang berdoa ini, lalu aku mengingatkan Lala “La, katanya mau doain bunda, gimana berdoanya?”

Read More »

Tiada Daya Kecuali Kekuatan DariMu…

Aku sedang sakit. Kedua hidungku tersumbat, tak bisa bernapas sama sekali. Aku mengidap rhinitis alergi sejak 10 tahun yang lalu. Setiap hari dalam kondisi sehat pun aku tidak pernah bernapas dengan normal, selalu mampet. Apalagi dalam kondisi terserang flu begini. Aku hanya bisa bernapas lewat mulut, tersiksa sekali rasanya ya Allah. Obat yang kupakai pun sudah tak mempan lagi. Baru diberi sakit seperti ini saja rasanya sudah tak karuan, bagaimana dengan orang yang diberi sakit luar biasa.

Read More »

Doa Malik untuk Scoop dan Cucuh

Ah… ternyata teori itu betul, anak-anak memang makhluk spiritual. Aku sebagai orangtua hanya tinggal memfasilitasi. Aku ingin menanamkan kecintaan pada Allah dalam diri anak-anakku. Aku mencoba teori bab I buku Spiritual parenting. Dalam hal ini, aku dan suamiku memang sepakat dengan buku itu, bahwa Tuhan ada di dalam hati. Ajarkan anak-anak untuk menggali dan merasakan betul kehadiran Tuhan. Bukan mengajarkan siapa Tuhan yang penting, tapi apa yang dilakukan Tuhan, itulah yang lebih berharga. Tuhan bukan sosok yang menyeramkan, yang suka menghukum dan memasukkan manusia ke neraka. Tapi Allah ada dalam hati mereka. Allah sangat sayang kepada mereka. Mereka boleh meminta dan bicara apapun kepada Allah dan Allah akan menjawab. Aku ingin, mereka bisa menjadi pencinta Tuhan. Ya aku hanya berusaha, semoga…

Read More »

Istana Dalam Lumpur

Your daily life is your temple and your religion, Kahlil Gibran.

Setiap orang boleh-boleh saja untuk setuju atau antipati dengan kalimat ini. Apalagi jelas-jelas kalimat tersebut ‘hanya’ milik seorang penyair, bukan sebuah hadist maupun ayat-ayat Al Qur’an. Akan tetapi, sebuah ayat Al Qur’an menyebutkan bahwa seekor semut pun terkadang membawa kebenaran. Jadi bisa saja kalimat diatas menyimpan kebenaran bukan? Cerita berikut barangkali bisa sedikit menyingkap betulkah ada kebenaran dalam kalimat sang penyair.

Read More »