Home » Lain-lain

Antara Ruteng dan Bordeaux

Hai. Rindu aku mengetikkan jari jemariku lagi. Berada di pulau nun jauh ini, sendiri lagi, membangkitkan kenangan lama yang tak bisa kulupa. Dingin yang seketika menyergap dan suasana rumah yang tidak modern ini membuat ingatanku melayang pada sosok lelaki tua di Bordeaux sana, bapak kosku dulu. Bayangan saat aku menjinjing dua koper besar memasuki rumah itu, lalu disambut dengan komunikasi bahasa tarsan karena aku hanya bisa ngomong ‘Je m’appele Agnes’ dan ‘sava bien, merci’, tiba-tiba berkelebat di kepala ini. Tempat kos paling murah yang bisa aku dapatkan saat itu, rumah…

Read More »

Missing December in Diemen

Lima bulan berlalu, sejak Diemen ditinggalkan Dan, ini Desember Kawan. Kami duduk di sebuah fast food restaurant sambil bilang: Dulu, jika sedang weekend, kita sering membeli ini di Amsterdam Arena. Yaa dan rasanya lebih enak. Ini nggak enak, timpal si Sulung. Dan …dan aku…aku rindu suasana Desember di kota itu, tambahnya. Aku rindu kerlap kerlip lampu yang menemani dinginnya malam. Aku rindu memakai jaket tebal Aku rindu jalan-jalan di Kavelstraat sambil melihat orang-orang lain yang sama-sama bersepatu boot dan berjaket tebal menikmati dingin dan lampu-lampu itu. Itu cozy banget! Aku…

Read More »

Bangga = Menemukan Tugas Spesial dari Tuhan

Suatu hari, anak lelaki saya yang ketika itu berusia 7 tahun tiba-tiba bergumam,”Jadi perempuan itu merepotkan! Alhamdulillah aku laki-laki,” katanya serius. Saya tersenyum-senyum mendengarnya sekaligus heran, darimana dia mendapatkan ide bahwa menjadi perempuan itu merepotkan. Rupanya anak seusia itu memang sudah menyadari adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan,  dan ia pun paham bahwa menjadi perempuan berarti harus hamil dan melahirkan. Jadi ketika saya diminta untuk membawakan topik soal ‘Aku bangga menjadi wanita’ dalam acara Kharisma ini, saya langsung teringat gumaman anak saya itu. Saya lalu berpikir, benarkah jadi perempuan itu…

Read More »

‘Me Time’ Menjelajahi Centrum Amsterdam

Lega rasanya, minggu ini aku selesai mengerjakan ‘peer’ besarku. Jadi rasanya pengen istirahat sejenak, bersenang-senang sejenak, sebelum mengerjakan ‘peer’ selanjutnya. Dan dalam rangka bersenang-senang ala aku, aku ambil ‘Me Time’ day. Suami dan anak-anakku dengan senang hati mengijinkan. Hari ini aku seharian jalan dari central stasion Amsterdam ke Dam, China town, redlight area, Kavelstraat, Remblandtplein sampe Magere Burg. Sudah lama aku pengen banget ke Magere Brug ini, jembatan kayu yang paling terkenal di Amsterdam. Aku sangat menikmati perjalananku tadi, ternyata seru juga melakukan ‘me time’ sendirian, jadi observer. Tapi sebetulnya…

Read More »

Mengejar SIM A Waktu Pulang

Akhir bulan Juni 2009, aku pulang. Hari pertama yang kulakukan setibanya di Bandung adalah, membuat SIM! Yup, membuat SIM! Aku ingin mencatat pengalamanku ini, karena cukup spesial. Baru kali ini aku bisa punya SIM lewat ujian dan ga perlu bayar sogokan, senang kan! Kenapa baru sampai koq harus langsung membuat SIM? Karena, suamiku hanya dapat jatah cuti 3 minggu, dan waktunya harus dibagi-bagi. Seminggu pertama kami ngelencer di Bandung, lalu ke Pangandaran. Setelah itu, kami harus pulang kampung, ke Bojonegoro tempat suamiku berasal. Dan kalau selama di Bandung harus naik…

Read More »

Antara Groningen-Amsterdam

Tak terasa, sudah dua bulan lebih aku tinggal di Diemen-Amsterdam. Wah, waktu seperti berlari, karena sejak datang aku dan suamiku sibuk beres-beres rumah yang kosong melompong. Suamiku mencicil pasang laminat, pasang wall paper, angkat-angkat barang dan kerjaan berat lainnya, aku bagian bersih-bersih. Tapi hingga sekarang belum juga kelar finishingnya, meski sudah nyaman buat dihuni. Lalu aku juga mulai sibuk beraktifitas, jadi betul-betul waktu berlalu begitu aja ga kerasa. Tapi aku menikmati sekali fase baru dalam hidupku ini, repotnya pindahan, repotnya cari rumah, hunting isi rumah sesuai budget yang terbatas, repotnya…

Read More »

Maafkan

I’m back! Ya, setelah melewati masa-masa sulit dan masa repot pindahan, tiba-tiba saja hari ini aku merasa kangeen sekali sama blog ini. Aku kangen menulis hari-hariku lagi. Banyak cerita lewat tak tercatat. Meski aku mencatatnya dalam diary pribadiku, tapi kadang aku menulisnya asal-asalan, tak indah dan tak lengkap. Mohon maaf untuk komentar-komentar dan pertanyaan yang selama ini tak terjawab Rasanya setelah menumpuk sekian banyak aku tak mungkin menjawabnya satu persatu. Dan mungkin setelah ini, aku pun tak bisa menjawab semua pertanyaan dan komentar yang akan muncul (duh kege-erannya daku, emang…

Read More »

lala tanya

Bunda, kapan bunda bikin di kakagori Still Stands foto?

Sayang, Lala.

Read More »

Kenangan Jadi Overblijf Juf

Duh, tadi pas jemput Malik di sekolah, tiba-tiba airmataku mau tumpah, hampir aja mbrebes mbrambang mili, (halaah bahasane rek). Hari ini hari terakhir sekolah anak-anak, besok sekolah libur sampe tanggal 20 Agustus. Malik duduk di kelas Pinguin. Biasanya aku jadi overblijf juf ( guru yang jagain anak-anak makan siang di sekolah satu jam saja). Aku megang kelas Zebra yang letaknya bersebrangan dengan kelas Pinguin. Tugas ku biasanya ngajak maen di luar setengah jam. Keliling-keliling kayak satpam. Kalo ada yang nangis atau berantem aku tenangin. Kalo ada yang bajunya kotor aku gantiin. Setelah setengah jam, mereka masuk dan beraktifitas di dalam kelas. Aku harus memotivasi mereka untuk mau makan dan ngabisin makanannya. Kadang aku bacain buku untuk mereka. Lalu aku ngelap meja bekas makanan mereka dan aku sapu-sapu lantai. Setelah mereka duduk rapi in de kring ( lingkaran), juf nya dateng, baru deh aku pergi.

Read More »

Mau Aborsi? Pikir Dulu Seribu Kali

Ketut Arik Wiantara membuka praktik aborsi sejak kuliah di Fakultas Kedokteran gigi Universitas Mahasaraswati Bali. Dalam tempo empat tahun, 4.380 janin dikuret dan beberapa wanita kehilangan rahim. Dengan praktik serampangan, tak heran jika ada korban yang meninggal dunia. Sejauh ini, hanya Ni Nyoman, 20 tahun, yang diketahui meninggal di RSUD Wangaya pada 20 Agustus 2004. Wanita malang ini menderita infeksi organ dalam. Pasien lainnya, Ni Nyoman Suini juga menderita infeksi rahim dan usus. Sementara penderitaan Ni Nyoman Wideru dan Ni Putu Astiti lebih hebat lagi. Rahim kedua perempuan ini harus diangkat. Setelah aborsi, kedua wanita ini malah tidak bisa lagi hamil untuk selamanya.

Read More »