Home » Lala dan Malik

Mau Pipisin Bunda

Gambar Aik sedang nangis karena berbuat salah kepada Bunda. Aik sayang bunda. Bunda sayang Aik.

“Aik mau pipisin Bunda!” kata Aik sambil betul-betul mengeluarkan kemaluannya di depanku. Aku terhenyak. “Aik!” Sentakku. Ya Allah, kenapa anakku sangat tidak sopan begini. Apakah aku telah gagal menjadi seorang ibu yang baik? Sesak merayapi dadaku. Dan api mulai menyala di hatiku. Mendadak kisah Malin kundang pun berkelebat dalam kepalaku. Panas api itu semakin membakar rasanya. Kucoba untuk menahan diri. Tak kukeluarkan sepatah kata pun. Aku tak ingin menodai keberhasilanku. Aku sudah cukup sukses menghadapi Lala. Setelah kesadaran baru dari mbak Neno, seingatku aku tak pernah lagi memarahi Lala. Haruskah kini aku mendapatkan ‘mangsa’ baru?

Read More »

Diploma Gips Lala

Deskripsi..

Read More »

‘Night For Atjeh”

Hari Kamis, tanggal 13 Januari 2005 ada acara “Night for Atjeh” di Grote Mark. Acara ini diselenggarakan oleh PPI Groningen dan bertujuan untuk menggalang dana bagi Aceh. Bunda hanya bisa menyumbang tenaga dengan membuatkan baso tahu dan siomay untuk dijual di acara tersebut. Ayah sebetulnya diminta untuk presentasi tentang rencana jangka panjang bagi Aceh, tapi karena sedang sibuk, ayah hanya menyanggupi untuk membaca puisi.

Read More »

Ulang Tahun Ayah di Rumah

Ulangtahun ayah bertepatan juga dengan ulang tahun Malik, tapi acara ulangtahun Malik sudah digabung dengan Lala beberapa minggu sebelumnya. Bunda, Lala dan Malik sudah berencana sejak sehari sebelum hari ‘H’ untuk memberikan kejutan kepada ayah. Pagi hari, ketika ayah hendak pergi ke kantor, kami semua cuek, seolah tidak terlalu peduli dengan hari ulang tahun ayah. Padahal, kami punya kejutan lho setelah ayah pulang.

Read More »

Salju Pertama

Hari ini, selasa, tanggal 28 Desember 2004, adalah hari pertama turunnya salju tebal di Groningen. Kemarin salju sudah mulai turun tapi masih tipis-tipis. Begitu bangun pagi hari, bunda langsung mengajak anak-anak melihat salju diluar. Wah indah sekali, semua jalan, atap rumah dan mobil berwarna putih. “Wah, hari ini tak boleh kita lewatkan begitu saja,kita harus keluar karena belum tentu besok-besok ada salju setebal ini” begitu kata ayah. Akhirnya, sekira jam 2 siang, kami keluar rumah berjalan kaki, ingin menikmati salju pertama, juga sekaligus berbelanja ke Aldi.

Read More »