Archives for “Sharing Teman”

Tips Agar Anak Aman bersosial-networking

Filed under Diary Parenting, Sharing Teman

Resume acara:

Ceramah parenting online “Parental Control & Internet Social Networking for teens”

Bersama Adi Adinugroho-Horstman dengan Pembicara Tamu Dr. Merlyna Lim, Arizona State University, ahli di bidang internet/online networking di http://www.radioimsa.org/listen.m3u

Di jaman serba online, sekarang anak-anak remaja kerap mencari jati diri via online. Saat ini, bagi generasi yang usianya di bawah 20 tahun itu, mereka sudah terbiasa dengan tidak adanya privacy. Buat orangtua yang lahir di jaman kita, kita berhati-hati kalau mau narsis, tapi buat mereka enggak, dan semuanya jadi overacting, yang ga melakukan itu malah jadi minoritas. Menurut pengalaman bu Meryl, anak-anak remaja didikannya, setiap saat fesbukan melulu, mereka jadi bingung antara dunia online dan dunia betulan. Dampak dunia online pun kadang terbawa ke dunia nyata. Generasi sekarang = generasi narsis kata para ahli, norma berubah. Yang dianut sekarang katanya begini: untuk jadi orang sukses ya harus narsis dan overacting, padahal menurut generasi 30 tahun lalu semua itu ga bener.

Selengkapnya…


Ndak Usah Ngoyo

Filed under Diary Spiritual, Sharing Teman

Aku yakin, tamu memang membawa berkah, seperti kata falsafah. Keberkahan itu kadang bukan dalam bentuk materi, tapi pesan-pesan penting yang seperti sengaja didatangkan Tuhan. Semenjak pindah ke rumah baru di Diemen, setiap sekali atau dua kali sebulan, selalu ada tamu menginap di rumahku. Aku jadi banyak bertemu orang, baik kawan lama maupun baru. Mereka pun datang dengan segala keunikan dan pesan. Bulan November tahun 2009 lalu, rumahku bahkan pernah diinapi oleh Mba Asma Nadia dan bang Isa, yang sebelumnya hanya aku tahu lewat dunia maya.

Selengkapnya…


Read a lot, listen a lot, and write a lot,” tips penting dari Natalie Goldberg dalam bukunya ‘ Writing Down the Bones’ itu kucatat dan kurekam baik-baik dalam memoriku.Seorang yang ingin menulis atau menjadi penulis, tidak bisa menganggap sepele ‘listen a lot,’ with all of  your body. Sering kita ngobrol ngalor ngidul dengan siapapun atau jalan-jalan ke suatu tempat, tapi kalau kita tak berusaha mendengar dengan seluruh indra kita, banyak hal yang kemudian terabaikan dan terlupa.

Selengkapnya…


Melahirkan, Pemadam Kebakaran pun Turun Tangan.

Filed under Sharing Teman, Tentang Belanda

Sistem kesehatan di Belanda terkenal sangat rasional. Bagus memang dan patut dicontoh, tapi bagi yang belum terbiasa, pasti ngomel-ngomel, seakan-akan dokter sini cuek bebek banget, pasien udah dying ga dikasih obat, gitu deh kasarnya. Soal Rasional Use of Medicine (RUM) di Belanda, ceritanya panjang, kapan-kapan aku pengen nulis khusus untuk itu. Kali ini, aku mau tulis tentang pengalaman temanku saat melahirkan yang cukup unik. Aku pas denger sampe bengong hehe.

Selengkapnya…


Setelah lima tahun tak pulang, tentu aku senang. Meski beberapa keadaan kadang membuatku bimbang. Banyak cerita-cerita yang ingin kutulis sebagai catatan. Tapi baru ini yang sempat tertuang.

Ketika Kejujuran Ramai-ramai Digadaikan

Pernah menyontek? Jujur, aku pernah. Masih tergambar jelas dalam ingatanku, ketika ibu guru matematika SMP ku menghampiri tempat dudukku.”Buka!” Ketusnya. Gemetaran, aku ambil lembar kertas paling atas di depanku. “Buka lagi!” Suaranya makin galak. Aku ikuti perintahnya sambil mengutuki degup jantungku yang bunyinya makin keras. “APA INI?!” Teriaknya. Tubuhku seketika lemas. Mati aku! SRET…SRET…! Ibu guru yang galak itu merobek-robek kertas contekanku. Uuh wajahku mendadak bersemu merah bak kepiting rebus. Ingin rasanya aku berlari sekencang-kencangnya keluar kelas, agar terhindar dari tatapan mata teman-temanku.

Selengkapnya…


“Bukan hanya laki-laki dengan perempuan yang boleh menikah Ma. Laki-laki boleh menikah dengan laki-laki dan perempuan juga boleh menikah dengan perempuan. Juf (ibu guru) ku bilang begitu.” Waks! Mendengarnya Haila terhenyak. Rangkaian kalimat itu keluar dari bibir mungil putranya yang berusia 5 tahun.

Haila berkunjung ke rumahku kemarin. Aladin dan Firash putranya adalah teman sekelas Lala dan Malik. Selepas sekolah, pukul 12.00 kami langsung berjalan bersama menuju rumahku. Haila tak bisa naik sepeda,”Ik ben bang (aku takut),” katanya. Karena itu lah, kami berjalan dari sekolah ke rumah. Kami berbicara banyak hal. Lumayan, sekalian memperlancar bahasa Belandaku. Haila tak bisa berbahasa Inggris. Jadi mau tak mau aku harus berbicara selalu dalam bahasa Belanda.

Selengkapnya…


Kenapa Buka Kerudung?

Filed under Sharing Teman, Tentang Belanda

Perempuan itu cantik, secantik perempuan padang pasir lainnya. Lipstik dan eye shadow berwarna senada menghias wajahnya. Anting-anting besar yang menggelantung ditelinganya, semakin membuat ia terlihat menawan. Ia berasal dari Irak, negara muslim. Namun mengapa rambut coklat bergelombang miliknya ia biarkan tampak? Tak ada penutup kepala disana. Ah itu biasa. Disini, aku sering berjumpa dengan pendatang perempuan asal Iran, Irak, Turki, Maroko yang tak lagi berkerudung. Padahal di negaranya hijab itu selalu mereka pakai. Kenapa ya? Pertanyaan itu sering mampir di kepalaku. Tapi kesempatan untuk berdialog dengan mereka belum kesampaian, hingga hari kemarin.

Selengkapnya…


Identitas Muslim Part III

Filed under Sharing Teman

Setelah ‘Identitas Muslim Part II’ dapat komentar dari mbak Mamiek, dan dilanjutkan japri, ternyata mbak Mamiek masih cerita lagi tentang pengalamannya di email. Isinya pun menarik. Mbak Mamiek ini tinggal di Arkansas, Amerika Serikat. Jadi, siapa tahu pengalamannya bisa jadi inspirasi buat yang membacanya. Akhirnya setelah minta ijin sama mbak Mamiek, aku pindahkan lah sharingnya mbak Mamiek yang di email kesini. Makasih banyak ya mbak Mamiek, telah ikut menyemarakkan webblogku :-) *waving*

Ini dia sharingnya mbak Mamiek :

Assalamualaikum Bunda Agnes :)….

Artikel aslinya kiriman dari temen yang diposting di Imsa Sister, temen ini suami istri PhD tinggal di Florida. Istrinya ini seperti sayalah, Islam-nya biasa-biasa aja (malah tahun-tahun kemarin sedang berjuang untuk meyakinkan diri sendiri agar pakai jilbab :)). Sekarang dia so worried tentang anaknya. Makanya kalau weekend dia berkutat di masjid buat ngajar pre-school di Sunday School. Karena dia backgroundnya education, dia ngerti banget kalau curriculum dan cara ngajar di Sunday School itu is soooo…boring! (maklum semua gurunya kan amatiran :)). Dulu anaknya sempat ngambeg nggak mau lagi ke Sunday School. Akhirnya temen saya ini terjun sendiri ke kelas. Dia sering cerita betapa stressnya karena banyak ortu yang menganggap Sunday
School ibarat daycare gratis saat weekend, pokoknya asal taruh anak terus ditinggal, dan ortu nggak peduli dengan pelajaran anaknya. Terus seringkali dia mesti merogoh kocek sendiri (wah…kalau ini sih hukum alam dalam community…siapa yang berinisiatif, ya dia yang harus bekerja, dan dia pula yang harus keluar duit :)).

Oh ya, satu lagi…setiap Idhul Adha dan Idhul Fitr saya selalu mengirim decorated cake atau cookies ke kelasnya Jasmine, tulisannya “Happy Ied”. Jasmine bangga lho…karena dia bisa pamer bahwa dia juga punya holiday…hehehe…(dan Jasmine mulai menuntut gift kayak Natal :(…). Bersama dengan cakenya itu, saya sertakan cerita singkat dibalik perayaan Ied. Kadang kita diminta cerita di depan kelas. Pernah juga saya bawain ketupat dari pita :).
Saya tuh obsesi sekali untuk membuat sweet memories pada Jasmine tentang semua kegiatan keislaman. Sama seperti sweet memories yang ada di otak saya tentang ramadan dan Ied waktu saya kecil dulu (saya pikir, dulu ibu dan keluarga saya yang membuat suasana indah itu, kini giliran saya menciptakan suasana yang sama untuk anak-anak). Misal, saya ingin memasang lampu kelap-kelip di sekitar rumah saat Ied dan sepanjang ramadan (biarin tetangga heran…ngimpi apa orang ini, bukan holiday kok masang lampu kelap-kelip…hehehe…). Saya masak besar-besaran saat Ied dan bikin open house, biarpun besoknya langsung pingsan :). Terus bikin banyak kue kering dan dibagi ke teman-teman non-muslim, biar saya ada kesempatan buat cerita tentang Ied.

Saya juga ingin agar kehidupan keislaman di community berjalan semarak. Sejak setahun yl. saya bikin halaqah dari rumah ke rumah. Agar sisters mau datang, saya bikin undangan yang cantik (hehehe…padahal bikinnya pakai Publisher aja :)). Sisters bersemangat sekali, karena banyak diantara mereka yang seumur hidup belum pernah mengadakan halaqah di rumahnya. Dan kita jadi tahu dimana sister A,B,C tinggal, dan jadi dekat secara personal. Sejak saya sakit, kegiatan bikin undangan berhenti. Halaqah akhirnya di masjid
aja, meskipun antusias sisters enggak seperti dulu…tapi lumayanlah…minimal ada kegiatan di masjid.

Duh…kok jadi panjang amit yah…maklum, blog saya yang mestinya jadi
tempat curhat nggak pernah saya urus, males euy!

Wassalam,
Mamiek


Filed under Sharing Teman


Tulisan ini aku posting di milis dan cafe deGromiest, karena masalah yang aku angkat ini memang lahir sewaktu aku sedang kumpul-kumpul dengan deGromiest and the gang di acara syukuran lahirnya putra Dian-Hari.

Tulisan ini aku mulai dengan kalimat berikut :

Bagi siapa saja yang kelak ingin punya anak, atau yang sudah punya anak dan nantinya akan menyekolahkan anaknya di TK/SD di Indonesia, ada baiknya menyimak uraian berikut. Semoga bermanfaat.
“Ha ha ha, huehehe…” Si kecil Lala tertawa terbahak-bahak, tapi setelah itu dia diam dan malah bertanya “Bunda, kenapa sih orang-orang pada ngomongin setan?” begitu pertanyaan Lala. Entah mengerti atau tidak dengan pembicaraan kami waktu itu, tapi dia ikut juga tertawa ketika kami sedang menyimak cerita tentang setan. Ya maklumlah, namanya juga anak-anak, kadang suka ikut-ikutan nggak jelas :-) Lalu apa hubungannya pertanyaan Lala dengan masalah menyekolahkan anak?

Malam itu, di sebuah rumah yang nyaman di dekat Hornsmeer, Tuan dan
nyonya rumah sedang mengadakan acara syukuran bagi kelahiran bayi mungil mereka, Dhafin. Tentu saja DeGromiest and the gang menyempatkan hadir di acara tersebut. Setelah menyantap makan malam yang lezat, dan sholat maghrib bergantian, sekelompok ibu-ibu dan juga yang belum berstatus ibu, asyik bercanda ria dan berbagi cerita. Mulai dari cerita tentang penculikan anak yang kian marak di Indonesia, kisah serunya pengalaman mbak Heni waktu dihipnotis, sampai kepada cerita tentang setannya mbak Ponky—yang membuat Yunia panik :-) dan si kecil Lala bingung.

Tak hanya sampai disitu, ada kisah menarik yang disampaikan mbak Diana dan membuat curiousity saya meningkat. “Di Jerman, ada sebuah kasus menarik, seorang anak 5 tahun dari Indonesia yang sudah bisa membaca, ternyata oleh gurunya malah dikatakan bahwa orangtuanya telah melakukan child abuse” begitu kira-kira kisahnya.

Hal ini bagi saya menarik, karena Lala pun mengalami kasus yang sama di Belanda, tapi oleh gurunya sebaliknya malah didukung dan sedang diupayakan agar bisa naik kelas lebih cepat. Ada apa sebenarnya? Padahal Jerman dan Belanda sama-sama memberlakukan aturan, anak baru ‘diajarkan’ membaca saat usianya 7 tahun. Kalau begitu apa jadinya dengan sebagian besar anak Indonesia ya, umumnya di usia 5 tahun mereka sudah mampu membaca bukan?

Selain itu, hal ini mengingatkan saya pada diskusi menarik—tentang masalah kemampuan membaca anak Indonesia beserta kurikulum pendidikannya—dengan mbak Ike dulu. Akhirnya, permasalahan ini saya lempar ke salah satu milis yang saya ikuti. Dari hasil diskusi itu telah dibuat resumenya, dan kebetulan ada 2 orang ibu dari Jerman yang ikut memberikan komentar.

Resumenya, silahkan dilihat disini :
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=302

Tapi bagi yang ‘malas’ membaca karena rangkumannya pun cukup panjang,
saya coba untuk memberikan kesimpulan dari diskusi tersebut.

***

Kata kunci dari permasalahan di atas adalah ‘keterpaksaan’. Bisa jadi kasus di Jerman itu memang kerap terjadi. Di Jerman, perlindungan terhadap anak memang sangat ketat. Karena disana anak baru ‘diajarkan’ membaca saat anak berusia 7 tahun, tak heran bila ketidaklaziman ini membuat mereka berhati-hati terhadap kasus yang tidak biasa. Selain itu, pendefinisian terhadap pengajaran membaca itu sendiri belum jelas. Bisa saja materi yang diberikan pada anak dibawah 7 tahun di Jerman oleh beberapa orang dikatakan bukan mengajarkan membaca. Tapi oleh sebagian yang lain hal itu sudah bisa dikatakan pengajaran membaca (proses menuju membaca).

Dari diskusi tersebut, hampir semua ibu sepakat bahwa yang disebut child abuse sebenarnya bukanlah pengajaran membacanya melainkan pemaksaannya. Ketika seorang anak enjoy-enjoy saja dan have fun dengan pengajaran membaca, why not? Guru-guru di Jerman pun akan mengerti dan tidak akan menganggap tindakan ini sebagai child abuse bila alasan yang dikemukan jelas, bahkan mungkin akan didukung seperti yang terjadi pada Lala di Belanda.

Apalagi bagi anak yang memang punya kemampuan otak di atas rata-rata atau memang sejak kecil sudah biasa dibacakan buku oleh orangtuanya. Mereka begitu familiar dengan huruf dan cepat sekali menyerap apa-apa yang mereka lihat. Sehingga sangat wajar bila akhirnya minat mereka untuk bisa membaca begitu besar. Pada anak-anak seperti ini, kebanyakan orangtua akhirnya ‘mengajarkan’ anak-anaknya membaca. Tetapi metodanya pun diupayakan agar sesuai dengan dunia anak—dunia bermain— dan tentu saja menyenangkan. Karena hal-hal itulah maka tak heran bila di Indonesia, terdapat cukup banyak kasus anak-anak kecil—yang tanpa dipaksa—sudah bisa membaca.

Tapi, tentu saja yang juga patut diperhatikan adalah motivasi dibalik pengajaran orangtua pada anak-anak dengan minat besar tersebut. Betulkah memang karena minat besar si anak? ataukah lantaran keinginan pribadi yang terkait dengan proud as parents—yang bangga jika melihat anak-anaknya kecil-kecil sudah bisa membaca? Hal ini terpulang kepada hati nurani masing-masing orangtua.

Kalau tanpa dipaksa oke, bagaimana dengan yang dipaksa? Ini lah yang patut dikuatirkan dan layak disebut child abuse tampaknya. Apalagi, di Indonesia sekolah TK yang melakukan metoda pengajaran membaca dengan paksaan ini pun cukup marak. Bahkan dibeberapa sekolah ada pula yang konsepnya ‘bermain sambil belajar’ tapi ujung-ujungnya tetap saja ‘belajar sambil bermain’ Sebagai informasi dari saya, ternyata ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa pemaksaan pengajaran membaca di usia dini, malah bisa menurunkan tingkat IQ saat di SD kelak! Hmm pantas saja bila akhirnya dikatakan child abuse bukan?

Indonesia memang sedang ‘terkapar’ di segala bidang, termasuk pendidikan. Orangtua di Indonesia yang memiliki anak usia TK kerap bingung memilih sekolah dan bagaimana seharusnya bertindak. Di satu sisi kurikulum anak SD kelas 1 mengharuskan anak untuk sudah bisa membaca. Di sisi lain, orangtua yang sadar dan tidak ingin memaksa anaknya, tetap dihadapkan pada tuntutan tersebut. Sehingga mau tak mau tetap saja mereka harus mengajarkan anaknya membaca. Dari kondisi tersebut, akhirnya banyak orangtua yang malah meminta guru-guru TK untuk mengajarkan anaknya membaca lewat les Guru-guru TK pun ‘asik-asik’ saja karena malah mendapat penghasilan tambahan barangkali.

Masalah ini memang menjadi dilema bagi banyak orangtua di Indonesia. Jadi, bagi anak-anak balita yang akan bersekolah di Indonesia, tampaknya orangtuanya harus berpikir masak-masak sebelum memutuskan untuk memilih sekolah. Keliru pilih sekolah atau main paksa sama anak , jangan heran kalau akhirnya orang-orang di negara lain malah menuduh kita telah melakukan child abusing.


Saat membacanya aku tersentak. Wah, pasti artikel ini akan membuat banyak wanita tersinggung, walaupun pasti ada juga yang memuji. Tanpa pikir panjang, langsung aku posting artikel tersebut ke WRMom. Tentu saja aku beri pengantar supaya tambah seru :-) Tuh, betul kan… ternyata mommies jadi pada ‘gatel’ ingin ikut bersuara. Suara hati terdalam dari para ibu lho… Aku copy paste persis aslinya sesuai urutan yang menjawab, supaya terlihat betul bagaimana aspirasi para ibu menanggapi hal ini. Oya, ini alamat url artikel ‘Perempuan Apa yang Kau Cari?’(Suara Pembaruan, 8 Maret 2005) http://www.suarapembaruan.co.id/last/index.htm
Terimakasih banyak buat para mommies yang sudah bersedia meramaikan diskusi dan bersedia sharing pendapatnya. Insya Allah semoga diskusi ini akan lebih memacu aku dan para ibu lainnya untuk semakin memberi yang terbaik bagi anak-anaknya.

Kalau boleh aku simpulkan, artikel ini memang bias. Dan, semua sepakat bahwa masalahnya bukan di ibu bekerja atau tidak. Tapi bagaimana si ibu, dengan apapun pilihannya bisa tetap sadar, teguh pada komitmen dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Hidup adalah serangkaian pilihan. Masing-masing pilihan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Ketika palu sudah diketuk, pilihan telah diambil, artinya resiko yang menghadang pun harus siap dipikul. Yang memilih menjadi ibu bekerja, mau tak mau harus menjadi ’super mom’ dan yang memilih menjadi FTM juga tidak boleh terlena dalam pengasuhan anak-anaknya. Satu kalimat yang sangat menarik untuk dijadikan alasan mengapa semua ibu harus memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, karena…ANAK-ANAK BEGITU BERHARGA…

Ini pengantar dari aku :

Dear moms…

Baca artikel ini, aku yakin, mommies yang pada kerja pasti dalam hatinya banyak juga yang protes atau ngerasa gimana gitu, ya nggak sih moms :-).
Aku sendiri yang sudah memutuskan jadi FTM untuk sementara waktu juga merasa ’sesuatu’…

Artikel ini memang bagus, kritis, dan mempertanyakan lagi tentang hati nurani seorang ibu bekerja. Tapi kalo aku mencoba untuk berempati sama ibu bekerja
(bukan bermaksud membela),barangkali memang iya, banyak ibu bekerja yang niat dibelakangnya ‘negatif’, ’sengaja’ memilih meninggalkan anak-anaknya. Tapi kalo kita telusuri lagi ke belakang,setiap kepala wanita pasti beda isinya, nggak bisa disamakan, tiap wanita juga unik layaknya anak2 karena masing2 punya latar belakang yang berbeda pula.

Banyak juga ibu yang memilih bekerja karena memang harus membantu kebutuhan ekonomi keluarganya demi sesuap nasi, atau karena takdir sudah menentukan dia menjadi seorang yang pintar, berilmu dan hatinya bergejolak ketika dia tidak bisa membagi ilmunya. Aku paham, banyak wanita yang juga butuh aktualisasi diri, yang tidak bisa ‘hanya’ berkutat dengan urusan rumah.

Gaung untuk mengajak ibu kembali kerumah memang bagus sekali. Tapi, alangkah lebih bijak barangkali kalo kita juga pikirkan,Bagaimana dengan ibu2 yang dengan latar belakangnya tadi, yang mau tak mau harus bekerja, dengan niatan positif tanpa ada selubung? yang jumlahnya jg tidak sedikit. Kenyataaan nya jumlah ibu bekerja kian hari kian banyak saja, tak terbendung. Tulisan mbak Neni salah satunya mestinya jg berniat untuk membendung itu. Tapi, untuk mengembalikan semua ibu ke jaman masa lalu yang lebih banyak di rumah apakah mungkin ?

Hidup di dunia, selamanya pasti akan ada masalah, dilema. Dan menurutku masalah ibu bekerja yang sudah menjadi trend ibu masa kini mestinya dicarikan jalan keluar. Untuk mengajak semua ibu ‘kembali’ pulang memang sebuah solusi, tapi sekali lagi apakah mungkin?

Jadi, aku lebih sepakat untuk berkata “yuk moms kita sama-sama cari jalan keluar, supaya ibu-ibu yang bekerja jg tetep nggak abai dengan pengasuhan anaknya” Caranya gimana ya? Aku juga bingung, tp yang jelas, keberadaaan WRMom ini rasanya merupakan salah satu fenomena yang bener2 bisa membantu wawasan para ibu bekerja dalam hal pengasuhan. Cara lainnya? Hmm…gmn ya moms?

Wah maap pengantarnya jd kepanjangan, krn aku betul2 tergelitik dengan masalah ini. Moms yang kerja gimana tanggapannya, jd pgn tau :-)

Wassalam hangat,
Agnes

Respon pertama dari mom Dita nih:

Dear mommies,
Phhuuiihhh, hal kayak gini memang kayaknya gak ada habis2nya diperbincangkan yah? Dan aku concern banget sama masalah kayak gini. Saya selalu mempertanyakan “niat sesungguhnya” dari para Ibu yang bekerja. Kalau memang bermaksud baik untuk membantu keuangan keluarga, masalah ekonomi atau sarana aktualisasi diri, ya oke-lah saya sangat menghormatinya. Tapi coba deh, renungkan lagi, apa sebenarnya niat kita memilih untuk bekerja? Satu lagi, masalah pengasuhan anak ini, bukan cuman dialami ibu2 bekerja saja lho,tapi juga ibu2 RT yang berduit, yang mampu membayar segalanya, bahkan sampai urusan mengasuh anak. Banyak yang merasa keenakan anaknya diasuh baby sitter, sampai dia lupa dan tidak menyadari, ia telah melewati masa2 keemasan perkembangan anaknya.

Terus terang saya pernah mengalami dilema saat memutuskan berhenti bekerja untuk kemudian menjadi FTM. Saya kaji kembali apa sebenernya keinginan saya dalam bekerja. Untuk bersosialisasikah? Untuk gengsi karena jabatankah? Untuk gengsi karena pandangan orang masih menganggap miring “profesi” FTMkah? Untuk masalah ekonomikah? Untuk masalah ingin melarikan diri dari urusan domestik rt-kah? Semuanya saya renungkan baik-baik, dan akhirnya saya sampai pada keputusan mengakhiri karir saya di kantor. Banyak yang bilang nekad, tapi semuanya saya serahkan pada si BOS di atas, semua rejeki kita udah diatur, niat kita sudah baik. Bagi saya tak ada yang lebih ternilai, selain kebersamaan saya bersama anak saya yang sedang tumbuh dan berkembang. Pekerjaan akan selalu ada di luar sana, tapi perkembangan anak saya hanya sekedip mata, dan tak akan terulang lagi.

Lalu apa yang selalu digaungkan dan dijadikan senjata, bahwa hari libur adalah hari bersama Ibu (orangtua) dan jargon “yang penting kualitas bukan kuantitas”, kenyataannya juga beberapa kali saya temui hanya omong besar belaka. terus terang di saat saya dan suami punya waktu untuk mengajak anak kami keluar, saya selalu memperhatikan lingkungan di sekeliling saya. Seperti yang pernah saya temui, seorang anak menjerit2 di mal, sementara ibunya asik-asik ngopi, anaknya ditenangkan baby sitter. Di lain waktu saya temui seorang Ibu yang kebingungan gak tau ukuran dan merk dot anaknya. Kali lain, saya lihat seorang anak menunggu bersama baby sitter dan driver, menunggu orangtuanya yang sedang makan-makan. Dan itu semua terjadi di hari Sabtu Minggu, yang notabene adalah hari bersama orangtua, hari di mana orangtua katanya ingin menunjukkan kualitasnya bersama anak-anak mereka, kan. ternyata? jargon-jargon itu mereka telan sendiri. Ada yang bilang, mana ada ortu yang gak sayang anak2nya. Pada kenyataannya yang saya temui berkali-kali di lapangan, itukah yang dinamakan sayang dan cinta di
jaman sekarang ini? Itukah yang dinamakan cinta, ketika anaknya menangis menjerit-jerit, ibunya cuek aja dengan segelas kopi panasnya yang sedap? Itukah yang dinamakan cinta, ketika BS lebih tau luar dalam seluk beluk anak sang majikan? Mungkin definisi sayangnya sudah bergeser yah? (kok saya jadi skeptis gini sih :-))

Sampai-sampai saya pernah berpikir “gimana ya kalau hari Sabtu Minggu, dijadiin hari bebas BS, bener2 free campur tangan BS? Hanya kita dan anak, menciptakan sebuah hubungan yang berkualitas.” Mungkinkah? Mungkin saja! Hanya 2 hari dari 7 hari dalam seminggu, hanya 6 hari dari 30 hari dalam sebulan, dst. Hanya untuk waktu sesedikit itu, relakah kita tidak memanfaatkannya semaksimal mungkin bersama buah hati kita? Kita bisa bekerja sama dengan suami kan? bukankah mereka bukan sekedar pencari nafkah, yang tiap bulan setor duit, tinggal tau beres? Mereka adalah partner “in crime” :-), mereka adalah sahabat kita dan yang terpenting, mereka adalah ayah dari anak-anak kita yang juga harus bertanggungjawab dengan kehadiran sang buah hati, bertanggungjawab juga dengan pengasuhan anak-anak. Kita harus melakukan ini bersama-sama.

Maaf jadi panjang banget dan agak2 curhat..hehehehe. maaf juga sebelumnya buat yang tidak berkenan dengan pandangan saya. Abis suka gemes aja ngliat tingkah ibu2 sekarang. Saya sih selalu berusaha mencari pemikiran positif aja atas tindakan mereka. Sebenernya masih pgn ngomong panjang lebar, tapi takut pada suntuk bacanya :-)

salam,
dita

Ini dari mamanya Hugo:

Bener kata Mom Dita, hal ini nggak ada habis2nya….Kalau saya bilang semua sih balik ke niat orang tuanya lah…. Nggak ada yg bisa bilang FTM pasti bertanggung jawab atau working mom tidak bertanggung jawab. Saya yakin, SEHARUSNYA untuk ukuran seorang Ibu semua pilihan itu harusnya sudah dipikirkan bener2. Karena bener banget yg Mom Dita bilang, banyak ORTU yg mau bales waktu weekdays ngajak anaknya jalan, tapi cuma ngajak doang sampe mall atau apa, tetep aja anaknya main sama BS atau pembantu. Malah temen saya bilang kalau mau pergi liburan, harus komplit dengan BS + pembantunya, karena kalau nggak, nggak bisa liburan…cape! Tapi ada juga FTM yg memang di rumah, cuma males aja gitu ngurusin anak, kadang namanya FTM, tapi schedule seminggu udah full arisan a, arisan B, salon sana, facial sini…..

Semua ada kelebihan dan kekurangan…. buat saya FTM (yg bener) itu hebat, karena di jaman yg canggih ini berani mengambil keputusan untuk berbeda, apalagi kadang kalau lg ketemu keluarga apa temen2 ditanyain, kerja dimana? Sering kalo Si Ibu cuma menjawab: perusahaan keluarga… jagain anak, he..he… Yg nanya malah ngasih pandangan aneh… padahal apa yg salah? Dikira gampang apa ngurus anak, apa sama kerjaan kantor tanggung jawabnya lebih sedikit? Ngomong sih gampang ya Moms….

Tapi working mom (yg bener) itu juga hebat…. berusaha ngebagi waktu sedemikian rupa, kerjaan beres, anak diperhatiin, rumah rapi dan yg juga penting: suami tetep ngerasa disayang. Berat lho Moms, cape pulang dari kantor, anak minta diperhatiin, suami juga, aduhhhhh cari 10 menit buat bersihiin muka dan pake krim malem aja kok susah yaaa……

Makanya (pendapat saya lhoo…) selama semua sadar akan pilihannya, harusnya akan bisa berusaha untuk tanggung jawab juga. Semua baik, asal dijalani dengan ikhlas, niat yg baik, sungguh2….

Kalau aku selama ini, pulang berusaha cepet, walaupun pasti setelah Maghrib soalnya rumahku jauh :( Habis itu main sebentar sama anak sekitar setengah jam, terus mandi, makan malem sama suami sambil ngobrol2 dan ngegantiin Hugo baju bobo. Terus bawa anak saya ke kamar, main2 lagi + ngajak ngobrol terus ditidurin…. Paginya dia bangun, main2 lagi sebelum kerja, bawa muter komplek sambil manasin mobil, br ditinggal kerja. Seharian di kantor berusaha telp at least 2 jam sekali. Tapi kalau libur atau weekend, sebisa mungkin seharian bareng Hugo, makan, main, mandi sama saya… malemnya pas dia tidur br deh cari waktu nonton atau makan keluar sama suami. Waktu lebaran kemaren 2 minggu di rumah cuma bertiga, ancur sih… tapi happy banget…. 1 dr 3 hari masuk PG, saya berusaha nganter, ke dokter selalu sama saya apalagi kalau udah mulai nggak enak badan, mau yg di kantor bertanduk juga, biarin deh… saya bakal dateng siang atau nggak masuk sekalipun.

Emang kalo diukur rasanya waktu yg saya coba bagi itu nggak seberapa banget dibanding jam kerja saya, tapi Insya Allah dibantu yg diatas, karena sekarang ini memang kebutuhan kita begitu. Walaupun ada juga yg bilang itu sih gimana kita manage-nya, mungkin saya belum pinter yaaa….

Tapi buat saya IBU itu pekerjaan yg muliaaaaaaaaaaa sekali… ukuran kita menjadi ibu yg baik kan… apakah anak kita bahagia, bukan apakah anak kita menjadi ini atau itu seperti yg kita impiin… karena impian kita belum tentu impian mereka….

Salam,
Hugo’s Mom….

Ini dari mom Roes :

Aku “protes”…tulisan Mbak Neni memang bagus tapi (maaf) aku kurang setuju, krn. secara keseluruhan (menurutku) tidak mewakili semua kaum perempuan yg. notebene wanita bekerja istilah Mbak Neni “Ibu Publik”. “Ibu Publik” bukan (hanya) milik wanita2 yg. bekerja dikalangan kantoran “keren n bonafide” or kantor “kacangan / bengkel kotor”. “Ibu Publik” milik semua lapisan perempuan wanita bekerja kalangan bawah sampai atas tertinggi (Presiden, mis).., cuma sayangnya yg. jadi “sorotan” Mbak Neni (mungkin ya..sepanjang yg. aku baca) adalah “Ibu Publik” kalangan menengah ke atas & bukan teratas…

Ingin kasih koment saja utk. beberapa paragraf tulisan beliau dibawah; (Menurutku=M)-dibold&Italic:
————————————————————
Suara Pembaruan, Rabu, 8 Maret 2005

Perempuan, Apa yang Kau Cari?
==>{M=Banyak…, ibadah, tanggung jawab, panggilan hati, kepuasan yg. nggak bisa dinilai sama duit padahal juga nantinya UUD=ujung2nya Duit, toleransi, kemanusiaan, sosial, dlll..}

Refleksi di Peringatan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret
==>{M=Baru tadi pagi aku tahu disalah satu TV Swasta bhw. kemarin adalah Hari Perempuan yg. ditandai dgn. Protes kenaikan “BBM”…sempat protes sama suami kenapa aku bekerja…kembali balik sama hati nuraniku sendiri..jawabannya..spt. diatas..)

Neni Utami Adiningsih
==>{M=Jadi pengen kenal sama Mbak Neni …Assalamualaikum Mbak…, Salam kenal..pengen tahu n bincang deh sama beliau}

Kini, kondisi seperti itu mulai tergeser. Seiring dengan semakin banyaknya
perempuan yang bekerja di ruang publik, menjadi ibu publik, semakin banyak
pula bermunculan ragam layanan jasa guna menggantikan fungsi keibuan. Salah satunya berupa TPA yang berfungsi menggantikan suasana rumah, lengkap dengan keberadaan sosok ibu sebagai pengasuh, perawat serta pendidik anak.
==>{M=Ngga semua “Ibu Publik” menitipkan ke TPA, banyak buaanyaakk diluar Jakarta di daerah2 yg. “Ibu Publik” tetap berpedoman lebih baik diasuh oleh pembantu punya nilai +, nenek, atau saudara atau punya cara tersendiri menurut mereka).

Bahkan kalau kesibukan kerja begitu menumpuk, orangtua pun tidak perlu hadir di acara tersebut. Toh sudah ada “ibu-ibu (karena ada banyak) pengganti” yang siap untuk memberikan kecupan sayang serta mengucapkan “selamat ulang tahun sayangku…”
==>{M=Perayaan Ultah yg. cuma menjd. satu kecil contoh buat sedikit menyudutkan” “Ibu Publik”, ungkapan perhatian tdk. sebatas demikian walau sibuk tapi “kontak /ikatan bathin” yg. mendalam (bisa) “melumpuhkan” ketidak perhatian ibu-anak.

Perlahan namun pasti, ramalan, juga saran, Plato tersebut mulai terjadi. Terbukti saat ini “hilangkan rasa bersalah” menjadi slogan yang selalu ditularkan di antara para “ibu publik”, serta disarankan kepada para perempuan yang ingin menjadi ibu publik.
==>{M=Ngga bisa donk dihilangkan rasa bersalah itu..mungkin salah pilih “Ibu Publik” , Rasa bersalah itu pasti ada dng. prosentasi 50-50, 30-70..ngga bisa diprediksi dng. hitungan angka.., kembali lagi pada niat & tujuan kita..yg. bisa “membunuh” rasa itu..

“Kan saya bekerja juga untuk anak, untuk memenuhi kebutuhannya, agar ia mendapatkan yang terbaik,” demikian kalimat pembenaran yang selalu digaungkan setiap saat.
==>{M=Semuuuaa..apapun yg. dilakukan seorang Ibu pastilah dng. alasan utk. anak, itu manusiawi sekali sbg. seorang ibu yg. memutuskan dirinya mjd. “Ibu Publik” yg. beramanah..}

Pertanyaannya, jujurkah alasan tersebut? Jangan-jangan keinginan tersebut sebagai selubung semata, sementara alasan sesungguhnya justru dilatarbelakangi oleh keegoisan pribadi perempuan yang ingin tampak bermanfaat bagi orang banyak, yang ingin tampak mengamalkan ilmu, yang ingin tampak tidak ketinggalan zaman, yang ingin tampak mandiri
dan masih banyak keinginan lain.
==>{M=Sadis sekali anggapan spt. itu…, mungkin seorang yg. berpikiran “sempit n picik” (maaf) punya pikiran negatif spt. itu.., Niat yg. mulia berbuah Mulia nantinya..}

Arlie Russel Hochschild, dalam bukunya The Time Bind: When Work Becomes Home and Home Becomes Work (1997), bercerita tentang orangtua yang “melarikan diri dari tekanan di rumah dengan bekerja”. Menurutnya, para ibu publik tersebut merasa lebih nyaman, lebih terhormat, dan lebih merasa puas bila berada di kantor daripada terbelenggu di rumah mengurus anak-anaknya.
==>{M=Om Arlie Russel menulis berdasarkan pengalaman, penglihatan terbatas kalangan & belahan dunia mana dulu?..beliau belum melihat bagaimana hebatnya perempuan2 gunung, desa, pantai, belahan manapun..apakah mereka tdk. bisa dikatagorikan sbg. “Ibu Publik”..? walo mereka “berkantor” beda..Ngga setuju banget….

Jangan-jangan keinginan untuk bekerja itu juga didasari oleh kesoktahuan perempuan masa kini akan nasibnya di masa mendatang, yang sepertinya akan terjadi perceraian, bahkan seakan-akan suaminya akan meninggal lebih dulu darinya, yang artinya ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi
tersebut.
==>{M=Lagi2 selalu berpikiran negatif, cobalah kaum perempuan utk. selalu berpikiran + spy. keluarga tdk. timbul curiga mencurigai spy. kebersamaan & saling melengkapi itulah yg. terjadi..}

Jangan-jangan keinginan untuk bekerja itu sebagai langkah antisipasi agar
terhindar dari kekerasan (domestik). Apalagi saat ini semua pihak, mulai
dari LSM “properempuan”, perguruan tinggi, juga lembaga-lembaga pemerintah
termasuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan, gencar menyosialisasikan
kemandirian ekonomi sebagai upaya untuk menghindarkan perempuan dari tindak kekerasan (domestik).
===>{M=Ahhh…Negatif thinking lagi…., semua tergantung latar belakang,emosi & iman seseorang..Kekerasan..”No way”}

Belum lagi adanya jargon “yang penting kualitas bukan kuantitas”, yang
menjadi senjata andalan para ibu publik, semakin membuat mereka merasa
tenang meninggalkan anak-anaknya. Mereka menyediakan waktu Sabtu dan Minggu atau hari libur bagi anak-anaknya.
=={M=Yang ini memang senjata makan tuan namanya..klo. tidak dilakukan sepenuhnya niatan yg. iklas, kualitas ya kualitas yg. hrs. bener2 dilakukan sepenuhnya one hundred persen..orng. blng. jgn. NATO-No Action Talk Only, jadi salah sendiri..}

Bila ditelaah, hal ini adalah bentuk lain keegoisan ibu publik. Setelah di
hari kerja (week days) dengan sepihak (tanpa kompromi dengan anak)
memutuskan untuk meninggalkan anak-anaknya dengan orang lain, di hari libur
(week end), dengan alasan untuk menjaga kualitas hubungan dengan anak,
sekali lagi, secara sepihak mereka memutuskan bahwa anak-anak harus mau
bersama dengannya.
==>{M=Wah ini aku paling ngga setuju banget.., kacamata dari perempuan mana dulu nih.., lagi2 ngga semua begitu..”Ibu Publik” yg. Amanah lebih berkompromi mengalahkan egoisnya..}

Bahkan saat ini negosiasi pengasuhan anak bak negosiasi dagang, mana yang
lebih memerlukan biaya dan pengorbanan (waktu serta psikis) lebih sedikit
namun memberikan keuntungan lebih besar, itulah yang dipilih.
==={M=Enak saja, dibilang negosiasi dagang, emangnya anak dagangan apa? Anak adalah Amanah…, Ibu sibuk, Bapak Sibuk..juga utk. Si Amanah skrng. sejauh mana mereka bisa membagi waktu dng. pemberian Allah ini..utk. mempertanggung-jwbkan nantinya}

Menitipkan anak di TPA sekelas SBB Mitra misalnya, yang terletak di daerah
perkantoran elite Ibukota, “hanya” Rp 500.000 per bulan. Tentu saja biaya
ini, lima, 10, bahkan 20 kali lebih rendah dari pendapatan para ibu publik
yang bekerja di kantor seputar Jalan Gatot Subroto – Jalan Jenderal
Sudirman. Dari sudut negosiasi dagang, tentu saja hal ini sangat
menguntungkan. Apalagi para ibu publik tinggal terima beres.
===>{M=Sayang survey itu cuma dilakukan di Jakarta, bagaimana dgn. org. Timika, pelosok2 desa, ah…jgnkan 500rb seperakpun mereka mikir seribu kali utk. biaya apa itu “TPA” – Tempat Pengambilan Anak ..sih menurutku..}

Mereka tidak perlu bergelut dengan popok bau. Juga tidak perlu jengkel
melihat rumah yang kotor dan berantakan akibat ulah si mungil. Kenapa bisa
demikian? Karena semua itu akan dilakukan oleh para “ibu pengganti”. Sore
hari, mereka tinggal menjemput si mungil yang sudah dalam keadaan bersih
dan kenyang.
===>{M=Aku bergelut dng. popok bau n ngga jengkel klo. rumah kotor n berantakan, nikmati saja..semua ada waktunya, klo besar nanti kita akan kehilangan moment2 “terhebat” spt. itu.., jadi nggggakkkk..semua “Ibu Publik” benci sama popok bau..walopun aku bukan tergolong “Ibu Publik” yg. atas n bukan teratas..}

Belum lagi mereka justru merasa bahwa TPA telah membuat anaknya menjadi
lebih baik. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Nurbaity (37) yang menjadi
karyawan sebuah bank.
==>{M=Menurut Ibu Nurbaity..menurutku..terbalik 180 derajat bisa2 360 derajat..”BEDA”..}

Menurutnya, anak pertamanya, Noval (2,5 tahun), yang sudah dititipkan di
TPA sejak usia satu tahun, tumbuh menjadi anak yang berani dan kritis,
tidak takut menghadapi orang baru, rajin bertanya tentang segala hal, dan
menjadi orang yang teratur.
==>{M=Tiap anak beda2 tergantung dimana dia tinggal, lingkungan org2 sekitar, kecilnya berani kritis..besarnya pendiam..contohnya..buannyakkk…bahkan gedenya jadi “kurang pengajaran” sptnya..juga banyak…}

Di masa mendatang, besar kemungkinan rasa tenang para ibu publik ini untuk
meninggalkan anak-anaknya di TPA akan semakin bertambah.
==={M=Kita lihat saja nanti..”Bukti bukan Janji”.., Indonesia msh. lamaa..jauh tertinggal dgn. negara2 lain, lho wong kita cuma bisa mjd. pengguna, pembajak, pengkorup..bukan pencipta, penggagas.., orng2 yg. berprestasi saja pindah warga negara..Ya Tuhan..tolong rubah negeri ini..}

Sebab kemajuan teknologi informasi akan memungkinkan TPA-TPA elite memasang kamera yang dapat diakses melalui internet dari ruang kantor mereka.
=={M=TPA Elite? ehh..sekolah roboh saja msh. banyak.., perempuan2 yg. bernama “Ibu Publik” yg. profesi sbg. guru2 tanpa tanda jasa akan lebih mulia drpd. memikirkan TPA2 elite..}

Para ibu publik tersebut tetap saja akan tersinggung, bahkan marah, bila
ada yang menganggapnya tidak mengasuh dan merawat anak-anaknya. Mereka juga tidak mau bila dianggap lebih mementingkan karier daripada anak-anaknya.

==>{M=Ibu yg. mana dulu.., klo. penyampain anggapan itu sedikit “sarkasme” tapi klo. ditanggepi dgn. kepala dingin & hati lapang mudah2an ngga tersinggung apalagi marah ngga tentu arah krn. hati kecil ibu tsb. tahu yg. terbaik buat pilihannya & mohon keridlo dari Yang Maha Kuasa}

Dengan minimnya waktu (kualitasnya pun masih perlu dipertanyakan, bukankah
tenaga dan pikirannya sudah terkuras di ruang publik?) mereka terhadap
proses pengasuhan anak-anaknya, mereka tidak berani mengakui bahwa orang
lainlah yang membuat sehat, membuat pintar, bahkan membuat bermoral
anak-anaknya.
==>{M=Ngga sepenuhnya begitu, krn. pada saat2 tertentu di waktu “special” mereka bisa berinteraksi dng. anak2nya tanpa gangguan pengasuh, waktu yg. “special” ituloh momen terbaik buat dia utk. “mengukir” anak menjd. sehat pintar & bermoral mendekati sempurna..krn. manusia tidak mungkin sempurna..}

Dengan kondisi ambigu yang seperti ini, tidaklah berlebihan bila kemudian muncul pertanyaan, “Perempuan, sebenarnya apa yang engkau cari…?”
Mudah-mudahan momen Hari Perempuan Intenasional (8 Maret) ini menjadi saat tepat bagi para perempuan untuk mengungkapkan jawabannya… secara jujur.

Penulis adalah ibu rumah tangga yang sangat berminat pada anak, perempuan,
dan keluarga
==>{M=Mbak Neni ibu RT ya?..saat sdh. berRT pernah ngalami bekerja?.., tulisannya bagus krn. bisa “mengelitik” emosi saya, latar belakang Mbak Neni sbg. ibu RT mungkin bisa menulis demikian dng. mengutip beberapa mendapat “Pak…” siapa tadi yg. dari luar negeri.., tapi maaf ..klo. mungkin Mbak Neni skrng. posisinya menjd. “Ibu Publik” mungkin tulisan ini ngga terjadi atau sebaliknya..cuma Mbak Neni yg. tahu jawabnya..}

Saya, tetap salut n dgn. rendah hati minta maaf klo. komentar2 saya diatas “menoreh” hati penulis..(Maaf..ya..Mbak Neni..), skrng. solusinya semua kembali pada diri kita masing2 ..sbg. sebutan “Ibu Publik” cuma kata “Pilihan” yg. kita tentukan dng. dasar niat tulus, ikhlas, tujuan cuma ibadah..semua yg. kita lakukan ibadah..apalagi mengatas namakan anak n keluarga..krn. banyak ibu yg. single parent harus menjadi “IBU PUBLIK YANG AMANAH”…

Gitu aja ya..Mom Agnes & Moms yg. hebring2..aku mau pulang, anakku menungguu..entar dibilang “Ibu Publik” demi kepuasan ego, terhormat, ibu yg. tahu beres…”Tidaklah yauuuuwww”.., kayaknya aku lebih suka istilah “Mother Stronger”..drpd. “Ibu Publik”.. kayak perusahaan saja “go publik”….

“IBU MULIA”…

Salam dari Roess-KamiilahMum

Ini dari mom Intan

Dear Moms,
Kenalkan saya Intan, anggota baru WRM dan tinggal di Inggris.. anak saya Sandra (3 th) lahir di Prancis waktu saya dan suami saya masih sekolah, dan karena kita hanya berdua (keluarga semua di Indo dan of course, no pembantu) kita titipkan Sandra di nursery sejak umur 2 bln..

Sekolah saya selesai th lalu dan kita pindah ke Inggris dan sekarang saya termasuk golongan *ibu bekerja* yg *meninggalkan* Sandra tiap hari dari pagi sampai sore (jam 9 sampai jam 5) di nursery (jam 9 sampai jam 1)

Waktu Sandra masih kecil (0-2 th) saya masih bisa *kerja di rumah* (I’m a researcher) jadi dia ga di nursery tiap hari (3 hari dlm seminggu) dan begitu dia 2 th, waktu saya jadi harus 100 % untuk dia, sedangkan saya harus selesaikan sekolah (dan kemudian kerja)

Why do I have to work ? seperti yg diulas di artikel, saya termasuk orang yg ga bisa cuma *ngurus rumah*, saya harus exist dan punya karier. Untungnya, karier saya (sebagai researcher/lecturer) masih memperbolehkan saya sekali2 *bolos* tinggal di rumah.

Saya memang seharian di kampus(kantor) tapi bukan berarti saya ga ada waktu buat Sandra, begitu pulang kantor, saya masak dan kemudian temani Sandra main sampai waktunya tidur dan paginya saya bangun dan siapkan dia untuk ke *sekolah*.

Intinya, moms bekerja masih punya waktu untuk anak, kalau dia mau (and I’m sure, ibu mana sih yg ga mau sediakan waktu buat anaknya ?) seharian di nursery, what’s wrong with that ?

Di sini (yg saya tahu Prancis dan Inggris), even ibu rumah tangga yg sehari2nya di rumah, juga bawa anaknya ke nursery, so nursery bukan hanya *tempat nitip anak* tapi mereka punya harapan anaknya dapat *pelajaran* yg lebih daripada yg mereka ajarkan (misalnya sosialisasi)

Hal yg lain yg saya ingin utarakan : pendidikan anak (di rumah) bukan tanggung jawab moms saja, tapi ayahnya juga ! kalau kita bisa salahkan moms bekerja, kenapa kita ga bisa salahkan ayah bekerja yg dari pagi sampai malam mungkin ketemu anak cuma weekend, boro2 pernah mandiin anak atau gantiin pampersnya..

Apa peran ayah harus segitu kecilnya sehingga dia ga diperlukan untuk mendidik anak sampai2 semuanya jadi tanggung jawab moms….

just my opinion..
Intan

Ini dari mom Ade:

Mom Agnes.,
hmmmm.,uraian dibawah ini bener2 menggelitik kaum hawa untuk lebih menyelami lagi tujuan bekerja., klo aku sih.,jujur ajah karena memang sementara harus membantu suami untuk ekonomi rumah tangga.,tapi sebenernya klo aku punya pilihan, PASTI aku akan pilih jadi Ibu Rumah Tangga.,karena kadang sedih juga klo anak aku jadi lebih dekat dengan orang lain.,memang sih anak pasti akan senang ketemu kita sepulang dari kantor.,tapi abis itu dia malah lebih senang menghabiskan waktunya dengan neneknya, ato bibinya.,yang lebih ngenes, klo anak kita sakit, untuk sehari dua hari kita masih bisa ijin ke kantor.,tapi lewat dari hari itu anak kita masih sakit, mau enggak mau kita harus rela ninggalin.,duuuuhh.,rasanya sedih dan miris.

Best Regards
aDE.S
Mid Plaza 2, 7Th Floor

Ini dari mamanya Ayya :

Dear moms, Wah bunda agnes bagus bgt nih pengantarnya.
Sekalian perkenalan saya anggota baru dan ibu dr 1 anak yg baru 13 bln dan bekerja. Terus terang jadi dilema buat saya stlh masa 3 bln maternity leave habis. Berat sekali utk balik kerja. Dan itu msh saya rasakan sampai skrg. Apalagi anak saya sdg lucu2nya belajar jalan dan bicara. Di satu pihak saya sering feeling guilty dgn mempercayakan pengasuhan dia ke mbaknya sementara saya di kantor. Dan hal ini jg saya diskusikan dgn suami saya.
Tapi di lain pihak saya mengerti kalau saya msh hrs membantu suami agar anak kami mendapatkan semua kebutuhannya yg terbaik. Batin saya sering fight sampai skrg jg.

Tulisan2 spt ini bermanfaat buat saya utk jd pertimbangan. Tp kembali lg keputusan ada pd saya. Skrg ini yg sering jd defense saya dan kadang2 saya
curhat sama anak saya, kalau toh saya memilih tetap bekerja semua utk anak saya jg. Sampai rmh saya dedikasikan waktu saya utk anak saya. Dan tidak lupa selalu monitor lewat telp. At least that’s the best thing i can do.

Salam,
Mama Ayya

Ini dari aku lagi :

He he he… terusin Dit… seru koq bacanya, Bener-bener suara hati dari seorang ibu yang telah memilih dan sangat menikmati pilihannya, hebat deh :-)

Iya ya Dit bener, masalahnya bukan cuma di ibu bekerja, tp jg ibu yang ga kerja tp malah keenakan kayak yang Dita bilang ya. So… dalam hal ini kesadaran dalam pengasuhan ini yang penting kali ya. Tapi yang namanya kesadaran itu, susahnya minta ampun dan mahalnya luar biasa deh. Gimana caranya ya biar para ibu yang cuek2 punya kesadaran dalam hal ini? Cie
kayak aku sendiri nggak cuek aja hehe. Tambahan peer buat pemerintahkah? atau buat yang udah pada sadar ya? Hmm mbulet ya kalo udah ngomongin ini.

Biarpun mbulet, at least disini kita bisa ngeluarin unek2 deh. Ayo Dit… teruskan perjuangannmu buat berpanjang lebar ria :-), biarpun ada yang suntuk,
mesti yang melek juga ada koq hehe

Wassalam hangat,
Agnes

Ini dari mom Dea :

Gimana ya memulainya.
Ok. Aku memilih menjadi FTM. Membaca artikel tulisan mbak Nenny, maaf, aku merasa ada nada ketidakrelaan di sana. Sekali maaf, seluruh tanggapan terhadap artikel tulisan mbak Nenny ditulis menurut sudut pandangku sendiri. Dea seorang FTM.

Sebegitu kejamnyakah gambaran sebagai ibu publik? Sebegitu hinakah gambaran sebagai ibu rumah tangga? Andaikan pilihan itu bukan pilihan sulit…

Jika pilihan sebagai ibu rumah tangga begitu ‘hina’, kenapa suamiku dengan bangga memperkenalkanku ke teman-temannya. Atau dengan bangga mengumumkan, “Istri gue sekarang di rumah aja!” Adakah nada melecehkan yang dicari-cari kaum feminis dalam kalimatnya? Alhamdulillah, tidak!

Kenapa aku memilih untuk tinggal di rumah ’saja’? Bukankah sangat indah menikmati anugrah terindah yang diberikan ALLAH kepada kita. Titipan yang awalnya terlihat begitu rentan, kemudian tumbuh berkembang, tersenyum, menyapa, berteriak, dan kini pandai memperlihatkan emosinya. Terima kasih Ya ALLAH, aku sudah dapat memilih.

Kenapa temanku memilih untuk tetap bekerja? Menjadi klisekah alasan untuk kepentingan anak? Aku rasa jawabannya akan seklise jawabannya. Tapi usangkah alasan dan pertanyaan itu? Jawabnya tentu tidak akan pernah. Ketika seorang wanita memilih bekerja sekaligus mempunyai anak, salahkan ia ketika waktunya bersama keluarga berkurang? Tidak ada yang bisa memastikan jawabannya. Hanya temanku dan Tuhannya yang tahu.

Bekerja di kantor, mempunyai anak, merawat suami, sama alamiahnya dengan bekerja di rumah, mempunyai anak dn merawat suami. Salahkah jika sebagian tugas didelegasikan pada orang lain? Bukankan inti sebuah managemen yang baik adalah bagaimana kita mendelegasikan suatu pekerjaan pada orang tepat dan kompeten.

Lalu apakah salah, jika seorang ibu yang bekerja di daerah Sudirman-Thamrin memilih ‘Tempat Penitipan Anak’ yang membuatnya merogoh tasnya lebih dalam? Temanku itu ingin mendelegasikan sebagian tugasnya sebagai ibu kepada Aunty-aunty di TPA tersebut bukan? Bukankah sudah lazim, jika harga sebanding dengan kualitas?

Lalu temanku yang lain memilih tinggal di rumah seperti halnya aku. Jika kemudian, ia memilih untuk mendelegasikan tugasnya sebagai ibu pada orang lain apakah itu salah? Salah belum tentu, tidak lazim memang! Selalu ada konsekuensi di balik setiap tindakan.

Mbak Nenny yang terhormat, mungkin perlu anda tanyakan lagi lebih dalam. Maaf, Relakah anda ‘hanya’ menjadi seorang ibu rumah tangga. Atau jangan-jangan anda secara tidak sadar telah melakukan kekerasan terhadap batin anda sendiri.

Ibu di rumah, ibu publik, apapun namanya tetap seorang ibu.

Seperti halnya pilihan memberikan ASI eksklusif. Ibu publik bisa memberikan ASI ekslusif pada bayinya, banyak yang sudah membuktikannya. Ibu di rumahpun banyak yang mengeluh ASI nya kurang, atau lebih memilih ‘tidak mau repot’ dengan memberikan ASI. Lalu siapa yang salah dan siapa yang benar? Aku tidak tahu. Semuanya adalah pilihan setiap wanita, dan semua pilihan memiliki konsekuensi masing-masing.

Lalu jika sering kita lihat, banyak anak yang lebih dekat dengan BS dibandingkan dengan orangtuanya. Belum dapat kita pastikan, bahwa ibunya pasti ibu publik. Belum ada survey tentang hal itu, seperti halnya bekerja dapat mengurangi tingkat kekerasan dalam rumah tangga.

Ada banyak sisi dalam tiap pilihan. Dan setiap pilihan ada alasan dan konsekuensi masing-masing. Dan bukan hak kita untuk menilai pilihan seorang ibu, karena kita bukan mereka.

Aku, Dea memilih menjadi FTM, karena diberi kesempatan untuk memilih. Jangan bandingkan aku dengan temanku yang memilih menjadi ibu publik atau sahabatku yang ‘terpaksa’ menjadi ibu publik atau dengan mereka yang terpaksa’ menjadi ibu domestik.

Kenyataannya telah dilakukan kekerasan, ketika ibu publik dipadankan dengan ibu domestik. Pelecehankah itu? Tergantung penafsiran masing-masing:-)

Jadi sahabat… Maafkan aku akan penafsiran kita yang sedikit berbeda. Perbedaan membuat dunia ini menjadi indah bukan?

Duh, Moms… kok tulisanku jadi panjang gini ya?
Peace,
Dea-)

Ini dari mbak Sofie :

Wah, diskusinya seru nih. Jadi gatel pingin ikutan. Saya setuju sama Mom Roes bahwa tulisannya Mbak Nenny ini oversimplifikasi. He…he…he, pasti banyak yang tersinggung udah capek-capek kerja eh, motivasinya diklaim. Yah, namanya juga opini. Wajar juga kalau opini itu berangkat dari pengalaman & pengamatan subyektif. Masalahnya saya pikir nggak terletak pada bekerja atau nggak bekerja, kualitas atau kuantitas, aktualisasi, atau motivasi, tapi seperti yang mom dita bilang, komitmen. Jadi, bagaimana kita nggak berorientasi ke alam diri, tapi keluar dari diri kita, gitu lho Moms. Saya yakin masih banyak kok yang bekerja nggak semata-mata untuk aktualisasi diri (apalagi ekonomi) tapi untuk ’share’ potensinya buat orang lain. Ada juga yang tinggal di rumah, tapi hanya berorientasi ke dalam dirinya, makanya dia berusaha dgn segala cara agar kepentingan & kenikmatannya nggak terganggu.

Duh, mudah-mudahan ini bukan pembenaran ya, tapi bukankah bahagia itu ditentukan dari seberapa banyak kita memberi? Jadi, buat moms yang bekerja atau tinggal di rumah, yuk mensyukuri apapun yang ada di tangan, dan jadikan itu pemberian kita yang terbaik.

Sofie

Ini mom Dita lagi :

hhhmmmm makin “hangat” nih. tapi seneng aja bacanya, walopun kita masing-masing punya pemikiran yang berbeda-beda, ada yang pro, ada yang kontra, tapi bagi saya itu semua saling melengkapi dan memperkaya wawasan kita, tentunya.

Masalah ini pekerjaan rumah bagi kita semua? Rasa-rasanya masih sulit ya (saya kok pesimis). Yang diperlukan, pertama-tama adalah introspeksi terhadap diri kita masing-masing. Masalahnya banyak yang masih mengingkari kalau seorang Ibu dikatakan gak bener ngasuh anaknya. Mana ada coba Ibu yang mau dituding gak bisa ngasuh anak, gak becus ngasuh anak, gak sayang sama anaknya? Lagi-lagi balik ke diri kita masing2 dan berkaca, sudahkah saya lakukan ini semua pada tempatnya? Sudahkah saya secara maksimal memaanfaatkan waktu2 berharga dengan anak2 saya? Bener kata Mom Agnes semuanya kembali kepada kesadaran dan(menurut saya,plus tanggungjawab) kita.

Jadi menurut saya, gerakan pertama harus dimulai dari diri kita sendiri dulu. Tulisan-tulisan semacam yang Mom Nenny tulis, lalu pengamatan2 saya terhadap lingkungan sekitar adalah bentuk refleksi dari kenyataan yang ada di lapangan sekarang ini. Tujuan dan hikmahnya, ya untuk membuka mata kita. Oh, ternyata ada toh realita seperti ini. Seharusnya ini dijadikan bahan pelajaran, bukannya pengingkaran untuk kemudian menjadi defensif. Jangan malu untuk mengakui, waktu yang saya habiskan untuk mengasuh anak saya sangatlah kurang. Dari pengalaman orang lain kita belajar untuk menjadi lebih bijak, kan.

Saya setuju banget dengan pendapat mom Intan, bahwa suami harus diikut sertakan dalam masalah pengasuhan anak. Dan itu telah saya komunikasikan dengan suami saya. Jangan maunya enak aja, emang ngurus anak gampang ;-) Lagipula ini kan tanggungjawab kita bersama. Ajak suami ikut mandiin anak, ikut nyuapin atau nggantiin pampers. Ujung2nya kan bonding si anak dengan kedua ortunya juga jadi kuat, kalo udah gitu sapa yang seneng? kita berdua kan? kalo kemudian anak kita suatu hari menjadi orang sukses, ada andil kita berdua di belakangnya, jangan cuman mommy-nya aja dong.

Hihihihihi, padahal tadinya dah mo merem, eh di”colek” sama mom Agnes
jadi “melek” lagi :-)

salam,
dita

Ini dari mom Iranita :

Dulu waktu baru selesai kuliah ingin kerja karna “kebiasaan” kalau udah wisuda harus kerja.. Oke aku ngelamar kerja ditrima dan kerja lah dgn tanpa beban..seneng aja..punya lingkungan baru..temen2 dan fun

Setelah married, hamil..baru kerasa..panggilan nature perempuan ; hamil..lemah kandungannya, bleeding , musti bedrest…brenti dr kantor. Sedih banget musti tinggalin dunia kerja dan temen2 tapi rasa kalo aku pengen hamil dan gak mau keguguran lagi juga lebih mengalahkan rasa fun nya hura2 di kantor.

Setelah axel 2 thn, pengen gak ngontrak rmh terus2an, mau beli rumah, saving blom cukup..terpaksa KPR..cicilannya? sepakat tanggung sama2 biar ringan bulanan..jadilah aku balik kerja. Tinggalin anak dirumah dgn BS yg baik (menurutku). Awalnya memang aku balik kerja utk bantu2 biaya rumah tangga..tapi dgn berjalannya waktu dan meningkat karir kami, maka otomatis beban KPR sdh gak terasa lagi..yg ada motivasi utk bantu2 biaya RT jd beralih ke tantangan karir…gimana bisa buat hasil kerja lebih bagus. Tapi yah gak dipungkiri bahwa kesenangan2 lain juga ikut misal, bukannya buru2 pulang malah chit chat rame2 dgn dalih nunggu jemputan), sekali2 pulang lebih laat dari biasanya ntah itu krn kerjaan or just makan diluar dgn friends en liat sale dulu..

Sering kali mau brangkat kerja, anak nangis didepan pintu dan aku dgn alasan ingin buat si anak mandiri, berkata : Mama kerja dulu, ya sama sus dulu dirmh..nanti mama telpon terus2an deh..i luv u..cipika’ki..peluk2 , bye2..walau di paling dalam lubuk hati ada rasa ngilu.

Sampai kantor aku udah gak sabar telpon kerumah..sambil bergaya mommy kantoran aku bilang : Halo xel, aku dah sampe kantor nih..ntar yg pintar makan yah..pas tutup telpon ada rasa lega sdikit krn merasa sdh bisa meng “quality” kan hubungan dgn kid ku drpd “quantity” kan hubungan ku dgn nya. Begitu juga siang , call 3 menit kerumah tanya2 ke BS nya rutin : Lagi ngapain dia zus? tidur? makan nya? buahnya? susunya? setelah dijwb oleh sus nya OKE Bu! baru aku bilang : ya udah, hati2 yah.. setelah itu aku trima call dr temen dan menghabiskan bisa 15-30 mnt dr waktu lunch ku utk hai2.

Pulang rmh jam 6.30 an , mandi, seger banget ngeliat axel udah bersih, udah makan..(sst..ada rasa lega lo..tau kalau dia udah selesai makan disuapin BS ku drpd aku pulang udah cape2 musti suapin makan). Acara malam biasanya nonton film kartun, cerita2 atau jalan beli2an kalau susu atau grocerry ada yg habis.

Pulang, cuci2an, ajak dia tidur. Itu rutin nya..Sampai aku hamil ke 2, bulan ke 3, ax panas gak mau makan dr pagi, aku pulang siangan mendapatkan axel dikamar , muka udah merah karena panas tinggi, setelah hsbnd ku bilang : makan dong roti nya , nanti besok mama gak ngantor deh dirumah main sama kamu…eh langsung loh 1 roti coklat tandas tanpa jeda..semangat dihabisin..aku liatnya terharu banget..rasa nyeri gitu dalam hati utk sadar kalau my son needs me.. 2 hari sesudahnya tanpa basa/si lagi aku sdh dirumah saja.. tidak bekerja sampai detik ini.

Begitu hebatnya perbedaan dr seseorang yg diperluin di kantor dan jadi mama dirumah yg gendong sana/ni..nungguin suap demi suap ditelen axel.. sejak saat itu BS beralih fungsi jd pendamping ..tugasnya menyiapkan segala keperluan ax dari makan, beresin sesudahnya, perlengkapan mandi, baju2, susu dsb..tugasku suapin, mandiin, tidurin, main.., bacain buku crita, dan juga kalau dia nakal en ngeselin ; aku marahin or kadang mukul tangan , pantat nya..

Jadi semenjak aku hanya dirumah aja tugas BS hanya sebagai tk. nyiapin en tk. beresin, bersihin bekas2 makan atau brantakan mainan dan romel nya. Tapi pd saat aku melahirkan tugas2 ngurus axl beralih ke BS lagi krn aku ngurus baby. Sempat punya 2 BS dirumah dan ahirnya gak pakai siapa2 sama skali even maid or BS..ditambah dgn jadwal hsbnd keluar kota, jadilah skarang aku terbiasa dirumah aja ber3 dan ini berjalan 4 thn an lo . Untungnya saat ini sejak 3bln lalu punya maid yg pulang2 . Lumayan membantu..terutama utk bebenah.

Sebenarnya kalau ditanya : Mau balik kerja? aku pasti jawab : Mau sih, tapiii..keadaan gak memungkinkan krn hsbnd ku evry 3wks diluar kota..bisa smakin jarang dong kids ku ketemu Ma & Pa nya. Kalau maksa mau balik kerja sih aku rasa bisa diada2in org yg bener (menurutku) utk jaga kids..tapi apa yah mereka bisa ? tapi dari semua itu jawaban yg pasti ialah bahwa aku udah terlalu benar2 menikmati sebagai FTM. Dan rasanya udah susah ngerubah pola hidupku yg dr bangun pagi urus mereka skolah, mikir makan nya, jemput , antar, suruh mreka istirahat siang..nemenin blajar..kontrol acara main mreka dgn teman2 tetangga..dan yg paling pasti selalu siap peluk mereka saat mereka nangis (ntah krn jatuh, brantem, mimpi, atau hanya sekedar manja mau mamah..).

Pernah terpikir guilty sama ortu ku yg udah susah payah skolahin aku dan ternyata aku gak pakai utk kerja spt apa yg mereka harapkan sewaktu mereka masih ada , tapi aku yakin mereka pasti tersenyum diatas sana kalau tau bahwa apa yg telah mereka ajar dan tanamkan padaku sedang aku jalani…bahwa :

“Anak anak begitu berharga..”

Salam,
Ir.

Ini dari mbak Sofie lagi :

Setuju, Mom Dita. Saya sendiri memilih tinggal di rumah sejak melahirkan anak pertama, 10 th yang lalu, sambil mengerjakan bbrp pekerjaan part time. Sekarang anak bungsu saya udah 4 th, ketiga anak saya sudah masuk usia sekolah, dan anak sulung saya mulai protes, why don’t you go to school, just like everybody else? Saya bilang, okay than, I’ll go. Saya yakin anak-anak saya senang ibunya ada di rumah setiap kali mereka pulang sekolah, tapi mereka juga bangga kalau ibunya juga berkembang, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat nggak cuma untuk diri mereka, tetapi juga buat orang lain. Di usia saya skrg ini, teman-teman saya sudah banyak yg selesai PhD, dan saya baru saja akan mulai. Tapi nggak pa-pa, nggak ada kata terlambat untuk memulai.

Saya pribadi sangat menghargai pilihan mereka yang memilih bekerja, atau justru berhenti. Bukankah semuanya kembali kepada bagaimana kita memaknai pilihan kita, dan bagaimana membuat diri kita berarti? Hanya, sebaiknya kita juga mengetahui kebutuhan anak-anak kita. Kapan mereka ingin ditemani, kapan mereka ingin mandiri. Anak-anak usia balita memang butuh kehadiran kita secara fisik, namun dengan bertambahnya usia, mereka semakin butuh partner, teman dialog, yang cool dan updated thd segala sesuatu, jadi peers-nyalah gitu. Jadi, mau tinggal di rumah atau kerja, yuk sama-sama ‘berkembang.’ Demi anak-anak kita…

Sofie

Ini dari Hermin :

Mbak Roes,..
Mbak Neni ini memang kesannya hanya menembak kalangan menengah keatas, ibu-ibu yg bekerja di kantoran, tidak meliputi seluruh lapisan. Kenapa?, karena mungkin mereka masih punya pilihan untuk diambil, apakah menjadi FTM atau memang benar-benar perlu menjadi ibu bekerja. Sedangkan untuk lapisan ekonomi lemah, pan udah dibilang sama Jeng Agnes,.. kalo mereka bisa jadi tidak punya pilihan karena masalah ekonomi. Mereka harus fight untuk bertahan hidup. Kalo nggak kerja maka anaknya nggak makan atau nggak sekolah. So,.. wajar aja yg dibidik mbak Neni ini memang kalangan menengah ke atas.

Sebenarnya hal yg jadi sorotan mbak Neni ini tidak hanya soal apakah wanita bekerja atau tidak, tapi ditulisan-tulisannya yg lain, beliau juga menyorot tentang, perlu tidaknya pembantu. Dan beliau adalha salah seorang yg konsisten tidak pernah menggunakan pembantu dengan ketiga anaknya. Dan ini dilakukan di Indoneisa, dimana jasa pembantu sangat mudah didapatkan. Mbak Neni menjelaskan kepada saya, bagaimana pengaturan rumah tanpa pembantu dengan 3 anak ( dua balita,paling besar SD). Keadaaanya smirip kondisi rumah tangga saya saat ini (tanpa pembantu), tapi bedanya, saya�@memang nggak punya pilihan, hidup tanpa pembantu karena memang tinggal di luar negeri, sedangkan mbak Neni dengan kesadaran penuh memilih tanpa pembantu di negeri Indonesia, dan ternyata berhasil. Beliau sering mengisi ceramah maupun seminar mengenai keluarga.

Oya, kalo mau kenal lebih lanjut dengan mbak Neni, saya sempat kenalan dnegan beliau, ada alamat emailnya,.. japri aja ya,..

Hermin

Ini dari Mom Diana:

Well, tentang tulisan Mom Nenny, namanya orang berpendapat… boleh-boleh aja khan, it’s a free country. Sebelumnya saya pengen ngingetin Mommies semua, you can have REAL discussions about politics, society or whatever – no big deal. Say your opinion on someone else’s e-mails or comments – don’t think it’s a blasphemy! We’ve had plenty of in-depth discussions and views on many things. And we’ve made it through each and everyone one of them, with personalities and individualities intact. Okay?
Utk Mom Nenny, saya pengen bilang juga, you’re entitled to your views. Nice to see someone not afraid to stand up and speak her mind. Saya sendiri full-time Mom yg ex-pekerja kantor. Pernah merasakan capek, sedih, senang dan bangga di kedua dunia itu.

Saya sadar, saya hanya manusia biasa, tidak ingin dibilang superwoman. Saya tidak bisa jadi perempuan yg bangun subuh, mandi, dandan in my skirt and suit, mengurus anak, put breakfast on the table, drop him off at the school and sit 8 hours a day waiting people to tell me what to do, then pick my son up at 5pm sharp, keeping my house clean, serving dinner on the table and still has stamina to have sex with my husband… pheww.. no, I can’t, I’m sorry, I’m only human made of flesh and blood. Saya tidak sehebat para supermoms yg dulu pernah kita bahas rame2 itu. I’m not a heroine in one good epic, I can’t play an ingénue, not someone worth imitating at all. That’s why, I DO still depend on my husband to help me taking care of my son, of our marriage, and of me, without neglecting his role and taking all of the credits for myself, of course. Saya hanya ingin anak saya punya memory terhadap kami – orangtuanya – saya dan suami sebanyak mungkin. Saya ingin hanya kami yg paling dominan memberi warna dalam kehidupannya, he knows somehow we are the one he can turn to.

I just want to be there for him, for every wounds, every pains, every songs, every books, every pictures, every smiles, when he hits the bottom or when he claims his triumph. I just want to give him as much time as I have, all of my thoughts, my fears and my courage. I just want, 25 years from now, when my son ask me, “Mom do you remember when we played it?” I’ll sure do!!

Wassalam,
Diana Mochamad
Minneapolis, MN

Ini dari Mom Sterna :

Tersinggung..?? ga sih.. aku faham sepenuhnya maksud si penulis..
memang sekarang banyak moms yang berada di posisi ekonomi menengah ke atas yang sptnya “kurang peduli” dengan rumah mereka sendiri.. di kantor saya, banyak yang seperti itu.. trus apa motivasi mereka.. menurutku, sebagian
besar dgn alasan yang sangat dibuat2.. aku sendiri saat ini tetep bekerja di kantor selain ngurus catering.. semua terpaksa aku lakukan.. kenapa..?? karena keluargaku bukan yang berasal dari ekonomi menengah keatas tadi.. kami masih butuh uang untuk membiayai kebutuhan sehari2 dan cicilan rumah.. bukan cuma 1 keluarga yang dikasi makan.. tapi 3… emang sih me and my husband have an agreement.. kalo one day, i will quit from here..

so, buat aku.. aku memang bukan supermom although i always try to be one..
but at least i know when to start and when to stop…

no heart feeling.. :)))

Sterna

Mom Dita lagi…

Mo nambahin dari tulisan mom Sofie dan mom Diana,
aku setuju banget, jadi FTM bukan berarti “nguplek” aja di rumah. Kita harus berkembang. Banyak jalan ke arah sana. Kalo mom Sofie beruntung bisa sekolah lagi, kalau saya dari awal arwen lahir, menganggap hari2 yang saya lalui seperti masuk sekolah baru dengan jenjang yang lebih advance. Kalo nanti mom Sofie punya sertifikat gelar dari sebuah institusi pendidikan, kalo saya uncertified master ;-) dari institusi so called life….. hihihihiiiii

Jadi FTM bukan lalu pasrah. Gak bergaul. Saya coba belajar, baca-baca banyak buku ttg perkembangan anak, dll, ikutan milis yang berguna, dan tetep keep kerjaan freelance saya. Atau mungkin buat FTM yang lain, bisa ikutan aktivitas sosial atau sekolah lagi kayak mom Sofie. Saya percaya tidak ada ilmu yang sia-sia, walopun akhirnya kita memutuskan menjadi FTM. Pokoknya gimana caranya bikin diri kita jadi berguna buat orang2 sekitar. Dan tidak memandang rendah diri kita sendiri. Buat yang masih minder mengakui dirinya FTM, jangan ah :-) Kita harusnya bangga, anak-anak kita yang berharga, berada di tangan yang tepat.

salam,
dita

Ini dari Mom Sally :

Dear Moms,
Duch kayaknya ini pembahasan yang sangat menarik dan ga pernah habis ya. saya juga mau menanggapi soal ini . menurut saya ibu bekerja atau tidak itu sebenarnya bukan terlalu masalah yang penting kita masih bisa memberikan perhatian , kasih sayang terhadap anak kita. seperti yang di bilang moms yang lain, motivasi kita bekerja kadang berbeda2 , jadi tidak salah kalau kita menjadi wanita publik selama kenyamanan rumah masih kita perhatikan. asal nanntinya juga jangan sampai anak kita kalau dach gd menyalahkan kita sebagai seorang ibu atau orang tua yang tidak pernah memperhatikannya karena kesibukannya dikantor sehari hari. dulu semasa kecil saya sering mengeluh dengan orang tua saya ,akan kesibukan mereka yang tidak pernah memperhatikan saya , ayah saya sibuk bekerja di luar kota kadang ketemu hanya sebulan sekali sedangkan ibu saya bekerja juga yang sampai larut malam, yang menimbulkan rasa sepi dalam diri kita dan berkeinginan agar suatu hari bisa berkumpul bareng mereka
tentu akan sangat bahagia dan menyenangkan. kadang dalam keadaan sepi begitu si anak suka menangis atau menyendiri bila ingat semuanya , tapi dia sadar kalau orang tuanya sibuk juga buat masa depannya yang lebih baik.

ada juga tetangga saya , dia tidak bekerja tinggal di rumah sehari hari bersama anak dan pembantunya , tapi apa ternyata anaknya tetep lebih deket sama pembantunya ketimbang ibunya …karena dia tidak pernah meluangkan waktu untuk bermain bersama anaknya , memandikannya , menyuapi makannya atau bahkan mengganti popoknya , dia sibuk dengan urusannya sendiri dirumah , menonton tv, baca koran atau sekedar berbincang2 di telpon sama temen atau bahkan kluar shoping .sehingga bila anaknya nangis dia hanya bisa diam bila BSnya yg nennagin

Jadi dalam hal ini ibu bekerja atau tidak bukan lah suatu alasan dia tidak memperhatikan keluarga bahkan mungkin ibu bekerja dia melakukan tugas ganda seorang ibu yaitu mengurus rumah dan membantu menambah pendapatan suami. jadi menurut saya bukanlah kuantitas kita berhadapan dengan anak yang lebih penting tapi bagaimana kita memberikan perhatian dan kasih sayang kita terhadap anak sehingga anak kita bisa
tumbuh dan berkembang lebih baik dengan usaha maksimal yang kita berikan kepadanya. kita masih bisa bermain bersama anak sebelum kita berangkat kerja kalau dia sudah bangun atau memnadikan dia setelah
pulang kerja , bermain dan menidurkannya , juga disaat kita libur weekend. naluri seorang anak pasti tidak akan pernah hilang terhadap
ibunya biar kita sesibuk apapun, so apa salahnya bila kita bekerja……….
maaf kalau opini saya kurang berkenan dihati moms yg lain

SaLLy

Ini dari Mom Uci :

Mommies….
Baca postingan Mom Agnes kmaren…jujur aku ningung..gak bisa omong apa2…. Semalem aku trus crita ama papanya Kavin…. minta pendapat gitu….
papanya Kavin cuma jawab singkat… ’smuanya tergantung komitmen n tujuan kamu yg ngejalaninnya’…. Wah moms…asli aku bingung bgt,,gak puas ama jawabannya but setelah aku pikir2 ada benernya juga…

Moms..kepengennya sih di hati kecilku aku di rumah aja jd FTM….n nggantin
hidup ama suami…bukannya mau tergantung gitu aja sih..but idealnya emang ibu tu di rumah urus anak n rumah… But, apa seorg ibu tu gak boleh puya cita2??? Apa salah kalo ibu tuh pengen pinter… kan kalo ibunya pinter anaknya juga bisa pinter krn didikan ibunya….

Seperti aku juga…kadang dilema juga buatku..seperti curhatku di milis ini bebrapa minggu lalu…. di lain pihak aku punya cita2…aku masih pengen sekolah lagi yg lebih tinggi…so, itu salah satu alasan aku kerja…. but aku
kadang juga bingung ama anak…

But, aku punya komitmen sebisa mungkin kalo aku di rumah anak smua aku yg urus…pokoke di rumah urusannya ya rumah aja… but kalo di kantor kerja aku juga harus konsentrasi kerja…but mesti harus ada wkt buat ngecek rumah…
Emang kadang gak mulus sih..ada aja gannguannya..yah namanya manusia pengennya ideal..but kenyataan berkata lain… seperti artikel postingannya
Mom Agnes….

Kalo menurutku..idealnya seorg ibu tuh gak ada patokannya… jd FTM ok…. ibu bekerja juga ok….. Kalo kita udah puas jd FTM ya udah dijalanin aja sesuai komitmen…. kalo mo kerja juga gpp but juga harus mesti tau resikonya..kalo kadang harus dicuekin anak..n rumah rada gak keurus…. Seperti kata suamiku tergantung tujuan hidup kita n komitmen kita yg menjalani…. hrs mau bayar harga buat smua komitmen yg kita buat….

Gimsns nih moms yg lain… Sori lho kalo gak berkenan…
Uci mamaKavin

Ini dari mom Yuli :

Moms,
Jadi ikut gatel juga neh! Saya cuma mau sharing apa yang saya saksikan di lingkungan saya. Saya punya tokoh idola, seorang wanita karier atau ibu publik meminjam istilah si penulis. Idola saya itu kebetulan bekas bos saya di
perusahaan dulu saya bekerja. Singkatnya dia nggak hanya sukses dalam berkarir tapi juga sukses mengurus rumah tangganya. Kenapa saya bilang sukses? Dua orang anaknya , anak-anak yang sangat baik, pintar, mandiri, hormat, senang menolong, rajin beribadah dan sangat dekat dengan kedua orangtuanya…… Saya bisa pastikan ini karena saya sangat mengenal keluarga ini dan lingkungannya. Dan memang setelah saya perhatikan salah satu kuncinya adalah kerja sama yang kompak dengan suami. Sesibuk apapun dia, dia selalu menyiapkan semua keperluan anaknya bahkan memasak(She’s good in cooking). Dan ketika anaknya memerlukan dia, meski harus sneaking dari kantor, she run to her children. Kadang anak-anaknya dibawa ke kantor. Kebetulan karena dia bos, dia punya ruangan sendiri, ada kasur kecil buat anak-anaknya bobo kalo “terpaksa” dia harus bawa ke kantor. Waktu anak-anaknya kecil “dijaga” oleh seorang pembantu dan dia sangat ketat mengawasi kinerja si pembantu ini. Hebat??? Nggak juga hehehe kadang ada aja yang miss. Misalnya pernah anak laki-lakinya nggak lulus sebuah kursus, dan masih banyak lagi kekurangan/kelemahan yang juga saya saksikan. Seringkali kedua anak ini cerita ke saya betapa sayang dan bangganya mereka terhadap ibu mereka. Melihat keluarga ini saya selalu teringat film keluarga Huxtable. Betul mirip banget, keluarga bekas bos saya ini keluarga yang penuh humor, ceria dan easy going.

Sharing kedua. Kebetulan masih saudara. FTM, punya anak 3. Tapi anaknya yang bungsu terancam tidak naik kelas dan satu anaknya punya masalah overweight. Mereka bertiga nggak dekat dengan ibunya, justru lebih dekat dengan ayahnya yang justru seringkali tugas keluar kota bahkan ke luar negeri berhari-hari. Kalo ada apa-apa, anak2 ini lebih suka curhat dengan ayahnya dibanding dengan ibunya.

So? Semuanya berpulang ke pribadi masing-masing kan? Nggak bisa nge- judge yang satu lebih baik dari yang lain. Semua pilihan punya kelebihan dan kelemahan sendiri. Tergantung bijaknya kita meminimalkan kelemahan/kekurangan tersebut. Kita kan nggak tau motivasi-motivasi apa yang melandasi pilihan2 tersebut. Tuhan melihat HATI. Iya kan? Saya setuju dengan pendapat salah satu mom : Motivasi/niat yang baik melahirkan hal-hal yang baik! Mau jadi FTM kalo emang semuanya dilandasi niat yang tulus dan baik, pasti berbuah baik. Mau jadi “ibu publik” kalo memang motivasinya baik, buahnya juga pasti baik.

Fiuh……udah panjang banget nih nulisnya. Back to work ah!

have a good long week-end
YULI
ibu publik hehehehe

Ini dari mom Desi :

Dear mom Dita, Iya,terusin nulisnya,aku termasuk yg seneng dg tulisannya mom Dita.jadi tambah mantaps dg peran IRT yg aku jalani saat ini.Hi…hi…emang ada pilihan lain…:-)

YacH…ibu bekerja tidak bekerja, memang nggak pernah habis dibahas. semuanya tinggal bagaimana kita memilihnya.

Toh, kita sendiri yg tahu, seberapa besar manfaatnya atas pilihan kita tsb. juga, kita sendiri yg akan mempertanggungjawabkan atas pilihan kita di hadapanNYA, Kelak…..

Maaf kalu ada yg tidak berkenan.
Peace,
Desi

Ini dari mom Nenny Riana :

moms, jujur, aku gak baca tulisan itu, soalnya kayaknya bikin bete di hati…
hehehe… sorry ya, soalnya aku masih termasuk ibu bekerja, tapi masa sih aku harus ceritakan gimana aku merawat anak-anak mulai jam aku pulang kantor ampe berangkat kantor (dari jam 1730 ampe jam 0700 pagi). yang jelas, jadi ibu bekerja tuh sama capeknya ama FTM. kalo aku mau komentar, sebenernya aku cukup ngiri ama temenku yang FTM, dan kerjaannya bangun siang, nganter dan nunggu anak sekolah, makan siang, shopping, abis shalat dhuhur bisa tidur siang, ntar bangun dah sore, nunggu suami pulang, makan malem, nonton TV, dan tidur. urusan masak dan beberes rumah dikerjakan pembantu…
duh duh… siapa coba yang gak kepengen.

coba kalo ibu kerja (aku misalnya), bangun kudu subuh udah ngerebus air, shalat, mandi, beberes keperluanku, suami, dan anak2 (anakku 2, umur 3 tahun dan 1,3 tahun). abis itu mandiin anak-anak, main sebentar, dan kudu ngantor.
di kantor, dengan berbagai keadaan harus bisa mengatur suasana hati… sampe dirumah, udah sibuk urusan anak2 yang tiba tiba berubah jadi manja, belon lagi kalo malem pada minta pipis (padahal aduuuh… jam 1 gitu lho… enak-enaknya tidur) atau minta minun susu lagi…

please deh, tulisan kayak gitu, jangan terlalu dibahas, toh gak pernah ada jalan keluar yang terbaik…

peace,
nenny riana, bukan neni yang nulis “perempuan apa yang kau cari”

Ini dari mom Wanda :

Dear all:
Aku yakin diskusi hangat mengenai topik Perempuan apa yang kau cari merupakan bentuk “pencarian” kita juga, mengenai keputusan dan pilihan yang
telah atau akan diambil nantinya. Secara pribadi juga aku yakin melalui diskusi ini masing-masing kita memperoleh pembelajaran jiwa dalam hidup sebagai wanita berkeluarga. Adanya pendapat yang mendukung pilihan kita merupakan semangat bagi kita untuk menjadi yang lebih baik lagi. Adapun pendapat yang tidak sesuai dengan pilihan kita, anggap saja sebagai harta karun yang mungkin suatu saat kita perlukan. We’ll never know. Dunia berputar kan, Moms…:-)

Satu yang paling aku suka sama Mommies semua di sini adalah jiwa besarnya.
Jiwa besar untuk membaca pendapat yang berbeda dan saling meminta maaf. Di sini kita bebas mengekspresikan perasaan, pendapat dan sikap, darimana pun email kita diposting. Entah itu di sela-sela kesibukan kantor atau di tengah2 kesibukan “nyebokin” si kecil. Dan yang aku simpulkan dari semua email “Perempuan apa yang kau cari?” adalah sebuah diskusi! Salut! Bukankah kita juga ingin anak2 kita bisa bebas mengungkapkan perasaan, pendapat dan sikap? Semoga kekayaan dari forum ini dapat kita wariskan pada anak2 kita.
Buat Mom Neni (ato Mom Nenny? :-), tetap berkarya melalui tulisannya yang
luar biasa. Buat Mom Agnes, ditunggu summarynya ya…hehehe…bakalan jadi
sumarry terpanjang nih…:)

Whatever we eat, drinkingnya teteup Teh Botol Sosro kaaan…..:) (sorry nyatut iklan) Pendapat boleh beda, tapi WRM is the best kaaan…. (loooo?!….:-)

salam manis:
WH
ygkarenaduniaberputarsekaranghappyjadiFTM

Ini dari mom Evi :

Iya memang artikelnya terlalu bias. Terlalu menilai rendah sama ibu bekerja.
Adakah yang tahu email atau phone number mbak Neni ini? pokoke sesama ibu-ibu mau yang bekerja dan stay at home moms jangan sampai saling menilai jelek satu sama lain.
Pokoknya yakin deh: “Moms fill the hours with sunshine and flowers”

I love being a Mommy!
Evi

Ini dari mom Diana lagi :

Sebetulnya bukan saling menilai negative sih Mbak Evie, tp yg ada malah pengen satu sama lain… yg kerja kadang pengen di rumah, yg di rumah kadang pengen kerja. Saya juga gitu kok, manusiawi… kadang ngiri juga klo ngeliat tetangga pagi2 udah cakep, ngeluarin mobilnya dr garasi siap ke kantor.

Atau klo lagi diem di rumah yg sepi gak ada orang, sambil nunggu cucian saya mikir, enak kali yah klo kerja kayak dulu lagi, bisa mematut-matut baju, tas dan sepatu; terus yg jelas punya duit sendiri tanpa nunggu uluran tangan suami… he..he..he. Yg lagi kerja di kantor ngerasa duuh enak yah ibu2 yg di rumah, siang2 gini pasti pd tidur sementara kita duduk seharian pusing ngeliatin computer… pdhal yg di rumah lagi ngepel lantai sampai pinggangnya pengen patah… he..he..he.

Saya kadang klo kesel sama suami ngomel juga, coba klo aku kerja biarpun di kantor cuman ngobrol sambil ngemil tp keliatan hasilnya tiap bulan ada duit… berhubung aku cuman di rumah, biarpun seharian sampe naik2 tangga buat mbersihin langit-langit yah tetep aja gak keliatan…

Biasalah… pagar tetangga selalu lebih hijau, gitu kali yah? :-D

Wassalam,
Diana Mochamad
Minneapolis, MN

Dari mom Iranita lagi :

Ha..ha…betul.. Memang gak bisa mungkir kalo yg dirmh kadang terpikir pengen balik kerja ngantor biar bisa muter lagi tuh kostum instead of ngantung di lemari aja atau yg ngantor pengen jd ftm spy bisa berclana pendek seharian..tul gak? we’re only human.

Tapi aku lebih milih yg bisa pake clana pendek seharian… ganti jeans kalo mau blanja ke giant atau jemput kid dr skolah/antar les. Daripada yg harus ber outfit rapih seharian.

Salam,
Ir.

Ini dari mom Shinta :

Dear Moms,
Ikutan sharing, terus terang aku kerja karena untuk menunjang ekonomi keluarga (pengen bisa kasih yang lebih baik buat anak2 terutama pendidikan yang menjadi bekal mereka nanti, biaya pendidikan sekarang mahal sekali).

Kalau bisa memilih aku memilih untuk menjadi FTM. Sebenarnya Mom tugas seorang FTM lebih berat daripada kerja kantoran. Kalau kerja di kantor kita hanya menghadapi komputer, telephone dan kerja2an kita. Bagi yang kerja di back office tidak perlu bolak balik keluar kantor hanya datang pagi, keluar makan siang, sore pulang. Sedangkan jadi seorang FTM kerjaan sederet sudah
menunggu, antar anak sekolah, jemput sekolah, antar les, ajarin bikin PR,
siapkan makan, temenin main dan urusan tetek benget lainya (mengurus suami). Jadi kebayang kan mom capeknya bolak-balik keluar rumah untuk urusan tsb. Menurut aku sih FTM itu lebih berat daripada kerja kantoran. (walau berat aku punya cita2 pengen suatu hari nanti bisa FTM). Kadang sedih juga melihat anak2 pulang sekolah tidak ada kita yang nungguin di rumah. Benar Mom Ina, kalau bisa pilih aku juga pengen seperti mom Ina, bercelana pendek saja.

Memang buat kita yang kerja kantoran beban kita juga cukup berat, tapi apabila kita niatin semua bisa di atur. Sejak lahir anak2ku tidak pernah tidur dengan BS, jadi walaupun mereka malam rewel tidak pernah aku kasih ke BS, setelah pulang kerja habis mandi nyiapin makan suami, anak2 urusan aku, paling BS bantu2 aza kalau perlu ambilin sesuatu buat anak2. Emang berat mom urus bayi, apalagi kalau malamnya mereka rewel karena sakit sedangkan pagi2 harus bangun untuk berangkat kerja lagi. Sejak mereka makan bubur aku selalu usahakan masak bubur mereka dulu pagi2 sebelum aku kerja. Jadi urusan masak makanan mereka aku tidak serahkan ke assisten.
Dibalik semua itu aku bahagia karena walaupun aku kerja kantoran anak2 ku
tetap dekat dengan aku. Owen sudah jalan 7 thn, Shania jalan 5 thn, mereka
ngerti kalau mamanya kerja mereka harus dengan mbaknya tapi malam adalah
waktu dengan mamanya.

Seperti pendapat moms yang lain bahwa apapun pilihan kita apabila kita
jalankan dengan baik dan niat yang baik maka hasilnya pun akan baik.

Regards,
Shinta

Ini dari mom Hani :

Dear Mommies,
Salut buat para Mommies yang kerja plus jadi mommy atau yang study plus jadi mommy. Enaknya hidup di Indonesia kita punya banyak support dari banyak orang (hubby, ortu, teman,families sampai bisa hire assistant dan BS). Fasilitas hidup di LN kalau tinggal di negara maju memang convinient, tapi support mental dan support curhat—-alamak susah didapat. Setelah memutuskan untuk FTM setelah melahirkan—baru deh realita dijalani semuanya berdua (udah kaya lagu). Pilah-pilih segala hal, menimbang sini situ—keputusan FTM at least sampai anak-anak sekolah. Apalagi setelah banyak lihat anak-anak teman yang main ke rumah dan ditinggal ibunya bekerja—-mereka selalu ingin dipeluk dan dicium juga. Day care nggak selamanya tumpuan segalanya—kenyataannya kasih PRT-BS-Day Care staff tak sama dengan kasih ibu. Memang life is REAL, dan kita masing-masing punya circumstances sendiri-sendiri.
Anyway, saya berprinsip FTM atau FTM plus study, FTM plus gawe semuanya OKE saja tergantung pilihan Mommies masing-masing, asalkan dijalaninya dengan happy-happy dan memahami konsekuensi dan tanggung jawab masing-masing. So far so good, tidak ada kehidupan yang stagnant semua pasti terus berputar dan berubah….tinggal pada kita memilih menjadi pemimpin
bagi diri kita dan hidup kita atau tidak? Ayo Mommies let’s take control of ourself!

Hani Iskadarwati


Belakangan ini, aku dan suamiku sedang kebingungan dengan ulah Lala. Gandrungnya dengan film winx ternyata tak cuma pada 5 tokoh wanita nya. Sekarang Lala malah suka sama si Brandon, cowok temannya Winx. Akhirnya aku minta sharingnya mommies di WRMom. Wah ternyata, sharing mereka betul-betul mencerahkan. Aku dan suamiku jadi tak khawatir dan bingung lagi sekarang. Big thanks buat mommies yang sudah bersedia sharing.

Dear moms…

Jadi pengen tanya juga nih…
Anakku Lala (5 thn) sekarang lagi seneng banget nonton film kartun Winx. Katanya dia suka karena lakonnya perempuan abg(5 orang). Karena khawatir, aku berusaha dampingi dia nonton dan aku liat jalan ceritanya gmn, cocok nggak buat usia dia. Setelah aku perhatiin, filmnya sih ya biasa lah kejahatan melawan kebaikan gitu. Walopun lakonnya ABG dan ada temen laki2nya jg (4 orang), tp nggak ada pacaran2nya, ya ceritanya saling berteman deh antara grup perempuan dan laki2 untuk melawan kejahatan.

Tapi yang aku heran, Lala tuh jd suka sama tokoh teman prianya (namanya Brandon), dan herannya dia koq malu2 gitu ya tiap nyebut nama Brandon. Wah bingung aku, mosok anak 5 taun udah kenal cowoq rek :-). Awalnya dia main rahasi2an , ayah bundanya nggak boleh tau si Brandon ini. Khawatir jg kan kalo udah mulai rahasia2an gini. Akhirnya aku coba untuk tidak melarangnya, tp mencoba memahami kesukaannya itu, baru deh dia mau cerita ttg Brandon. Waktu ditanya sm ayahnya kenapa dia suka Brandon, jwbnya sambil malu2 gitu, “karena dia cakep?” Alamaak lebih bingung lagi aku jdnya. Padahal selama ini kalo nonton cerita princes yg ada pangerannya gitu nggak pernah tuh dia begitu. Dan tontonannya selama ini selalu berusaha aku filter, gitu. Paling2 sponge bop, dora, dan semacamnya. Temen2 disekolahnya jg baek2, rasanya nggak ada yang kayak cerita mom Me gitu.

Jd aku bingung nih moms, darimana n kenapa ya dia jd begitu, padahal anak usia segitu kan hormonalnya untuk suka sama lawan jenis belum ada ya mestinya. Dan aku musti gmn menghadapi sikapnya yg malu2 n suka sama si Brandon itu. Aku jg nggak mungkin larang mentah2 kan, lha wong filmnya jg sebetulnya nggak ada pacarannya koq.

Please sharingnnya dong moms …

Maturnuwun sanget lho…

Wassalam hangat,

Agnes

Ini jawaban sharingnnya…

Dari Mbak Sofie (di US)

Dear Mbak Agnes,

Salam kenal sebelumnya.
Pengalamannya sama deh dengan anak saya, Bening, sekarang 6 tahun. Waktu dia masih 4 th, di preschool dekat rumah, dia suka sama temen cowoknya anak Korea, namanya Mingyo. Dia sih nggak pernah cerita, mungkin karena nggak menganggapnya istimewa. Gurunya yang bilang bahwa Bening sama Mingyo ini suka main kejar-kejaran terus (kebayang film India:-)). Waktu saya tanya, dia ngaku. Saya sih senyum aja. Katanya dia suka sama Mingyo soalnya dia ‘cute.’ Setelah saya perhatiin, memang betul Mingyo ini beda dibandingkan anak cowok yang lain. Dia lebih gentle, nggak seperti teman cowoknya yang suka usil, rebutan mainan dan gebrak-gebrak meja.

Waktu Bening pindah ke preschool yang lain, dia naksir temannya anak Brazil, namanya Jesus. Kata gurunya, Bening nggak mau cuci tangan kalau Jesus belum cuci tangan, dan nggak mau mulai lunch kalau ’si dia’ juga belum lunch. Suatu kali, lunchnya nggak dihabisin. Waktu saya tanya kenapa, katanya habis Jesus makannya juga nggak dihabisin. Jesus ini juga type anak yg gentle begitu.

Sekarang Bening sudah umur 6 tahun. Waktu pindah ke kindergarten dia nangis karena nggak ketemu Jesus lagi. Tapi sekarang, setelah dia bergaul sama lebih banyak teman, hubungannya dengan teman cowok juga makin rasional tuh. Dia masih suka film princess, masih suka warna pink, tapi sudah nggak suka naksir-naksiran lagi.

Jadi nggak usah khawatir deh Mom Agnes, dan sebaiknya jangan buru-buru men’judge’. Kita berusaha jadi temen ngobrolnya aja. Fase-fase begitu nanti juga lewat kok. Bukan berarti anak kita ‘genit’ dibandingkan anak lain seusianya. Ingat nggak sih waktu kecil kita naksir sama Julian Lima Sekawan, atau Lucky Luke (eh, ini sih pengalaman pribadi)? Perasaan seperti itu memang nggak rasional, tapi yang pasti beda dengan perasaan seorang anak ABG yang naksir cowok kakak kelasnya, atau perempuan dewasa yg memang ingin cari suami. Anak-anak usia 4-6 thn itu, mungkin hanya simpati & merasa aman aja, seperti menemukan figur prince di film kartun itu di dunia nyata, ciee…

Coba Mom Agnes perhatiin deh sosok idola anak-anak itu, apa sih, yang menarik dari mereka? Dengan berkembangnya waktu & bertambahnya teman anak-anak itu, perasaannya juga berkembang kok, nantinya mereka akan semakin rasional.

Segitu dulu sharing dari saya. Maaf kalau ada yang nggak berkenan.

Sofie

Yang ini dari Mbak Wanda

Dear Mom Agnes:

Sepupunya Vian juga begitu. Sekarang usianya 6 tahun. Kalau diajak ngobrol, bisa-bisanya dia mention nama Rafdi adalah pacarku. Lalu dengan bangganya dia bawa foto kelasnya dan nunjukkin yang mana Rafdi. Padahal kalo soal cakep, aku liat yang lain masih ada yang lebih cakep :-) , tapi menurut dia, Rafdi itu cakep. Mungkin juga, Rafdi itu baik ke anak2 perempuan, jadi menumbuhkan simpatinya ke Rafdi.

Sebagai contoh juga, ada ibunya teman sekelas Vian, ketemu aku waktu ngambil raport. trus cerita, wah..ibu,anakku apa-apa, kalo cerita anak cowok, pasti Vian. Katanya Vian itu anak laki2 paling baik di kelasnya (hhmm GR deh emaknya..:-) Jadi sepertinya, yang membuat anak2 perempuan kecil kita ini kesengsem, adalah anak laki2 yang baik sikapnya, gak suka usil dan mengganggu. Pastinya mungkin kalo melihat sosok anak laki2 tertentu ini, mereka merasa hmmm…tentram. Jadi lebih ke simpati pada sikap, mungkin ya..

Aku setuju sama Mom Sofie, semakin besar dan banyak temannya, pemikiran anak juga akan lebih rasional. Seperti juga aku sepaham dengan Mom Sofie soal Julian Lima Sekawan..hehehe…:-)

Salam:
WH (Wanda Hazman)

Terus, ini dari Mbak Mara:

Wah, Moms … anakku sih masih terlalu kecil untuk masalah satu ini .. tapi aku juga suka liat hal begini terjadi di ponakan2ku saat mereka umur 5 tahun ..
Aku rasa itu sih wajar2 aja kok .. karena mereka kan udah makin pinter dan udah punya “selera” sendiri terhadap apa pun. Entah makanan, mainan, teman bahkan tokoh2 film, majalah dll.

Aku sendiri inget banget waktu aku kecil dan seumuran begitu juga udah punya rasa suka pada cowol temen sekelas di TK … tapi begitu tau anaknya cengeng langsung jadi ga suka lagi .. Aku dulu juga suka banget ama film2 western .. lebih suka daripada ngeliat film2 kartun .. rasanya seneng ngeliat cowo2 macho .. padahal waktu itu aku inget banget masih umur 5 tahun lo …..
Jadi, selama masih dalam batasan wajar aja sih ga papa kok …

Regards,

Mara H

Eh, Hermin juga ngasih response ternyata…

Nes, si Lala udah gadis ya,..hi..hi..

Emang unik ya anak itu, aku sih nggak tahu gimana rasanya punya anak perempuan, he..he..

Kalo anakku yg nomor satu malah kebanyakan temen ceweknya . Soalnya setiap cerita di sekolah pasti temen maennya itu perempuan. Dan ada ortu temennya anakku yg bilang, kalo pas anakku mudik kemarin waktu neneknya meninggal, anaknya dia (perempuan), dia bilang kesepian, nggak ada temen yg bisa diajak main, soalnya anakku nggak ada katanya,..anakku pernah bilang suka sama Suzu chan (temennya nobita di film Doraemon). Tapi karena emang jarang anakku liat filmnya ya jadinya nggak terlalu mengkhawatirkan.

Ya malah aku sempet khawatir sih kenapa anakku kok sukanya main sama temen cewek, tapi lama-lama ada juga di ceritanya yg nama temennya diakhiri kun (panggilan untuk cowok). Terus terang awalnya aku nggak begitu hapal nama-nama temennya soalnya nama jepang kayaknya nggak signifikan terlihat apakah cewek atau cowok kecuali diakhiri chan (perempuan) atau kun(laki-laki).

Nes, selamat menikmati aja ya,.. hi,..hi.. bakalan cepet punya mantu tuh,..ha,..ha..ha..

Rgds
Hermin

Lantas Mbak Diana Mochamad dari Minneapolis:

Saya setuju banget dengan Mom Sofie. Kayaknya kita gak perlu khawatir deh, wong mrk belom ngerti apa2, bahkan preadolescent aja belom…
he..he..he. Anak saya cowok, Mersala, juga ada temen cewek yg sering dia sebut2, klo pinjem istilah dia “my girl pal”. Kapan itu dia bilang si Samantha yg cute, terus Kristie… ganti lagi Caitlyn. Terus khan dia punya 2 sahabat deket cowok dan mrk bikin three musketeers, dia bilang yg jadi princess-nya si McKella. Eh, akhir2 ini ceritanya ganti ke temen cewek yg lain namanya Alaina.

Tiap pulang sekolah duduknya berduaan di bis…he..he..he. Sebetulnya anak saya duduknya bareng si Bryan, cuman krn Bryan ini turun duluan, akhirnya anak saya yg duduk sendirian disamperin sama Alaina yg nemenin dia terus sampe waktunya anak saya turun (kebetulan Alaina ini turunnya paling akhir). Udah gitu, klo Mersala turun, Alaina ini pasti ikut2an menyapa saya dan say bye-bye gitu lho… ha..ha..ha. Mersala bilang, Alaina anaknya lucu, seneng cerita2 sepanjang jalan, dan seneng bikin tebak2an, pokoknya anaknya rame.

Dulu pernah Mersala jatuh di sekolah sampe pelipis-nya robek, besoknya waktu udah masuk sekolah dan saya yg anterin, begitu masuk kelas, temen2 ceweknya langsung merubung dia utk ngasih consolation… sementara anak saya udah gerah digituin dan pengen langsung main sama yg cowok2…. he..he..he.

Dari omong2 sama gurunya, anak saya termasuk penganut “lady first”… klo cuci tangan dia ngeduluin temen ceweknya, klo naik bis dia ngeduluin temen ceweknya, pokoknya klo dia tau di belakangnya ada cewek, dia ngasih tempatnya ke cewek tadi. Mungkin jadinya mrk seneng krn ada temen cowok yg nice gitu kali yah… jangan2 lantaran itu dia kepilih jadi “The Gentleman of the United States” di kelasnya.

Seperti halnya Mom Wanda, tiap saya dateng ke kelas, ada aja anak cewek yg nanyain ini-itu, ini-nya Mersala bagus banget, ini-nya Mersala beli di mana, Mersala pernah liburan ke situ yah, pernah ke sini yah… adaaaa aja yg mrk tanyakan…. cuman bedanya klo Mom Wanda yg ngomong ortunya, klo saya justru si anak langsung. Jadi inget si Doel yah Mom Wanda… cowoknya cool aja tp banyak yg naksir… ha..ha..ha.

Wassalam,
Diana Mochamad
Minneapolis, MN

Wah mbak Monica Oemardi juga kasih komen nih…

Dear Mom Agnes and moms yg lain yg lagi ribet mikirin masalah anaknya yg “mulai jatuh cinta”…

Masalah ini pernah terjadi sama Joshua waktu dia umur 5 thn.

Dia bilang dia punya Girl Friend di sekolah,bahkan dia tanya “May i kiss her?”
Wadouh,waktu itu aku bingung juga jawabnya…trus aku tanya “Why do you want to kiss her?”
Jawaban Joshua makin bikin aku panik “Because i love her”….
Sejenak aku terdiam dan berpikir keras harus kasih tanggapan apa.
Trus aku tanya lagi “You mean,you like her?”
Eeeeh dia jawab gini “No Mama,i love her,like you lave Daddy”
Wadouh (lagi)…tambah panik aja aku…
Trus aku bilang “There is nothing wrong with love…you have to love your friends because God love all of us. But you don’t have to kiss her just because you love her. Just be good to her. Okay?”

Joshua diem sejenak seperti ga puas dgn jawaban aku,sementara aku pura2 tenang padahal sibuk berharap agar dia ga nanya2 lagi,he he…
Akhirnya dia bilang “Okay.maybe i better kiss you”
Huaaaah,lega bgt aku !!!

Tapi sejak itu,tiap kali ketemu Joshua (kita cuma ktemu 3 atau 4 bulan sekali karena dia tinggal di Brunei sama Papanya),dia selalu cerita tentang “Girl Friend” yg beda. Sekarang cerita tentang Michelle,lain waktu cerita tentang Leony dst.
So aku simpulkan,cewek2 itu hanya teman dekat Joshua di sekolah,yg kbetulan cantik,menyenangkan dan ga cengeng kalo diganggu temen2 cowonya.

Jadi,kita ga perlu khawatir…
Anak2 kita hanya menemukan figur teman yg menyenangkan aja,mereka belum bisa membedakan “girl Friend” sebagai teman atau sebagai pacar. Mereka hanya ngikutin istilah yg lagi trend di sekolah aja.
Dulu juga kita gitu kan?
Cuma bedanya,anak2 sekarang emang lebih cepat perkembangannya ketimbang kita. Karena TV sekarang juga udah aneh2 aja isinya…

Semoga membantu…
Monique


Aku dan WRMom

Filed under Sharing Teman

WRMom memang kreatif. Bulan Februari kemarin, mereka mengadakan kontes pemilihan email paling menarik dan kreatif, dalam rangka ulang tahunnya yang pertama. Tujuannya tentu saja supaya WRMom dapat input dari mommies, mommiesnya juga terlibat aktif dan supaya kegiatan WRMom semakin beragam. Aku ikut-ikutan jadi peserta, ya meramaikan suasana lah walaupun tak menang. Selain memang aku hobi curhat, aku juga menulisnya sebagai bentuk trimakasihku sama WRMom.

Catatan Juri:
Bagaimana tidak diberi penghargaan paling semangat dan supportive. EmailAku dan WRMom dari Mom Agnes yang berada jauh di Groningen, Belanda iniadalah email pertama yang masuk ke inbox juri. Beberapa email dari memberWRM di luar negeri juga mendapat penghargaan sama. Sebab, meskipun sadar tidak mungkin mendapatkan hadiah (karena hadiah hanya untuk member dalam negeri), tapi mereka tetap menunjukkan kecintaannya pada milis, dengan berpartisipasi pada Email Kontes WRM 2005, dan memberi masukan yang berarti buat WRM. Terimakasih Moms semua. Semoga keberadaan WRM dapat menjadi pengobat rindu Mommies pada tanah air.

Beberapa waktu lalu, aku pernah mendapat komentar dari seorang teman lelaki tentang WRMom. Ceritanya, teman laki-lakiku itu mendapat kabar tentang WRMom dari sahabat wanitanya. Lalu dia kirim email sama aku. Dia bilang begini “Kemarin, saya ditunjukkan oleh teman saya tentang situs Web ibu-ibu itu (WRMom). Wuih, ada saja ya yang mengurus hal-hal seperti itu, sampai serius jadi situs Web. :-)” begitu katanya. Walaupun sambil bercanda, tapi kalimat itu menunjukkan keheranannya kan. Ya maklumlah, kalau para lelaki kan di milisnya selalu membahas masalah yang serius dan canggih-canggih . Makanya dia bingung kali, koq ada gitu lho milis yang bisa membahas mulai dari gosip makanan, daerah ‘V’, sampai ilmu ‘peranakan’ he he.

Lalu, aku jawab begini “Eh, jangan salah lho mas, justru aku tuh bersyukur banget ada milis kaya WRMom, aku serasa menemukan duniaku. Aku jadi nggak kuper, dan banyak dapat info-info terbaru tentang duniaku, baik dari milis maupun dari homepagenya. Aku juga jadi punya tempat untuk menyalurkan hobi menulisku, dan yang lebih penting, aku nggak merasa sendirian lagi, aku merasa jadi punya banyak teman.”

Merasa sendirian? Apa iya? Suer deh :-), soalnya, waktu aku dateng ke Groningen ini pertama kali dulu, aku seriing banget merasa lonely. Teman ibu-ibu yang sama-sama punya anak cuma beberapa, itupun minat dan kesukaannya beda. Belum lagi masalah cuaca yang bikin males keluar rumah. Memang nggak ada waktu juga sih buat sowan ke rumah-rumah temen. Soalnya ngurus 2 orang balita berikut 1 anak berkumis (suami maksudnya he he), kan cukup menguras waktu juga, mana sama sekali nggak ada yang bantu lagi. Alhasil, itulah yang aku rasakan dulu, lonely and kuper, kayak katak dalam tempurung deh pokoknya :-).

Jadi aku betul-betul bersyukur banget ketemu sama WRMom. Ternyata aku punya banyak teman senasib yang ketertarikan dan obrolannya nyambung sama yang aku suka. Aku jadi merasa nyaman dan nggak feel lonely lagi. Sebetulnya aku juga ikut milis-milis lain sih, tapi kayaknya nggak senyaman dan se-feel at home bersama WRMom deh. Pokoknya, thanks banget buat WRMom yang telah membuat diriku jadi nggak kuper dan nggak kesepian lagi. Oh ya, big thanks juga buat Hermin yang telah memperkenalkan aku sama WRMom…

Memang sih, jujur aja, aku nggak terlalu aktif di milis, cuma sekali-kali aja nongolnya. Tapi setiap buka email, milis WRMom nggak pernah lupa aku baca lho. He he, mau jujur lagi nih (sambil wajah agak-agak malu). Kadang saking banyaknya email yang aku terima, nggak semua email itu aku baca. Aku cuma baca judul-judul yang menarik buatku aja, kalo nggak menarik ya aku lewat. Sory ya WRMom, bukan apa-apa, kan ‘time is money’ ceile :-).

Jadi, begitulah, aku biasanya lebih tertarik baca-baca email yang berhubungan dengan kesehatan, parenting,renungan-renungan, tentang cerita para suami dan cerita mommies di luar negeri. Itupun kalau temanya sudah pernah dibahas atau sudah lewat dari rasa keingintahuanku, ya aku lewat juga deh…:-)

Oh iya, aku paling suka waktu milis lagi rame membahas tentang ’semesra apa sama suami’ itu. Sewaktu baca sharing mommies yang suaminya nggak romantis, bahkan bilang ‘I love you’ aja susahnya minta ampun, aku jadi tambah bersyukuuur banget dikasih suami kaya suamiku. Terus, walaupun suamiku menurutku sudah romantis, tapi dia panas lho waktu aku ceritain share mommies lain yang suaminya lebih romantis. Akhirnya sekarang dia jadi lebih kreatif lagi cari cara buat romantis-romantisan he he. Wah tambah seneng aja aku jadinya :-).

Karena itu aku pingin kasih masukan buat WRMom. Anggota WRMom boleh banget jadi buanyak. Tapi jumlah yang posting ke milis WRMom setiap hari kalau bisa sih cukup kaya sekarang aja :-). Soalnya kalau kebanyakan juga mumet dan jadi nggak fokus. Tapi gimana caranya ya? Bingung juga he he. Mungkin salah satunya dengan cara nggak ngomongin topik yang sudah pernah dibahas.Program rangkuman yang sudah dibuat itu bagus banget kalau bisa jalan dengan baik. Lebih bagus lagi kalau hasil rangkuman itu dimuat di website juga. Supaya nggak ada lagi mommies yang posting email dengan pertanyaan yang sama. Oya mungkin reminder dari moderator untuk nggak mengulang topik yang sudah pernah dibahas juga perlu deh. Disitu moderator bisa sekalian ngasih tahu bahwa masalah itu sudah pernah dibahas dan bisa dibaca di web. Lebih efektif kan jadinya, biar mommies nggak bosen juga kali yaa:-).

Pokoknya deep in my heart, cie :-), aku nggak mau WRMom nantinya jadi kaya milis tetangga (milis para ibu juga), yang setiap hari emailnya bisa ratusan itu lho. Rasanya koq jadi malah menuh-menuhin mailbox aja. Hubungan juga jadi kurang hangat, dan jadi kurang tahu sesama anggotanya gitu. Ya ini sih pendapat pribadi, boleh-boleh aja kan…:-)

Oh ya, aku juga pernah punya uneg-eneg sama moderator WRMom. Dulu waktu aku pertama kali memperkenalkan diri, nggak ada moderator yang sapa aku lho. Untung ada mommies lain yang sapa, jadinya aku merasa diterimalah. Coba kalo enggak, pasti aku pundung deh dan nggak mau kirim-kirim email lagi he he. Mungkin waktu itu moderator lagi sibuk kali ya. Tapi beneran lho, kalo ada moms yang baru pertama kali gabung trus nggak ada yang bales, pasti bete deh. Ya sama lah kayak kita misalnya masuk ke sebuah acara, terus sama tuan rumah nggak disapa, bete kan jadinya :-). So… mudah-mudahan nantinya moderator WRMom nggak pernah lupa lagi menyapa anggota barunya.

Tapi uneg-uneg ku cuma itu aja koq, yang lainnya oke. Aku juga kasih acung jempol buat kegiatan sosialnya WRMom dan motonya. “Together We Care”, wuih…keren abis deh… betul-betul nunjukin bahwa ibu-ibu tuh bisanya nggak cuma ngurus rumah, anak dan suami lho, tapi bisa juga berbuat sesuatu bagi sesama. Pokoknya untuk yang ini kalau bisa WRMom harus tetap melanjutkan dan mengembangkannya. Nanti pasti bakal lebih banyak lagi yang kasih jempol, sampe jempol kaki juga ikut diacungin kali, saking ga cukupnya he he.

Eh,hampir lupa, WRMom kan baru ulang tahun yang pertama. Hebat deh, baru ulangtahun pertama peminatnya sudah berjibun :-). “Selamat ulang tahun WRMom…” semoga tambah cantik, tambah sukses dan semakin banyak memberi manfaat buat mommies semua…

Dari Agnes di Groningen


Dokter Lusy

Filed under Sharing Teman

Pukul 3 sore tadi, aku ada janji bertemu dengan dokter Lusy di VnD Grote Markt. Dokter ini berasal dari Indonesia. Ceritanya, Prof John dan istrinya- Ellen- (Prof nya ayah dan istrinya yang sangat baik hati itu), berusaha membantuku supaya aku tak jenuh berada disini. Jadi selain aku diajak ikut serta dalam connect club, mereka juga ternyata berusaha mempertemukan aku dengan dokter-dokter disini. Sebelumnya, John memperkenalkan aku dengan seorang Prof yang bekerja di bagian Pediatric di Rumah sakit. John bilang, “cobalah minta advice sama beliau, apa aja yang bisa kau lakukan disini sehubungan dengan profesimu”. Aku segera menulis email kepadanya. Tapi ya tak dijawab. Menurut John sih, Prof itu tak pernah sempat baca email, jadi aku disuruh membuat janji bertemu dengannya lewat sekretarisnya. Prof juga memberikan nomor teleponnya kepada ayah. Tapi, ya nantilah kalau ayah sudah tak sibuk.

Nah, cerita dokter Lusy lain lagi. Ceritanya, John berkenalan dengan dokter Lusy di sebuah konser, sedangkan Ellen tahu Lusy dari teman Jermannya. Akhirnya, aku diberi alamat email dokter Lusy oleh Ellen, dan aku disuruhnya mengontak dia. Lantas, aku mengirimkan email yang berisi tentang perkenalan dan meminta advice. Aku pikir dia adalah seorang dokter yang sudah lama tinggal disini dan bekerja disini. Dia meminta supaya kami bertemu saja di VnD. Setelah bertemu… Eh… ternyata… dunia memang hanya sedaun kelor :-)

Aku betul-betul surprise tadi. “Ya ampun! Mbak Lusy… Mbak kan dokter yang dulu sering ngasih bimbingan ke aku waktu aku coass di RS Hasan Sadikin dulu.” Aku sangat terkejut, karena sebelumnya aku membayangkan dia seorang warga keturunan yang sudah lama tinggal dan bekerja di Belanda. Eh tak tahunya… dulu sudah sering bertemu di Unpad, dan ternyata malah aku duluan yang tinggal disini. Dia baru datang bulan September tahun 2004 kemarin. Hi hi, tertawalah kami bersama. Memang sih dia tak hapal dengan wajahku, maklum, coass kan buanyak. Tapi yang jelas, aku hapal betul bahwa dia dokter yang sedang mengambil spesialisasi di bagian anak sewaktu aku sedang co-asisten dulu. Yah…ternyata…:-)

Lalu kami membeli sedikit makanan dan minuman di cafe VnD sambil mengobrol. Di sebelah kami duduklah seorang mevrouw bersama cucunya. Eh, ndilalah koq, suaminya orang Indonesia.

“Je kom uit Indonesia?”

“Oh … ya..”

“My man is Indonesie…”

Nah nongol tuh si meneer. Ya, Indonesia bener he he. Namanya meneer Damyk. Mereka keluarga dari Roden, sudah puluhan tahun menetap di Belanda. Wah, mbak Lusy ngomong belandanya pinter tenan euy…

Ya, dengan ngobrol campur-campur antara mevrouw dan meneer, aku dan mbak Lusy tetep mencoba saling bicara juga. Ternyata, mbak lusy sedang mengambil subspesialisasi di bidang Neonatologi selama 1 tahun. Dia bercerita betapa keteterannya dia mengikuti proses belajar disini. Padahal kan seingatku mbak Lusy dulu terkenal smart. Mbak Lusy bekerja seperti biasa, menangani pasien dari awal sampai akhir. Problem utamanya adalah bahasa. Selain itu, ilmu di Indonesia juga tertinggal beberapa langkah dengan disini. Jadi, kesulitan terjadi karena dia harus mencerna bahasa Belandanya dulu “orang ini ngomong apa nih..” Lantas informasi itu harus dia match kan dengan ilmu yang dia tahu. Nah karena mereka sudah berpikir lebih jauh, jadilah dia harus meraba-raba tentang ilmu yang sudah lebih jauh itu.

Contohnya, misal pada kasus Hiperbilirubinemi. Kalau di Indonesia kan, dokter tinggal berpikir fisiologis atau patologis nih. Kalau patologis ya tinggal fototherapi atau exchange transfution. Kalau bilirubin tetap tinggi juga, pemeriksaan terakhir paling enzim G6PD. Nah kalau disini, bayi baru lahir itu langsung mendapatkan pemeriksaan lengkap. Jadi ketika ada bayi kuning, mereka sudah berpikir jauh kedepan sampai-sampai ke pemeriksaan metabolit. “Kita baru bikin diagnosa banding 6, mereka udah 10″ begitu kata mbak Lusy. “Mungkin masalah biaya mbak, di Indo kan nggak ada uang buat periksa” tanyaku. Tapi menurut mbak Lusy, bukan masalah biaya saja, tapi pemeriksaan laborium untuk metabolitnya sendiri malah belum ada. Ooo begitu to…

Setelah itu, kami sempat berjalan-jalan di Herestraat, tapi karena sudah jam 5 lewat, toko-toko sudah sebagian tutup. Mbak Lusy bercerita lagi tentang pengalamannya selama berada disini. Menurutnya, kasus neonatologi terbanyak di sini adalah kasus prematur. Sedangkan di Indonesia, prematur menempati urutan ketiga, yang terbanyak adalah infeksi. Sehubungan dengan infeksi, aku bertanya tentang antibiotik. Dia sepakat bahwa dokter di Indonesia memang terkadang berlebihan dalam pemberian antibiotik. Tapi, kondisi lingkungan juga berbeda. Di Indonesia, selain lingkungan nya kotor, humidity nya juga tinggi, sehingga lebih memungkinkan bagi bakteri untuk hidup. Ooo lagi deh aku :-)

Oya, waktu kami di C n A tadi, ada seorang wanita muda sedikit tua dengan dandanan agak heboh menyapa kami. Logat bicaranya pun sudah belanda tenan lah :-)

“Dari Indonesia ya?”

“Iya, sama ya mbak?”

“Ya orangtua saya tinggal di Tangerang, mereka sering minta saya untuk pulang. Maar (tapi) saya tidak mau. Saya mau selamanya tinggal disini. Tinggal disini lebih enak. Saya dapat uang tanpa harus bekerja.”

“Oya mbak? Suaminya orang sini ya mbak, dapat berapa memangnya mbak?”

“1600 euro. Kalau di Indonesia, janda seperti saya ini malah jadi bahan omongan toh. Dulu suami saya orang Belanda. Saya punya 2 anak mau dikasih makan apa kalau tinggal di Indonesia?. Disini uang segitu bisa saya pakai buat kirim ke Indonesia, bisa buat vacansi, lebih enak tinggal disini toh.”

Lalu datang seorang pria menghampiri.

“Ini pacar saya (sambil senyum-senyum malu), dia bukan orang sini, tapi sudah bekerja. Saya juga dimarah-marah sama orangtua saya di Indonesia karena punya pacar. Maar ini Eropa bukan Asia. Di Eropa orang boleh kumpul kebo. Ha ha maar… saya nggak kumpul kebo lho.” dia terus saja bercerosos sambil ketawa-ketawa. He he, seru juga, hiburan deh ketemu si mbak ganjen ini hi hi.

Wah lumayan great time juga kencan bareng mbak Lusy tadi. Dia aku ajak untuk datang ke pengajian deGromiest dan mampir ke rumahku. “Aku suguhin siomay dan bakso deh mbak, kangen kan sama masakan Indo…” He he oke-oke… kapan-kapan dia mau main katanya. Ditunggu ya mbak…


Pembantu oh Pembantu

Filed under Sharing Teman

Thanks to Hermin, yang kerap mengajakku berdiskusi tentang banyak hal. Semua selalu membuatku berpikir lagi, serta memantapkan lagi, pilihan apa yang akan kuambil dari setiap masalah yang muncul. Semalam Hermin bertanya tentang pembantu. Setelah pulang ke Indonesia, apakah aku akan mengambil jasa pembantu? Bukankah anak akan lebih menghargai orangtua yang tanpa pembantu? Anak juga bisa jadi lebih mandiri, keluarga pun jadi lebih solid karena tak ada orang ketiga?. Belum lagi berita-berita di media sekarang tentang kelakuan pembantu di Indonesia yang menyeramkan, entah mencuri, atau ‘menggarap’ anak majikan, hii mengerikan sekali kan. Oya, ada juga yang berpendapat bahwa memakai jasa pembantu itu tidak manusiawi karena gaji pembantu di Indonesia yang teramat murah. Wah pokoknya beragam pendapat tentang pembantu muncul saat diskusi itu.

Dulu, aku pernah mendiskusikan hal ini dengan suamiku. Sempat terbersit keinginan untuk tidak memiliki pembantu seperti sekarang. Tapi suamiku tak sepakat,” Punya pembantu atau tidak, masing-masing pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Setiap orang tentunya punya kondisi yang berbeda, nggak bisa dipukul rata harus punya atau harus nggak punya. Untuk keluarga kita, realistis ma, di Indonesia kita tetap perlu pembantu”, begitu katanya. Akhirnya aku sepakat. Mengapa ??

Alasan mendasar dari pertanyaan tersebut adalah, keluarga kami telah sepakat ingin menciptakan keluarga yang spiritual. Ya memang baru sebatas keinginan, dan tentu saja tak mudah. Tapi, kami memimpikan hal itu. Mudah-mudahan saja bisa tercapai, namanya juga usaha, mimpi dulu boleh lah ya :-). Dalam konsep keluarga spiritual, (dari beberapa sumber yang kami yakini-baik buku maupun pemikiran orang lain), yang menjadi penting adalah keseimbangan. Masalah dan keinginan akan selalu ada, ekonomi, karir, anak-anak, suami, rutinitas, dan lain-lain. Tapi bagaimana kita mengelola semua itu sehingga tetap bisa berjalan seimbang, itulah yang utama. Cara nya tak bisa tidak, pendelegasian tugas!. Entah kepada benda ataupun manusia.

Hidup di luar negeri seperti ini memang tidak memungkinkan untuk punya pembantu. Tapi, sistem disini pun sangat mendukung, segalanya dibuat mudah. Semua peralatan rumah tangga pun serba praktis, rumah juga kecil-kecil ukurannya. Jadi, hidup tanpa pembantu cenderung lebih mudah di negeri ini. Pendelegasian tugas di negeri ini boleh dikatakan dilimpahkan pada benda.

Di Indonesia apa kabar? Sebetulnya sah-sah dan bisa asyik-asyik saja tinggal di Indonesia tanpa pembantu. Itu semua tergantung pilihan. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. Tapi kami memilih untuk tetap mendelegasikan tugas pada pembantu, karena kami merasa hidup ketika itu akan berubah. Aku butuh aktualisasi diri, demikian pula suamiku. Selain itu, kami menjadikan kualitas hubungan keluarga sebagai prioritas. Disini, kami mengalami, terkadang waktu habis tersita untuk mengurus rumah. Padahal, alangkah lebih baik kalau waktu itu dipakai untuk menstimulasi anak atau membuat acara keluarga yang mengasyikkan.

Jadi, pembantu, why not? Dalam hal ini aku sepakat dengan mbak Eva, pembantu untuk urusan rumah tangga oke, tapi sama sekali tidak untuk pengasuhan anak. Aku juga menganjurkan orangtua lain untuk tetap bertanggung jawab sendiri dalam hal pengasuhan anak. Aku termasuk orang yang tidak setuju dengan orangtua yang melimpahkan pengasuhan anak kepada pembantu atau baby sitter. Sebetulnya, ada beberapa sumber yang mengatakan, “kalau pembantu nya diajari tentang pengasuhan anak dan bisa, kenapa tidak?” Mmm… walalupun begitu, aku rasanya tetap memilih untuk tak mau ambil resiko dalam urusan anak. Bagaimanapun tangan orangtua adalah tangan terbaik untuk pengasuhan. Tapi orangtua yang bertanggung jawab lho, bukan orangtua yang malah suka nyiksa anaknya :-). Kalaupun terpaksa, nenek-kakek bolehlah dijadikan pilihan untuk partner dalam pengasuhan anak. Tapi, itupun sebaiknya tetap harus disertai pesan-pesan sponsor. Kalau yang ini sih pengalaman pribadi waktu di Bandung dulu hehe…


Anak dan Identitas Muslim part 2

Filed under Sharing Teman

Hmm… masalah ini rumit juga. Aku kembali tergugah akibat pembicaraan dengan seorang ibu asal Indonesia yang bersuamikan bule Belanda. Aku bertemu dengan mereka ketika sedang bermain ice skating di Grote Mark. Mereka mempunyai seorang anak wanita, cantik, berusia 9 tahun. Ibunya mengeluh padaku “Susah ya anak sekarang, apalagi di Belanda sini. Anakku itu, baru 9 tahun tapi udah mulai kenal-kenal cowoq deh, udah mulai puber. Tiap pagi temen-temen perempuannya nelpon, eh mau pake baju apa nih hari ini? Sekarang sih winter masih mau pake baju tutup-tutupan, coba kalo summer, huh maunya yang serba keliatan. Pusing kan saya jadinya, was-was gitu lo.”

Nah lo! Tak mudah ternyata. Sekarang anak-anakku masih balita, masih bisa diatur. Kalau mereka beranjak ABG nanti, bagaimana? Kalau tiba-tiba Lala ingin seperti teman-temannya pakai baju seksi gimana? Aku kembali mendiskusikan anak dan identitas muslim ini dengan ayah. Menurut ayah, yang penting adalah komunikasi, dialog. Lalu ayah menjadi berpikir, barangkali, penanaman identitas muslim, kebanggaan menjadi muslim memang perlu ketika mendidik anak di luar negeri, agar mereka tak mudah tergoda dan punya prinsip. Aku kembali tercenung, betulkah demikian? Bukankah sebelumnya kami sudah sepakat, identitas muslim memang perlu tapi bukan yang utama. Menurut kami yang perlu untuk usia anak adalah menanamkan akhlak Islam dan mengenalkan keuniversalan Islam. Betulkah penanaman identitas itu demikian penting? Mm untungnya, aku tak sengaja chatting dengan mbak Eva dan membahas masalah ini berjam-jam. Inilah kesimpulan yang aku dan suamiku ambil akhirnya….

Setelah diskusi panjang dengan suamiku di meja makan, kami justru kebingungan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami buat sendiri. Bagaimana jika si anak bertanya tentang masalah perbedaan agama? Apa yang akan kami jawab? Jawaban seperti apa yang bisa membuat anak tetap yakin dengan pilihannya, namun juga bisa bijak memandang orang lain, tidak menyalah benarkan orang lain?

Dari hasil sekian jam chatting dengan mbak Eva, dan kemudian aku diskusikan lagi dengan suamiku, akhirnya kami sepakat dengan konsep mbak Eva. Tidak perlu mengajarkan pada anak tentang kebanggaan, karena khawatir yang terjadi adalah anak merasa sok jago dan tidak menghargai orang lain. Tapi yang penting adalah perilaku Islam, akhlak Islam. Lalu bagaimana agar anak mantap dengan pilihannya, tidak tergoda ketika teman-teman mereka merayu untuk berbuat sesuatu diluar keyakinan? Ajarkan sejarah nabi, sejarah agama lewat dongeng, bagaimana kisah yang sesungguhnya. Tak lupa pula meyakinkan anak bahwa ada habluminallah dan habluminannas. Manusia tak berhak menilai orang lain, hanya Allah. Suamiku pun menambahkan,” jangan lupa, kita harus tanamkan konsep keakbaran Allah, sehingga ketika melihat perbedaan mereka tetap bisa menghargai yang lain. Mereka mantap dengan pilihannya karena telah mengetahui sejarah agama, sejarah nabi yang sesungguhnya. Tak lupa kita tanamkan juga akhlak Islam pada mereka, tauhid-kecintaan kepada Allah, mudah-mudahan dengan demikian mereka tetap terjaga”

Satu hal yang kami semua juga sepakat, manusia, orangtua hanya bisa berusaha, terutama dengan doa. Mudah-mudahan dengan semua upaya ini anak-anak kami bisa menjadi manusia yang dekat dengan Tuhannya dan selalu mendapat bimbingannya. Mudah-mudahan juga kami selalu dibimbing untuk menjadi orangtua yang sesuai dengan ridho Nya. Amin.


Aceh Masih Berduka

Filed under Sharing Teman

Ini tulisanku atas email Mbak Ida di milis We Are Mom (baca di sini: http://groups.yahoo.com/group/We_R_Mommies/message/5510)

To: We_R_Mommies@yahoogroups.com
From: “Agnes Tri Harjaningrum”
Date: Fri, 31 Dec 2004 14:59:26 -0800 (PST)
Subject: Re: [We_R_Mommies] ACEH MASIH BERDUKA
Dear mbak Ida n moms…

Hiks…hiks… rasanya perasaanku campur aduk membaca
cerita dan pengalaman mbak Ida. Sedih dan pedih sekali
membayangkan kondisi mereka. Apalagi membayangkan
kalau aku jadi mereka,musti kehilangan anak, saudara,
dan semuanya. Melihat kota porak poranda, mayat
bergelimpangan dimana-mana dan tak tau harus menatap
masa depan dengan apa. Duh tak sanggup, tak sanggup
aku Tuhan… Tapi buat mereka, semua itu nyata, bukan
hanya bayangan, bukan hanya mimpi. Entah sehancur apa
hati mereka…

Bingung, tak tau harus berbuat apa dengan kondisi
mereka yang seperti itu sekarang. Apalagi melihat
pemerintah yang lambat dan tetap mengijinkan acara
hura-hura tahun baru. Apa tak bisa mengerahkan pasukan
berikut armada untuk membantu mereka? Waktu perang
melawan GAM, koq rasanya pemerintah heboh mengirimkan
pasukan ya. Hmm…aku betul-betul tidak mengerti
urusan yang macam ini.

Saat ini, kami disini hanya bisa mengirimkan doa dan
berusaha mengumpulkan dana untuk dikirimkan pada
mereka, semoga bisa sampai ke tangan yang tepat, tanpa
dipotong dimana-mana. Tetapi, teman-teman disini
khawatir, bantuan yang banyak mengalir sekarang
‘hanya’ euphoria sesaat saja. Padahal untuk membangun
kembali Aceh, dan memulihkan kondisi masyarakatnya
butuh waktu tahunan, paling tidak 10 tahun kabarnya.
Jadi, teman-teman disini sedang berusaha untuk membuat
proposal dan semacamnya, agar pemerintah Belanda dan
masyarakat Belanda juga, terketuk hatinya dan bersedia
memberikan bantuan berkelanjutan untuk Aceh. Semoga
saja bisa berhasil dan bisa bermanfaat untuk mereka.

Bagiku pribadi, hikmah bencana sebesar ini membuatku
semakin bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang.
Mereka kehilangan semuanya,anak, suami, keluarga,
harta , benda dan entah apa lagi. Sedangkan aku, masih
diberi kesempatan untuk bersama dua orang buah
hatiku,dan suamiku tercinta. Hari-hari kemarin,
rutinitas yang ada membuatku kadang menganggap
kebersamaan dengan mereka merupakan hal yang biasa.
Tapi kini, aku tersadar, mereka begitu berharga,
mereka adalah anugrah yang tak terkira. Tak ingin lagi
rasanya kutinggalkan hari-hariku tanpa makna bersama
mereka. Tak ingin lagi kunodai hari-hariku dengan
rasa kesal dan amarah yang terkadang muncul pada
mereka. Semakin ingin rasanya memberikan yang terbaik
buat mereka. Semoga aku bisa…

Bagaimanapun, tangis, darah, dan airmata dari mereka
yang tertimpa bencana,telah sangat berjasa, membawa
untaian hikmah bagiku dan barangkali bagi banyak umat
manusia.

Thanks a lot buat sharingnya mbak Ida…

Wassalam hangat,

Agnes


Undangan Ke Rumah Prof. John Nerbonne

Filed under Sharing Teman, Tentang Belanda

Profesor John Neorbone –profesor yang membimbing Doctoral programnya ayah–mengundang kami untuk dinner for christmas. Sebetulnya undangan sudah diberikan sejak beberapa minggu yang lalu. Wah kami sangat tidak enak kalau sampai tidak datang, jadi ayah menyanggupi datang. Tapi dengan tidak mengurangi rasa hormat, ayah meminta supaya profesor menyediakan menu vegetarian food. Ya, itulah salah satu tips menerima undangan selama kami tinggal di negeri orang ini. Terbukti, makanan yang kami makan sejauh ini rasanya aman-aman saja, karena kami menghindari memakan daging di tempat undangan. Ternyata, dinner bersama ini menjadi pengalaman yang berkesan juga. Apalagi mereka baiiik sekali, sehingga kami merasa sangat nyaman berada disana.

Selengkapnya…


Kembali ke Sekolah Lokal?

Filed under Sharing Teman

Tulisanku berikut ini merupakan response terhadap artikel/tulisan yang dikirim ke milis We Are Mom oleh seorang teman. Tulisan aslinya bisa dibaca di Sini: Web Milis We Are Mom.

Date: Sun, 19 Dec 2004 09:11:30 -0800 (PST)
From: “Agnes Tri Harjaningrum”
Subject: Re: [We_R_Mommies] FW: [Baitnet] Kembali ke Sekolah Lokal
To: We_R_Mommies@yahoogroups.com

Tulisannya memang menarik. Tapi masalahnya mungkin tidak sesederhana itu ya. Masalah pendidikan di Indonesia itu teramat sangat kompleks. Kebetulan di tempatku ada yang lagi ngambil program Doktor bidang pendidikan. Dia bilang, sebelum menerapkan kurikulum yang akan dipakai di sekolah,pemerintah Belanda melakukan penelitian 20 tahun dulu sehingga akhirnya memakai kurikulum tersebut di sekolah2. Jadi, kalo ada program kerjasama antar guru dan ortu, wajar banget karena kurikulum bagus, kualitas guru oke, biaya untuk itu juga ada. Pemerintah memang concern dalam hal pendidikan.

Selengkapnya…


Aku lagi sakit. Suaraku hilang, batuk, badanku meriang. Aku yang masih belum stabil, ditambah sakit begini rasanya malah tambah nggak karu-karuan. Anak-anak bener-bener nggak keurus. Makan seadanya, nonton TV berjam-jam. Kalo lala sih bisa cuma 2 jam sehari, dia baik lagi, nurut. Lagipula sekolahnya kan sering sampe jam 3 sore. Malik nih, pusing aku. Kalo aku lagi normal, homy schoolnya bisa lancar, trus bisa aku temenin main-main. Tapi kalo lagi kaya gini…waduh mana tahan. Aku maunya depan komputeeer terus. Emang bener nih komputer bikin aku hidup. Bisa baca n nemu banyak hal. Semalem aku berjam-jam chating sama mbak Eva.

Wah asik ngobrol sama dia. Biasanya aku cuma ngobrol haha hi hi doang sama yang lain. Serius-serius paling sama Hermin. Nah nemu lagi nih yang baru. Karena dia lebih tua dari aku, usia perkawinannya juga udah lebih dari 10 tahun, pasti lebih banyak asem garemnya dong. Jadilah aku berguru padanya he he. Apalagi, mbak Eva itu editor Mizan, penerjemah buku juga. Wah cocok to. Aku langsung tanya-tanya seputar cara bikin buku.

Tapi dari obrolan panjang semalam, aku dapet sesuatu yang baru. Dia membuat aku berpikir tentang jati diri. Selama ini aku memang sedang mencari-cari. Tapi dia sudah menemukannya. Dia sudah tau apa konsep dirinya tentang wanita, bagaimana dia memandang wanita. Dia bilang aku harus punya dan mencari jati diri itu, sehingga ketika badai datang, aku tetap bisa kuat karena sudah punya konsep dari pencarianku.

Menurut dia, dia pendukung ‘emansipasi’. Kodrat wanita hanya 4, melahirkan, menyusui, haid dan nifas. Selebihnya perempuan dan laki-laki punya kebebasan yang sama. Wanita itu merdeka, punya kebebasan untuk memilih, tapi kebebasan yang sadar. Tau apa resiko dibalik pilihan yang diambil. Jadi buat dia, masak, beres-beres rumah itu bukan hanya pekerjaan perempuan, laki-laki juga bisa melakukannya.

Bagaimana denganku? Apakah aku sudah menemukannya? Ya mungkin aku memang masih mencari. Menurutku, wanita, seperti hal nya anak-anak adalah juga sosok yang unik dengan segala latar belakang kehidupan, kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Wanita berhak untuk menjadi dirinya sendiri. Dunia ini berwarna, begitu juga wanita. Ada yang senang di rumah, ada yang senang manjat-manjat, ada yang benci masak, ada yang senang cuap-cuap. Sah-sah saja toh. Kenapa harus dilarang, kenapa juga harus ada pembenaran untuk satu jenis wanita. Wanita berhak menjadi apa saja, sesuai dengan keunikan dirinya. Dengan menjadi dirinya itulah dia akan melakukan yang terbaik buat orang-orang disekelilingnya. Ya, baru itu yang rasanya aku temui, sesuai ‘Min konsep’ lah. Nanti mungkin seiring berjalannya waktu dan pencarianku, aku akan temukan lagi sampai aku yakin betul.

Habis chating itu, trus aku langsung buka situsnya http://www.mizanlc.com/ , bagus. Aku langsung tersemangati lagi untuk menulis buku. Walaupun belum kebayang seperti apa, tapi yang jelas, aku lagi semangat cari-cari ilmu menulis. Aku kirimi Hernowo email konsultasi. Aku kirimi agung dan Ika titipan-titipan buku yang mau aku beli. Aku minta info-info sama mbak Eva. Trus aku kirim email ke senaz minta bawain buku amanda. Aku juga kirim ke WRM tanya sharing jadi FTM di LN. Tapi ternyata mereka emang niat mau bikin buku seputar itu. Ya bagus lah, kali aja bisa jadi tambahan data. Tapi aku juga belum tau pasti mau nulis apa. Aku baru mau belajar nulis fiksi. Pasti Allah kasih jalan kalo ini emang udah jalanku. So… aku jalani lah apa yang ada di depan mataku sekarang. Satu hal yang terjadi sejak kemarin, aku tersemangati lagi untuk menulis buku!


Anak dan Identitas Muslim

Filed under Sharing Teman

Kemarin, aku dapat email dari Hermin, isinya beberapa komentar dari milis HS Fahima Jepang, tentang menjadi pendidik anak yang baik, yang Islami. Di situ, ada seorang bapak yang sedikit protes, mempertanyakan teori menjadi pendidik anak dari nara sumber yang dianggap terlalu teoritis. Prakteknya gimana? Kenyataannya tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan anak yang sangat kritis. Diantaranya, anaknya pernah hampir memukul seorang bayi bule, yang dititipkan kerumahnya karena merasa bahwa bayi itu bukan muslim. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan hal itu, tapi katanya pernah anaknya ikut “Qunut Nazilah” yang salah satu acaranya adalah menyaksikan betapa muslim itu banyak yang disiksa dan disakiti di perang Irak dan Afghanistan oleh kaum non muslim.So… tidak mudah kan mengajarkan berIslam pada anak. Pertanyaan selanjutnya dari Hermin adalah, bagaimana menanamkan identitas muslim pada anak, bukan menempelkannya. Sebetulnya aku sama suamiku sudah punya konsep sendiri dalam hal ini, tapi belum terformulasi dan tertulis dengan baik. Karena pertanyaan-pertanyaan itulah akhirnya kami berdiskusi dan akhirnya kami merasa akan menjalankan konsep yang telah kami pilih ini dalam mendidik anak-anak kami.

Sebelum usaha lahir dalam mendidik anak, tentu saja ada usaha bathin yang menurut kami lebih kuat pengaruhnya. Doa yan tak pernah putus dari orangtua sejak sebelum hamil, ketika hamil dan selama menjadi orangtua adalah bekal yang berharga buat langkah anak selanjutnya. Doa, supaya anak menjadi anak yang iman dan sholeh. Sholeh saja tidak cukup, tapi menjadi iman ini yang lebih penting.

Dari pertanyaan tadi, hal yang penting buat kami malah sebaliknya, bukan menanamkan atau menempelkannya yang menjadi permasalahan, tapi apa yang mau ditanamkan sesungguhnya. Apakah menanamkan identitas muslim itu suatu hal yang harus menjadi prioritas di usia anak yang masih polos dan suci itu? Lebih penting mana dengan menanamkan perilaku atau akhlak muslim?

Mendidik anak dari kecil itu ibarat menanam padi di sawah. Bila semua yang kita tanam adalah bibit terbaik, pupuk terbaik, disiangi dan dirawat dengan baik, ketika padi telah siap di panen, cap padi terbaik, pandan wangi misalnya, akan otomatis layak diberikan. Begitu pula dengan seorang anak, jika orangtua menanamkan kebaikan, perilaku Islami, akhlak Islami, saat usia ‘panen’ nanti, dengan sendirinya dia akan menjadi seorang Islam yang baik. Boleh dibilang, cap atau identitas itu akan muncul dengan sendirinya nanti, ketika masa panen tiba.

Apakah menanamkan identitas muslim ini bukan suatu hal yang crusial bagi seorang anak? Barangkali memang perlu tapi bukan yang utama. Dunia anak adalah dunia yang indah, polos, suci, tak mengenal perbedaan antar suku, ras, maupun agama. Mereka bisa bermain dengan siapa saja dan dimana saja tanpa mengenal semua cap atau identitas itu. Kenapa tidak kita ajarkan pada mereka keuniversalan Islam saja terlebih dulu, keAkbaran Allah saja dulu, betapa maha Pengasih, penyayangnya Allah, betapa maha baiknya Allah, dan betapa Islam itu mengajarkan perilaku yang mulia, kenapa bukan itu yang menjadi prioritas orangtua. Mengapa kita harus menodai kesucian mereka dengan menanamkan cap, label Islam terlebih dulu sehingga mereka merasa lebih, merasa berbeda dari anak-anak yang lain.

Mungkin akan timbul pertanyaan dalam benak orangtua “Bagaimana mungkin kita tidak menanamkan identitas muslim, kebanggaan menjadi muslim sejak dini pada anak, bagaimana jadinya mereka nanti, kalau mereka pindah ke agama lain gimana? Apa tak berdosa orangtuanya?”
Kembali kepada hal mendasar tadi, jika orangtua mengutamakan mendidik akhlak Islam, tanpa lebih dulu mementingkan Identitas Islam, di usia ‘panen’ nanti anak pasti akan paham dan bisa memilih, agama apa yang paling baik baginya. Anak akan memilih dengan sadar, bukannya dogmatis belaka. Menjadi seorang muslim adalah sebuah proses yang panjang, bukan sim salabim dan tak pernah berhenti sampai seorang manusia mati.

Lalu bagaimana menghadapi stress dari luar, perayaan umat suci agama lain yang menghebohkan dan disukai anak-anak misalnya. Pengalaman anak kami bisa dijadikan contoh. Di sekolah mereka diajarkan lagu-lagu natal, mereka diberi hadiah oleh sinterklas dan zwartepit. Mereka senang, mereka gembira, karena begitulah dunia anak. Kami berusaha untuk tidak melarang mereka ketika mereka sedang bergembira. Reaksi negatif dikala mereka senang kadang akan menimbulkan efek buruk dikemudian hari. Kami berusaha untuk mengajarkan keAkbaran Allah pada mereka, melihat orang di luar agama Islam sebagai salah satu bukti betapa Akbarnya Allah. “Lala dan Malik beragama Islam, tempat ibadahnya di mesjid, ada hari raya lebaran dan lain-lain, begitu juga teman-teman mereka beragama lain,” dan sterusnya dengan berusaha untuk sama sekali tidak menyentuh perbedaan itu.

Keuniversalan Islam, indahnya Islam, rahmatan lilalaminnya Islam, akhlak mulianya Islam, itulah yang ingin kami tanamkan pada anak kami, sesuai dengan dunia mereka yang indah. Di usia ‘panen’nya nanti, kami berharap mereka akan menjadi orang Islam yang sesungguhnya, memilih dengan sadar kenapa menjadi orang Islam.

Date: Tue, 14 Dec 2004 09:07:57 -0800 (PST)
From: “Agnes Tri Harjaningrum”
Subject: Re: Tentang pendidikan anak

Wah seru juga ya diskusinya. Aku juga kemudian merenungkan kembali dan memformulasikan kembali sama suamiku, model seperti apa yang akan aku terapkan sama anak-anakku dalam berIslam.

Sebelum semua usaha lahir, yang teramat penting buatku tentu aja usaha batin. Doa yang tak pernah putus dari orangtua agar anaknya menjadi anak yang iman dan sholeh,(bukan hanya sholeh tapi juga iman). Inilah yang aku percaya akan selalu menjaga mereka ketika godaan itu datang nantinya.

Pertanyaan hermin yang di YM kemarin menarik buatku, “bagaimana menanamkan identitas muslim pada anak bukan hanya menempelkan identitas muslim”. Kalau buatku, yang menjadi permasalahan bukanlah di menanamkan atau menempelkan, tapi apa yang harus ditanamkan. Betulkah menanamkan identitas muslim itu menjadi suatu hal yang teramat penting, kenapa bukan perilaku (akhlak) Islam yang menjadi prioritas utama. Bukankah Rosulullah pun diutus untuk merubah akhlak umat?

Ibarat menanam padi, bila kita menanam bibit yang terbaik, merawatnay dengan baik, setelah panen, cap padi pandan wangi akan otomatis melekat pada padi itu mengingat kualitasnya yang memang baik. Begitu juga dengan seorang anak, ketika kita mengajarkan akhlak, perilaku Islam, setelah usia ‘panen’, pasti si anak otomatis akan menjadi orang Islam yang baik, bukan hanya Islam sebagai identitas belaka.

Kalo teknis mengajarkan akhlak Islam, aku juga ga tau banyak bagaimana dulu jaman rosul, yang jelas, yang aku tau, menurut para ahli jaman sekarang, memberikan sesuatu apapun pada anak, kalau mau nerap harus dengan menyenangkan, sistem limbik harus terbuka, supaya apa yang kita ajarkan langsung diterjemahkan oleh sel2 syaraf otak. Contohnya seperti yang aku cerita sama hermin tentang sholat itu, digedor-gedor tiap pagi suruh sholat subuh, yang timbul image negatif, setelah besar orangtuanya malah dibunuh dengan alasan karena sering digedor buat sholat waktu lagi enak-enak tidur.

Satu hal lagi mungkin, kita nggak bisa dogmatis kali ya,misal kenapa kamu harus jujur? Karena Allah sayang sama orang yang jujur, kalo nggak jujur masuk neraka, Allah nggak suka. Aku betul-betul berusaha menghindari image negatif tentang Allah sama anak, kalo bisa semua pake kalimat positif, susah memang, tp yang penting usaha kali ya :-). Lalu menerangkan jujurnya ga cuma sebatas karena ada Allah, tapi pake empati juga, kalo kamu jadi orang yang dibohongin gimana, kasih kasus, enak nggak dibohongin, enggak kan, orang lain juga begitu. Aku pernah kasih kasus seperti ini ke lala dan kayanya lebih nerap ke dia dibanding kita cuma kasih tau, bahwa Allah suka sama anak yang jujur. Ya kalo sekali2 anak melanggar, wajar aja kali ya, itu pasti bagian dari proses belajar dia juga.

Kalo masalah konsep beragama Islam, aku mungkin memang punya konsep yang sedikit beda. Soalnya, menurutku dunia anak itu indah, polos, suci, tak mengenal perbedaan ras, suku maupun agama. Kalaupun kita kasih tau bahwa kita berbeda, tetap untuk saling menghargai, bahwa perbedaan itu rahmat, indah. Kita Orangtuanya inilah yang seringkali kemudian menodai dan tidak menghargai dunia mereka. Ketika dari kecil menanamkan cap/identitas menjadi prioritas,ditambah dengan membanding-bandingkan dengan agama lain,memberikan hal-hal yang negatif terhadap agama lain, mengenalkan perbedaan secara nyata, ketika itu pulalah kemudian akan timbul banyak masalah, banyak friksi pada diri si anak. Mengapa tidak kita ajarkan Islam sesuai dengan dunia mereka, kenapa tidak kita tonjolkan keuniversalan Islam, betapa sayangnya Allah sama mereka, perilaku Islam, maha baiknya Allah, dan rahmatan-lilalaminnya Islam saja terlebih dulu.

Jadi, saat ini, aku sama sekali belum pernah mengajarkan pada anak-anakku bahwa Islam adalah agama yang paling benar, bahwa diluar Islam masuk neraka, atau kafir. Aku juga sangat hati-hati mengajarkan surga dan neraka pada mereka, aku nggak mau mereka berbuat sesuatu karena imbalan pahala, tapi aku ingin mereka berbuat karena cinta pada Tuhannya. Aku hanya ingin mengajarkan segala yang indah tentang Allah dan Islam buat mereka, sesuai dengan dunia mereka.

Ya, karena aku sendiri percaya, manusia tidak berhak menilai,hanya Allah yang menilai. Islam adalah agama yang paling sempurna, agamanya, bukan manusianya. Apakah kemudian manusia yang akhlaknya jauh dari Islam, tapi beragama Islam kemudian bisa masuk surga? Apakah juga orang beragama nasrani, tapi berakhlak mulia akan masuk neraka? Wallahu alam, aku, manusia, sama sekali tidak berhak untuk menilai.Lagipula, Seperti Ali dalam doanya, apalah artinya surga dan neraka bagi seorang yang sudah mencintai Allah sedemikian dalam. Kecintaan pada Allah, berperilaku sesuai maunya Allah,itulah yang ingin aku prioritaskan sekarang pada anakku.

Karena itu, ketika melihat sebuah perbedaan, aku sangat berusaha untuk tidak pernah menilai dari sudut pandang manapun, tapi memandang dari kacamata paling tinggi, kacamata keAkbaran Allah. Kongkretnya, waktu musim natal seperti sekarang, anak-anakku di sekolah diajarkan lagu2 natal, dikasih hadiah sama sinterklas. Mereka senang karena itulah dunia mereka, apa salahnya nyanyi, apa salahnya dapat hadiah. Aku nggak mau panik, aku nggak pernah larang, toh aku sendiri juga dulu sering ke gereja waktu SD, tapi aku tidak terpengaruh sekarang. Selama itu masih dalam koridor, kenapa harus panik, aku percaya Allah akan jaga anak-anakku.

Aku bilang sama anak-anakku, agama kamu Islam, ga makan babi,tempat ibadah kamu di mesjid, kamu sholat, kamu harus jujur dan hal2 lainnya. Aku juga bilang, bahwa teman2 kamu agamanya kristen, tempat ibadahnya di gereja, ada natalan, dan lain2. Itulah keAkbaran Allah, dunia diciptakan sama Allah penuh warna, seperti pelangi, indah bukan?.

Aku bilang bahwa mereka Islam, muslim, harus begini begitu supaya disayang Allah dan seluruh manusia,tapi aku berusaha untuk tidak menilai agama orang lain, tidak memberikan dogma pada anakku bahwa Islam adalah agama yang paling benar, sehingga menimbulkan perasaan negatif buat anakku, entah jadi sombong atau benci sama agama lain. Ada saatnya nanti, ketika masa panen itu datang,ketika mereka sudah cukup bijak, mereka akan mengetahui dan memilih mana yang terbaik, bukan hanya ikut2an. Memilih dengan sadar, kenapa Islam yang terbaik, kenapa Islam is the best. Bukan sekedar karena di Qur’an Islam lah agama terbaik, tapi karena mereka sendiri sudah merasakan betapa nikmatnya menjadi orang Islam, betapa nikmatnya menjadi pencinta Tuhan, bukan hanya sekedar dogmatis belaka. Sehingga ketika badai datang, mereka bisa lebih kuat, begitu barangkali.

Sekarang aku hanya bisa berusaha dan berusaha supaya mereka cinta sama Allah, punya perilaku, akhlak yang Islami, memberitahu bahwa mereka muslim, dengan segala syariatnya, tapi tidak ingin menilai atau memberikan gambaran negatif tentang agama lain.Pasti mereka juga akan mengajukan pertanyaan2 sulit nanti, tapi itulah tantangan jadi orangtua. Yang jelas, aku betul2 tidak ingin dzolim, menodai dunia mereka, sehingga, aku berusaha memberikannya bertahap, dicicil sesuai dengan tahap perkembangan jiwanya, karena aku sadar, buat orang dewasa aja nggak mudah untuk berIslam, apalagi bagi seorang anak…

Wuah jadi panjang banget, sori kalo jadi kemana-mana, sekalian buat ngisi bloger nih hehe. Tapi thanks buat kiriman emailnya, membuatku merenung dan memutuskan langkah terbaik yang akan aku ambil buat anak-anakku…

Wassalam hangat,

Agnes