“Read a lot, listen a lot, and write a lot,” tips penting dari Natalie Goldberg dalam bukunya ‘ Writing Down the Bones’ itu kucatat dan kurekam baik-baik dalam memoriku.Seorang yang ingin menulis atau menjadi penulis, tidak bisa menganggap sepele ‘listen a lot,’ with all of your body. Sering kita ngobrol ngalor ngidul dengan siapapun atau jalan-jalan ke suatu tempat, tapi kalau kita tak berusaha mendengar dengan seluruh indra kita, banyak hal yang kemudian terabaikan dan terlupa.
Selengkapnya…
Lega rasanya, minggu ini aku selesai mengerjakan ‘peer’ besarku. Jadi rasanya pengen istirahat sejenak, bersenang-senang sejenak, sebelum mengerjakan ‘peer’ selanjutnya. Dan dalam rangka bersenang-senang ala aku, aku ambil ‘Me Time’ day. Suami dan anak-anakku dengan senang hati mengijinkan. Hari ini aku seharian jalan dari central stasion Amsterdam ke Dam, China town, redlight area, Kavelstraat, Remblandtplein sampe Magere Burg. Sudah lama aku pengen banget ke Magere Brug ini, jembatan kayu yang paling terkenal di Amsterdam. Aku sangat menikmati perjalananku tadi, ternyata seru juga melakukan ‘me time’ sendirian, jadi observer. Tapi sebetulnya yang paling asyik dan memang sudah aku niatin sebelumnya adalah hunting foto!
Selengkapnya…
Aku tak pernah menyangka bila akhirnya perjalanan hidup membuatku harus mencicipi rasanya keterasingan, menjadi orang asing, menjadi sosok aneh yang tak lazim. Kadang, mereka memandangku sebelah mata, mentatap lama-lama, dan menganggapku sebagai manusia penebar murka. Meski memang tak semua, namun awalnya berat juga. Aku bahkan sempat menitikkan air mata.
Suatu kali ketika aku sedang berbelanja di pasar tradisional ala Eropa, aku telah menunggu dengan lama dan berusaha bertanya. Namun sang penjual tak mau menyapaku juga. Meski akhirnya aku dilayaninya, namun dipandangnya aku dengan mata tak suka. Kali lain, ketika aku dekat dengan anak-anak balita Belanda lantaran kerap menjaga mereka saat jam istirahat sekolah, orangtua-orangtua mereka sering menghunjamkan matanya padaku lama-lama. Pernah, anak bule ganteng berumur 5 tahun bernama Boaz, ketika papanya menjemput, dipamerkannya aku pada papanya dan disapanya aku dengan mesra. Ayahnya yang semula menatapku sekilas lalu segera membalikkan badannya. Dipandanginya aku dari ujung kaki sampai ujung kepala, hingga kemudian ia berlalu bersama anaknya. Sreet! Hatiku tergores seketika. Betapa hina aku dimatanya, hingga ia harus memelototi aku sedemikian rupa. Ah, sudahlah biarkan saja, tak kenal maka tak sayang begitu kan kata orang, hiburku mencoba menghapus goresan luka.
Selengkapnya…
Sistem kesehatan di Belanda terkenal sangat rasional. Bagus memang dan patut dicontoh, tapi bagi yang belum terbiasa, pasti ngomel-ngomel, seakan-akan dokter sini cuek bebek banget, pasien udah dying ga dikasih obat, gitu deh kasarnya. Soal Rasional Use of Medicine (RUM) di Belanda, ceritanya panjang, kapan-kapan aku pengen nulis khusus untuk itu. Kali ini, aku mau tulis tentang pengalaman temanku saat melahirkan yang cukup unik. Aku pas denger sampe bengong hehe.
Selengkapnya…
Sudah lebih dari 5 tahun aku tinggal di Belanda, tapi baru kali ini ada kesempatan diundang menghadiri pernikahan ala orang Belanda. Bastian, teman sekantor suamiku, menikah dengan kekasihnya, Elsje, yang juga orang Belanda. Kebetulan, pernikahan mereka digelar di gereja dekat rumah kami, hanya 5 menit jalan kaki. Sebetulnya, undangannya dua kali, yang pertama ceremonialnya jam dua hingga lima sore. Lalu party nya jam 9 malam hingga tengah malam.
Sejak jauh hari aku sudah bilang ke Elsje,”Aku akan datang di acara yang siangnya aja ya, sebab, partynya terlalu malam buat anak-anakku.” Dan jam setengah satu siang hari, aku jemput anak-anak dari sekolah. Paginya, suamiku sudah minta ijin ke guru mereka di sekolah agar mereka diijinkan bersekolah setengah hari. Lalu menjelang jam dua siang, kami bergegas berjalan kaki menuju tempat acara.
Selengkapnya…
Di Diemen, alhamdulillah kami dapat rumah lebih besar daripada waktu di Groningen. Alhasil, kami bisa mengadakan pesta ulang tahun untuk anak-anak di rumah. Selain ngirit, lebih efisien juga kan. Jadi akhir tahun 2009 dan awal 2010 kemarin adalah kali pertama kami mengundang anak-anak Belanda untuk merayakan pesta ulangtahun Lala dan Malik. Ternyata pestanya anak perempuan dan laki-laki beda bangeet!
Di Ulang tahun Lala, Lala mengundang semua teman perempuan di kelasnya. Di antara 22 orang murid, anak perempuan di kelas Lala memang hanya 6 orang dengan Lala. Alhasil ke 6 orang anak itu sajalah yang di undang. Ada Michella, Demi, Rooselyn, Megan dan Kasmayla. Untungnya semuanya datang pada jam satu siang di hari Sabtu. Karena besoknya Lala mau ke Norway, Lala juga mengundang Mila anaknya tante Nurul, serta Astrid dan Amel, anak tante Popy dari Leiden. Aku sudah siapkan menu khusus untuk anak-anak itu, ada mie goreng, ayam goreng, sup asparagus, capcay, pudding semangka dan dolphin cake pesanan Lala. Dan ternyata kebiasaan anak-anak Belanda kalau party, makanannya tidak terlalu heboh. Anak-anak juga tidak terlalu suka tart. Alhasil yang dimakan hanya ayam goreng dan mie goreng. Untung ada teman-temanku orang Indonesia yang datang juga, jadi makanan lumayan ludes, hanya bersisa sedikit. Mie goreng juga jadi favorit teman-teman Lala.
Selengkapnya…
“Ho-oo-o Beda bedidu bedabediduu yee..” Hari ini hampir di seantero Belanda, anak-anak menyanyikan dan membahas lagu dari pemenang Junior Song Festival 2009 di sekolahnya. Final pemilihan pemenang Junior Song Festival ini baru Sabtu lalu digelar. Pemenangnya adalah Ralf, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun, dengan lagu Click-Clack yang menceritakan tentang tapdance. Lomba nyanyi ini memang hanya boleh ddiikuti oleh anak-anak berusia 10-15 tahun. Uniknya, lagu yang mereka bawakan adalah lagu ciptaan mereka sendiri. Kreatif kan. Jurinya pun melibatkan juri anak-anak. Selain juri anak-anak tentu saja ada pula juri dewasa dan perhitungan dari perolehan suara pemirsa yang masuk lewat sms. Tapi hebatnya, uang perolehan dari sms ini, bakal disumbangkan untuk Unicef! Wow, aku surprise waktu mendengar anak-anakku dengan lancar menceritakan soal ini. Karena rupanya, si pembawa acara memang menjelaskan pada penonton, untuk apa dan mengapa uang itu disumbangkan pada Unicef. Si pemenang pun tak mendapatkan hadiah neko-neko. Yang jelas ia mendapatkan tropi dan akan mewakili Belanda dalam pemilihan Junior Song Festival se Eropa yang akan dilaksanakan di Ukraina.
Selengkapnya…
Tak terasa, sudah dua bulan lebih aku tinggal di Diemen-Amsterdam. Wah, waktu seperti berlari, karena sejak datang aku dan suamiku sibuk beres-beres rumah yang kosong melompong. Suamiku mencicil pasang laminat, pasang wall paper, angkat-angkat barang dan kerjaan berat lainnya, aku bagian bersih-bersih. Tapi hingga sekarang belum juga kelar finishingnya, meski sudah nyaman buat dihuni. Lalu aku juga mulai sibuk beraktifitas, jadi betul-betul waktu berlalu begitu aja ga kerasa. Tapi aku menikmati sekali fase baru dalam hidupku ini, repotnya pindahan, repotnya cari rumah, hunting isi rumah sesuai budget yang terbatas, repotnya beberes rumah, cari sekolah anak-anak, lalu adaptasi. Tapi alhamdulillah semuanya lancar dan mengasyikkan deh.
Selengkapnya…
Tadi aku kebeneran nonton jeugdjournal sama anak-anak. Biasanya mereka nonton sendiri terus lapor ke aku. Dari setiap hari nonton jeugdjurnal itu mereka jadi update berita banget. Kalo ayah mau cerita sesuatu, tau-tau Aik bilang,”weet Ik.” (aku dah tauu). walah gaya banget pokoknya. Memang acara jeugdjournal tuh bagus banget menurut bunda. Jadi kaya berita 15 menit gitu tapi buat anak-anak dan remaja. Jadi yang diwawancara juga anak-anak.
Selengkapnya…
Belakangan ini hari-hariku sedang padat banget. Suamiku sedang conference ke Canary Island. Sementara jadwal kerjaku seminggu full dari pagi sampe sore pulak. Mana kerjaanku, kerja pakai otot. Pulang-pulang aku harus jemput anak-anak sekolah lalu sampe rumah masih harus masak buat anak kos. Kadang aku juga harus antar jemput anak-anak berenang, sepak bola, les piano. Wuah pokoknya fully booked, hari seperti berlari rasanya. Tapi cerita ini nggak ingin kulewatkan, jadi aku sempatkan menuliskannya sebagai catatan hati.
Selengkapnya…
Duh, tadi pas jemput Malik di sekolah, tiba-tiba airmataku mau tumpah, hampir aja mbrebes mbrambang mili, (halaah bahasane rek). Hari ini hari terakhir sekolah anak-anak, besok sekolah libur sampe tanggal 20 Agustus. Malik duduk di kelas Pinguin. Biasanya aku jadi overblijf juf ( guru yang jagain anak-anak makan siang di sekolah satu jam saja). Aku megang kelas Zebra yang letaknya bersebrangan dengan kelas Pinguin. Tugas ku biasanya ngajak maen di luar setengah jam. Keliling-keliling kayak satpam. Kalo ada yang nangis atau berantem aku tenangin. Kalo ada yang bajunya kotor aku gantiin. Setelah setengah jam, mereka masuk dan beraktifitas di dalam kelas. Aku harus memotivasi mereka untuk mau makan dan ngabisin makanannya. Kadang aku bacain buku untuk mereka. Lalu aku ngelap meja bekas makanan mereka dan aku sapu-sapu lantai. Setelah mereka duduk rapi in de kring ( lingkaran), juf nya dateng, baru deh aku pergi.
Naa tadi tuh pas aku lagi di depan kelas Malik tiba-tiba Dominique, anak asuhku di kelas Zebra menghampiri aku. “Juf Agneees…!” katanya. Udah gitu dia meluk aku, trus nyium pipiku. Haduuh langsung deh aku terharu banget. Aku gantian peluk dia dan aku bilang sama dia,”Oh Dominique..Ik houd van je (I love u).”
Selengkapnya…

Malik pertama kali jadi still stand
“Ik, besok pas Koningen Dag mau jadi still stand ga biar uang tabungan aik nambah? Nanti aik bisa cepet beli lego yang aik mau itu,” tanyaku ke Aik malam tadi. “Iya Bun aik mau!” Kata Aik semangat. Still stand itu jadi patung yang berdiri ga bergerak seperti di pusat-pusat kota di Eropa itu loh. Biasanya orang-orang yang jadi still stand itu pake kostum aneh-aneh, trus diem ga bergerak berjam-jam. Penonton pun akan melirik, menatap,foto-foto dan ngasih uang biasanya. Aik memang sudah lama punya satu inceran lego mobil pengangkut sampah (kalo ga salah). Sejak koleksi lego bob nya udah ada semua, Aik kalo ke toko mainan sibuk pilih lego yang mau dia beli.Dan pilihannya jatuh pada lego mobil pengangkut sampah seharga 26 euro.
Selengkapnya…

Foto keluarga menang lomba WRM
Hehehe norak banget nggak sih :-). Tapi begitu lah aku memang rada-rada surprise karena foto ini jadi pemenang juara I lomba foto keluarga dalam rangka HUT WRM ke-3. Lagipula yang jadi jurinya kan fotografer betulan (mbak Sylvie Gill dan Dewi Joris), berarti jepretan kameraku ga jelek-jelek amat dong ya bu juri :-). Lengkap gambar foto-foto lainnya dan info lain bisa klik disini : info lomba HUT WRM
Foto ini juga sekaligus jadi juara favorit pilihan moms di WRM, tapi kalo juara favorit sih udah ketauan dari awal karena hasil pollingnya keliatan. Padahal asli aku pilihnya maen comot aja. Dasar aku emang hobi foto keluarga narsis ya, jadi stok fotonya banyak deh hehe.
Selengkapnya…
Dimuat di : Ranesi
Ini cerpen pertamaku.Kedua sih sebetulnya, tapi cerpen yang pertama betul-betul nggak masuk hitungan,bikinnya asal banget dan nggak masuk kriteria cerpen lah pokoknya hehe. Jadi anggap saja ini cerpen pertama :-) Niatku membuat cerpen ini buruk, betul-betul karena ngiler sama bayarannya yang 100 euro, soalnya lagi nggak punya duit. Tunggu punya tunggu ini cerpen nggak dimuat juga sama Ranesi. Padahal katanya batas pemberitahuannya sebulan. Yah hopeless lah aku.Mutung. Aku jadi merasa nggak bisa nulis fiksi dan merasa niatku yang ternoda dengan uang itu lah penyebab cerpenku nggak dimuat. Akhirnya aku betul-betul melupakan cerpenku ini. Asli mutung, melirik pun tak mau lagi hehe. Sampai akhirnya barusan aku dapat kabar dari Mbak Desy, cerpenku dimuat!
Alhamdulillah…Makasih ya mbak Des atas pemberitahuannya :-). Tapi walaupun dimuat bukan berarti cerpen ini bermutu loh, kayaknya cuma karena Allah nggak mau liat aku mutung kali ya hihi ge-er. Jadi kalau ada yang mau kasih kritik dan saran, duh mau banget. Biar aku nggak kapok nulis fiksi lagi. Tapi sebetulnya, kalo dapat 100 euro lagi sih nggak akan kapok nulis fiksi lah ya, haha dasar! Cewek matre…cewek matre kelaut ajeh! Eh tapi 100 euro belum dipotong pajak 39 % loh, but masih lumayan laah buat ngisi dompet yang kosong hehe…
Ini dia si cerpen yang sempet bikin mutung :-) :
“Eh, kamu harus kasih selamat sama Ben!â€kata seorang perempuan paruh baya mengagetkanku. Nyonya Elske Holander, perempuan tetangga sebelah rumahku tiba-tiba datang menghampiri. Aku baru saja mengambil barang belanjaan dan memarkir sepeda di halaman depan. Ia muncul bersama anak lelakinya yang berumur tanggung, mungkin sekitar 13 tahun.
Selengkapnya…
“Bukan hanya laki-laki dengan perempuan yang boleh menikah Ma. Laki-laki boleh menikah dengan laki-laki dan perempuan juga boleh menikah dengan perempuan. Juf (ibu guru) ku bilang begitu.” Waks! Mendengarnya Haila terhenyak. Rangkaian kalimat itu keluar dari bibir mungil putranya yang berusia 5 tahun.
Haila berkunjung ke rumahku kemarin. Aladin dan Firash putranya adalah teman sekelas Lala dan Malik. Selepas sekolah, pukul 12.00 kami langsung berjalan bersama menuju rumahku. Haila tak bisa naik sepeda,”Ik ben bang (aku takut),” katanya. Karena itu lah, kami berjalan dari sekolah ke rumah. Kami berbicara banyak hal. Lumayan, sekalian memperlancar bahasa Belandaku. Haila tak bisa berbahasa Inggris. Jadi mau tak mau aku harus berbicara selalu dalam bahasa Belanda.
Selengkapnya…
Perempuan itu cantik, secantik perempuan padang pasir lainnya. Lipstik dan eye shadow berwarna senada menghias wajahnya. Anting-anting besar yang menggelantung ditelinganya, semakin membuat ia terlihat menawan. Ia berasal dari Irak, negara muslim. Namun mengapa rambut coklat bergelombang miliknya ia biarkan tampak? Tak ada penutup kepala disana. Ah itu biasa. Disini, aku sering berjumpa dengan pendatang perempuan asal Iran, Irak, Turki, Maroko yang tak lagi berkerudung. Padahal di negaranya hijab itu selalu mereka pakai. Kenapa ya? Pertanyaan itu sering mampir di kepalaku. Tapi kesempatan untuk berdialog dengan mereka belum kesampaian, hingga hari kemarin.
Selengkapnya…
Tak ada gema takbir, tidak tampak pula iring-iringan kawan, tetangga maupun saudara yang beramai-ramai hendak pergi sholat Ied bersama. Hanya hawa dingin serta gerimis yang menemani ketika mengayuh sepeda menuju mesjid Selwerd, tempat dilaksanakannya sholat ied. Alhasil, sepanjang perjalanan malah menyeruakkan kenangan indah, nikmatnya berlebaran di Indonesia. Rindu, sedih dan haru, bercampur menjadi satu. Begini rasanya berlebaran di negeri orang. Apatah lagi, sesampainya di mesjid tampak mobil polisi berjaga-jaga, menghindari terjadinya huru hara. Sejak meledaknya bom molotov di mesjid itu seminggu sebelumnya, mobil polisi seringkali terlihat di sekitar mesjid. Peledakan bom tersebut terjadi sebagai serangan balasan orang Belanda terhadap kasus pembunuhan Theo Van Gogh oleh seorang pemuda muslim asal Maroko. Berita tentang pembunuhan ini belakangan marak diberitakan karena Theo Van Gogh yang seorang sutradara, telah membuat film berjudul The Submission yang ceritanya sangat menyinggung umat Islam. Sungguh suasana lebaran seperti ini memang tidak menyenangkan. Namun tetap tak menggoyahkan semangat umat Islam asal Indonesia, dan umat muslim lainnya yang ingin melaksanakan sholat ied pada hari Sabtu tanggal 13 November 2004 baru lalu di Groningen, kota paling Utara negeri Belanda.
Selengkapnya…
Menemani suami mengenyam pendidikan di negeri Belanda, seolah merupakan kenyataan yang menyenangkan dan membuat iri banyak orang. Namun, mengalaminya tidak lah semudah yang dibayangkan. Apalagi bagi para ibu yang mempunyai anak berusia balita dan terbiasa bekerja di Indonesia. Jika tidak diantisipasi, hal ini bahkan bisa mempengaruhi keberhasilan belajar sang suami. Tak dapat dipungkiri bahwa belajar di luar negeri bagi mereka yang membawa keluarga mempunyai beban tersendiri. Di negeri ini, hanya mahasiswa PhD yang umumnya bisa membawa keluarga. Selain karena lamanya studi yang memakan waktu 4 sampai 5 tahun, jumlah beasiswa yang didapat juga relatif mencukupi untuk bisa membawa keluarga. Dalam kondisi seperti ini istri memegang peranan kunci dalam kesuksesan belajar suami serta menjaga kualitas keharmonisan keluarga.
Selengkapnya…
( Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang pertama kali di kota Groningen, Belanda)
“Satu..dua..tiga..mulai!” teriakan seorang panitia lomba menggema di lapangan berumput hijau Hanzeborg Zernike complex, ketika mengawali pertandingan tarik tambang pria. Tarik-menarik tali dengan jumlah peserta lima lawan lima orang ini berlangsung cukup alot selama beberapa detik. Namun tiba-tiba…”tass….!” tali itu putus dan tubuh-tubuh kekar berjumpalitan jatuh ke tanah. Salah seorang peserta meringis kesakitan akibat terkena lecutan tali yang putus. Peserta lain tesenyum-senyum sambil menahan nyeri akibat jatuh. Walaupun demikian baik peserta, panitia dan pengunjung yang hadir malah merasa terhibur dan tertawa-tawa menyaksikan adegan yang cukup seru dan lucu ini. Tali putus? kok bisa? Tentu saja, karena tali yang dipergunakan untuk perlombaan tarik tambang itu ternyata adalah… kain gorden!Tak ada rotan akar pun jadi, demikian kata pepatah. Pepatah ini betul-betul digunakan oleh panitia penyelenggara perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-59 di kota Groningen. Mengingat sempitnya persiapan waktu, pencarian lokasi, serta dana yang terbatas, pihak panitia harus menggunakan dana seefektif dan seefisien mungkin. Karena harga tambang cukup mahal di kota ini, akhirnya panitia memutuskan untuk menggunakan kain gorden rumah yang sudah tidak terpakai untuk dijadikan tali tambang. Kain gorden dipotong memanjang, kemudian dijalin dan diikat sedemikian rupa sehingga dianggap cukup kuat untuk dijadikan tali yang menyerupai tambang.
Selengkapnya…