Archives for “Tulisan di Koran”

Susu, Dulu Kawan Sekarang Lawan?

Filed under Tulisan di Koran

Rupanya sejak bertahun-tahun lalu, memang telah terjadi pro dan kontra diantara para ahli mengenai
manfaat susu sapi. Pro dan kontra ini terjadi bukan tanpa dasar. Beberapa penelitian ilmiah tentang manfaat susu, hasilnya masih campur-campur.

“Ayo, jangan lupa minum susunya!” Peringatan itu hampir setiap pagi terdengar dari sudut-sudut rumah para keluarga, terutama di kota besar. Sejak jaman dulu ketika susu mulai dipercaya perlu dikonsumsi untuk kesehatan tulang hingga jaman sekarang, produk-produk susu sapi dan dairy produk lainnya laris manis di pasaran. Apalagi bagi anak-anak, remaja, ibu hamil dan menyusui serta manula yang nyata-nyata memang memerlukan asupan tinggi calsium. Bagi mereka, minum susu sudah seperti kewajiban.

Selengkapnya…


Kiat Atasi Panik Saat Anak Sakit

Filed under Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat, 16 Juli 2006

Jangan lupa, kapan pun anak mengalami kondisi gawat darurat, ia harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit. Tanda-tanda gawat darurat pada anak di antaranya rewel atau menangis terus menerus tidak dapat ditenangkan, kesadaran menurun, tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan, kejang atau kaku kuduk leher, sakit kepala hebat yang menetap, gangguan napas yang menyebabkan bibir dan wajah membiru, muntah dan diare terus-menerus, muntah menyemprot, dehidrasi, kejang berulang atau lama, demam tinggi pada bayi kurang dari 6 bulan.

PANIK! Perasaan ini pasti pernah dialami oleh kebanyakan ibu bila anaknya sakit. Apalagi kalau anak baru satu, rasa gelisah dan was-was saat buah hati tergolek lemas, sering kali menyiksa. Wajar memang, tapi sedini mungkin belajar mengatasi panik saat anak sakit sebetulnya akan sangat menguntungkan bagi anak dan orang tua. Bahkan, berdamai dengan panik bisa menghemat pengeluaran lho! Kok bisa?

Selengkapnya…


Jangan Rusak Perkembangan Anak

Filed under Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat, 18 Desember 2005

Klik di sini

TUGAS orang tua sebetulnya bukanlah mempercepat tumbuh kembang anak, tetapi membantu tumbuh kembang anak.

“INGIN mencetak anak cerdas, kreatif, dan genius? Temukan caranya di sini! Kembangkan bakat kecerdasan anak Anda sejak dini melalui konsep multiple inteligence! Flash card, cara ampuh untuk mengajari anak Anda membaca sejak dini!” Demikian bunyi pesan-pesan sponsor di media yang kerap terdengar. Derasnya informasi seperti ini umumnya memiliki niatan serupa: menjanjikan percepatan tumbuh kembang untuk menjadikan seorang anak menjadi anak berbakat, genius, atau cerdas.

Teori perkembangan dan pembelajaran yang diterapkan serta tren pendidikan di Indonesia pun kini semakin beragam. Sekolah-sekolah plus dan program pendidikan sejak usia dini kian menjamur.

Namun, apakah semua informasi, metode, maupun kurikulum pendidikan yang beragam dan banyak ditawarkan tersebut cocok untuk si anak? Bagaimana kita menyikapi derasnya iming-iming produk percepatan tumbuh kembang, teori, dan tren pendidikan yang ada tersebut? Permasalahan ini diungkap secara mendalam dalam seminar online WRMommies yang ke-4 dengan tema “Peranan Orang tua dan Praktisi dalam Membantu Tumbuh Kembang Anak Berbakat Melalui Pemahaman Teori & Trend Pendidikan” pertengahan November 2005 lalu. Adi D. Adinugroho M.A., selaku narasumber, kini sedang menyelesaikan program doktoral dalam bidang special education di Purdue University, Amerika Serikat. Sedangkan nara sumber kedua, Dr. drg. Julia Van Tiel Ms. yang memiliki anak berbakat, kini bermukim di Belanda. Peserta seminar kali ini dibatasi hingga 358 peserta, yang tersebar di berbagai benua, Eropa, Amerika, Asia, Australia, dan Afrika. Peserta terbanyak tentu saja dari Indonesia, Jakarta khususnya.

Selengkapnya…


Belajar Puasa tanpa Terpaksa

Filed under Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat, 25 September 2005

Klik di sini

“Tapi Bu, aku betul-betul nggak mau makan. Aku anak laki-laki dan sudah besar, aku bisa puasa bu,” kata Thabit pada ibunya. “Kamu juga puasa, Thabit. Anak umur 7 tahun berpuasa dengan sahur di pagi hari, sedikit makan di siang hari, kemudian mereka tidak makan apa pun sampai tiba waktunya berbuka,” kata ibunya lagi. “Tapi Ibu kok tidak berpuasa seperti aku ?” anak lelaki kecil itu memaksa. “Ibu sudah dewasa Thabit, Ibu berpuasa dengan cara orang dewasa.Cuplikan percakapan antara ibu dan anak ini diambil dari sebuah situs Muslim di internet. Membacanya barangkali bisa membuat kening beberapa orang tua berkerut dan bergumam dalam hati, “Lho ibunya Thabit ini bagaimana sih, lha wong anak ingin puasa sehari penuh malah dilarang?” Percakapan di atas memang mungkin terdengar tak lazim, karena yang kerap terjadi malah sebaliknya. Orang tua, secara sadar maupun tidak, sering memaksa anak untuk berpuasa sehari atau sebulan penuh, bahkan sejak usia balita. Orang tua pun bangga bila anaknya mampu berpuasa sehari penuh sejak usia dini.

Selengkapnya…


Pikiran Rakyat, 10 Juli 2005
Klik di sini

Ini Versi aslinya, di PR banyak yang di edit tampaknya karena terlalu panjang.

Setiap anak adalah unik. Namun, apakah setiap anak pada dasarnya cerdas, jenius atau berbakat seperti yang sering digembar gemborkan belakangan ini? Apa Sebetulnya yang dimaksud dengan anak berbakat? Bagaimana ciri-cirinya, dan bagaimana pula mendeteksi serta menanganinya? Dalam Seminar Online We R Mommies Indonesia yang ke-3 pertengahan Juni lalu, permasalahan anak berbakat ini dikupas secara mendalam. Selama 6 hari, peserta menyimak uraian dari nara sumber, melakukan tanya jawab, dan saling berdiskusi diantara sesama peserta secara online dari komputer masing-masing. Tiga orang nara sumber yang terdiri dari ibu Ike R. Sugianto Psi., dr. Waldi Nurhamzah SpA., dan juga ibu Dr.drg. Julia VanTiel, Ms, mendapatkan �banjir� pertanyaan dari para peserta.We R Mommies Indonesia sendiri merupakan sebuah mailing list yang didirikan untuk berbagi informasi, pengetahuan dan ketrampilan seputar kehidupan ibu, calon ibu dan wanita umumnya. Kali ini, WRM menyelenggarakan seminar online dengan topik �Deteksi Dini dan Penanganan Anak Berbakat�. Topik ini tampaknya begitu diminati masyarakat, terbukti dengan jumlah peserta seminar online yang mencapai 509 orang. Sebagian besar peserta berasal dari Jakarta. Sisanya adalah masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru dunia seperti Amerika Serikat, Belanda, Hongkong, Singapura, Jepang, Jerman, Myanmar, Malaysia dan Australia.

Selengkapnya…


Batuk Pilek tak Perlu Antibiotik

Filed under Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat, Minggu, 12 Juni 2005

Klik di sini

“Apa memang penyakit batuk-pilek anak saya memerlukan antibiotik, dok?” Seorang pasien yang kritis mencoba bertanya pada dokter yang ia kunjungi. Dengan entengnya sang dokter menjawab “Lho, yang dokter itu siapa, kamu atau saya? Sudah, tak usah banyak tanya deh, yang penting anakmu sembuh kan?”

Bila mengalami kejadian seperti itu, pasien yang tidak paham kadang malah ‘memaksa’ dokter untuk memberikan antibiotik. “Kenapa anak saya tak diberi antibiotik, dok? Nanti kalau nggak sembuh-sembuh bagaimana?” Akhirnya, lantaran khawatir ‘ditinggal’ pasien-pasiennya, sang dokter pun meresepkan antibiotik yang sebenarnya tidak perlu.
KENYATAAN tersebut masih kerap terjadi di negara kita. Hanya segelintir dokter yang telah menganut konsep partnership atau kemitraan dengan pasiennya. Masih banyak dokter yang pelit waktu, untuk memberikan pennjelasan kepada pasien, atau malah menganggap pasien tidak perlu tahu apa-apa. Alhasil, dokter bahkan tidak senang dengan pasien yang kritis dan ceriwis. Padahal konsumen kesehatan memiliki hak untuk memeroleh penjelasan yang benar dan objektif. Lagipula di zaman modern seperti sekarang ini, sudah saatnya konsumen kesehatan bersifat proaktif. Informasi tentang kesehatan yang benar pun sangat mudah diperoleh melalui berbagai media. Pasien yang kritis dan terpelajar, bisa saja datang dengan sebundel artikel yang diambilnya dari situs-situs kesehatan terpercaya di internet misalnya.

Selengkapnya…


Sudah Besar Koq Masih Ngompol!

Filed under Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat, Minggu, 12 Maret 2005

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/13/hikmah/lain04.htm

“IH, sudah besar kok masih ngompol!” Begitu ucapan yang sering terdengar untuk mengolok-ngolok anak besar yang masih suka ngompol. Orang tua kerap bingung menghadapi permasalahan ini. Akhirnya membiarkan saja keluhan tersebut. Sebagian besar kasus, ngompol pada anak dapat sembuh dengan sendirinya ketika usia anak mencapai 10 – 15 tahun. Hanya sekira 1 dari 100 anak yang masih tetap ngompol setelah usia 15 tahun. Bila diabaikan, hal ini akan berpengaruh bagi anak. Biasanya, anak menjadi tak percaya diri, rendah diri, malu, dan hubungan sosial dengan teman-temannya pun terganggu.Dalam dunia kedokteran, ngompol-tidak dapat menahan keluarnya air kencing-dikenal dengan istilah enuresis. Lebih khusus lagi, ngompol yang terjadi ketika tidur pada malam hari biasa disebut nocturnal enuresis. Ngompol masih dianggap normal bila terjadi pada anak balita. Namun, jika anak di atas usia 5 atau 6 tahun masih ngompol, setidaknya 2 kali dalam sebulan, hal ini perlu mendapat perhatian khusus.

Selengkapnya…


Pikiran Rakyat, Minggu, 09 Januari 2005

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/09/hikmah/lain02.htm

“Ayah, Lala nggak mau pulang ke Indonesia, Lala takut sama gempa bumi,” ujar gadis kecil berusia 5 tahun ini kepada ayahnya. “Lala takut ya, sini…sini dipeluk sama ayah nak. Indonesia itu luas sayang, yang kena gempa kan Aceh. Di Bandung rumah lala dulu aman koq, kan jauh dari Aceh, jadi nggak ada gempa di sana. Sekarang yang penting Lala di sini aman sama ayah dan bunda, karena di sini nggak ada gempa” jawab ayah Lala mencoba menenangkan. “Kenapa di sini nggak ada gempa yah?”tanya Lala lagi. Belum sempatayahnya menjawab, tiba-tiba, Malik, adik Lala yang baru berusia 3 tahun ikut berkomentar “Aik takut sama gempa di Aceh. Nanti…nanti…kalo Aik naik pesawat terbang ke Aceh, Aik mau liat dari atas pesawat aja. Habis itu Aik mau pulang lagi ke Belanda,” sahut bocah laki-laki itu berapi-api menjelaskan keinginannya. Ayah mereka hanya bisa tersenyum dan berusaha menjawab pertanyaan anak-anaknya dengan sabar. Namun yang pasti si ayah tersadar, anak-anaknya sedang mengalami ketakutan pasca terjadinya gempa tsunami.TAK dapat diMungkiri, dahsyatnya bencana gempa tsunami yang melanda beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia, akhir Desember lalu menjadi pemberitaan yang hangat dan selalu menarik untuk diikuti. Namun orang tua terkadang lupa dengan dampak yang muncul pada anak setelah melihat berbagai tayangan di media. Mayat bergelimpangan, penguburan massal menggunakan truk pengeruk, luluh lantaknya kota, dan berbagai gambaran menyeramkan lainnya dapat menimbulkan masalah tersendiri bagi anak, seperti dalam cerita di atas. Tetapi, bila orang tua mengetahui cara yang tepat, masalah yang timbul tidak akan berkepanjangan. Sebaliknya orang tua malah dapat mengambil hikmah dengan menjadikannya momen yang tepat untuk menambah pengetahuan, dan mengasah EQ serta SQ anak.

Selengkapnya…


Aku Perlu Dibacakan Buku, Ibu

Filed under Tulisan di Koran

Republika, 28 April 2004

Otak anak mempunyai satu triliun sel otak, dan bertriliun-triliun sambungan antarsel syaraf otak. Bila tidak distimulasi sejak dini, sambungan ini akan musnah. Layaknya daun di musim gugur, potensi mereka pun akan berguguran. Ibu adalah guru pertama bagi anak tanpa bermaksud mengecilkan peran bapak dalam pilar sebuah keluarga.Namun, dalam realitas yang ada, ibulah yang mengandung, melahirkan, menyusui dan lebih banyak menapaki hari, bulan dan tahun-tahun pertama kehidupan anak. Hari buku diperingati setiap 23 April yang berdekatan dengan Hari Kartini tanggal 21 April. Wanita Indonesia diingatkan mengenai emansipasi wanita yang diperjuangan oleh RA Kartini.

Dalam menyuarakan emansipasi wanita, tentunya Kartini pun ingin wanita mempunyai peran strategis dalam mencerdaskan bangsa. Meski ‘hanya’ dilakukan dari lingkup terkecil masyarakat, yaitu keluarga, peranannya menjadi pondasi bagi maju-mundurnya sebuah bangsa. Ibu sebagai wanita Indonesia, diharapkan menjadi pencetak generasi cerdas dan berbudi yang akan mengangkat derajat bangsa Indonesia.

Selengkapnya…


Pikiran Rakyat, Minggu, 17 Oktober 2004

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/17/hikmah/lainnya02.htm

Demam pada anak sering menimbulkan fobia tersendiri bagi banyak orang tua. Keyakinan untuk segera menurunkan panas ketika anak demam sudah melekat erat di benak orangtua. Demam diidentikkan dengan penyakit, sehingga saat demam berhasil diturunkan, orangtua merasa lega karena menganggap penyakit akan segera pergi bersama turunnya panas badan.
Keinginan untuk menenangkan kegelisahan orang tua inilah yang terkadang “memaksa” dokter memberikan obat penurun panas walaupun sebenarnya mungkin tidak perlu. Selain itu tak dapat dipungkiri bahwa dokter yang gemar melakukan pengobatan “ala koki” (meminjam istilah Dr. Paul Zakaria da Gomez- ahli imunologi) masih kerap dijumpai. Seperti halnya makanan yang kurang manis ditambah gula, kurang asin ditambah garam, begitu pula pengobatan “ala koki” dilakukan. Apa pun penyebabnya, penderita panas badan langsung dicekoki obat penurun panas tanpa memastikannya terlebih dulu.Apakah memberikan obat penurun panas ketika anak demam merupakan suatu hal yang salah? Bukankah bila demam tidak diturunkan akan menimbulkan kerusakan pada otak? Bukankah pemberian obat penurun panas menyebabkan anak terhindar dari kejang demam (stuip), membuat anak merasa lebih nyaman dan meningkatkan nafsu makan? Hal-hal seperti itulah yang sering terdengar mengenai demam dan banyak didengung-dengungkan di berbagai media iklan. Alhasil demam semakin menjadi momok yang menakutkan bagi orang tua, dan memperkuat keyakinan orangtua untuk buru-buru menurunkan panas ketika anak demam.
Namun sesungguhnya para ahli menyatakan bahwa pendapat-pendapat tersebut hanyalah mitos belaka karena tidak semua dapat dibuktikan kebenarannya. Keberadaan demam justru berperan penting dalam proses penyembuhan penyakit. Bahkan pemberian obat penurun panas ketika anak demam (baik aspirin, paracetamol/acetaminophen maupun ibuprofen) terbukti lebih banyak menimbulkan dampak negatif ketimbang positif.

Sebelum mengetahui lebih lanjut dampak-dampak tersebut, harus dipahami terlebih dahulu bahwa terjadinya demam ketika seorang anak mengalami infeksi bukanlah suatu kesalahan. Tuhan memang sudah memberikan demam sebagai reaksi alamiah tubuh terhadap adanya infeksi. Sehingga ketika seorang anak mengalami infeksi, keberadaan demam semestinya disyukuri, bukan ditakuti atau diperangi karena hal ini merupakan pertanda bahwa mekanisme pertahanan tubuh sedang bekerja untuk melawan penyakit. Demam memang tidak hanya dapat disebabkan oleh infeksi, bisa saja terjadi karena pencetus lain seperti reaksi transfusi, tumor, imunisasi, dehidrasi , dan lain sebagainya. Tetapi pada anak umumnya demam terjadi karena suatu infeksi kuman, entah itu virus maupun bakteri.

Mengapa reaksi alamiah tubuh ini harus disyukuri? Berbagai literatur menyebutkan bahwa komponen-komponen sistem kekebalan tubuh, seperti sel darah putih (leucocyt) dan lymphocyt (salah satu jenis sel darah) akan bekerja lebih baik melawan kuman dalam keadaan suhu tubuh yang meningkat ketimbang suhu tubuh normal. Artinya, menurunkan suhu tubuh ketika anak demam justru akan melemahkan sistem kekebalan tubuhnya.

Saat demam terjadi, pergerakan dan aktivitas sel-sel darah putih meningkat, serta terjadinya perubahan bentuk lymphocyt dapat membunuh bakteri maupun virus yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, jumlah interferon, yang merupakan salah satu substansi antivirus dan antikanker dalam darah, juga akan meningkat dengan adanya demam. Teori tersebut juga didukung oleh sebuah penelitian di laboratorium, pada binatang yang sengaja diinfeksi oleh suatu penyakit. Ternyata dengan meningkatnya suhu tubuh binatang-binatang yang terinfeksi itu, angka kelangsungan hidup mereka semakin meningkat. Sebaliknya dengan menurunkan suhu tubuh ketika terjadi infeksi, malah meningkatkan angka kematian binatang-binatang tersebut.

Hylary Buttler, seorang peneliti dari New Zealand telah mengumpulkan kutipan-kutipan dari berbagai literatur kedokteran yang membuktikan bahwa demam memang diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh ketika terjadi infeksi. Sebaliknya pemberian obat penurun panas seperti paracetamol/acetaminophen, aspirin dan ibuprofen malah memberikan pengaruh negatif.

Dalam salah satu kutipan itu disebutkan bahwa pemberian obat penurun panas untuk menurunkan demam akan meningkatkan angka kematian dan kesakitan selama infeksi. Pemberian acetaminophen dinyatakan juga dapat menginduksi terjadinya pneumonia. Selain itu semakin sering memberikan obat penurun panas pada anak dengan penyakit infeksi, ternyata malah akan memperparah dan memperpanjang masa sakitnya. Fakta lain yang lebih penting menginformasikan bahwa obat penurun panas dapat memberikan gejala palsu. Penderita demam yang disangka sedang dalam masa penyembuhan karena panasnya sudah turun, ternyata luput dari observasi dan mengakibatkan penyakitnya berlanjut semakin buruk akibat pemberian obat penurun panas.

Walaupun belum dinyatakan kebenarannya, namun Dr. Torres, seorang peneliti senior dari Biomedical Utah State University, memberikan teori baru mengenai penyebab potensial merebaknya kasus autism belakangan ini. Demam yang dihambat dengan pemberian obat penurun panas pada ibu hamil dan anak-anak kecil, dikatakan terlibat sebagai biang kerok terjadinya autism dan neurodevelopmental disorders. Pada akhirnya kerugian pemberian obat penurun panas ini tentu saja berhubungan dengan biaya pengobatan yang seharusnya tidak perlu dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih penting.

Lalu bagaimanakah dengan kebenaran mitos-mitos yang sudah mendarah daging diyakini para orang tua? Dalam bukunya “How To Raise A Healthy Child in Spite of Your Doctor” Dr. Robert Mendelsohn yang juga seorang dokter spesialis anak mengatakan, demam tinggi bukanlah penyebab kejang demam. Kejang demam muncul ketika suhu badan meningkat dengan kecepatan yang sangat tinggi dan hal ini umumnya jarang terjadi. Hanya 4 % anak-anak dengan demam tinggi yang demamnya berhubungan dengan kejang. Tidak ditemukan pula bukti-bukti yang menyatakan bahwa setelah kejang demam mereka kemudian mengalami efek serius. Anggapan bahwa pemberian obat penurun panas akan mengurangi kejadian kejang demam pun tidak didasari oleh bukti yang nyata. Karena itu memberikan obat penurun panas kepada semua anak yang mengalami demam, hanya akibat 4% kejadian kejang demam, bukanlah hal yang rasional.

Selain itu demam yang terjadi karena infeksi bakteri atau virus, pada umumnya tidak akan menyebabkan kerusakan otak atau kerusakan fisik permanen seperti anggapan yang telah dianut selama ini. Demam adalah hal yang biasa terjadi pada anak dan bukan merupakan suatu indikasi penyakit serius kecuali bila disertai dengan perubahan penampilan, perubahan tingkah laku atau gejala-gejala tambahan seperti kesulitan bernafas, kaku kuduk atau kehilangan kesadaran. Hanya demam di atas 42,2 derajat Celcius yang telah diketahui dapat menyebabkan kerusakan otak.

Namun tentu saja terdapat perkecualian, yaitu bila demam terjadi pada bayi yang baru lahir. Demam yang terjadi pada bayi di minggu-minggu pertama kehidupannya harus mendapatkan perhatian serius, karena kemungkinan besar infeksi didapat dari proses persalinan, ataupun penyebab lain.

Asumsi yang juga telah sangat diyakini orang tua adalah pernyataan bahwa obat penurun panas akan menyebabkan anak merasa lebih baik, lebih aktif dan meningkatkan nafsu makan. Padahal penelitian membuktikan bahwa tidak ada perbedaan efek yang tampak ketika penderita demam diberi obat penurun panas maupun placebo (sugesti). Jadi tidak dapat dibedakan apakah keadaan lebih baik yang dirasakan penderita sebetulnya merupakan efek placebo atau efek obat. Tapi bila obat penurun panas dipakai sebagai placebo, artinya placebo yang digunakan merupakan placebo yang sangat berbahaya.

Dari keterangan di atas jelas lah sudah bahwa demam bukanlah musuh yang harus diperangi. Karena itu penggunaan obat penurun panas sebaiknya betul-betul diberikan secara rasional. Beberapa negara bahkan membuat peraturan agar dokter-dokter mereka memberikan obat penurun panas pada pasien, hanya ketika demamnya mencapai 40,5 derajat C atau lebih.
Mengingat pengaruh emosional yang telah begitu mendalam di benak orang tua, merubah perilaku ini tentu menjadi pekerjaan yang teramat sulit. Namun dengan merubah paradigma tentang demam, dan menyadari dampak negatif pemberian obat penurun panas pada anak, diharapkan demam tidak lagi menjadi “monster” yang menyeramkan bagi orang tua. Orang tua tidak lagi perlu buru-buru membeli obat penurun panas di warung dekat rumah, ataupun “memaksa” dokter untuk segera menurunkan demam anak.

Selain itu akan sangat bijaksana pula, bila dokter tidak begitu saja dengan mudah memberikan obat penurun panas tanpa indikasi yang betul-betul perlu. Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya keberadaan demam dan dampak negatif menurunkan panas badan ketika anak demam, merupakan tindakan yang lebih rasional. Bila hal ini dilakukan, paling tidak ancaman pengaruh buruk akibat rutinnya penggunaan obat penurun panas terhadap kesehatan anak-anak dikemudian hari, dapat dikurangi.***


Tujuh Jurus Ampuh Mengatasi Asma

Filed under Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat: Minggu, 13 Juni 2003

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0604/13/hikmah/lainnya2.htm

“NGIK…ngik…ngik” nafas Malik tersengal-sengal, bicaranya pun putus-putus tak karuan. Pagi ini Malik terpaksa bolos sekolah lagi. Padahal ini hari pertama ujian kenaikan kelas. “Hmh ujian susulan lagi,” gerutu Malik dalam hati. Bundanya segera mengantar Malik ke rumah sakit dan Malik pun mendapatkan pengobatan. Berapa lama berselang sesaknya berkurang, dan bicara putus-putusnya tak lagi terdengar. Namun, anak lelaki yang baru berangkat remaja ini mulai berkeluh kesah, “Bu, kapan sih aku bisa sembuh. Aku malu bolos terus. Ujian susulan terus.” Ujarnya dengan kesal. Bundanya mencoba menjelaskan, “Sabar ya sayang, teman-teman dan gurumu pasti mengerti, kamu kan bolos karena sakit, kenapa harus malu?”

Malik tetap terlihat kesal,”Aku bosan, tiap ganti musim sesak, makan udang sesak, kecapekan sesak, kapan aku bebas dari semua ini bu?” sahut Malik sedikit berang.

“Baiklah nak, sebaiknya kamu tanyakan sendiri pada dokter sejelas-jelasnya dan ikuti sarannya, supaya kekesalanmu hilang dan sesakmu tidak lagi sering datang.” Timpal Bunda Malik menenangkan.SESAK yang sering dikeluhkan pengidap asma memang menjengkelkan. Apalagi jika kekambuhannya lebih dari 1 atau 2 kali dalam seminggu. Asma dapat mengganggu kinerja dan aktivitas seseorang sehingga terasa menjengkelkan bagi penderitanya. Penyakit ini bahkan dikatakan sebagai biang kerok utama atas ketidakhadiran di tempat kerja dan di sekolah. Selain mengganggu aktivitas, asma juga tidak dapat disembuhkan, bahkan dapat menimbulkan kematian. Namun bila penyakit ini dikendalikan, kematian dapat dicegah dan gejalanya pun tidak sering muncul. Untuk mengetahui bagaimana cara mengontrol penyakit asma, penderita perlu mengenal asma terlebih dahulu.

Asma adalah penyakit peradangan saluran nafas kronik akibat terjadinya peningkatan kepekaan saluran nafas terhadap berbagai rangsangan. Pada penderita yang peka, hal ini akan menyebabkan munculnya serangan batuk, bunyi mengi, banyak dahak, sesak nafas, dan rasa tidak enak di dada terutama pada malam hari atau menjelang pagi. Belum diketahui secara pasti mengapa pada sebagian orang saluran nafasnya meradang dan pada sebagian lain normal. Tetapi kejadian tersebut biasanya ditemukan pada keluarga atopik (keluarga alergi) yang dapat mewariskan sifat alergi ini kepada turunannya.

Kelainan utama penyakit asma adalah peradangan saluran nafas, sehingga pengelolaannya bukan ditujukan untuk menghilangkan sesak nafas semata, tetapi juga berbagai tujuan berikut yaitu, agar penderita dapat melakukan latihan jasmani termasuk lari dan olah raga lain, mempunyai fungsi paru mendekati normal dan gejala asmanya menghilang atau minimal. Tujuan lain adalah agar serangan asma minimal, pemakaian obat untuk serangan sesak berkurang, dan tidak ditemukan efek samping obat.

Dalam panduan GINA (Global Initiative for Asthma) 2002 yang dibuat oleh National Heart, Lung and Blood Institute & World Health Organization (NHBLI/WHO), menyebutkan untuk mewujudkan tujuan tersebut, dokter maupun penderita asma dianjurkan untuk mempelajari, memahami, dan mengerjakan apa yang disebut “tujuh jurus ampuh untuk mengatasi penyakit asma”. Pertama, penyuluhan (edukasi) mengenai penyakit asma pada penderita asma dan keluarganya. Pepatah mengatakan, “tak kenal maka tak sayang”. Ibarat sepasang muda-mudi yang baru pertama berjumpa, tak kan mau menyayangi dan mengorbankan diri, sebelum mengenal lebih jauh pasangannya. Demikian pula dengan penderita asma. Pengenalan tentang seluk beluk asma, bagaimana pengobatan serta pencegahan yang benar, akan membuat penderita dan keluarganya mengerti sehingga termotivasi untuk berusaha kuat mengatasi penyakitnya. Karena itu edukasi menjadi faktor kunci dalam pengobatan asma.

Kedua, mengetahui obat-obat asma, baik kegunaan maupun efek sampingnya. Terdapat dua jenis obat asma yaitu, obat-obat kerja cepat untuk mengatasi dengan segera serangan sesak nafas (reliver), dan obat-obat pencegahan jangka lama, untuk mengatasi peradangan saluran nafas (preventer/controller). Yang termasuk obat reliver adalah obat-obat bronkodilator kerja cepat seperti, salbuterol Albuterol, metaproterenol, terbutaline, dan procaterol. Selain itu, obat golongan anti cholinergik, teofilin kerja cepat, suntikan adrenalin atau epinefrin juga dapat dijadikan pilihan.

Penelitian para ahli belakangan ini menyebutkan bahwa peradangan yang kronik dapat merubah struktur dinding saluran nafas, sehingga menyebabkan remodelling pada dinding saluran nafas. Karena itu, pengobatan pencegahan jangka lama sangat dianjurkan. Obat pencegahan jangka lama yang dapat dipakai adalah kortikosteroid, cromoglycate, nedcromil, agonis B2 kerja lama, teofilin lepas lambat, dan leukotrien. Dari semua jenis obat yang tersedia, pemakaian obat inhalasi lebih diutamakan mengingat efeknya yang cepat, dosis yang kecil dan efek samping yang minimal meskipun diberikan dalam jangka panjang.

Ketiga, mengobati atau mengelola penyakit asma. Pengobatan tidak hanya dilakukan ketika serangan asma sedang berlangsung, tetapi juga saat tidak dalam serangan. Pengelolaan asma saat tidak dalam serangan dilakukan melalui pengobatan pencegahan dan latihan olah raga terpimpin. Penderita asma dengan tipe intermiten (sangat ringan) yang kekambuhannya dalam 1 minggu kurang dari 1 atau 2 kali, tidak memerlukan pengobatan pencegahan. Namun, penderita asma dengan tipe persisten ringan, persisten sedang dan persisten berat, harus mendapatkan terapi pencegahan secara bertahap disesuaikan dengan klasifikasinya.

Untuk memudahkan penanganan, penderita yang sedang mengalami serangan asma, dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu penderita dengan serangan asma ringan, serangan sedang dan serangan berat. Salah satu tanda untuk melihat pembagian berat ringannya serangan adalah dengan melihat cara berbicara. Bila ketika berbicara penderita masih dapat menyelesaikan kalimat, klasifikasi yang diberikan adalah serangan asma ringan. Saat penderita berbicara dengan suara terputus-putus, maka penderita digolongkan dalam serangan asma sedang. Tetapi jika penderita sudah mengalami kesulitan bicara karena sesak, penderita masuk dalam kelompok serangan asma berat. Penderita yang mengalami serangan ringan dapat diobati sendiri di rumah. Namun penderita yang mendapatkan serangan sedang dan berat harus ditangani di rumah sakit.

Keempat, mempelajari dan memahami faktor-faktor pencetus serangan asma (allergen), dan mengetahui cara mengendalikannya. Faktor-faktor pencetus ini dapat berbeda antara penderita yang satu dengan lainnya. Faktor-faktor yang sering dikatakan sebagai pemicu di antaranya adalah faktor alergen, emosi atau stres, infeksi, zat makanan, zat kimia, faktor fisik seperti perubahan cuaca, kegiatan jasmani, dan obat-obatan. Kerja faktor pencetus ini pun berbeda, ada faktor pencetus yang bisa mengakibatkan penyempitan saluran nafas (bronchospasme), seperti emosi, udara dingin, latihan, dan lain-lain. Ada pula faktor pencetus yang terutama menyebabkan peradangan seperti infeksi saluran pernafasan akut, alergen, zat kimia, dan asap rokok. Sebagian besar serangan asma dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor pencetus tersebut. Penderita yang gemar menghindar atau merubah perilaku untuk menjauhi factor pemicu, akan dengan mudah mencapai tujuan pengobatan asma. Sebaliknya, penderita yang “cuek” tak pernah berpantang dengan faktor pemicu akan sulit memperoleh kemajuan dalam pengobatan.

Kelima, membuat rencana emergensi (Action Plan). Action plan terutama diperlukan ketika serangan asma akan kambuh, dan penderita membutuhkan pertolongan secepatnya. Penanganan dengan cepat dan tepat dapat dilakukan bila penderita dan keluarganya membuat rencana emergensi secara tertulis bersama dokter, dan mengetahui kapan penyakit asmanya mulai tidak terkendali. Namun, bila penderita tidak mempunyai action plan, pengelolaan yang diberikan akan memakan waktu lebih lama, bahkan dapat terjadi underdiagnosa atau overdiagnosa sehingga merugikan penderita. Tidak terkendalinya asma mulai tampak manakala penderita dan keluarganya menemukan keadaan-keadaan sebagai berikut : gejala asma semakin bertambah, pemakaian obat bronkodilator kian sering, gejala asmanya tidak dapat dikurangi atau dihilangkan dengan bronkodilator, dan bila mempunyai alat Peak flow meter, alat tersebut akan menunjukan penurunan arus puncak ekspirasi (APE) serta kenaikan variability. Sewaktu keadaan-keadaan tersebut muncul, tindakan harus segera diambil agar penyakit kembali terkendali.

Keenam, rehabilitasi dan peningkatan kebugaran jasmani dengan olah raga atau latihan jasmani terpimpin. Penderita asma sering mengalami sesak sehingga sebagian otot-otot pernafasan kerap digunakan, sementara sebagian otot yang lain tidak. Otot-otot pernafasan yang banyak digunakan akan membesar dan yang jarang digunakan akan melemah. Akibatnya, efisiensi dan koordinasi pernafasan menjadi kurang baik, fungsi paru serta pertahanan paru pun menurun. Selain itu penderita asma juga terkadang mengalami keterbatasan fisik atau membatasi pekerjaan fisik karena takut sesak, sehingga kebugaran jasmaninya berkurang. Dengan melakukan latihan jasmani secara teratur yang terpimpin, otot pernafasan akan kembali berfungsi normal, kenaikan kapasitas vital paru meningkat dan kebugaran jasmani pun menjadi lebih baik.

Ketujuh, memonitor dan mengikuti perkembangan (follow up) penyakit penderita asma secara teratur. Hingga kini penyakit asma belum dapat disembuhkan, dan gejala asmanya sering bervariasi. Karena itu pengobatan harus dilakukan seumur hidup dan dimonitor serta diiikuti perkembangannya terus menerus. Hal ini diperlukan untuk melihat cocok tidaknya obat yang diberikan dalam mengendalikan asma. Dokter akan mengevaluasi apakah obat perlu ditambah, dikurangi atau dihentikan. Bila keadaan dan kebugaran jasmani penderita memang telah membaik, pengobatan dapat dihentikan.

Mengingat keadaan sosial ekonomi di Indonesia yang cukup beragam, para dokter diharapkan dapat mengadaptasi pengelolaan asma sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Tetapi yang terpenting prinsip dasar pengobatan harus tetap sama. Penderita dianjurkan agar proaktif dan semangat dalam mengatasi penyakitnya, serta tetap bekerjasama dengan dokter agar tujuan pengobatan asma dapat terwujud. Satu hal yang perlu diingat oleh penderita asma demi tercapainya tujuan tersebut, jangan biarkan asma mengendalikan Anda, tetapi Anda yang harus mengendalikan asma. (Agnes Tri Harjaningrum, dr.)


Yuk “Mojok” di Pojok Baca

Filed under Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat (Minggu, 23 Mei 2004)

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0504/23/hikmah/lainnya06.htm

mojokPRsmall.jpg

USAI salat magrib berjamaah dan mengaji, Pak Fahmi dan Bu Fahmi melangkah ke salah satu sudut di ruang tengah. Sembari duduk di atas karpet kecil warna-warni, mereka mengambil dan membaca beberapa buku dari rak buku. Kedua anak mereka yang masih bersekolah di sekolah dasar tampak heran melihat tingkah polah kedua orang tuanya. Belakangan ini, setelah selesai salat bersama, orang tua mereka selalu mojok di ruang itu sambil asyik membaca buku. Terkadang mereka membaca buku dalam hening, tak lama kemudian dengan suara keras, setelah itu tertawa bersama sambil menunjuk-nunjuk gambar. “Aneh, ada apa gerangan?” pikir mereka bingung. Rupanya Pak Fahmi dan Bu Fahmi sedang memasang strategi, dan mereka berhasil. Beberapa minggu berselang, kegiatan mojok sambil membaca tadi telah menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi keluarga mereka.Manfaat menjadi pecinta buku tidak lagi diragukan. Buku mampu membuat anak menjelajahi dunia tanpa harus keluar dari peraduannya yang sempit. Buku adalah jendela pengetahuan. Para pakar pendidikan bahkan menyebutkan, kegemaran membaca dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Minat baca masyarakat Indonesia yang rendah masih menjadi problema bagi upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia. Minat baca tidak dapat begitu saja tercipta, bahkan dengan pencanangan “Hari Buku Nasional ” sekali pun. Kegemaran membaca hanya muncul bila dibiasakan sedari kecil. Orang tua harus berusaha untuk menumbuhkan minat baca anak, seperti yang dilakukan pasangan muda dalam cerita di atas.

Banyak cara yang dapat dilakukan orang tua berkaitan dengan menumbuhkan kegemaran membaca. Secara rutin, anak-anak dapat diajak pergi ke tempat-tempat yang berhubungan dengan buku, misalnya ke toko buku atau meminjam buku di taman bacaan. Menyisihkan uang tabungan untuk membeli buku dan memberi hadiah buku kepada anak juga dapat menjadi pilihan. Tetapi, yang menjadi kunci utama adalah orang tua di rumah. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Lingkungan sekitar dan guru-guru di sekolah tidak dapat diandalkan untuk menanamkan kegemaran ini. Orang tua selayaknya memunyai cara dan memberikan teladan agar kegiatan membaca dapat dilakukan sejak dini, secara rutin, dan menyenangkan. Mengapa? Karena rutinitas yang dilakukan sejak dini pada akhirnya akan menjadi sebuah habit (kebiasaan).

Pepatah Inggris mengatakan we first make our habits, then our habits make us. Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dulu. Artinya, bila orang tua ingin seorang anak memunyai kegemaran membaca, kegiatan membaca inilah yang perlu dibiasakan sejak kecil. Dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective Families, Covey menyebutkan, terdapat sebuah riset yang telah menunjukkan alasan utama mengapa anak-anak tidak mau membaca. Jawabannya adalah karena mereka tidak melihat ayah mereka membaca. Hal ini memperlihatkan bahwa kebiasaan dan teladan merupakan faktor yang teramat penting.

Selain hal di atas, tugas lain orang tua adalah membuat ‘formula’ agar membaca dapat menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Bila membaca diidentikan dengan kegiatan yang menyebalkan atau menjadi sebuah paksaan, dalam hitungan menit, anak akan segera menghindar tanpa mau kembali. Sebaliknya, membaca buku bersama penuh canda ceria, membacakan buku di atas pangkuan dengan kasih sayang, perhatian serta cinta yang diberikan orang tua, akan menjadi pengalaman indah yang sangat berkesan bagi anak.

Hal-hal apa yang dapat dijadikan “formula” untuk membentuk kebiasaan membaca secara menyenangkan di rumah? Ema Sukaemah, S.Psi, psikolog yang berkecimpung dalam dunia anak, pada suatu kesempatan menjelaskan, orang tua sebaiknya membuat pojok bacaan atau perpustakaan kecil di rumah. Tak perlu mewah, cukup sediakan karpet atau tikar kecil, rak buku beserta bantal dan pernak-pernik lain yang mendukung. Setiap orang tua dari berbagai kelas ekonomi dapat melakukannya.

“Harga buku-buku bermutu memang belum terjangkau bagi sebagian kalangan. Namun hal ini bukanlah suatu hambatan. Bagi keluarga yang tak sanggup membeli buku-buku bermutu, cukup menyediakan majalah, koran atau buku-buku pinjaman. Dengan kebiasaan orang tua ‘mojok’ di pojok baca, anak akan melihat contoh bahwa orang tuanya suka membaca. Memulai pada anak berusia di atas 5 tahun memang lebih sulit, tetapi anak tak perlu dipaksa. Bila dilakukan dengan cara yang kreatif, sabar dan konsisten, anak pasti akan melirik dan kemudian tertarik. Orang tua dapat mengeraskan bacaan, tertawa melihat gambar, atau membuat skenario dengan pasangan agar anak tertarik datang ke pojok baca. Setelah anak tertarik, orang tua dapat memberikan keleluasaan bagi anak untuk memilih bacaan yang disukai. Berbagi bacaan dan pengalaman yang disukai di pojok baca sambil mengaitkannya dengan buku akan menjadi sebuah acara yang menyenangkan bagi keluarga. Rutinitas seperti ini di pojok baca, setengah sampai satu jam saja sehari akan menumbuhkan minat baca pada anak.” Demikian Ema menuturkan.

Bagi anak yang berusia lebih kecil, untuk menumbuhkan kebiasaan ini situs online childrensworld (childrensworld.com) memberikan saran-saran sebagai berikut. Pertama, orang tua sebaiknya melakukan kebiasaan membaca sejak anak berusia beberapa minggu atau bulan setelah kelahiran. Kedua, selain di pojok baca, buku-buku dapat diletakkan di tempat yang dekat dengan keseharian anak seperti di ruang tidur, kamar mandi, tempat bermain ataupun di dapur. Ketiga, orang tua harus bersuara keras saat membaca buku, majalah maupun koran. Menurut suatu penelitian, membaca dengan suara keras akan meningkatkan penguasaan bahasa pada anak. Selain itu juga agar anak mengetahui bahwa membaca adalah salah satu keahlian . Keempat, membaca sambil duduk di pangkuan ayah atau ibu akan membuat anak merasa nyaman dan dicintai, sehingga menimbulkan memori positif mengenai kegiatan membaca.

Memulai memang bukan perkara mudah. Tetapi demi sebuah bekal berharga di masa datang, mengapa tidak membuat pojok baca di sudut rumah?


Bunda, dari Mana Aku Lahir?

Filed under Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat, Minggu 9 Mei 2004

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0504/09/hikmah/lainnya01.htm

BundaPRsmall.jpg BundaPR2small.jpg

SEJAK pagi, Lala, si gadis kecil yang kritis dan ceriwis terlihat kesal.
Dari mulut mungilnya keluar ocehan kekesalan kepada tantenya. “Tante … Lala marah sama Bunda!” “Lho, kenapa, La?” tanya Tante Lala yang perutnya sedang membuncit karena hamil. “Lala cuma tanya, tapi Bunda nggak mau jawab. Katanya Lala masih terlalu kecil. Hmh Lala sebel sama Bunda! Padahal Lala kan umurnya 4 tahun Tante, sudah besar. Lala keseel banget!” “Memangnya Lala tanya apa La?” si tante kembali menyahut. “Lala tanya, kenapa perut Tante buncit. Kata Bunda, perut Tante ada adeknya, dulu perut Bunda juga buncit waktu Lala masih dalam perut Bunda. Terus Lala tanya lagi Tante, waktu Lala dalam perut, keluarnya lewat mana Bunda? Eh … Lala malah dimarahin Tante, disuruh diem, nggak boleh tanya-tanya lagi sama Bunda. Pokoknya Lala marah deh Tante!” jawab Lala sambil cemberut.BILA gadis kecil tadi menjelma menjadi seorang remaja, barangkali temannya akan berkomentar, “Kasiaan deh lo …!” Namun, dia hanya seorang gadis kecil berusia 4 tahun yang masih senang bertanya dan menyimpan beragam pertanyaan dalam kepalanya. Pertanyaan serupa sering dilontarkan anak balita seusia Lala. Kebanyakan orang tua menjawab sama, “Kamu masih terlalu kecil, tidak boleh tanya-tanya masalah itu, diam, diam, dan diam”, begitulah jawaban sebagian orang tua. Pada umumnya mereka masih menganggap seksualitas adalah sesuatu yang tabu dan saru untuk dibicarakan.

Padahal, di zaman yang ‘gila’ seperti ini, di mana kasus perkosaan dan sodomi pada anak meningkat sangat tajam, pendidikan seks sejak dini sangat diperlukan. Belum lagi masalah seks bebas di kalangan remaja yang semakin merajalela. Dengan kondisi seperti itu orang tua mana yang tidak cemas dan waswas melepas anaknya berangkat remaja.

Penelitian di pelbagai negara menemukan bahwa anak remaja akan terhindar dari keterlibatan dengan seks bebas, jika mereka dapat membicarakannya masalah seks dengan orang tua. Artinya, orang tua harus menjadi pendidik seksualitas bagi anak-anaknya. Hal ini hanya dapat dilakukan bila sejak dini, orang tua telah memberikan pendidikan seks untuk mereka.

Dalam sebuah seminar mengenai ‘Bicara Seks kepada Anak’, Elly Risman, S.Psi, seorang psikolog yang bertindak sebagai pembicara, menjelaskan bahwa orang tua memikul tanggung jawab sebagai pendidik seksualitas bagi anak-anaknya. Orang tua tidak dapat ‘mengekspor’ tanggung jawab ini kepada guru di sekolah atau lingkungan sekitar. Ini adalah tanggung jawab bersama, ayah dan ibu, sebagai pasangan yang telah diberi amanat oleh Tuhan. Masing-masing memunyai porsi untuk menjelaskan masalah seks pada anak. Sebagai contoh, ayahlah yang harus menjelaskan tentang mimpi basah kepada anak lelakinya menjelang akil balig. Sedangkan ibu bertugas membeberkan apa itu menstruasi kepada anak gadisnya yang beranjak remaja.

Selanjutnya Elly menerangkan tentang hal-hal yang harus dilakukan orang tua. “Landasan paling penting bagi orang tua dalam masalah ini adalah agama. Jadikanlah agama sebagai pedoman, karena panduan pendidikan seks pada anak sudah terangkum dalam ajaran agama. Orang tua harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar dapat menerangkan dan menjawab pertanyaan anak. Selain itu, orang tua harus memutuskan masa lalu dan keluar dari tabu-saru yang selama ini membelenggu.”

Bagaimanakah kiat dasar mengasuh seksualitas? Elly mengungkapkan, pendidikan ini tidak mungkin dilakukan secara ‘borongan’, tetapi harus ‘dicicil’ sedini mungkin. Orang tua harus proaktif, terlibat penuh dan tidak menunggu anak bertanya. Contohnya, ketika sedang memandikan balita, orang tua dapat sekaligus memberitahukan tentang tumbuhnya rambut lain di bagian tubuhnya. Ibu dapat berkata “Nanti kalau adek sudah besar, akan tumbuh rambut di ketiak dan di kemaluan adek.” Atau orang tua dapat menjelaskan tentang perlunya menjaga kemaluan dan bagian penting tubuhnya. “Dek, bagian dada sampai lutut adalah bagian penting tubuhmu, tidak boleh ada orang yang memegang kecuali ayah dan bunda ya.” Penjelasan ini penting untuk menghindari kasus perkosaan balita yang terutama sering dilakukan oleh kerabat dekat anak. Untuk ‘mencicil’nya orang tua harus waspada pada setiap tahap perkembangan anak. Orang tua harus paham, hal-hal apa saja yang perlu diketahui anak balita tentang seksualitas, bagaimana dengan anak usia 7-9 tahun dan bagaimana dengan remaja. Orang tua harus berada selangkah lebih maju dari anak, karena lingkungan telah membuat mereka sangat kritis dan cerdas dalam masalah ini.

Langkah-langkah praktis untuk menjelaskan tentang seks diterangkan Elly sebagai berikut. Bagi yang beragama Islam, pergunakanlah term Alquran. Ajarkan anak menyebut kemaluan laki-laki dan kemaluan perempuan seperti dalam Alquran, bukan ‘burung’ atau ‘dompet’. Istilah dalam bahasa Latin juga dapat dipergunakan, yaitu vagina dan penis. Perhatikan dan gunakan The Golden Opportunity (kesempatan emas). Maksudnya, setiap ada kesempatan untuk menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan seks, kemukakan saat itu juga. Tentunya disesuaikan dengan tahapan usia anak. Contoh, ketika melihat cicak sedang berdempetan-kawin, kucing melahirkan atau menyusui, jelaskan kejadian tersebut, dihubungkan dengan yang terjadi pada manusia. Terangkan dengan jelas, pendek, dan sederhana, atau diberi singkatan KISS (Keep Information Short and Simple) ,agar lebih mudah mengingatnya.

Kiat-kiat untuk menghadapi pertanyaan anak, orang tua harus tenang dan dapat mengontrol diri. Bila orang tua merasa segan, ungkapkan saja apa yang terasa dalam hati, bingung, kaget, heran atau perasaan lainnya. Segera jawab pertanyaan anak saat itu juga, dan jangan lupa untuk mengaitkannya dengan agama. Bila orang tua tidak siap menjawab pertanyaan anak, jawaban dapat ditunda tetapi janji untuk menjawab harus ditepati. Sebagai contoh, pertanyaan yang lazim ditanyakan anak usia 3-6 tahun adalah, “Bunda, dari mana aku lahir?” Orang tua dapat menjawab, “Dari rahim Bunda, adek keluar melalui vagina (kemaluan perempuan).”

Bila anak bertanya lebih lanjut, orang tua dapat menjelaskan melalui buku yang benar, bukan buku mengenai pornografi. Tunjukan gambar yang ada di buku dengan metode KISS. Orang tua dapat menerangkan “Kalau adek sudah mau keluar dari rahim Bunda, kemaluan Bunda akan melar seperti karet gelang ini.” Bila anak sudah berhenti bertanya, tak perlu melanjutkan penjelasan. Ingat, penjelasan harus jelas, singkat dan sederhana.

Orang tua terkadang panik ketika mendengar anak yang berusia 7 atau 8 tahun tiba-tiba bertanya, “Sodomi itu apa sih bu?” Bila kaget, orang tua dapat menarik napas terlebih dahulu agar tetap tenang di depan anak. Orang tua dapat berkata “Bunda kaget kakak bertanya seperti itu, kakak perlu jawaban sekarang?” Menunjukkan perasaan seperti ini akan membuat orang tua lebih tenang dalam menghadapi anak. Orang tua yang tidak siap dapat berkata kepada anaknya, “Wah jawabnya nanti ya sayang, Bunda harus masak dulu.” Tetapi jangan lupa, setelah berjanji menjawab, orang tua harus menepatinya. Untuk melakukan semua ini harus dibangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, sehingga anak yakin bahwa orang tualah tempat kembali ‘pulang’ di kala mereka kebingungan.

Pendidikan seks harus dimulai sejak dini dan bertahap sesuai perkembangan anak. Bila hal ini dilakukan, saat beranjak dewasa mereka tidak akan mencari penjelasan dari lingkungan sekitar yang terkadang menyesatkan. Mereka tidak lagi berpikir bahwa seks adalah sesuatu yang menarik dan patut untuk dicoba. Seks adalah suatu hal yang biasa karena mereka telah mengetahui apa itu seksualitas dan bagaimana mengantisipasi gejolak yang ada dalam dirinya. Apabila anak tidak mengerti, mereka akan selalu kembali dan bertanya kepada orang tua. Anak yakin hanya orang tua yang dapat dipercaya dan membantu menjawab seribu satu pertanyaan dalam benak mereka. Seks bebas akan terhindar dan anak menjauh dari perbuatan terlarang.

Menjadi pendidik seksualitas bagi anak memang tidak mudah. Namun, sesulit apapun orang tua harus memulainya. Hapuslah belenggu tabu dan saru. Bangun wacana baru dalam kehidupan mereka. Pertanyaan yang tak pernah terjawab akan membuat anak semakin ingin mencoba. Kasus perkosaan dan sodomi anak tak akan kunjung mereda. Jadilah pendidik seksualitas bagi anak, karena dengan bangga mereka akan berkata, “Bunda, sekarang aku tahu, dari mana aku lahir.”*** (Agnes Tri Harjaningrum dr. Ibu dua orang anak)


Pikiran Rakyat, Minggu, 28 Maret 2004

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0304/28/hikmah/lainnya02.htm

RAMBUTNYA tampak kusam kemerahan. Matanya yang cekung menatap tanpa gairah. Tubuh kecil dan kurus membuatnya terlihat ringkih. Sesekali digunakannya lengan baju untuk mengusap ingus yang keluar. Batuk- batuk kecil pun kerap terdengar dari mulutnya. Anak lelaki itu berjalan lunglai, bersama seorang ibu yang menggandengnya.Masuk ke dalam ruang praktik dokter, ibunya bercerita ” Anak saya sakit biasa Dok, panas-batuk-pilek. Sekarang, batuknya sudah 3 minggu lebih belum sembuh. Tapi saya bosan, hampir setiap bulan saya ganti dokter. Ririwit pisan budak teh, Dok (mudah sekali sakit anak ini, Dok). Mana makannya susah sekali. Padahal sudah saya beri vitamin dan obat cacing, tapi tetap saja kurus begini.”

Dokter memeriksa dengan teliti, memberi surat pengantar ke laboratorium, dan berpesan agar mereka kembali kontrol. Akhirnya, dokter menyimpulkan, “Ibu, anak ibu kemungkinan menderita tuberculosis (TB) Paru.”

“Hah!?” Kontan si ibu terhenyak.

“Dari mana, Dok? Di keluarga saya mah tidak ada turunan yang begini. Memang bapak tetangga sebelah itu Dok, seperti yang saya ceritakan kemarin, sering batuk-batuk. Katanya punya penyakit bronchitis. Dulu malah pernah batuk darah, sudah bosan berobat tapi belum sembuh juga katanya.”

Dokter pun menjawab, ” Saya memang sering mendengar masyarakat awam menyebut penyakit ini bronchitis, Bu. Padahal sama sekali berbeda. Lagipula, penyakit TB memang tidak diturunkan, tapi menular .”

Setiap tahun dunia diingatkan tentang bahaya TB melalui “TB Day” yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. Walaupun pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan untuk menanggulangi penyakit TB, angka kejadian penyakit ini tetap tinggi dan cenderung meningkat.

Kasus di atas sering terjadi di masyarakat. Penderita TB anak yang tidak terdeteksi, atau terlambat diketahui. Selain karena sulitnya dokter mendiagnosa kasus TB pada anak, banyak pula masyarakat yang belum mengetahui seluk beluk penyakit ini. Masih banyak orang yang tidak mengerti bahwa penyakit TB dapat menular. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak waspada ketika mengetahui ada penderita TB dewasa di sekitarnya. Penderita sendiri terkadang malas berobat atau tidak tuntas menyelesaikan pengobatan. Padahal sumber penularan yang paling berbahaya adalah orang dewasa yang positif menderita TB.

Dalam ‘Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis’ yang dikeluarkan Departemen kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) tahun 2003, diperkirakan terdapat 8 juta kasus baru terjadi di seluruh dunia setiap tahun dan hampir 3 juta orang meninggal sebagai akibat langsung dari penyakit ini. Kasus tuberculosis pada anak terjadi sekira 1,3 juta setiap tahun dan 450.000 di antaranya meninggal dunia. Laporan World Health Organization (WHO), tahun 1997, menyebutkan Indonesia menempati urutan ketiga dunia dalam hal jumlah kasus TB setelah India dan Cina. Pada tahun 1999 WHO memperkirakan, dari setiap 100.000 penduduk Indonesia akan ditemukan 130 penderita baru TB paru dengan bakteri tahan asam (BTA) positif.

Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita SpA, dokter spesialis konsultan penyakit paru anak, dalam makalahnya, ‘Pencegahan Tuberkulosis pada Bayi dan Anak’ ( tahun 2002) menyebutkan, karena sulitnya mendiagnosa TB pada anak, angka kejadian TB anak belum diketahui secara pasti. Namun bila angka kejadian TB dewasa tinggi dapat diperkirakan kejadian TB anak akan tinggi pula. Hal ini terjadi karena setiap orang dewasa dengan basil tahan asam (BTA) positif akan menularkan 10 orang di lingkungannya, terutama anak-anak. Karenanya sangat penting untuk mendeteksi TB pada dewasa dan menelusuri rantai penularannya. Sehingga setiap anak yang mempunyai risiko tertular dapat dideteksi dini dan diberi pencegahan.

Beberapa hal yang diduga berperan pada kenaikan angka kejadian TB antara lain adalah, diagnosis dan pengobatan yang tidak tepat, kepatuhan yang kurang, migrasi penduduk, peningkatan kasus HIV/AIDS, dan strategi DOTS ( Directly Observed Therapy Short-course) yang belum berhasil. Strategi DOTS adalah program yang direkomendasikan oleh WHO. Sejak tahun 1995 program ini dilaksanakan untuk menanggulangi pemberantasan tuberculosis paru di Indonesia.

Apakah tuberculosis itu? Dalam buku Depkes yang sama disebutkan, tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang sebagian besar disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara pernafasan ke dalam paru. Kemudian kuman menyebar dari paru ke bagian tubuh lain melalui system peredaran darah, system saluran limfa, saluran nafas atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. TB dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik di paru maupun di luar paru.

Sebagian besar orang yang terinfeksi (80-90%) belum tentu menjadi penderita tuberculosis. Untuk sementara, kuman yang berada dalam tubuh mereka bisa berada dalam keadaan dormant (tidur). Orang yang tidak menjadi sakit tetap mempunyai risiko untuk menderita tuberculosis sepanjang sisa hidupnya. Sedangkan mereka yang menjadi sakit disebut sebagai penderita tuberculosis.

Dalam makalah yang berjudul ‘Diagnosis dan Pengobatan Tuberkulosis pada Bayi dan Anak’ (tahun 2002), dr. Oma Rosmayudi SpA, pengajar di Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Anak Universitas Padjajaran, menjelaskan bahwa penyakit TB ditularkan orang dewasa kepada anak-anak, dan tidak dari anak ke dewasa. Sumber penularan yang paling berbahaya adalah penderita TB dewasa dan orang dewasa yang menderita TB paru dengan kavitas (caverne). Kasus seperti ini sangat infeksius dan dapat menularkan penyakit melalui batuk, bersin dan percakapan. Semakin sering dan lama kontak, makin besar pula kemungkinan terjadi penularan. Sumber penularan bagi bayi dan anak yang disebut kontak erat, adalah orangtuanya, orang serumah atau orang yang sering berkunjung.

Hal-hal berikut dapat terjadi pada bayi dan anak yang mempunyai kontak erat dengan penderita TB dewasa. Anak mungkin tidak pernah terkena infeksi, terkena infeksi tetapi tidak sampai menderita penyakit, mengalami infeksi yang kemudian menjadi penyakit, atau mengalami infeksi laten beberapa lama kemudian (akan mengalami penyakit apabila terjadi penurunan daya tahan tubuh). Anak yang rawan tertular TB adalah anak yang berusia dibawah 5 tahun. Bila terinfeksi, mereka mudah terkena penyakit TB, dan cenderung menderita TB berat seperti TB meningitis, TB milier atau penyakit paru berat. Muncul tidaknya infeksi penyakit TB tergantung beberapa faktor seperti daya tahan tubuh (umur,status gizi, penyakit, ada tidaknya kekebalan spesifik) serta jumlah dan virulensi kuman yang sampai ke saluran di paru-paru.

Diagnosis, pengobatan dan pencegahan

Mengapa diagnosa pasti TB pada anak sulit ditegakkan?. Diagnosis pasti TB dibuat bila ditemukan basil TB dari bahan yang diambil dari dahak (sputum), bilasan lambung atau jaringan yang terkena penyakit. Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang didapat. Karenanya diagnosis TB pada anak didasarkan atas diagnosis kemungkinan (probability) dari hasil gambaran klinis, gambaran radiologis, uji tuberculin dan pemeriksaan lain yang cocok. Selain itu, anak yang menderita TB tidak banyak menunjukkan gejala dan tanda. Hanya sebagian kecil penderita yang memberikan gejala tidak spesifik seperti demam, sulit makan, penurunan berat badan, batuk dan mengi (sesak nafas).

Konsensus nasional TB anak IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) 2002 membuat alur deteksi dini dan rujukan TB pada anak sebagai berikut. Seorang anak dicurigai menderita TB bila, ada riwayat kontak dengan penderita TB sputum BTA positif, reaksi cepat BCG( timbul kemerahan di lokasi suntikan dalam 3-7 hari setelah imunisasi BCG), berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan kurang yang tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi, demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas, batuk lebih dari 3 minggu, pembesaran kelenjar limfe superficial yang spesifik, skrolfuloderma, konjungtivitis fliktenularis, tes tuberculin yang positif (> 10 mm), dan gambaran foto rontgen sugestif TB. Bila ditemukan 3 gejala atau lebih, maka seorang anak dianggap menderita TB dan harus mendapatkan obat anti tuberculosis (OAT). Selanjutnya anak diobservasi selama 2 bulan. Bila keadaannya membaik maka OAT diteruskan, tapi bila tetap atau memburuk harus dirujuk ke rumah sakit.

Pengobatan TB pada bayi dan anak pada dasarnya sama dengan TB dewasa. OAT diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah dan dosis yang tepat selama 6-9 bulan supaya kuman dapat dibunuh. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan. Tahap intensif dimaksudkan untuk menghentikan proses penyakit. Tahap ini harus dilaksanakan dengan pengawasan ketat untuk mencegah terjadinya kekebalan obat selama 2 bulan. Sedangkan tahap lanjutan dimaksudkan agar semua kuman yang dorman (tidur) terbunuh. Pemberian obat kombinasi lebih sedikit tetapi dalam jangka waktu lebih panjang yaitu 4 bulan. Semua tahap OAT diberikan setiap hari dalam satu dosis sebelum makan pagi.

Mengingat angka kejadian TB yang cenderung meningkat, bagaimanakah cara pencegahan agar anak tidak tertular penyakit ini? Menurut Prof. Cissy dalam makalah yang sama, TB pada bayi dan anak dapat dicegah dengan beberapa cara seperti imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin), pengobatan untuk pencegahan (kemoprofilaksis), menghindari kontak dengan penderita TB, mendiagnosis dan mengobati kasus TB dewasa secara tepat, serta dengan menerapkan strategi DOTS .

Cara-cara pencegahan di atas telah dilakukan di Indonesia. Dengan segala keterbatasan yang ada, pemerintah telah melakukan Program pemberantasan tuberculosis paru dan berbagai kebijakan lainnya. Namun semua itu belum memperlihatkan hasil yang nyata. Karenanya peran aktif dokter dan masyarakat akan sangat membantu dalam pemberantasan penyakit ini.

Para dokter diharapkan selalu menambah pengetahuan dan ketrampilan agar dapat mendeteksi serta mendiagnosis penyakit TB pada stadium dini. Sedangkan masyarakat dituntut lebih proaktif dalam meningkatkan pengetahuan dan keingin-tahuan mengenai penyakit ini. Bila pengetahuan masyarakat bertambah, masyarakat akan lebih waspada, sehingga penyakit TB pada anak dapat terdeteksi dan terobati sejak awal.

Selain itu, masyarakat dapat membantu melaporkan kasus baru TB dewasa dan memberikan motivasi pada penderita untuk berobat dan tidak bosan meminum obat. Hasilnya, akan semakin banyak penderita dewasa yang sembuh dan tidak lagi menularkan penyakitnya pada anak-anak. Ingat, hembusan nafas setiap penderita TB paru dewasa dapat menular pada sepuluh anak disekitarnya, jangan biarkan! (Agnes Tri Harjaningrum, dokter umum, dan peserta klub penulisan Hardim)

Masuk ke dalam ruang praktik dokter, ibunya bercerita ” Anak saya sakit biasa Dok, panas-batuk-pilek. Sekarang, batuknya sudah 3 minggu lebih belum sembuh. Tapi saya bosan, hampir setiap bulan saya ganti dokter. Ririwit pisan budak teh, Dok (mudah sekali sakit anak ini, Dok). Mana makannya susah sekali. Padahal sudah saya beri vitamin dan obat cacing, tapi tetap saja kurus begini.”

Dokter memeriksa dengan teliti, memberi surat pengantar ke laboratorium, dan berpesan agar mereka kembali kontrol. Akhirnya, dokter menyimpulkan, “Ibu, anak ibu kemungkinan menderita tuberculosis (TB) Paru.”

“Hah!?” Kontan si ibu terhenyak.

“Dari mana, Dok? Di keluarga saya mah tidak ada turunan yang begini. Memang bapak tetangga sebelah itu Dok, seperti yang saya ceritakan kemarin, sering batuk-batuk. Katanya punya penyakit bronchitis. Dulu malah pernah batuk darah, sudah bosan berobat tapi belum sembuh juga katanya.”

Dokter pun menjawab, ” Saya memang sering mendengar masyarakat awam menyebut penyakit ini bronchitis, Bu. Padahal sama sekali berbeda. Lagipula, penyakit TB memang tidak diturunkan, tapi menular .”

Setiap tahun dunia diingatkan tentang bahaya TB melalui “TB Day” yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. Walaupun pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan untuk menanggulangi penyakit TB, angka kejadian penyakit ini tetap tinggi dan cenderung meningkat.

Kasus di atas sering terjadi di masyarakat. Penderita TB anak yang tidak terdeteksi, atau terlambat diketahui. Selain karena sulitnya dokter mendiagnosa kasus TB pada anak, banyak pula masyarakat yang belum mengetahui seluk beluk penyakit ini. Masih banyak orang yang tidak mengerti bahwa penyakit TB dapat menular. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak waspada ketika mengetahui ada penderita TB dewasa di sekitarnya. Penderita sendiri terkadang malas berobat atau tidak tuntas menyelesaikan pengobatan. Padahal sumber penularan yang paling berbahaya adalah orang dewasa yang positif menderita TB.

Dalam ‘Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis’ yang dikeluarkan Departemen kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) tahun 2003, diperkirakan terdapat 8 juta kasus baru terjadi di seluruh dunia setiap tahun dan hampir 3 juta orang meninggal sebagai akibat langsung dari penyakit ini. Kasus tuberculosis pada anak terjadi sekira 1,3 juta setiap tahun dan 450.000 di antaranya meninggal dunia. Laporan World Health Organization (WHO), tahun 1997, menyebutkan Indonesia menempati urutan ketiga dunia dalam hal jumlah kasus TB setelah India dan Cina. Pada tahun 1999 WHO memperkirakan, dari setiap 100.000 penduduk Indonesia akan ditemukan 130 penderita baru TB paru dengan bakteri tahan asam (BTA) positif.

Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita SpA, dokter spesialis konsultan penyakit paru anak, dalam makalahnya, ‘Pencegahan Tuberkulosis pada Bayi dan Anak’ ( tahun 2002) menyebutkan, karena sulitnya mendiagnosa TB pada anak, angka kejadian TB anak belum diketahui secara pasti. Namun bila angka kejadian TB dewasa tinggi dapat diperkirakan kejadian TB anak akan tinggi pula. Hal ini terjadi karena setiap orang dewasa dengan basil tahan asam (BTA) positif akan menularkan 10 orang di lingkungannya, terutama anak-anak. Karenanya sangat penting untuk mendeteksi TB pada dewasa dan menelusuri rantai penularannya. Sehingga setiap anak yang mempunyai risiko tertular dapat dideteksi dini dan diberi pencegahan.

Beberapa hal yang diduga berperan pada kenaikan angka kejadian TB antara lain adalah, diagnosis dan pengobatan yang tidak tepat, kepatuhan yang kurang, migrasi penduduk, peningkatan kasus HIV/AIDS, dan strategi DOTS ( Directly Observed Therapy Short-course) yang belum berhasil. Strategi DOTS adalah program yang direkomendasikan oleh WHO. Sejak tahun 1995 program ini dilaksanakan untuk menanggulangi pemberantasan tuberculosis paru di Indonesia.

Apakah tuberculosis itu? Dalam buku Depkes yang sama disebutkan, tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang sebagian besar disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara pernafasan ke dalam paru. Kemudian kuman menyebar dari paru ke bagian tubuh lain melalui system peredaran darah, system saluran limfa, saluran nafas atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. TB dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik di paru maupun di luar paru.

Sebagian besar orang yang terinfeksi (80-90%) belum tentu menjadi penderita tuberculosis. Untuk sementara, kuman yang berada dalam tubuh mereka bisa berada dalam keadaan dormant (tidur). Orang yang tidak menjadi sakit tetap mempunyai risiko untuk menderita tuberculosis sepanjang sisa hidupnya. Sedangkan mereka yang menjadi sakit disebut sebagai penderita tuberculosis.

Dalam makalah yang berjudul ‘Diagnosis dan Pengobatan Tuberkulosis pada Bayi dan Anak’ (tahun 2002), dr. Oma Rosmayudi SpA, pengajar di Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Anak Universitas Padjajaran, menjelaskan bahwa penyakit TB ditularkan orang dewasa kepada anak-anak, dan tidak dari anak ke dewasa. Sumber penularan yang paling berbahaya adalah penderita TB dewasa dan orang dewasa yang menderita TB paru dengan kavitas (caverne). Kasus seperti ini sangat infeksius dan dapat menularkan penyakit melalui batuk, bersin dan percakapan. Semakin sering dan lama kontak, makin besar pula kemungkinan terjadi penularan. Sumber penularan bagi bayi dan anak yang disebut kontak erat, adalah orangtuanya, orang serumah atau orang yang sering berkunjung.

Hal-hal berikut dapat terjadi pada bayi dan anak yang mempunyai kontak erat dengan penderita TB dewasa. Anak mungkin tidak pernah terkena infeksi, terkena infeksi tetapi tidak sampai menderita penyakit, mengalami infeksi yang kemudian menjadi penyakit, atau mengalami infeksi laten beberapa lama kemudian (akan mengalami penyakit apabila terjadi penurunan daya tahan tubuh). Anak yang rawan tertular TB adalah anak yang berusia dibawah 5 tahun. Bila terinfeksi, mereka mudah terkena penyakit TB, dan cenderung menderita TB berat seperti TB meningitis, TB milier atau penyakit paru berat. Muncul tidaknya infeksi penyakit TB tergantung beberapa faktor seperti daya tahan tubuh (umur,status gizi, penyakit, ada tidaknya kekebalan spesifik) serta jumlah dan virulensi kuman yang sampai ke saluran di paru-paru.

Diagnosis, pengobatan dan pencegahan

Mengapa diagnosa pasti TB pada anak sulit ditegakkan?. Diagnosis pasti TB dibuat bila ditemukan basil TB dari bahan yang diambil dari dahak (sputum), bilasan lambung atau jaringan yang terkena penyakit. Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang didapat. Karenanya diagnosis TB pada anak didasarkan atas diagnosis kemungkinan (probability) dari hasil gambaran klinis, gambaran radiologis, uji tuberculin dan pemeriksaan lain yang cocok. Selain itu, anak yang menderita TB tidak banyak menunjukkan gejala dan tanda. Hanya sebagian kecil penderita yang memberikan gejala tidak spesifik seperti demam, sulit makan, penurunan berat badan, batuk dan mengi (sesak nafas).

Konsensus nasional TB anak IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) 2002 membuat alur deteksi dini dan rujukan TB pada anak sebagai berikut. Seorang anak dicurigai menderita TB bila, ada riwayat kontak dengan penderita TB sputum BTA positif, reaksi cepat BCG( timbul kemerahan di lokasi suntikan dalam 3-7 hari setelah imunisasi BCG), berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan kurang yang tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi, demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas, batuk lebih dari 3 minggu, pembesaran kelenjar limfe superficial yang spesifik, skrolfuloderma, konjungtivitis fliktenularis, tes tuberculin yang positif (> 10 mm), dan gambaran foto rontgen sugestif TB. Bila ditemukan 3 gejala atau lebih, maka seorang anak dianggap menderita TB dan harus mendapatkan obat anti tuberculosis (OAT). Selanjutnya anak diobservasi selama 2 bulan. Bila keadaannya membaik maka OAT diteruskan, tapi bila tetap atau memburuk harus dirujuk ke rumah sakit.

Pengobatan TB pada bayi dan anak pada dasarnya sama dengan TB dewasa. OAT diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah dan dosis yang tepat selama 6-9 bulan supaya kuman dapat dibunuh. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan. Tahap intensif dimaksudkan untuk menghentikan proses penyakit. Tahap ini harus dilaksanakan dengan pengawasan ketat untuk mencegah terjadinya kekebalan obat selama 2 bulan. Sedangkan tahap lanjutan dimaksudkan agar semua kuman yang dorman (tidur) terbunuh. Pemberian obat kombinasi lebih sedikit tetapi dalam jangka waktu lebih panjang yaitu 4 bulan. Semua tahap OAT diberikan setiap hari dalam satu dosis sebelum makan pagi.

Mengingat angka kejadian TB yang cenderung meningkat, bagaimanakah cara pencegahan agar anak tidak tertular penyakit ini? Menurut Prof. Cissy dalam makalah yang sama, TB pada bayi dan anak dapat dicegah dengan beberapa cara seperti imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin), pengobatan untuk pencegahan (kemoprofilaksis), menghindari kontak dengan penderita TB, mendiagnosis dan mengobati kasus TB dewasa secara tepat, serta dengan menerapkan strategi DOTS .

Cara-cara pencegahan di atas telah dilakukan di Indonesia. Dengan segala keterbatasan yang ada, pemerintah telah melakukan Program pemberantasan tuberculosis paru dan berbagai kebijakan lainnya. Namun semua itu belum memperlihatkan hasil yang nyata. Karenanya peran aktif dokter dan masyarakat akan sangat membantu dalam pemberantasan penyakit ini.

Para dokter diharapkan selalu menambah pengetahuan dan ketrampilan agar dapat mendeteksi serta mendiagnosis penyakit TB pada stadium dini. Sedangkan masyarakat dituntut lebih proaktif dalam meningkatkan pengetahuan dan keingin-tahuan mengenai penyakit ini. Bila pengetahuan masyarakat bertambah, masyarakat akan lebih waspada, sehingga penyakit TB pada anak dapat terdeteksi dan terobati sejak awal.

Selain itu, masyarakat dapat membantu melaporkan kasus baru TB dewasa dan memberikan motivasi pada penderita untuk berobat dan tidak bosan meminum obat. Hasilnya, akan semakin banyak penderita dewasa yang sembuh dan tidak lagi menularkan penyakitnya pada anak-anak. Ingat, hembusan nafas setiap penderita TB paru dewasa dapat menular pada sepuluh anak disekitarnya, jangan biarkan! (Agnes Tri Harjaningrum, dokter umum, dan peserta klub penulisan Hardim)


My Name is John Don’t

Filed under Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat, Minggu, 14 Maret 2004

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0304/14/hikmah/lainnya4.htm

Alkisah, di negeri antah berantah, hiduplah seorang anak yang bernama John. Ibunya sering melarang apapun yang dilakukan John. Sedikit-sedikit, “John..don’t!”, sedikit-sedikit, “John..don’t!”. Akhirnya, setiap ada orang bertanya, “what’s your name?” Dia selalu menjawab, “my name is John Don’t”Setiap hari, anak-anak di belahan dunia mana pun, selalu mendengar kata larangan ini, “jangan!”. Di telinga mereka selalu terdengar “jangan nakal, jangan main air, jangan panjat-panjat, jangan ini, jangan itu, !” Persis seperti adegan sebuah iklan sabun pencuci. Seorang anak yang selalu dilarang ibunya karena takut kotor. Hampir setiap orangtua sering melakukannya. Melarang anak bermain air, tanah, naik pohon, berlari-lari, dan kegiatan bermain lainnya. Padahal, dunia anak adalah bermain. Alhasil, kreatifitas anak terhambat. Anak semakin membangkang, atau bahkan menjadi pasif dan penakut.

Bayangkanlah masalalu, saat orangtua masih kanak-kanak, dan mengalami hal yang sama. Sungguh, dilarang adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Kata-kata “tidak” dan “jangan” dapat menghilangkan semangat dalam situasi apapun. Anak-anak pun merasa demikian. Bedanya, anak tidak dapat mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Tetapi, bukankah orangtua juga perlu melarang anaknya? Ya, tentu saja. Namun ternyata, melarang pun ada caranya.

Menurut Elizabeth Hurlock dalam buku Psikologi Perkembangan Anak , ada tiga jenis tipe orangtua. Pertama, Tipe authoriter/authoritarian. Orang tua tipe ini mempunyai kontrol yang tinggi dan acceptance (penerimaan) yang rendah. Mereka menegakkan disiplin dengan kaku, tanpa kompromi. Anak selalu dilarang. Hasilnya, anak menjadi tidak percaya diri, pasif dan tak ada inisiatif. Profil lain yang muncul adalah anak pemurung, tidak bahagia, mudah terpengaruh, mudah stress, dan tidak bersahabat.

Kedua adalah tipe permissive. Orang tua mempunyai kontrol yang rendah dan acceptance yang tinggi .Anak diperbolehkan melakukan apa saja, jarang dilarang. Kadangkala mereka melarang, tetapi tidak konsisten. Profil yang muncul biasanya anak menjadi egois, agresif, dan impulsif. Anakpun menjadi tidak percaya diri, bossy (suka mendominasi), dan kurang pengendalian diri.

Tipe ketiga adalah authoritative. Orang tua seperti ini dapat menyeimbangkan antara kontrol dan acceptance. Mereka bersikap responsif terhadap kebutuhan anak, dan mendorong anak untuk menyatakan pendapat. Anak dilarang tetapi disertai argumentasi. Profil yang dihasilkan dari orangtua tipe ini adalah anak yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi, percaya diri, komunikatif, kooperatif, serta mempunyai self kontrol yang baik.

Dari ketiga tipe diatas, orangtua authoritative merupakan tipe paling ideal. Apabila melarang, orangtua tipe ini akan selalu memberi alasan. Anak diajak berargumen mengenai dampak baik dan buruk dari sebuah larangan. Sehingga, terjalin komunikasi yang sehat antara orangtua dan anak. Caranya pun bukan dengan mengucapkan kata ‘jangan’ atau ‘tidak boleh’. Tetapi menggantinya dengan kata-kata positif.

Mimi Doe dan Marsha Walch dalam buku Sepuluh Prinsip Spiritual Parenting menjelaskan bahwa kata-kata positif itu penting. Orangtua yang selalu berbicara positif, akan membantu menumbuhkan harga diri anak Kata-kata positif memiliki kekuatan untuk membuat anak merasa berguna, merasa senang, memberi harapan dan memupuk jiwa mereka. Kata-kata positif juga menular. Anak-anak yang biasa mendengarkan orangtuanya berbicara positif, akan melakukan hal yang sama pada sekelilingnya.

Tetapi bagaimana mungkin? Kebiasaan melarang anak dengan kata ‘jangan’ rasanya sudah mendarah daging dalam diri banyak orangtua. Saat ditemui di rumahnya, Ema Sukaemah S.psi, seorang psikolog yang berkecimpung dalam dunia anak mengatakan, “sesungguhnya semua hal bisa berubah, asalkan ada niat, motivasi, serta usaha keras dari orang tua. Bila orang tua mengingat anak merupakan titipan Tuhan. Yakin pula anak adalah amanah yang harus dijaga dan dipelihara baik-baik. Sungguh sebuah dosa bila orangtua tidak memberikan yang terbaik. Terlebih lagi melihat masa depan yang unpredictable, tantangan kehidupan pasti akan jauh lebih berat. Semua ini dapat menjadi motivasi yang kuat bagi orang tua.”

Faktor lain yang tak kalah penting menurut Ema adalah kesabaran, keikhlasan, dan kesepakatan dengan pasangan. Sabar yang tiada batas dan keikhlasan orang tua adalah hadiah paling berharga bagi seorang anak. Dengannya, orang tua dapat berpikir jernih dan mendapatkan banyak kreatifitas dalam pengasuhan anak. Begitu juga kesepakatan dengan pasangan.. Anak membutuhkan aturan konsisten yang tidak mungkin tercapai bila orangtua berbeda pendapat.

Selanjutnya Ema menjelaskan, sebelum menerapkan pada anak, orangtua lah yang harus berubah terlebih dahulu. Hilangkan kebiasaan berbicara dengan kalimat negatif. Libatkan anak untuk membantu menghilangkan kebiasaan orangtua. Hal ini sekaligus mengajarkan anak untuk belajar mengkritik orang tua dengan cara yang baik. Orangtua bisa membuat kesepakatan dengan anak, misalkan dengan kalimat? “Nak, sekarang bunda sedang belajar menggunakan kalimat positif. Kalau kamu dengar bunda bilang jangan atau tidak boleh, kamu boleh menegur bunda. Kasih bunda kode ya…” Kodenya bisa berupa jentikan jari, tepukan tangan, atau cara permainan lain. Yang penting anak paham, orangtuanya bahkan belajar menggunakan kata-kata positif. Selain itu, anak juga belajar bahwa orang tua boleh ditegur bila melakukan kesalahan. Anak tak perlu sungkan asalkan orang tua ditegur dengan cara yang baik. Selain membantu mengingatkan orangtua, anak juga mendapatkan pelajaran berharga dari kejadian yang dianggapnya bermain.

Kadangkala orangtua kesulitan saat hendak merubah kalimat negatif menjadi positif. Bagaimana contoh kalimatnya? Ema memberi contoh, “misalkan anak yang suka mencoret-coret dinding,. Ketimbang melarangnya dengan berkata, ‘jangan corat-coret di dinding!’ lebih baik orang tua mengatakan, ‘menggambarnya di kertas ini saja ya nak’..”

Contoh lain, bila ada seorang anak yang takut dengan kecoa. Biasanya orangtua akan selalu berkata ‘jangan takut!’ Padahal, semakin sering kata takut didengar anak, semakin sering pula kata tersebut terekam di otaknya. Hasilnya, anak akan semakin takut dan fobia dengan kecoa. Lebih baik orangtua menggunakan kalimat positif seperti, “Adek Cuma geli kan sama kecoa, adek anak pemberani, yuk kita lihat dari jauh..” Intinya adalah mengganti kata ‘jangan’ atau ‘tidak boleh’ dengan kalimat positif tanpa mengurangi maknanya. Keuntungan lain, anak menjadi jarang mendengar kata ‘jangan’. Sehingga bila anak dalam kondisi berbahaya , kata ‘jangan’ benar-benar ampuh. Anak akan langsung merespon. Berbeda bila kata jangan sering terucap. Anak cenderung mengabaikan ucapan orangtua.

Kata-kata mengandung banyak kekuatan, baik dan buruk. Melihat akibat yang ditimbulkan kata-kata negatif, dan keajaiban dari kata-kata positif, masihkah orangtua hendak mengobral kata ‘jangan’? Semoga tidak! Agar tak ada lagi John Don’t, John Don’t yang lain.


Nakita, 16 Maret 2002, Rubrik Surat Ayah Ibu

inunnakitasmall.jpg

Sejak anakku Ainun berusia 4 bulan, aku selalu meluangkan waktu minimal 15-30 menit setiap hari untuk membacakannya buku. Biasanya ini dilakukan sambil menyusui. Di usia 9 bulan, saat Ainun sudah bisa bicara, dia sudah mulai minta dibacakan buku, “Baca…baca…” begitu katanya setiap melihat buku. Begitu juga jika minta ASI pasti akan diikuti dengan minta dibacakan buku.Saat putriku itu berusia 16 bulan, aku memutuskan untuk bekerja di rumah sakit. Saat aku mendapat tugas jaga malam, dengan berat hati aku harus menyapih Ainun. Awalnya aku dan suami bingung bagaimana cara menyapihnya. Akhirnya sebelum pergi jaga, puting susu aku olesi dengan obat merah, lalu aku bilang padanya “Nun, lihat, nih, nenen bunda sakit. Sekarang Ainun enggak boleh nenen bunda lagi ya. Mimik susu aja.” Lalu dijawab dengan “Iya…iya…” sambil menangis. Untunglah suami dan orangtuaku membantu memberikan penjelasan pada Ainun sehingga akhirnya dia pun bisa tertidur.

Keesokan harinya, saat aku sudah berada di rumah, Ainun kembali teringat nenen, namun aku tetap konsisten memberinya penjelasan, “Nun, nenen bunda sakit.” Dia diam dan tak merengek lagi. Malam harinya aku dan suami dikagetkan dengan bangunnya Ainun, biasanya dia selalu minta nenen, eh…kali ini ternyata malah minta dibacakan buku. Sekalipun suami telah memberinya air putih Ainun tetap menangis keras. Malah bertambah keras sambil berteriak “Baca…baca…” Ya, akhirnya aku menurut juga membacakan buku untuknya, dan ternyata tangisannya langsung berhenti, dia pun tertidur kembali.

Dari situ aku berpendapat, membacakan anak buku selain bisa menumbuhkan kecintaan anak pada buku juga akan membantu perkembangan anak dalam hal kemampuan bicara, kognitif, hingga konsentrasi. Contohnya Ainun, dia sekarang sudah lancar bicara, mampu membentuk kalimat dengan 4-5 kata, sudah bisa memberikan jawaban yang relevan jika ditanya dan sudah mengerti konsep besar, kecil, panjang serta pendek,misalnya.