<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agnes Tri Harjaningrum &#187; Tulisan di Koran</title>
	<atom:link href="http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/category/tulisan-di-koran/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp</link>
	<description>Mengenal diri, berbagi inspirasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 23:22:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Susu, Dulu Kawan Sekarang Lawan?</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/755</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/755#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 11:21:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnes.ismailfahmi.org/wp/?p=755</guid>
		<description><![CDATA[Rupanya sejak bertahun-tahun lalu, memang telah terjadi pro dan kontra diantara para ahli mengenai
manfaat susu sapi. Pro dan kontra ini terjadi bukan tanpa dasar. Beberapa penelitian ilmiah tentang manfaat susu, hasilnya masih campur-campur.
“Ayo, jangan lupa minum susunya!” Peringatan itu hampir setiap pagi terdengar dari sudut-sudut rumah para keluarga, terutama di kota besar. Sejak jaman dulu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rupanya sejak bertahun-tahun lalu, memang telah terjadi pro dan kontra diantara para ahli mengenai<br />
manfaat susu sapi. Pro dan kontra ini terjadi bukan tanpa dasar. Beberapa penelitian ilmiah tentang manfaat susu, hasilnya masih campur-campur.</p>
<p>“Ayo, jangan lupa minum susunya!” Peringatan itu hampir setiap pagi terdengar dari sudut-sudut rumah para keluarga, terutama di kota besar. Sejak jaman dulu ketika susu mulai dipercaya perlu dikonsumsi untuk kesehatan tulang hingga jaman sekarang, produk-produk susu sapi dan dairy produk lainnya laris manis di pasaran. Apalagi bagi anak-anak, remaja, ibu hamil dan menyusui serta manula yang nyata-nyata memang memerlukan asupan tinggi calsium. Bagi mereka, minum susu sudah seperti kewajiban.<br />
<span id="more-755"></span><br />
Namun belakangan, tersiar kabar bahwa alih-alih dapat menguatkan tulang, susu malah bisa menyebabkan osteoporosis! Bahkan Prof. Dr. Hiromi Sinya, seorang ahli bedah yang bekerja di Beth Israel Medical Center New York, dalam bukunya yang menghebohkan, The Miracle of Enzyme, menyatakan bahwa susu sapi adalah minuman paling buruk untuk manusia. Susu sapi yang dulu merupakan sahabat manusia kini malah ditengarai sebagai biang kerok berbagai penyakit. Apakah benar demikian? Bagaimana para ahli menyikapi persoalan ini? Dan apa pula yang harus kita lakukan sebagai konsumen?</p>
<p>Rupanya sejak bertahun-tahun lalu memang telah terjadi pro dan kontra di antara para ahli mengenai manfaat susu sapi. Pro dan kontra ini terjadi bukan tanpa dasar. Beberapa penelitian ilmiah tentang manfaat susu hasilnya masih campur-campur. Kubu prosusu menyajikan data-data penelitian yang mendukung manfaat minum susu. Sementara kubu kontrasusu pun memberikan data-data penelitian yang memaparkan bahayanya mengonsumsi susu sapi. Membingungkan bukan?</p>
<p>Kontrasusu</p>
<p>Salah satu penelitian yang mendukung para ahli untuk memikirkan ulang tentang manfaat susu adalah penelitian yang dilakukan oleh Harvard’s Nurses’s Health Study terhadap 78.000 wanita selama 12 tahun. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa wanita yang meminum susu lebih dari satu gelas sehari malah memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mengalami patah tulang akibat osteoporosis.</p>
<p>Penelitian lain menunjukkan, makin tinggi konsumsi susu dan dairy product di suatu negara, ternyata makin tinggi pula kejadian osteoporosisnya. Amerika Serikat, negara-negara Skandinavia, dan Finlandia adalah pengguna susu dan dairy product tertinggi di dunia, dan ternyata angka kejadian osteoporosis di sana pun tertinggi di dunia. Sementara di negara-Kontrasusu</p>
<p>Salah satu penelitian yang mendukung para ahli untuk memikirkan ulang tentang manfaat susu adalah penelitian yang dilakukan oleh Harvard’s Nurses’s Health Study terhadap 78.000 wanita selama 12 tahun. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa wanita yang meminum susu lebih dari satu gelas sehari malah memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mengalami patah tulang akibat osteoporosis.</p>
<p>Penelitian lain menunjukkan, makin tinggi konsumsi susu dan dairy product di suatu negara, ternyata makin tinggi pula kejadian osteoporosisnya. Amerika Serikat, negara-negara Skandinavia, dan Finlandia adalah pengguna susu dan dairy product tertinggi di dunia, dan ternyata angka kejadian osteoporosis di sana pun tertinggi di dunia. Sementara di negara-negara yang konsumsi susu dan dairy product-nya rendah seperti Afrika Selatan atau Asia, angka kejadian osteoporosisnya malah tidak banyak.</p>
<p>Data tersebut baru mengaitkan susu dengan osteoporosis, belum lagi dengan masalah lain. Sekumpulan dokter dan pengacara yang tergabung dalam Physicians Committee for Responsible Medicines (PCRM) di Amerika, dalam situs webnya bahkan meminta orang tua untuk merenung ulang bila masih berpikir bahwa anak-anak butuh susu untuk pertumbuhan tulang yang kuat. Menurut PCRM, sebuah studi komprehensif yang diterbitkan pada tahun 2005 dalam Pediatrics memperlihatkan bahwa penambahan ekstrakalsium, baik dari susu maupun dari sumber lain ternyata tidak menimbulkan perbedaan pada densitas tulang anak-anak atau remaja. Selain itu, data-data membuktikan konsumsi susu ataupun dairy product lainnya malah berkontribusi terhadap terjadinya kegemukan, infeksi telinga, konstipasi, gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan beberapa kanker.</p>
<p>Prosusu</p>
<p>Sementara itu menurut para ahli yang prosusu, penelitian sejak puluhan tahun lalu telah membuktikan bahwa cara terbaik untuk mencegah patah tulang karena osteoporosis adalah dengan meminum susu sejak kecil. Susu adalah sumber utama kalsium yang juga kaya akan nutrisi penguat tulang lain seperti vitamin D, protein, potasium, dan fosfor. &#8220;Ada lebih dari tiga ratus penelitian yang sudah dilakukan untuk melihat hubungan antara konsumsi dairy product (termasuk susu) terhadap kondisi tulang. Hasil dari penelitian-penelitian tersebut kebanyakan memperlihatkan bahwa asupan tinggi dairy product dan tinggi kalsium akan melindungi dan menguatkan tulang,&#8221; kata dokter Robert Heaney, pakar biologi tulang dan kalsium dari Creighton University Omaha, Nebraska.</p>
<p>Salah satu contoh penelitian tersebut dilaporkan dalam Journal of the American Dietetic Association tahun 2004. Jurnal ini mengatakan bahwa anak-anak usia 3-13 tahun yang menolak minum susu mengalami patah tulang lebih sering daripada teman sebayanya yang minum susu. Contoh penelitian lain adalah laporan dari Journal of Nutrition tahun 2006. Penelitian ini menyimpulkan, asupan kalsium secara teratur pada gadis-gadis remaja, terutama dari susu, akan meningkatkan massa tulang dan tercapainya kepadatan maksimum pada tulang yang merupakan faktor penting dalam menentukan risiko osteoporosis dimasa tua.</p>
<p>Jadi bagaimana?</p>
<p>Yang pasti, meskipun di antara ahli masih terjadi perdebatan, mereka tetap sepakat bahwa kalsium memang sangat dibutuhkan untuk melindungi dan memperkuat tulang, serta mencegah osteoporosis. Permasalahannya adalah, apakah benar susu masih bisa dijadikan sumber utama kalsium? Para ahli yang prosusu sebetulnya sudah sepakat bahwa mengonsumsi susu, asalkan tidak berlebihan, tidak berbahaya. Akan tetapi, kubu kontrasusu tetap saja menyatakan bahwa susu tidak baik bagi kesehatan. Untuk menjembatani hal ini, Harvard School of Public Health (HSPH) dalam salah satu uraian di situswebnya memberikan solusi yang cukup bijak.</p>
<p>Menurut HSPH, bagi peminum susu, kuncinya adalah tidak berlebihan dalam minum susu karena belakangan ini tidak ada penelitian yang mendukung manfaat susu bila susu diminum lebih dari satu gelas sehari. Minum susu lebih dari segelas sehari tidak dapat mengurangi risiko terjadinya patah tulang akibat osteoporosis. Selain itu, minum susu berlebihan meningkatkan risiko terjadinya kanker prostat dan ovarium. Akan tetapi sebetulnya, minum susu asalkan tidak berlebihan mempunyai dampak positif. Salah satunya, susu bisa menurunkan terjadinya risiko kanker usus besar dan menurunkan risiko terjadinya tekanan darah tinggi.</p>
<p>Sementara bagi mereka yang tidak bisa mengonsumsi susu karena alergi misalnya, ataupun memang karena antisusu, HSPH menganjurkan asupan kalsium dari bahan-bahan makanan yang banyak mengandung kalsium seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, dan buah-buahan.</p>
<p>Namun, bagaimana dengan anak-anak dan remaja yang butuh asupan tinggi kalsium? Sebetulnya pilihan bergantung pada orang tua. American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa selain rasanya enak, susu mengandung nutrisi penting lain yang dibutuhkan anak. Minum susu juga praktis bagi anak-anak. Keuntungan susu ini belum tergantikan oleh sumber makanan lain. Oleh karena itu, AAP merekomendasikan konsumsi susu rendah lemak untuk anak di atas dua tahun bagi mereka yang tidak punya masalah dengan susu. Mengonsumsi kalsium dari bahan makanan lain tanpa susu tentu saja memungkinkan. Namun diperlukan kerja ekstra orang tua untuk merencanakan dan memonitor asupan makanan tinggi kalsium dalam jumlah besar. Apalagi umumnya jenis makanan tinggi kalsium lain belum tentu disukai oleh anak-anak. Akan tetapi sekali lagi, tetap &#8220;berkawan&#8221; dengan susu atau menjadikannya &#8220;lawan&#8221;, pilihan ada pada masing-masing. Yang jelas, untuk mencegah osteoporosis kita butuh asupan kalsium, olah raga, serta variasi sayur-sayuran dan buah-buahan yang cukup. Selamat memilih! (dr. Agnes Tri Harjaningrum)***</p>
<p>Selengkapnya baca di :</p>
<p><a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=115627">http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=115627</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/755/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Atasi Panik Saat Anak Sakit</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/495</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/495#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jul 2006 20:42:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/16/geulis/lainnya.htm>Pikiran Rakyat, 16 Juli 2006</a>

Jangan lupa, kapan pun anak mengalami kondisi gawat darurat, ia harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit. Tanda-tanda gawat darurat pada anak di antaranya rewel atau menangis terus menerus tidak dapat ditenangkan, kesadaran menurun, tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan, kejang atau kaku kuduk leher, sakit kepala hebat yang menetap, gangguan napas yang menyebabkan bibir dan wajah membiru, muntah dan diare terus-menerus, muntah menyemprot, dehidrasi, kejang berulang atau lama, demam tinggi pada bayi kurang dari 6 bulan.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/16/geulis/lainnya.htm>Pikiran Rakyat, 16 Juli 2006</a></p>
<p>Jangan lupa, kapan pun anak mengalami kondisi gawat darurat, ia harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit. Tanda-tanda gawat darurat pada anak di antaranya rewel atau menangis terus menerus tidak dapat ditenangkan, kesadaran menurun, tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan, kejang atau kaku kuduk leher, sakit kepala hebat yang menetap, gangguan napas yang menyebabkan bibir dan wajah membiru, muntah dan diare terus-menerus, muntah menyemprot, dehidrasi, kejang berulang atau lama, demam tinggi pada bayi kurang dari 6 bulan.</p>
<p>PANIK! Perasaan ini pasti pernah dialami oleh kebanyakan ibu bila anaknya sakit. Apalagi kalau anak baru satu, rasa gelisah dan was-was saat buah hati tergolek lemas, sering kali menyiksa. Wajar memang, tapi sedini mungkin belajar mengatasi panik saat anak sakit sebetulnya akan sangat menguntungkan bagi anak dan orang tua. Bahkan, berdamai dengan panik bisa menghemat pengeluaran lho! Kok bisa?<br />
<span id="more-495"></span><br />
Ya, karena panik ketika anak sakit, sering kali malah menyebabkan ibu bingung. Padahal penyakit langganan yang kerap diderita anak seperti demam, batuk, pilek, dan mencret, tidak selamanya memerlukan obat. Mekanisme pertahanan tubuh manusia kerap ampuh melawan penyakit-penyakit ringan tanpa butuh ke dokter atau minum obat. Yang sering terjadi, ibu akan buru-buru membawa anaknya, yang demamnya baru sehari misalnya, ke dokter. Akibatnya, kunjungan ke dokter malah lebih sering. Pengeluaran semakin membengkak, tubuh anak pun kerap terpapar obat yang mungkin sebenarnya tidak perlu. Nah, panik memang merugikan bukan? </p>
<p>Saat yang tepat ke dokter</p>
<p>Jadi bagaimana agar ibu tidak panik ketika anak sakit? Knowledge is power, begitu kata Sir Francis Bacon. Dalam hal ini, ibu perlu membekali dirinya dengan mengenali tanda-tanda kapan anak harus dibawa ke dokter dan kondisi gawat darurat pada anak. Pengetahuan tersebut akan membuat ibu tenang dan lebih mudah memutuskan tindakan yang akan diambil. Kapan dokter dihubungi?  </p>
<p>Demam</p>
<p>Biasanya, anak baru demam ringan saja ibu sudah buru-buru memberinya obat penurun panas, atau membawanya ke dokter. Padahal, kebanyakan demam tidak berbahaya dan belum tentu memerlukan obat penurun panas. Namun ada beberapa kondisi demam yang perlu diwaspadai. Dalam situs familydoctor.org ibu dianjurkan menghubungi dokter bila:</p>
<p>- Bayi berusia kurang dari 3 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celcius.<br />
- Bayi berusia 3 hingga 6 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh lebih besar dari 38,5 derajat Celcius.<br />
- Bayi serta anak berusia di atas 6 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh di atas 40 derajat Celcius. Jika demam terus berlanjut lebih dari 72 jam, ibu juga perlu menghubungi dokter.  </p>
<p>Muntah dan diare</p>
<p>Anak mengalami muntah umumnya bersamaan dengan diare atau penyakit perut lain yang disebabkan virus. Anak perlu segera dibawa ke dokter bila ia muntah terus menerus, ada nyeri perut hebat, dan anak mengalami dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi di antaranya buang air kecil menjadi jarang, bibir kering, berat badan turun, mata cekung, pada bayi ubun-ubun besar terlihat cekung, air kencing berwarna lebih tua dari biasanya, dan elastisitas kulit menurun. Anak juga perlu dibawa ke dokter bila ia sama sekali tidak mau minum, cairan muntahnya berwarna kehitaman atau kehijauan, cairan muntah keluar menyemprot, dan bila muntah disertai sakit kepala hebat. Jika anak muntah disertai adanya bintik-bintik merah muda atau keunguan yang tidak hilang saat ditekan, sebaiknya anak pun dibawa ke dokter.</p>
<p>Begitu pula dengan diare. Anak yang diare perlu segera dibawa ke dokter bila ia mengalami tanda-tanda dehidrasi seperti yang telah disebutkan di atas. Dokter juga perlu segera dihubungi bila diare yang terjadi disertai demam tinggi, terdapat darah dalam tinja, atau bila anak mengalami diare kronis (lebih dari 2 minggu).  </p>
<p>Batuk dan pilek</p>
<p>Sekalipun ingus yang keluar berwarna hijau, tak selamanya anak dengan batuk pilek harus dibawa ke dokter. Batuk pilek umumnya disebabkan virus, tak perlu antibiotika. Namun bila ingus kental berwarna hijau ini berlanjut hingga lebih dari 2 minggu, barulah anak perlu dibawa ke dokter. Dokter juga perlu dikunjungi bila anak mengalami batuk lebih dari satu minggu atau anak mengeluh nyeri telinga. Prinsipnya, bila kondisi anak dengan batuk pilek memburuk dalam 3-5 hari bawalah ia ke dokter. Akan tetapi, jika kondisi anak tetap baik, biarkan daya tahan tubuh anak yang mengobati batuk pileknya. Jika batuk pileknya tak kunjung sembuh dalam 10 hingga 14 hari, segera bawa anak ke dokter.</p>
<p>Kondisi dikatakan memburuk bila anak mengalami batuk hebat disertai sesak napas (bernapas dengan sekuat tenaga), tampak kebiruan di sekitar bibir, mulut, dan wajah, batuk hebat disertai muntah-muntah, sangat rewel, susah dibangunkan (letargi), mengalami dehidrasi, dan dahak mengeluarkan darah.</p>
<p>Terdapat perkecualian pada bayi yang berusia kurang dari 3 bulan. Dokter tetap harus dihubungi bila si bayi mengalami batuk pilek atau terbatuk-batuk selama beberapa jam. </p>
<p>Kondisi gawat darurat</p>
<p>Jangan lupa, kapan pun anak mengalami kondisi gawat darurat, ia harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit. Tanda-tanda gawat darurat pada anak di antaranya rewel atau menangis terus menerus tidak dapat ditenangkan, kesadaran menurun, tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan, kejang atau kaku kuduk leher, sakit kepala hebat yang menetap, gangguan napas yang menyebabkan bibir dan wajah membiru, muntah dan diare terus-menerus, muntah menyemprot, dehidrasi, kejang berulang atau lama, demam tinggi pada bayi kurang dari 6 bulan.</p>
<p>Nah, bila Ibu sudah mengenali tanda-tanda kapan anak perlu dibawa ke dokter dan kondisi gawat darurat pada anak, Ibu tak perlu panik lagi bila anak sakit. Agar Ibu semakin tenang, sambil memantau kondisi anak, Ibu bisa mencari informasi tentang gejala penyakit yang diderita anak dari buku, internet, atau sumber-sumber yang dapat dipercaya. Dengan demikian, pemahaman Ibu semakin bertambah, Ibu bisa bertindak tenang, tepat dan cepat. Uang pun tak terbuang untuk hal-hal yang tak diperlukan, menguntungkan bukan? (dr. Agnes Tri Harjaningrum, ibu 2 orang anak, tinggal di Belanda)*** </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/495/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Rusak Perkembangan Anak</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/438</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/438#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2005 14:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Pikiran Rakyat, 18 Desember 2005

<a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1205/18/hikmah/lain03.htm>Klik di sini</a>

TUGAS orang tua sebetulnya bukanlah mempercepat tumbuh kembang anak, tetapi membantu tumbuh kembang anak.

"INGIN mencetak anak cerdas, kreatif, dan genius? Temukan caranya di sini! Kembangkan bakat kecerdasan anak Anda sejak dini melalui konsep multiple inteligence! Flash card, cara ampuh untuk mengajari anak Anda membaca sejak dini!" Demikian bunyi pesan-pesan sponsor di media yang kerap terdengar. Derasnya informasi seperti ini umumnya memiliki niatan serupa: menjanjikan percepatan tumbuh kembang untuk menjadikan seorang anak menjadi anak berbakat, genius, atau cerdas.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pikiran Rakyat, 18 Desember 2005</p>
<p><a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1205/18/hikmah/lain03.htm>Klik di sini</a></p>
<p>TUGAS orang tua sebetulnya bukanlah mempercepat tumbuh kembang anak, tetapi membantu tumbuh kembang anak.</p>
<p>&#8220;INGIN mencetak anak cerdas, kreatif, dan genius? Temukan caranya di sini! Kembangkan bakat kecerdasan anak Anda sejak dini melalui konsep multiple inteligence! Flash card, cara ampuh untuk mengajari anak Anda membaca sejak dini!&#8221; Demikian bunyi pesan-pesan sponsor di media yang kerap terdengar. Derasnya informasi seperti ini umumnya memiliki niatan serupa: menjanjikan percepatan tumbuh kembang untuk menjadikan seorang anak menjadi anak berbakat, genius, atau cerdas.</p>
<p>Teori perkembangan dan pembelajaran yang diterapkan serta tren pendidikan di Indonesia pun kini semakin beragam. Sekolah-sekolah plus dan program pendidikan sejak usia dini kian menjamur.</p>
<p>Namun, apakah semua informasi, metode, maupun kurikulum pendidikan yang beragam dan banyak ditawarkan tersebut cocok untuk si anak? Bagaimana kita menyikapi derasnya iming-iming produk percepatan tumbuh kembang, teori, dan tren pendidikan yang ada tersebut? Permasalahan ini diungkap secara mendalam dalam seminar online WRMommies yang ke-4 dengan tema &#8220;Peranan Orang tua dan Praktisi dalam Membantu Tumbuh Kembang Anak Berbakat Melalui Pemahaman Teori &#038; Trend Pendidikan&#8221; pertengahan November 2005 lalu. Adi D. Adinugroho M.A., selaku narasumber, kini sedang menyelesaikan program doktoral dalam bidang special education di Purdue University, Amerika Serikat. Sedangkan nara sumber kedua, Dr. drg. Julia Van Tiel Ms. yang memiliki anak berbakat, kini bermukim di Belanda. Peserta seminar kali ini dibatasi hingga 358 peserta, yang tersebar di berbagai benua, Eropa, Amerika, Asia, Australia, dan Afrika. Peserta terbanyak tentu saja dari Indonesia, Jakarta khususnya.<br />
<span id="more-438"></span><br />
Kedua narasumber mengatakan, akibat maraknya informasi yang menjanjikan paket untuk mencerdaskan anak tersebut, orang tua kerap menjadi &#8220;panas&#8221;. Orang tua merasa khawatir dan panik karena perkembangan anaknya tidak &#8220;secepat&#8221; perkembangan anak lainnya. Padahal, proses tumbuh kembang adalah proses individual dan bukan merupakan suatu &#8220;lomba balap&#8221; siapa cepat dia paling super.</p>
<p>Intervensi berlebihan kepada anak dengan membombardir mereka melalui beragam paket tumbuh kembang yang menggiurkan, tanpa disadari malah dapat menjadi tindak penganiayaan fisik dan psikis bagi anak.  </p>
<p>Kesalahan persepsi</p>
<p>Bila dipandang dari pengertian ilmu keberbakatan ilmiah atau scientific, sebetulnya telah terjadi miskonsepsi tentang pengertian keberbakatan (giftedness) di masyarakat. Menurut Julia Van Tiel dalam makalahnya yang berjudul &#8220;Pengembangan Keberbakatan Gifted Children,&#8221; anak berbakat (gifted children) adalah mereka yang memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh ahli keberbakatan di dunia. Seorang anak berbakat haruslah memiliki inteligensia yang tinggi di atas rata-rata (IQ > 130), kreativitas yang tinggi, motivasi, serta komitmen kerja yang tinggi.</p>
<p>Faktor inteligensia adalah faktor yang stabil, sulit dipengaruhi dari luar karena merupakan faktor bawaan (genetik). Sementara, kreativitas dan motivasi merupakan faktor yang dapat dipengaruhi dari luar (lingkungan). Jadi, slogan yang mengatakan &#8220;semua anak pada dasarnya cerdas atau berbakat&#8221; adalah sangat keliru, karena jauh dari berbagai temuan ilmiah tentang tumbuh kembang anak.</p>
<p>Selain itu, teori perkembangan dan pembelajaran yang masih kontradiktif seperti teori multiple inteligence (MI) milik Howard Gardner, juga banyak dijadikan landasan pegangan sekolah-sekolah maupun panduan tumbuh kembang anak di Indonesia. Padahal, para akademisi pendidikan di dunia internasional telah menyatakan bahwa teori MI ini masih belum bisa dibuktikan pengukuran dan pembuktian empirisnya (pseudoscience). Yang dijelaskan oleh Gardner hanyalah kedelapan intelligence (keping-keping intelektual) miliknya tersebut. Sejauh ini belum ada sistematika dan acuan aplikasi teori MI. Begitu pula dengan alat pengukur keping-keping intelektual yang dijabarkan dalam MI. Parameter pengukur kemajuan kepingan intelektual tersebut dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan anak secara menyeluruh serta dampaknya terhadap intelektual-intelektual lainnya pun belum ada.</p>
<p>Apakah memang MI ini benar dapat memberikan manfaat? Project Zero, projek penelitian milik kelompok Gardner sudah belasan tahun tidak pernah menghasilkan bukti empiris. Bukti-bukti yang diberikan Gardner hanyalah berbagai testimoni dari para guru kelas. Akibatnya, yang terjadi di lapangan adalah trial and error, terserah kepada praktisi lapangan bagaimana menginterpretasi MI. Bahayanya, selain hanya membuang-buang waktu, kita juga tidak tahu lagi kapan harus berhenti menstimulasi. Padahal, hal ini bisa jadi malah menimbulkan abusing terhadap anak.</p>
<p>Menjadi advokat tangguh</p>
<p>Jadi bagaimana menyikapi segala persoalan ini? &#8220;Hal penting yang perlu diingat adalah, tugas orang tua sebetulnya bukanlah mempercepat tumbuh kembang anak, tetapi membantu tumbuh kembang anak. Kita tidak bisa menciptakan, mempercepat, maupun mengabaikan tahapan kesiapan anak di dalam proses tumbuh kembang. Karena semua itu merupakan suatu keunikan individu. Tentu boleh menetapkan harapan pada seorang anak, namun tetap harus melihat tahapan perkembangan berdasarkan range usia, kondisi anak, dan tahapan pertumbuhannya. Untuk itu, kita perlu memahami prinsip tumbuh kembang, memahami teori-teori dasar tumbuh kembang dan pembelajaran,&#8221; tulis Adi. D. Adinugroho dalam makalahnya yang berjudul &#8220;Membantu Tumbuh Kembang Anak dengan Memahami Teori &#038; Trend pendidikan&#8221;.</p>
<p>Adi pun menganjurkan, untuk mengendalikan arus informasi yang dikemas secara masif dan ekstrapersuasif tersebut, jadilah advokat yang tangguh bagi anak-anak kita. Menjadi advokat tangguh berarti selalu kritis dalam menyerap serta memilah informasi. Jadi, kita bisa tahu persis apakah metode tersebut benar-benar efektif atau hanya &#8220;kelihatannya efektif&#8221; tapi tidak bisa diukur. Alhasil, keputusan bisa diambil dengan meminimalkan risiko trial and error.</p>
<p>Jangan lupa, kita perlu selalu mempertimbangkan kepentingan anak, menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan anak, serta mengkaji dampak positif maupun negatif bagi kelangsungan hidup mereka di masa depan. Dengan demikian, anak pun dapat menikmati proses tumbuh kembangnya dengan baik, karena tak lagi merasa terbebani dengan &#8220;lomba balap&#8221; yang kerap diciptakan orang tua maupun lingkungannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/438/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Puasa tanpa Terpaksa</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/431</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/431#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2005 23:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Pikiran Rakyat, 25 September 2005

<a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0905/25/hikmah/lainnya03.htm>Klik di sini</a>

"Tapi Bu, aku betul-betul nggak mau makan. Aku anak laki-laki dan sudah besar, aku bisa puasa bu," kata Thabit pada ibunya. "Kamu juga puasa, Thabit. Anak umur 7 tahun berpuasa dengan sahur di pagi hari, sedikit makan di siang hari, kemudian mereka tidak makan apa pun sampai tiba waktunya berbuka," kata ibunya lagi. "Tapi Ibu kok tidak berpuasa seperti aku ?" anak lelaki kecil itu memaksa. "Ibu sudah dewasa Thabit, Ibu berpuasa dengan cara orang dewasa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pikiran Rakyat, 25 September 2005</p>
<p><a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0905/25/hikmah/lainnya03.htm>Klik di sini</a></p>
<p>&#8220;Tapi Bu, aku betul-betul nggak mau makan. Aku anak laki-laki dan sudah besar, aku bisa puasa bu,&#8221; kata Thabit pada ibunya. &#8220;Kamu juga puasa, Thabit. Anak umur 7 tahun berpuasa dengan sahur di pagi hari, sedikit makan di siang hari, kemudian mereka tidak makan apa pun sampai tiba waktunya berbuka,&#8221; kata ibunya lagi. &#8220;Tapi Ibu kok tidak berpuasa seperti aku ?&#8221; anak lelaki kecil itu memaksa. &#8220;Ibu sudah dewasa Thabit, Ibu berpuasa dengan cara orang dewasa.<!--break-->Cuplikan percakapan antara ibu dan anak ini diambil dari sebuah situs Muslim di internet. Membacanya barangkali bisa membuat kening beberapa orang tua berkerut dan bergumam dalam hati, &#8220;Lho ibunya Thabit ini bagaimana sih, lha wong anak ingin puasa sehari penuh malah dilarang?&#8221; Percakapan di atas memang mungkin terdengar tak lazim, karena yang kerap terjadi malah sebaliknya. Orang tua, secara sadar maupun tidak, sering memaksa anak untuk berpuasa sehari atau sebulan penuh, bahkan sejak usia balita. Orang tua pun bangga bila anaknya mampu berpuasa sehari penuh sejak usia dini.<br />
<span id="more-431"></span><br />
Salahkah? Tentunya sah-sah saja bila orang tua berbangga hati kepada anaknya, karena mengajarkan puasa pada anak memang tak mudah. Selain itu, belajar puasa sejak kecil tak diragukan lagi manfaatnya. Namun yang perlu diingat, tujuan dalam proses belajar berpuasa bukanlah berhasil atau tidaknya anak berpuasa sehari penuh atau satu bulan berpuasa tamat tanpa batal. Inti dari mengajarkan anak berpuasa sejak kecil adalah agar anak mengenal dan memahami seluk beluk puasa, sehingga menjadi senang berpuasa dan ingin berpuasa dengan kemauannya sendiri tanpa paksaan.</p>
<p>Dalam Alquran disebutkan, anak-anak hingga usia akil balig (12 tahun) belum diwajibkan berpuasa. Namun, sebagian besar ulama sepakat untuk mengajarkan puasa sejak kecil agar di usia akil balig nanti, anak sudah terbiasa berpuasa. Sejak usia berapakah anak mulai dapat diajarkan berpuasa? Dalam agama Islam sendiri, terdapat beragam pendapat mengenai hal ini. Tetapi &#8212; seperti halnya hadis untuk mengajarkan salat yang menganjurkan anak dilatih salat saat anak berusia 7 tahun&#8211; beberapa ulama pun memakai usia ini sebagai usia awal untuk melatih anak berpuasa.</p>
<p>Dari segi kesehatan, tidak ada patokan baku kapan seorang anak mulai mampu berpuasa. Prof. DR. Dedi Soebardja, dr, Sp.A(K), salah seorang staf pengajar di bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung mengatakan, seorang anak dapat mulai dilatih berpuasa sejak anak tersebut mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, dan sudah mulai bisa bersosialisasi. Biasanya ini dicapai saat anak berusia 6 atau 7 tahun. Selain itu, mengingat pertumbuhan otak yang optimal berlangsung selama masa balita, latihan puasa dianjurkan pada anak yang telah melewati masa balita.</p>
<p>Sejalan dengan penuturan di atas, Dr. Eva J. Soelaeman, Sp.A menganjurkan, sebaiknya balita jangan terlalu dipaksa berpuasa karena ia masih dalam fase pertumbuhan. Setelah usia enam tahun anak diperbolehkan berpuasa, karena pada usia itu pertumbuhannya sudah melambat.</p>
<p>Lantas, apakah ini berarti seorang anak tidak diperbolehkan diajarkan berpuasa seharian penuh? Tentu saja tidak, karena bagaimana pun anak-anak perlu dilatih berpuasa sejak kecil. Tetapi orang tua perlu berhati-hati dalam mengajarkan anak berpuasa, dan melatihnya pun harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi anak. Orang tualah yang sesungguhnya paling tahu kapan sang anak siap untuk dikenalkan tentang puasa dan mulai berlatih berpuasa.</p>
<p><b>Apa tindakan orang tua?</b></p>
<p>Tampaknya perlu dibedakan antara mengenalkan anak tentang puasa dan melatih anak untuk betul-betul mulai berpuasa. Sebelum usia 6 atau 7 tahun, bila Ramadan menjelang, orang tua bisa mengenalkan serta melibatkan anak pada kegiatan-kegiatan di bulan Ramadan seperti buka puasa bersama, mengaji, dan salat tarawih. Selain itu, mendengarkan lagu-lagu tentang puasa, cerita Ramadan atau pengalaman masa kecil orang tua saat berpuasa, secara tidak langsung bisa memotivasi anak untuk belajar puasa.</p>
<p>Menjelang usia 6 atau 7 tahun, saat anak sudah bisa diajak berdialog, diskusi tentang puasa yang dibangun antara anak dan orang tua akan sangat membantu kesiapan mental anak untuk berpuasa. Sebagai contoh, orang tua dapat menjelaskan tentang pentingnya puasa lewat kalimat berikut, &#8220;Perut kita seperti blender yang menghaluskan buah-buahan itu, Nak. Bayangkan kalau blender itu harus bekerja terus-menerus menghancurkan makanan, bisa rusak kan? Begitu juga dengan perut kita, karena itulah perut kita perlu beristirahat. Allah tahu betul dengan keadaan tubuh kita, Allah yang membuat tubuh manusia, karena itulah Allah menyuruh manusia berpuasa.&#8221;</p>
<p>Sebaiknya anak pun dipersiapkan dengan kondisi-kondisi tak nyaman saat puasa seperti rasa lapar, sedikit lemas, dan harus bisa menahan diri dari berbagai godaan. Bila dialog sudah terbangun, tak ada salahnya orang tua membiarkan anak memutuskan sendiri di usia berapa ia akan mulai berlatih berpuasa. Dengan memberikan pilihan usia 6 atau 7 tahun misalnya, anak akan merasa lebih siap saat berpuasa karena dia telah memilih dengan kesadarannya sendiri.</p>
<p>Berlatih berpuasa tentunya tak bisa simsalabim. Proses belajar ini harus dilakukan bertahap sesuai dengan kemampuan anak. Contohnya, di awal latihan, puasa bisa dilakukan hingga pukul 9.00 WIB atau 10.00 WIB. Setelah makan, puasa dilanjutkan kembali hingga siang hari. Usai batal sejenak di siang hari, puasa bisa dilanjutkan lagi hingga magrib. Kemudian di tahun berikutnya, puasa dapat dilakukan hingga pukul 12.00 WIB, dan seterusnya.</p>
<p>Dari sisi kesehatan, yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mempersiapkan anak berpuasa adalah kecukupan gizi makanan dan waktu tidurnya. Tidur lebih awal akan membuat anak segar dan cukup tidur walaupun harus bangun lebih pagi. Saat makan sahur dan berbuka, hindari makan yang berlebihan serta makanan yang terlalu banyak mengandung lemak dan minyak. Minum teh berlebihan saat sahur dapat meningkatkan produksi air kencing dan mengeluarkan zat-zat mineral dalam tubuh yang diperlukan. Oleh karena itu sebaiknya terlalu banyak minum teh pun perlu dihindari di saat sahur.</p>
<p>Anak-anak harus mendapatkan makanan beragam dan mengandung lima unsur gizi lengkap seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Makanan yang dimakan saat sahur sebaiknya adalah jenis makanan yang kaya serat dan protein. Makanan tinggi serat akan dicerna lebih lama oleh tubuh, sehingga proses pengosongan lambung pun akan lebih lama pula. Makanan semacam ini dapat diperoleh dari kompleks karbohidrat, sayur-sayuran dan buah-buahan. Kompleks karbohidrat biasanya terdapat dalam makanan seperti gandum, sereal, beras merah, roti berserat, dan lain-lain. Kurma dan pisang juga sangat baik dikonsumsi baik saat sahur maupun berbuka. Kedua jenis makanan ini banyak mengandung mineral dan vitamin yang sangat diperlukan tubuh.</p>
<p>Yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah kebutuhan cairan anak. Jangan sampai anak mengalami dehidrasi saat berpuasa. Sup dan jus buah saat sahur, dapat menambah kebutuhan cairan dan mineral anak yang berpuasa. Saat berbuka pun anak-anak sebaiknya diingatkan untuk memperbanyak minum. Dengan menjaga asupan makanan anak, dan dengan memperhatikan kesiapan fisik serta mental anak sebelum berlatih berpuasa, semoga anak-anak bisa belajar puasa tanpa terpaksa.*** </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/431/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deteksi Dini dan Penanganan Anak Berbakat</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/425</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/425#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2005 01:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Pikiran Rakyat, 10 Juli 2005
<a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0705/10/hikmah/lainnya4.htm>Klik di sini</a>

Ini Versi aslinya, di PR banyak yang di edit tampaknya karena terlalu panjang.

Setiap anak adalah unik. Namun, apakah setiap anak pada dasarnya cerdas, jenius atau berbakat seperti yang sering digembar gemborkan belakangan ini? Apa Sebetulnya yang dimaksud dengan anak berbakat? Bagaimana ciri-cirinya, dan bagaimana pula mendeteksi serta menanganinya? Dalam Seminar Online We R Mommies Indonesia yang ke-3 pertengahan Juni lalu, permasalahan anak berbakat ini dikupas secara mendalam. Selama 6 hari, peserta menyimak uraian dari nara sumber, melakukan tanya jawab, dan saling berdiskusi diantara sesama peserta secara online dari komputer masing-masing. Tiga orang nara sumber yang terdiri dari ibu Ike R. Sugianto Psi., dr. Waldi Nurhamzah SpA., dan juga ibu Dr.drg. Julia VanTiel, Ms, mendapatkan ï¿½banjirï¿½ pertanyaan dari para peserta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pikiran Rakyat, 10 Juli 2005<br />
<a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0705/10/hikmah/lainnya4.htm>Klik di sini</a></p>
<p>Ini Versi aslinya, di PR banyak yang di edit tampaknya karena terlalu panjang.</p>
<p>Setiap anak adalah unik. Namun, apakah setiap anak pada dasarnya cerdas, jenius atau berbakat seperti yang sering digembar gemborkan belakangan ini? Apa Sebetulnya yang dimaksud dengan anak berbakat? Bagaimana ciri-cirinya, dan bagaimana pula mendeteksi serta menanganinya? Dalam Seminar Online We R Mommies Indonesia yang ke-3 pertengahan Juni lalu, permasalahan anak berbakat ini dikupas secara mendalam. Selama 6 hari, peserta menyimak uraian dari nara sumber, melakukan tanya jawab, dan saling berdiskusi diantara sesama peserta secara online dari komputer masing-masing. Tiga orang nara sumber yang terdiri dari ibu Ike R. Sugianto Psi., dr. Waldi Nurhamzah SpA., dan juga ibu Dr.drg. Julia VanTiel, Ms, mendapatkan ï¿½banjirï¿½ pertanyaan dari para peserta.<!--break-->We R Mommies Indonesia sendiri merupakan sebuah mailing list yang didirikan untuk berbagi informasi, pengetahuan dan ketrampilan seputar kehidupan ibu, calon ibu dan wanita umumnya. Kali ini, WRM menyelenggarakan seminar online dengan topik ï¿½Deteksi Dini dan Penanganan Anak Berbakatï¿½. Topik ini tampaknya begitu diminati masyarakat, terbukti dengan jumlah peserta seminar online yang mencapai 509 orang. Sebagian besar peserta berasal dari Jakarta. Sisanya adalah masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru dunia seperti  Amerika Serikat, Belanda, Hongkong, Singapura, Jepang, Jerman, Myanmar, Malaysia dan Australia.<br />
 <span id="more-425"></span><br />
 Dalam tulisannya yang berjudul ï¿½Repotnya Ilmu Keberbakatanï¿½, ibu Julia Van Tielï¿½yang juga memiliki anak berbakat dengan disinkroni perkembanganï¿½ menegaskan bahwa keberbakatan adalah suatu potensi bawaan (genetik/nature). Sesuai dengan teori nature dan nuture yang kini menjadi pegangan para ahli anak berbakat diseluruh dunia, potensi bawaan ini memerlukan pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan dan personalitas  yang dipunyai setiap anak berbakat (nurture). Jadi setiap anak memang terlahir unik. Tapi apakah setiap anak terlahir cerdas? Belum tentu jawabnya.</p>
<p>Dalam makalahnya, lebih lanjut ibu Julia mengatakan bahwa keberbakatan mempunyai pengertian yang sangat kompleks dan bukan merupakan faktor tunggal. Dalam bahasa Inggris digunakan istilah giftedness dan untuk anak berbakat digunakan istilah gifted children.  Lantaran anak-anak balita belum bisa dikatakan sebagai anak berbakat (gifted children) ï¿½karena belum dapat dilakukan tes IQ padanyaï¿½maka di Belanda anak-anak ini disebut anak yang mengalami loncatan perkembangan (kinderen met ontwikkeling voorsprong).  </p>
<p>Konsep anak berbakat yang sering dipakai adalah milik Renzulli, yang mengidentifikasikan bahwa seorang anak dapat dikatakan sebagai anak berbakat jika ia mempunyai: inteligensia yang tinggi di atas rata-rata (IQ lebih dari 130) ; kreativitas yang tinggi; serta motivasi dan ketahanan kerja yang tinggi pula. Namun Mï¿½nks menambahkan potensi itu tidak akan terwujud jika tidak ada dukungan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan. Dari kedua ahli ini maka dilengkapilah pengertian  keberbakatan dengan ringkasan yang disebut Triadik Renzulli-Mï¿½nks.</p>
<p>Deteksi Dini</p>
<p>Lalu bagaimanakah cara dokter mendeteksi secara dini keberbakatan seorang anak? Dokter Waldi Nurhamzah SpA. yang juga staf pengajar di FKUI ini menjelaskan bahwa dalam pendidikan bidang kedokteran anak (pediatri, S2) para siswa-didik tidak mendapatkan pendidikan kemampuan untuk melakukaan penilaian (assesment) terhadap anak-berbakat. Materi pembelajaran di bidang pediatri yg ditempuh selama 4 tahun di Indonesia mencakup persoalan pediatri yg masih mengemuka di Indonesia (&#8220;must know&#8221;)ï¿½seperti penyakit infeksi yang masih merupakan penyakit mayoritas. Alhasil persoalan dengan insidens kecil lazimnya merupakan pembelajaran yg &#8220;nice to know&#8221; saja. </p>
<p>ï¿½Konsekuensinya, para dokter anak (sebagai produknya) juga tidak mengetahui masalah anak-berbakat. Hanya dokter yang tertarik saja mungkin yang mendalaminya sendiri. Jadi bila dalam asesment pediatri timbul gangguan perkembangan yang mengarah ke lingkup psikologi, maka kasus tersebut dirujuk ke psikolog atau psikiater.ï¿½ Tutur dokter Waldi menjelaskan.</p>
<p>Melanjutkan pendapat dokter Waldi, ibu Julia yang kini aktif mengasuh mailing list anak berbakat ini menekankan tentang pentingnya masalah deteksi dini anak berbakat. ï¿½Deteksi dini tentu saja memerlukan berbagai pendekatan dari beragam keilmuan terutama psikolog, dokter, pedagog, juga bantuan guru dan orang tua dalam pengamatannya. Deteksi dini sangat penting, karena akhir-akhir ini di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, banyak diantara anak-anak ini terjerat diagnosa berbagai gangguan baik gangguan perilaku bermasalah, maupun gangguan mental.  Mereka kemudian  mendapatkan terapi yang sesungguhnya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Pada akhirnya terapi tersebut malah akan menyebabkan potensi keberbakatan yang dimilikinya tidak terpupuk dengan baik. Kondisi tersebut bahkan bisa menyebabkan anak menjadi frustasi, marah, tidak percaya diri, memiliki rasa takut yang hebat, mengalamai psikosomatis  dan berbagai problem lainnya .ï¿½ Paparnya dalam makalahnya.</p>
<p>Lantas, apa yang dilakukan oleh seorang psikolog dalam mendeteksi anak berbakat? Ibu Ike R.Sugianto Psi. yang saat ini bekerja di klinik Anakku Greenville mengemukakan tentang metode pengukuran dalam ilmu psikologi. Biasanya akan dilakukan observasi, wawancara dan tes untuk seorang anak. Namun tes hanya bisa dilakukan oleh ahlinya. Observasi sebetulnya bisa dilakukan oleh orang tua dengan cara membandingkan perilaku anak dengan ciri-ciri anak berbakat. Tapi tentu saja, kondisi ideal adalah dengan melakukan ketiga metoda tersebut.</p>
<p>Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan seputar cara untuk mengetahui bakat anak, ibu Ike menegaskan bahwa tidak ada tes yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi bakat anak. Tes IQ tidak digunakan untuk melihat minat dan bakat anak. Sesuai dengan namanya, tes ini lebih diarahkan kepada pengukuran intelektual (intelligency Quotient).  Sedangkan tes minat dan bakat yang dilakukan dengan battery psikologi, lebih tepat dikenakan pada anak-anak diatas tingkat SMP untuk penjurusan atau memantapkan pemilihan studi di perguruan tinggi. Jadi yang perlu dilakukan oleh orangtua bukanlah mengidentifikasi bakat apa,  tetapi memperhatikan minat anak dengan memperkenalkan secara bertahap pada anak.<br />
Mengenai bakat serta minat anak ini, ibu Julia menekankan, jika anak secara intens melakukan kegiatan dengan dorongan internalnya (motivasi) dan dilakukannya dengan enjoy, maka kemungkinan besar itulah minat dan bakatnya. Selain itu untuk membedakan mana anak berbakat dan bukan dapat diketahui dari kemampuan anak untuk secara mandiri mengembangkan minatnya tersebut. Anak berbakat (gifted) selain mempunyai tempo yang cepat dalam belajar, juga bisa dilepas (mandiri) dan mampu menggubah lagi dengan motivasi dari dalam diri yang kuat.<br />
Penanganan</p>
<p>ï¿½Bila anak saya (usia 3,5 tahun) mempunyai tanda-tanda anak berbakat, apa yang harus saya lakukan?ï¿½ Tanya salah seorang peserta seminar. Ternyata anak usia 3,5 tahun belum bisa dikatakan anak berbakat, karena seringkali hasil testnya belum bisa dipercaya karena ia masih berkembang. Anak tersebut dikatakan mengalami loncatan perkembangan. Sebaiknya orangtua dengan anak seperti ini mencari sumber-sumber bacaan tentang perkembangan  anak berbakat dan mempelajari betul bagaimana perkembangan kognitif serta otak anak-anak. Hal ini penting  guna mengetahui lebih dalam tentang personalitasnya, agar bisa lebih luwes mengasuhnya.  Tentu saja literatur yang dibaca pun tidak bisa sembarangan. Sumber bacaan harus dipilih dari berbagai literatur yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.<br />
Lebih lanjut tentang penanganan anak berbakat ini, ibu Julia menjelaskan ï¿½Begitu kita tahu bahwa anak kita mempunyai loncatan perkembangan intelektualitas, maka ia memerlukan pengasuhan dan pendidikan yang terstruktur yang tidak mencegat perkembangannya. Karena anak-anak ini mempunyai dorongan internal untuk mengembangkan intelektualitas sangat besar, keras kepala, dan sangat perfeksionis, serta mempunyai cara berfikir (cognitive style) yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Latihan program akselerasi umumnya digunakan dalam proyek pengembangan anak berbakat, namun sebetulnya akselerasi dimaksudkan sebagai upaya percepatan. Disamping akselarasi juga perlu diadakan pengkayaan (enrichment), dan pendalaman.<br />
Bagaimana penanganan untuk anak berbakat yang juga penyandang masalah seperti ketertinggalan perkembangan kemampuan bahasa, atau learning disabilities (misalnya disleksia) ? Bagi anak seperti ini, kondisinya memang cukup membingungkan, apalagi di Indonesia. Orangtua perlu memeriksakan anaknya lebih lanjut kepada psikolog perkembangan. Di Amerika, anak-anak seperti ini umumnya tidak bisa dimasukkan program gifted children (karena punya masalah), juga tidak bisa masuk sekolah reguler (karena punya masalah). Jadi harus masuk dahulu ke sekolah luar biasa. Inilah yang menyebabkan kebingungan para orang tua, karena di sekolah itu tidak mendapatkan perhatian sebagai anak berbakat. </p>
<p>Penanganan anak berbakat memang cukup rumit, apalagi di Indonesia. Tetapi dengan memahami keunikannya, menambah sumber-sumber bacaan yang memadai, selalu berusaha dan tentu saja berdoa, semoga dapat menjadikan orangtua sebagai fasilitator yang baik sehingga anak-anak tersebut kelak dapat berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya.(Agnes Tri Harjaningrum, Dokter, ibu 2 orang anak, tinggal di Belanda)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/425/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batuk Pilek tak Perlu Antibiotik</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/421</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/421#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2005 04:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Pikiran Rakyat, Minggu, 12 Juni 2005

<a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605/12/hikmah/lain04.htm>Klik di sini</a>

"Apa memang penyakit batuk-pilek anak saya memerlukan antibiotik, dok?" Seorang pasien yang kritis mencoba bertanya pada dokter yang ia kunjungi. Dengan entengnya sang dokter menjawab "Lho, yang dokter itu siapa, kamu atau saya? Sudah, tak usah banyak tanya deh, yang penting anakmu sembuh kan?"

Bila mengalami kejadian seperti itu, pasien yang tidak paham kadang malah 'memaksa' dokter untuk memberikan antibiotik. "Kenapa anak saya tak diberi antibiotik, dok? Nanti kalau nggak sembuh-sembuh bagaimana?" Akhirnya, lantaran khawatir 'ditinggal' pasien-pasiennya, sang dokter pun meresepkan antibiotik yang sebenarnya tidak perlu. 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pikiran Rakyat, Minggu, 12 Juni 2005</p>
<p><a href=http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605/12/hikmah/lain04.htm>Klik di sini</a></p>
<p>&#8220;Apa memang penyakit batuk-pilek anak saya memerlukan antibiotik, dok?&#8221; Seorang pasien yang kritis mencoba bertanya pada dokter yang ia kunjungi. Dengan entengnya sang dokter menjawab &#8220;Lho, yang dokter itu siapa, kamu atau saya? Sudah, tak usah banyak tanya deh, yang penting anakmu sembuh kan?&#8221;</p>
<p>Bila mengalami kejadian seperti itu, pasien yang tidak paham kadang malah &#8216;memaksa&#8217; dokter untuk memberikan antibiotik. &#8220;Kenapa anak saya tak diberi antibiotik, dok? Nanti kalau nggak sembuh-sembuh bagaimana?&#8221; Akhirnya, lantaran khawatir &#8216;ditinggal&#8217; pasien-pasiennya, sang dokter pun meresepkan antibiotik yang sebenarnya tidak perlu.<br />
<!--break-->KENYATAAN tersebut masih kerap terjadi di negara kita. Hanya segelintir dokter yang telah menganut konsep partnership atau kemitraan dengan pasiennya. Masih banyak dokter yang pelit waktu, untuk memberikan pennjelasan kepada pasien, atau malah menganggap pasien tidak perlu tahu apa-apa. Alhasil, dokter bahkan tidak senang dengan pasien yang kritis dan ceriwis. Padahal konsumen kesehatan memiliki hak untuk memeroleh penjelasan yang benar dan objektif. Lagipula di zaman modern seperti sekarang ini, sudah saatnya konsumen kesehatan bersifat proaktif. Informasi tentang kesehatan yang benar pun sangat mudah diperoleh melalui berbagai media. Pasien yang kritis dan terpelajar, bisa saja datang dengan sebundel artikel yang diambilnya dari situs-situs kesehatan terpercaya di internet misalnya.<br />
<span id="more-421"></span><br />
Di lain pihak, banyak pula dijumpai, pasien yang salah kaprah, atau pasien yang hanya manggut-manggut, segan bertanya dan pasrah saja dengan apa yang dikatakan dokter. Dokter Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, dari FKUI, dalam salah satu uraiannya yang berjudul &#8216;Commons Problem in Pediatrics&#8217; mengatakan, ketidaktahuan pasien kadang malah dibiarkan saja oleh kalangan medis. Padahal tugas seorang dokter sesungguhnya tidak hanya mengobati pasien saja (kuratif), tapi juga memberikan pengetahuan yang benar, misalnya melalui penyuluhan kesehatan (promotif), mengupayakan pencegahan penyakit (preventif) dan juga mencegah kecacatan (rehabilitatif).</p>
<p>Kondisi-kondisi itulah yang mempersulit penggunaan antibiotik secara rasional di dunia kesehatan. Keberhasilan pemakaian obat yang rasional bukan hanya bergantung kepada dokter, tapi juga kepada pasien sebagai konsumen kesehatan dan industri obat-obatan. Pasien yang aktif menangani masalah kesehatannya sesungguhnya akan sangat membantu kinerja dokter untuk tetap memegang prinsip pengobatan rasional.</p>
<p>Kasus yang sering terjadi, contohnya adalah penggunaan antibiotik untuk penyakit flu atau batuk-pilek biasa (common cold) pada bayi dan anak-anak. Penyakit ini 95 % disebabkan oleh virus, sehingga pemberian antibiotik tak ada gunanya. Antibiotik hanya diperlukan bagi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini sangat umum terjadi pada anak-anak. Bahkan menurut penelitian, dalam setahun seorang anak bisa menderita flu atau common colds sebanyak 8 hingga 12 kali. Dan itu merupakan hal yang normal. Tentu saja ada pengecualian, yaitu bagi bayi-bayi yang berusia di bawah 3 bulan. Pada bayi-bayi ini, gejala flu atau common cold malah bisa berkembang dengan cepat menjadi penyakit yang serius seperti bronchiolitis atau pneumonia. Karena itu, untuk bayi berusia di bawah 3 bulan, penyakit batuk pilek biasa tetap perlu mendapat perhatian khusus.</p>
<p>Penyakit ini biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Gejala yang menyertai flu atau common cold seperti demam, bersin, batuk, pilek yang tak henti-henti memang kadang tampak mengkhawatirkan. Apalagi bila anak mengalami batuk tak henti-hentinya disertai muntah. Tak heran bila akhirnya orang tua membawa anaknya ke dokter karena cemas. Ketidaktahuan orang tua bahwa penyakit batuk-pilek biasa ini disebabkan oleh virus, sering membuat orang tua panik dan segera membawa anaknya ke dokter. Penelitian di Amerika bahkan menyebutkan, setiap tahun terdapat 25 juta kunjungan ke dokter dan ke ruang gawat darurat karena common cold, yang sebetulnya tidak perlu. Parahnya, kecemasan tersebut kerap mengakibatkan orang tua meminta dokter memberikan antibiotik kepada anak-anaknya. </p>
<p>Bahaya Pemberian Antibiotik Irasional </p>
<p>Sebetulnya apa sih bahaya pemberian antibiotik yang tidak rasional ini? Bila antibiotik digunakan terus-menerus dengan tidak rasional dan berlebihan, ternyata bakteri resisten malah akan semakin berkembang. Alhasil, berbagai infeksi yang disebabkan bakteri-bakteri tersebut tak akan berespons lagi dengan obat sejenis. Penyakit-penyakit akan berlangsung lebih lama, risiko komplikasi bahkan kematian pun akan meningkat. Parahnya, bakteri bisa bermutasi sangat cepat melebihi kecepatan para peneliti yang berusaha menemukan antibiotik baru. Akibatnya, besar kemungkinan suatu hari nanti akan berkembang suatu jenis bakteri resisten yang sangat mematikan, namun tidak ada satupun obat yang dapat mematikannya. Sungguh menyeramkan bukan?</p>
<p>Dampak lainnya, lantaran penyakit berlangsung lebih lama, maka biaya yang dikeluarkan pun akan semakin meningkat. Menurut WHO (World Health Organization), peningkatan ini terutama dikeluarkan untuk ongkos tes laboratorium, biaya perawatan di rumah sakit, dan biaya kehilangan pendapatan akibat bolos kerja. Dan bila ternyata infeksi tidak lagi bisa diobati karena telah terjadi resistensi obat, maka dibutuhkan jenis antibiotik lain yang lebih paten. Antibiotik jenis ini biasanya harus dimasukkan lewat injeksi. Tentu saja harga antibiotik via injeksi lebih mahal ketimbang obat minum. Alhasil, biaya yang dikeluarkan pun kian membengkak.</p>
<p>Berkaitan dengan peyakit batuk pilek pada anak, Prof Iwan Darmansjah, ahli farmakologi dari FKUI, dalam salah satu tulisannya menyebutkan, selain mubazir, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek samping yang berbahaya. Kalau dikatakan akan mempercepat penyembuhan pun tidak, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol-membandingkan dengan plasebo, alias obat bohong-berulang kali sejak ditemukannya antibiotik di tahun 1950-1960-an. Hasilnya selalu sama sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya malah menurun.</p>
<p>Pengobatan flu atau common cold di rumah</p>
<p>American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan, tidak ada obat untuk kasus ini. Antibiotik tidak boleh diberikan karena tidak akan berefek apapun. Perhatian dan kasih sayang dari orang tua lah yang merupakan obat terbaik. Sehingga AAP menganjurkan agar orang tua cukup menciptakan kondisi yang paling nyaman bagi anak. Hidung mampet yang biasanya diderita anak akan menyebabkan anak bernafas lewat mulut. Akibatnya mulut dan tenggorokan anak menjadi kering. Untuk itu anak perlu diberi banyak jus buah-buahan dan cairan, sedikit tak apa asalkan sering. Dalam keadaan sakit, umumnya anak akan kehilangan nafsu makan. Walaupun hanya sedikit makanan yang masuk, tapi yakinkan bahwa kebutuhan makan mereka tercukupi.</p>
<p>Air garam steril bisa diberikan sebagai tetes hidung, agar ingus menjadi encer dan tidak lagi menyumbat jalan napas. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga akan meringankan keluhan flu pada anak. Cara lainnya, bila anak tak dapat tidur di malam hari karena hidung tersumbat, orangtua dapat memberikan tetes hidung (breathy) untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung. AC ruangan pun perlu dimatikan. Kalau perlu setelah anak tidur, letakkan satu ember berisi air mendidih untuk menjaga agar udara ruangan tidak kering.</p>
<p>Langkah terbaik untuk pencegah tertularnya penyakit ini adalah dengan mencuci tangan sesering mungkin, dan sebisa mungkin menghindari penderita flu. Namun bila demam anak tak kunjung turun setelah lebih dari 3 hari (72 jam), orangtua perlu mengunjungi dokter. Selain itu bila terdapat gejala sesak napas, kuku dan bibir tampak biru, anak menjadi luar biasa rewel atau sangat mengantuk hingga tak bisa dibangunkan, orang tua juga harus segera membawa anaknya ke dokter.</p>
<p>Dari uraian di atas, jelas sudah bahwa flu atau common cold tak memerlukan pengobatan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak pada tempatnya memang menjadi salah satu kendala utama dalam penggunaan obat rasional di Indonesia. Permasalahan antibiotik ini sungguh runyam dan tak ada habisnya. Namun bila konsumen kesehatan menjadi proaktif, berusaha mencari informasi yang benar mengenai penyakit anaknya dan mulai banyak bertanya pada dokternya, mudah-mudahan akan membantu dokter agar tetap memegang prinsip pengobatan rasional.</p>
<p>Orang tua berhak mengajukan pertanyaan kepada dokter tentang penyakit yang diderita anak, apa penyebabnya, dan bagaimana tata laksananya. Pertanyaan seputar obat dan efek samping obat juga perlu diketahui agar anak tak jadi korban kesalahan pengobatan yang tidak rasional. Dokter yang informatif dan rela menyediakan waktu, demi memberikan pengetahuan yang benar kepada pasien pun sungguh diperlukan. Kerjasama antara pasien yang aktif dan dokter yang informatif semacam inilah yang setidaknya akan membantu keberhasilan pengobatan rasional di Indonesia. (Agnes Tri Harjaningrum, dr.)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/421/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudah Besar Koq Masih Ngompol!</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/388</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/388#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2005 23:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Pikiran Rakyat, Minggu, 12 Maret 2005

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/13/hikmah/lain04.htm

"IH, sudah besar kok masih ngompol!" Begitu ucapan yang sering terdengar untuk mengolok-ngolok anak besar yang masih suka ngompol. Orang tua kerap bingung menghadapi permasalahan ini. Akhirnya membiarkan saja keluhan tersebut. Sebagian besar kasus, ngompol pada anak dapat sembuh dengan sendirinya ketika usia anak mencapai 10 - 15 tahun. Hanya sekira 1 dari 100 anak yang masih tetap ngompol setelah usia 15 tahun. Bila diabaikan, hal ini akan berpengaruh bagi anak. Biasanya, anak menjadi tak percaya diri, rendah diri, malu, dan hubungan sosial dengan teman-temannya pun terganggu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pikiran Rakyat, Minggu, 12 Maret 2005</p>
<p>http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/13/hikmah/lain04.htm</p>
<p>&#8220;IH, sudah besar kok masih ngompol!&#8221; Begitu ucapan yang sering terdengar untuk mengolok-ngolok anak besar yang masih suka ngompol. Orang tua kerap bingung menghadapi permasalahan ini. Akhirnya membiarkan saja keluhan tersebut. Sebagian besar kasus, ngompol pada anak dapat sembuh dengan sendirinya ketika usia anak mencapai 10 &#8211; 15 tahun. Hanya sekira 1 dari 100 anak yang masih tetap ngompol setelah usia 15 tahun. Bila diabaikan, hal ini akan berpengaruh bagi anak. Biasanya, anak menjadi tak percaya diri, rendah diri, malu, dan hubungan sosial dengan teman-temannya pun terganggu.<!--break-->Dalam dunia kedokteran, ngompol-tidak dapat menahan keluarnya air kencing-dikenal dengan istilah enuresis. Lebih khusus lagi, ngompol yang terjadi ketika tidur pada malam hari biasa disebut nocturnal enuresis. Ngompol masih dianggap normal bila terjadi pada anak balita. Namun, jika anak di atas usia 5 atau 6 tahun masih ngompol, setidaknya 2 kali dalam sebulan, hal ini perlu mendapat perhatian khusus.<br />
<span id="more-388"></span><br />
Enuresis digolongkan dalam 2 bagian, primer dan sekunder. Anak yang sejak lahir hingga usia 5 atau 6 tahun masih ngompol, dimasukkan dalam kriteria enuresis primer. Tapi bila si anak pernah &#8216;kering&#8217; selama setidaknya 6 bulan, lantas mendadak ngompol kembali, berarti anak tersebut dikelompokkan dalam enuresis sekunder.</p>
<p>Enuresis sekunder biasanya terjadi ketika anak tiba-tiba mengalami stres kejiwaan, seperti pelecehan seksual, kematian dalam keluarga, kepindahan, mendapat adik baru, perceraian orang tua atau masalah psikis lainnya. Selain itu, kondisi fisik yang terganggu-seperti adanya infeksi saluran kencing, kencing manis, susah buang air besar, dan alergi-juga dapat menyebabkan enuresis sekunder.</p>
<p>Langkah awal yang harus diambil dalam mengatasi enuresis sekunder adalah dengan mengenali perubahan-perubahan mendadak yang terjadi dalam kehidupan anak. Bila anak mengalami stres kejiwaan, penanganan secara psikologis lebih dibutuhkan..</p>
<p>Penyebab</p>
<p>Enuresis primer lebih banyak terjadi dari pada enuresis sekunder. Para ahli belum mengetahui secara pasti apa penyebab utama enuresis primer. Beberapa faktor diduga sebagai &#8216;biang kerok&#8217;nya. Keterlambatan matangnya fungsi susunan syaraf pusat (SSP) disebut-sebut sebagai penyebab utama enuresis primer. Faktor genetik, gangguan tidur, kurangnya kadar antidiuretic hormon (ADH) dalam tubuh, ataupun kelainan anatomi juga diduga turut andil sebagai penyebab.</p>
<p>Pada anak normal, ketika kandung kencing sudah penuh oleh air kencing (urine), sistem syaraf di kandung kencingnya akan melapor kepada otak. Kemudian, si otak akan mengirim pesan balik ke kandung kencing. Otak akan meminta kandung kencing untuk menahan pengeluaran air kencing, sampai si anak betul-betul sudah siap di toilet. Tetapi pada anak dengan keterlambatan matangnya SSP, proses ini tidak terjadi, sehingga saat kandung kencingnya penuh, anak tidak dapat menahan keluarnya air kencing tersebut.</p>
<p>Sebuah penelitian menunjukkan bahwa enuresis primer bisa terjadi akibat faktor keturunan. Bila kedua orang tua mempunyai riwayat enuresis, maka 77% kemungkinan anak mereka akan mengalami hal yang sama. Jika hanya salah satu orang tua yang pernah mengalami enuresis, maka terdapat sekira 44% kemungkinan anak akan terpengaruh. Tetapi, kalau tidak ada satu pun orang tua yang pernah mengalami enuresis, maka kemungkinan anak terkena enuresis hanya 15% saja.</p>
<p>Enuresis primer yang disebabkan gangguan tidur biasanya terjadi lantaran penderita mengalami tidur yang sangat dalam (deep sleep). Pola tidur penderita pada umumnya normal. Tapi akibat tidur yang sangat dalam tersebut, mereka tidak bisa terbangun ketika ingin buang air kencing. Kelainan anatomi, seperti kecilnya ukuran kandung kencing, biasanya jarang ditemukan pada penderita enuresis primer. Kalaupun ada, umumnya disertai dengan gejala-gejala yang juga tampak pada siang hari.</p>
<p>Mengenai antidiuretic hormone (ADH), hormon ini akan menyebabkan tubuh seseorang memproduksi sedikit air kencing pada malam hari. Namun pada penderita enuresis primer, tubuhnya tidak dapat membuat ADH dalam jumlah yang mencukupi. Akibatnya, ketika sedang tidur, tubuh mereka menghasilkan air kencing yang jumlahnya terlalu banyak. Karena itulah anak menjadi ngompol.</p>
<p>Diagnosis</p>
<p>Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, biasanya dokter akan bertanya mengenai riwayat kesehatan penderita, seperti keluhan-keluhan yang muncul, penyakit yang diderita sebelumnya, penyakit yang dimiliki keluarga, riwayat alergi, dan obat-obatan yang sedang diminum.</p>
<p>Selain itu, dokter akan bertanya tentang pola buang air besar, dan keluhan ketika buang air kencing, misalnya kencing tak lampias, atau nyeri sewaktu kencing. Sering kali, dokter juga bertanya tentang permasalahan yang sedang terjadi di rumah atau di sekolah untuk menentukan tipe enuresis. Setelah riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik dilakukan, pada umumnya dokter akan melakukan tes urine. .</p>
<p>Penanganan</p>
<p>Dampak secara sosial dan kejiwaan yang ditimbulkan akibat enuresis sungguh mengganggu kehidupan seorang anak. Karena itu, pengobatan terutama bertujuan agar dampak-dampak tersebut bisa lenyap dari kehidupannya. Pengobatan juga diharapkan akan dapat menghilangkan penyebab utama enuresis.</p>
<p>Penanganan enuresis dibagi dalam 2 katagori: tanpa obat (nonpharmacologic) dan menggunakan obat-obatan (pharmacologic). Obat-obatan hanya diberikan pada anak di atas 7 tahun. Itupun dengan catatan, bila penanganan tanpa obat tidak berhasil dilakukan. Catatan sehari-hari (diary) tentang ngompol atau tidaknya si anak juga sangat diperlukan untuk menunjang proses pengobatan.</p>
<p>Pilihan penanganan enuresis tanpa obat bisa dilakukan lewat terapi motivasi (motivational therapy), terapi menggunakan alarm (behaviour modification), latihan untuk menahan keluarnya air kencing (bladder-training exercise), terapi kejiwaan (psychotherapy), terapi melalui makanan (diet therapy) dan terapi hipnotis (hypnotherapi).</p>
<p>Motivational therapy dilakukan dengan memberikan hadiah (reward system) untuk memotivasi anak agar tidak ngompol. Umumnya dipakai memakai kartu dan catatan harian (diary) untuk mencatat hasil yang telah dicapai si anak. Bila dalam 3 hingga 6 bulan, cara ini gagal, maka sebaiknya dipilih metoda lainnya.</p>
<p>Behaviour modification merupakan cara yang memiliki tingkat keberhasilan cukup tinggi, mencapai 50%-70%. Sukses ini terutama terjadi pada anak-anak besar yang memiliki motivasi kuat dan mendapat dukungan penuh dari anggota keluarga. Metode ini didasarkan pada penggunaan alarm yang ditempelkan di dekat alat kelamin. Bila anak mulai ngompol, alarm akan bergetar atau berbunyi. Kondisi ini menyebabkan anak terbangun dan menghambat pengeluaran air kencing yang telah sedikit keluar. Orang tua dapat membantu anak untuk melanjutkan buang air kecil di toilet. Hasil yang diperoleh sebaiknya juga dicatat dalam catatan harian dan akan lebih baik bila dikombinasikan dengan reward system. Perubahan positif dari metode alarm biasanya mulai terjadi setelah alat digunakan selama 2 minggu atau beberapa bulan.</p>
<p>Bladder training exersice biasanya dilakukan pada anak dengan kapasitas kandung kencing yang kecil. Anak diminta untuk menahan keluarnya air kencing selama beberapa waktu.</p>
<p>Hypnotherapy, diet therapy dan psychotherapy belum banyak dilakukan pada anak-anak dengan enuresis primer. Terapi diet sebenarnya bisa juga dijadikan pilihan pada beberapa pasien. Karena, makanan yang mengandung kafein, cokelat, serta soda diduga mempunyai pengaruh terhadap terjadinya episode enuresis.</p>
<p>Penanganan anak yang mengalami enuresis memang tidak mudah. Tapi setidaknya kasih sayang, kesabaran serta pengertian orang tua untuk tidak memarahi atau menghukum ketika anak ngompol akan membantu membangun kepercayaan diri anak.</p>
<p>Pengaruh buruk secara psikologis dan sosial yang menetap akibat ngompol, akan mempengaruhi kualitas hidup anak sebagai seorang manusia dewasa kelak. Karena itu sudah selayaknya bila masalah ini tidak dibiarkan berkepanjangan.(Agnes Tri Harjaningrum, dr.)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/388/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memetik Hikmah Tragedi Tsunami, Yakinkan, Anak Aman Bersama Orang Tua</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/378</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/378#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2005 10:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Pikiran Rakyat, Minggu, 09 Januari 2005	

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/09/hikmah/lain02.htm

"Ayah, Lala nggak mau pulang ke Indonesia, Lala takut sama gempa bumi," ujar gadis kecil berusia 5 tahun ini kepada ayahnya. "Lala takut ya, sini...sini dipeluk sama ayah nak. Indonesia itu luas sayang, yang kena gempa kan Aceh. Di Bandung rumah lala dulu aman koq, kan jauh dari Aceh, jadi nggak ada gempa di sana. Sekarang yang penting Lala di sini aman sama ayah dan bunda, karena di sini nggak ada gempa" jawab ayah Lala mencoba menenangkan. "Kenapa di sini nggak ada gempa yah?"tanya Lala lagi. Belum sempatayahnya menjawab, tiba-tiba, Malik, adik Lala yang baru berusia 3 tahun ikut berkomentar "Aik takut sama gempa di Aceh. Nanti...nanti...kalo Aik naik pesawat terbang ke Aceh, Aik mau liat dari atas pesawat aja. Habis itu Aik mau pulang lagi ke Belanda," sahut bocah laki-laki itu berapi-api menjelaskan keinginannya. Ayah mereka hanya bisa tersenyum dan berusaha menjawab pertanyaan anak-anaknya dengan sabar. Namun yang pasti si ayah tersadar, anak-anaknya sedang mengalami ketakutan pasca terjadinya gempa tsunami.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pikiran Rakyat, Minggu, 09 Januari 2005	</p>
<p>http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/09/hikmah/lain02.htm</p>
<p>&#8220;Ayah, Lala nggak mau pulang ke Indonesia, Lala takut sama gempa bumi,&#8221; ujar gadis kecil berusia 5 tahun ini kepada ayahnya. &#8220;Lala takut ya, sini&#8230;sini dipeluk sama ayah nak. Indonesia itu luas sayang, yang kena gempa kan Aceh. Di Bandung rumah lala dulu aman koq, kan jauh dari Aceh, jadi nggak ada gempa di sana. Sekarang yang penting Lala di sini aman sama ayah dan bunda, karena di sini nggak ada gempa&#8221; jawab ayah Lala mencoba menenangkan. &#8220;Kenapa di sini nggak ada gempa yah?&#8221;tanya Lala lagi. Belum sempatayahnya menjawab, tiba-tiba, Malik, adik Lala yang baru berusia 3 tahun ikut berkomentar &#8220;Aik takut sama gempa di Aceh. Nanti&#8230;nanti&#8230;kalo Aik naik pesawat terbang ke Aceh, Aik mau liat dari atas pesawat aja. Habis itu Aik mau pulang lagi ke Belanda,&#8221; sahut bocah laki-laki itu berapi-api menjelaskan keinginannya. Ayah mereka hanya bisa tersenyum dan berusaha menjawab pertanyaan anak-anaknya dengan sabar. Namun yang pasti si ayah tersadar, anak-anaknya sedang mengalami ketakutan pasca terjadinya gempa tsunami.<!--break-->TAK dapat diMungkiri, dahsyatnya bencana gempa tsunami yang melanda beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia, akhir Desember lalu menjadi pemberitaan yang hangat dan selalu menarik untuk diikuti. Namun orang tua terkadang lupa dengan dampak yang muncul pada anak setelah melihat berbagai tayangan di media. Mayat bergelimpangan, penguburan massal menggunakan truk pengeruk, luluh lantaknya kota, dan berbagai gambaran menyeramkan lainnya dapat menimbulkan masalah tersendiri bagi anak, seperti dalam cerita di atas. Tetapi, bila orang tua mengetahui cara yang tepat, masalah yang timbul tidak akan berkepanjangan. Sebaliknya orang tua malah dapat mengambil hikmah dengan menjadikannya momen yang tepat untuk menambah pengetahuan, dan mengasah EQ serta SQ anak.<br />
<span id="more-378"></span><br />
Dalam foxnews.com disebutkan, Randall D. Marshall, MD, profesor di bidang psikiatri New York State Office of Mental Health mengatakan, pada kasus pasca tsunami seperti sekarang ini, orang tua sebaiknya mengatasi rasa takut anak dengan meyakinkan anak bahwa apa pun yang terjadi, mereka tetap aman bersama orang tuanya. Orang tua sebaiknya juga tidak membohongi anak atau berusaha menutup-nutupi kejadian. Orang tua harus menceritakan kejadian gempa dan pascagempa yang sebenarnya, tanpa perlu memberikan gambaran detail untuk hal-hal yang mengerikan. Anak-anak adalah makhluk yang cerdas dan dapat mengetahui apa yang mereka lihat. Secara natural mereka pun mengalami kesedihan dan kekecewaan akan bencana ini. Karena itu orang tua dianjurkan membantu anak agar mau membicarakan semua yang dirasakannya. Melihat beragam penayangan di media memang pasti menyedihkan, tragis, menyakitkan, dan menakutkan bagi anak. Tetapi membicarakannya dengan orang tua akan sangat membantu anak.</p>
<p>Dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa berbicara, berkomunikasi, dengan anak lah yang menjadi senjata untuk &#8216;menyembuhkan&#8217; anak dari rasa takut dan berbagai rasa tak nyaman yang muncul setelah menonton tayangan tentang gempa. Komunikasi memang penting karena komunikasi adalah kunci dari sebuah hubungan. Berkomunikasi dengan anak terkadang tidak lah gampang. Dibutuhkan keterampilan dan pembiasaan sehingga orang tua mahir dalam berkomunikasi agar tujuan dapat tercapai. Komunikasi yang efektif harus diawali dengan saling respek dan menghargai, penuh empati, bisa dimengerti oleh anak, sesuai dengan bahasa anak serta dilakukan dengan rendah hati.</p>
<p>Untuk mengasah EQ anak sekaligus mengatasi rasa takut, rasa sedih dan beragam perasaan tidak nyaman yang muncul tersebut, orang tua harus mendengarkan dengan penuh perhatian, memahami perasaan anak, tidak mengabaikan perasaan tersebut dan meneguhkan perasaan yang timbul. Biasanya, saat anak sedang ketakutan atau menangis karena sedih orangtua akan mengatakan &#8220;Masak begitu aja takut, kan gempanya jauh di Aceh&#8221; atau &#8220;Cengeng ah, begitu aja koq nangis&#8221;. Cara berkomunikasi dengan mengabaikan perasaan anak seperti ini akan mengakibatkan anak menjadi bingung dan kesal, tidak percaya pada perasaannya sendiri, tidak mengenali perasaannya sendiri dan membuat anak menjadi tidak percaya diri.</p>
<p>Ketika seorang anak sedang dalam keadaan takut, orang tua bisa memeluknya sambil meneguhkan perasaannya dengan mengatakan &#8220;Adek takut ya sama gempa bumi. Adek takut gempa buminya terjadi di sini ya&#8230;&#8221; Dengan berulang-ulang mengatakannya dan meneguhkan bahwa perasaan yang dialaminya itu benar dan diperbolehkan, biasanya anak akan merasa lebih tenang. Setelah anak merasa tenang, pada umumnya anak akan menceritakan semua hal yang dirasakannya. Kemudian, orang tua dapat melanjutkan percakapan dengan meyakinkan bahwa mereka aman bersama ayah dan bundanya.</p>
<p>Jika anak sudah merasa tenang, aman dan senang, orang tua bisa mulai mengajak anak berdiskusi untuk menggugah kepedulian mereka terhadap korban gempa. Orang tua dapat bertanya &#8220;Menurut adek, gimana ya perasaan para korban gempa yang kehilangan ayah bundanya, atau saudaranya? Kira-kira adek mau bantu apa buat menolong korban gempa yang masih hidup?&#8221; Anak yang lebih kecil mungkin akan menjawab hal yang tidak masuk akal atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Tapi kebiasaan komunikasi dengan berdiskusi seperti ini akan terekam dalam ingatannya dan akan memberikan dampak yang baik di kemudian hari. Selanjutnya anak-anak dapat dilibatkan dalam kegiatan amal yang dilakukan oleh orang tua. Mereka dapat diajak ikut serta untuk menyumbangkan sebagian uang tabungannya, mengirimkan kartu duka lewat pos, atau ucapan duka lewat email bersama orang tua.</p>
<p>Selain itu, pembicaraan juga dapat diarahkan untuk menambah pengetahuan anak. Pada umumnya anak sangat kritis dan ingin tahu mengenai semua hal yang baru. Mereka akan bertanya tentang seluk-beluk gempa, seperti mengapa bisa terjadi gempa? Kenapa di Aceh terjadi gempa sedangkan di belahan bumi lain tidak? Dimana letak Aceh? Dan beragam pertanyaan cerdas lainnya. Inilah kesempatan bagi orang tua untuk berdiskusi dengan mereka. Jangan biarkan rasa ingin tahu mereka padam karena orang tua mengabaikan pertanyaan mereka dan tidak meluangkan waktu untuk menjawabnya. Orang tua dapat bersama-sama pergi ke perpustakaan atau toko buku mencari jawaban-jawaban pertanyaan anak. Orang tua dapat pula membacakan buku-buku yang berkaitan dengan gempa tsunami pada anak. Pengetahuan tentang geografi pun bisa sekaligus diberikan dengan bersama-sama mempelajari peta, memperkenalkan pulau-pulau di Indonesia, di dunia, atau membuat eksperimen sederhana yang berhubungan dengan gempa.</p>
<p>Peristiwa bencana ini juga dapat dijadikan kesempatan bagi orang tua untuk mengasah SQ anak. Ketika anak ketakutan, sambil memeluk dan memberikan rasa aman, orang tua dapat sekaligus mengajarkan anak untuk bergantung kepada Tuhan. Dalam bukunya yang berjudul &#8216;10 Prinsip Spiritual Parenting&#8217;, Mimi Doe dan Marsha Walch menganjurkan orang tua untuk selalu mengingatkan anak akan kekuatan Tuhan. Ketika manusia berhubungan dengan kekuatan Tuhan, manusia akan memiliki keberanian yang mengagumkan. Orang tua dapat mengatakan pada anak &#8220;Kalau adek ketakutan, adek berdoa sama Allah ya, adek bilang &#8216;Ya Allah adek takut sama gempa, beri adek kekuatan supaya jadi berani&#8217; Allah sayang sama adek, adek pasti dikasih keberanian sama Allah&#8221;. Setelah anak tenang dan dalam kondisi senang, orang tua dapat melanjutkan pembicaraan tentang syukur. &#8220;Alhamdulillah ya dek, kita di sini aman, nggak kena gempa. Kita berterima kasih yuk sama Allah yang sudah melindungi kita&#8221;. Selanjutnya anak-anak dapat diajari untuk selalu bersyukur sebelum tidur dengan rahmat yang telah diberikan hari ini. Bagi anak yang lebih besar, mereka bisa diminta untuk menuliskan dalam buku khusus ucapan terima kasih atas rahmat apa saja yang telah mereka terima. Mengakui dengan berbagai cara setiap rahmat yang diterima dalam hidup akan membuat anak merasa lebih bahagia, dan merasa lebih dekat dengan Tuhannya.</p>
<p>Di balik sebuah petaka pasti terpetik banyak untaian hikmah. Gempa tsunami yang terjadi kali ini memang menyisakan luka yang mendalam. Namun bila orang tua mencoba mengambil hikmah dari peristiwa ini dengan memberikan hal-hal yang posisif bagi anak, pengorbanan mereka yang tertimpa bencana tak akan pernah sia-sia. Dengan mengasah EQ, SQ, dan menambah pengetahuan mereka dari momen bencana ini, semoga bisa betul-betul melahirkan generasi bangsa yang lebih baik di kemudian hari. (dr. Agnes Tri Harjaningrum, ibu 2 anak, tinggal di Groningen, Belanda)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/378/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Perlu Dibacakan Buku, Ibu</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/335</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/335#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2004 16:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Republika, 28 April 2004

Otak anak mempunyai satu triliun sel otak, dan bertriliun-triliun sambungan antarsel syaraf otak. Bila tidak distimulasi sejak dini, sambungan ini akan musnah. Layaknya daun di musim gugur, potensi mereka pun akan berguguran. Ibu adalah guru pertama bagi anak tanpa bermaksud mengecilkan peran bapak dalam pilar sebuah keluarga.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Republika, 28 April 2004</p>
<p>Otak anak mempunyai satu triliun sel otak, dan bertriliun-triliun sambungan antarsel syaraf otak. Bila tidak distimulasi sejak dini, sambungan ini akan musnah. Layaknya daun di musim gugur, potensi mereka pun akan berguguran. Ibu adalah guru pertama bagi anak tanpa bermaksud mengecilkan peran bapak dalam pilar sebuah keluarga.<!--break-->Namun, dalam realitas yang ada, ibulah yang mengandung, melahirkan, menyusui dan lebih banyak menapaki hari, bulan dan tahun-tahun pertama kehidupan anak. Hari buku diperingati setiap 23 April yang berdekatan dengan Hari Kartini tanggal 21 April. Wanita Indonesia diingatkan mengenai emansipasi wanita yang diperjuangan oleh RA Kartini.</p>
<p>Dalam menyuarakan emansipasi wanita, tentunya Kartini pun ingin wanita mempunyai peran strategis dalam mencerdaskan bangsa. Meski &#8216;hanya&#8217; dilakukan dari lingkup terkecil masyarakat, yaitu keluarga, peranannya menjadi pondasi bagi maju-mundurnya sebuah bangsa. Ibu sebagai wanita Indonesia, diharapkan menjadi pencetak generasi cerdas dan berbudi yang akan mengangkat derajat bangsa Indonesia.<br />
<span id="more-335"></span><br />
Barangkali, begitulah harapan Kartini dan juga harapan seluruh anak negeri ini. Tantangan zaman semakin menggila. Problema kehidupan kian hari semakin berat. Anak yang terlahir suci penuh potensi, membutuhkan ibu seperti yang diharapkan Kartini. Ibu yang betul-betul menyadari tugas mulianya, mengantarkan anak menjadi manusia tangguh dan gemilang di masa datang. Ibu yang memahami hal ini akan berusaha mengembangkan potensi otak anak dengan berbagai cara.</p>
<p>Para ahli menyebutkan bahwa cara optimal mengembangkan potensi itu adalah dengan selalu merangsang kelima panca inderanya. Banyak hal yang dapat dilakukan. Namun sesungguhnya membacakan buku sejak dini pada anak merupakan cara paling mudah. Anak belajar dari apa yang diberikan oleh lingkungan sekitarnya. Kelima panca indranya merespon dan otak meyerap semua informasi yang diterima.</p>
<p>Sebagai contoh, anak yang terbiasa mendengar kata-kata kotor, akan meniru dan mengucapkannya. Anak yang dibiasakan jajan akan selalu meminta jajan. Anak yang diajarkan menjaga kebersihan tidak akan tinggal diam melihat sampah. Dan anak yang dibacakan buku, akan meminta buku. Membacakan buku juga dapat menjadi obat. Buku dapat meringankan anak yang sedang sakit dan menidurkan anak yang tidak mau tidur. Buku menjadi seperti susu. Anak akan selalu meminta dan meminta lagi.</p>
<p>Saat anak memasuki usia sekolah, ibu tak perlu lagi bersusah payah menyuruh anak belajar atau membaca buku, karena anak telah mencintai buku. Buku memuaskan rasa ingin tahunya yang besar. Usia balita (bawah lima tahun) disebut-sebut sebagai the golden age, usia keemasan seorang manusia. Penelitian mengenai otak manusia belakangan ini telah menunjukkan bahwa perkembangan intelektual otak berkembang pesat menjadi 50 persen potensi otak dewasa pada empat tahun pertama sejak anak dilahirkan.</p>
<p>Usia empat tahun hingga delapan tahun bertambah 30 persen, selanjutnya hingga 18 tahun bertambah 20 persen.Hal ini menunjukkan bahwa stimulasi otak yang dilakukan pada empat tahun pertama kehidupan seorang anak akan sangat bermanfaat bagi kehidupannya di masa depan. Dalam buku Otak Kanak-Kanak yang ditulis oleh J Madeleine Nash disebutkan, ilmuwan telah membuktikan kenyataan yang menakjubkan mengenai otak anak.</p>
<p>Kualitas otak anak sangat ditentukan oleh tiga tahun pertama kehidupannya. Ilmuwan telah dapat mendengarkan suara hiruk-pikuk berkembangnya sel-sel syaraf otak dalam otak janin yang baru berusia 10 atau 12 minggu sesudah pembuahan. Saat kelahiran, otak memiliki satu triliun sel otak. Tidak lama setelah kelahiran, otak bayi menghasilkan bertriliun-triliun sambungan (sinapsis) antarneuron yang banyaknya melebihi kebutuhan. Proses inilah yang membentuk pengalaman dan akan dibawanya seumur hidup.</p>
<p>Melalui suatu proses yang mirip teori Darwin, otak akan memusnahkan sambungan yang jarang digunakan atau yang tidak pernah digunakan. Banyaknya pengalaman indra yang didapat akan menentukan sambungan mana yang dipertahankan dan mana yang berguguran. Sambungan yang berlebih dalam otak anak akan berguguran secara drastis sebelum usia 10 tahun. Jadi, yang menetap adalah otak dengan pola emosi dan pikiran individual anak, yang terbentuk dari pengalaman kehidupan sebelumnya.</p>
<p>Sambungan-sambungan baru memang terus terbentuk seumur hidup, dan orang dewasa selalu memelihara sambungan itu dengan membaca dan belajar. Namun otak tidak akan mampu menguasai kemahiran baru atau bangkit kembali dari kekeliruan semudah yang terjadi pada masa kanak-kanak. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengalaman adalah arsitek utama otak. Anak yang sering distimulasi berulang-ulang dan bervariasi sejak dini, kaya akan pengalaman dan akan menghasilkan otak yang kaya pula.</p>
<p>Manfaat<br />
Bila ibu mengabaikan masa keemasan ini, sama artinya dengan membiarkan potensinya terbuang. Ibu yang peduli tidak akan menyia-nyiakan sel-sel otak anak yang &#8216;memohon&#8217; untuk diberi stimulasi. Merangsang kelima panca indra merupakan cara yang disarankan para ahli. Selalu mengajak anak berbicara, mendidiknya dengan penuh kasih sayang, mengajaknya bermain, bernyanyi, dan banyak hal dapat dilakukan oleh ibu. namun jangan lupakan aktivitas yang satu ini, membacakan buku.</p>
<p>Kegiatan ini sesungguhnya mudah dan dapat sekaligus merangsang kelima panca indra anak. Ketika anak dibacakan buku, matanya melihat gambar dan telinganya mendengar. Tentu saja indra penglihatan dan pendengaran anak akan selalu terstimulasi. Buku-buku khusus anak yang dapat digunakan untuk melatih perabaan dan penciuman telah tersedia di beberapa toko buku. Di Indonesia memang belum banyak, dan masalah biaya masih menjadi kendala. Namun hal ini bukanlah menjadi hambatan.</p>
<p>Misalnya, saat ibu membacakan buku tentang buah-buahan, ibu dapat mengambil buah yang asli dan menjelaskannya pada anak. Anak dapat merasakan tekstur buah, mencium, dan mencicipi rasanya. Seiring dengan bertambahnya usia anak, manfaat membacakan buku akan semakin terasa. Membacakan buku dapat meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) anak. Membacakan buku akan menjadi bekal yang berharga agar anak dapat menjadi manusia yang berkualitas di kala dewasa.</p>
<p>Para ahli pendidikan telah membuktikan bahwa satu-satunya cara yang paling berhasil untuk menanamkan kegemaran membaca pada anak adalah dengan membacakan buku selagi masih balita. Kegemaran membaca akan meningkatkan kemampuan membaca, dan meningkatkan kecerdasan intelektual. Mengapa? Karena menurut Laurel Schmidt dalam buku &#8220;Jalan Pintas Menjadi Tujuh Kali Lebih Cerdas&#8221;, bahasa adalah sarana pemikiran tertinggi. Membacakan buku setiap hari akan selalu menambah kosa kata baru bagi anak.</p>
<p>Kekayaan kosa kata memperkaya pemikiran mereka. Anak akan menyerap berbagai pola kalimat. Mereka akan dapat berbicara, menulis, dan memahami gagasan-gagasan rumit dengan lebih baik. Beragam buku yang dibaca akan memperluas wawasan pengetahuan anak. Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual yang tinggi. Telah banyak diketahui bahwa kecerdasan emosi memegang peranan penting dalam keberhasilan seseorang.</p>
<p>Membacakan buku merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan emosi. Kegiatan membacakan buku sambil memeluk dan berbaring di tempat tidur, atau duduk di pangkuan ibu membuat anak merasa dicintai, aman dan nyaman. Kegiatan ini menjalin ikatan emosi yang hangat antara ibu dan anak sehingga dapat memberikan pengaruh positif bagi perkembangan emosional anak di kemudian hari.</p>
<p>Buku-buku cerita tentang kelinci yang ketakutan, beruang marah, sedihnya anak ayam karena kehilangan induk, dan beragam dongeng yang dibaca membuat anak dapat merasakan serta mengenali berbagai emosi. Di kehidupan nyata anak akan menghubungkannya dengan isi cerita. Mereka akan dibantu untuk mengenali dan mengembangkan emosi dirinya. Kasus pembunuhan , kekacauan moral, tawuran, perkosaan, dan beragam kekerasan yang kian marak belakangan ini sungguh mengoyak hati .</p>
<p>Akankah anak-anak yang terlahir fitri harus turut kehilangan hati nurani? Membacakan buku dapat menjadi sebuah solusi. Mimi Doe dan Marsha Walch, dalam buku &#8216;Sepuluh Prinsip Spiritual Parenting&#8217; nenyatakan bahwa anak-anak adalah makhluk spiritual. Mereka mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi. Spontanitas, kreativitas, dan kebebasan berpikir-berasa-bertindak mencirikan spiritualitas bawaan anak-anak.</p>
<p>Tipe Kepedulian<br />
Mengenai potensi otak anak dan kepedulian ibu, dalam pengamatan penulis, terdapat empat tipe ibu di Indonesia. Pertama adalah ibu yang tidak tahu dan tidak peduli. Umumnya mereka mempunyai tingkat pendidikan dan status ekonomi yang rendah. Bisa juga ibu di perkotaan yang berpendidikan dan taraf ekonomi tinggi namun melahirkan anak di luar pernikahan atau akibat kasus perkosaan. Kedua, tipe ibu yang tidak tahu tapi peduli.</p>
<p>Ibu jenis ini terdapat di mana pun. Ketidaktahuan terjadi karena berbagai faktor seperti, tempat tinggal yang jauh di pedalaman, tingkat pendidikan, status ekonomi, kesibukan ibu bekerja, atau murni karena kurangnya informasi. Ketiga, tipe ibu yang tahu tapi tidak peduli. Ibu tipe ini banyak terdapat di perkotaan. Ketidakpedulian terjadi karena gaya hidup hedonis, materialistis dan kesibukan bekerja. Atau ibu yang terlalu mempercayakan pengasuhan pada sekolah atau pembantu. Ibu dengan karakter yang malas, &#8216;cuek&#8217; dan terlalu pasrah juga kerap menjadi penyebab. Keempat adalah tipe ibu yang tahu dan peduli.</p>
<p>Jenis ibu seperti ini lebih banyak terdapat di perkotaan dengan tingkat pendidikan dan status ekonomi menengah ke atas. Namun karena kemudahan informasi saat ini, dijumpai pula ibu dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah yang menyadari dan peduli pada potensi otak anaknya. Human Devolepment index menyebutkan, angka melek huruf di Indonesia relatif belum tinggi yaitu 88 persen. Dari Buletin Ikapi edisi Mei 2002, jumlah karya sastra yang dibaca oleh pelajar SMU di Indonesia nol judul.</p>
<p>Menurut Kepala Perpustakaan Nasional, Dady P Rachmanata pada 2004, pengunjung perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah sangat rendah yaitu 10-20 persen. Data-data itu menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Artinya, ibu yang termasuk tipe keempat dari klasifikasi di atas juga masih jarang dijumpai. Ibu tipe keempat sangat memahami potensi otak anak. Kesadaran bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus menjadi khalifah di masa depan, membuat ibu tetap semangat dan proaktif. Ibu yang sibuk bekerja akan tetap meluangkan waktu membacakan buku bagi anaknya.</p>
<p>Ibu dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah akan menyisihkan uang tabungan untuk membeli buku, bukan hanya untuk jajan. Ada pula ibu yang berusaha meminjam buku kepada tetangga, saudara atau perpustakaan. Sesungguhnya semua ibu dapat melakukannya karena membacakan buku adalah kegiatan yang mudah dan tidak memakan waktu. Dengan niat dan motivasi kuat, tiada hal yang tak mungkin. Mulailah bacakan buku untuk anak-anakmu, Bu. Bukan hanya bayi dan balita, anak-anak di atas lima tahun juga perlu dibacakan buku.</p>
<p>Sebelum usia SMP, kemampuan membaca anak masih kurang dibanding kemampuan mendengar. Memulai pada anak yang lebih besar memang sulit. Terlebih lagi pengaruh televisi, play station, dan game-game yang notabene jauh lebih menarik. Tidak ada kata terlambat. Demi kecintaannya pada buku dan masa depan yang lebih baik, luangkanlah waktu. Kesabaran dan usaha keras tak pernah mengenal kata sia-sia.</p>
<p>Dokter umum yang aktif di klub penulisan Hardim Bandung</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/335/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demam Bukan Musuh yang Harus Diperangi</title>
		<link>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/334</link>
		<comments>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/334#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 1970 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan di Koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Pikiran Rakyat, Minggu, 17 Oktober 2004

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/17/hikmah/lainnya02.htm

Demam pada anak sering menimbulkan fobia tersendiri bagi banyak orang tua. Keyakinan untuk segera menurunkan panas ketika anak demam sudah melekat erat di benak orangtua. Demam diidentikkan dengan penyakit, sehingga saat demam berhasil diturunkan, orangtua merasa lega karena menganggap penyakit akan segera pergi bersama turunnya panas badan.
Keinginan untuk menenangkan kegelisahan orang tua inilah yang terkadang "memaksa" dokter memberikan obat penurun panas walaupun sebenarnya mungkin tidak perlu. Selain itu tak dapat dipungkiri bahwa dokter yang gemar melakukan pengobatan "ala koki" (meminjam istilah Dr. Paul Zakaria da Gomez- ahli imunologi) masih kerap dijumpai. Seperti halnya makanan yang kurang manis ditambah gula, kurang asin ditambah garam, begitu pula pengobatan "ala koki" dilakukan. Apa pun penyebabnya, penderita panas badan langsung dicekoki obat penurun panas tanpa memastikannya terlebih dulu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pikiran Rakyat, Minggu, 17 Oktober 2004</p>
<p>http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/17/hikmah/lainnya02.htm</p>
<p>Demam pada anak sering menimbulkan fobia tersendiri bagi banyak orang tua. Keyakinan untuk segera menurunkan panas ketika anak demam sudah melekat erat di benak orangtua. Demam diidentikkan dengan penyakit, sehingga saat demam berhasil diturunkan, orangtua merasa lega karena menganggap penyakit akan segera pergi bersama turunnya panas badan.<br />
Keinginan untuk menenangkan kegelisahan orang tua inilah yang terkadang &#8220;memaksa&#8221; dokter memberikan obat penurun panas walaupun sebenarnya mungkin tidak perlu. Selain itu tak dapat dipungkiri bahwa dokter yang gemar melakukan pengobatan &#8220;ala koki&#8221; (meminjam istilah Dr. Paul Zakaria da Gomez- ahli imunologi) masih kerap dijumpai. Seperti halnya makanan yang kurang manis ditambah gula, kurang asin ditambah garam, begitu pula pengobatan &#8220;ala koki&#8221; dilakukan. Apa pun penyebabnya, penderita panas badan langsung dicekoki obat penurun panas tanpa memastikannya terlebih dulu.<!--break-->Apakah memberikan obat penurun panas ketika anak demam merupakan suatu hal yang salah? Bukankah bila demam tidak diturunkan akan menimbulkan kerusakan pada otak? Bukankah pemberian obat penurun panas menyebabkan anak terhindar dari kejang demam (stuip), membuat anak merasa lebih nyaman dan meningkatkan nafsu makan? Hal-hal seperti itulah yang sering terdengar mengenai demam dan banyak didengung-dengungkan di berbagai media iklan. Alhasil demam semakin menjadi momok yang menakutkan bagi orang tua, dan memperkuat keyakinan orangtua untuk buru-buru menurunkan panas ketika anak demam.<br />
Namun sesungguhnya para ahli menyatakan bahwa pendapat-pendapat tersebut hanyalah mitos belaka karena tidak semua dapat dibuktikan kebenarannya. Keberadaan demam justru berperan penting dalam proses penyembuhan penyakit. Bahkan pemberian obat penurun panas ketika anak demam (baik aspirin, paracetamol/acetaminophen maupun ibuprofen) terbukti lebih banyak menimbulkan dampak negatif ketimbang positif.</p>
<p>Sebelum mengetahui lebih lanjut dampak-dampak tersebut, harus dipahami terlebih dahulu bahwa terjadinya demam ketika seorang anak mengalami infeksi bukanlah suatu kesalahan. Tuhan memang sudah memberikan demam sebagai reaksi alamiah tubuh terhadap adanya infeksi. Sehingga ketika seorang anak mengalami infeksi, keberadaan demam semestinya disyukuri, bukan ditakuti atau diperangi karena hal ini merupakan pertanda bahwa mekanisme pertahanan tubuh sedang bekerja untuk melawan penyakit. Demam memang tidak hanya dapat disebabkan oleh infeksi, bisa saja terjadi karena pencetus lain seperti reaksi transfusi, tumor, imunisasi, dehidrasi , dan lain sebagainya. Tetapi pada anak umumnya demam terjadi karena suatu infeksi kuman, entah itu virus maupun bakteri.</p>
<p>Mengapa reaksi alamiah tubuh ini harus disyukuri? Berbagai literatur menyebutkan bahwa komponen-komponen sistem kekebalan tubuh, seperti sel darah putih (leucocyt) dan lymphocyt (salah satu jenis sel darah) akan bekerja lebih baik melawan kuman dalam keadaan suhu tubuh yang meningkat ketimbang suhu tubuh normal. Artinya, menurunkan suhu tubuh ketika anak demam justru akan melemahkan sistem kekebalan tubuhnya.</p>
<p>Saat demam terjadi, pergerakan dan aktivitas sel-sel darah putih meningkat, serta terjadinya perubahan bentuk lymphocyt dapat membunuh bakteri maupun virus yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, jumlah interferon, yang merupakan salah satu substansi antivirus dan antikanker dalam darah, juga akan meningkat dengan adanya demam. Teori tersebut juga didukung oleh sebuah penelitian di laboratorium, pada binatang yang sengaja diinfeksi oleh suatu penyakit. Ternyata dengan meningkatnya suhu tubuh binatang-binatang yang terinfeksi itu, angka kelangsungan hidup mereka semakin meningkat. Sebaliknya dengan menurunkan suhu tubuh ketika terjadi infeksi, malah meningkatkan angka kematian binatang-binatang tersebut.</p>
<p>Hylary Buttler, seorang peneliti dari New Zealand telah mengumpulkan kutipan-kutipan dari berbagai literatur kedokteran yang membuktikan bahwa demam memang diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh ketika terjadi infeksi. Sebaliknya pemberian obat penurun panas seperti paracetamol/acetaminophen, aspirin dan ibuprofen malah memberikan pengaruh negatif.</p>
<p>Dalam salah satu kutipan itu disebutkan bahwa pemberian obat penurun panas untuk menurunkan demam akan meningkatkan angka kematian dan kesakitan selama infeksi. Pemberian acetaminophen dinyatakan juga dapat menginduksi terjadinya pneumonia. Selain itu semakin sering memberikan obat penurun panas pada anak dengan penyakit infeksi, ternyata malah akan memperparah dan memperpanjang masa sakitnya. Fakta lain yang lebih penting menginformasikan bahwa obat penurun panas dapat memberikan gejala palsu. Penderita demam yang disangka sedang dalam masa penyembuhan karena panasnya sudah turun, ternyata luput dari observasi dan mengakibatkan penyakitnya berlanjut semakin buruk akibat pemberian obat penurun panas.</p>
<p>Walaupun belum dinyatakan kebenarannya, namun Dr. Torres, seorang peneliti senior dari Biomedical Utah State University, memberikan teori baru mengenai penyebab potensial merebaknya kasus autism belakangan ini. Demam yang dihambat dengan pemberian obat penurun panas pada ibu hamil dan anak-anak kecil, dikatakan terlibat sebagai biang kerok terjadinya autism dan neurodevelopmental disorders. Pada akhirnya kerugian pemberian obat penurun panas ini tentu saja berhubungan dengan biaya pengobatan yang seharusnya tidak perlu dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih penting.</p>
<p>Lalu bagaimanakah dengan kebenaran mitos-mitos yang sudah mendarah daging diyakini para orang tua? Dalam bukunya &#8220;How To Raise A Healthy Child in Spite of Your Doctor&#8221; Dr. Robert Mendelsohn yang juga seorang dokter spesialis anak mengatakan, demam tinggi bukanlah penyebab kejang demam. Kejang demam muncul ketika suhu badan meningkat dengan kecepatan yang sangat tinggi dan hal ini umumnya jarang terjadi. Hanya 4 % anak-anak dengan demam tinggi yang demamnya berhubungan dengan kejang. Tidak ditemukan pula bukti-bukti yang menyatakan bahwa setelah kejang demam mereka kemudian mengalami efek serius. Anggapan bahwa pemberian obat penurun panas akan mengurangi kejadian kejang demam pun tidak didasari oleh bukti yang nyata. Karena itu memberikan obat penurun panas kepada semua anak yang mengalami demam, hanya akibat 4% kejadian kejang demam, bukanlah hal yang rasional.</p>
<p>Selain itu demam yang terjadi karena infeksi bakteri atau virus, pada umumnya tidak akan menyebabkan kerusakan otak atau kerusakan fisik permanen seperti anggapan yang telah dianut selama ini. Demam adalah hal yang biasa terjadi pada anak dan bukan merupakan suatu indikasi penyakit serius kecuali bila disertai dengan perubahan penampilan, perubahan tingkah laku atau gejala-gejala tambahan seperti kesulitan bernafas, kaku kuduk atau kehilangan kesadaran. Hanya demam di atas 42,2 derajat Celcius yang telah diketahui dapat menyebabkan kerusakan otak.</p>
<p>Namun tentu saja terdapat perkecualian, yaitu bila demam terjadi pada bayi yang baru lahir. Demam yang terjadi pada bayi di minggu-minggu pertama kehidupannya harus mendapatkan perhatian serius, karena kemungkinan besar infeksi didapat dari proses persalinan, ataupun penyebab lain.</p>
<p>Asumsi yang juga telah sangat diyakini orang tua adalah pernyataan bahwa obat penurun panas akan menyebabkan anak merasa lebih baik, lebih aktif dan meningkatkan nafsu makan. Padahal penelitian membuktikan bahwa tidak ada perbedaan efek yang tampak ketika penderita demam diberi obat penurun panas maupun placebo (sugesti). Jadi tidak dapat dibedakan apakah keadaan lebih baik yang dirasakan penderita sebetulnya merupakan efek placebo atau efek obat. Tapi bila obat penurun panas dipakai sebagai placebo, artinya placebo yang digunakan merupakan placebo yang sangat berbahaya.</p>
<p>Dari keterangan di atas jelas lah sudah bahwa demam bukanlah musuh yang harus diperangi. Karena itu penggunaan obat penurun panas sebaiknya betul-betul diberikan secara rasional. Beberapa negara bahkan membuat peraturan agar dokter-dokter mereka memberikan obat penurun panas pada pasien, hanya ketika demamnya mencapai 40,5 derajat C atau lebih.<br />
Mengingat pengaruh emosional yang telah begitu mendalam di benak orang tua, merubah perilaku ini tentu menjadi pekerjaan yang teramat sulit. Namun dengan merubah paradigma tentang demam, dan menyadari dampak negatif pemberian obat penurun panas pada anak, diharapkan demam tidak lagi menjadi &#8220;monster&#8221; yang menyeramkan bagi orang tua. Orang tua tidak lagi perlu buru-buru membeli obat penurun panas di warung dekat rumah, ataupun &#8220;memaksa&#8221; dokter untuk segera menurunkan demam anak.</p>
<p>Selain itu akan sangat bijaksana pula, bila dokter tidak begitu saja dengan mudah memberikan obat penurun panas tanpa indikasi yang betul-betul perlu. Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya keberadaan demam dan dampak negatif menurunkan panas badan ketika anak demam, merupakan tindakan yang lebih rasional. Bila hal ini dilakukan, paling tidak ancaman pengaruh buruk akibat rutinnya penggunaan obat penurun panas terhadap kesehatan anak-anak dikemudian hari, dapat dikurangi.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/334/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
