Archives for 2004

Aceh Masih Berduka

Filed under Sharing Teman

Ini tulisanku atas email Mbak Ida di milis We Are Mom (baca di sini: http://groups.yahoo.com/group/We_R_Mommies/message/5510)

To: We_R_Mommies@yahoogroups.com
From: “Agnes Tri Harjaningrum”
Date: Fri, 31 Dec 2004 14:59:26 -0800 (PST)
Subject: Re: [We_R_Mommies] ACEH MASIH BERDUKA
Dear mbak Ida n moms…

Hiks…hiks… rasanya perasaanku campur aduk membaca
cerita dan pengalaman mbak Ida. Sedih dan pedih sekali
membayangkan kondisi mereka. Apalagi membayangkan
kalau aku jadi mereka,musti kehilangan anak, saudara,
dan semuanya. Melihat kota porak poranda, mayat
bergelimpangan dimana-mana dan tak tau harus menatap
masa depan dengan apa. Duh tak sanggup, tak sanggup
aku Tuhan… Tapi buat mereka, semua itu nyata, bukan
hanya bayangan, bukan hanya mimpi. Entah sehancur apa
hati mereka…

Bingung, tak tau harus berbuat apa dengan kondisi
mereka yang seperti itu sekarang. Apalagi melihat
pemerintah yang lambat dan tetap mengijinkan acara
hura-hura tahun baru. Apa tak bisa mengerahkan pasukan
berikut armada untuk membantu mereka? Waktu perang
melawan GAM, koq rasanya pemerintah heboh mengirimkan
pasukan ya. Hmm…aku betul-betul tidak mengerti
urusan yang macam ini.

Saat ini, kami disini hanya bisa mengirimkan doa dan
berusaha mengumpulkan dana untuk dikirimkan pada
mereka, semoga bisa sampai ke tangan yang tepat, tanpa
dipotong dimana-mana. Tetapi, teman-teman disini
khawatir, bantuan yang banyak mengalir sekarang
‘hanya’ euphoria sesaat saja. Padahal untuk membangun
kembali Aceh, dan memulihkan kondisi masyarakatnya
butuh waktu tahunan, paling tidak 10 tahun kabarnya.
Jadi, teman-teman disini sedang berusaha untuk membuat
proposal dan semacamnya, agar pemerintah Belanda dan
masyarakat Belanda juga, terketuk hatinya dan bersedia
memberikan bantuan berkelanjutan untuk Aceh. Semoga
saja bisa berhasil dan bisa bermanfaat untuk mereka.

Bagiku pribadi, hikmah bencana sebesar ini membuatku
semakin bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang.
Mereka kehilangan semuanya,anak, suami, keluarga,
harta , benda dan entah apa lagi. Sedangkan aku, masih
diberi kesempatan untuk bersama dua orang buah
hatiku,dan suamiku tercinta. Hari-hari kemarin,
rutinitas yang ada membuatku kadang menganggap
kebersamaan dengan mereka merupakan hal yang biasa.
Tapi kini, aku tersadar, mereka begitu berharga,
mereka adalah anugrah yang tak terkira. Tak ingin lagi
rasanya kutinggalkan hari-hariku tanpa makna bersama
mereka. Tak ingin lagi kunodai hari-hariku dengan
rasa kesal dan amarah yang terkadang muncul pada
mereka. Semakin ingin rasanya memberikan yang terbaik
buat mereka. Semoga aku bisa…

Bagaimanapun, tangis, darah, dan airmata dari mereka
yang tertimpa bencana,telah sangat berjasa, membawa
untaian hikmah bagiku dan barangkali bagi banyak umat
manusia.

Thanks a lot buat sharingnya mbak Ida…

Wassalam hangat,

Agnes


Parenting

Filed under Lain-lain

http://www.spiritualparenting.com

Buku “10 Prinsip Spiritual Parenting” karya Mimi Doe, merupakan salah satu buku favoritku. Bisa dikatakan sebagai buku yang merubah paradigmaku dalam pengasuhan. Dan situs “Spiritual Parenting” ini bagus sekali sebagai sumper inspirasi pengasuhan, karena selalu diperbaharui. Tapi tentu saja, tetap ada hal-hal yang tidak cocok dan harus dimodifikasi sendiri. Secara keseluruhan, aku tetap acung jempol buat buku dan situsnya, karena semuanya mengajarkan tentang hakikat, pelajaran terpenting bagi orang-orang yang mau memaknai hidup lebih mendalam.


http://wrm-indonesia.org/

Kalau yang ini, situs para ibu-ibu Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Aku juga ikut mailing listnya. Asyik deh ketemu sama para ibu yang pada pinter-pinter. Dan yang lebih bikin aku betah, karena mereka umumnya concern sama masalah pengasuhan anak dan keluarga. So… disinilah aku merasa bertemu dengan ’sesamaku’.
Silaturahmi Muslimah Indonesia di Belanda

http://www.salamaa.blogspot.com/

Ini juga komunitas ’sesamaku’. Salamaa ini baru saja berdiri Februari lalu. Walaupun baru tapi para anggota sudah berencana mau kopdar dan belajar masak lho… Seru kan…


Sprice-online, Seputar Dunia Anak dan Pendidikan
http://www.sprice-online.com



Sahabat Nestle
http://www.sahabatnestle.co.id/HOMEV2/main/default/default.asp


Sanggar Origami
http://www.sanggar-origami.com/index.html


Tabloid Nakita
http://www.tabloid-nakita.com/


Dunia Ibu
http://www.dunia-ibu.org/html/tentang_kami.html


Membaca dan Menulis

Filed under Books and Writing

Aku membaca resensi dan beberapa artikel lepas dari mizan learning center. Aku mendapatkan lagi semangat baru, dan aku akan mengikatnya. Membaca dan menulis bagaikan saudara kembar, keping mata uang yang tak dapat dipisahkan. Banyak membaca buku, tetapi tidak mengikatnya, hanya akan membuat apa yang telah dibaca kabur tak tentu rimba. Karena itu, setelah membaca buku, ikatlah, tulislah bagian-bagian penting secara ngemil. Jangan lupa, sebelum membaca buku, agar buku bagaikan makanan yang nikmat untuk diserap, ingatlah AMBAK ( Apa manfaat membaca buku bagiku). Pikirkan secara detail, apa yang ingin diketahui dari sebuah buku, apa menariknya sebuah buku, sehingga ketika membaca, banyak gizi yang bisa diserap.

Apa pentingnya menulis? Ternyata, menurut Fatima Mernissi seorang penulis terkenal asal Maroko, menulis dapat menyehatkan kulit alias awet muda. Asyik kan! Selain itu, menulis juga dapat menghilangkan trauma dan menyehatkan otak. Tulislah apapun yang ingin ditulis, dan menulis buku harian dapat menjadi kegiatan yang melatih keprigelan menulis. Ingat juga kata mas Tomi, menulis itu tak perlu bakat, tapi yang diperlukan adalah keuletan dan semangat. Itulah kenapa saat ini aku semangat untuk belajar menulis buku. Buku bisa menjadi amal jariah yang tak kan hilang walaupun manusia mati. Aku ingin menulis sebuah buku, suatu hari nanti, entah buku apa. Oya dari konsultasi dengan mas Hernowo, aku juga mendapat jawaban tentang cara praktis menulis buku. Caranya mudah saja, meniru. Ya, meniru adalah proses belajar termudah dan bukan berarti menghambat kreatifitas. Bila aku ingin menulis buku seperti Torey Harden, tirulah, dan aku ingin melakukannya. Someday…I will…


Malik dan TV

Filed under Diary Parenting

Kemarin sore, malik ngantuk, belum tidur siang. Batas nonton TV sudah lewat, karena aku dan anak-anak sudah bikin kesepakatan, hanya boleh nonton TV 2 jam sehari. Jam 5 lewat 5 menit, mereka belum juga matiin TV. Akhhirnya aku bilang, “Kalau aik sama mbak lala kelamaan nonton TV, bunda khawatir kalian jadi anak yang nggak pinter. TV itu bikin otak jadi pasif. Kesepakatannya kan jam 5, TV harus mati, matiin yuk TVnya.” Lala sih pinter dia mau langsung matiin, tapi Aik, langsung lari dan nyalain si TV itu lagi. Sampe beberapa kali dimatiin sama lala, aik terus nyalain lagi. Akhirnya bunda bilang “kalau aik nggak mau matiin TV, TV nya sama ayah disimpen di gudang nanti ya.” Eh dia cuek aja.

Bunda gregetan juga jadinya, soalnya dia udah lebih dari 2 jam nonton kalo ditambah sama pagi. Akhirnya bunda cabut aja kabelnya. Eeh dia nangis ngoar-ngoar. Uring-uringan pingin nancepin kabel sendiri, tapi nggak bisa, nagiiis sampe lama. Akhirnya dia bilang “Aik sayang sama bunda, huaa… aik mau dipeluk…huaaa.” Setelah dipeluk, sambil sesenggukan dia ngomong ” bunda… aik mau…hiks…aik mau…kabelnya ditancepin sama bunda…hiks…habis itu bunda nyalain TV…hiks, trus TVnya dimatiin sama Aik” gitu katanya, wah pinter deh kalo gitu. Akhirnya bunda bikin perjanjian lagi. “Oke ik, kita bikin kesepakatan lagi ya, bunda pasangin kabel, bunda nyalain TV, Aik yang matiin, tapi nggak boleh dinyalain lagi ya”…”Iya katanya sambil masih nahan tangis. Akhirnya… ya itulah yang bunda dan malik lakukan. Habis itu diem deh dia langsung sambil minta dipeluuuk terus.

Berhenti nangis sebentar, nangis lagi karena rebutan tempat mainan pink sama mbak lala. Baru diem setelah si tempat mainan sebesar itu dia pegang di tangan kanan, sambil dipeluk bunda dan harus dikursi sofa, terus tangan kiri sambil pegang plastik isi coklat. Dah ayem, nggak lama, langsung deh dia pules…lesss….


lala-serem.jpg malik-serem.jpg

Kekuatan ’story telling’ tak diragukan lagi manfaatnya bagi anak. Malik dan Lala pun sangat senang mendengarkan cerita. Beberapa minggu terakhir ini, karena kelelahan dengan berbagai masalah, aku dan suamiku menjadi lebih sering bercerita daripada membacakan buku, alasannya sederhana, supaya bisa melakukannya sambil berbaring. Aku mulai sering menceritakan dongeng rakyat Indonesia kepada mereka. Biasanya aku bercerita tentang Malinkundang, Bawang Merah dan Bawang Putih, Kilip dan Putri Bulan, serta beberapa cerita lainnya. Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih sempat menjadi hits beberapa hari bagi mereka. Namun, setelah ayah menceritakan kisah ‘Nenek dan Tulang’ mmm mereka jadi gandrung sekali pada cerita itu.

Sudah seminggu ini tak henti-hentinya mereka meminta diceritakan cerita tersebut. Ceritanya memang cukup seru dan sedikit menyeramkan. Tapi pesan cerita itu sangat jelas,” jangan mengambil barang yang bukan milikmu”. Karena mereka sangat senang, meminta lagi dan lagi, akhirnya ayah membuat cerita part 1, 2,3 dan 4. Semoga saja pengarang cerita ini tidak protes, karena ceritanya menjadi sedikit berubah he he. Cerita ini berasal dari Inggris dengan judul asli ‘Kecil Mungil’. Ayah memulai kisahnya…Alkisah, di sebuah desa ada sebuah rumah yang kecil mungil. Di dalamnya tinggal lah seorang nenek yang juga kecil mungil. Semua perabotan rumah si nenek mulai dari peralatan masak, tempat tidur sampai lemari makan, semuanya juga kecil mungil. Si nenek mempunyai seekor anjing yang tentu saja kecil mungil.

“Nama anjingnya siapa yah? tanya Lala

“Mmm siapa ya, menurut Lala siapa?

“Ik heb idee, hondtje…”

“Oh iya betul, hond kan bahasa belanda artinya anjing, tje itu kecil, jadi artinya anjing kecil. Wah bagus sekali namanya, oke kalo gitu kita kasih dia nama si hondtje yaa…”

Lalu ayah melanjutkan ceritanya. Suatu hari si nenek kecil mungil berjalan-jalan bersama anjingnya, si hondtje, yang kecil mungil. Mereka menyusuri sepanjang jalan yang dipenuhi bunga-bunga indah. Mereka juga melewati sebuah kuburan. Ketika melewati kuburan, si nenek melihat benda putih di atas gundukan tanah. Karena penasaran, berbelok lah si nenek dan anjingnya ke kuburan itu. “Oh, ternyata ini tulang, hondtje, kita bawa pulang saja ya untuk tambahan makananmu di rumah” ujar si nenek kepada anjingnya.

Sesampainya di rumah, disimpannya tulang itu dilemari. Malamnya dia bermimpi, ada hujan badai di luar rumah, petir menggelegar. “Gelegar….” Tiba-tiba…ada sebuah suara dari arah kuburan, “Tok…tok…tok…” suara itu begitu keras dan menyeramkan.
“Aaah…” setiap sampai di bagian ini, Lala dan Malik selalu menjerit ketakutan dan bersembunyi di balik selimut.
“Suara siapa itu yah?” tanya Lala

“Suara siapa ya, nggak tau suara siapa la”

“Suara tengkorak yah”

“Oya suara tengkorak kali ya…”

Nah, lalu, suara itu berbunyi dengan lebih menyeramkan lagi “Kem-ba-li-kan tu-lang-kuuu… Kem-ba-li-kan tu-lang-kuuu….” Ayah menirukan suara itu dengan mata melotot sambil meluruskan tangan ke depan dan meloncat-loncat seperti vampir. Tentu saja anak-anak menjerit-jerit ketakutan melihatnya.

ayah-serem.jpg

Suara itu makin lama semakin dekat mendekati si nenek. Si nenek sangat ketakutan mendengarnya. Tiba-tiba ada sesuatu hendak menerkam si nenek. Hup. Si nenek tersentak kaget sekali, dan terbangun. Oh…ternyata… dia hanya bermimpi, dan sesuatu yang hendak menerkamnya itu ternyata adalah si hondtje yang melompat ke tubuhnya.

Hmmh si nenek legaaa sekali karena dia hanya bermimpi. Lalu dia berkata pada si hondtje “Hondtje, kita harus mengembalikan tulang itu. Tulang itu bukan milik kita, kita tidak boleh mengambil milik orang lain hondtje, semalam nenek bermimpi buruk karenanya.”

Akhirnya, nenek kecil mungil bersama si hondtje mengembalikan tulang itu ke kuburan. Begitu ceritanya.

Tapi esoknya, Lala dan Aik protes, mereka tidak mau tidur sebelum cerita itu dilanjutkan lagi. “Mau lagi yah…mau lagi bagian ke dua yah…”. Hmm…ayah berpikir sejenak. Lalu ayah terpaksa mengarang cerita bagian kedua.

Setelah tulangnya dikembalikan, si nenek langsung pulang ke rumahnya. Ternyata, malamnya suara itu datang lagi dan hendak menerkam si nenek lagi.
“Aik mau jadi tengkoraknya yah…” kata Aik. Lalu Aik menirukan ayah menjadi tengkorak. Dia berjalan dari arah pintu dengan tangan kedepan seperti vampir. Lalu bibir mungilnya mengeluarkan suara yang dibuat sedikit membesar agar tampak seram.

“Kembalikan tulangkuuu…kembalikan tulangku…”

“Aaaah…. takut…takut…!” Ayah, bunda dan mbak Lala semua berteriak pura-pura ketakutan, dan vampir Aik langsung tersenyum dan bergumam sambil malu-malu “Ini cuma Aik…” katanya. Hi hi hi…ayah dan bunda geli sekali melihat tingkahnya. Selanjutnya mbak Lala juga tak mau ketinggalan ingin menjadi vampir seperti Aik. Setelah mereka puas bergantian menjadi vampir, barulah ayah melanjutkan cerita.

Oo rupanya, ada satu tulang lagi yang tertinggal, si nenek lupa. Kemarin dia mengambil 2 buah tulang, tulang lengan dan jari. Tulang jarinya belum dikembalikan. Besok paginya langsung si nenek mengembalikan tulang itu lagi ke kuburan.

Hari ketiga, Lala dan Malik tetap belum puas dengan cerita bagian ke 2. “Mau lagi bagian 3 yah…” begitu kata mereka. Wah ayah terpaksa mengarang cerita lagi supaya mereka mau tidur.

Setelah mengembalikan tulang jari itu, mereka langsung pulang juga. Malamnya karena takut bermimpi lagi, si nenek tak lupa berdoa sebelum tidur “Bismika Allahumma ahya wabismika amut”. Eh… ternyata malamnya dia tetap bermimpi lagi, ada suara yang mendatanginya lagi “Ne-nek….ne-nek…terimakasih nek…” Hup si nenek kaget dan terbangun karena ada sesuatu melompat ke badannya. Wow ketika bangun si nenek mencium bau wangiii sekali. Ternyata di pangkuannya, tergeletak sekuntum bunga yang sangat indah. Siapa ya yang memberikan bunga ini? Mungkin suara dalam mimpiku tadi, kata si nenek. “Ya, kalau kita mengembalikan barang yang kita temukan, pasti si empunya barang akan sangat senang dan berterimakasih pada kita hondtje” begitu kata si nenek kepada anjingnya.

“Sekarang bobo yaa… ceritanya udah selesai, tamat sampe bagian 3″ kata ayah.

Eh tak taunya, terdengar suara aik merengek “Aik belum yah… aik juga mau diceritain bob, diceritain nenek dan tulang buat aik, tadi buat mbak lala ceritanya…”

Wah ayah kebingungan jadinya. Bisa-bisa Malik iri kepada Lala. Terpaksa ayah mengarang cerita lagi.

Setelah itu besoknya, Wendy yang sedang berjalan-jalan di dekat kuburan menelpon Bob the Builder “Bob, kau harus segera kesini bersama scoop, muck dan dizzy bob. Ada 2 buah tulang yang harus dikembalikan ke dalam kuburan bob”

“Oya wendy aku akan segera kesana” jawab bob

Akhirnya, bob beserta wendy dibantu mobil-mobilnya segera memasukkan tulang-tulang itu kembali ke dalam kuburan.” Beres, selesai tugas kita, dag…” kata bob dan teman-temannya.

“Semua udah kebagian cerita, sekarang harus bobo ya…”

Hi hi hi… aku hanya tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita ayah yang setiap hari bosan harus menceritakan cerita yang sama berulang-ulang. Tapi itulah dunia anak, penuh imajinasi. Aku dan suamiku tidak ingin mematikan imajinasi mereka.


Bunda di Ligasi Lagi

Filed under Diary Kesehatan

Bangun tidur, badan rasanya meriang semua, sakit nelen pula. Mana harus ke rumah sakit lagi janjian sama dokter gastroenterolog tea. Ya udah terpaksa deh, karena ga ada makanan, ayah bikin mie brokoli yang disenengin lala itu. Trus lala kan batuk-batuk terus, n dia udah bilang ga mau sekolah. Pagi-pagi udah ngomel ‘Ayah mau lala tambah sakit, kalo keanginan nanti lala tambah sakit’. Walah kudu berantem lagi sama lala pagi-pagi males ah, ya udahlah ga usah sekolah aja, akhirnya bolos deh dia. Tiap pagi tu emang kerjaan kita beranteeeem mulu ama lala. Ya lala itu kan kalo orang bilang mah lelet banget. Tapi kalo kata mbak ema, kita yang musti ngertiin dia, dia itu tipikal anak otak kanan dan visual. Jadi kalo emaknya ga sabaran ga akan nyambung deh. Wah ngeselin banget kadang kadang, jam udah menunjukkan pukul setengah sembilan gitu, dia masih pelan-pelan ngunyah roti, disuruh pake sepatu lamaaaa banget, disuruh pake jaket lamaaaa banget. Gimana jadi ga sering berantem. Kalo lagi normal si oke, tapi kalo lagi bete, wuah berantem malah bikin tambah lama aja kan. Tapi ya gimana, kadang-kadang eman g hilang kesabaran juga sih gara-gara leletnya itu, n ngomelnya yg panjang banget itu kalo dia lagi marah kan tambah bikin ggrh gitu lo.Ya udah akhirnya berangkatlah kami ke martini Zieken huis. Aku ga kuat naik sepeda jadi semua naek sepeda ayah dibonceng. Trus sampe sana ternyata langsung disuruh ligasi sama dokternya. Hah kaget kan gw, tapi dokternya cuma bilang ‘very quick koq…’ Walah…ya gimana lagi deh. Trus dengan agak2 deg2an gitu masuklah aku keruang tindakan. Inget pas ama dr Shen sakit kan. Tapi ternyata ga terlalu sakit. Pas aku tanya kenapa koq dateng lagi n lagi sih si ambeien ini. Si dokter bilang, ya memang begitu, kaya pergi ke dentist aja several time, karena emang jaringannya berkelainan, gitu ceunah. Trus aku disuruh makan brown bread min 6 pieces tiap hari. Aduh mak…but I eat rice dok… Ya I know ceunah, but you have to. Ya sutralah akhirnya pulang-pulang langsung beli roti, obat dan selei.

Sampe rumah langsung ambruk aku, n kerasa pula senut-senut di anus. Trus langsung minum obat n mapan. Ayah bilang ke anak-anak, anak-anak sekarang ga boleh ganggu bunda ya, bunda lagi sakit. Awalnya aik bilang, bunda ga boleh sakit, bunda kenapa sakit? Trus sama ayah dibilangin, tempat eenya bunda sakit tadi habis diobatin sama pak dokter. Kenapa? katanya. Trus bunda bilang, karena dulu melahirkan aik sama lala. Kirain dia mau tanya lagi, tapi ternyata udah tuh ga tanya lagi . Ya udah tidur pulaslah bunda, dan karena ayah cuma bisa masak mie brokoli, ya itulagi deh yang dimakan siang sama anak2. Kesian banget ga sih, tapi gimana lagi. Oya ayah terpaksa bolos hari ini, soalnya aku ga sanggup ngurus anak-anak.

Habis tidur lelap lumayan lama, gantian ayah yang teler, trus tidur. Anak-anak anteng maen sama nonton TV. Ya emang sih, Tv tu jadi senjata terakhir dalam kondisi kaya gini, kalo ga gitu mana bisa mereka liat ayah bunda istirahat. Trus karena bunda dah cukup seger n penasaran sama tulisan lebaran yang belum kelar, lembur deh bunda bikin tulisan. Sampe om pandu dateng jam 8 gitu, baru bunda selesai. Habis itu karena kesian liat anak2 seharian makan mie ya udah aku paksain masak opor plus ngangetin bakso buat pandu.

Nah nah malemnya pas mau tidur nih, lala kan dah teler bobo duluan, sedangkan aik baru bangun karena bobo sore. Jadi dia baru tidur jam setengah 12 malem. Habis minta bacain buku mari menyanyi itu, trus aku suruh berdoa. Dia berdoa ‘Bismika Allahumma ahya wa bismika amut’ Amin. Trus aku bilang lagi, ‘eh aik berdoanya gimana sama Allah yang ada di hati aik’ Taunya dia bergumam…’tempat eek nya bunda biar sembuh’ gitu katanya. Hi hi bunda ngakak sambil seneng banget. Aduh makasih sayang, seneng sekali bunda didoain sama aik. Gimana…gimana ik… trus aku tuntun diikutin sama dia ‘Ya Allah, sembuhkanlah tempat eeknya bunda, namanya anus ik, iya anus’ katanya. He he lucu banget deh, n seneng banget dapet doa dari anakku, ternyata cerita ayah berkesan buat dia nempel.

Waktu itu juga pernah, malemnya dia makan strawberry, trus kayanya dipegang sampe tidur. Hasilnya ya belepotanlah tempat tidur bunda yang putih jadi warna merah. Pas dia bangun n liat, dia tanya, bunda ini apa? Aku bilang, itu kan strawberrynya aik, td malem aik lupa ya dipegang terus. Nah trus ga lama ayah dateng liat, trus bilang. ‘Ih aik mens ya, tu liat merah merah dibawah aik’ Eh dia marah ‘ bukan ayah! aik kan laki-laki, masa aik mens’ katanya gitu. He he pinter dia, inget apa yang diomongin sama ayah bunda. Dia kan suka liat kalo aku pipis trus ada mensnya, atau lagi tembus di rok atau kasur gitu. Trus dia selalu tanya, itu apa? Nah kesempatan kan mencicil pendidikan sex. Aku jelasin, ini darah mens yang keluar dari rahimnya bunda. Nanti kalo mbak lala udah besar juga mens kaya bunda. Kalo laki-laki nggak mens, aik juga nggak mens. Untung ga tanya lagi, belum kali, ntar pasti nanyanya lebih susah kalo dia dah tambah umur.


Salju Pertama

Filed under Lala dan Malik, Tentang Belanda

Hari ini, selasa, tanggal 28 Desember 2004, adalah hari pertama turunnya salju tebal di Groningen. Kemarin salju sudah mulai turun tapi masih tipis-tipis. Begitu bangun pagi hari, bunda langsung mengajak anak-anak melihat salju diluar. Wah indah sekali, semua jalan, atap rumah dan mobil berwarna putih. “Wah, hari ini tak boleh kita lewatkan begitu saja,kita harus keluar karena belum tentu besok-besok ada salju setebal ini” begitu kata ayah. Akhirnya, sekira jam 2 siang, kami keluar rumah berjalan kaki, ingin menikmati salju pertama, juga sekaligus berbelanja ke Aldi.

Selengkapnya…


Bawang Merah dan Pelabelan pada Anak

Filed under Diary Parenting

Aku sering menceritakan kisah ‘bawang merah dan bawang putih’ pada anak-anakku. Mereka senang mendengarnya, selalu ingin lagi dan lagi, walaupun sekarang tidak lagi, karena mereka sedang gandrung dengan cerita ‘Nenek dan tulang’ dari ayah. Aku mendapatkan pelajaran berharga dari Lala beberapa hari lalu. Pesan moral yang sampai lewat cerita ternyata begitu kuat meresap dalam benak mereka, dan satu hal lagi yang penting, pelabelan pada anak memang harus positif. Alhamdulillah selama ini aku selalu tekankan pada mereka bahwa mereka anak baik, tak boleh ada yang menyebut mereka nakal, dan tak boleh mereka mengucapkan kata-kata nakal. Ternyata, itulah citra diri yang melekat bagi lala, bahwa lala adalah anak baik.Siang itu, Lala dan Aik sama-sama ingin makan dengan lauk nugget ikan. Kemudian aku menggorengnya untuk mereka, 4 buah. Setelah matang, aku bawa ke piring mereka masing-masing. Lala langsung mengambil semua nugget itu ke piringnya. Dengan sangat lembut aku berkata kepadanya “Lala, yang sebagian buat Malik ya…”

“Tapi mbak Lala laper bun, mbak Lala suka nugget ikan”

“Iya, tapi kalo lala ambil semua, berarti lala kaya bawang merah,rakus namanya”

Lala langsung terdiam, menangis keras,dan mengembalikan semua nugget ikan dalam piringnya.

“Hiks…hiks…bunda bukan bundanya lala,bunda bukan bunda yang baik. Kalo bunda, bunda yang baik, bunda ngomongnya nggak gitu. Lala nggak mau makan lagi huaa… ”

Aku tersentak kaget dan langsung tersadar,aku telah salah bicara.

“Maafin bunda ya la, bunda salah ngomong, lala nggak rakus, lala nggak kaya bawang merah, lala anak baik, biasanya kan lala mau berbagi kan la.”

“Huaa…lala nggak sayang sama bunda, bunda bukan bunda yang baik. Kalo bunda baik, bunda nggak ngomong gitu. Lala anak baik, lala bukan kaya bawang merah huaaa…Lala kembaliin semua, lala nggak mau makan lagi! Huaa…”

Aku tahu, lala tersinggung dan marah sekali. Aku langsung memeluknya. Aku benar-benar tak sengaja mengucapkan kata-kata itu tadi. Aku memang salah. Aku peluk dia erat-erat, dan aku belai-belai rambutnya sambil meneguhkan perasaannya.

“Lala, lala marah sekali ya sama bunda karena bunda bilang lala kaya bawang merah dan rakus”

“Huaaa…iya, lala marah sekali sama bunda. Lala nggak kaya bawang merah bun lala anak baik, huaaa…”

“Iya la, lala anak yang baik sekali, bunda tau, lala pasti tersinggung dan marah sekali karena omongan bunda tadi. Maafin bunda ya sayang, bunda salah ngomong tadi.”

“Huaaa… lala nggak sayang sama bunda, bunda bukan bunda yang baik”

“Lala pasti marah sekali ya sama bunda, sekarang lala lagi nggak sayang ya sama bunda. Maafin bunda ya sayang…”

“Hiks…tapi bunda nggak boleh ngomong kaya gitu lagi, kalo enggak, lala marah sekali sama bunda hiks…”

“Iya sayang, bunda minta maaf, bunda janji nggak akan ngomong gitu lagi, lala anak yang baik sekali, biasanya juga lala mau berbagi sama aik kan. Sekarang lala masih marah sama bunda? banyak atau sedikit?”

“Sedikit bun…hiks…hiks…” Tangis lala mulai mereda

“Alhamdulillah, bunda seneng deh, mbak lala sekarang kalo marah nggak lama-lama lagi, makasih sayang udah mau maafin bunda. Lala masih marah sama bunda sekarang?”

“Enggak bun…” jawab lala sambil masih sesikit sesenggukan.

Hmmh… betul-betul sensitif dia, persis seperti aku. Ya, tapi ini pelajaran berharga juga buatku. Ternyata tidak sia-sia aku ikut pelatihan komunikasi pengasuhan anak dari klub buah hati waktu itu. Setelah diteguhkan perasaannya, anak-anak mudah sekali tenang. Tapi ya aku memang hanya bisa melakukannya ketika kondisiku pun dalam keadaan normal. Jika tidak, wuah, hilang semua teori itu. Tapi mudah-mudahan, setelah kesadaran baru kemarin, kondisi apapun tetap bisa membuatku memberikan yang terbaik. Amin.


Cerita tentang gempa bumi

Filed under Diary Parenting

Indonesia sedang berduka. Presiden menyatakan bahwa tiga hari ini adalah hari berkabung nasional. Ya, gempa tsunami yang melanda negara Asia, termasuk Aceh dan Sumatra Utara kali ini memang sangat dahsyat. Puluhan ribu orang meninggal dunia, puluhan mayat berjejer dan membusuk bergelimpangan. Hiks…sedih sekali membaca berita-beritanya. Kemarin aku berkata pada suamiku “Barangkali Aceh mempunyai sejarah yang kita belum tahu. Menurutku aneh, kenapa seolah Aceh yang menjadi tumbal negara kita, selalu menderita, selalu sengsara. Mungkin suatu saat kita bisa tanya sama mas min yah.” Suamiku menjawab ” Yang penting, ini kesempatan bagi kita untuk menjelaskan pada anak-anak tentang gempa itu, menumbuhkan kepedulian dan empati pada mereka.Kita harus jelaskan pada mereka nanti. Oya uang tabungan mereka dari ulang tahun itu kita suruh sumbangkan saja ke korban gempa.”Akhirnya, ketika makan siang tiba, sewaktu aku dan anak-anak sudah duduk di kursi masing-masing, ayah mulai bercerita.

“Lala dan Aik tau nggak, sekarang di Indonesia lagi ada gempa bumi, di ujung pulau Sumatra, Aceh nama propinsinya. Karena gempa itu, banyak sekali orang-orang yang meninggal, kehilangan ayah bundanya, kehilangan rumah dan banyak bangunan pada rusak semua”

“Kenapa bisa ada gempa bumi yah?” Lala bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Wah pertanyaan Lala bagus sekali. Gempa itu terjadi karena di dalam bumi ada lava yang sangat panas, kemudian meledak keluar sehingga tanah disekitarnya bergoyang dan rusak. Seperti taplak meja ini la, dari bawah sama ayah ditarik. Nah kue dan sendok ini pura-puranya rumah dan anak kecil yang lagi main. ”

“Tang ini jadi apa yah” Aik tak tahan ikut nimbrung.

“Ya pura-puranya tang nya jadi jembatan ya. Nah waktu ada gempa, taplak ini seperti digeser dari bawah sehingga semua yang ada diatasnya bergoyang, rusak dan berjatuhan. Anak kecil yang sedang main itu mati tertimpa reruntuhan rumah”

Anak-anak mendengarkan dengan antusias, tapi bagi Malik semuanya tampak tak nyata. Jadi dia bersikukuh menanyakan kabar jembatannya he he. Aku mencoba mencari buku tentang gempa, dan aku menemukan gambaran tentang gempa yang bagus sekali di buku Hamparan Dunia Ilmu serta Ensiklopedi Bocah Muslim. Anak-anak antusias sekali melihat gambar dan mendengarkan penjelasan ayah tentang terjadinya gempa lewat gambar.

“Berapa orang yang mati yah?” Lala tampak tertarik dengan diskusi kali ini.

“Banyak sekali, sepuluh ribu, seperti banyaknya teman-teman sekolah lala kalo lagi berkumpul di lapangan, itu masih 10 kali lipat lagi banyaknya. Kasian ya la, anak-anak yang jadi kehilangan orangtuanya, nggak punya ayah bunda lagi. Coba lala sama aik bayangkan, gimana kalo lala dan aik nggak punya ayah bunda lagi, gimana perasaan lala?”

“Sedih …”

“Kalo Aik gimana?”

“Sedih juga…” Aik menjawab dengan wajah serius

“Kalo gitu, uang yang ada di wadah ini, dari tabungan lala dan aik kemarin, kita sumbangkan buat mereka ya. Kasian sekali mereka sekarang kelaparan, kedinginan, nggak punya baju, nggak punya mainan, semua rusak. Boleh nggak uangnya disumbangkan buat mereka”

“Boleh yah boleh” kata Lala. Aik ikut menjawab sambil manggut-manggut “Boleh yah” jawab Aik.

Lalu setelah itu mereka ribut berebut buku tentang gempa yang gambarnya besar dan menarik.

“Wah acara makan siangnya kapan nih, koq nggak jadi makan, bunda udah laper nih”

“Tapi lala mau baca buku dulu bun…”

“Aik juga, Aik nggak mau makan”

Hmm akhirnya, kesempatan lah bagiku dan ayah untuk makan berdua tanpa diganggu mereka. Ternyata, anak-anak memang begitu polos dan lugu. Mereka dengan cepat menyerap apapun yang orangtuanya sampaikan. Terbukti setelah itu lala tak berhenti bertanya seputar gempa itu.

” Aceh itu Indonesia bun? Di mana bun? Yangkung sama yangti dimana?”

“Bunda ambillkan peta dunia ya la. Nah ini Indonesia, Aceh disini, Bandung disini, Lala di Belanda sini jauuh sekali”

“Kalo di Belanda nggak ada gempa bun?”

“Iya la, disini nggak ada gempa, dulu mungkin ada. Kita berdoa ya sama Allah supaya kita selalu dilindungi Allah. Negara yang kena gempa itu nggak cuma Indonesia la, ada Thailand, Srilangka, India, Bangladesh dan Malaysia”

“Tapi Palembang ini nggak kena ya bun, Bandung juga nggak kena ya bun?”

“Iya sayang, kota-kota ini kan jauh dari pusat gempa, jadi nggak kena”

“Binatang-binatang pada mati nggak bun kena gempa”

“O iya, banyak binatang mati karena gempa”

“Pohon-pohon rusak nggak bun?”

“Iya pohon-pohon juga rusak, sama ya la kaya di buku Nabi, yang ada azab Allah untuk kaumnya itu lo la”

“Oiya bun, disini ada mazenya bun”

Wah siang itu betul-betul menjadi acara diskusi yang seru. Lala sepertinya menyerap semua yang aku dan suamiku ceritakan. Sedangkan Malik, ya mungkin usianya belum bisa menangkap hal-hal yang abstrak, jadi setelah diceritakan lewat buku dan melihat gambar korban gempa di internet barulah dia menyimak dengan baik. Begitulah anak-anak, betul-betul tergantung orangtuanya. Kalau aku dan ayah dalam kondisi lelah, mana mungkin bisa punya energi untuk menjelaskan seperti ini. Kuncinya memang sabar dan sabar. Hmmh… semoga Allah selalu memberikan kesabaran itu pada kami.


Undangan Ke Rumah Prof. John Nerbonne

Filed under Sharing Teman, Tentang Belanda

Profesor John Neorbone –profesor yang membimbing Doctoral programnya ayah–mengundang kami untuk dinner for christmas. Sebetulnya undangan sudah diberikan sejak beberapa minggu yang lalu. Wah kami sangat tidak enak kalau sampai tidak datang, jadi ayah menyanggupi datang. Tapi dengan tidak mengurangi rasa hormat, ayah meminta supaya profesor menyediakan menu vegetarian food. Ya, itulah salah satu tips menerima undangan selama kami tinggal di negeri orang ini. Terbukti, makanan yang kami makan sejauh ini rasanya aman-aman saja, karena kami menghindari memakan daging di tempat undangan. Ternyata, dinner bersama ini menjadi pengalaman yang berkesan juga. Apalagi mereka baiiik sekali, sehingga kami merasa sangat nyaman berada disana.

Selengkapnya…


Acara ulang tahun anak-anakku usai sudah. Hmh…lega dan puas rasanya. Usaha keras yang aku lakukan selama seminggu terbayar sudah. Hari minggu ini menjadi hari kami untuk bermalas-malasan setelah acara pesta kecil-kecilan semalam. Anak-anak terbangun, aku dan suamiku masih ingin berduaan, tak ingin diganggu. Mereka kami perbolehkan menonton TV seperti biasa. Setelah 2 jam, aku memanggil Lala untuk mematikan TV. “Lalaa…sudah 2 jam sayang, matiin TVnya yaa…”. Tapi, tak ada jawaban. Aku panggil sekali lagi, tetap tak ada jawaban. Aku mulai kesal. Kupanggil lebih keras lagi, tak ada jawaban juga, tapi terdengar suara TV dimatikan.

Aku dan suamiku kesal sekali melihat tingkah Lala beberapa hari ini yang tak pernah menjawab ketika dipanggil. Kami khawatir terjadi sesuatu dengan telinganya. Sudah beberapa hari ini ayah selalu ‘mengancam’ Lala bahwa dokter akan melakukan operasi kecil pada telinga Lala bila Lala selalu tidak menjawab pertanyaan kami. Awalnya aku tidak setuju, apa bedanya dengan mengancam. Tapi menurut ayah, kami hanya mengatakan apa yang dianjurkan dokter. Jadi itulah yang selama beberapa hari ini kami lakukan padanya. Ternyata… anak-anak memang tak pernah salah, kamilah orangtuanya yang telah melakukan kesalahan. Alhamdulillah kami segera ditegur Allah, dan diberiNya kami kesadaran baru.Karena masih kelelahan, hari minggu ini, aku dan suamiku jadi lebih sering lagi meninggikan suara karena kesal pada anak-anak. Entah kenapa, suamiku yang biasanya lebih sabar dari aku, menjadi tertular. Aku ingat betul , sejak 3 hari ini lah aku jadi sering marah-marah. Selain karena PMS, membuat kue tanpa ayah, juga karena kecapaian belanja barangkali. Kelakuan Lala yang tak pernah menjawab pertanyaan ketika aku tanya pun semakin membuat aku berang. Semua teori tentang parenting hilang dari kepalaku. Aku selalu meninggikan suara dan mengancamnya. Ketika sedang marah, aku selalu berkata “Lala, kalau Lala nggak mandiri, nggak jadi ulangtahunnya, batalin aja semuanya!” Kami memang mensyaratkan agar dia menjadi lebih mandiri di ulang tahunnya yang ke-5.

Pokoknya, hari Minggu ini mungkin hari buruk untuk Lala. Dia seolah mendapat beban berat setelah usianya 5 tahun. Dia tidak ingin kehilangan semua hadiahnya, tapi kami selalu berkata akan memberikannya pada orang lain jika Lala tidak mandiri.

Setelah makan malam dan anak-anak tidur, aku berkata pada suamiku “Kenapa ya yah, hatiku rasanya panas terus 3 hari ini, memang sih mau mens, tapi sekarang nggak kayak biasanya, anak-anak jadi korban. Aku koq jadi kehilangan kontrol. Malik yang biasanya jarang aku marahi pun jadi kena marahku.” Aku mulai berkeluh kesah pada suamiku. Seperti biasa dia tak pernah menyalahkan aku “Ya wajar ma, mama melakukan semua sendirian. Aku hanya khawatir sama Lala, mungkin betul telinganya harus dioperasi karena hari ini semakin parah, dia sama sekali tidak menjawab ketika kita panggil. Mungkin kita harus membawanya lagi ke dokter ma…”

Tiba-tiba, rasa pedih muncul dihatiku. Terbayang bila Lala harus dioprek-oprek telinganya. Hiks… tiba-tiba aku menangis, tak rela rasanya. Tangisku semakin menjadi karena aku ingat apa yang telah aku lakukan padanya tadi malam. Lala terbangun semalam, merengek-rengek tak bisa tidur, mungkin bermimpi. Tapi aku yang kesal karena terbangun di tengah malam malah memarahi Lala “Lala, lala kan udah janji mau mandiri, tidur sendiri, bunda dan ayah nggak mau nemenin lala. Kalo Lala merengek-rengek terus begini, berarti lala masih kecil dong, nggak jadi 5 tahun, dikembaliin aja semua hadiahnya!”

Lala hanya bisa menangis dan merengek, akhirnya, dia tidur di sebelahku. Tapi karena kesal, aku tidak memeluknya dan tak menggubrisnya. Hiks… aku menyesaal sekali. Aku menangis sejadi-jadinya mengingat semua itu dan juga mengingat betapa 3 hari ini aku telah menjadi ibu yang selalu marah-marah melulu di depan lala. Hiks ya Allah ampuni aku. Tapi aku tak sanggup bila tak Kau mampukan ya Allah. Aku hanya manusia yang tak punya apa-apa, hanya ketitipan ya Allah. Hanya dengan ijinMu aku bisa sabar dan menjadi ibu yang baik, jadikanlah aku ibu yang baik buat anak-anakku, sesuai dengan keinginanMu ya Allah…

Aku menangiiiis terus, hatiku seolah mendapat siraman cahaya baru untuk mengubur semua kemarahan itu dan berubah menjadi sebuah keyakinan untuk mendidik mereka dengan penuh kesabaran. Suamiku pun berkata ” Ya mungkin, di hari ulang tahun mereka, kita diberi peringatan oleh Allah, diberi hikmah lewat Lala yang tiba-tiba jadi semakin parah telinganya. Betapa waktu mereka demikian berharga untuk kita lewatkan. Kita benar-benar harus kembali ke dalam, kembali ke keluarga dulu, kita harus kembali mendoakan mereka selalu disaat mereka tidur. ”

“Hiks-hiks iya ayah, aku nggak mau lagi bicara keras sama anak-anak, kita harus selalu pake kalimat positif, kita harus selalu mendatangi mereka kalau kita perlu sesuatu, nggak dari jauh yah, kita harus sangat sabar menghadapi mereka yah hiks hiks….” aku berdiskusi dengan ayah, sambil terus menitikkan air mata.

” Aku jadi ingat ma, bahwa “No children left behind”. Anak-anak tak pernah salah, orangtuanya lah yang salah bersikap sehingga anak menjadi salah. kita harus pegang prinsip itu ma. Lala mungkin begitu karena kita yang mengancam dia. Teliganya nggak apa-apa, pasti baik-baik aja. Itu karena kita ma, kita coba besok untuk merubah semua yaa ” begitu kata ayah mencoba menenangkan aku.

Ternyata, Allah langsung menguji kesabaran dan janji kami. Malamnya, Lala menangis dan rewel sekali. Lala tak mau tidur di dalam kamar, dia menggeletakkan badannya di luar sambil menangis sesenggukan. Ayah mencoba menenangkannya, tapi tangis lala bertambah keras dan menyuruh ayah tidur karena besok ayah harus pergi kerja katanya. Lalu bunda mencoba memeluk dan menenangkannya.

“Lala sayang, sini dipeluk bunda nak, Lala nggak mau tidur di dalam ya?”

“Hua..hua…iya… Lala mau tidur di luar aja.”

“Lala takut, Lala mimpi buruk?”

“Hiks…hiks…iya bunda…iya, Lala mimpi buruk, udah beberapa hari ini Lala tiap tidur mimpinya nggak indah terus bun…huaa…”

Deg… hatiku langsung tersentak. Ternyata betul. Barangkali dia betul-betul stress karena perlakuan kami. Apalagi dengan apa yang telah kulakukan semalam ketika aku memarahinya sewaktu dia terbangun karena mimpinya. Rasanya aku menyesaal sekali. Dalam hati aku berjanji untuk tak akan lagi mengulangi semua ini.

Esok paginya, kesabaran kami kembali diuji. Lala rewel sekali, masalah bajulah, sepatulah, makanan lah, nangis dan merengeek terus. Padahal, dia harus buru-buru sekolah. Tapi, ayah pun mulai menanganinya dengan penuh kesabaran, tidak lagi memarahi dan menyuruhnya buru-buru. Setelah ayah menjelaskan semuanya dan berjanji untuk tidak bersuara keras lagi, tangis lala berangsur diam dan mulai tenang.

Ajaibnya, sejak itu dia selalu menjawab pertanyaan kami setiap ditanya. Ternyata telinganya baik-baik saja, dia betul-betul melakukan semua itu karena protes dan stress barangkali. Hmh, untung saja Allah segera memberi peringatan. Anak-anak memang selalu membawa sinyal dari Tuhan. Kami orangtuanya lah yang harus pandai-pandai membaca sinyal-sinyal itu. Terimakasih Tuhan karena telah menegur kami dan memberi kesadaran baru pada kami. Sungguh merupakan pelajaran berharga bagi kami untuk menjadi orangtua yang selalu mengisi hati ini dengan sabar. Selama ini, teori tentang sabar sudah sering sekali kami dengar, dan kami sudah cukup berhasil melakukannya. Tapi, menjadi orangtua baru di Groningen dengan segala masalah yang muncul membuat kami lupa. Kesabaran itu perlahan-lahan terkikis. Kini semoga, Allah menumbuh suburkannya lagi dan lagi didalam hati kami.


Malik Pergi ke Thuiszorg

Filed under Diary Kesehatan

Hari ini Malik bolos sekolah karena harus pergi ke Thuiszorg di Corpus de horn. Thuiszorg itu adalah semacam klinik untuk anak-anak berusia 0 sampai 4 tahun. Disana ada perawat dan dokter yang akan selalu memeriksa tumbuh kembang anak, dan imunisasi anak. Jadi semua urusan mulai dari sulit makan, tidur, pertumbuhan TB dan BB anak, semua di lakukan disitu. Mungkin seperti posyandu di Indonesia barangkali ya. Tapi kalau yang ini mengurusi anak satu kota, lebih lengkap dan gratis lagi. Tiap anak pasti dijadwal untuk bertemu dokter dan perawat tiap beberapa bulan sekali tergantung keperluannya.Waktu baru datang ke Groningen ini, kami dikirimi surat untuk mengisi lembaran imunisasi apa saja yang sudah didapat sama Malik. Tapi karena aku masih pusing dengan masalah adaptasi, lalu baca artikel-artikel tentang vaksinasi yang masih pro kontra, jadinya aku cuekin si surat itu. Ternyata, seorang perawat dari sana datang ke rumahku. Dia heran kenapa aku tak membalas surat itu. Wah aku bilang “Sory, I’m not answered because I’m still confused to decide that I want to give vactination for my son or not”. Ya, kami ngobrol seputar tumbuh kembang Malik dari lahir, mulai dari berat lahir, panjang badan, apgar, kapan dia mulai bicara, jalan, dan lain-lain. Aku ingat betul semua tentang Malik karena aku mencatatnya, tapi lupa, semua catatan itu tak kubawa.

Tadi, kami menemui suster itu lagi. Dia bertanya, “Do you have any question or any problem about Malik?” Ayah yang mulai tanya, tentang feeding, sama sleeping time nya Aik. Anak-anak kan suka tidurnya jam 9 atau 10 malem, sedangkan anak sini tidurnya jam 7 atau jam 8 malam. Ya, suster itu hanya bilang, itu masalah kebiasaan atau aturan yang harus ditegakkan. Aku juga sudah tahu teorinya, anak harus punya koridor, aturan. Anak usia egosentris memang selalu melawan, negativistik, tapi orangtua tetap harus memberi aturan dan koridor. Anak akan merasa lebih nyaman dan aman ketika hidupnya teratur.

Informasi lain yang penting dari suster tadi, karena disini cahaya matahari kurang, anak sampai 4 tahun harus diberi tambahan vitamin D. Untuk vitamin lain, Huisart sendiri tidak menganjurkan apapun bila makanan anak dirasa sudah cukup. Tapi, untuk vitamin D aku pikir memang perlu ya.

Oya tadi aku juga bertanya, kemana aku bisa mencari psikolog untuk lala. Suster itu menganjurkan aku bertanya pada pihak sekolah, karena di sekolah tersedia katanya.

Setelah itu, kami harus menunggu agak lama, baru kemudian bertemu dokter. Dokternya masih muda, bahasa Inggrisnya aku pikir juga kurang bagus. Dia banyak tak mengerti apa yang ku bilang. Dia juga berkata sama, apakah aku punya pertanyaan tentang Malik atau tidak. Malik diperiksa mata tadi. Disuruh pakai kacamata kuda he he, warna coklat besar, satu mata ditutup, bergantian. Malik pintar ketika disuruh menunjuk semua benda yang ada, dia bisa menjawab dengan tepat seperti clock, house,cat, dan auto. Campur-campur pakai bahasa Inggris dan Belanda. Setelah itu diperiksa mata pakai opthalmoscop, diraba leher, dperiksa suara paru-paru, perut , scrotum dan penis.

Oya, tadi aku sempat sedikit bersitegang dengan si dokter. Walaupun WHO, IDAI sudah memberikan penjelasan tentang amannya MMR dan thimerosal. Tapi aku ingin mendapat penjelasan lebih dari dokter disini. Aku bilang, aku masih belum bisa memutuskan apakah anakku mau divaksinasi BMR atau tidak. Aku bilang, waktu malik usia 15 bulan, saat seharusnya di MMR, waktu itu sedang booming pro kontra MMR menyebabkan autism. Si dokter bilang, “it’s good”. Aku bilang, ya aku tahu bagus, tapi kenapa ada banyak dokter, yang tidak setuju. Aku baca dari internet. Terus dia bilang, “You know internet…” Dalam hati aku agak-agak kesal. Whats wrong with internet?.

Aku bilang juga akhirnya,” aku juga baca dari buku dok. Kenapa buku itu ada, kalau kasusnya tidak ada?” Maksudku, aku ingin dia menjelaskan bagusnya dimana dan kenapa, tapi dia cuma bilang bagus. Ya akhirnya aku bilang, aku perlu informasi untuk bahan pertimbangan. Oke akhirnya dia kasih, tapi dalam bahasa belanda. Walah bahasa Belandaku baru level 1 euy…
Ya…akhirnya, Malik akan disuruh balik lagi ketika usianya 3 tahun 9 bulan nanti. Rencananya mau divaksin DPT ulang. Begitulah cerita Thuiszorg hari ini….


Aku senang dan semangat sekali mau membuat tumpeng dan tart untuk ulang tahun anak-anakku.Tapi hari kamis tanggal 16 Desember, ayah tak pulang. Ada konferensi di Leiden sampai Jumat malam. Ternyata… aku kapok…pok membuat kue sendirian selagi ayah tak ada. Wuih huru haranya luar biasa, aku sampai kehilangan kesabaran, akibatnya marah-marah melulu, apalagi aku sedang pms alias pre menstrual syndrom. Rasa kesalku benar-benar menggunung jadinya. Parahnya lagi, kerjaanku jadi lamaaa sekali tak kunjung selesai. Awalnya, aku ingin hari kamis malam sudah mulai membuat kue, berikut menghias tart buat kedua anak itu, tapi… rencana tinggal rencana. Akhirnya hari Jumat malam aku baru selesai menghias kue kepunyaan lala, punya malik akhirnya dilembur sampai jam 3 pagi. Huru haranya ya karena ulah mereka selagi aku masak. Aku tahu, bagaimanapun seharusnya aku tidak marah seperti itu sama mereka. Efeknya pasti buruk untuk mereka. Tapi entahlah saat itu semua teori tentang parenting dan spiritual mengenai ibu yang baik lenyap di kepalaku, yang ada, rasannya aku cuma ingin marah dan marah ketika pekerjaanku mereka ganggu. Apalagi bayangan-bayangan tentang masa lalu berseliweran lagi di kepalaku. Hmh…Entahlah hari itu aku betul-betul kehilangan kontrol.Jadi ceritanya, aku mulai membuat kue jam 9 pagi, setelah beres mengantar lala ke sekolah. Setelah itu, aku mulai membuat cake. Aik asik menonton tv. Ya bagaimana lagi, tv itu betul-betul senjata terakhir kalau aku dan ayah sedang sibuk atau lagi ingin berduaan. Kami suruh saja mereka nonton tv, pasti kami tak terganggu.

Ternyata, karena baru pertama kali pakai panggangan kue, api yang aku nyalakan terlalu besar. Kue bagian atas sudah hampir gosong, tapi yang bawah belum matang, mulailah datang si rasa yang bernama bete itu . Akhirnya aku kecilkan apinya. Tapi jadi lamaaa sekali matangnya. Sampai menjemput lala jam 12 siang, baru lah lumayan matang itu cake.

Setelah menjemput lala, sampai rumah aku langsung melanjutkan acara membuat kue. Nah dimulailah huru hara. Ternyata aku lihat kuenya masih agak-agak basah, beteku datang lagi. Akhirnya aku panggang ulang. Selama memanggang dan mempersiapkan yang lain, Aik mulai berulah, pertama dia memanggilku “Bunda… Aik mau apel nggak pake kulit…” Yo wis, terpaksa, aku tinggalkan keasyikan mengadoni bahan kue kedua. Baru saja mau mulai lagi, berbunyi lagi tuh suara si kecil ” hua…hua …Bunda…Aik mau kentang goreng, aik laper…”. Akhirnya, kuhentikan lagi pekerjaanku, dan kugorenglah si kentang. Selanjutnya baru saja asyik mengocok telur, Aik teriak lagi “Bunda…Aik mau eek…” Hmh… capeeeek rasanya pekerjaanku tertunda terus.

Setelah selesai memanggang kue, aku potong pinggiran kue supaya rapih. Anak-anak sangat senang, mereka mulai mencicipi potongan-potongan kue itu. Aku sudah wanti-wanti berpesan kepada mereka, “Anak-anak cuma boleh makan yang dipotong-potong di wadah ini ya, yang udah bagus nggak boleh dimakan.” Tapi ternyata…sekembalinya dari dapur, apa yang kulihat? Ggrh… kemarahanku meledak. Si kue yang aku buat setengah mati dari pagi sudah tak mulus lagi, gerepes setengah bagian. Aku betul-betul kesal. Suaraku langsung meninggi “Siapa yang makan kue ini?!” Anak perempuanku dengan sedikit kaget menjawab “Sorii… Lala yang makan bun…” Ggrh aku marah besar, dengan suara keras aku bilang sama lala “Lala! nggak tau bunda udah capek-capek bikin dari pagi! Bunda udah bilang jangan makan yang ini kenapa dimakan?!” Ggrh gemas rasanya, ingin sekali mencubit anak itu, tapi pantang buatku main tangan sebesar apapun kemarahanku. Lala hanya bisa bilang “Sorii…” Aku tahu dia menyesal. Melihat kemarahanku yang seperti itu dia protes.

” Lala nggak akan makan lagi bun, tapi bunda bukan orang baik, orang baik nggak suka marah kayak gitu” . Hmh… tambah kesal rasanya, lalu aku bilang sama lala “Lala, bunda nggak akan marah kalau lala denger apa yang bunda bilang, lala tadi udah bilang iya iya nggak akan makan, tapi kenapa dimakan?!” Aku semakin kesal karena dia berdalih tentang telinganya ” Lala nggak denger bun, telinga lala yang sebelah kan budek”. Wuah aku semakin kesal saja karena tahu dia menjadikan telinganya sebagai alasan, gawat kalau keterusan.

Aku memarahi lagi lala, aku katakan bahwa telinganya baik-baik saja karena tadi lala sudah sepakat tidak akan makan. Akhirnya lala bilang “Iya sorii, lala laper bun…hua…hua…bunda nggak baik…ayaaah…” Akhirnya meledaklah tangisnya sambil minta pertolongan ayahnya. Untunglah, semarah-marahnya, aku masih tahu batas. Aku peluk dia, aku minta maaf, aku minta dia untuk tidak melakukannya lagi, dan berdamai dengannya. Entah kenapa setelah 2 hari aku sering marahi dia, telinganya semakin parah. Setiap dipanggil atau ditanya, jawabnya lamaaa sekali, berulang kali setelah teriak baru dia jawab. Siapa yang tak bertambah kesal melihat tingkah laku seperti itu.

Setelah beres urusan lala, Malik kembali berulah. Dia melihatku mengocok telur, kemudian diambilnya telur ke dapur, 1 butir. “Bunda, Aik mau telur, katanya”. Ya aku sudah cukup pusing dengan acara masakku yang tak selesai-selesai, kudiamkan saja dia. Ternyata, dia mengambil mangkok kecil dan sendok kecil sendiri. Dipecahkannya telur itu, kulitnya dibuang ke tempat sampah, lalu dikocoknya dengan sendok. Setelah selesai, diletakkannya mangkok berisi telur di atas meja. Tanpa dosa, tanpa berkata apa-apa, langsung dia pergi dan kembali bermain. Hmm aku hanya bisa menahan geli bercampur kesal melihat ulahnya.

Tak lama kemudian, terdengar lagi teriakan Malik, “Bunda…Aik mau susu “. Hmh…ggrh… hatiku sudah campur aduk tak karuan. Tapi aku berusaha sabar. Aku tak berkata apa-apa, langsung kuambil gelas dan pergi ke kulkas untuk mengambil susu. Ternyata… OO… Oh God, ggrh pe-er baru lagi dari Malik. Pintu kulkas sudah terbuka, botol susu tinggal separuh, setengah cairannya tumpah semua diatas karpet , bagaikan genangan pulau. “Aaaaah ! mau teriak rasanya.” Tapi … mau bagaimana lagi. Aku hanya bisa marah kepada Malik ” Malik! bunda nggak mau Aik numpahin susu diatas karpet lagi, Malik liat bunda, malik denger kan!” Ya seperti biasa, matanya hanya plerak-plerok kesana kemari sambil mengangguk. Pekerjaanku tertunda lagi, aku bereskan semua urusan susu itu terlebih dulu.


Hmh…akhirnya, selesai juga pesta ulang tahun kecil-kecilan anak-anakku. Capek dan teler sekali, tapi puas rasanya bisa memberikan sesuatu buat anak-anakku dengan hasil kreasiku sendiri. Tahun-tahun sebelumnya aku tinggal bayar, tinggal minta tolong mbak ning untuk membuatkan kue, minta tolong ibu untuk masak. Sekarang, semua kulakukan sendiri, dan hasilnya menurutku sih lumayan keren hehe, ayah juga bilang begitu. Lalu untuk ulang tahun kali ini ceritanya aku membuat tema untuk anakku, temanya tentang ‘pertumbuhan’. Walaupun effort persiapannya luar biasa, tapi senang sekali rasanya. Cerita kronologisnya begini…Aku ingat kata-kata psikolog di Suryakanti, waktu itu aku bilang bahwa lala suka sekali dengan princess, padahal kan lumayan mahal. Lalu dia bilang, “nggak apa-apa koq anak-anak berimajinasi, asalkan tidak berlebihan, tidak sampai mengganggu aktifitas sehari-harinya, misal sampe susah makan, susah tidur atau nggak mau sekolah gara-gara princess. Nanti juga kalo udah usia sekolah, saat dia sudah banyak tugas di sekolah, akan berkurang dengan sendirinya. Kalo masalah barang-barangnya yang mahal, kenapa nggak dijadikan reward aja, sekalian membudayakan kebiasaan menabung.” begitu katanya. Selain itu aku juga ingat, di bumi limas, anak-anak dibiasakan menabung, setelah akhir tahun, uangnya dibagi 3, yang satu buat beli hadiah kesukaan mereka, yang satu buat ditabung lagi atau terserah mau dipakai apa, yang satu pertiga lagi disumbang buat kaum dhuafa.

Nah sejak itulah, aku membelikan mereka tabungan, dan kalau lala minta barang-barang princess atau Aik minta Bob yang mahal, aku dan suamiku selalu bilang “Ini harganya mahal sayang, kalo Lala sama Aik mau, harus rajin nabung ya biar nanti uangnya bisa buat beli mainan kesukaan Lala sama Aik”. Wah pasti habis itu pulangnya mereka langsung minta uang buat ditabung. Bagusnya juga, mereka jadi belajar buat menunda keinginan. Pernah Aik nangis-nangis di toko Action minta mainan bob, orang lihat dia nangis jerit-jerit juga biar saja, yang penting dia tau, tak setiap semua keinginannya bisa terpenuhi. Akhirnya mereka pintar tuh, tiap ke toko tak pernah minta macam-macam lagi. Tapi ayahnya nih suka ‘gatal’ selalu ingin membelikan mainan untuk anak-anaknya. Aku juga sih, tapi benar-benar kalau sedang ada aanbeiding saja. Jadinya anak-anak sudah tahu ” ini murah ya yah” he he, pokoknya kalau kami sedang jalan-jalan, anak-anak sudah hapal, setiap yang kami belikan pasti berharga murah. Lalu lala jadi sering bertanya, “ini murah ya bun, kalo ini sedang ya, kalo itu mahal?” hehe lucu deh…

Ya, jadi ceritanya sejak disini kalau ada barang lagi aanbeiding, aku selalu membelinya, dicicil untuk hadiah ulang tahun mereka. Contohnya, aku dapat mobil scoop sejak beberapa bulan yang lalu di Kruidvat, harganya hanya 10 euro. Padahal scoop yang besar sekali, harga aslinya kalau tak salah 30 atau 40 euro ya lupa. Lalu boneka princess auroranya lala, berikut tempat tidurnya juga dapat 18 euro, padahal harga asli 30 euro an, lumayan kaan.

Sebelum hari ulang tahun, lala sudah jauh-jauh hari berpesan, mau dapat hadiah 7. Dua dari ayah, dua dari bunda, dua dari aik dan satu dari tabungan, he he banyak sekali kan. Ya namanya juga anak-anak, yang penting banyak, harganya sih yang murah-murah juga tak peduli mereka. Lantas, karena khawatir aik iri melihat mbak lala dapat hadiah banyak, ya akhirnya aku ambil keputusan disatukan saja hari pestanya, supaya aik juga dapat hadiah.

Ulang tahun lala tanggal 16 Desember, tapi karena ayah harus ke Leiden, mana hari kerja pula, akhirnya kami putuskan untuk pesta tanggal 18 hari Sabtunya. Jadi seminggu sebelum hari H, aku mulai sibuk belanja, mulai belanja kado, belanja pernak-pernik membuat kue dan tumpeng. Wah tak punya uang pun cuek aja aku. Sebetulnya kan hanya masalah perasaan saja. Dulu punya uang banyak pun tersimpan di bank, tenang, begitu saja bedanya. Sekarang tak punya uang juga tercatat di bank, yang penting kan masih bisa makan, masih bisa belanja.Ya aku yakin sih kalau masalah rejeki Allah memang sudah atur, kami lagi disuruh susah saja sekarang. Roda berputar deh, ada masanya diatas ada juga dibawah. Tapi aku tak mau, hanya gara-gara uang lalu aku semakin bete dan tak bisa keluarkan semua ide dan mimpiku. Selama masih mungkin, kenapa tidak. Uang bisa dicari, rejeki sudah ada yang atur, tapi kesempatan berharga tidak datang dua kali, begitu prinsipku. Uang memang penting tapi bukan segalanya. Aku mau uang jadi pembantu dalam hidupku bukan raja, seperti kata Gede Prama.

So… belanja lah aku. Wuih mumet cari peralatan kue disini. Menyesal dulu tak menurut kata ibuku sewaktu disuruh membawa peralatan untuk membuat kue. Padahal aku bisa membawanya di kontainer. Keliling-keliling setengah mampus dapatnya yang plastik semua. Meja putar tak ada, mentega putih pun tak ada. Apalagi peralatan pernak-pernik untuk hiasan kue, entah dimana aku bisa beli. Tapi… kesulitan malah memacu kreatifitas bukan. Jadi akhirnya, aku pakai yang ada. Butter cream jadi kuning its oke lah. Terus pernak-perniknya aku beli patung snow man, 3 buah harga hanya 1 euro, karena sedang musim natal. Lalu untuk kurcacinya, aku dapat di kruidvat, stempel sprookjes 12 buah harganya 3 euro. Lantas untuk pohonnya aku bingung pakai apa, akhirnya aku membeli krans. Itu lo yang untuk digantung di pintu kalau natalan. Eh ternyata pohonnya jadi macam-macam, malah lucu he he.

Pokoknya dari hari Sabtu sampai kamis aku sibuk belanja bahan kue, hadiah dan bahan tumpeng. Capeeek sekali rasanya, selalu pergi pagi pulang sore… begitulah cerita persiapan ulang tahunnya….


Kembali ke Sekolah Lokal?

Filed under Sharing Teman

Tulisanku berikut ini merupakan response terhadap artikel/tulisan yang dikirim ke milis We Are Mom oleh seorang teman. Tulisan aslinya bisa dibaca di Sini: Web Milis We Are Mom.

Date: Sun, 19 Dec 2004 09:11:30 -0800 (PST)
From: “Agnes Tri Harjaningrum”
Subject: Re: [We_R_Mommies] FW: [Baitnet] Kembali ke Sekolah Lokal
To: We_R_Mommies@yahoogroups.com

Tulisannya memang menarik. Tapi masalahnya mungkin tidak sesederhana itu ya. Masalah pendidikan di Indonesia itu teramat sangat kompleks. Kebetulan di tempatku ada yang lagi ngambil program Doktor bidang pendidikan. Dia bilang, sebelum menerapkan kurikulum yang akan dipakai di sekolah,pemerintah Belanda melakukan penelitian 20 tahun dulu sehingga akhirnya memakai kurikulum tersebut di sekolah2. Jadi, kalo ada program kerjasama antar guru dan ortu, wajar banget karena kurikulum bagus, kualitas guru oke, biaya untuk itu juga ada. Pemerintah memang concern dalam hal pendidikan.

Selengkapnya…


Ulang Tahun Lala dan Malik

Filed under Uncategorized


Aku lagi sakit. Suaraku hilang, batuk, badanku meriang. Aku yang masih belum stabil, ditambah sakit begini rasanya malah tambah nggak karu-karuan. Anak-anak bener-bener nggak keurus. Makan seadanya, nonton TV berjam-jam. Kalo lala sih bisa cuma 2 jam sehari, dia baik lagi, nurut. Lagipula sekolahnya kan sering sampe jam 3 sore. Malik nih, pusing aku. Kalo aku lagi normal, homy schoolnya bisa lancar, trus bisa aku temenin main-main. Tapi kalo lagi kaya gini…waduh mana tahan. Aku maunya depan komputeeer terus. Emang bener nih komputer bikin aku hidup. Bisa baca n nemu banyak hal. Semalem aku berjam-jam chating sama mbak Eva.

Wah asik ngobrol sama dia. Biasanya aku cuma ngobrol haha hi hi doang sama yang lain. Serius-serius paling sama Hermin. Nah nemu lagi nih yang baru. Karena dia lebih tua dari aku, usia perkawinannya juga udah lebih dari 10 tahun, pasti lebih banyak asem garemnya dong. Jadilah aku berguru padanya he he. Apalagi, mbak Eva itu editor Mizan, penerjemah buku juga. Wah cocok to. Aku langsung tanya-tanya seputar cara bikin buku.

Tapi dari obrolan panjang semalam, aku dapet sesuatu yang baru. Dia membuat aku berpikir tentang jati diri. Selama ini aku memang sedang mencari-cari. Tapi dia sudah menemukannya. Dia sudah tau apa konsep dirinya tentang wanita, bagaimana dia memandang wanita. Dia bilang aku harus punya dan mencari jati diri itu, sehingga ketika badai datang, aku tetap bisa kuat karena sudah punya konsep dari pencarianku.

Menurut dia, dia pendukung ‘emansipasi’. Kodrat wanita hanya 4, melahirkan, menyusui, haid dan nifas. Selebihnya perempuan dan laki-laki punya kebebasan yang sama. Wanita itu merdeka, punya kebebasan untuk memilih, tapi kebebasan yang sadar. Tau apa resiko dibalik pilihan yang diambil. Jadi buat dia, masak, beres-beres rumah itu bukan hanya pekerjaan perempuan, laki-laki juga bisa melakukannya.

Bagaimana denganku? Apakah aku sudah menemukannya? Ya mungkin aku memang masih mencari. Menurutku, wanita, seperti hal nya anak-anak adalah juga sosok yang unik dengan segala latar belakang kehidupan, kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Wanita berhak untuk menjadi dirinya sendiri. Dunia ini berwarna, begitu juga wanita. Ada yang senang di rumah, ada yang senang manjat-manjat, ada yang benci masak, ada yang senang cuap-cuap. Sah-sah saja toh. Kenapa harus dilarang, kenapa juga harus ada pembenaran untuk satu jenis wanita. Wanita berhak menjadi apa saja, sesuai dengan keunikan dirinya. Dengan menjadi dirinya itulah dia akan melakukan yang terbaik buat orang-orang disekelilingnya. Ya, baru itu yang rasanya aku temui, sesuai ‘Min konsep’ lah. Nanti mungkin seiring berjalannya waktu dan pencarianku, aku akan temukan lagi sampai aku yakin betul.

Habis chating itu, trus aku langsung buka situsnya http://www.mizanlc.com/ , bagus. Aku langsung tersemangati lagi untuk menulis buku. Walaupun belum kebayang seperti apa, tapi yang jelas, aku lagi semangat cari-cari ilmu menulis. Aku kirimi Hernowo email konsultasi. Aku kirimi agung dan Ika titipan-titipan buku yang mau aku beli. Aku minta info-info sama mbak Eva. Trus aku kirim email ke senaz minta bawain buku amanda. Aku juga kirim ke WRM tanya sharing jadi FTM di LN. Tapi ternyata mereka emang niat mau bikin buku seputar itu. Ya bagus lah, kali aja bisa jadi tambahan data. Tapi aku juga belum tau pasti mau nulis apa. Aku baru mau belajar nulis fiksi. Pasti Allah kasih jalan kalo ini emang udah jalanku. So… aku jalani lah apa yang ada di depan mataku sekarang. Satu hal yang terjadi sejak kemarin, aku tersemangati lagi untuk menulis buku!


Anak dan Identitas Muslim

Filed under Sharing Teman

Kemarin, aku dapat email dari Hermin, isinya beberapa komentar dari milis HS Fahima Jepang, tentang menjadi pendidik anak yang baik, yang Islami. Di situ, ada seorang bapak yang sedikit protes, mempertanyakan teori menjadi pendidik anak dari nara sumber yang dianggap terlalu teoritis. Prakteknya gimana? Kenyataannya tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan anak yang sangat kritis. Diantaranya, anaknya pernah hampir memukul seorang bayi bule, yang dititipkan kerumahnya karena merasa bahwa bayi itu bukan muslim. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan hal itu, tapi katanya pernah anaknya ikut “Qunut Nazilah” yang salah satu acaranya adalah menyaksikan betapa muslim itu banyak yang disiksa dan disakiti di perang Irak dan Afghanistan oleh kaum non muslim.So… tidak mudah kan mengajarkan berIslam pada anak. Pertanyaan selanjutnya dari Hermin adalah, bagaimana menanamkan identitas muslim pada anak, bukan menempelkannya. Sebetulnya aku sama suamiku sudah punya konsep sendiri dalam hal ini, tapi belum terformulasi dan tertulis dengan baik. Karena pertanyaan-pertanyaan itulah akhirnya kami berdiskusi dan akhirnya kami merasa akan menjalankan konsep yang telah kami pilih ini dalam mendidik anak-anak kami.

Sebelum usaha lahir dalam mendidik anak, tentu saja ada usaha bathin yang menurut kami lebih kuat pengaruhnya. Doa yan tak pernah putus dari orangtua sejak sebelum hamil, ketika hamil dan selama menjadi orangtua adalah bekal yang berharga buat langkah anak selanjutnya. Doa, supaya anak menjadi anak yang iman dan sholeh. Sholeh saja tidak cukup, tapi menjadi iman ini yang lebih penting.

Dari pertanyaan tadi, hal yang penting buat kami malah sebaliknya, bukan menanamkan atau menempelkannya yang menjadi permasalahan, tapi apa yang mau ditanamkan sesungguhnya. Apakah menanamkan identitas muslim itu suatu hal yang harus menjadi prioritas di usia anak yang masih polos dan suci itu? Lebih penting mana dengan menanamkan perilaku atau akhlak muslim?

Mendidik anak dari kecil itu ibarat menanam padi di sawah. Bila semua yang kita tanam adalah bibit terbaik, pupuk terbaik, disiangi dan dirawat dengan baik, ketika padi telah siap di panen, cap padi terbaik, pandan wangi misalnya, akan otomatis layak diberikan. Begitu pula dengan seorang anak, jika orangtua menanamkan kebaikan, perilaku Islami, akhlak Islami, saat usia ‘panen’ nanti, dengan sendirinya dia akan menjadi seorang Islam yang baik. Boleh dibilang, cap atau identitas itu akan muncul dengan sendirinya nanti, ketika masa panen tiba.

Apakah menanamkan identitas muslim ini bukan suatu hal yang crusial bagi seorang anak? Barangkali memang perlu tapi bukan yang utama. Dunia anak adalah dunia yang indah, polos, suci, tak mengenal perbedaan antar suku, ras, maupun agama. Mereka bisa bermain dengan siapa saja dan dimana saja tanpa mengenal semua cap atau identitas itu. Kenapa tidak kita ajarkan pada mereka keuniversalan Islam saja terlebih dulu, keAkbaran Allah saja dulu, betapa maha Pengasih, penyayangnya Allah, betapa maha baiknya Allah, dan betapa Islam itu mengajarkan perilaku yang mulia, kenapa bukan itu yang menjadi prioritas orangtua. Mengapa kita harus menodai kesucian mereka dengan menanamkan cap, label Islam terlebih dulu sehingga mereka merasa lebih, merasa berbeda dari anak-anak yang lain.

Mungkin akan timbul pertanyaan dalam benak orangtua “Bagaimana mungkin kita tidak menanamkan identitas muslim, kebanggaan menjadi muslim sejak dini pada anak, bagaimana jadinya mereka nanti, kalau mereka pindah ke agama lain gimana? Apa tak berdosa orangtuanya?”
Kembali kepada hal mendasar tadi, jika orangtua mengutamakan mendidik akhlak Islam, tanpa lebih dulu mementingkan Identitas Islam, di usia ‘panen’ nanti anak pasti akan paham dan bisa memilih, agama apa yang paling baik baginya. Anak akan memilih dengan sadar, bukannya dogmatis belaka. Menjadi seorang muslim adalah sebuah proses yang panjang, bukan sim salabim dan tak pernah berhenti sampai seorang manusia mati.

Lalu bagaimana menghadapi stress dari luar, perayaan umat suci agama lain yang menghebohkan dan disukai anak-anak misalnya. Pengalaman anak kami bisa dijadikan contoh. Di sekolah mereka diajarkan lagu-lagu natal, mereka diberi hadiah oleh sinterklas dan zwartepit. Mereka senang, mereka gembira, karena begitulah dunia anak. Kami berusaha untuk tidak melarang mereka ketika mereka sedang bergembira. Reaksi negatif dikala mereka senang kadang akan menimbulkan efek buruk dikemudian hari. Kami berusaha untuk mengajarkan keAkbaran Allah pada mereka, melihat orang di luar agama Islam sebagai salah satu bukti betapa Akbarnya Allah. “Lala dan Malik beragama Islam, tempat ibadahnya di mesjid, ada hari raya lebaran dan lain-lain, begitu juga teman-teman mereka beragama lain,” dan sterusnya dengan berusaha untuk sama sekali tidak menyentuh perbedaan itu.

Keuniversalan Islam, indahnya Islam, rahmatan lilalaminnya Islam, akhlak mulianya Islam, itulah yang ingin kami tanamkan pada anak kami, sesuai dengan dunia mereka yang indah. Di usia ‘panen’nya nanti, kami berharap mereka akan menjadi orang Islam yang sesungguhnya, memilih dengan sadar kenapa menjadi orang Islam.

Date: Tue, 14 Dec 2004 09:07:57 -0800 (PST)
From: “Agnes Tri Harjaningrum”
Subject: Re: Tentang pendidikan anak

Wah seru juga ya diskusinya. Aku juga kemudian merenungkan kembali dan memformulasikan kembali sama suamiku, model seperti apa yang akan aku terapkan sama anak-anakku dalam berIslam.

Sebelum semua usaha lahir, yang teramat penting buatku tentu aja usaha batin. Doa yang tak pernah putus dari orangtua agar anaknya menjadi anak yang iman dan sholeh,(bukan hanya sholeh tapi juga iman). Inilah yang aku percaya akan selalu menjaga mereka ketika godaan itu datang nantinya.

Pertanyaan hermin yang di YM kemarin menarik buatku, “bagaimana menanamkan identitas muslim pada anak bukan hanya menempelkan identitas muslim”. Kalau buatku, yang menjadi permasalahan bukanlah di menanamkan atau menempelkan, tapi apa yang harus ditanamkan. Betulkah menanamkan identitas muslim itu menjadi suatu hal yang teramat penting, kenapa bukan perilaku (akhlak) Islam yang menjadi prioritas utama. Bukankah Rosulullah pun diutus untuk merubah akhlak umat?

Ibarat menanam padi, bila kita menanam bibit yang terbaik, merawatnay dengan baik, setelah panen, cap padi pandan wangi akan otomatis melekat pada padi itu mengingat kualitasnya yang memang baik. Begitu juga dengan seorang anak, ketika kita mengajarkan akhlak, perilaku Islam, setelah usia ‘panen’, pasti si anak otomatis akan menjadi orang Islam yang baik, bukan hanya Islam sebagai identitas belaka.

Kalo teknis mengajarkan akhlak Islam, aku juga ga tau banyak bagaimana dulu jaman rosul, yang jelas, yang aku tau, menurut para ahli jaman sekarang, memberikan sesuatu apapun pada anak, kalau mau nerap harus dengan menyenangkan, sistem limbik harus terbuka, supaya apa yang kita ajarkan langsung diterjemahkan oleh sel2 syaraf otak. Contohnya seperti yang aku cerita sama hermin tentang sholat itu, digedor-gedor tiap pagi suruh sholat subuh, yang timbul image negatif, setelah besar orangtuanya malah dibunuh dengan alasan karena sering digedor buat sholat waktu lagi enak-enak tidur.

Satu hal lagi mungkin, kita nggak bisa dogmatis kali ya,misal kenapa kamu harus jujur? Karena Allah sayang sama orang yang jujur, kalo nggak jujur masuk neraka, Allah nggak suka. Aku betul-betul berusaha menghindari image negatif tentang Allah sama anak, kalo bisa semua pake kalimat positif, susah memang, tp yang penting usaha kali ya :-). Lalu menerangkan jujurnya ga cuma sebatas karena ada Allah, tapi pake empati juga, kalo kamu jadi orang yang dibohongin gimana, kasih kasus, enak nggak dibohongin, enggak kan, orang lain juga begitu. Aku pernah kasih kasus seperti ini ke lala dan kayanya lebih nerap ke dia dibanding kita cuma kasih tau, bahwa Allah suka sama anak yang jujur. Ya kalo sekali2 anak melanggar, wajar aja kali ya, itu pasti bagian dari proses belajar dia juga.

Kalo masalah konsep beragama Islam, aku mungkin memang punya konsep yang sedikit beda. Soalnya, menurutku dunia anak itu indah, polos, suci, tak mengenal perbedaan ras, suku maupun agama. Kalaupun kita kasih tau bahwa kita berbeda, tetap untuk saling menghargai, bahwa perbedaan itu rahmat, indah. Kita Orangtuanya inilah yang seringkali kemudian menodai dan tidak menghargai dunia mereka. Ketika dari kecil menanamkan cap/identitas menjadi prioritas,ditambah dengan membanding-bandingkan dengan agama lain,memberikan hal-hal yang negatif terhadap agama lain, mengenalkan perbedaan secara nyata, ketika itu pulalah kemudian akan timbul banyak masalah, banyak friksi pada diri si anak. Mengapa tidak kita ajarkan Islam sesuai dengan dunia mereka, kenapa tidak kita tonjolkan keuniversalan Islam, betapa sayangnya Allah sama mereka, perilaku Islam, maha baiknya Allah, dan rahmatan-lilalaminnya Islam saja terlebih dulu.

Jadi, saat ini, aku sama sekali belum pernah mengajarkan pada anak-anakku bahwa Islam adalah agama yang paling benar, bahwa diluar Islam masuk neraka, atau kafir. Aku juga sangat hati-hati mengajarkan surga dan neraka pada mereka, aku nggak mau mereka berbuat sesuatu karena imbalan pahala, tapi aku ingin mereka berbuat karena cinta pada Tuhannya. Aku hanya ingin mengajarkan segala yang indah tentang Allah dan Islam buat mereka, sesuai dengan dunia mereka.

Ya, karena aku sendiri percaya, manusia tidak berhak menilai,hanya Allah yang menilai. Islam adalah agama yang paling sempurna, agamanya, bukan manusianya. Apakah kemudian manusia yang akhlaknya jauh dari Islam, tapi beragama Islam kemudian bisa masuk surga? Apakah juga orang beragama nasrani, tapi berakhlak mulia akan masuk neraka? Wallahu alam, aku, manusia, sama sekali tidak berhak untuk menilai.Lagipula, Seperti Ali dalam doanya, apalah artinya surga dan neraka bagi seorang yang sudah mencintai Allah sedemikian dalam. Kecintaan pada Allah, berperilaku sesuai maunya Allah,itulah yang ingin aku prioritaskan sekarang pada anakku.

Karena itu, ketika melihat sebuah perbedaan, aku sangat berusaha untuk tidak pernah menilai dari sudut pandang manapun, tapi memandang dari kacamata paling tinggi, kacamata keAkbaran Allah. Kongkretnya, waktu musim natal seperti sekarang, anak-anakku di sekolah diajarkan lagu2 natal, dikasih hadiah sama sinterklas. Mereka senang karena itulah dunia mereka, apa salahnya nyanyi, apa salahnya dapat hadiah. Aku nggak mau panik, aku nggak pernah larang, toh aku sendiri juga dulu sering ke gereja waktu SD, tapi aku tidak terpengaruh sekarang. Selama itu masih dalam koridor, kenapa harus panik, aku percaya Allah akan jaga anak-anakku.

Aku bilang sama anak-anakku, agama kamu Islam, ga makan babi,tempat ibadah kamu di mesjid, kamu sholat, kamu harus jujur dan hal2 lainnya. Aku juga bilang, bahwa teman2 kamu agamanya kristen, tempat ibadahnya di gereja, ada natalan, dan lain2. Itulah keAkbaran Allah, dunia diciptakan sama Allah penuh warna, seperti pelangi, indah bukan?.

Aku bilang bahwa mereka Islam, muslim, harus begini begitu supaya disayang Allah dan seluruh manusia,tapi aku berusaha untuk tidak menilai agama orang lain, tidak memberikan dogma pada anakku bahwa Islam adalah agama yang paling benar, sehingga menimbulkan perasaan negatif buat anakku, entah jadi sombong atau benci sama agama lain. Ada saatnya nanti, ketika masa panen itu datang,ketika mereka sudah cukup bijak, mereka akan mengetahui dan memilih mana yang terbaik, bukan hanya ikut2an. Memilih dengan sadar, kenapa Islam yang terbaik, kenapa Islam is the best. Bukan sekedar karena di Qur’an Islam lah agama terbaik, tapi karena mereka sendiri sudah merasakan betapa nikmatnya menjadi orang Islam, betapa nikmatnya menjadi pencinta Tuhan, bukan hanya sekedar dogmatis belaka. Sehingga ketika badai datang, mereka bisa lebih kuat, begitu barangkali.

Sekarang aku hanya bisa berusaha dan berusaha supaya mereka cinta sama Allah, punya perilaku, akhlak yang Islami, memberitahu bahwa mereka muslim, dengan segala syariatnya, tapi tidak ingin menilai atau memberikan gambaran negatif tentang agama lain.Pasti mereka juga akan mengajukan pertanyaan2 sulit nanti, tapi itulah tantangan jadi orangtua. Yang jelas, aku betul2 tidak ingin dzolim, menodai dunia mereka, sehingga, aku berusaha memberikannya bertahap, dicicil sesuai dengan tahap perkembangan jiwanya, karena aku sadar, buat orang dewasa aja nggak mudah untuk berIslam, apalagi bagi seorang anak…

Wuah jadi panjang banget, sori kalo jadi kemana-mana, sekalian buat ngisi bloger nih hehe. Tapi thanks buat kiriman emailnya, membuatku merenung dan memutuskan langkah terbaik yang akan aku ambil buat anak-anakku…

Wassalam hangat,

Agnes


Lala sakit lagi

Filed under Diary Kesehatan

Kemarin, lala nggak masuk sekolah lagi. Sebetulnya sih karena ayah telat bangun gara-gara nyambangi tamu sampe after midnight. Tapi juga karena hidung lala mulai meler dan batuk. Sakit lagi….sakit lagi. Hari ini dia bolos lagi, karena batuknya semakin menjadi. Jam 10 pagi aku antar dia ke huisart, dokter keluarga. Awalnya si dokter cuma tanya ke aku ‘Do you know how many times children get sick every year?” Aku bilang, “I don’t know exactly, 5 time maybe”. He he terus dia ketawa, “You should read a journal, children get sick 12 time a year. Its common in children, viral infection”.“O, ya, it means children can get sick one time a month, but lala, one time a week dok… I’m just worried about her school, she always absent every week”. Baru deh dia agak-agak mikir, bete juga sih tadi karena hampir disuruh pulang begitu saja tanpa dikasih apa-apa. Waktu aku bilang ” She has asma in Indonesia dok, is it possible that her cough happen because her asma, mild asma maybe?” Wah aku bener-bener belagak pasien bodoh aja. Padahal aku tau betul dari buku Tatalaksana terbaru asma, bila ditemukan gejala tunggal hanya batuk persisten saja, tanpa ada gejala klasik asma lain seperti wheezing dan sesak, harus dipertimbangkan adanya suatu hipereaktif jalan nafas (HRB) yang merupakan suatu gejala serangan asma. Therapinya juga sama dengan terapi asma klasik. Buktinya, tiap lala batuk sering gitu, terus aku kasih obatnya Malik mendingan tuh. Aku pinginnya lala dirujuk ke spesialis biar dapat obat kaya Malik juga, biar ga minta punya Malik. Tapi si dokter nggak berpikir ke arah asma, sebel deh.

Si dokter terus meriksa lala, karena dia tidak menemukan suara apapun di paru-paru lala, dia cuma bilang,” that is not asma, there is nothing on her lung”. Hmh sebel deh, iya dok..iya…tapi… aduh tadi aku lupa pula istilah HRB, yang jelas aku pingin lala dirujuk ke spesialis anak. Akhirnya aku tanya lagi, “It could be there is something in her imune system dok..?” Terus dia bilang, biasanya gejalanya more severe kalo ada gangguan sistem imun. Dia cerita “My doughter has system imune disease an get a bone marrow transplantation, but the case is very rare”. Karena aku keukeuh , worrie about her school, akhirnya dia kasih aku surat buat ke laboratorium, buat periksa darah rutin sama CRP. Ya lumayan lah daripada suruh pulang nganggur. Harusnya sih periksa sekarang, tapi kan ayah lagi ke Utrech, jadi paling baru besok deh…


Undangan Hari Santa Lucia di Rumah Jorg

Filed under Tentang Belanda

Ayah mendapat undangan dari Jorg. Dia berasal dari Sweden. Katanya, di Sweden, setiap tanggal 13 Desember diperingati sebagai hari Santa Lucia, menjelang natal. Santa Lucia dipercaya sebagai orang suci.

Kami tiba di rumah Yorg pukul 19.00. Disana sudah berkumpul banyak orang. Bunda berkenalan dengan beberapa teman ayah. Tapi karena ini kali pertama bunda berada di lingkungan pestanya orang bule, bunda sedikit grogi jadinya. Akhirnya bunda mendekati istri Yorg di dapur. Disana bunda bicara banyak hal, mulai dari sejarah Santa Lucia, sampai kebiasaan orang-orang di Sweden. Tapi karena logat Inggrisnya berbeda, agak sulit menangkap ucapannya.

Selengkapnya…


Aku Perlu Dibacakan Buku, Ibu

Filed under Tulisan di Koran

Republika, 28 April 2004

Otak anak mempunyai satu triliun sel otak, dan bertriliun-triliun sambungan antarsel syaraf otak. Bila tidak distimulasi sejak dini, sambungan ini akan musnah. Layaknya daun di musim gugur, potensi mereka pun akan berguguran. Ibu adalah guru pertama bagi anak tanpa bermaksud mengecilkan peran bapak dalam pilar sebuah keluarga.Namun, dalam realitas yang ada, ibulah yang mengandung, melahirkan, menyusui dan lebih banyak menapaki hari, bulan dan tahun-tahun pertama kehidupan anak. Hari buku diperingati setiap 23 April yang berdekatan dengan Hari Kartini tanggal 21 April. Wanita Indonesia diingatkan mengenai emansipasi wanita yang diperjuangan oleh RA Kartini.

Dalam menyuarakan emansipasi wanita, tentunya Kartini pun ingin wanita mempunyai peran strategis dalam mencerdaskan bangsa. Meski ‘hanya’ dilakukan dari lingkup terkecil masyarakat, yaitu keluarga, peranannya menjadi pondasi bagi maju-mundurnya sebuah bangsa. Ibu sebagai wanita Indonesia, diharapkan menjadi pencetak generasi cerdas dan berbudi yang akan mengangkat derajat bangsa Indonesia.

Selengkapnya…


Malin Kundang

Filed under Diary Parenting

Monday, November 29, 2004

Tadi malem aku cerita malin kundang sama anak-anak. Mereka dengerin dengan seksama. Lucunya pas giliran malin kundang balik trus dia ga mau ngakuin ibunya, malah maki-maki ibunya, n ibunya nangis2. Aik ikut nangis, mukanya jumbek-jumbek… terus meluk aku. Dia bilang…”Bunda, aik sayang bundaa…” He he lucu deh, aku pikir memang ada efek kami nerapin teknik komunikasi buah hati itu. Trus pas ceritanya udah selesai, kan malin kundang berubah jadi batu. Aik ga terima, dia ga mau. Malin kundang nya jadi baik bunda katanya. Ya enggak ik, kan udah jadi batu. trus dia merengek, nngak mau… aik maunya jadi baik katanya he he. Ga ngerti deh habis itu ko malemnya dia bangun sambil peluk aku bilang “bunda, aik sayang sama bunda”, gitu katanya.

Kalo lala sih asik-asik aja, suka katanya. Trus besok pengen diceritain lagi. Waktu aku bilang bawang merah, bawang putih, dia mau. Yang jahat siapa bun, bawang merah kata bunda. Oiya karena merah itu kan setan, gitu katanya he he. Waktu aku tanya aik sama lala suka nggak cerita malin kundang nya. Lala bilang suka. Aik bilang enggak, karena ga jadi baik, hi hi pinter to kasih alesan.


Tak ada gema takbir, tidak tampak pula iring-iringan kawan, tetangga maupun saudara yang beramai-ramai hendak pergi sholat Ied bersama. Hanya hawa dingin serta gerimis yang menemani ketika mengayuh sepeda menuju mesjid Selwerd, tempat dilaksanakannya sholat ied. Alhasil, sepanjang perjalanan malah menyeruakkan kenangan indah, nikmatnya berlebaran di Indonesia. Rindu, sedih dan haru, bercampur menjadi satu. Begini rasanya berlebaran di negeri orang. Apatah lagi, sesampainya di mesjid tampak mobil polisi berjaga-jaga, menghindari terjadinya huru hara. Sejak meledaknya bom molotov di mesjid itu seminggu sebelumnya, mobil polisi seringkali terlihat di sekitar mesjid. Peledakan bom tersebut terjadi sebagai serangan balasan orang Belanda terhadap kasus pembunuhan Theo Van Gogh oleh seorang pemuda muslim asal Maroko. Berita tentang pembunuhan ini belakangan marak diberitakan karena Theo Van Gogh yang seorang sutradara, telah membuat film berjudul The Submission yang ceritanya sangat menyinggung umat Islam. Sungguh suasana lebaran seperti ini memang tidak menyenangkan. Namun tetap tak menggoyahkan semangat umat Islam asal Indonesia, dan umat muslim lainnya yang ingin melaksanakan sholat ied pada hari Sabtu tanggal 13 November 2004 baru lalu di Groningen, kota paling Utara negeri Belanda.

Selengkapnya…


Pentingnya Kebebasan Memilih

Filed under Diary Parenting

Kemarin, pulang dari aldi, anak-anak minta dibeliin es krim. Trus inget sharingnya mas tomy ketika faiz beli lego dan dibiasakan untuk punya pilihan asalkan dengan alasan, aku juga melakukan hal yang sama. Kayaknya malik lebih apa ya, lebih cepat mengambil keputusan dan alasan dibanding lala. Lala kalo ditanya sering bilang ga tau, ya mungkin karena anak pertama yang stimulasinya beda sama anak kedua kali ya, ga ngerti juga. Nah kemaren itu pas lala ditanya kenapa pililh es krim yang merah, ga yang biru kan enakan yang biru. Lala langsung berubah pendapat, kali takut aku ga suka, tapi dia ga bisa kasih reasonnya. Trus aku bilang, bunda akan beliin lala, lala boleh milillh yang mana aja asalkan ada alasannya. Dia masih diem aja. Trus aku tanya aik, dia langsung milih merah, kenapa ik? karena ada panda drumnya katanya. Nah habis itu pas lala ditanya lagi baru dia jawab, karena ada gambar pandanya cantik/lucu katanya.

Terus lagi, pas kejadian andaikan jadi burung itu juga. Trus pas sampe rumah, mereka rebutan mau cepet-cepet makan es krim, nah aik pilih yang warna warni, aku tanya kenapa aik pilih itu, karena ada birunya katanya. Pas lala ditanya, karena ada merahnya gitu katanya. Jadi belajar dari adeknya kali dia he he. Ya pokoknya aku sama ayah jadi semakin sepakat untuk mengasah kemampuan ini, supaya mereka menjadi orang2 yang bisa ambil keputusan dan ga cuma ikut2an dikala mereka remaja n dewasa nanti.


Semangat Baru dari Mas Tomy

Filed under Diary Parenting

Kemarin, minggu tanggal 7 November 2004, mungkin jadi saat yang berkesan buatku. Aku ketemu sama mas Tomy Satryotomo, ayahnya Faiz, suaminya mbak Helvy Tiana Rosa yang penulis terkenal itu … Awalnya niat mau wawancara aja buat radio minaara. Tapi ternyata dia kasih masukan aku buat nulis buku tentang how to parenting guide di luar negeri. Aku betul2 tersemangati dan rasanya ‘hidup’ lagi. Apalagi dia kasih aku emailnya mbak helvy dan faiz, trus suruh kontak dan konsultasi ama istrinya. Wuah seneng banget. Barusan aku dah kirim email panjang ke mbak helvy, aku bilang kalo dia balesnya entah kapan juga oke aja, soalnya aku percaya Allah dah atur semua, jalan mah timana wee… bener kan. Jadi kalo dia ga bales, walopun jujur agak2 kecewa juga, tapii… mungkin aku bisa belajar dari yang lain. Pokoknya aku jadi semangat buat nulis buku, dan aku jadi semangat buat bikin dokumentasi, nulis buku harian tentang parenting tiap hari. Aku mulai dari sekarang. Bismillah ya Allah, aku cuma wadah, aku ga ngerti kenapa bisa ketemu mas Tomy, apa maksudMu, aku ga ngerti kenapa aku tersemangati untuk nulis buku, aku yakin Kau udah atur semua kan ya Allah. Hanya satu yang kumohon, agar apapun yang kulakukan, semua betul-betul dari Mu, dan atas kehendak Mu.Dari obrolan kemarin, aku dan suamiku lumayan tercerahkan. Kembali diingatkan untuk mengerahkan effort yang besar di usia golden age ini. Selama ini aku memang banyak bete karena baru bener-beber belajar berkeluarga, dan karena lagi adaptasi juga dengan kondisi disini. Jadi kuncinya aku harus bahagia, karena kalo aku happy, semua kerjaan beres, anak-anak beres, aku juga tetep bisa bagi waktu buat nulis. Ayah janji mau bikin aku selalu bahagia, sampai sejauh ini sih iya banget. Aku juga mau usaha biar aku ga gampang bete. Tapi gimana ya, aku kan bener2 ga bisa atur perasaaanku. Ya pokoknya tadi pas saur kami udah diskusi tentang jadwal anak-anak, mudah2an bisa disiplin tidur lagi biar aku bisa punya waktu buat nulis. Saat ini kami memang masih punya masalah ekonomi sih, gara-gara suruh bayar urusan residen permit 900 euro. Bakal diganti, tapi emang tiap bulan gaji ayah nggak cukup karena rumah mahal, asuransi mahal. Kalo udah dapet tunjangan anak dan rumah, baru deh perekonomian kami aman. Padahal perlu beli komputer biar ga usah nunggu ayah. Katanya ayah mau dapet pentium 3 gratis dari om hari perpustakaan, tapi ya namanya juga gratisan, entah kapan deh.

Jadi ya itu, tentang ke anak2 kami mau mulai disiplin lagi, trus juga betul2 ingin membudayakan gemar diskusi. Sejak tadi malem aku dan suamiku bertekad untuk selalu berusaha ngobrol apapun sama anak2, memperlakukan mereka seperti kawan yang bisa diajak bicara apapun. Selain itu juga menumbuhkan rasa ingin tau mereka supaya mereka sering tanya kenapa dan bagaimana.

Tadi malem ayah mulai waktu lagi bacain buku dengan bilang, Kalo ayah jadi burung, ayah mau terbang ke mana-mana. Bunda gimana? Bunda mau terbang ke menara eifel, biar bisa liat yang indah2. Kalo aik gimana? eh dia bilang …’kalo aik jadi burung, aik mau terbang ke Indonesia mau ambil boneka tyrex dan palu’ hi hi hi… bunda ngakak banget. Soalnya dia emang lagi suka sama dino gara2 hommy school nya kan tentang dino. Trus dia itu suka banget bob dengan mobil dan peralatan tukangnya, dan semua ditinggal di Indo ga dibawa, tapi dia inget bahwa dia punya. Trus ayah bunda ga beliin lagi disini, krn boneka tyrex belum pernah nemu tuh. Kalo palu sebenernya ada sih yang murah, tapi ga tau tuh pengennya beliin buat hadiah ultah sekalian biar banyak he he. Kalo lala, eh dia malah marah, ga mungkin jadi burung katanya, manusia mana mungkin jadi burung. Trus bunda bilang , ini kan cuma imajinasi la, tapi dia keukeuh. Tau-taunya dia bilang, lala ga mau jadi burung, maunya jadi kupu-kupu yang cantik katanya. Yaa… permulaan yang baik lah aku pikir…

Oya semalem karena kita mulai konsisten untuk ngurangin tv, waktu buka, tv mati. Akibatnya ya itulah, aik ga bisa lepas dari bunda, nanya ini itu tentang buku dino. Dia seneng banget tanya ‘kata si ini apa bun? kalo ini, yang ini…?” terus we muter sampe capek pokona mah. Dia semalem lagi seneng banget sama maiasura yang sama anak-anaknya minta makan daun pakis itu. Lala lagi gambar, tapi trus ikut nimbrung. Hampir 1, setengah jam mereka minta dibacain, tentang buku dino sama binatang sahabat kita WWP itu. Aik udah janji habis itu langsung bobo, bener sih bobo, udah selimutan segala. Tapi lala protes, “lala baru sedikit bacanya”, yo wis lah sama ayah, bunda capek. Tapi ternyata aik pengen dengerin. Pas ayah bacain mbak lala tentang nabi daud, eh aik malah buka buku tubuh manusianya HDI. Tau ga dia seneng banget sama gambar2 yang njelimet itu. Pertama dia tanya gambar DNA yang lagi membelah rangkaiannya mau jadi 2. Aduh bunda aja pusing baru liat, trus nanya yang kulit melanin segala macem. Trus tanya gambar penis sama ginjal, paru-paru, kalo usus mana, , dll. Nah habis itu dia liat gambar proses penyakit diabetes yang orang lagi makan roti kue2 itu. Padahal gambarnya njelimet, tapi dia tanya terus. Ya udah bunda berusaha jelasin. “Ini makanan jadi gula Ik, kalo orgnya sehat dirubah jadi tenaga, tp kalo sakit diabetes alias kencing manis, gulanya keluar lewat pipis dan orangnya jadi lemes”. Tapi dia seneng banget lho, dan kayanya ngerti gitu. Wuah pokonya capek banget deh ngeladenin rasa ingin tau mereka terhadap buku. Disatu sisi seneng juga karena program cinta bukunya dah berhasil, tapi disisi lain, cuapek boo….

Oya satu lagi yang bikin aku ngakak semalem, dia tu liat gambar virus, bakteri lagi berperang melawan sel2 darah putih dan komponen2nya di buku HDI itu. Trus ada gambar bulet2 warna coklat. Awalnya dia bilang, “bunda ini coklat?” sambil wajah ragu-ragu gitu. Trus, bunda bilang, “iya ik ini protein yang warnanya coklat”. Trus dia tanya 2 yg lain,ini apa virus, bakterri , antibodi dll. Nah trus dia bisik2 ke telinga sambil wajah ragu2 dan keukeuh gitu, “bunda ini coklat?” katanya. Ha ha ha, bunda ngakak banget. Soalnya wajahnya lucu banget, trus ngomongnya bisik2 pula karena mungkin pengen keukeuh coklat tapi ko bunda bilang protein he he. Trus dia marah, “bunda ko ketawa, bunda ga boleh ketawa”. Trus akhirnya bunda jelasin kalo coklat yang dimakan aik bulet2 besar itu masuk ke lambung hancur kaya bubur, kecil2, baru diserap dst nya. “Jadi ini gambar protein warna coklat yang lg melawan kuman, tapi bentuknya kaya coklat Ik” hi hi, baru deh dia diem n ngerti kali.

Kalo tv masih jadi peer nih. Kaya sekarang, aku mana bisa nulis kalo ga biarin Aik nonton tv. Tadi pas sarapan dah ga dinyalain, trus aku cuci piring nulis imel, dan nulis ini, terpaksa deh nyalain TV. Tapi habis ini mau sekolah sih Aik nya. Soalnya selama bulan puasa program sekolah agak-agak terbengkalai. Tapi beneran aik majunya pesat banget, mulai sekolah 23 agustus, sekarang 3 bulan belang bentong sekolah dah hampir hafal semua huruf. Padahal aturan dari bumi limas kan 3 bulan buat a i u e o doang sama flash card he he. Emang pinter kali tuh anak.

Kalo lala, ya itu sejak gambarnya mulai keluar jadi hobiii banget gambar. Bagusnya kalo tv mati dia lari ke gambar ato main boneka dan rumah2an sama aik. Sekarang dia dah bisa gambar spongebop, helo kity kucing sama beruang. Kalo princess sih jangan tanya, mulai dari ujung rambut sampe sepatu dia gambar detil dihias pake hati segala. Kemaren dia sakit, ga masuk 3 hari, awalnya telinga kanan budek, wah aku kan agak2 khawatir. Diagnosa dokter otitis media pula, dikasih gliserol doang. Untung sembuh dan batuknya juga sekarang dah ilang. Kemaren pas buka bareng malem minggu waktu mas Tomy ngomongin media, dia ceria banget maen di kamar sama rayhan, safira dan fathya.

Oya kalo masalah tv, sebenernya anak2 dah pinter sih, mereka mau sendiri matiin tv, dan aik sebelum nyalain tv, selalu minta ijin dulu… ‘Bunda boleh ga aik nonton tv’, kalo bunda bilang enggak, pasti bete sih dia, tapi nurut juga tuh akhirnya, pinter kaan…
Oke deh diary, udah dulu ya buat hari ini. Aku mau sekolah dulu ma aik, habis itu mau jemput lala, n belanja deh, soalnya barang2 banyak yang habis. Oya besok musti ujian bhs belanda pula, wuaduh kudu belajar neeh… Eh barusan aik pinter banget, matiin tv sendiri, trus bilang mau sekolah bunda katanya, wah…wah pinter tenan ga sih…:-)