Kemarin, aku dapat email dari Hermin, isinya beberapa komentar dari milis HS Fahima Jepang, tentang menjadi pendidik anak yang baik, yang Islami. Di situ, ada seorang bapak yang sedikit protes, mempertanyakan teori menjadi pendidik anak dari nara sumber yang dianggap terlalu teoritis. Prakteknya gimana? Kenyataannya tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan anak yang sangat kritis. Diantaranya, anaknya pernah hampir memukul seorang bayi bule, yang dititipkan kerumahnya karena merasa bahwa bayi itu bukan muslim. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan hal itu, tapi katanya pernah anaknya ikut “Qunut Nazilah” yang salah satu acaranya adalah menyaksikan betapa muslim itu banyak yang disiksa dan disakiti di perang Irak dan Afghanistan oleh kaum non muslim.So… tidak mudah kan mengajarkan berIslam pada anak. Pertanyaan selanjutnya dari Hermin adalah, bagaimana menanamkan identitas muslim pada anak, bukan menempelkannya. Sebetulnya aku sama suamiku sudah punya konsep sendiri dalam hal ini, tapi belum terformulasi dan tertulis dengan baik. Karena pertanyaan-pertanyaan itulah akhirnya kami berdiskusi dan akhirnya kami merasa akan menjalankan konsep yang telah kami pilih ini dalam mendidik anak-anak kami.
Sebelum usaha lahir dalam mendidik anak, tentu saja ada usaha bathin yang menurut kami lebih kuat pengaruhnya. Doa yan tak pernah putus dari orangtua sejak sebelum hamil, ketika hamil dan selama menjadi orangtua adalah bekal yang berharga buat langkah anak selanjutnya. Doa, supaya anak menjadi anak yang iman dan sholeh. Sholeh saja tidak cukup, tapi menjadi iman ini yang lebih penting.
Dari pertanyaan tadi, hal yang penting buat kami malah sebaliknya, bukan menanamkan atau menempelkannya yang menjadi permasalahan, tapi apa yang mau ditanamkan sesungguhnya. Apakah menanamkan identitas muslim itu suatu hal yang harus menjadi prioritas di usia anak yang masih polos dan suci itu? Lebih penting mana dengan menanamkan perilaku atau akhlak muslim?
Mendidik anak dari kecil itu ibarat menanam padi di sawah. Bila semua yang kita tanam adalah bibit terbaik, pupuk terbaik, disiangi dan dirawat dengan baik, ketika padi telah siap di panen, cap padi terbaik, pandan wangi misalnya, akan otomatis layak diberikan. Begitu pula dengan seorang anak, jika orangtua menanamkan kebaikan, perilaku Islami, akhlak Islami, saat usia ‘panen’ nanti, dengan sendirinya dia akan menjadi seorang Islam yang baik. Boleh dibilang, cap atau identitas itu akan muncul dengan sendirinya nanti, ketika masa panen tiba.
Apakah menanamkan identitas muslim ini bukan suatu hal yang crusial bagi seorang anak? Barangkali memang perlu tapi bukan yang utama. Dunia anak adalah dunia yang indah, polos, suci, tak mengenal perbedaan antar suku, ras, maupun agama. Mereka bisa bermain dengan siapa saja dan dimana saja tanpa mengenal semua cap atau identitas itu. Kenapa tidak kita ajarkan pada mereka keuniversalan Islam saja terlebih dulu, keAkbaran Allah saja dulu, betapa maha Pengasih, penyayangnya Allah, betapa maha baiknya Allah, dan betapa Islam itu mengajarkan perilaku yang mulia, kenapa bukan itu yang menjadi prioritas orangtua. Mengapa kita harus menodai kesucian mereka dengan menanamkan cap, label Islam terlebih dulu sehingga mereka merasa lebih, merasa berbeda dari anak-anak yang lain.
Mungkin akan timbul pertanyaan dalam benak orangtua “Bagaimana mungkin kita tidak menanamkan identitas muslim, kebanggaan menjadi muslim sejak dini pada anak, bagaimana jadinya mereka nanti, kalau mereka pindah ke agama lain gimana? Apa tak berdosa orangtuanya?”
Kembali kepada hal mendasar tadi, jika orangtua mengutamakan mendidik akhlak Islam, tanpa lebih dulu mementingkan Identitas Islam, di usia ‘panen’ nanti anak pasti akan paham dan bisa memilih, agama apa yang paling baik baginya. Anak akan memilih dengan sadar, bukannya dogmatis belaka. Menjadi seorang muslim adalah sebuah proses yang panjang, bukan sim salabim dan tak pernah berhenti sampai seorang manusia mati.
Lalu bagaimana menghadapi stress dari luar, perayaan umat suci agama lain yang menghebohkan dan disukai anak-anak misalnya. Pengalaman anak kami bisa dijadikan contoh. Di sekolah mereka diajarkan lagu-lagu natal, mereka diberi hadiah oleh sinterklas dan zwartepit. Mereka senang, mereka gembira, karena begitulah dunia anak. Kami berusaha untuk tidak melarang mereka ketika mereka sedang bergembira. Reaksi negatif dikala mereka senang kadang akan menimbulkan efek buruk dikemudian hari. Kami berusaha untuk mengajarkan keAkbaran Allah pada mereka, melihat orang di luar agama Islam sebagai salah satu bukti betapa Akbarnya Allah. “Lala dan Malik beragama Islam, tempat ibadahnya di mesjid, ada hari raya lebaran dan lain-lain, begitu juga teman-teman mereka beragama lain,” dan sterusnya dengan berusaha untuk sama sekali tidak menyentuh perbedaan itu.
Keuniversalan Islam, indahnya Islam, rahmatan lilalaminnya Islam, akhlak mulianya Islam, itulah yang ingin kami tanamkan pada anak kami, sesuai dengan dunia mereka yang indah. Di usia ‘panen’nya nanti, kami berharap mereka akan menjadi orang Islam yang sesungguhnya, memilih dengan sadar kenapa menjadi orang Islam.
Date: Tue, 14 Dec 2004 09:07:57 -0800 (PST)
From: “Agnes Tri Harjaningrum”
Subject: Re: Tentang pendidikan anak
Wah seru juga ya diskusinya. Aku juga kemudian merenungkan kembali dan memformulasikan kembali sama suamiku, model seperti apa yang akan aku terapkan sama anak-anakku dalam berIslam.
Sebelum semua usaha lahir, yang teramat penting buatku tentu aja usaha batin. Doa yang tak pernah putus dari orangtua agar anaknya menjadi anak yang iman dan sholeh,(bukan hanya sholeh tapi juga iman). Inilah yang aku percaya akan selalu menjaga mereka ketika godaan itu datang nantinya.
Pertanyaan hermin yang di YM kemarin menarik buatku, “bagaimana menanamkan identitas muslim pada anak bukan hanya menempelkan identitas muslim”. Kalau buatku, yang menjadi permasalahan bukanlah di menanamkan atau menempelkan, tapi apa yang harus ditanamkan. Betulkah menanamkan identitas muslim itu menjadi suatu hal yang teramat penting, kenapa bukan perilaku (akhlak) Islam yang menjadi prioritas utama. Bukankah Rosulullah pun diutus untuk merubah akhlak umat?
Ibarat menanam padi, bila kita menanam bibit yang terbaik, merawatnay dengan baik, setelah panen, cap padi pandan wangi akan otomatis melekat pada padi itu mengingat kualitasnya yang memang baik. Begitu juga dengan seorang anak, ketika kita mengajarkan akhlak, perilaku Islam, setelah usia ‘panen’, pasti si anak otomatis akan menjadi orang Islam yang baik, bukan hanya Islam sebagai identitas belaka.
Kalo teknis mengajarkan akhlak Islam, aku juga ga tau banyak bagaimana dulu jaman rosul, yang jelas, yang aku tau, menurut para ahli jaman sekarang, memberikan sesuatu apapun pada anak, kalau mau nerap harus dengan menyenangkan, sistem limbik harus terbuka, supaya apa yang kita ajarkan langsung diterjemahkan oleh sel2 syaraf otak. Contohnya seperti yang aku cerita sama hermin tentang sholat itu, digedor-gedor tiap pagi suruh sholat subuh, yang timbul image negatif, setelah besar orangtuanya malah dibunuh dengan alasan karena sering digedor buat sholat waktu lagi enak-enak tidur.
Satu hal lagi mungkin, kita nggak bisa dogmatis kali ya,misal kenapa kamu harus jujur? Karena Allah sayang sama orang yang jujur, kalo nggak jujur masuk neraka, Allah nggak suka. Aku betul-betul berusaha menghindari image negatif tentang Allah sama anak, kalo bisa semua pake kalimat positif, susah memang, tp yang penting usaha kali ya :-). Lalu menerangkan jujurnya ga cuma sebatas karena ada Allah, tapi pake empati juga, kalo kamu jadi orang yang dibohongin gimana, kasih kasus, enak nggak dibohongin, enggak kan, orang lain juga begitu. Aku pernah kasih kasus seperti ini ke lala dan kayanya lebih nerap ke dia dibanding kita cuma kasih tau, bahwa Allah suka sama anak yang jujur. Ya kalo sekali2 anak melanggar, wajar aja kali ya, itu pasti bagian dari proses belajar dia juga.
Kalo masalah konsep beragama Islam, aku mungkin memang punya konsep yang sedikit beda. Soalnya, menurutku dunia anak itu indah, polos, suci, tak mengenal perbedaan ras, suku maupun agama. Kalaupun kita kasih tau bahwa kita berbeda, tetap untuk saling menghargai, bahwa perbedaan itu rahmat, indah. Kita Orangtuanya inilah yang seringkali kemudian menodai dan tidak menghargai dunia mereka. Ketika dari kecil menanamkan cap/identitas menjadi prioritas,ditambah dengan membanding-bandingkan dengan agama lain,memberikan hal-hal yang negatif terhadap agama lain, mengenalkan perbedaan secara nyata, ketika itu pulalah kemudian akan timbul banyak masalah, banyak friksi pada diri si anak. Mengapa tidak kita ajarkan Islam sesuai dengan dunia mereka, kenapa tidak kita tonjolkan keuniversalan Islam, betapa sayangnya Allah sama mereka, perilaku Islam, maha baiknya Allah, dan rahmatan-lilalaminnya Islam saja terlebih dulu.
Jadi, saat ini, aku sama sekali belum pernah mengajarkan pada anak-anakku bahwa Islam adalah agama yang paling benar, bahwa diluar Islam masuk neraka, atau kafir. Aku juga sangat hati-hati mengajarkan surga dan neraka pada mereka, aku nggak mau mereka berbuat sesuatu karena imbalan pahala, tapi aku ingin mereka berbuat karena cinta pada Tuhannya. Aku hanya ingin mengajarkan segala yang indah tentang Allah dan Islam buat mereka, sesuai dengan dunia mereka.
Ya, karena aku sendiri percaya, manusia tidak berhak menilai,hanya Allah yang menilai. Islam adalah agama yang paling sempurna, agamanya, bukan manusianya. Apakah kemudian manusia yang akhlaknya jauh dari Islam, tapi beragama Islam kemudian bisa masuk surga? Apakah juga orang beragama nasrani, tapi berakhlak mulia akan masuk neraka? Wallahu alam, aku, manusia, sama sekali tidak berhak untuk menilai.Lagipula, Seperti Ali dalam doanya, apalah artinya surga dan neraka bagi seorang yang sudah mencintai Allah sedemikian dalam. Kecintaan pada Allah, berperilaku sesuai maunya Allah,itulah yang ingin aku prioritaskan sekarang pada anakku.
Karena itu, ketika melihat sebuah perbedaan, aku sangat berusaha untuk tidak pernah menilai dari sudut pandang manapun, tapi memandang dari kacamata paling tinggi, kacamata keAkbaran Allah. Kongkretnya, waktu musim natal seperti sekarang, anak-anakku di sekolah diajarkan lagu2 natal, dikasih hadiah sama sinterklas. Mereka senang karena itulah dunia mereka, apa salahnya nyanyi, apa salahnya dapat hadiah. Aku nggak mau panik, aku nggak pernah larang, toh aku sendiri juga dulu sering ke gereja waktu SD, tapi aku tidak terpengaruh sekarang. Selama itu masih dalam koridor, kenapa harus panik, aku percaya Allah akan jaga anak-anakku.
Aku bilang sama anak-anakku, agama kamu Islam, ga makan babi,tempat ibadah kamu di mesjid, kamu sholat, kamu harus jujur dan hal2 lainnya. Aku juga bilang, bahwa teman2 kamu agamanya kristen, tempat ibadahnya di gereja, ada natalan, dan lain2. Itulah keAkbaran Allah, dunia diciptakan sama Allah penuh warna, seperti pelangi, indah bukan?.
Aku bilang bahwa mereka Islam, muslim, harus begini begitu supaya disayang Allah dan seluruh manusia,tapi aku berusaha untuk tidak menilai agama orang lain, tidak memberikan dogma pada anakku bahwa Islam adalah agama yang paling benar, sehingga menimbulkan perasaan negatif buat anakku, entah jadi sombong atau benci sama agama lain. Ada saatnya nanti, ketika masa panen itu datang,ketika mereka sudah cukup bijak, mereka akan mengetahui dan memilih mana yang terbaik, bukan hanya ikut2an. Memilih dengan sadar, kenapa Islam yang terbaik, kenapa Islam is the best. Bukan sekedar karena di Qur’an Islam lah agama terbaik, tapi karena mereka sendiri sudah merasakan betapa nikmatnya menjadi orang Islam, betapa nikmatnya menjadi pencinta Tuhan, bukan hanya sekedar dogmatis belaka. Sehingga ketika badai datang, mereka bisa lebih kuat, begitu barangkali.
Sekarang aku hanya bisa berusaha dan berusaha supaya mereka cinta sama Allah, punya perilaku, akhlak yang Islami, memberitahu bahwa mereka muslim, dengan segala syariatnya, tapi tidak ingin menilai atau memberikan gambaran negatif tentang agama lain.Pasti mereka juga akan mengajukan pertanyaan2 sulit nanti, tapi itulah tantangan jadi orangtua. Yang jelas, aku betul2 tidak ingin dzolim, menodai dunia mereka, sehingga, aku berusaha memberikannya bertahap, dicicil sesuai dengan tahap perkembangan jiwanya, karena aku sadar, buat orang dewasa aja nggak mudah untuk berIslam, apalagi bagi seorang anak…
Wuah jadi panjang banget, sori kalo jadi kemana-mana, sekalian buat ngisi bloger nih hehe. Tapi thanks buat kiriman emailnya, membuatku merenung dan memutuskan langkah terbaik yang akan aku ambil buat anak-anakku…
Wassalam hangat,
Agnes