Archives for February, 2005

Cinta Seperti Salju

Filed under Cinta dan Puisi

Dik Agnes,
Bagai salju di musim semi,
diselimuti hangat sinar mentari pagi,
meleleh, menetes, membasahi,
tunas cinta di hati.

Seperti pertama kali menatapmu,
tujuh tahun yang lalu,
wajah cantik di balik kerudung,
hanya kagum yang kumampu.

I love you….

by: Ismail Fahmi
Ps: Salju memang sumber inspirasi. Puisi ketika salju turun tebal lagi.


Salju, Inspirasi Sebuah Keromantisan

Filed under Cinta dan Puisi, ,

ILU-salju.jpg

Salju memang cantik. Apalagi salju yang tebal. Ketika mata memandang, gumpalannya yang menutupi seluruh jalan dan atap-atap rumah, membuat bibir ini mau tak mau harus bergumam “Subhanallah, indah sekali” Seperti hamparan permadani putih yang menawan. Ya, dia memang cantik ketika tebal. Tapi saat sudah mencair, hiii… jadi jijay bajay deh. Sekalipun begitu, bagiku dia tetap saja menawan. Karena ternyata, dia juga menjadi inspirasi bagi sebuah keromantisan. Keromantisan yang membuat cintaku bersemi lagi dan lagi…

Selengkapnya…


Ginggivitis

Filed under Diary Kesehatan

Tadi pagi aku ke dokter gigi diantar ayah dan Aik. Bahasa Belandanya dokter gigi itu Tandart. Wow, aku terkagum-kagum deh waktu masuk ke tempat prakteknya, kayak si kabayan masuk kota aje hehe. Di ruang tunggu nya seperti biasa, pasti ada tempat mainan untuk anak-anak. Ada kursi berbentuk gigi, mainan lego dan mobil-mobilan. Hmm langsung deh Aik antusias bermain lego.

Waktu aku dipanggil masuk ke ruang tindakan, aku langsung disuruh duduk di kursi pemeriksaan. Lalu si dokter gigi menyapa aku dengan ramah “Where are you come from? Do you like live in Groningen?” dan lain-lain deh. Aku ceritakan tentang gusiku yang selalu berdarah setiap habis gosok gigi. Keluhan ini sudah lama sekali, hampir setahun barangkali. Dokter gigi itu langsung memeriksa gigiku. Hebatnya, setelah itu gigiku juga langsung di Rontgen. Di Indonesia ada nggak ya, acara baru datang langsung di rontgen macam begini. Kalaupun ada pasti buat kasus-kasus susah aja kali ya. Aku pernah ke dokter gigi di Indo dengan keluhan yang sama, beberapa kali, dan ganti-ganti dokter gigi pula. Tapi tak ada satu pun yang menyuruhku untuk rontgen. Cara rontgennya juga lucu. ( aku yang norak n kurang elmu apa memang disini yang canggih ya hehe) Pokoknya aku disuruh buka mulut, lantas ada selembar kertas film (seukuran negatif film di tukang-tukang foto itu lho )yang dilapisi plastik dimasukan ke mulutku. Waktu aku disuruh tutup mulut, langsung deh gigiku dijepret. Gigiku di rontgen 2 kali, kiri dan kanan. Hasilnya langsung muncul saat itu juga.

Setelah itu, si dokter menghampiriku sambil membawa kertas bergambar gigi. Wah hebat, dia langsung menerangkan mengenai kondisi gigiku. Hmm, asyik sekali kan, aku jadi betul-betul tahu keadaan gigiku. Penjelasannya pun sangat jelas. Menurut dokter itu, gusi yang normal warnanya adalah pink. Tapi ketika gusi mengalami peradangan, gusi akan berwarna merah dan bengkak. Ini terjadi akibat sisa-sisa makanan yang menempel di sela-sela gusi dan gigi (karang gigi barangkali). Kalau dibiarkan berlarut-larut, lama-lama peradangan itu akan menjalar ke tulang gigi. Tulang gigiku bisa rusak, habis dan akhirnya gigiku pun tanggal. Menurut si dokter, hasil rontgen gigiku bagus, tidak ada caries maupun yang lain. Aku hanya mengalami ginggivitis alias radang gusi. Gigiku hanya perlu dibersihkan saja dari sisa-sisa makanan yang menempel. Setelah itu aku akan diajari bagaimana menyikat gusi. Aku harus membuat janji lagi untuk membersihkan karang gigi ini. Katanya pembersihan seluruh karang gigi ini memakan waktu 40 menit.

Akhirnya semua selesai dan tanggal 8 Maret jam 11.10 siang, aku disuruh kembali lagi untuk acara pembersihan karang gigi itu. Hii pasti ngilu deh…


Entah, berapa banyak sudah air mata yang tumpah akibat badai. Tak tahu, nyeri seperti apa yang pernah berkunjung, menggunung, menyayat relung dada ini. Enggan ku menghitung telah berapa malam istanaku porak poranda lantaran badai. Sungguh, tak mau rasanya dia mendatangiku lagi. Sakit Tuhan, pedih,ngilu… hancur, remuk dan entah apalagi kata-kata yang pantas untuk mengungkapkan semua itu. Saking tak enaknya. Saking aku tak berdaya.

Mengapa harus kualami semua ini Tuhan? Kenapa? Berlumuran dosakah aku? Tak pantaskah aku hidup dalam ketenangan yang abadi, tanpa gelombang , tiada pasang. Tidak layakkah aku mendapatkannya Tuhan? Ataukah ini yang namanya ujian? Beragam pertanyaan seperti ini kerap berkeliaran dalam benakku. Namun aku ingat betul petuah dari pak Kyai Simin “wis…wis..jangan pernah pertanyakan masalah itu nduk. Terima saja, ikhlaskan saja apa kehendak Allah buat diri kita, hati-hati, pertanyaan-pertanyaan semacam itu malah bisa membuat musyrik kalau diikuti.”

Hmm… barangkali memang pak Kyai betul. Tapi betapa banyak manusia yang hidupnya berlenggang kangkung, aman-nyaman sejahtera tanpa riak-riak besar. Hanya suka yang menyapa, hanya tawa yang menemani hari-harinya. Kalaupun luka datang menghampiri mereka, cuma secuil saja. Tak pernah menggores, tidak pernah menganga, tak juga pilu terasa menusuk hatinya. Lantas, mengapa tak Kau buat aku seperti mereka? Kenapa Tuhan? Mengapa? Atau apakah aku telah salah bertanya? Ya, mungkin memang aku yang telah salah menduga. Betulkah aku hanya berburuk sangka?

Hatiku dilliputi bimbang. Jangan-jangan… Tuhan menciptakan manusia seperti mereka, karena ingin memberikan pelajaran bagi manusia lainnya. Jangan-jangan suka dan duka memang sudah sepantasnya mewarnai kehidupan manusia. Jangan-jangan… Tuhan sebetulnya sedang memberiku anugrah. Jangan-jangan… Allah hanya sedang berkata “Aku sedang memberimu hadiah sayang, enjoy it…syukuri, ikhlaskan semua badai!. Kau telah kupilih, Kau lah yang ingin kuberi kehormatan! Jika kau bisa melewatinya dan mengambil ribuan makna darinya, Jiwamu akan melompat tinggi. Tinggi sekali. Dia akan membuatmu menjadi orang yang kuat. Dia akan memberimu kearifan, kedamaian, serta cinta yang lebih dan lebiih… banyak lagi. Hadiah yang tak pernah dirasakan oleh manusia yang tak pernah mengalaminya. Pelajaran berharga yang tak kan pernah kau dapatkan dari sekolah ternama manapun di bumi ini. Kado terindah untuk mengarungi bahtera kehidupan.”

Aku hanya termangu, tak percaya mendengarnya. Betulkah begitu? Namun Dia seperti berkata lagi ” Bukankah itu sebuah kehormatan, sayang? Apa namanya kalau bukan permata? Dan kau tahu? kau telah Kupilih. Percayalah, badai adalah anugrah yang luar biasa, bersyukurlah. Karena sesungguhnya, Aku hanya akan memberikannya kepada manusia-manusia pilihan. Manusia pilihan yang sanggup melewati badai. Manusia yang bisa menikmatinya, mensyukurinya, mengikhlaskannya, dan berjuang sekuat tenaga untuk keluar dari semua badai. Manusia semacam itu tak banyak jumlahnya. Tapi mereka percaya, dan tahu sekali, bahwa badai adalah serangkaian kehormatan. Setelah badai datang berkunjung, hadiah besar telah menanti dihadapannya, kenikmatan menunggu di pelupuk matanya. Aku tahu, kamu termasuk didalamnya. Bangunlah! Bangkitlah! Hadiah itu telah menanti di ujung sana. ”

Aku terkesiap. Betulkah Tuhan? Mengapa begitu sulit? Kenapa harus jatuh bangun, terseok-seok dan tertatih-tatih?. Gelombang itu kadang tak bosan menghampiriku lagi, menghempas… terus dan terus. Aku semakin tak berdaya. Aku menjadi lebur, kosong, dan hampir tiada. Hanya sebuah doa yang sanggup keluar, entah darimana “Lahaula walaquwata Illabillah…” Lagi…dan lagi… cuma itu yang mampu terucap Tuhan. Aku percaya… hadiah itu memang ada. Sedikit demi sedikit aku mulai merasakannya. Perlahan-lahan nikmat itu mulai ada. Aku mensyukuri semuanya. Segala puji hanya untukMu karena, telah Kau berikan padaku kehormatan ini. Hanya satu yang kupinta, selalu dan selalu, beri aku kekuatan…kekuatan dan kekuatan…Karena kini aku semakin tersadar… aku bukan siapa-siapa dan tak bisa apa-apa… Hanya Engkaulah yang Maha Besar, Hanya Engkaulah pemilik segala rasa, jiwa, benak, raga dan semuanya… Aku tak mampu, tiada tenaga, daya, dan tak mungkin bisa, jika Kau tak memberikannya…


Aku dan Kenangan Pekerjaanku

Filed under Tentang Aku dan ...

KETIKA AKU HARUS MEMILIH, MENGKHITAN PERTAMA KALI
(Diterbitkan dalam buku nya MCM)

Kala itu, aku sedang termangu, menatap dinding-dinding putih yang bisu. Buku yang sejak lama kubaca, tak satu pun mau menempel di kepalaku. Pasien sedang sepi. Tanggal tua barangkali. Hmm… beginilah nasib dokter baru, yang bekerja di klinik tak menentu. Kadang duduk berjam-jam hanya ditemani lalat. Tak jarang pula peluh membanjir saking ramainya kunjungan pasien. Mendadak, kesunyian itu lenyap. Serombongan keluarga tergopoh-gopoh menghampiri ruangan berdinding putih itu, ruang praktek kerjaku.

“Dok, tolong dok, ini anak nangis terus dari tadi. Sakit dok, tolong… kasihan anak ini dok…” ujar perempuan muda didepanku. Matanya menatap pilu bocah yang digendong oleh lelaki disebelahnya. Logat Jawanya begitu kental, pendatang tampaknya. Air mata mengambang di pelupuk mata perempuan itu. Seperti menahan sakit, yang menjalar juga ke relung dadanya. Pasti ibunya, pikirku. “Iya dok, itu kasihan tuh anaknya dok…” ujar salah seorang keluarga pengantar.

“Anaknya kenapa bu, sini-sini tidurin disini bu?” sahutku tenang, sambil meminta perempuan itu membawa anaknya ke ranjang pemeriksaan. Satu tahun bekerja di klinik setiap pagi dan sore cukup membuatku mampu menghadapi situasi semacam ini.

“Ealah dok..dok… yang namanya lagi sial ya begini ini dok. Tadi itu habis pipis sendiri, lagi pake celana, koq tititnya malah kejepit resleting dok… gimana ini dok… Mbok ya tolong dilepas dok, kasian nangis terus kayak gini ini dok…”

“Wah iya pasti khawatir ya bu kalau anaknya nangis terus kayak gini. Coba…sini…sini… dilihat dulu sayang yuk…” Aku menghampiri bocah lelaki itu. Tangisnya semakin keras. Tangis karena takut dan nyeri.

“Takut ya sayang ya, sakit juga ya… dilihat sebentar tititnya ya, nggak diapa-apain koq cuma dilihat…” aku tersenyum sambil berusaha menatap mata bening bocah berusia 5 tahun itu.

Airmatanya tak juga berhenti menetes, namun tidak sederas sebelumnya. Aku melihat keadaan penis anak itu, belum disunat rupanya. Potongan resleting celana tampak menjepit bagian ujung penisnya. Jepitannya begitu kuat. Tak bisa tidak, sebagian kulit penisnya harus digunting untuk melepaskannya. Menggunting kulit berarti harus melakukan anastesi. Kenapa tak disunat saja sekalian. Toh tindakan dan resikonya sama saja dengan disunat. Kesimpulan itulah yang akhirnya muncul di kepalaku.

Deg. Jantungku mulai berdegup lebih kencang. Sunat? Sanggupkah aku melakukannya seorang diri ? Atau haruskah aku merujuknya? Aku memang sudah beberapa kali mengkhitan anak-anak. Tapi aku selalu dibantu oleh dokter seniorku. Aku belum pernah melakukannya seorang diri, tanpa asisten pula. Di klinik ini hanya ada Yono, yang membantu bagian pendaftaran dan masalah obat-obatan. Hmm, kebimbangan menyergapku.

Kalau aku gagal bagaimana? Apa kata dunia? Jangan-jangan malah dituntut. Sekarang kan sedang jaman tuntut-menuntut. Belum lagi ingatan tentang kisah-kisah seniorku yang bernasib sial. Kisah senior yang diburu keluarga pasien lantaran pasiennya meninggal tak lama setelah disuntik. Cerita tentang kakak kelasku yang pasiennya mendadak tak sadar sehabis disuntik. Beragam kisah-kisah sial lainnya mendadak bermunculan di benakku. Dadaku menjadi sesak rasanya. Ah, tapi mereka kan hanya sedang sial. Kalau semua sesuai prosedur, apa yang mau dituntut? . Toh, aku sudah pernah melakukannya. Ya, tapi masalahnya, dulu selalu ada dokter senior yang membantuku dan sekaligus bertanggungjawab bila terjadi sesuatu. Sekarang, aku harus bertindak sendiri, aku pula yang harus menanggung resiko kalau terjadi apa-apa. Wuaduh…bingung…bingung… bagaimana ya?

Tapi, bukankah aku harus segera mengambil keputusan?. Oke… aku harus mempertimbangkannya masak-masak dalam hitungan detik. Kalau aku merujuk bocah ini ketempat lain, aku membuang kesempatan berharga untuk belajar mandiri. Belum tentu aku mendapatkan peluang seperti ini dilain waktu. Apakah aku hendak selalu bergantung pada dokter lain? Alasan selanjutnya, kasihan keluarga ini kalau pulang dengan tangan hampa. Malah mereka harus repot membayar uang konsultasi di tempatku dan membayar lagi di tempat rujukan nanti. Belum lagi masalah waktu, bocah itu sudah menangis sedari tadi. Ah, sebetulnya masalahnya kan cuma satu, aku belum percaya diri untuk melakukannya seorang diri, itu saja. Mmm… bagaimana ya? “Ayo Nes… kamu pasti bisa…there is always the first time Nes…Bismillah aja deh” hatiku berbisik untuk meyakinkan diriku sendiri.

“Ibu, jepiitan resletingnya kuat sekali bu, jadi tititnya harus digunting. Harus dibius dulu daerah sekitar tititnya sebelum digunting. Ibu muslim kan?” Kata-kata itulah yang akhirnya terucap dari mulutku.

“Iya dok, muslim”

“Menurut saya, karena tindakan dan resikonya sama aja dengan disunat, lebih baik sekalian disunat saja bu anaknya. Sekalian sakit bu, daripada nanti anaknya harus ngalami kayak gini lagi. Gimana menurut ibu?”

“Hah disunat dok? Lho, dokter perempuan memangnya bisa nyunat? Lagipula saya belum ada persiapan dok kalau disunat. Orang Jawa kalau sunat kan harus pake acara rame-rame dok.”

“He he, perempuan atau laki-laki kan sama-sama belajarnya waktu kuliah dulu bu” aku geli melihat si ibu yang keheranan dan menjadi sedikit ragu.

“Tapi keputusan tetap ibu yang ambil ya bu, saya kan hanya memberi saran”

“Kalau gitu saya telpon suami saya dulu ya bu dokter”

“Lho itu tadi bukan suaminya ya?”

“Bukan bu dokter, itu adek saya. Suami saya lagi kerja.”

Aku menunggu perempuan itu mengambil keputusan. Hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil. “Ya Allah, ini bukan kondisi darurat, anak itu pun baik-baik saja. Aku hanya harus mengkhitan seorang diri pertama kali. Kenapa aku deg-deg an ya Allah. Aku tak tahu, kenapa Kau hadirkan bocah ini kehadapanku. Kalau ini memang jalan dariMu agar aku belajar, mudahkanlah semuanya ya Allah, berilah aku ketenangan.” doa itulah yang akhirnya menenangkan gelisahku.

“Bu dokter, sunat aja deh bu. Kata suami saya acara rame-rame ya dibuat aja besok-besok, kasian anaknya bu. Tapi anak saya nggak apa-apa kan bu kalau disunat?”

“Iya bu, Insya Allah nggak apa-apa. Sunat itu cuma tindakan kecil koq bu, setengah jam juga beres. Tolong aja anaknya dipegang sama om nya nanti ya bu.”

Dengan tak henti-hentinya berdoa memohon ketenangan dan kelancaran, aku memulai proses mengkhitan pertama kali ini. Tanpa ada asisten ataupun penanggung jawab bila terjadi sesuatu.

Tanganku sedikit gemetar ketika jarum suntik berisi Lidocain menembus kulit diatas tulang kemaluan anak itu. Tentu saja dia menangis keras ketika jarum suntik menembus kulitnya. Untung lah anak itu termasuk ‘anak mudah’ tidak mengamuk dan menendang-nendangkan kakinya. Semua itu betul-betul memudahkanku. Lantas, aku melanjutkan proses anastesi di sekitar penisnya. Ah, berhasil juga rupanya. Tak berapa lama, tangisan anak itu berubah, bukan lagi tangis kesakitan. Hanya rengekan kelelahan dan takut.

Perlahan tapi pasti, ketenangan mulai merasuki jiwaku. Pelan-pelan kubersihkan smegma (sekret dari kelenjar sebasea, berwarna putih seperti keju) yang menempel di sekeliling pangkal penis. Dua buah klem aku jepitkan di ujung kemaluan anak lelaki itu. Akhirnya, Bismillah… aku memotong ujung kulit penis anak itu. Aku semakin merasa ringan. Pekerjaanku hampir usai, tinggal mengatasi perdarahan dan menjahit kulit saja.

“Alhamdulillah… sudah selesai. Tiga hari lagi kontrol ya bu…” Hmh… terucap juga kalimat itu akhirnya dari bibirku. Puas rasanya, lega, dan bersyukur tentu saja. Semua berjalan lancar. Dan yang teramat penting bagiku, aku telah memilih, aku juga telah berhasil mengalahkan segala rasa khawatir yang berkeliaran dalam hatiku. Hidup memang terdiri dari serangkaian pilihan. Kemampuan untuk memilih secara sadar dan bertanggungjawab adalah sebuah keahlian yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Andai saja aku memilih cara termudah- merujuk anak ini tadi, tentu aku akan kehilangan pengalaman berharga yang telah dihadirkan Allah kepadaku. Sejak saat ini, aku semakin percaya diri untuk mengkhitan. Dan tentu saja, kesadaran itu semakin merasuki relung jiwaku, kesadaran bahwa, hidup adalah sebuah pilihan!


Kesehatan

Filed under Lain-lain

American Academy of Family Physicians
http://www.aafp.org/


Kids Health
http://kidshealth.org/


All About Moms
http://www.allaboutmoms.com/


http://familydoctor.org

American Academy of Pediatric
http://www.aap.org/


http://www.idai.or.id/web/default.asp


Luka Membawa Permata

Filed under Diary Spiritual

“Setangguh apapun seseorang membentengi dirinya dengan waspada dan kehati-hatian, sesekali luka pasti datang berkunjung, entah fisik maupun psikis. Tapi sesungguhnya, luka membawa permata, bila manusia bisa menemukannya.” begitu tutur Gede Prama dalam sebuah bukunya.

Bukan hidup namanya kalau tak berpelangi. Selagi senyum tersungging di pintu dapur, sang tangis telah menanti di kamar tidur. Saat duka kian melanda di ruang tamu, bahagia telah menunggu di ujung ruang lainnya.

Hidupku pun dipenuhi pelangi. Bahagia selalu ada, duka pun tak bisa kutolak. Sekuat apapun aku berusaha menghindar, luka tetap datang menghampiriku. Bisakah aku menemukan permata? Luka selalu membawa tangis dan air mata, yang tak kunjung sirna. Luka begitu pedih, perih, nyeri, dan sakit sekali. Namun semua luka adalah pupuk bagi jiwa. Pupuk tak pernah indah, kotoran pembuatnya. Semakin sering diberi pupuk, kian suburlah pohon jiwa.

Pupuk membuat pohon berbuah manis, begitu pula adanya permata. Permata bukanlah barang yang bisa dibeli dengan tangan hampa. Ada harga yang harus dibayar dari sebuah permata. Luka-lah bayarannya.

Terima semua luka, syukuri keberadaannya, ikhlaskan dia, karena dengannya bathin ini menjadi kaya, permata menghampirinya.

“Aku terima semua luka ini ya Allah, sebagai pupuk bagi jiwa. Kuatkan aku menerimanya. Semoga, kugenggam juga sang permata, suatu hari nanti…”


Doa Malik dan Lala buat Bunda

Filed under Diary Spiritual

Waktu aku sedang ‘dying’ kemarin, aku iseng-iseng ‘curhat’ sama Lala “La, bunda nggak bisa napas, hidung bunda mampet, bunda napasnya jadi lewat mulut, nggak enak banget rasanya La…gimana ya La ?” Eh, tak tahunya dia menjawab “berdoa bun, biar sembuh”. He he pinter tuh anak. “Wah iya ya, kalo gitu Lala doain bunda dong nanti ya…” pintaku. Lala cuma mengangguk.

Malam sebelum tidur tadi, aku mengeluhkan hal yang sama padanya. Hidungku mampet lagi. Aku ingat tentang percakapan tentang berdoa ini, lalu aku mengingatkan Lala “La, katanya mau doain bunda, gimana berdoanya?”“Morgen (besok) bun ”

“Oke deh kalo gitu”

Tapi ternyata dia langsung mengangkat tangannya dan berdoa “Ya Allah, sembuhkanlah bundaku, supaya besok bisa jalan-jalan lagi, amin”

“Wah, bagus sekali doanya, makasih ya sayang… Aik juga berdoa dong buat bunda…” Iseng-iseng aku ‘memaksa’ Aik yang berbaring disebelahku untuk mendoakan aku hehe. Rupanya, manjur! Tanpa acara mengangkat tangan kayak Lala, Aik berdoa,

“Ya Allah, biarkanlah bunda sembuh, biar…biar…biar…mmm…biar bunda bisa cerita lagi, amin”

Hi hi hi anak-anakku, lucu-lucu dan pada pinter berdoa deh sekarang, walaupun doanya karena dipaksa bunda hehe. Makasih ya sayang…


Menstruasi Lama

Filed under Tanya Jawab Kesehatan

Pertanyaan :
Dear mommies, apalagi mom dokters..

Kira-kira apa [aja] sih yang bisa bikin menstruasi jadi lama? Saya mens sudah 3 minggu lebih belum beres juga. Nggak banyak sih memang, sedikit sedikit. Tapi lama.

Mom D di Amrik

Dear mommies…

Wah kalo bicara masalah menstruasi dan permasalahannya secara medis agak2 njelimet sebetulnya, banyak banget istilah dan tetek bengeknya :-). Sebelum jawab pertanyaan faktor2 apa aja yang bisa menyebabkan menstruasi jadi lama, sebetulnya harus disepakati dulu, mana menstruasi yang normal dan selama apa yang dianggap tak normal.

Lalu sebetulnya harus jelas juga termasuk kelompok menstruasi abnormal yang mana, supaya nantinya gampang menentukan faktor penyebab. Soalnya menstruasi abnormal ada macem2 istilah, ada menorrhagia, DUB, menometrorhagi, amenorhea dll.

Ada literatur yang bilang mens lebih dari 7 hari dianggap abnormal, ada juga yang bilang lebih dr 2 minggu atau 3 minggu. Kalau aku sih lebih sepakat
lebih dari 2 minggu baru disebut abnormal. Tapi itupun kalau berlangsung selama beberapa waktu, darah mensnya banyak, atau dulunya pernah ada riwayat mens nggak teratur.

Lamanya menstruasi memanjang bisa dimasukkan ke menorrhagia atau DUB (Disfungsi Uterine Bleeding). Tapi sebetulnya, syarat Menorrhagia dan DUB pun
macam2, harus jelas juga jumlah darahnya segimana, siklus mensnya seperti apa, riwayat mensnya dulu gimana dll.

Menorrhagia berarti jumlah darah menstruasi bertambah dan lamanya menstruasi jadi memanjang. Kalau DUB ( ini juga hampir sama ditambah kelainan frequensi mens). Bedanya kalo DUB ini biasanya berhub dengan
anovulatory bleeding (menstruasi tanpa adanya sel telur), dan bukan akibat dari penyakit penyerta yang lain.

Menorrhagia penyebabnya bisa banyak, mulai dari pemasangan IUD, minum obat antikoagulan atau obat anti radang non steroid (Ibuprofen ato aspirin contohnya), bisa juga krn infeksi, kista ovarium, polip endometrium, gangguan hormon, kegemukan, dll.

Wah banyak banget deh n pusing :-). Mungkin yang paling gampang Mom D, liat dari obat2an yang diminum ada ga?. Lalu diliat aja bulan depan kali ya,
kalo udah normal, barangkali memang karena kecape’an aja. Kalo masih memanjang juga lebih baik bawa ke SpOG, pasti pemeriksaannya lebih lengkap n lebih jelas :-).

Gitu aja ya, semoga membantu, maaf lho kalo malah bikin pusing hehe.

Wassalam hangat,

Agnes


Ketularan Ayah

Filed under Diary Kesehatan

Akhirnya, aku ketularan ayah juga. Wah parah deh kalau aku sedang sakit seperti ini. Anak-anak terlantar, rumah berantakan, makanan juga yang siap saji aja. Sudah 3 hari ini nih aku menggigil terus, badan linu-linu, kedua lubang hidung betul-betul mampet . Aku hanya bisa bernapas lewat mulut. Jadi nya ya dying banget. Kalau di Indo sedang kayak begini, bisa tinggal beli sayur depan rumah, apa beli lauk. Kalau disini…? Wuah bingung. Ayah mau coba cari sih di toko Semarang, tapi khawatir juga ada campuran yang aneh-aneh. Kalau pun beli ya yang betul-betul sayur aja. Tadi aku pergi ke dokter. Dia hampir kasih obat yang sama dengan punya ayah, untung aku bilang. “It does’nt work dok, I’ve try for 2 days”. Akhirnya dia memberiku resep xylometazoline HCL 0,1 %, obat yang diteteskan ke hidung. Dosisnya 2 sampai 3 tetes selama 4- 6 kali pemberian dalam 24 jam. Obat ini termasuk dalam golongan Adrenalin (Adrenaline-achtige middelen) atau sejenis sympathicomimetica. Gunanya barangkali untuk mengkontriksikan mukosa yang edema kali ya.

Waktu aku tanya, “can I use antihistamin or decongestant via oral?”. Aku punya rhinitis alergi sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Si dokter bilang, kalau anti histamin diminumnya kalau mulai musim semi, saat bunga-bunga mulai tumbuh. Decongestan lebih baik yang lokal, efek sampingnya lebih sedikit. Tapi aku alerginya debu, tungau sama kecoa koq dok. Eh dia tak tau apa itu kecoa ternyata.”Cocroach dok, an insect” jawabku. Keukeuh da nggak tau ceunah. Taunya mite alias tungau aja si dokter teh hehe. Aduh mudah-mudahan aku cepet sembuh deh ya. Kasian anak-anakku terlantar dan suamiku repot harus mengurus semuanya. Oya tadi Aik jadi bolos sekolah gara-gara aku tak mungkin bisa menjemputnya. Hmh pokoknya kalau bunda sakit, repot pot deh…


Aku sedang sakit. Kedua hidungku tersumbat, tak bisa bernapas sama sekali. Aku mengidap rhinitis alergi sejak 10 tahun yang lalu. Setiap hari dalam kondisi sehat pun aku tidak pernah bernapas dengan normal, selalu mampet. Apalagi dalam kondisi terserang flu begini. Aku hanya bisa bernapas lewat mulut, tersiksa sekali rasanya ya Allah. Obat yang kupakai pun sudah tak mempan lagi. Baru diberi sakit seperti ini saja rasanya sudah tak karuan, bagaimana dengan orang yang diberi sakit luar biasa.
Tubuhku lemas sekali, aku menggigil kedinginan. Ketika itu Aik minta dibacakan buku. Aku tak bisa bicara, suaraku bindeng setengah mati. Dia nangis karena suaraku tak jelas. Aku berusaha untuk menenangkannya, dan tetap membalik-balik buku. Dia semakin mengamuk. Aku tak sanggup. Aik nangis sejadi-jadinya. Aku tak bisa menenangkannya, untuk bangkit pun rasanya tak bisa, apalagi aku tak bisa bernapas. Bernapas lewat mulut sungguh tak nyaman.

Aik menangis semakin keras. Ya Allah, kuatkan aku tolong aku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa diam melihatnya menangis sejadi-jadinya. Ya Allah, tubuh dan rasa ini milikMu ya Allah, beri aku kekuatan, bicara pun aku tak sanggup. Aku hanya bisa membelai-belai rambutnya. AKu coba telpon ayah, tapi hp ayah ketinggalan. Hiks…sedih rasanya, dalam kondisi seperti ini tak ada siapapun yang bisa aku mintai tolong. Ya Allah beri aku kekuatan… La haula walaquwata illabillah.

Aik tak berhenti juga menangis. Aku pun ikut menangis. Kami berpelukan sambil sama-sama menangis. Hiks…maafin bunda Ik…bunda lagi sakit…hiks… Aku dan Aik sama-sama menangis keras. Ya Allah beri aku kekuatan ya Allah… hanya itu yang bisa terucap dari hatiku.

Dalam kondisi seperti inilah aku benar-benar tersadar. Aku manusia yang tak kuasa apa-apa, tak punya apa-apa. Diriku hanya wadah, tempat dititipkannya segala rasa, penyakit dan semua hal yang ada ditubuhku ini. Ya Allah, aku betul-betul bukan apa-apa dan tak bisa apa-apa. Aku hanya mohon Kau beri keukuatan ya Allah…

Akhirnya… tangisku berhenti, Aik juga. Lama-lama dia tertidur… Alhamdulillah… Hanya Engkaulah sumber dari segala sumber kekuatan ya Robb…


Dokter Lusy

Filed under Sharing Teman

Pukul 3 sore tadi, aku ada janji bertemu dengan dokter Lusy di VnD Grote Markt. Dokter ini berasal dari Indonesia. Ceritanya, Prof John dan istrinya- Ellen- (Prof nya ayah dan istrinya yang sangat baik hati itu), berusaha membantuku supaya aku tak jenuh berada disini. Jadi selain aku diajak ikut serta dalam connect club, mereka juga ternyata berusaha mempertemukan aku dengan dokter-dokter disini. Sebelumnya, John memperkenalkan aku dengan seorang Prof yang bekerja di bagian Pediatric di Rumah sakit. John bilang, “cobalah minta advice sama beliau, apa aja yang bisa kau lakukan disini sehubungan dengan profesimu”. Aku segera menulis email kepadanya. Tapi ya tak dijawab. Menurut John sih, Prof itu tak pernah sempat baca email, jadi aku disuruh membuat janji bertemu dengannya lewat sekretarisnya. Prof juga memberikan nomor teleponnya kepada ayah. Tapi, ya nantilah kalau ayah sudah tak sibuk.

Nah, cerita dokter Lusy lain lagi. Ceritanya, John berkenalan dengan dokter Lusy di sebuah konser, sedangkan Ellen tahu Lusy dari teman Jermannya. Akhirnya, aku diberi alamat email dokter Lusy oleh Ellen, dan aku disuruhnya mengontak dia. Lantas, aku mengirimkan email yang berisi tentang perkenalan dan meminta advice. Aku pikir dia adalah seorang dokter yang sudah lama tinggal disini dan bekerja disini. Dia meminta supaya kami bertemu saja di VnD. Setelah bertemu… Eh… ternyata… dunia memang hanya sedaun kelor :-)

Aku betul-betul surprise tadi. “Ya ampun! Mbak Lusy… Mbak kan dokter yang dulu sering ngasih bimbingan ke aku waktu aku coass di RS Hasan Sadikin dulu.” Aku sangat terkejut, karena sebelumnya aku membayangkan dia seorang warga keturunan yang sudah lama tinggal dan bekerja di Belanda. Eh tak tahunya… dulu sudah sering bertemu di Unpad, dan ternyata malah aku duluan yang tinggal disini. Dia baru datang bulan September tahun 2004 kemarin. Hi hi, tertawalah kami bersama. Memang sih dia tak hapal dengan wajahku, maklum, coass kan buanyak. Tapi yang jelas, aku hapal betul bahwa dia dokter yang sedang mengambil spesialisasi di bagian anak sewaktu aku sedang co-asisten dulu. Yah…ternyata…:-)

Lalu kami membeli sedikit makanan dan minuman di cafe VnD sambil mengobrol. Di sebelah kami duduklah seorang mevrouw bersama cucunya. Eh, ndilalah koq, suaminya orang Indonesia.

“Je kom uit Indonesia?”

“Oh … ya..”

“My man is Indonesie…”

Nah nongol tuh si meneer. Ya, Indonesia bener he he. Namanya meneer Damyk. Mereka keluarga dari Roden, sudah puluhan tahun menetap di Belanda. Wah, mbak Lusy ngomong belandanya pinter tenan euy…

Ya, dengan ngobrol campur-campur antara mevrouw dan meneer, aku dan mbak Lusy tetep mencoba saling bicara juga. Ternyata, mbak lusy sedang mengambil subspesialisasi di bidang Neonatologi selama 1 tahun. Dia bercerita betapa keteterannya dia mengikuti proses belajar disini. Padahal kan seingatku mbak Lusy dulu terkenal smart. Mbak Lusy bekerja seperti biasa, menangani pasien dari awal sampai akhir. Problem utamanya adalah bahasa. Selain itu, ilmu di Indonesia juga tertinggal beberapa langkah dengan disini. Jadi, kesulitan terjadi karena dia harus mencerna bahasa Belandanya dulu “orang ini ngomong apa nih..” Lantas informasi itu harus dia match kan dengan ilmu yang dia tahu. Nah karena mereka sudah berpikir lebih jauh, jadilah dia harus meraba-raba tentang ilmu yang sudah lebih jauh itu.

Contohnya, misal pada kasus Hiperbilirubinemi. Kalau di Indonesia kan, dokter tinggal berpikir fisiologis atau patologis nih. Kalau patologis ya tinggal fototherapi atau exchange transfution. Kalau bilirubin tetap tinggi juga, pemeriksaan terakhir paling enzim G6PD. Nah kalau disini, bayi baru lahir itu langsung mendapatkan pemeriksaan lengkap. Jadi ketika ada bayi kuning, mereka sudah berpikir jauh kedepan sampai-sampai ke pemeriksaan metabolit. “Kita baru bikin diagnosa banding 6, mereka udah 10″ begitu kata mbak Lusy. “Mungkin masalah biaya mbak, di Indo kan nggak ada uang buat periksa” tanyaku. Tapi menurut mbak Lusy, bukan masalah biaya saja, tapi pemeriksaan laborium untuk metabolitnya sendiri malah belum ada. Ooo begitu to…

Setelah itu, kami sempat berjalan-jalan di Herestraat, tapi karena sudah jam 5 lewat, toko-toko sudah sebagian tutup. Mbak Lusy bercerita lagi tentang pengalamannya selama berada disini. Menurutnya, kasus neonatologi terbanyak di sini adalah kasus prematur. Sedangkan di Indonesia, prematur menempati urutan ketiga, yang terbanyak adalah infeksi. Sehubungan dengan infeksi, aku bertanya tentang antibiotik. Dia sepakat bahwa dokter di Indonesia memang terkadang berlebihan dalam pemberian antibiotik. Tapi, kondisi lingkungan juga berbeda. Di Indonesia, selain lingkungan nya kotor, humidity nya juga tinggi, sehingga lebih memungkinkan bagi bakteri untuk hidup. Ooo lagi deh aku :-)

Oya, waktu kami di C n A tadi, ada seorang wanita muda sedikit tua dengan dandanan agak heboh menyapa kami. Logat bicaranya pun sudah belanda tenan lah :-)

“Dari Indonesia ya?”

“Iya, sama ya mbak?”

“Ya orangtua saya tinggal di Tangerang, mereka sering minta saya untuk pulang. Maar (tapi) saya tidak mau. Saya mau selamanya tinggal disini. Tinggal disini lebih enak. Saya dapat uang tanpa harus bekerja.”

“Oya mbak? Suaminya orang sini ya mbak, dapat berapa memangnya mbak?”

“1600 euro. Kalau di Indonesia, janda seperti saya ini malah jadi bahan omongan toh. Dulu suami saya orang Belanda. Saya punya 2 anak mau dikasih makan apa kalau tinggal di Indonesia?. Disini uang segitu bisa saya pakai buat kirim ke Indonesia, bisa buat vacansi, lebih enak tinggal disini toh.”

Lalu datang seorang pria menghampiri.

“Ini pacar saya (sambil senyum-senyum malu), dia bukan orang sini, tapi sudah bekerja. Saya juga dimarah-marah sama orangtua saya di Indonesia karena punya pacar. Maar ini Eropa bukan Asia. Di Eropa orang boleh kumpul kebo. Ha ha maar… saya nggak kumpul kebo lho.” dia terus saja bercerosos sambil ketawa-ketawa. He he, seru juga, hiburan deh ketemu si mbak ganjen ini hi hi.

Wah lumayan great time juga kencan bareng mbak Lusy tadi. Dia aku ajak untuk datang ke pengajian deGromiest dan mampir ke rumahku. “Aku suguhin siomay dan bakso deh mbak, kangen kan sama masakan Indo…” He he oke-oke… kapan-kapan dia mau main katanya. Ditunggu ya mbak…


Resep Bakso Bezettingslaan

Filed under Resep Asyik

bakso.jpg
“Tambah nikmat kalo makannya sambil di depan komputer begini nih…mmm…lezat…”

Ceritanya, aku tuh sukaaa banget bakso. Anakku Malik juga sama. Gara-gara waktu hamil Malik aku doyan banget bakso kali, jadi menular deh :-). Nah, karena yakin disini susah cari bakso, sebelum berangkat ke Groningen , aku sempatkan untuk kursus membuat bakso. Eh ternyata, alhamdulillah banget, disini memang susaah sekali cari makanan berdaging yang halal. Tak sia-sia lah bela-belain kursus. Jadi, rasanya hmm… dijamin lebih enak daripada punya emang-emang yang suka nongkrong di pinggir jalan deh. Agak-agak kriting tak apalah ya, anggap aja bakso urat, yang penting kan rasanya… :-). Selamat mencoba…Resepnya:

Selengkapnya…


Lala-suratkecil.jpg

Aku heran, entah kenapa hari ini Aik selalu ingin menciumku. Hi hi ayah sampai iri jadinya. Barangkali dia ingin meniru ayahnya, atau mungkin teori komunikasi pengasuhan anak itu lumayan berpengaruh padanya. Hmm apapun lah, yang jelas anak belajar dari contoh kan…

“Bunda, Aik sayang sama bunda, Aik mau cium bunda, emmuah, emmuah ” kata Aik sambil mencium pipi ku kiri dan kanan.

Anehnya, itu dilakukannya berkali-kali. Aku hitung, hari ini dia memperlakukan aku seperti itu sampai 6 kali. Biasanya kan cuma bilang ‘Bunda, Aik sayang sama bunda’. Eh, lha koq sekarang pakai acara cium segala he he. Senang banget kan melihat Aik yang tambah romantis :-).

Tapi, kadang-kadang, ciuman itu cuma senjata lho. Tadi dia ingin aku menemaninya main komputer. Tapi aku sedang pipis dan meminta Aik untuk sabar. Eh dia malah protes…

“Aik nggak mau bunda pipis, tadi kan Aik udah cium bunda, bunda kesini!” gitu kata Aik sambil merengek galak. Ya… ciumannya nggak gratis ternyata hehe… Tapi yang lain gratis koq, cuma sekali tadi aja ya Ik…:-)

Lala-amplopkecil.jpg

Kalau Lala, romantisnya beda. Lala senang sekali bikin surat cinta. Kemarin waktu aku sedang masak di dapur, tiba-tiba dia datang ketok pintu dapur. “Tok…tok…tok… dat is en brieftje for jou (ini ada surat untukmu)”

“Oh, dank u well Lala (makasih)”

“Buka bun…buka…”

“Oh…cantik sekali, surat buat bunda ya, coba sini bunda baca, isinya apa ya… ‘Lala sayang sekali sama bunda…’ …wah bagus sekali, Lala udah pinter nulis surat sekarang ya…makasih sayang…”

Oya, kadang Lala juga suka sekali pura-pura memberi hadiah buat ayah bunda dan Aik. Hadiahnya berisi mainan atau barang-barang punya Lala yang dibungkus kertas kado. Lucu deh :-).

“Bunda, dat is kadotje for jou…(bunda, ini ada kado untukmu)” gitu kata Lala…

kadotje.jpg

Hmm seneng nggak sih, diromantisin sama anak. Cara mereka memang beda, tapi maknanya sama kan… Mudah-mudahan aku diromantisin teruuus sama mereka sampe tuek :-)…


Urusan Verblijf, dan Subsidi

Filed under Tentang Belanda

Untuk tinggal di Belanda, setiap orang harus mempunyai residen permit alias verblijf. Verblijf ini seperti KTP. Kalau kita tidak punya verblijf bisa-bisa ditangkap polisi lho. Dengan verblijf ini pula aku dapat pergi ke negara-negara lain di Eropa. Selain itu, verblijf juga dibutuhkan ketika akan membuat aplikasi subsidi rumah dan tunjangan untuk anak. Sebetulnya untuk mengurus tunjangan anak ini, yang dibutuhkan adalah sofie numbernya. Tapi waktu tunggu pengurusannya tak berbeda, sama-sama lama.

Selengkapnya…


Ayah Sakit Batuk Pilek

Filed under Diary Kesehatan

Ayah sakit batuk dan pilek, seperti dulu lagi. Badan ayah sempat panas juga. Kasihan deh ayah, padahal lagi sibuk berat membuat laporan akhir tahun. Senin depan laporannya mau dievaluasi oleh Profesor dan supervisor ayah.

Ayah malah sempat bolos lho waktu hari Rabu kemarin. Ayah sudah sempat ke dokter juga. Kata ayah, dokternya bilang penyakitnya virus seperti biasa. Oya, si dokter malah mengajak ngobrol panjang tentang kopi Bondowoso katanya. Hi hi ada ada saja ya si dokter.

Ayah diberi obat Budesonide Nevel Gf 100, neusspray 2 mg/ml. Dosisnya 2 x sehari, 2 puff di kedua hidung. Biasanya kalau pakai obat ini, batuk ayah jadi tak berkepanjangan. Ya moga-moga aja ayah cepat sembuh. Jangan nularin bunda ya yaah….