Kapan hari sepulang sekolah, Malik, 8 tahun, tiba-tiba nggremeng sendiri sambil nyanyi-nyanyi, ngomong gini,”Ik heb seks met Liane, Ik heb seks met Liane.” What?! Langsung dong telinga ku berdiri dengernya. Waduh, anak gw mulai ngomong-ngomong soal ginian, pasti dari temen-temennya nih, mulai panik dong diriku, kuatir temen-temennya udah meracuni dia yang enggak-enggak. Aku yang ada di lantai dua sampe turun tangga dan mencoba mendengarkan lagi baik-baik takut aku salah denger. Tapi enggak tuh, Malik bener-bener ngomong gitu, dan aku tahu banget, Liane itu satu-satunya temen perempuan sekelas Aik yang dianggap temen sama Aik. Temen perempuan lainnya kata Aik bukan temen, bener-bener cuma Liane seorang. Jadi menurut Aik, temen Aik itu adalah temen laki-laki yang deket sama Aik (ada 10 orang) plus Liane, padahal ada 30 orang anak di kelas Aik.
Archives for 2010
Miss You So
Filed under Cinta dan Puisi, English Corner
I woke up
You were not there
Didn’t know why
There was a pang
There was a frightening
There was a longing
In my heart
Couldn’t imagine
If you and me
have to be apart
I will miss you
I even miss you so
Now.
Diemen, 10 March 2010
When my beloved one, goes for a while.
“When mortals are alive, they worry about death. When they’re full, they worry about hunger. Theirs is the Great Uncertainty. But sages don’t consider the past. And they don’t worry about the future. Nor do they cling to the present. And from moment to moment they follow the Way.” ( Bodhidharma quotes)
Yesterday, I had a Grey day. Then, my husband sent me this quote and I was touched. It reminded me not to worry about the future and to enjoy the present time, moment to moment. I’m learning to live in the present time, moment to moment, but I never know that in fact it is just easy to say, very hard to do. My thoughts, my monkey minds, always grips me, like a tiger grasps its prey.
Pulang sekolah Malik ke dokter gigi. Aik udah bete di sekolah, bunda dateng pertanyaannya langsung gini,”Aik ga mau dicabut gigi!” katanya sambil merengut. “Ga dicabut koq Ik, kan kata dokternya cuma ditambal.”
Sepanjang jalan Aik bete, pas nunggu di ruang tunggu juga masih bete dan ketakutan kalo dicabut. Pas giliran masuk, Aik nangis. Dokternya langsung bilang,”Kenapa kamu nangis?”
My second book: ‘Family Traveler’
Filed under Books and Writing
Tips Food Photography
Filed under Photography
Aku baru baca artikel menarik dari Michael Ray ‘Note for food photography blogger‘. Tulisan tentang Food Photography (FP) tuh buanyak banget. Aku akan kumpulin sumber-sumber bacaan bagus tentang FP dalam link di bawah. Tapi catatan dari Michael Ray ini padat dan berisi banget. Menurut dia, intinya kalau mau motret makanan itu begini:
Olah Digital
Filed under Photography
Pertama kali denger kata-kata oldig ini aku udah ndredek duluan alias gemeteran atau jiper deh gitu. Biasa, penyakit orang gaptek hehe. Tapi ya gitu karena butuh akhirnya minta diajarin sama suamiku. Untuk food photography kita ga terlalu banyak butuh oldig, paling-paling yang standar seperti : croping, naikin kontras, benerin white balance, kasih watermarkt, udah selesai. Tapi untuk foto pemandangan wah ga seru banget kalo ga diolah.
Jadi dalam olah digital foto itu, kita bisa pake macem-macem program, dulu aku pake GIMP karena gratis, yang paling terkenal dan kumplit tentu aja Photoshop. Setelah didownlodin sama suamiku kemaren aku seneng banget karena memang GIMP ga kumplit dan tutorial nya ga banyak, sementara kalo photoshop tutorialnya banyak banget di youtube.
Motret, Apa Asyiknya?
Filed under Photography
Aku ga pernah nyangka kalo motret itu ternyata asik. Berawal dari temen-temen di Groningen yang suka traveling, narsisan bareng-bareng dan hasil potretnya bagus-bagus, lalu aku mulai kenal sama kamera SLR (Single-Lens-Reflex). Tapi berhubung aku gaptek dan bahagia menjadi gaptek, teuteuup hehe, meski udah punya kamera SLR aku jarang banget menyentuhnya. Kalo lagi traveling, bagian motret ya urusan suamiku dan dia juga yang ngolah-ngolah hasilnya.
Lalu, datanglah kebutuhan itu, kebutuhan untuk bisa motret gara-gara aku pengen banget bisa motretin masakanku sebagus temen-temen dunia mayaku. Akhirnya aku mulai belajar tentang dunia potret memotret. Saat ini karena ada kebutuhan lain untuk ga cuma motret makanan, jadi aku semakin berusaha menggauli dunia fotografi dan digital imagingnya sebab aku masih pemula banget dalam hal ini.
Aku dan Kesukaanku
Filed under Tentang Aku dan ...
Aku adalah orang yang ‘panasan’, untungnya dalam hal yang positif ya. Jadi kalo liat ada orang lain bisa apa gitu, terus aku selalu mikir, hmm dia bisa masa sih aku ga bisa. Aku lalu termotivasi untuk belajar dan mencoba. Ga pengen jadi ahli banget gitu enggak, tapi yang penting aku bisa dan punya skill itu. Tapi hal ini hanya berlaku untuk yang aku suka aja ya, karena aku pernah coba merajut ternyata aku ga suka, motong rambut, aku juga ga suka dan jangan minta aku menjahit, aku paling ga suka!
Tapi kalau aku udah suka, ya gitu deh, panasan. Contohnya dulu banget pas baru awal-awal di Belanda, aku ga bisa cooking dan baking. Lalu aku belajar masak, kalo ini sih lebih karena kebutuhan ya, karena hidup di luar negeri kalo ga masak ya bakal kelaparan. Saat itu aku selalu tertantang untuk bikin masakan yang lebih susah dan susah lagi. Kalau ada event besar yang memaksa aku untuk masak, aku dengan senang hati mencobanya. Soalnya beda kan masak untuk sedikit orang dan banyak orang.
Behavior Change
Filed under Diary Parenting, Diary Spiritual, English Corner, Lala dan Malik
“If you have set a rule, discussed it with your children and they have agreed, no more discussion!” Said Marlyn, the psychologist of Malik. “When they broke the rule, don’t argue a lot because children in your children’s age need your authority. I don’t say that there is no room for discussions, of course they also need discussions, but not for the rule that you have made. The story will be different if we talk about adolescent, we have to be more flexible, but again, in your children’s age they need disciplines,” Marlyn continued.
That was one of our conversation’s topic in our second meeting last Friday, when my husband and I came to the psychologist. Why we had to go to the psychologist, then? The story began when we met Malik’s teacher in November 2009, and he wondered whether my son like to go to school or not. He said that my son was easy to get angry, cranky, often looked sad at school and preferred to be alone. I was surprised to hear that because I also had the same problems at home, and it has been happening since 1,5 years ago. I noticed that indeed my son has changed his behaviors and it made me sad because lately, I argued a lot with him and I was often loose my patient. Before that, he was a sweet, cute, an easy going child and I had never got a a ‘bad story’ from his teacher as well. Every body liked him and I seldom had any problems with him.
Minggu ini anak-anak libur seminggu, berhubung biasa deh ayah bunda bokek, di luar cuaca dingin, jadi males bener keluar rumah. Dari satu minggu itu, ayah sama bunda udah sepakat, hari Rabu cooking time, hari Jumat kita jalan-jalan ke kota dan hari Sabtu kita ke museum. Sisanya, anak-anak bikin film dari lego, maen lego atau baca buku. Dan mereka oke-oke aja. Malah kalo lagi ada lego baru, malik suka bilang gini,”Kenapa kita ga di rumah aja.” Kalo Lala, kalo lagi ada bacaan baru pasti bilang gini,”Mba lala mau di rumah aja, ngapain jalan-jalan, foto-foto, kan enakan di rumah baca buku. Nah Lo! Gara-gara keseringan ngerem di rumah ga liat matahari jadi begitu tuh.
Jadi hari Rabu lalu, anak-anak udah antusias mau bikin wingko babat, mereka seneng banget ternyata gampang! Bunda cuma bantuin ngoles kuning telor dan masukin adonan ke loyang aja. Resepnya bunda dapet dari tante Endang waktu bunda rapat ke rumahnya. Bunda kan bawa oleh-oleh dan ternyata semua suka, ya udah jadilah si wingko dibuat projek cooking time liburan ini.
Hari sabtu kemarin kami pergi ke corpus museum, alias museum tubuh manusia di Leiden, buat aku sih seru banget, dejavu inget pelajaran anatomi dan fisiologi, berikut tersentuh dan terharu mengingat kebesaran Allah. Menurutku museum itu bagus banget meskipun ya memang cukup mahal seh dibanding museum lukisan, dan misinya cukup berhasil karena pulang dari sana aku dan anak-anakku jadi semakin ingin untuk hidup sehat. Aku pengen banget bikin tulisan tentang tur itu dan niatnya aku akan kirim ke salah satu majalah, kalo ga dimuat baru lah aku publish di blog sendiri, mudah-mudahan beneran terealisasi.
Selama tour yang 1 jam dimana kami kaya dibawa bener-bener masuk ke tubuh manusia, anak-anak anteng dengerin dan penasaran ingin tahu apalagi, apalagi selanjutnya. Pas ke bagian interactive yang ada 5 bagian, mereka yang dicari ya bagian interaktive nya, bagian tulisan-tulisan di dinding selintas-selintas aja di bacanya meski sudah ditulis dan diberi gambar menarik. Terus biasalah anak-anak pengen majuuu terus liat yang lain, aku jadi ketinggalan terus di belakang.
Make a list of your obsession
Filed under Books and Writing, English Corner
“Make a list of your obsession,” said Natalie Goldberg on ‘Writing Down the Bones and I agree with her. Although sometimes, I couldn’t write all of my obsessions, but make a list can make me keep writing. My obsession now is to write in English about everything I want. After writing two short essays, I think it is nice to write about something personal in English because I get a feeling that if I write in this language, just few people will be interested to read my writing (for Indonesian people I mean). Besides, writing personal things in English seem to be more elegant and it won’t make me look ‘naked’.
I’m crying, again. Everybody said that I’m a happy person, always cheerful and my live is perfect. But nobodies know about my sorrow, my problems and what I feel, except my husband of course. I always said to my husband,”If my husband is not you, maybe I have got depressed and ran away from this country.” Even though I didn’t have money to go back to my homeland, probably I could do anything to leave my husband, to fly away as far as I can. Fortunately, God gives me a husband like him, a perfect husband for me. He just like an angel who can cure my broken wings so we could fly together again. He is my shoulder to cry on, my ‘harbor’ for all of my suffering. Without him, I’m nothing. Without him, I’m drowning.
Why Do I Write?
Filed under Books and Writing, Diary Spiritual, English Corner
“Why do I write? Why do I write? Why do I write?,” Just like a bee buzzing around flowers, this question come up to my mind ever and ever again, wherever I am. Yes, Why do I write? Isn’t it odd? I have been writing for several years, but I never ask this question, this fundamental question. This question keep bothering me since somebody suggested me to ask my self about it.
Then, in a lovely evening, when my children was playing around me and my husband was working in his ‘laboratory’, I took a deep breath, lied in my bed, pondered to answer this question deeply. I tried to look for the answer, but my mind just kept silent and my heart didn’t give any signal even one clue. I waited and waited, hoping the answer would pop up in my mind, but useless. I felt bad and tired. Oh God, why is it so difficult to answer the question?
Ndak Usah Ngoyo
Filed under Diary Spiritual, Sharing Teman
Aku yakin, tamu memang membawa berkah, seperti kata falsafah. Keberkahan itu kadang bukan dalam bentuk materi, tapi pesan-pesan penting yang seperti sengaja didatangkan Tuhan. Semenjak pindah ke rumah baru di Diemen, setiap sekali atau dua kali sebulan, selalu ada tamu menginap di rumahku. Aku jadi banyak bertemu orang, baik kawan lama maupun baru. Mereka pun datang dengan segala keunikan dan pesan. Bulan November tahun 2009 lalu, rumahku bahkan pernah diinapi oleh Mba Asma Nadia dan bang Isa, yang sebelumnya hanya aku tahu lewat dunia maya.
Listen a lot, Memanusiakan Anak dan Bermimpi
Filed under Books and Writing, Diary Spiritual, Sharing Teman, Tentang Belanda
“Read a lot, listen a lot, and write a lot,” tips penting dari Natalie Goldberg dalam bukunya ‘ Writing Down the Bones’ itu kucatat dan kurekam baik-baik dalam memoriku.Seorang yang ingin menulis atau menjadi penulis, tidak bisa menganggap sepele ‘listen a lot,’ with all of your body. Sering kita ngobrol ngalor ngidul dengan siapapun atau jalan-jalan ke suatu tempat, tapi kalau kita tak berusaha mendengar dengan seluruh indra kita, banyak hal yang kemudian terabaikan dan terlupa.
Lega rasanya, minggu ini aku selesai mengerjakan ‘peer’ besarku. Jadi rasanya pengen istirahat sejenak, bersenang-senang sejenak, sebelum mengerjakan ‘peer’ selanjutnya. Dan dalam rangka bersenang-senang ala aku, aku ambil ‘Me Time’ day. Suami dan anak-anakku dengan senang hati mengijinkan. Hari ini aku seharian jalan dari central stasion Amsterdam ke Dam, China town, redlight area, Kavelstraat, Remblandtplein sampe Magere Burg. Sudah lama aku pengen banget ke Magere Brug ini, jembatan kayu yang paling terkenal di Amsterdam. Aku sangat menikmati perjalananku tadi, ternyata seru juga melakukan ‘me time’ sendirian, jadi observer. Tapi sebetulnya yang paling asyik dan memang sudah aku niatin sebelumnya adalah hunting foto!
Mengejar SIM A Waktu Pulang
Filed under Lain-lain
Akhir bulan Juni 2009, aku pulang. Hari pertama yang kulakukan setibanya di Bandung adalah, membuat SIM! Yup, membuat SIM! Aku ingin mencatat pengalamanku ini, karena cukup spesial. Baru kali ini aku bisa punya SIM lewat ujian dan ga perlu bayar sogokan, senang kan! Kenapa baru sampai koq harus langsung membuat SIM? Karena, suamiku hanya dapat jatah cuti 3 minggu, dan waktunya harus dibagi-bagi. Seminggu pertama kami ngelencer di Bandung, lalu ke Pangandaran. Setelah itu, kami harus pulang kampung, ke Bojonegoro tempat suamiku berasal. Dan kalau selama di Bandung harus naik angkutan, aduuh macet dan panasnya itu loo (manja dot kom karena di belanda ga pernah naik mobil) . Apalagi kalau saat pulang kampung kami tak punya SIM, bisa berabe akibatnya. Rumah suamiku sungguh jauh di pelosok desa, kalau mengandalkan angkutan, kami harus naik bus dan naik beberapa kali angkutan yang sungguh merepotkan. Mana bawa anak dua, berikut barang bawaan, wah! Selengkapnya…
Being ‘Alien’
Filed under Diary Spiritual, Tentang Belanda
Aku tak pernah menyangka bila akhirnya perjalanan hidup membuatku harus mencicipi rasanya keterasingan, menjadi orang asing, menjadi sosok aneh yang tak lazim. Kadang, mereka memandangku sebelah mata, mentatap lama-lama, dan menganggapku sebagai manusia penebar murka. Meski memang tak semua, namun awalnya berat juga. Aku bahkan sempat menitikkan air mata.
Suatu kali ketika aku sedang berbelanja di pasar tradisional ala Eropa, aku telah menunggu dengan lama dan berusaha bertanya. Namun sang penjual tak mau menyapaku juga. Meski akhirnya aku dilayaninya, namun dipandangnya aku dengan mata tak suka. Kali lain, ketika aku dekat dengan anak-anak balita Belanda lantaran kerap menjaga mereka saat jam istirahat sekolah, orangtua-orangtua mereka sering menghunjamkan matanya padaku lama-lama. Pernah, anak bule ganteng berumur 5 tahun bernama Boaz, ketika papanya menjemput, dipamerkannya aku pada papanya dan disapanya aku dengan mesra. Ayahnya yang semula menatapku sekilas lalu segera membalikkan badannya. Dipandanginya aku dari ujung kaki sampai ujung kepala, hingga kemudian ia berlalu bersama anaknya. Sreet! Hatiku tergores seketika. Betapa hina aku dimatanya, hingga ia harus memelototi aku sedemikian rupa. Ah, sudahlah biarkan saja, tak kenal maka tak sayang begitu kan kata orang, hiburku mencoba menghapus goresan luka. Selengkapnya…
Sudah lama aku dikirimi buku ini langsung oleh penulisnya dari Amerika, wah seneng banget dong (makasih ya mba Me), tapi baru kali ini aku sempat bikin reviewnya.
Buku ini mengisahkan pengalaman pribadi penulis dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang seperti naik roller coaster, kata penulis. Yang menarik, penulis bukan hanya mengisahkan perjuangan beratnya, suka dukanya melalui pernikahan tahun-tahun pertama, tapi juga ada quote-quote penyemangat, serta tips-tips praktis yang bisa diterapkan untuk menjadi orang yang lebih baik dan mencapai kebahagiaan keluarga. Selengkapnya…
Sistem kesehatan di Belanda terkenal sangat rasional. Bagus memang dan patut dicontoh, tapi bagi yang belum terbiasa, pasti ngomel-ngomel, seakan-akan dokter sini cuek bebek banget, pasien udah dying ga dikasih obat, gitu deh kasarnya. Soal Rasional Use of Medicine (RUM) di Belanda, ceritanya panjang, kapan-kapan aku pengen nulis khusus untuk itu. Kali ini, aku mau tulis tentang pengalaman temanku saat melahirkan yang cukup unik. Aku pas denger sampe bengong hehe. Selengkapnya…
Pernikahan ala Belanda Yang..Ehm…
Filed under Tentang Belanda
Sudah lebih dari 5 tahun aku tinggal di Belanda, tapi baru kali ini ada kesempatan diundang menghadiri pernikahan ala orang Belanda. Bastian, teman sekantor suamiku, menikah dengan kekasihnya, Elsje, yang juga orang Belanda. Kebetulan, pernikahan mereka digelar di gereja dekat rumah kami, hanya 5 menit jalan kaki. Sebetulnya, undangannya dua kali, yang pertama ceremonialnya jam dua hingga lima sore. Lalu party nya jam 9 malam hingga tengah malam.
Sejak jauh hari aku sudah bilang ke Elsje,”Aku akan datang di acara yang siangnya aja ya, sebab, partynya terlalu malam buat anak-anakku.” Dan jam setengah satu siang hari, aku jemput anak-anak dari sekolah. Paginya, suamiku sudah minta ijin ke guru mereka di sekolah agar mereka diijinkan bersekolah setengah hari. Lalu menjelang jam dua siang, kami bergegas berjalan kaki menuju tempat acara. Selengkapnya…
Di Diemen, alhamdulillah kami dapat rumah lebih besar daripada waktu di Groningen. Alhasil, kami bisa mengadakan pesta ulang tahun untuk anak-anak di rumah. Selain ngirit, lebih efisien juga kan. Jadi akhir tahun 2009 dan awal 2010 kemarin adalah kali pertama kami mengundang anak-anak Belanda untuk merayakan pesta ulangtahun Lala dan Malik. Ternyata pestanya anak perempuan dan laki-laki beda bangeet!
Di Ulang tahun Lala, Lala mengundang semua teman perempuan di kelasnya. Di antara 22 orang murid, anak perempuan di kelas Lala memang hanya 6 orang dengan Lala. Alhasil ke 6 orang anak itu sajalah yang di undang. Ada Michella, Demi, Rooselyn, Megan dan Kasmayla. Untungnya semuanya datang pada jam satu siang di hari Sabtu. Karena besoknya Lala mau ke Norway, Lala juga mengundang Mila anaknya tante Nurul, serta Astrid dan Amel, anak tante Popy dari Leiden. Aku sudah siapkan menu khusus untuk anak-anak itu, ada mie goreng, ayam goreng, sup asparagus, capcay, pudding semangka dan dolphin cake pesanan Lala. Dan ternyata kebiasaan anak-anak Belanda kalau party, makanannya tidak terlalu heboh. Anak-anak juga tidak terlalu suka tart. Alhasil yang dimakan hanya ayam goreng dan mie goreng. Untung ada teman-temanku orang Indonesia yang datang juga, jadi makanan lumayan ludes, hanya bersisa sedikit. Mie goreng juga jadi favorit teman-teman Lala. Selengkapnya…
Malik dan Lego
Filed under Diary Parenting, Lala dan Malik
Kalau ditanya apa kesukaan Malik, jawabannya tentu saja, Lego! Memang sih Malik juga suka sama komik doraemon, tapi tetap tidak mengalahkan Lego. Malah ketika bunda iming-imingin Aik beli PS, Aik bilang gini,”Nee, Aik mau beli Lego aja Bun yang besar dan mahal itu.” Kenapa Ik? Nanti kalo Aik ga punya PS, Aik malah main terus di rumah temen Aik,” Bunda penasaran. “Itu saai Bun, Aik bosen.” Duilee gaya bener deh.
Tapi Malik memang betul-betul tergila-gila sama lego. Waktu masih balita, mula-mula Malik suka tokoh Bob the Builder. Makin besar umurnya terus ganti Cars. Tapi mainan yang dibeli ya lego Bob the Builder untuk anak balita yang besar-besar itu. Aik pernah punya cars, mobil yang jejer-jejer dalam truk, tapi juga ga terlalu suka. Terus Aik juga sempet koleksi playmobil Dinosaurus sampe komplit, karena pas ulang tahun atau dapat uang dari hasil jadi still stand, uang Aik selalu dibeliin play mobil Dino. Tapi setelah komplit, Aik berganti haluan, jatuh cinta sama lego powerminers. Wah semua jenis powerminersnya Aik punya, hanya beberapa aja yang belum. Kemaren waktu mbak Lala ke Norway, Aik kasih ijin, tapi sebagai imbalannya, Aik dibeliin lego power miners yang harganya cukup mahal. Hadiah ulang tahun Aik ke delapan dari hasil bongkar celengannya juga hampir semua dibeliin lego power miners dan lego-lego yang lain. Selengkapnya…











