Minggu ini anak-anak libur seminggu, berhubung biasa deh ayah bunda bokek, di luar cuaca dingin, jadi males bener keluar rumah. Dari satu minggu itu, ayah sama bunda udah sepakat, hari Rabu cooking time, hari Jumat kita jalan-jalan ke kota dan hari Sabtu kita ke museum. Sisanya, anak-anak bikin film dari lego, maen lego atau baca buku. Dan mereka oke-oke aja. Malah kalo lagi ada lego baru, malik suka bilang gini,”Kenapa kita ga di rumah aja.” Kalo Lala, kalo lagi ada bacaan baru pasti bilang gini,”Mba lala mau di rumah aja, ngapain jalan-jalan, foto-foto, kan enakan di rumah baca buku. Nah Lo! Gara-gara keseringan ngerem di rumah ga liat matahari jadi begitu tuh.
Jadi hari Rabu lalu, anak-anak udah antusias mau bikin wingko babat, mereka seneng banget ternyata gampang! Bunda cuma bantuin ngoles kuning telor dan masukin adonan ke loyang aja. Resepnya bunda dapet dari tante Endang waktu bunda rapat ke rumahnya. Bunda kan bawa oleh-oleh dan ternyata semua suka, ya udah jadilah si wingko dibuat projek cooking time liburan ini.
Selengkapnya…
Hari sabtu kemarin kami pergi ke corpus museum, alias museum tubuh manusia di Leiden, buat aku sih seru banget, dejavu inget pelajaran anatomi dan fisiologi, berikut tersentuh dan terharu mengingat kebesaran Allah. Menurutku museum itu bagus banget meskipun ya memang cukup mahal seh dibanding museum lukisan, dan misinya cukup berhasil karena pulang dari sana aku dan anak-anakku jadi semakin ingin untuk hidup sehat. Aku pengen banget bikin tulisan tentang tur itu dan niatnya aku akan kirim ke salah satu majalah, kalo ga dimuat baru lah aku publish di blog sendiri, mudah-mudahan beneran terealisasi.
Selama tour yang 1 jam dimana kami kaya dibawa bener-bener masuk ke tubuh manusia, anak-anak anteng dengerin dan penasaran ingin tahu apalagi, apalagi selanjutnya. Pas ke bagian interactive yang ada 5 bagian, mereka yang dicari ya bagian interaktive nya, bagian tulisan-tulisan di dinding selintas-selintas aja di bacanya meski sudah ditulis dan diberi gambar menarik. Terus biasalah anak-anak pengen majuuu terus liat yang lain, aku jadi ketinggalan terus di belakang.
Selengkapnya…
“Make a list of your obsession,” said Natalie Goldberg on ‘Writing Down the Bones and I agree with her. Although sometimes, I couldn’t write all of my obsessions, but make a list can make me keep writing. My obsession now is to write in English about everything I want. After writing two short essays, I think it is nice to write about something personal in English because I get a feeling that if I write in this language, just few people will be interested to read my writing (for Indonesian people I mean). Besides, writing personal things in English seem to be more elegant and it won’t make me look ‘naked’.
Selengkapnya…
I’m crying, again. Everybody said that I’m a happy person, always cheerful and my live is perfect. But nobodies know about my sorrow, my problems and what I feel, except my husband of course. I always said to my husband,”If my husband is not you, maybe I have got depressed and ran away from this country.” Even though I didn’t have money to go back to my homeland, probably I could do anything to leave my husband, to fly away as far as I can. Fortunately, God gives me a husband like him, a perfect husband for me. He just like an angel who can cure my broken wings so we could fly together again. He is my shoulder to cry on, my ‘harbor’ for all of my suffering. Without him, I’m nothing. Without him, I’m drowning.
Selengkapnya…
“Why do I write? Why do I write? Why do I write?,” Just like a bee buzzing around flowers, this question come up to my mind ever and ever again, wherever I am. Yes, Why do I write? Isn’t it odd? I have been writing for several years, but I never ask this question, this fundamental question. This question keep bothering me since somebody suggested me to ask my self about it.
Then, in a lovely evening, when my children was playing around me and my husband was working in his ‘laboratory’, I took a deep breath, lied in my bed, pondered to answer this question deeply. I tried to look for the answer, but my mind just kept silent and my heart didn’t give any signal even one clue. I waited and waited, hoping the answer would pop up in my mind, but useless. I felt bad and tired. Oh God, why is it so difficult to answer the question?
Selengkapnya…
Aku yakin, tamu memang membawa berkah, seperti kata falsafah. Keberkahan itu kadang bukan dalam bentuk materi, tapi pesan-pesan penting yang seperti sengaja didatangkan Tuhan. Semenjak pindah ke rumah baru di Diemen, setiap sekali atau dua kali sebulan, selalu ada tamu menginap di rumahku. Aku jadi banyak bertemu orang, baik kawan lama maupun baru. Mereka pun datang dengan segala keunikan dan pesan. Bulan November tahun 2009 lalu, rumahku bahkan pernah diinapi oleh Mba Asma Nadia dan bang Isa, yang sebelumnya hanya aku tahu lewat dunia maya.
Selengkapnya…
“Read a lot, listen a lot, and write a lot,” tips penting dari Natalie Goldberg dalam bukunya ‘ Writing Down the Bones’ itu kucatat dan kurekam baik-baik dalam memoriku.Seorang yang ingin menulis atau menjadi penulis, tidak bisa menganggap sepele ‘listen a lot,’ with all of your body. Sering kita ngobrol ngalor ngidul dengan siapapun atau jalan-jalan ke suatu tempat, tapi kalau kita tak berusaha mendengar dengan seluruh indra kita, banyak hal yang kemudian terabaikan dan terlupa.
Selengkapnya…
Lega rasanya, minggu ini aku selesai mengerjakan ‘peer’ besarku. Jadi rasanya pengen istirahat sejenak, bersenang-senang sejenak, sebelum mengerjakan ‘peer’ selanjutnya. Dan dalam rangka bersenang-senang ala aku, aku ambil ‘Me Time’ day. Suami dan anak-anakku dengan senang hati mengijinkan. Hari ini aku seharian jalan dari central stasion Amsterdam ke Dam, China town, redlight area, Kavelstraat, Remblandtplein sampe Magere Burg. Sudah lama aku pengen banget ke Magere Brug ini, jembatan kayu yang paling terkenal di Amsterdam. Aku sangat menikmati perjalananku tadi, ternyata seru juga melakukan ‘me time’ sendirian, jadi observer. Tapi sebetulnya yang paling asyik dan memang sudah aku niatin sebelumnya adalah hunting foto!
Selengkapnya…
Akhir bulan Juni 2009, aku pulang. Hari pertama yang kulakukan setibanya di Bandung adalah, membuat SIM! Yup, membuat SIM! Aku ingin mencatat pengalamanku ini, karena cukup spesial. Baru kali ini aku bisa punya SIM lewat ujian dan ga perlu bayar sogokan, senang kan! Kenapa baru sampai koq harus langsung membuat SIM? Karena, suamiku hanya dapat jatah cuti 3 minggu, dan waktunya harus dibagi-bagi. Seminggu pertama kami ngelencer di Bandung, lalu ke Pangandaran. Setelah itu, kami harus pulang kampung, ke Bojonegoro tempat suamiku berasal. Dan kalau selama di Bandung harus naik angkutan, aduuh macet dan panasnya itu loo (manja dot kom karena di belanda ga pernah naik mobil) . Apalagi kalau saat pulang kampung kami tak punya SIM, bisa berabe akibatnya. Rumah suamiku sungguh jauh di pelosok desa, kalau mengandalkan angkutan, kami harus naik bus dan naik beberapa kali angkutan yang sungguh merepotkan. Mana bawa anak dua, berikut barang bawaan, wah!
Selengkapnya…
Aku tak pernah menyangka bila akhirnya perjalanan hidup membuatku harus mencicipi rasanya keterasingan, menjadi orang asing, menjadi sosok aneh yang tak lazim. Kadang, mereka memandangku sebelah mata, mentatap lama-lama, dan menganggapku sebagai manusia penebar murka. Meski memang tak semua, namun awalnya berat juga. Aku bahkan sempat menitikkan air mata.
Suatu kali ketika aku sedang berbelanja di pasar tradisional ala Eropa, aku telah menunggu dengan lama dan berusaha bertanya. Namun sang penjual tak mau menyapaku juga. Meski akhirnya aku dilayaninya, namun dipandangnya aku dengan mata tak suka. Kali lain, ketika aku dekat dengan anak-anak balita Belanda lantaran kerap menjaga mereka saat jam istirahat sekolah, orangtua-orangtua mereka sering menghunjamkan matanya padaku lama-lama. Pernah, anak bule ganteng berumur 5 tahun bernama Boaz, ketika papanya menjemput, dipamerkannya aku pada papanya dan disapanya aku dengan mesra. Ayahnya yang semula menatapku sekilas lalu segera membalikkan badannya. Dipandanginya aku dari ujung kaki sampai ujung kepala, hingga kemudian ia berlalu bersama anaknya. Sreet! Hatiku tergores seketika. Betapa hina aku dimatanya, hingga ia harus memelototi aku sedemikian rupa. Ah, sudahlah biarkan saja, tak kenal maka tak sayang begitu kan kata orang, hiburku mencoba menghapus goresan luka.
Selengkapnya…
Sudah lama aku dikirimi buku ini langsung oleh penulisnya dari Amerika, wah seneng banget dong (makasih ya mba Me), tapi baru kali ini aku sempat bikin reviewnya.
Buku ini mengisahkan pengalaman pribadi penulis dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang seperti naik roller coaster, kata penulis. Yang menarik, penulis bukan hanya mengisahkan perjuangan beratnya, suka dukanya melalui pernikahan tahun-tahun pertama, tapi juga ada quote-quote penyemangat, serta tips-tips praktis yang bisa diterapkan untuk menjadi orang yang lebih baik dan mencapai kebahagiaan keluarga.
Selengkapnya…
Sistem kesehatan di Belanda terkenal sangat rasional. Bagus memang dan patut dicontoh, tapi bagi yang belum terbiasa, pasti ngomel-ngomel, seakan-akan dokter sini cuek bebek banget, pasien udah dying ga dikasih obat, gitu deh kasarnya. Soal Rasional Use of Medicine (RUM) di Belanda, ceritanya panjang, kapan-kapan aku pengen nulis khusus untuk itu. Kali ini, aku mau tulis tentang pengalaman temanku saat melahirkan yang cukup unik. Aku pas denger sampe bengong hehe.
Selengkapnya…