Aku tak menyesal, malah bersyukur karena pernah bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Belanda. Dua bulan aku bekerja jadi cleaning service di rumah sakit dan 6 bulan aku bekerja di rumah-rumah orang-orang tua, membersihkan rumah-rumah mereka. Pengalaman itu sangat berharga, selain ampuh untuk melatih ego, yang paling terasa adalah soal cara bersih-bersih rumah. Aku jadi sensitive soal bersih-bersih, liat noda dikit aja langsung gatel deh pengen bersihin (meskipun kalo sibuk ya ditunda dulu gatelnya hehe). Aku juga jadi sadar, bahwa aku tuh dulu bener-bener ga peduli soal kebersihan rumah, karena dulu cuma tahu beres aja, wong ada orang lain yang bersihin.

Keep reading…


Persiapan yang Nano-nano

Read More: Diary Mommy Back To School

Liburan summer kali ini merupakan liburan yang paling ga well prepared buat aku. Malah dalam dua hari terakhir, waktu aku di Praha, hatiku terbelah dua, antara udah capek buanget jalan-jalan dan di kepala udah sibuk dan exited dengan email-email dari Berlin maupun dari Bordeaux yang ngasih pengumuman-pengumuman untuk persiapan awal sekolah.

Aku akan mulai course tanggal 13 September 2010, tapi aku harus sudah sampai di Berlin tanggal 4 atau 5 September 2010. Sebelum course dimulai aku dan teman-teman akan mendapatkan pelajaran bahasa Jerman selama seminggu full dari pagi sampai sore. Kata Gisella, sekretaris programku, kursus bahasa ini yaa ga cukup sih buat fasih bicara bahasa Jerman, tapi lumayan lah untuk belanja atau keperluan sehari-hari. Dan yang kutahu bahasa Jerman dan Belanda itu rada mirip dalam beberapa hal, semoga bisa memudahkan aku.

Keep reading…


Hmm..apalagi yang belum? Oya, tinggal menulis motivation letter. Duh harus ditulis tangan pulak, padahal sejak dulu tulisan tanganku terkenal sebagai tulisan yang paling amburadul diantara teman-teman. Tantangannya kali ini, isi nya harus padat berisi tidak boleh lebih dari 1 halaman, tapi motivasi personal harus tersampaikan. Phf…siap-siap cari kursi dan meja. Setelah aku konsep terlebih dulu isi surat di dalam file komputer, aku pun lantas menyalinnya ke selembar kertas. Srat…sret..srat..sret…selesai. Aku baca ulang isinya, ternyata ya ampuun…ada dua kata salah tulis. Sreet! Terpaksa kuremas kertas pertama, dan kucemplungkan dalam tempat sampah. Tulis lagi…”Waduh pinggir kanannya koq zigzag seperti alur Zebra begini.” Sreet…kertas kedua masuk tempat sampah lagi. Lanjut kertas ketiga, perfect! “Lho…lho tapi setelah dipikir-pikir harusnya bagian ini ga usah ditulis kali ya, ga terlalu nyambung, jadi kepanjangan suratnya.” Sreet….kertas ketiga pun meluncur ke tempat sampah. Lanjut Maang! Adaaa… saja salah-salah kecil yang kubuat sehingga aku harus bolak balik menulis lagi dan lagi mungkin hingga sepuluh kali. Wadaw! Tapi demi sempurnanya surat lamaran beasiswa, ya harus dijabanin lah.

Keep reading…


Aku pun segera bertindak. Kukabari sekretaris KIT, kutanyakan padanya, mungkinkah aku membatalkan diri untuk masuk bulan Maret dan masuk bulan September saja, itu pun kalau pengajuan beasiswaku tidak diterima oleh Erasmus mundus. Untungnya, si sekretaris menjawab,’No problem’. Aku tenang, karena kalau pun aku tak diterima oleh Erasmus mundus, aku masih punya cadangan. Dan itu artinya, suamiku masih punya tambahan waktu untuk mencari uang. Aku lalu memulai petualangan, petualangan menaklukan beasiswa!

Keep reading…