HIV dan Obsessive-Compulsive

Pertanyaan :
Mommies,
Beberapa waktu yg lalu saya sempet ngobrol di telpon sama temen di Surabaya soal virus HIV. Sampelah omong-omong kita ke cara penyebarannya. Dia pernah baca di sebuah artikel kalo jarum suntik yg bekas digunakan seseorang yg menderita HIV kalo dibiarkan saja selama 30 menit, nanti virusnya akan mati sendiri, jadi kita sih tidak usah terlalu “freak-out”. Kurang lebih gitu deh omongan beliau ini.

Tentu aja saya gak setuju, soalnya saya belum pernah dengar soal ini. Akhirnya kita saling ngotot pd pendapat masing-masing. Yg ingin saya tanyakan, betul tidak sih pendapat temen saya tadi? Menurut temen-temen, saya ini agak “freak-out”… selalu khawatir ini-itu… bahkan saya aja gak seneng seandainya pisau dapur jadi bahan pinjem-pinjeman (rada gak tega aja, lagian takut klo orang lain tangannya keiris dan darahnya kena ke pisau terus nyuci pisaunya kurang bersih… hiiiii..). Jangankan soal HIV, katanya lagi saya tuh paling ribut soal kebersihan, dikit-dikit takut gak sterile.. makanya dicibir habis-habisan sama dia. Malah ada temen saya yg bilang kalo saya tuh kayak Monica Geller di film “Friends”… sebel khan? Mosok saya obsessive-compulsive gitu sih?

Saya jadi introspeksi, soalnya kata suami, emang sih saya rada-rada gitu. Dia malahan bilang, mosok nggantung baju aja arahnya harus sama, seisi rumah pengaturannya harus alphabetical order A to Z, cuci tangan tiap menit, sampe tidur di hotel pun khawatir kalo gak bersih dan gak tega ngebayangin bekas dipake orang banyak … itu baru contoh-contoh yg paling terlihat… gitu deh katanya… makin sebel khan saya? Kata suami saya, germphobia…. istilah bikinan dia tuh.. Apa bener saya nih menunjukkan obsessive-compulsive?? (Na’udzubillah deh!)

Mommies di WRM khan banyak yg dokter (mungkin ada juga yg psychiatrist
;-) )… boleh dibantu bagi-bagi infonya. Makasih banyak sebelumnya.

Wassalam,
Mom D di Minneapolis

Jawab:

Dear mom D n moms,

Seperti kita tau, HIV itu menyebar terutama lewat darah, cairan-cairan (sperma/vagina), dan plasenta (ibu ke janin). Jadi, jalur utama penularannya adalah lewat transfusi, jarum suntik dan hub sex.

Pertanyaannya, jarum suntik bekas pakai pengidap HIV kalau dibiarkan 30 menit apakah masih menular? Sebetulnya tergantung jumlah konsentrasi si virus. Kalau dalam konsentrasi sangat tinggi, ada peneliti yang bilang, diluar tubuh, dia bisa hidup dalam hitungan jam/ hari baru kemudian mati.

Tapi prinsipnya virus ini hanya bisa hidup dalam wadah tertutup, tak tahan dengan udara luar. Ketika virus ini terpapar udara luar, bukan udara yang menyebabkan dia mati, tapi paparan udara nya membuat cairan yang
membawa virus jadi kering, sehingga si virus tak tahan dan mati. Virus ini bersifat fragile, mudah sekali rusak oleh perubahan suhu, dan dia butuh oksigen
supaya bisa hidup. Jadi misalnya terkena air panas, sabun, bleaching agent atau alkohol, dia bisa cepat rusak atau mati.

Jadi dalam keadaan lingkungan normal (jumlah konsentrasi virus standard), setelah 30 menit, jarum suntik bekas pakai pengidap HIV memang bisa dikatakan aman karena si virus akan cepat mati. Apalagi penularan sebenarnya baru terjadi kalau si jarum disuntikkan ke tubuh orang lain lewat pembuluh darah. Sebetulnya yang bisa menularkannya adalah sisa darah di syringe/spuit dari jarum suntik bekas pakai tadi (bukan darah sisa di jarumnya). Darah ini ada dalam wadah tertutup (syringe), jadi kalau dipakai lagi oleh orang lain, sangat mungkin akan menularkan virus, karena si virus masih hidup.

Walaupun jarum suntik itu aman dari HIV, tapi tidak aman buat virus hepatitis B/C. Virus hepatitis B/C ini tidak mudah rusak seperti HIV. Jadi kalau misalnya
kita memegang jarum suntik bekas penderita HIV, barangkali aman dari HIV, tapi tetap terancam terinfeksi hepatitis B/C.

Kesimpulannya moms, tetep aja harus hati-hati sama jarum suntik bekas pakai. Oya, kalau masalah alat cukur, atau kena cairan/darah kering pengidap HIV,
sebetulnya kemungkinan tertularnya kecil. Tapi tetap aja harus hati-hati karena, takutnya waktu memegang itu, ada luka kecil di bagian tubuh kita yang kasat
mata, dan si virus bisa masuk lewat situ. Lebih baik mencegah daripada mengobati kan moms :-)

Prinsipnya memang hati-hati, tapi kalau terlalu hati-hati apa nggak jadi obsessive-compulsive ya? :-)

Sebetulnya untuk mendiagnosa seseorang terkena obs-compulsive Disorder (OCD) ini perlu pengamatan dan syarat-syarat yang panjang dan tidak mudah. Mungkin yang lebih sering terjadi adalah obsesive-compulsive personality Disorder (OCPD), karena kalau OCD kondisinya biasanya lebih parah. Disebut OCPD pun bila gejala sudah berlangsung lama (biasanya muncul sejak ABG) dan mengganggu kerja serta hubungan sosial.

Jadi lebih baik berpikir tak terlalu jauh dulu. Tapi sebagai gambaran, ada 8 kriteria gejala, kalau ada 4 gejala atau lebih ada di seseorang, maka kemungkinan dia mengalami OCPD. Kira-kira kriterianya begini moms :
1. Kalau mengerjakan sesuatu maunya detil, rapi, pake daftar, organized dan terjadwal.
2. Merasa banyak ragu dan hati-hati sekali kalau mau melakukan sesuatu
3. Perfeksionis dalam menyelesaikan tugas-tugas
4. Terlalu hati-hati, teliti dan bekerja berlebihan dan tak mau melakukan kegiatan menyenangkan atau berteman.
5. Sangat taat pada aturan sosial
6. Kaku dan keras kepala, pelit
7. Keukeuh , tak mau menerima pendapat orang lain/ suka memaksakan pendapatnya
8. Tanpa alasan menolak melakukan sesuatu jika diminta oleh orang lain, enggan mendelegasikan tugas/ bekerja sama dengan orang lain.

Nah kalau ada 4 kriteria atau lebih, sudah berlangsung lama dan mengganggu hub sosial dan pekerjaan, baru deh ke psikiater :-) Itu pun biasanya therapi nya nggak pake obat, tapi pake terapi behaviour.

Jadi kesimpulannya hati-hati memang perlu ya moms, tapi supaya nggak jadi hati-hati yang berlebihan, mungkin kuncinya pasrah, ikhlas, yakin dan pede aja
insya Allah, Tuhan sayang ama kita kali ya :-). Selama kita selalu di jalanNya, mudah-mudahan dijauhkan dari segala penyakit itu. Amin…

Gitu deh moms, semoga membantu ya, dan maaf lho kalo ada yang kurang berkenan.

Wassalam hangat,

Agnes

You May Also Like

About the Author: Agnes

Comments are closed.