Si bungsuku, anaknya kritis, punya determinasi kuat dan ngeyelan. Tapi kalo udah dijelasin dengan logis baru deh diem. Belakangan ini Aik mulai sering tanya-tanya lagi, kelakuannya juga semakin keliatan cowok banget ditambah suka ga bisa diem sampe mba lala bilang,”Mungkin karena dulu pas hamil Aik bunda ga tau dan masih senam loncat-loncat sampe hamil 3 bulan makanya aik suka loncat-loncat dan ga bisa diem ya bun,” hehe. Selengkapnya…
Archives for “Lala dan Malik”
Tambah Dewasa
Filed under Diary Mommy Back To School, Lala dan Malik
“Bunda kenapa lesu?” tanya Aik sehabis makan malam beberapa hari lalu. Aik kalo ngomong lesu, pasti ngomong ‘Le’ nya gaya orang batak, jadi lucu banget kedengerannya hehe. Dan herannya tuh anak emang selalu bisa baca bahasa tubuh aku, jadi tebakan dia selalu bener.
“Bunda lagi pusing Ik. Bunda kan bentar lagi mau ke Berlin, sementara yang bunda harus kerjain masih banyak, belum bikin diari perjalanan liburan kemaren, terus naskah bunda belum selesai, padahal kalo ga selesai sekarang ya bukunya ga bakal jadi, terus bunda juga harus belajar statistik dulu biar bunda bisa (si Bunda meuni keukeuh ketakutan ama statistik :D).” Selengkapnya…
Afzwemmen Diploma
Filed under Lala dan Malik, Tentang Belanda
Barusan aja, jam 10-11 pagi, Malik ujian berenang untuk dapetin diploma C alias afzwemmen voor diploma C bareng temen-temen di sekolahnya. Kebetulan aja pas di grup 5 di sekolah Malik diajarin berenang. Sebetulnya Malik juga ikut les berenang karena alhamdulillah kolam renangnya deket banget di belakang rumah. Sebulan anak-anak bisa berenang 2 kali seminggu selama setengah jam tiap berenang, dengan biaya 34 euro per bulan. Di Belanda, kalau anak dapat diploma berenang ini heboh banget deh, oma, opa, mama, papa, tante, om semua pada dateng ngeliat, sibuk motret dan ngeshoot, lalu bawain bunga atau kado. Setelah anaknya keluar, gantian si Oma-opa, tante, om itu pada ngasih selamat dan cium. Orangtuanya juga bisa pesen tegel keramik yang bertuliskan ‘Diploma C afzwemmen’ seharga 7,5 euro per tegel.
Diploma A, B dan C ini adalah tingkatan keahlian berenang. Ujiannya makin lama makin susah. Untuk diploma B dan C ada ujian yang mengharuskan anak-anak untuk pake baju lengkap, celana panjang (bukan jins), baju kaos panjang, sepatu berenang plastik dan jas hujan. Nah dengan kostum seperti itu, mereka harus bisa berenang dengan gaya punggung bolak-balik kolam renang sejauh 50 meter (bolak-balik). Mereka juga harus melakukan gaya lain yang aku ga ngerti deh namanya. Selengkapnya…
Hasil Konsultasi GGD Malik
Filed under Diary Kesehatan, Lala dan Malik
Hari kamis tanggal 10 Juli lalu giliran Malik yang ke GGD. Malik ditimbang dan diukur tingginya. Beratnya 24,5 kg dan tingginya 128,5 cm. Lalu juga ditanya soal imunisasi, tahun depan aik akan dapat imunisasi ulangan 2 kali. Biasa deh lalu aik ditanya, kamu di pesten ga, di sekolah gimana suka ga. Apa kamu suka mimpi buruk? Aik jawab,”Ya aku suka mimpi buruk kalo aku sakit.” Hehe inget dia. Terus si mevrouw nya liat Aik ngantuk. Aik ditanya jam berapa tidurnya. Aik jawab jam setengah sepuluh malem. Wah langsung deh mevrownya kaget.”Itu terlalu malem untuk anak Belanda, anak Belanda tidur jam 8 malam biasanya. Anak itu butuh tidur cukup untuk proses pertumbuhannya meskipun kebutuhan tiap anak beda. Tapi rata-rata untuk umur malik butuh 10 jam.” Selengkapnya…
Kemarin adalah kali terakhir Lala pergi ke GGD, tempat ini semacam posyandu komplit untuk anak usia 4 tahun hingga remaja. Biasanya, setiap tahun ada panggilan dari GGD untuk tiap anak. Anak-anak ini akan diperiksa pertumbuhan berat badan-tinggi badannya apakah masih dalam batas normal atau tidak, imunisasinya lengkap atau tidak, ada keluhan mata atau tidak, bagaimana pola makannya, olahraga, dan juga orangtuanya akan ditanya ada kesulitan ga dalam mengasuhnya. Kalau ada masalah, akan dibuatkan janjian khusus atau dirujuk khusus ke tempat yang diperlukan. Selengkapnya…
Selain memang lagi bokek (yang ga habis-habis hehe), ada rasa malas ketika mendapatkan tawaran untuk mengikuti ESQ Parenting perdana di Delft, tanggal 6 Juni kemarin. Namun, sebagai seorang yang peduli terhadap dunia parenting (ehm…) dan punya mimpi untuk berbuat sesuatu di area child health and wellbeing, aku lalu mengompori suamiku untuk memutuskan ikut. Selain itu, motivasi terbesar lainnya adalah lantaran masih ada satu obstacle terhadap anak-anakku dalam diriku yang aku rasa kerap mengganggu. Aku belum bisa seperti suamiku yang sungguh bisa menerima anak-anakku apa adanya sepenuhnya, sehingga tidak terganggu dengan pandangan orang lain atau komentar negatif tentang mereka. Aku berharap ESQ parenting bisa memberikan pencerahan spiritual untuk menghilangkan obstacle tersebut. Dengan dua alasan itu, maka akhirnya di hari minggu pagi lalu, kami bergegas menyiapkan diri untuk pergi ke Delft, juga bersama anak-anak. Selengkapnya…
Moeder Dag
Filed under Lala dan Malik, Tentang Belanda
Pagi-pagi sekali, hari minggu tanggal 9 Mei, kami harus buru-buru naik kereta api menuju Efteling park di S’hertogenbosh. Tapi meski buru-buru, Lala dan Malik tetap menyempatkan ngambil kado yang sudah sejak beberapa hari sebelumnya di sembunyikan di atas lemari. “Vijne moeder dag bunda!” (selamat hari ibu Bunda!”. Diberinya serangkai bunga, terdiri dari tiga tangkai bunga tulip dari kertas warna warni yang dibungkus plastik rapi. Bunga ini memang dibuat disekolah khusus untuk para mama di hari moederdag dari tiap anak-anak kelas grup 7, kelasnya mba lala di SintPetrus School. Di dekat plastik itu terjepit selembar kertas mungil seukuran 2×4 cm, ucapan pake bahasa Inggris lho, isinya bagian depan gini:
“Ma, sini Ma!” panggil suamiku. Aku yang masih ngos-ngosan setelah lompat-lompat ngikutin program sport di VCD, ogah-ogahan.”Duuh ntar deh Yah, masih cape banget nih.” Eh tapi tumben-tumbennya suamiku keukeuh.”Ma, harus kesini, this is important!” Tegasnya. Waduuw, ga berani nolak deh kalo suamiku udah ngomong begitu. Meski nafas masih ga keruan, aku segera turun tangga.
“Look what your son just watched!” tegas suamiku lagi. Deg! Irama jantungku mulai berdegup tambah kenceng.”What? Film porno? Oh No!..my 8 year old Son’s, yang masih imut dan lucu dan menggemaskan itu?! Yang masih demen maen boneka binatang itu?!” Aku mulai panik. Selengkapnya…
Dari sejak beberapa hari sebelum hari ulangtahunku, lala dan Malik udah heboh siapin hadiah. Kalo aku masuk kamar mereka, mereka terus teriak-teriak,”Bunda ga boleh masuk, bunda ga boleh liat!” Terus tiap habis makan malem juga mba lala atau Aik selalu bisik-bisik sama ayah,”Wes..wes..wes…wes…” Lala nempelin mulutnya ke telinga ayah sambil ngomong-ngomong sesuatu.” Sebelumnya, Lala selalu ingetin Malik,”Malik, kamu harus ajak ngomong Bunda, biar Bunda ga bisa denger omonganku ke ayah!” Gitu kira-kira artinya dalam bahasa Indonesia. Hihi bunda suka geli sendiri ngeliatnya.
Kapan hari sepulang sekolah, Malik, 8 tahun, tiba-tiba nggremeng sendiri sambil nyanyi-nyanyi, ngomong gini,”Ik heb seks met Liane, Ik heb seks met Liane.” What?! Langsung dong telinga ku berdiri dengernya. Waduh, anak gw mulai ngomong-ngomong soal ginian, pasti dari temen-temennya nih, mulai panik dong diriku, kuatir temen-temennya udah meracuni dia yang enggak-enggak. Aku yang ada di lantai dua sampe turun tangga dan mencoba mendengarkan lagi baik-baik takut aku salah denger. Tapi enggak tuh, Malik bener-bener ngomong gitu, dan aku tahu banget, Liane itu satu-satunya temen perempuan sekelas Aik yang dianggap temen sama Aik. Temen perempuan lainnya kata Aik bukan temen, bener-bener cuma Liane seorang. Jadi menurut Aik, temen Aik itu adalah temen laki-laki yang deket sama Aik (ada 10 orang) plus Liane, padahal ada 30 orang anak di kelas Aik.
Pulang sekolah Malik ke dokter gigi. Aik udah bete di sekolah, bunda dateng pertanyaannya langsung gini,”Aik ga mau dicabut gigi!” katanya sambil merengut. “Ga dicabut koq Ik, kan kata dokternya cuma ditambal.”
Sepanjang jalan Aik bete, pas nunggu di ruang tunggu juga masih bete dan ketakutan kalo dicabut. Pas giliran masuk, Aik nangis. Dokternya langsung bilang,”Kenapa kamu nangis?”
Behavior Change
Filed under Diary Parenting, Diary Spiritual, English Corner, Lala dan Malik
“If you have set a rule, discussed it with your children and they have agreed, no more discussion!” Said Marlyn, the psychologist of Malik. “When they broke the rule, don’t argue a lot because children in your children’s age need your authority. I don’t say that there is no room for discussions, of course they also need discussions, but not for the rule that you have made. The story will be different if we talk about adolescent, we have to be more flexible, but again, in your children’s age they need disciplines,” Marlyn continued.
That was one of our conversation’s topic in our second meeting last Friday, when my husband and I came to the psychologist. Why we had to go to the psychologist, then? The story began when we met Malik’s teacher in November 2009, and he wondered whether my son like to go to school or not. He said that my son was easy to get angry, cranky, often looked sad at school and preferred to be alone. I was surprised to hear that because I also had the same problems at home, and it has been happening since 1,5 years ago. I noticed that indeed my son has changed his behaviors and it made me sad because lately, I argued a lot with him and I was often loose my patient. Before that, he was a sweet, cute, an easy going child and I had never got a a ‘bad story’ from his teacher as well. Every body liked him and I seldom had any problems with him.
Hari sabtu kemarin kami pergi ke corpus museum, alias museum tubuh manusia di Leiden, buat aku sih seru banget, dejavu inget pelajaran anatomi dan fisiologi, berikut tersentuh dan terharu mengingat kebesaran Allah. Menurutku museum itu bagus banget meskipun ya memang cukup mahal seh dibanding museum lukisan, dan misinya cukup berhasil karena pulang dari sana aku dan anak-anakku jadi semakin ingin untuk hidup sehat. Aku pengen banget bikin tulisan tentang tur itu dan niatnya aku akan kirim ke salah satu majalah, kalo ga dimuat baru lah aku publish di blog sendiri, mudah-mudahan beneran terealisasi.
Selama tour yang 1 jam dimana kami kaya dibawa bener-bener masuk ke tubuh manusia, anak-anak anteng dengerin dan penasaran ingin tahu apalagi, apalagi selanjutnya. Pas ke bagian interactive yang ada 5 bagian, mereka yang dicari ya bagian interaktive nya, bagian tulisan-tulisan di dinding selintas-selintas aja di bacanya meski sudah ditulis dan diberi gambar menarik. Terus biasalah anak-anak pengen majuuu terus liat yang lain, aku jadi ketinggalan terus di belakang.
Pesta Ulang Tahun ala Anak-anak Belanda
Filed under Diary Parenting, Lala dan Malik, Tentang Belanda
Di Diemen, alhamdulillah kami dapat rumah lebih besar daripada waktu di Groningen. Alhasil, kami bisa mengadakan pesta ulang tahun untuk anak-anak di rumah. Selain ngirit, lebih efisien juga kan. Jadi akhir tahun 2009 dan awal 2010 kemarin adalah kali pertama kami mengundang anak-anak Belanda untuk merayakan pesta ulangtahun Lala dan Malik. Ternyata pestanya anak perempuan dan laki-laki beda bangeet!
Di Ulang tahun Lala, Lala mengundang semua teman perempuan di kelasnya. Di antara 22 orang murid, anak perempuan di kelas Lala memang hanya 6 orang dengan Lala. Alhasil ke 6 orang anak itu sajalah yang di undang. Ada Michella, Demi, Rooselyn, Megan dan Kasmayla. Untungnya semuanya datang pada jam satu siang di hari Sabtu. Karena besoknya Lala mau ke Norway, Lala juga mengundang Mila anaknya tante Nurul, serta Astrid dan Amel, anak tante Popy dari Leiden. Aku sudah siapkan menu khusus untuk anak-anak itu, ada mie goreng, ayam goreng, sup asparagus, capcay, pudding semangka dan dolphin cake pesanan Lala. Dan ternyata kebiasaan anak-anak Belanda kalau party, makanannya tidak terlalu heboh. Anak-anak juga tidak terlalu suka tart. Alhasil yang dimakan hanya ayam goreng dan mie goreng. Untung ada teman-temanku orang Indonesia yang datang juga, jadi makanan lumayan ludes, hanya bersisa sedikit. Mie goreng juga jadi favorit teman-teman Lala. Selengkapnya…
Malik dan Lego
Filed under Diary Parenting, Lala dan Malik
Kalau ditanya apa kesukaan Malik, jawabannya tentu saja, Lego! Memang sih Malik juga suka sama komik doraemon, tapi tetap tidak mengalahkan Lego. Malah ketika bunda iming-imingin Aik beli PS, Aik bilang gini,”Nee, Aik mau beli Lego aja Bun yang besar dan mahal itu.” Kenapa Ik? Nanti kalo Aik ga punya PS, Aik malah main terus di rumah temen Aik,” Bunda penasaran. “Itu saai Bun, Aik bosen.” Duilee gaya bener deh.
Tapi Malik memang betul-betul tergila-gila sama lego. Waktu masih balita, mula-mula Malik suka tokoh Bob the Builder. Makin besar umurnya terus ganti Cars. Tapi mainan yang dibeli ya lego Bob the Builder untuk anak balita yang besar-besar itu. Aik pernah punya cars, mobil yang jejer-jejer dalam truk, tapi juga ga terlalu suka. Terus Aik juga sempet koleksi playmobil Dinosaurus sampe komplit, karena pas ulang tahun atau dapat uang dari hasil jadi still stand, uang Aik selalu dibeliin play mobil Dino. Tapi setelah komplit, Aik berganti haluan, jatuh cinta sama lego powerminers. Wah semua jenis powerminersnya Aik punya, hanya beberapa aja yang belum. Kemaren waktu mbak Lala ke Norway, Aik kasih ijin, tapi sebagai imbalannya, Aik dibeliin lego power miners yang harganya cukup mahal. Hadiah ulang tahun Aik ke delapan dari hasil bongkar celengannya juga hampir semua dibeliin lego power miners dan lego-lego yang lain. Selengkapnya…
Lala dan Buku
Filed under Diary Parenting, Lala dan Malik
Sejak bulan Desember 2009, mbak Lala mulai pakai kacamata karena minus matanya tiba-tiba langsung 2,5 dan 1! Wadaw! Bunda kaget dong. Koq bisa langsung gede begitu. Tapi akhirnya maklum, ya ga heran lah, lha wong mbak Lala hobinya baca, baca, dan bacaaaa aja. Sejak kecil dan sejak umur 7 tahun, mbak Lala sudah melahap habis buku-buku cerita tebal yang Bunda aja kalo ngeliat mblenger hehe. Soalnya bahasa Belanda dan tebel gitu loh. Buku favorit mbak Lala adalah Geronimo Stilton. Dari sejak di Groningen, kalau mbak Lala ulang tahun, buku seri-seri Geronimo Stilton ga pernah ketinggalan jadi hadiah. Mbak Lala juga hobi ke perpustakaan dan pinjem buku-buku dari perpustakaan. Buku yang dipinjem mbak Lala kebanyakan cerita hantu. Ada serial yang khusus untuk anak seumur mbak Lala judulnya ‘Het Geheim van…” mbak Lala juga suka banget tuh. Selengkapnya…
Akhir Mei 2009, kami kumpul-kumpul milis Ab (anak berbakat) di rumah bu Julia di Heiloo deket Alkmaar, dan ternyata ada wartawan dari radia ranesi nederland mau meliput. Alhasil kami di wawancara, foto-foto dan di shoot juga sambil makan enak. Hasil liputannya seperti di bawah ini. Lebih lengkapnya, foto-foto dan videonya bisa dilihat disini.
Setiap Sabtu kedua bulan Juni, Belanda menggelar Hari Keberbakatan Tinggi. Menurut catatan, 330 ribu penduduk Belanda berbakat tinggi, sekitar 2% masyarakat. Banyak orang punya gambaran salah tentang keberbakatan tinggi.
Intelektual, tak mementingkan hal-hal duniawi dan mampu melakukan segalanya. Itulah tanggapan pertama masyarakat orang berbakat tinggi. Tapi gambaran ini tidak sesuai dengan kenyataan. Selengkapnya…
Misalnya Ada Mama Baru
Filed under Diary Parenting, Lala dan Malik
Nenek bunda yang dari ayah bunda beberapa hari lalu meninggal. Trus bunda cerita ke Lala dan malik. “Bundanya Yangkung meninggal mbak lala. Waktu itu kan yang meninggal step moeder nya (ibu tirinya), yang ini mama echt nya (mama betulannya). Yangkung punya dua mama.Tau nggak mama tiri itu apa?” Mereka menggeleng.
Lalu Bunda pun menjelaskan, ngambil sample ayah, maksudnya biar mereka juga ga mau kalo punya mama tiri gitu loh, (ada udang di balik batu nih bunda sebenernya hehe). Trus bunda bilang gini,”Ini voorbeeld (contoh) ya. Misalnya ayah punya istri baru. Aik sama mbak lala jadi punya mama lain. Mau nggak?”
Lala: “Nee..!”
Aik : “Mau..” (haduuh bunda sedih bener dengernya hehe tapi bunda maklum aik emang blom ngerti)
“Tapi Ik kalo aik punya mama baru, nanti aik ga kebagian ayah lho. Nanti mama baru itu punya anak lagi dari ayah. Aik jadi punya adek tiri.”
Aik: “Scatige…(lucu) itu asik Bun, ada adek kecil.” (Haduuh! Bunda haduh lagi deh)
“Tapi Ik, nanti Aik sama mbak lala berkurang waktunya sama ayah. Misalnya nih ayah dari hari minggu sampe Rabu di rumah kita, naa nanti hari kamis sampe hari sabtu, ayah harus di rumah mama baru itu.”
Lala:”Jangan sampe hari Rabu Bun, sampe hari Kamis aja, hari kamis kan mbak lala les piano.Nanti yang nganter mbak Lala siapa?”
Bunda: Hadududu! Gedubraks… Kerompyang deh! dasar anak-anak! hehehe
Cabut Gigi M3
Filed under Diary Kesehatan, Lala dan Malik
Seminggu lalu aku ke dokter gigi. Niatnya sih cuma mau lapor-lapor dulu karena di daerah gigi M3 (molar tiga) aku yang kiri sering bengkak gusinya. Saat itu gusiku juga masih agak-agak bengkak dikit. Sampe ruangan periksa, dokter langsung rontgen area gigiku kanan kiri. Habis itu eeh ndilalah lah koq dokternya bilang langsung suruh cabut saat itu juga. Haduuuh mati aku rek! Nggak ada persiapan fisik dan emosional blas! Aku kalo suruh ‘ngobok-ngobok’ sih mau, tapi giliran di obok-obok, walaah keringet dingin dan mules deh langsung.
Selengkapnya…
Kambing Hitamnya si Kesel
Filed under Diary Parenting, Lala dan Malik
“Bunda, Aik mau ngambil satuuuu aja mainan,” kata Aik merayu. Biasa deh Aik kalo lagi makan pasti nggak bisa diem, maunya bawa mainan, atau pergi kesana kemari. “Oke, afspraak (kesepakatan) ya hanya satu,” jawabku. Aku mulai kesel liat Aik yang nggak pernah bisa duduk manis kalo makan. Dan Aik langsung ngacir. Tunggu punya tunggu, lama bener Aik ngambil mainan di tempat lego. Malah kedengaran suara keletak keletuk, Aik lagi pasang-pasang lego. Eeh malah maen dia, padahal jam udah hampir 8.30 pagi, dah bener-bener hampir terlambat. Mulailah sabarku nguap. “Aik, nanti terlambat ke sekolah, ayo duduk, habisin makannya!” kataku sambil berusaha banget nahan bete.Dah lumayan tuh nggak pake teriak keras-keras, cuma emang judes sih dan pake gaya merintah tentu aja. Selengkapnya…
“Pencarian Tuhan ala Bocahâ€
Filed under Diary Parenting, Lala dan Malik
“Allah itu dibikin dari apa Bun?†tanya Malik polos. Jujur, saat itu saya bingung menjawab pertanyaannya. Semalam saya tak bisa tidur. Iseng-iseng, saya membuka kembali catatan harian tentang perkembangan spiritual anak-anak saya. Saya jadi teringat, tiga bulan lalu, Malik, putra saya yang berusia 4,5 tahun, memang sedang gandrung dengan pertanyaan seputar Allah. Karena bingung, saya balik bertanya,â€Menurut Aik, Allah dibikin dari apa?†Tanpa ragu, ia seketika menjawab,â€Dari angin Bun.â€
Wow dari angin? Saya kaget dengan jawabannya. Tapi saya dan suami meyakini bahwa anak-anak adalah makhluk spiritual. Kami sepakat untuk berusaha memberikan kebebasan berpikir dan membuat mereka tak terkekang dogma. Kami yakin imajinasinya tak perlu dihambat, hanya perlu diarahkan hingga akhirnya ia bisa menemukan sendiri jawabannya. Jadi, jawaban Malik saat itu saya biarkan saja. Saya hanya balas bertanya,â€Kenapa Allah terbuat dari angin Ik?†“Karena Angin nggak keliatan Bun, Allah juga nggak keliatan,†balas Malik. Hmm…alasannya memang logis, pikir saya. Tapi karena saya sedang repot, diskusi kami saat itu terhenti. Saya katakan padanya untuk bertanya lain hari pada ayahnya. Selengkapnya…
Mau Pipisin Bunda
Filed under Diary Parenting, Lala dan Malik
Gambar Aik sedang nangis karena berbuat salah kepada Bunda. Aik sayang bunda. Bunda sayang Aik.
“Aik mau pipisin Bunda!” kata Aik sambil betul-betul mengeluarkan kemaluannya di depanku. Aku terhenyak. “Aik!” Sentakku. Ya Allah, kenapa anakku sangat tidak sopan begini. Apakah aku telah gagal menjadi seorang ibu yang baik? Sesak merayapi dadaku. Dan api mulai menyala di hatiku. Mendadak kisah Malin kundang pun berkelebat dalam kepalaku. Panas api itu semakin membakar rasanya. Kucoba untuk menahan diri. Tak kukeluarkan sepatah kata pun. Aku tak ingin menodai keberhasilanku. Aku sudah cukup sukses menghadapi Lala. Setelah kesadaran baru dari mbak Neno, seingatku aku tak pernah lagi memarahi Lala. Haruskah kini aku mendapatkan ‘mangsa’ baru?
Selengkapnya…
Diploma Gips Lala
Filed under Lala dan Malik, Tentang Belanda
‘Night For Atjeh”
Filed under Lala dan Malik, Tentang Belanda
Hari Kamis, tanggal 13 Januari 2005 ada acara “Night for Atjeh” di Grote Mark. Acara ini diselenggarakan oleh PPI Groningen dan bertujuan untuk menggalang dana bagi Aceh. Bunda hanya bisa menyumbang tenaga dengan membuatkan baso tahu dan siomay untuk dijual di acara tersebut. Ayah sebetulnya diminta untuk presentasi tentang rencana jangka panjang bagi Aceh, tapi karena sedang sibuk, ayah hanya menyanggupi untuk membaca puisi.
Ulang Tahun Ayah di Rumah
Filed under Diary Parenting, Lala dan Malik
Ulangtahun ayah bertepatan juga dengan ulang tahun Malik, tapi acara ulangtahun Malik sudah digabung dengan Lala beberapa minggu sebelumnya. Bunda, Lala dan Malik sudah berencana sejak sehari sebelum hari ‘H’ untuk memberikan kejutan kepada ayah. Pagi hari, ketika ayah hendak pergi ke kantor, kami semua cuek, seolah tidak terlalu peduli dengan hari ulang tahun ayah. Padahal, kami punya kejutan lho setelah ayah pulang.





