GGD, Pos Yandu-nya Anak Besar

Kemarin adalah kali terakhir Lala pergi ke GGD, tempat ini semacam posyandu komplit untuk anak usia 4 tahun hingga remaja. Biasanya, setiap tahun ada panggilan dari GGD untuk tiap anak. Anak-anak ini akan diperiksa pertumbuhan berat badan-tinggi badannya apakah masih dalam batas normal atau tidak, imunisasinya lengkap atau tidak, ada keluhan mata atau tidak, bagaimana pola makannya, olahraga, dan juga orangtuanya akan ditanya ada kesulitan ga dalam mengasuhnya. Kalau ada masalah, akan dibuatkan janjian khusus atau dirujuk khusus ke tempat yang diperlukan.

Tahun lalu, setelah dari GGD, ketahuan kalau Lala matanya minus, lalu ia dirujuk ke dokter mata dan harus pakai kaca mata. Kemarin Lala hanya diperiksa TB dan BB nya, (136,5-27,5). Komposisi ini termasuk kecil untuk orang Belanda, tapi yang penting grafik pertumbuhannya naik dan ga ada masalah. Lala juga ditanya: seneng ga di sekolah, ada yang pesten (ngegencet atau bully) ga di sekolah, masih suka sakit kepala ga? Dan Lala jawab masih kalau laper.”Nah apa itu artinya?” tanya si ibu petugas. “Artinya kamu harus punya jadwal makan yang teratur.” Sebetulnya Lala ya udah teratur jam makannya, tapi kadang kuperhatikan kalau rotinya ga enak ga dimakan dan bosen juga sama roti kali ya, sebab tiap siang makannya rotiiii melulu. Tapi dibawain nasi juga dia ga mau beda sama temennya. Lagian praktis juga sih buat emaknya ga perlu repot he.

Lalu aku ditanya ada masalah dalam mengasuh Lala ga? Kubilang sampai sejauh ini semakin baik, masalah-masalah yang dulu udah ga ada. Dan soal sosialisasi, Lala bisa koq bersosialisasi, tapi memang buat Lala ga perlu banyak-banyak teman, satu atau dua aja udah cukup bagi dia. Nah lalu aku tanya soal perubahan diri gadisku yang belakangan kalo dibilangin suka bilang,”Ya..ya aku udah tau…aku udah tau!” sambil rada ngambek. “Sepertinya ini perubahan karena menjelang masa pubertas, bener ga?” tanyaku pada si ibu. “Ya bisa betul. Sebetulnya dia begitu pasti ada sebabnya, mungkin capek atau apa. Kalau kami disini mengelompokkan anak usia puber sejak 12 tahun. Tapi 10 tahun memang bisa dibilang masuk masak prepuber,” jawab si ibu. Lalu aku pun bertanya, kadang-kadang aku ga tau gimana ngadepinnya kalau dia sedang stubborn, dan aku juga ingin tau gimana sih menghadapi anak yang puber. “Intinya harus ada aturan di rumah yang ditegakkan. Sampe anak keluar dari rumah, umur 18 tahun misalnya, karena kita yang bertanggungjawab terhadap dia, semua penghuni rumah harus mengikuti aturan yang ada di rumah. Pelaksanaannay bisa flesksibel, tarik ulur, tapi yang jelas, aturan harus ditegakkan.” Si ibu juga menambahkan bahwa setiap tahun selalu ada kursus buat orangtua bagaimana menangani anak puber, tapi untuk orangtua yang anaknya berumur 12 hingga 18 tahun. Wah bagus banget ya, pemerintah sampe sedetil itu care soal pengasuhan anak sehingga orangtua diberi training khusus.

SI ibu lalu memberiku dua buah buku, buku pengasuhan untuk anak 4-12 tahun, dan buku untuk masa puber. Wah senangnya, meski dalam bahasa Belanda, tapi aku coba akan baca deh. Ini bisa jadi contoh kalo aku pulang ke Indo. Waktu malik usianya 0-4 tahun, ada posyandu khusus namanya Thuiszorg. Disini anak-anak seumur itu diperiksa tumbuh kembangnya sebulan sekali, imunisasinya, di tes perkembangan motorik, sensorik dan perkembangan lainnya. Nah GGD ini untuk anak setelah 4 tahun. Tapi setelah ini Lala ga akan dipanggil lagi, 2 tahun lagi, kalau dia sudah di kelas 2 SMP baru akan dipanggil oleh GGD. Tapi tetep aja si ibu berpesan, kalau aku ada masalah dalam mengasuhnya, aku bisa janjian ketemu sama beliau untuk konsultasi. Duh aku pengen banget bikin klinik tumbuh kembang yang komprehensif kaya gini, kalau mimpiku tercapai. Hmm…mimpi…oh mimpi…

You May Also Like

About the Author: Agnes