READ MORE >>   Tulisan di Koran

Pikiran Rakyat, 16 Juli 2006

Jangan lupa, kapan pun anak mengalami kondisi gawat darurat, ia harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit. Tanda-tanda gawat darurat pada anak di antaranya rewel atau menangis terus menerus tidak dapat ditenangkan, kesadaran menurun, tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan, kejang atau kaku kuduk leher, sakit kepala hebat yang menetap, gangguan napas yang menyebabkan bibir dan wajah membiru, muntah dan diare terus-menerus, muntah menyemprot, dehidrasi, kejang berulang atau lama, demam tinggi pada bayi kurang dari 6 bulan.

PANIK! Perasaan ini pasti pernah dialami oleh kebanyakan ibu bila anaknya sakit. Apalagi kalau anak baru satu, rasa gelisah dan was-was saat buah hati tergolek lemas, sering kali menyiksa. Wajar memang, tapi sedini mungkin belajar mengatasi panik saat anak sakit sebetulnya akan sangat menguntungkan bagi anak dan orang tua. Bahkan, berdamai dengan panik bisa menghemat pengeluaran lho! Kok bisa?

Ya, karena panik ketika anak sakit, sering kali malah menyebabkan ibu bingung. Padahal penyakit langganan yang kerap diderita anak seperti demam, batuk, pilek, dan mencret, tidak selamanya memerlukan obat. Mekanisme pertahanan tubuh manusia kerap ampuh melawan penyakit-penyakit ringan tanpa butuh ke dokter atau minum obat. Yang sering terjadi, ibu akan buru-buru membawa anaknya, yang demamnya baru sehari misalnya, ke dokter. Akibatnya, kunjungan ke dokter malah lebih sering. Pengeluaran semakin membengkak, tubuh anak pun kerap terpapar obat yang mungkin sebenarnya tidak perlu. Nah, panik memang merugikan bukan?

Saat yang tepat ke dokter

Jadi bagaimana agar ibu tidak panik ketika anak sakit? Knowledge is power, begitu kata Sir Francis Bacon. Dalam hal ini, ibu perlu membekali dirinya dengan mengenali tanda-tanda kapan anak harus dibawa ke dokter dan kondisi gawat darurat pada anak. Pengetahuan tersebut akan membuat ibu tenang dan lebih mudah memutuskan tindakan yang akan diambil. Kapan dokter dihubungi?

Demam

Biasanya, anak baru demam ringan saja ibu sudah buru-buru memberinya obat penurun panas, atau membawanya ke dokter. Padahal, kebanyakan demam tidak berbahaya dan belum tentu memerlukan obat penurun panas. Namun ada beberapa kondisi demam yang perlu diwaspadai. Dalam situs familydoctor.org ibu dianjurkan menghubungi dokter bila:

- Bayi berusia kurang dari 3 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celcius.
- Bayi berusia 3 hingga 6 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh lebih besar dari 38,5 derajat Celcius.
- Bayi serta anak berusia di atas 6 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh di atas 40 derajat Celcius. Jika demam terus berlanjut lebih dari 72 jam, ibu juga perlu menghubungi dokter.

Muntah dan diare

Anak mengalami muntah umumnya bersamaan dengan diare atau penyakit perut lain yang disebabkan virus. Anak perlu segera dibawa ke dokter bila ia muntah terus menerus, ada nyeri perut hebat, dan anak mengalami dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi di antaranya buang air kecil menjadi jarang, bibir kering, berat badan turun, mata cekung, pada bayi ubun-ubun besar terlihat cekung, air kencing berwarna lebih tua dari biasanya, dan elastisitas kulit menurun. Anak juga perlu dibawa ke dokter bila ia sama sekali tidak mau minum, cairan muntahnya berwarna kehitaman atau kehijauan, cairan muntah keluar menyemprot, dan bila muntah disertai sakit kepala hebat. Jika anak muntah disertai adanya bintik-bintik merah muda atau keunguan yang tidak hilang saat ditekan, sebaiknya anak pun dibawa ke dokter.

Begitu pula dengan diare. Anak yang diare perlu segera dibawa ke dokter bila ia mengalami tanda-tanda dehidrasi seperti yang telah disebutkan di atas. Dokter juga perlu segera dihubungi bila diare yang terjadi disertai demam tinggi, terdapat darah dalam tinja, atau bila anak mengalami diare kronis (lebih dari 2 minggu).

Batuk dan pilek

Sekalipun ingus yang keluar berwarna hijau, tak selamanya anak dengan batuk pilek harus dibawa ke dokter. Batuk pilek umumnya disebabkan virus, tak perlu antibiotika. Namun bila ingus kental berwarna hijau ini berlanjut hingga lebih dari 2 minggu, barulah anak perlu dibawa ke dokter. Dokter juga perlu dikunjungi bila anak mengalami batuk lebih dari satu minggu atau anak mengeluh nyeri telinga. Prinsipnya, bila kondisi anak dengan batuk pilek memburuk dalam 3-5 hari bawalah ia ke dokter. Akan tetapi, jika kondisi anak tetap baik, biarkan daya tahan tubuh anak yang mengobati batuk pileknya. Jika batuk pileknya tak kunjung sembuh dalam 10 hingga 14 hari, segera bawa anak ke dokter.

Kondisi dikatakan memburuk bila anak mengalami batuk hebat disertai sesak napas (bernapas dengan sekuat tenaga), tampak kebiruan di sekitar bibir, mulut, dan wajah, batuk hebat disertai muntah-muntah, sangat rewel, susah dibangunkan (letargi), mengalami dehidrasi, dan dahak mengeluarkan darah.

Terdapat perkecualian pada bayi yang berusia kurang dari 3 bulan. Dokter tetap harus dihubungi bila si bayi mengalami batuk pilek atau terbatuk-batuk selama beberapa jam.

Kondisi gawat darurat

Jangan lupa, kapan pun anak mengalami kondisi gawat darurat, ia harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit. Tanda-tanda gawat darurat pada anak di antaranya rewel atau menangis terus menerus tidak dapat ditenangkan, kesadaran menurun, tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan, kejang atau kaku kuduk leher, sakit kepala hebat yang menetap, gangguan napas yang menyebabkan bibir dan wajah membiru, muntah dan diare terus-menerus, muntah menyemprot, dehidrasi, kejang berulang atau lama, demam tinggi pada bayi kurang dari 6 bulan.

Nah, bila Ibu sudah mengenali tanda-tanda kapan anak perlu dibawa ke dokter dan kondisi gawat darurat pada anak, Ibu tak perlu panik lagi bila anak sakit. Agar Ibu semakin tenang, sambil memantau kondisi anak, Ibu bisa mencari informasi tentang gejala penyakit yang diderita anak dari buku, internet, atau sumber-sumber yang dapat dipercaya. Dengan demikian, pemahaman Ibu semakin bertambah, Ibu bisa bertindak tenang, tepat dan cepat. Uang pun tak terbuang untuk hal-hal yang tak diperlukan, menguntungkan bukan? (dr. Agnes Tri Harjaningrum, ibu 2 orang anak, tinggal di Belanda)***

  READ MORE >>   Tulisan di Koran.


17 Comments on “Kiat Atasi Panik Saat Anak Sakit”

  1. bener banget bu dokter, knowledge is power. Aku baru aja ngalamin sendiri beberapa hari yang lalu, saat Arwen muntah-muntah dan demam. Keputusan pertama yang aku buat adalah membuka semua referensi ttg vomitting yang aku punya. Alhamdullilah jadi gak tergopoh-gopoh langsung ke rumah sakit. Walopun hati rasanya ketar-ketir gak yakin dengan apa yang aku perbuat, tapi aku terus mencari informasi dan hal itu bisa menambah kepercayaan diriku.
    trauma juga soalnya, 3 orang temenku yang anaknya muntah2 dan langsung dibawa ke rumah sakit, saat itu juga langsung harus opname, ditusuk sana sini, eh besoknya atau 2 hari kemudian udah bole pulang…hehehe…itu mah emang karna muntah2 emang bisa pulih dalam 2-3 hari…hehehehe….

    Nice writing…apalagi kalo boleh disebarluasin biar temen-temen sesama orangtua bisa terbuka matanya.

  2. July 26th, 2006 at 11:50 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Haai Dita, waduuh surprise nih didatengin tamu agung hehe. Syukur deh kalo Arwen udah sembuh. Iya Dit ini juga ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, dulu pas jadi ibu baru banget ya begitu lah panikan karena jarang baca-baca referensi, sekarang kan udah jadi ibu lama hehe guayane :-)

    Eh kalo mau disebarin monggo aja Dit, moga-moga bermanfaat yaa…Seneng deh pokoknya liat Dita semakin oke jadi ibu cie…:-)

  3. August 5th, 2006 at 8:16 am
    abu_shofiya says:

    mbak agnes… boleh tanya nih? :)
    eh….kenalin dulu ya…. saya Bapak Muda Banget.

    putri saya (shofiya) sekarang udah 1 tahun(8,5 kg), tapi makannya susah banget. udah saya beri makanan tambahan (honey bee polen) yang kabarnya bisa meningkatkan nafsu makan,tapi sudah 4 bulan rutin dikonsumsi belum ada tanda2 membaik nafsu makannya.

    mbak punya resep ndak nih, agar putri saya bisa enak maemnya.?
    sampai saat ini makanan utamanya cuman ASI, saya kasih susu tambahan juga ndak mau, untung ummu shofiya ndak bekerja. tapi… saya kasihan juga dia disedot terus sampai kurus :) he he –tapi tetap manis kok :)

    kadang kami agak ndak sabar, sampai mau beli obat yang bisa menambah nafsu makannya. Tapi saya khawatir terlalu banyak obat kimia sistesis nanti timbul ketergantungan.

    oke itu dulu ya mbak….saya tunggu

  4. Dear abu shofiya, salam kenal juga ya :-)

    Saya maklum abu, anak baru satu pasti deh bingung kalo anak ga mau makan :-). Sebetulnya anak umur segitu memang wajar kalo mulai ga mau makan, kan pertumbuhan badannya mulai melambat. Berat badannya ga akan bertambah sepesat waktu baby, makanya dia berkurang nafsu makannya. Jadi harus diliat dulu di growth chart pertumbuhan BB anak terhadap tinggi badan, shofiya termasuk yang mana. Kalo masih normal, dont worry be happy abu, nggak perlu pake vitamin atau obat2an, pokoknya kasih makan aja sesuai jadwalnya, kalo mau alhamdulillah , kalo enggak nggak usah dipaksa, asal sering2 aja nawarin makannya.

    Cerita tentang ini banyak banget sebetulnya. Belum ikut milis sehat ya? disana banyak banget info soal tumbuh kembang anak, gabung aja biar ga bingung kalo menghadapi masalah sama anak. Intinya anak ga mau makan, anak kurus belum tentu harus minum obat/berpenyakit dan harus dikhawatiri. Prinsipnya, sehat nggak harus gemuk dan kurus/nggak mau makan bukan berarti sakit. Selama mereka sehat-sehat aja dan pertumbuhannya masih dalam batas normal, dont worry be happy abu :-)

    Untuk tahu apakah pertumbuhannya masih normal, coba masuk ke web ini : http://www.sehatgroup.web.id/
    pilih usefool tools, disitu ada tentang grow chart. Bisa dilihat, shofiya normal atau enggak. Disitu juga ada cara gabung ke milisnya.

    Dan betul abu, vitamin/ obat2an memang sebaiknya digunakan sebagai senjata pada saat yang tepat, karena kalo ga perlu buat apa kan, selain buang2 uang juga kasihan tubuh si anak.

    Oke, semoga ga khawatir lagi ya, salam buat istrinya yang manis :-)

  5. dear bu agnes..boleh nanya2 n minta sarannya…
    saya ibu baru,lagi pusing n terkaget2 nih….sama dede putri (1 tahun) yang lagi batuk flu + anget2 (37,2 – 37,8 naik turun dah semingguan).
    2hari lalu dibawa kedokter eh ya..ampyun….masa si dokter nyuruh opname padahal putri gak dicolek2 boro2 ditensi…..langsung mau pingsan rasanya, untung masih ada sedikit kesadaran langsung cari second opinion… rasanya agak lega juga waktu dibawa kedokter lain n hasilnya cuma batuk flue gak perlu tes darah apa lagi opname (sekedar untuk tau didokter yang pertama saya yang minta di tes darah katanya sih hasilnya gejala tipes tapi kata dokter kedua hasil labnya normal kok sehat..aneh ya…kok beda sih diagnosisnya…).tapi masih deg2an nih soalnya suhu tubuh putri masih sekitar segitu naik turun… sebenernya suhu tubuh normal anak seusia putri berapa sih…. n kalo anak anget2 or panas berapa lama ya…biasanya…., n kalo lagi anget or batuk flu bisanya dikasih apa..?

    makasih banyak sarannya
    salam

    sari

  6. April 29th, 2007 at 10:47 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Mba sari, maaf balasnya telat, lagi sok sibuk hehe. Gimana sekarang anaknya moga2 dah baekan ya. Sebetulnya suhu segitu mah normal mba. Suhu dianggap panas itu klo diatas 38,1 Untuung deh mba ga dirawat, tindakan mba sudah bagus second opinion. Dan tindakan lain kali sebaiknya mba baca tanda-tanda perlu dibawa ke dokter. Udah gabung milis sehat? Gabung deh mba, insya ALLah banyak bgt manfaatnya.
    http://www.sehatgroup.web.id/artikel.asp
    Disitu ada artikel tentang demam dan lain2 juga. Klo gabung milisnya bisa diskusi sama yg laen tentang kasus anak mba. Oya anak batuk flu klo karena virus ga usah dikasih apa2 mba, cukup breathy klo idungnya mampet, ato dadanya dikasih balsem anak2. Lengkapnya sila baca di link tadi yaa..:-)

    agnes

  7. halo m’Agnes, boleh tanya2 ya? anak saya Aqsha 3bln batuk berdahak,bbrp hr saya treatment sehat aja, sy liat2 knp batuknya,pas lagi imunisasi sekalian tanya dokter,eh diresepin mucopech,tp cm 2hr saya minumkan lalu stop,skrg batuk lagi eh dokter resepin cefat,pas aku tanya broad spectrum apa gak, dia bilang ringan kok? sy juga kaget baca artikel ternyata itu broad spec,lgs sy suruh mbaknya stop, gimana nih…(waktu sy nulis ini,abis sms dokter ttg broad itu,tp blm dibales,pdhal kemarin belio lgs cepat,dan suruh kontrol lagi..), tq ya mbak

    yossy

  8. June 19th, 2007 at 4:19 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Halo Yossy, maaf banget ya balesnya telat bgt, udah basi kali ya, tp moga2 gpp ya :-)

    Kalo liat di AAP, obat batuk kan sebetulnya ga ada ya mba, jadi ga perlu pake mucopect sebenernya. Untuk usia 3 bulan batuk pilek dgn antibiotik mungkin masih perlu, tapi tergantung gejalanya, kalo ga ada panas dan ga ada sesak apalagi baru bbrp hari menurut saya ga perlu Cefat. tapi kayanya sekarang Aqsha dah sembuh ya. Nanti klo kejadian lagi, diobservasi aja ya, klo ga ada tanda2 bahaya ga perlu ke dokter, sebetulnya batuk pilek bisa sembuh sendiri dalam 2 minggu. Smoga membantu ya, walopun pasti udah basi nih jawabannya hehe

    agnes

  9. Pagi Bu Agnes,

    Mau nanya nih, anak saya sudah umur 10 tahun, belakangan ini kepalanya sering sakit, berdasarkan analisa dari dokter bahwa kemungkinan virus, sinusitis atau dari mata. Terakhir ini pagi hari muntah muntah. Saya bingung sebenarnya penyakitnya apa, dan dokter specialis apa yang harus saya cari ?. Terima kasih sebelumnya.

  10. Siang Bu Agnes.

    Anak pertama saya, Fairly, perempuan 7 bulan, susu sampe skr masih ASI.Sudah 3 hari ini bab 6 kali sehari, wajar tidak ya? secara fisik, dia tidak kelihatan lemes, tetap aktif dan ceria spt biasa. kejadian ini terjadi setelah dia di pijitkan (dlm kebiasaan org jawa, biasanya bayi dipijitkan sebulan sekali), entah kebetulan atau memang disebabkan krn itu, sehari setelah pijit dia mulai sering BAB, padahal biasanya 1 kali sehari. Dulu, sebelum dikenalkan makanan pendamping (sebelum umur 6 bulan) memang dia kebiasaan BABnya 6 kali sehari. pertanyaannya :
    - Apa pijit bisa menyebabkan gangguan saraf pencernaan yg mempengaruhi BAB?
    - dia BAB sekitar 15 menit setelah minum Asi. Apa mungkin ada pengaruh Asi?
    - Menurut bu agnes, apa saran utk mengatasi ini.

    Terima Kasih
    salam

  11. Pak menurut saya baiknya dibawa ke dokter anak dulu, apalg klo ada muntah2. Nanti dokter anaknya akan melakukan pemeriksaan darah dan lab lain yg diperlukan. Kalo kiranya ga ada apa2 di pemer darah, baru dirujuk ke bagian mata atau THT atau sesuai sama peny yg diperkirakan.

    smoga membantu

    agnes

  12. Dear pak jalu,
    - soal pijit, belum ada penelitian soal ini pak, jd saya ga bisa jawab secara pasti. Tapi menurut saya ga ada hubungannya, pijit biasanya untuk memperlancar peredaran darah saja, ga sampe saraf yang kena, kecuali kalo mijitnya terlalu :-)
    - ASI memang kadang mempengaruhi BAB baik bentuk maupun frekuensi, tp biasanay ini di awal2 kelahiran sebelum dia makan (cuma ASI murni), tp selama penyebabnya krn asi, ga masalah pa dont worry.
    - Saran saya, mengingat anak bapak masih aktif, ceria, wait n see aja pak, yg penting cairan tetep masuk, kalopun kena virus dia akan sembuh sendiri, krn virus self limiting disease. Intinya pada diare, cairan yg harus diperhatikan betul, selama anak ga dehidrasi dan tetap aktif, dont worry.

    smoga membantu

    agnes

  13. June 19th, 2008 at 4:21 pm
    intan selviana says:

    salam kenal bu agnes..anak saya arsya(L) umur 1thn 7bln panas diikuti demam tinggi sampai 40celsius sy bw kedokter kt dokter radang tenggorokan diakasih obat penurun panas (puyer racikan) dan antibiotik,mlm harinya panasnya tinggi lg saya beri obat panasnya dan kompres air hangat.pagi harinya sehat2 aktif spty ga sakit eh bsk harinya lesu,ga bergairah dan rewel.akhirnya hari ke4 saya kembali kedokter yg lain,di cek darah krn takut DBD.hasilnya bagus normal.tp mengapa anak saya masi rewel dan yg membuat saya panik adalah arsya menjadi lemas dan matanya sendu seperti orang mengantuk..saya jd binggung menghadapinya krn ini blm pernah terjadi sblmnya.thanks jawabannya..

  14. June 22nd, 2008 at 1:44 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    halo mba intan, gimana Arsya, moga dah baekan ya :-). Klo anak lesu dan lemas, sendu lagi sakit memang wajar mba, yg penting kita nya ga panik. memang kalo baru satu anaknya aga susah ya untuk ga panik, tp pelan2 mesti bisa. Naa kalo ibunya dah ga panik, bisa banyak baca, soba ke web sehat deh, disana banyak info bagus soal demam dan penyakit anak. Baca bagian tanda2 kegawatan, kapan anak harus dibawa ke dokter, jd selama itu ga ada, kita masih bisa ‘tenang’. Prinsipnya kalo anak demam, jangan sampe dehidrasi, jadi cairan harus tetap masuk. Makan ga usah dipaksa, sedikit asal sering aja, ga usah worried sama berat badannya, pasti turun kalo anak sakit, tapi nanti dia bakal ngejar lagi ko klo dah sembuh.

    Oke smoga membantu :-)

    agnes

  15. September 1st, 2008 at 8:38 pm
    Cicie mami Samy says:

    Salam kenal ya bu dokter..
    Artikelnya bagus sekali..boleh gak saya copy ke blog saya? Lg berupaya untuk menerapkan RUD di keluarga sekalian kampanye di blog biar temen2 yg lain jg ikut RUD. Thx

  16. salam kenal bu Agnes saya ibu dari satu anak. Sekarang saya lagi cemas karena anakku nafsu makannya jadi menurun detelah sakit panas 5 hsri yang lalu.Wajar gak sih kalo nafsu makan anak berkurang setelah dia sembuh sakit?bukannya setelah sakit biasanya makannya banyak kalo orang sunda bilang mamayu…