Lagi-lagi Nyaris

Phfuih…betul-betul perjalanan yang menegangkan dan melelahkan!

Diantar anak-anak dan suamiku, aku berangkat jam 15.16 dari stasiun kereta Amsterdam ke Paris noord alias Gare du Noord, tadi. Anak-anak sekolah setengah hari karena ingin mengantarkan ibunya ke stasiun kereta, dan kami semua tetap happy-happy saja. Kami masih sempat bermain-main di stasiun menunggu di spoor 15, dan mencari line 20 tempat gerbong keretaku akan parkir nanti. Hingga akhirnya kereta TGV dari Amsterdam menuju Paris pun tiba. Suamiku membantu mengangkat dua koperku yang super berat. Anak-anak juga ikut masuk ke dalam kereta, bahkan kami sempat berfoto-foto sejenak. Tapi tentu saja mereka tak bisa berlama-lama di dalam karena pukul 15.16 kereta akan segera berangkat. Kupeluk erat dan kucium Malik dan Lala. Meski sebelumnya aku merasa happy-happy saja, tapi kini aku tak kuasa, pertahananku akhirnya bobol juga. Air mataku jatuh berlinangan. Aku bahkan sesenggukan. Malik yang melihat ibunya menangis langsung ikut menangis. Namun adegan perpisahan itu harus segera berakhir, mereka harus segera turun dari kereta. Dari dalam kereta, aku melongok keluar jendela. Kulihat Malik memeluk ayahnya sambil berderai-derai air mata. Lala pun kemudian memanggil-manggil aku,”Bundaa..”sambil juga menangis. Hatiku tambah ciut, airmataku semakin tak terbendung. Tit..tit..tuiiit…. Peluit kereta sudah ditiup, kereta melaju perlahan. Mataku terpaku melihat keluar jendela. Hiks..hiks..hiks…hatiku tergores-gores, ketika kulihat Lala melambai-lambai sambil berlari-lari mengejar keretaku dan melihat Suamiku yang juga melambai sambil memeluk Malik yang masih menangis dan tak mau melihat kearahku. Ya Allah…akhirnya tiba juga saatnya meninggalkan belahan hatiku dan permata-permataku. Sejenak, hatiku melayang, separuh jiwaku rasanya hilang, dan di dalam kereta yang semakin melaju kencang, aku pun menahan deraian air mata yang sulit kuhentikan.

Karena malu dilihat orang, mau tak mau kupaksa untuk menghentikan tangisku. Tak lama suamiku menelpon,”Air mataku juga basah, tak tahan melihat kalian menangis,” katanya. Hiks..hiks, air mataku yang sudah hampir kering tiba-tiba meluncur lagi. Kami pun lalu say good bye lagi dan kutiupkan rindu dan doa padanya, semoga Allah menjaga buah hati kami dan juga menjaganya.

Aku duduk bersebelahan dengan seorang perempuan muda berambut hitam kriting sebahu yang membawa anak laki-laki umur 9 bulan. Nama anaknya Keisha, rambut anak ini galing kuning kecoklatan, lucu deh montok. Entah dia orang mana, yang jelas ibunya tinggal di Paris dan berbahasa Prancis, pergi ke Amsterdam cuma buat vakansi aja katanya. Dan asli mereka pergi cuma berdua doang ibu dan anak, hebat! Anaknya anteng banget, sambil ngempeng dia pegang-pegang buku yang lagi aku baca. Akhirnya kugendong lah dia dan eeh dia betah, lucu banget. Aku cium-cium dan kugendong-gendong dia. Aku menikmati main-main sama dia, malah main ciluk ba segala, sampe kemudian datanglah berita yang bikin aku mau nangis: kereta delay entah berapa lama! Kabarnya karena ada bagian kereta yang harus dibenerin. Alamaak, padahal sampe di Paris Noord aku harus segera ngejar kereta ke Bordeaux, dan kereta itu letaknya di Paris Montparnass. Dari hasil googling, untuk pergi kesana aku kudu naik metro sekira setengah jam, belum naik turun tangganya, jadi minimal kata orang-orang butuh waktu 45 menit. Kalo kereta ga delay, sebetulnya aku punya waktu 1 jam 15 menit, tapi kalo delay begini waduh ga ngerti deh ngejar apa enggak.

Duh ya Allah, semoga aku masih bisa ngejar, batinku. Tapi ndilalah si kereta berhenti ga Cuma sekali, tapi beberapa kali dan lama pulak. Alhasil waktu aku tanya kondektur yang cewe, dia suruh aku nunggu karena mau di cek dulu. Dan jawabnya: “You will miss the train surely.” OMG! “So, what should I do?” tanyaku. “I’m not sure if there is another train, because it’s too late.” Haa…aku langsung mau nangis rasanya, kebayang suamiku yang biasanya selalu berada di sampingku dan menolongku bawa-bawa koper plus solve problems kalo ada masalah. “Tapi besok aku ada important meeting, Madam,” kataku. “Ya kamu bisa pergi pagi-pagi, nanti aku cek jamnya.” Kata si Madam yang helpful ini. “Na tapi terus aku ntar tidur dimana?”
“Kamu bisa kontak Thalys costumer service dan ceritakan masalahmu disana, nanti mereka akan menolongmu.”

What? Kudu nginep semalem di paris, di hotel sendirian dan belum sampe tempat tujuan? Huhuhu aku tambah mau nangis ngebayanginnya. Mana aku bawa koper 2 gede-gede berat banget pulak yang harus aku dorong kemana-mana. Hatiku sempet campur aduk rasanya. Baru pertama kali ini aku pergi ke luar Belanda sendirian, biasanya selalu sama keluargaku atau sama temen-temenku. Nah giliran sendirian, kaya begini huaaa, pokoknya asli aku sempet ga enak hati, sampe tarik napas berkali-kali.

Tapi oke deh look at the good side. Kali aja ntar aku bisa ngerasain tidur di hotel bintang mahal gara-gara delay ini, kan dibayarin toh pastinya sama si Thalys, thinks adventure deh, kan sudah berkali-kali aku ngalamin bahwa di dunia ini hidup tuh ga mungkin lurus-lurus aja, tapi mungkin bakal nyaris-nyaris aja seperti biasanya. Akhirnya aku bisa happy lagi dan main-main lagi sama si Keisha bayi Prancis itu.

Ga lama, aku didatengin sama si Madam kondektur. “Masih ada kereta terakhir jam 20.20 kalau kamu mau. Kereta kita ini akan sampai di Noord jam 19.35, jadi kamu masih punya waktu 45 menit untuk ngejar kereta itu. Atau kalau kamu miss keretanya, kamu bisa naik kereta besok jam 06.10 pagi. Tapi menurutku nothing too loose deh, mendingan kamu coba aja dulu.”
“Is it possible to go to Montparnass from Noord in 45 minutes?”
“You have to run!” Jawab si Madam.

Wadaw mampus! Gimana mau run dengan bawa 2 koper besar yang beratnya minta ampun itu. Belum lagi aku juga bawa tas cangklong besar yang isinya barang-barang penting dan beratnya juga alamaak!. Terus tetangga-tetangga yang duduk di sebelahku pada ngobrol pake bahasa Prancis sama si Madam,”Was wis wus wes wos,” yang aku asli ga mudeng. Untung si Madam nerjemahin.” Menurut mereka sih kalo 45 menit ga akan kekejar, kamu bakal ketinggalan kereta itu, tapi ga ada salahnya deh dicoba.”

Untungnya lagi ada seorang perempuan muda yang duduk di depanku dengan rambut coklat galling, hidung lancip kulit putih yang juga jago ngomong France dan Inggris bilang bahwa masih memungkinkan koq asal kamu jangan panic,” katanya. Terus dia kasih tau aku gimana suasana di Montparnass dan kasih ancer-ancer. Wuah bingung aku. Akhirnya kubilang gini,”Kamu bisa tolong gambarin petanya ga, supaya lebih gampang buatku.” Dan alhamdulilah banget dia menggambar dan menerangkan dengan jelas,”Pokoknya nanti ada koridor panjaang banget, teruuus aja jalan, terus ada escalator, nah kamu harus naik escalator dua kali, lalu ada pintu karcis banyak, abaikan aja, jalan aja terus, Nah nanti disitu keliatan deh ada buat Train lines.”

“Kamu tau ga gimana caranya pergi ke Montparnass?” Tanya si Madam kondektur. “Naik metro line 4 kan ke arah Porte D’Orleans?” Jawabku yakin karena aku sempet ngecek di internet sebelum berangkat.
“Are you sure?”
“I think so, I read it in the internet.” Nah untungnya ada penumpang di belakang aku,perempuan 40 an umurnya berkulit gelap, yang mengamini dan bilang mau nemenin aku ke line 4 karena dia juga mau ke Montparnass. Syukurlah, aku dikelilingi orang-orang baik, alhamdulilah banget.

Tapi, perjalanan selanjutnya jadi bikin aku gelisah karena aku ga kebayang harus lari sambil bawa barang segitu berat, plus ngebayangin metronya Paris yang tangga turun metro nya biasanya ga ada liftnya, haduuuh nyampe ga ya. Tapi aku langsung inget, tadi sebelum berangkat, aku sempet dibekelin tiket metro sama suamiku. Suamiku punya satu sisa, waktu dia dulu ke Paris dan belum kepake. Nah aku jadi geer, feelingku bilang, sepertinya ini ‘hukum hanya nyaris-nyaris’ aja bakal kejadian lagi deh. Buat apa coba ada satu tiket metro nyisa yang memudahkan aku ga usah antri beli tiket metro. Hmm..mari kita buktikan deh.

Membayangkan bahwa kalau pun pergi besok aku masih ga akan ketinggalan acara, karena aku masih bisa sampe Bordeaux jam 9.30 sementara acara jam 11 pagi, jadinya aku cukup tenang. Pokoknya bismillah, berusaha sekuat tenaga aja. Meski bagaimanapun tetep aja aku pengen sampe Bordeaux malam ini juga biar tenang dan biar aku ga perlu kontak pihak hotel untuk cancel hotel malam ini. Belum lagi kalo besok ada apa-apa terus aku telat dateng kan lebih repot. Jadi aku usahakan dengan sangat deh pokoknya.

Lima belas menit sebelum 19.35, suara kondektur menggema dalam kereta,”Limabelas menit lagi kita akan sampai di Gare Du Noord. Mohon maaf untuk keterlambatan, dan kalau mau mengklaim keterlambatan ini silahkan pergi ke websitenya Thalys atau ambil formulir yang nanti akan dibagikan setelah penumpang turun dari kereta.” Hmm oke deh…

Dan petualangan pun dimulai! Aku gelisah, bolak balik melirik jam tanganku. Sepuluh menit sebelum jam 19.35 aku sudah ga sabar mau ngeluarin koper-koperku. Pokoknya aku mau berusaha keluar paling dulu secepat mungkin. Aku bilang sama si Madam yang mau nemenin aku ke Line 4 bahwa aku bawa 2 koper besar, “Aku mau ambil koperku dulu, nanti aku akan tunggu kamu diluar ya.” Lalu aku pun mengeluarkan dua koper itu. Yang satu bisa kuangkat, yang satunya, ampuuun ga kuaat! Memang pas percobaan ngangkat di Amsterdam sama suamiku sebelum berangkat, aku juga ga berhasil ngangkat itu koper. Tapi ya sudahlah, gimana nanti aja, bismillah, wish me luck!

Detik-detik tibanya kereta di Paris Noord menjadi penantian panjang. Kepalaku terus-terusan melihat ke kiri dan ke kanan untuk meyakinkan dimana pintu akan dibuka. Setelah yakin pintu akan dibuka di sebelah kanan, aku pun segera menggeser koperku mendekati pintu. Aku terhalang oleh beberapa orang termasuk seorang ibu yang lagi-lagi traveling sendiri doang sama anaknya sambil bawa barang dan buggy, Ck…ck..ck… jan mandiri tenan ibu-ibu Eropa ini, huebat!

Giliranku menurunkan barang pun tiba. Aku angkat terlebih dulu koper yang beratnya setengah mati itu. Ya ampuun terseok-seok aku membawanya, dan ketika aku turunkan dari kereta, tanganku udah ga tahan. Langsunglah si koper itu gedebum gedebum jatuh terlentang. Halah cuekin aja deh, koperku satu lagi masih di dalam kereta! Aku pun pasrah meninggalkan si koper berat, lalu masuk lagi ke dalam kereta dan mengambil si koper satunya yang lumayanlah bisa kuangkat. Phuifh…baru ngeluarin koper dari kereta aja udah lama bener berikut napasku ngos-ngosan begini. Kulirik lagi jam tangan, wah aku harus segera cabut!

Aku pun segera berjalan cepat sambil menarik dua koper besar dan menahan beratnya tas cangklong. Baru separoh jalan, huh hah huh hah, aku sudah ngos-ngosan. Kerongkonganku kering dan tenagaku rasanya lenyap. Aku lalu berhenti dan beristirahat sejenak sambil menunggu si Madam berkulit gelap yang janji mau nemenin aku. Tapi kutengok-tengok batang hidungya ga tampak juga, ya sudahlah aku jalan sendiri aja, daripada nanti ga keburu. Lagipula aku udah cek di internet, katanya jalan lurus terus belok kiri sampe nemu petunjuk metro.

Ya Allah…rasanya semua tanganku kaku-kaku. Aku ga tahan dan segera berhenti lagi. Kerongkonganku nyeri rasanya saking hausnya, tenagaku sudah sampai di titik terakhir. Sempat terbersit ingatan, kenapa ga batalin puasa aja ya kan musafir boleh batal, lagian Allah kan menyukai kemudahan. Tapi mau batal juga kagok wong aku harus buru-buru ngejar kereta. Aku terus ingat kisah jaman nabi yang tentaranya malah kuat-kuat pas bulan puasa. Ya Allah beri aku kekuatan ya Allah…akhirnya aku pun melanjutkan perjalanan lagi dengan sepenuh daya.

Nah tuh dia petunjuk metronya keliatan! Alhamdulillah, aku segera belok kiri dan ngikutin arah panah menuju ke bawah, dan bener aja, aku ketemu tangga yang ga ada lift dan eskalatornya, alamaak! Aku segera mengangkat koper yang berat sambil terseok-seok, sambil tangan satunya berusaha ngangkat koper yang lain, tapi hasilnya, ga keangkat! Huhuhu. Ya sudah satu-satu dulu deh sedikit demi sedikit. Untungnya ada lelaki bule berambut coklat, baik hati mau ngangkatin koperku. „Oh Thankyou verymuch!“ Kataku.

Satu tangga pun akhirnya bisa kulalui. Setelah berjalan beberapa meter, aku melihat ada pintu-pintu masuk menuju metro, aku harus memasukkan karcis kesana supaya pintunya bisa terbuka dan aku bisa masuk. Sambil berjalan menuju pintu, aku melihat antrian orang beli karcis panjang banget. Duh beruntung banget, suamiku bekelin aku satu tiket metro ini, kalo enggak dijamin aku pasti telat karena harus ngantri beli tiket. Aku pun segera mencoba masuk. Karena setelah karcis dimasukan, lalu karcis keluar lagi lalu pintu terbuka ga lama, aku cari akal gimana caranya supaya dua koperku gampang kutarik. Akhirnya koper kedua aku tumpangkan di atas koper pertama. Karena koper kedua lebih besar, dia ngepas banget masuk ke pintu.

Aku lalu segera memasukkan karcis, pintu pun segera terbuka. Aku buru-buru masuk dan koperku segera kutarik masuk juga. Tapi ternyata ya ampuuun, koperku nyangkut! Huhuhu. Kutarik-tarik setengah mati, tapi ga bisa juga. „Help…Help me…“Aku ngomong ga berani sambil teriak Cuma berharap ada orang di dekatku yang mau nolong aja. Dan ga taunya, seorang nenek-nenek tirus langsing berambut putih dengan sigapnya langsung menarik-narik koper itu. “Sini..sini aku bantu..,” Katanya. Si nenek energik ini pun mengerahkan segenap tenaganya untuk menarik koperku, tapi ga mempan. “Ini harus dimiringin dulu,” kataku. Aku berusaha narik koper nyangkut itu supaya posisinya bisa miring, tapi susahnya setengah mati karena kedua pintu menjepitnya. Untung kemudian dateng dua orang laki-laki gagah berkulit gelap.”Let me help you,” katanya. Dipegangnya si pintu yang satu, dan laki-laki satunya megang pintu satunya lagi. Aku dan si nenek berusaha narik koperku. Dan yak! Berhasil! Sambil tetap memegangi pintu, kedua lelaki tadi menyuruhku menarik koper satunya. Aku miringkan si koper supaya lebih ramping dan bisa masuk pintu, dan syukurnya berhasil juga!

“Oh, thank you verymuch Madam, you are so kind!” Kataku pada si Nenek dan juga kuucapkan terimakasih pada dua lelaki legam. Herannya si nenek ga berhenti menolong aku. “I will help you,” katanya sambil menarik satu koperku. Duh nenek, baik bener dirimu. Dan ternyata setelah berjalan beberapa meter dari pintu itu, ada tangga lagi! Ampuun! Si nenek dengan sigapnya menuruni tangga sambil bawa koperku.”Aduh Nek, Are you oke?” Si nenek memang masih oke di beberapa anak tangga, sampai kemudian dia terhuyung-huyung hampir jatuh waktu hendak menuruni anak tangga yang berikutnya lagi. Ya Allah kasiannya si nenek. Tapi untungnya dia ga jatuh dan setelah itu ada seorang laki-laki bantu si nenek membawa koperku.

Phfuih…akhirnya…badanku remuk rasanya setelah berhasil mengangkat si koper super berat sampai bawah. Si nenek dengan baik hatinya masih terus mau membawa koperku. Ternyata kami akan naik metro yang sama.”Porte D’Orleans belok sini,” katanya. Dan setelah berjalan belok, OMG! Tangga lagi! Duh untung aja tangganya pendek. Tapi tetep aja kasian si nenek. Herannya dia tetep mau bawain koperku turun tangga satu persatu, bahkan sampe naik ke metro yang tak lama kemudian lewat.”Thank you so much Madam, God bless you, “Kataku berkali-kali.

Setelah aku liat peta di metro ternyata Montparnass itu jauh juga dri Gare du Noord, ada kali 15 pemberhentian. Duh aku jadi gelisah, bolak-balik liat jam terus, takut ga ngejar. Koper-koperku aku dekatkan ke pintu keluar supaya gampang nariknya keluar. Jam 20.05 menit, setelah perjalanan selama kurang lebih 25 menit, akhirnya aku sampai di Montparnass. Waktuku hanya tinggal 15 menit lagi. Duh ngejar ga ya, aku rada dag dig dug. Lalu aku ikuti arah panah petunjuk ke train lines, dan aku ingat-ingat pesan perempuan muda yang telah membuatkan peta. Setelah jalan agak jauh aku membelok ke kiri. Ya ampun Gusti…tangga lagi! Dan kali ini tangganya cukup tinggi pulak huhuhu. Aku berusaha mengangkat dua koper sekaligus dan tentu saja gagal. Tiba-tiba seorang laki-laki prancis ganteng, berambut coklat dan berjas rapi bergumam pake bahasa Prancis mau nolong aku. „Oh thank you…“

Dia mengangkat koperku seperti kilat, kaya yang enteng banget. Tau-tau dia udah diatas, sementara aku masih tergopoh-gopoh berusaha naik tangga satu-satu sambil menahan keringnya kerongkongan dan nafas yang ngos-ngosan. Tampaknya dia buru-buru, setelah koperku dengan manis sampai diatas dia segera berlalu. Dan akhirnya sampai juga aku di atas tangga itu. Aku lalu jalan lagi mengikuti lorong-lorong panjang, sampai akhirnya, aku lagi-lagi menemukan tangga lagi. OMG! Hiks..hiks…Mau semaput rasanya aku, kali ini tangganya tangga turun yang jaraknya sama dengan tangga naik tadi, alias tinggi! Huhuhu. Kenapa sih harus dibuat tangga sebanyak ini batinku.

Kali ini, untungnya seorang laki-laki kembali menolongku, aku sampai lupa penampakan si penolongku itu saking banyaknya anak tangga dan orang yang menolongku. Karena ini tangga turun, ternyata mengangkat si koper super berat sungguh susah. Akhirnya ku gelandang aja koper baru itu, rusak-rusak deh, bodo amat dah daripada aku ga sampe, batinku. Kubilang ‘thank you’ sekali lagi, dan kuikuti lagi lorong-lorong panjang yang seperti tak berujung itu. Kali ini lumayan lah ada eskalator berjalan. Tapinya dengan dua koper besarku, aku menutupi jalan orang. Alhasil aku tak bisa maju terus-terusan, aku harus menyingkir sambil istirahat juga memang.”Mercy…mercy…” Kata mereka setelah aku menyingkir.

Haduuuh ko belum nemu eskalator juga, katanya bakal ada dua eskalator yang aku harus naiki. Aku pun terus berjalan dan berjalan. Laah itu dia si eskalatornya keliatan, hmh..syukurlah. Tapi..olala…untuk bisa sampai ke eskalator itu, aku harus naik tangga lagi! Hwaaa tidaaak! Energiku rasanya sudah entah kemana, tapi untungnya setelah istirahat sejenak dan tarik napas dalam, aku seperti mendapat energi tambahan. Lagi-lagi aku mencoba menaikkan koperku satu persatu yang lagi-lagi bikin aku ga tahan. Untungnya kali ini seorang anak muda belasan tahun berwajah Timur Tengah membantuku. Dengan bahasa Prancisnya dia menawarkan bantuan,”Yes I need your help, thank you so much.” Diangkatnya koperku sampai ke atas, tapi ketika dilihatnya aku masih tertatih-tatih membawa koper beratku ga maju-maju, dengan baik hatinya dia turun lagi dan kembali mengangkat koperku yang satu lagi. Aduuh baiknya anak ini, semoga keberkahan menyertaimu Dek…

Waktu tinggal 5 menit lagi, duuh hopeless! Tapi kan katanya tinggal naik dua escalator ya sudah lah coba sampe batas terakhir aja. Aku sudah diajarin naik escalator sambil membawa 2 koper itu tadi oleh suamiku sebelum berangkat, sekarang tinggal dipraktekkan. Aku coba mengangkat satu koper terlebih dulu, lalu si koper berikutnya aku tarik. Tapi ternyata, si koper pertama dan aku sudah naik escalator, sementara si koper kedua aku tarik-tarik ga maju-maju huhuhu, aku dan koperku oleng. Untung aja seorang lelaki berewokan berambut hitam wajah Amerika latin segera menolongku. Duh ya Allah, alhamdulilah banget, orang baik bertaburan di bumi ini. “Makasih mas…”kataku.

Aku pikir hanya ada satu escalator lagi dan aku akan sampai di tujuan, ternyata, lho ko masih harus naik dua lagi huhuhu, ngejar ga ya. Aku lebih mempercepat jalanku. Tapi mau secepat apapun tetep aja ga bisa cepet karena kedua koper dan tas cangklong ini membebani aku. Di dua escalator terakhir untungnya, seorang laki-laki Cina berkacamata dengan baik hati menolongku. Padahal tujuan dia bukan ke atas, tapi dia tetap mau menolong aku. Alhamdulillah betul-betul masih banyak orang baik di dunia ini.

Train lines sudah kelihatan, tapi betul seperti yang dibilang perempuan muda pemberi map, aku harus melewati pintu-pintu seperti pintu karcis tadi. Tapi bedanya yang ini ga perlu karcis. Melihat aku kerepotan memasukkan koper-koperku, kali ini seorang perempuan berambut hitam sebahu wajah amerika latin menolongku. Makasih ya mba.. kataku.

Phfiuh…akhirnya sampai juga di jalur perkeretapian SNCF, kereta api dalam kota Prancis. Aku segera mencari papan petunjuk dimana letak keretaku berada. “Bordeaux 20.20, line 8” Oke deh line 8, aku segera menarik para koper sambil mataku berusaha mencari-cari dimana letaknya line 8. Kulirik jam tanganku, OMG 2 menit lagi! Aku berusaha berlari, tapi ga bisa! Napasku rasanya sudah di kerongkongan, rasa haus gila-gilaan menyergapku, ditambah tubuhku yang remuk redam habis mengangkat koper naik turun tangga yang banyaknya ampun-ampunan itu membuat aku aslii ga bisa lari.

Tapi sekuat tenaga kupaksa berjalan lebih cepat, kucari pintu terdekat, kucari pula pak kondektur yang paling dekat. “Sir…huh hah huh…my train has delayed…hah huh… This is my train ticket…phfuih…” Segera kurogoh tas cangklongku untuk mengambil ticket. Pak kondektur muda bertopi itu segera mengecek tiketku dan dia pun lalu ngomong cas cis cus pake bahasa Prancis, haduuh tolong deh Mas mana mudeng aku. Tapi dengan bahasa tubuhnya aku tahu bahwa aku disuruh segera naik. Oke deh.

Sret..sret..bruk! Aku segera berusaha menaikkan koperku, tapi dia nyangkut di dekat pintu.Wadaw!Toloong! “Sir, help me please!” Kataku setengah berteriak. Untungnya dia segera menolongku. Aku pun lalu segera mengangkat koper kedua. Bruk! Aku taruh saja sekenanya dan bruk! Aku pun segera menjatuhkan pantatku, duduk di anak tangga deket kereta.” Hah huh..hah huh…Phfuiiiih…..” Ku tarik napas dalam-dalam berusaha menghilangkan lelah dan ketegangan. Beberapa detik setelah tarikan napas terakhirku…”Tit tut tuiiiiiit! Peluit kereta melengking panjang. PPhfuih..kutarik lagi napas dalam-dalam. Ya Allah..alhamdulilalah..aku masuk kereta persis betul-betul menjelang detik-detik kereta diberangkatkan! Betul kan, ke-geeranku kali ini terbukti lagi, hukum nyaris-nyaris, kembali terulang lagi. Hmm..bagaimana mungkin aku masih mengingkari.

Dan kini, di dalam kereta SNCF bernuansa ungu yang apik dan keren ini, aku ketikkan jari-jemariku menuliskan semua pengalaman tadi. Tiga jam setengah bukan waktu yang singkat, laptop mungilku ini sangat berguna membantuku menulis diary dan membunuh kebosananku di kereta. Satu jam lagi keretaku akan tiba. Senang rasanya bisa berhasil melewati hari pertama kepergian ini dengan tetap tenang. “Everything will be allright,”Pesan teman-temanku sebelum aku pergi. Dan sampai sejauh ini itulah yang terjadi, malah aku bisa membuktikan teori nyaris-nyaris itu lagi. Alhamdulillah….

Selasa, 31 Agustus 2010, 23.00