France Kuliner dan Multicultural Sharing

Hari kedua orientasi week hanya diisi dengan presentasi dari para perwakilan universitas dari berbagai negara. Salah seorang perwakilan dari Charite, sebut saja namanya A berbicara tentang Charite University di Berlin, bagaimana sejarahnya, apa saja spesialisasinya. Yang terkenal dari Charite dalam konteks public health adalah tropical medicinenya. A menjelaskan apasa saja research group yang dilakukan dan bagaimana proses belajar mengajar disana.

Serupa dengan A, dokter Laura dari Cuernavaca Mexico menjelaskan tentang misi dan visi School of Publich Health disana yang berdiri sejak 1922 dan merupakan scholl of publich heath tertua di Amerika Latin. Dari penjelasan dokter Laura ini aku mendapatkan gambaran betapa sistematis dan well organized nya mereka. Mereka juga memiliki research tersendiri untuk penyakit-penyakit tropical seperti chagas dan dengue. Research tentang tobacco mereka juga punya. Dan seperti universitas lainnya dari sini juga lahir para PHd yang getol melakukan research.

Lucunya, ketika Ms S menjelaskan tentang Universitas Kopenhagen, Denmark, beliau mewanti-wanti student yang akan melanjutkan semester keduanya nanti disana. “Unfriendly people, the weather is not nice, and one of the most expensive place in Europe, so be prepared!” Wadaw! Tentu saja kami semua lau tertawa-tawa mendengar penjelasannya. Duh kasihannya yang bakal lanjut di Denmark hehe.

Perwakilan dari Universitas Bourdeaux bagian School of Public Healthnya juga tak ketinggalan memberikan presentasi. Seorang pria Prancis dengan mata berbinar-binar seperti Habibie (seperti mau loncat-loncat keluar kalau berbicara) bernama Rodolpho yang memberikan presentasi. Dari matanya saja aku sudah bisa menebak bahwa orang ini pasti pinter banget. Dan rupanya aku benar, dia bakal memberi kuliah advance analysis epidemiologi pada kami dan dia mewanti-wanti bahwa kalau ingin mengambil kelasnya, ilmu basic statistic saja tak cukup, kami perlu mengambil course intermediate statistic dulu sebelumnya yang ternyata waktunya pun tak memungkinkan. Duh aku sudah mules-mules berharap ada peluang tak usah mengambil kelasnya. Untungnya aku baru tahu, ternyata dari 6 modul yang ditawarkan di semester kedua, kami hanya diminta untuk mengambil 5 modul dan boleh melepas 1 modul. Jadi ketika Rodolpho mengumpulkan kami, student yang akan melanjutkan semester 2 di Bordeuax dan menanyakan apakah kami berminat untuk masuk kelasnya atau tidak, aku dengan mantap menjawab,” Sorry, I think I’ll leave it. I won’t take your modul.” Yippiii…bahagia banget rasanya bisa lepas dari satu makhluk yang bernama advance epidemiology and statistic itu hehe.

Yang paling membuatku iri adalah presentasi dari Ms L, perwakilan dari University College London ((UCL). Sebab, waktu apply jurusan semester 2, sebetulnya aku ingin sekali mengambil program Child Health yang ada di London. Tapi entah dengan pertimbangan apa pihak erasmus tidak mengabulkan permintaan jurusan yang kupilih dan mereka memindahkanku ke jurusan lain sehingga, aku harus mengambil semester 2 ku di Bordeaux. Gimana ga bikin iri selain modul-modul yang ditawarkan seputar Child Health sungguh menarik hatiku, ternyata UCL ini termasuk universitas ke 4 terbaik sedunia tahun 2009. Di tempat ini juga terdapat profesional wanita bekerja terbanyak di UK. Belum lagi, presentasi Ms L sangat well prepared dan well organize, mencerminkan betapa clasic, dan profesionalnya kerja mereka. Selain itu, aku pun sudah sejak lama ingin mencicipi tinggal di negara English speaking country, apalagi London. Menurutku logat orang UK dalam berbahasa Inggris tuh elegan banget, jadi siapa tau tinggal disana beberapa bulan bisa membuatku tertular walaupun ngimpi kali ye hehe.

Tapi tentu aja, ga boleh iri lama-lama, harus bersyukur dong, udah dapet beasiswa aja udah alhamdulillah banget. Positivnya kupikir, kalau child health kan nanti bisa kupelajari kalau aku keterima spesialisasi, jadi mendingan aku belajar ilmu yang lain kan jadi bisa dapat lebih banyak, berikut biaya hidup di London kan muahalnya ampun-ampunan jadi, bersyukurlah dapat di Bordeaux, ga ngabisin duit he.

Presentasi terakhir dari profesor O, Universitas Bergen, Norway yang mengatakan, dulu dia skeptis terhadap program MIH ini, tapi ternyata belakangan manfaatnya banyak, selain student yang bisa belajar banyak, para pengajar juga bisa melihat negara lain dan belajar banyak juga dari negara lain, kira-kira begitu deh. Selain itu Prof O juga bilang bahwa di Bergen, research utamanya ada di bidang child health dan nutrition. Rupanya tuition fee di Universitas Bergen itu gratis, jadi banyak banget student yang dijuruskan lanjut semester II di Bergen. Prof O juga cerita tentang alam Bergen yang indah dan cuacanya yang dingin tentu aja. Aku jadi ingat pengalamanku pas ke Bergen, soo beautiful indeed!

Sight Seeing dan Diner

Setelah semua presentasi beres, kami pun makan siang bersama. Tapi, makan siang kali ini sungguh berbeda, yang mempersiapkannya saja seorang chef dengan baju putih khusus Chef dengan topi tingginya. Menunya sungguh menggoda. Karena sewaktu mengisi form aku sudah mengisi bahwa aku tak makan babi dan alkohol, jadinya tidak ada menu babi dalam lunch kami. Yang ada kebanyakan ikan, ayam dan bebek. Melihat sajian makanan ala Prancis dan rasanya yang super lezat, aku baru sadar kenapa orang kuliner Prancis begitu terkenal. Crab aja dibuat satu-satu dalam puding diatas sendok mungil, telur juga begitu. Ada roti isi slagroom dan ikan, atau roti isi slagroom, jagung manis dan ayam yang rasanya enak banget. Kentang yang dihancurin aja rasanya juga uenak banget, belum pernah aku nemu kentang seenak itu. Belum lagi dessertnya lucu-lucuu dan dihias sedemikian menarik. ‚Canelles‘, kue berwarna coklat, bentuknya mirip putu ayu, kue khas Bordeaux, tentu juga hadir sebagai dessert. Sayangnya kue ini dibuat pake wine jadi aku ga nyicip. Tapi yang pasti dessert lain rasanya oke punya. Wuah pokoknya fall in love with Bordeaux deh, eh makanan Prancis maksudnya.

Setelah makan, acara kami bebas sampai pukul setengah empat sore. Jam setengah empat sore kami ditunggu untuk berkumpul di depan touris information centre di daerah ‚Victoir‘. Disana, seorang tour guide sudah menunggu kami. Nama perempuan paruh baya itu Martha atau Marly kalau tak salah. Bahasa Inggris logat Prancisnya membuatku harus berpikir dua kali untuk mencerna apa yang diucapkannya. Mendengarnya, aku seperti mendengar banyak dengungan yang membuatku tak mengerti apa yang dia ucapkan.

Martha mengajak kami berkeliling kota tua Bordeaux, berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Mulai dari tugu, gereja yang masuk Unesco World Heritage, juga jejak pertama kali Santiago orang suci agama Katolik yang melakukan pilgrimage dari France ke Spain jalan kaki, dijelaskannya. Kami pun sibuk memotret sana-sini dan berusaha mendengarkan penjelasannya. Karena siang itu panasnya ga ketulungan, lebih dari 30 derajat Celcius, mana aku salah kostum pulak bawa sepatu boot doang, berikut beberapa malam aku kurang tidur (maklum, aku selalu sulit tidur kalau ditempat baru), alhasil aku cuapek berat dan ga konsen mendengar omongan Martha. Mungkin karena ditambah aku merasa aku bakal balik lagi ke Bordeaux juga, jadinya nyantei lah, nanti aku akan explore kota ini lebih jauh sendiri, jadi aku merasa ga rugi amat meski harus kehilangan penjelasan Martha.

Nah yang paling asyik adalah acara dinner di sebuah restaurant yang tempatnya klasik dan cantik. Sebelumnya, menunggu jam 7 malam kami sempat duduk-duduk dan ngobrol dulu di cafe. Aku memesan jus strawberry, sementara teman-temanku kebanyakan memesan wine. Saat dinner, kami boleh pesan menu seharga 15 euro per orang. Tapi ternyata harga segitu tuh murah banget, karena kami dapat kumplit appetizer, menu utama dan dessert yang isinya buanyaak dan rasanya enaak! Asal ga salah pesan aja hehe.

Untuk appetizer aku memesan udang yang dimasak dengan bawang putih dan presley. Dan ternyata aku diberi sepiring besar udang besar! Wadaw! Sedap banget, baru appetizer aja udah sebanyak itu, sampe mblenger aku makan udang berkulit itu. Tapi sayang, chicken curry pesananku untuk menu utama rasanya kurang nendang. Tapi kentang gorengnya uenak banget, ga pernah aku nemu kentang seenak itu di Belanda. Nah yang paling yummy adalah dessertnya. Karena aku penggila coklat, aku pun memasan Chocolate profiteroles. Melihat sajiannya saja sudah membuatku air liurku menetes-netes. Dua buah kue seperti sus mungil hadir di depan mejaku dengan saus coklat dituang diatasnya. Dan ketika aku menggigitnya, hmm..slrruuup..nyoklat banget! Uenak deh pokoknya.

Teman-temanku yang lain memesan segala macam menu berbeda tentu saja. El, si blonde asal UK yang duduk di sebelahku memesan beef steak karena katanya di London beef steak itu muahal banget jadi dia jarang makan. Sementara di sebelah kiriku, prof O juga memesan steak yang ‘red’ bukan ‘well done’ steak. Melihatnya saja aku sudah ga doyan karena sehari sebelumnnya saat lunch aku mencoba bebek panggang yang tampaknya enak banget. Tapi ketika kumakan, itu adalah ‘red’ duck, jadi waktu aku memotongnya darah masih beredar kemana-mana, hiii langsung lah aku tak bisa menghabiskan si bebek itu.

Yang paling berkesan selama jalan-jalan, duduk-duduk dan makan ini adalah acara ngobrol-ngobrol dengan sesama teman. Banyak sekali pengalaman-pengalaman dan cerita menarik dari mereka yang membuatku begitu terpesona, dan mataku terbuka. Wah ternyata bertemu dengan orang dari berbagai negara dan mendapat cerita-cerita dari mereka itu sungguh asyik. Kadang obrolan-obrolan itu membuatku tambah tak bisa tidur saking serunya menurutku dan terbayang-bayang dalam pikiranku. Memang betul yang dibilang Mr Paskal di awal orientasi, multicultural sharing itu memberikan banyak advantage.

Misalnya, ketika sedang makan siang di SUIO, tiba-tiba saja, A menghampiriku. “Kamu bisa makan yang ini dan ini, ini bukan babi koq, aku juga ga makan,” katanya. “Oh, kenapa kamu ga makan?” tanyaku polos. “Karena aku muslim seperti kamu, aku juga ga makan babi dan ga minum alcohol.” Glek! Aku langsung menelan ludah kaget. Ya Allah di kota kecil Prancis ini, ternyata aku dipertemukan dengan seorang muslim juga, yang ternyata dia adalah staff Erasmus untuk Charite university Berlin. Aku betul-betul ga nyangka, aku pikir, aku bakal jadi alien as usual.

Ketika sedang sight seeing, kadang aku berjalan bersama A dan dia banyak cerita pengalamannya padaku. A adalah wanita asal China yang sudah lama tinggal di Berlin. Dia seorang dokter gigi, tapi tak bisa bekerja di Berlin karena dia bukan orang Eropa dan tidak studi di Berlin sebelumnya. Beberapa tahun sebelumnya dia mengambil MIH juga part time dan atas biaya sendiri, karena itu dia kemudian bekerja disana.

Yang membuatku termenung adalah ceritanya tentang kondisi kaum muslim di Cina, daerahnya,aku lupa tepatnya. Yang jelas dia bilang kakak lelakinya dan orangtuanya adalah seorang muslim yang taat. Mereka masih menjalankan perintah agama seperti sholat, puasa, dan bahkan keponakannya yang masih kecil kadang memakai jilbab diam-diam. Ia memakainya pun atas keinginan sendiri, tanpa paksaan siapapun. Semua kegiatan keagamaan itu mereka lakukan diam-diam, karena pemerintahan China yang comunis melarang praktek keagamaan apapun.

Keponakannya itu harus membuka kerudungnya saat mendekati tempat dekat sekolah, lalu memakainya lagi saat hendak sampai di rumah. Kalau ketahuan sholat, atau puasa misalnya, ayahnya yang bekerja di pemerintahan bisa dipecat. “Tapi mereka hebat, mereka masih bisa bertahan, kenapa mereka masih mau bertahan meski dalam tekanan seperti itu? “ Tanyaku penasaran. “Ya, karena mereka mencari kedamaian dalam hati, apalagi yang bisa mereka lakukan selain percaya pada Tuhan,” jawab A. Deg! Hatiku langsung tergetar.

“Kamu hebat A, di tempat seperti ini kamu masih percaya Tuhan, dan menjalankan agama.”
“Enggak, aku nggak hebat. Dulu aku masih suka minum-minum. Sekarang aku ga minum, tapi aku masih merokok, aku perokok berat.”
“It’s oke, merokok kan bukan lalu berarti kamu jelek, lagipula agama tidak mengharamkan. Itu tergantung hatimu.”
“Ya, menurutku sholat itu juga baik, sholat shubuh bangun pagi, mengajarkan kita disiplin. Tapi aku juga belum bisa melaksanakannya terus-terusan. Aku juga ga mungkin pakai jilbab di tempat kerjaku, apa kata dunia.”
“It’s oke A, apa yang kamu lakukan sekarang sudah hebat. Yang penting ikuti saja kata hatimu selalu.”

Aku cuma bisa bilang seperti itu padanya, karena menurutku ya memang seperti itu. Apalagi, pada siapapun dia tak malu-malu mengakui bahwa dia adalah seorang Muslim. Menurutku baginya, itu sudah pencapaian yang hebat. Tampaknya dia sedang dalam masa pencarian. Aku berdoa semoga suatu saat Allah memberinya kekuatan dan kedamaian yang bisa semakin mendekatkan dirinya pada Tuhan.

Cerita lainnya lagi aku dapatkan dari profesor O. Sewaktu dinner, aku duduk di sebelahnya. Tentu saja kemudian aku mengobrol banyak hal dengannya.“Kamu tau ga, kalo di negaraku, aku ga mungkin duduk di sebelah profesor seperti kamu,“ kataku memulai pembicaraan.“Oya, memangnya kenapa?“ Tanya Profesor yang rendah hati itu.“Ya di negaraku tidak egaliter, kita harus membungkuk-bungkuk pada senior. Jangankan duduk bersebelahan, kita salah manggil ga pake Prof aja bisa berabe akibatnya.” Si profesor mengangguk-angguk dan kemudian menceritakan pengalamannya sewaktu di Afrika. “Saya juga pernah mengalami hal yang sama di Afrika, ketika saya berada diantara mereka, mereka bertanya mana profesornya. Waktu mereka tahu bahwa saya lah profesornya mereka kaget, lho koq profesor mau berbaur dengan mereka dan tampak biasa-biasa saja.”

Kemudian karena aku bertanya padanya apakah beliau merokok atau tidak, akhirnya kami mengobrol soal rokok dan paru-paru, spesialisasi beliau. “Saya tidak merokok. Saya tahu betapa bahayanya merokok dan betapa ngeri saya melihat paru-paru orang yang suka merokok baik melalui foto rontgen yang menghitam maupun broncoscopi (meneropong lewat saluran paru-paru) yang mengerikan.”

“Kamu tahu ga,” Lanjutnya. “Dulu di Norway, sekira tahun 50 atau 60 an, ada penelitian yang membuktikan bahwa 80 % dokter di Norway merokok. Tapi sekarang, belakangan ini dari penelitian terbaru didapatkan, hanya 5 % dokter di Norway yang merokok. Artinya kesadaran mereka sudah sangat meningkat, jadi jarang ditemukan dokter di Norway yang merokok.”

“Hmm..kalau di negeri saya sih dokter laki-laki merokok masih banyak Dok, bahkan di depan pasien. “ Aku prihatin sendiri jadinya.

Lalu obrolan kami beralih ke soal agama. Mungkin karena aku memakai kerudung jadi mereka senang mengambil topik agama sebagai pembicaraan. Profesor ini rupanya seorang Kristen yang taat.
“Menurut agama kamu, kalau orang yang merokok dia baik ga?”
“Wah kita ya ga bisa melihat orang baik atau tidak dari merokok atau tidaknya, tapi itu tergantung hatinya Prof.” Si Prof Cuma tersenyum, lalu dia bertanya lagi.
“Kalau dalam keadaan seperti ini, apakah kamu harus sembahyang dengan pakaian khusus dan menggelar sajadah dan sholat seperti yang kamu lakukan di mesjid?”
“Hmm..ya ga gitu Prof, kita sih bisa sholat dimana aja. Aku bisa nih sholat sekarang sambil duduk, tanpa melakukan gerakan yang rumit-rumit. Cuma seperti meditasi saja.”
Lagi-lagi si Prof tersenyum dan mengangguk.
“Di agama saya pun begitu, saya sembahyang dan mengingat Tuhan kapan saja.”
“O iya Prof Tuhan itu dekat, dan kita memang seharusnya mengingatnya kapan saja.”

“Prof ini seorang Kristen yang taat ya?” Tanyaku

“Ya, saya memang rajin ke gereja. Norway katanya memang sebagian besar penduduknya beragama Kristen, tapi paling-paling hanya 10-20 persen saja yang betul-betul taat menjalankan dan mau ke gereja. Mereka sering heran kalau melihat saya ke gereja.”
Aku kaget.”Oh ya kenapa begitu?”
“Ya begitulah jaman sekarang. Apalagi untuk lingkungan akademik. Pernah ya, saya pergi ke sebuah conference yang dihadiri oleh para ahli, dokter-dokter di seluruh dunia, itu acara internasional dan besar sekali. Lalu seorang dokter muslim membuka acara. Padahal dia hanya menyebutkan. Terimakasih karena Tuhan telah mempertemukan disini, di awal bicaranya. Tapi…itu hampir seluruh peserta ngomel dan protes.“
Wadaw segitunya.“Oya Prof?“
„Iya, saya sendiri sampai kaget. Mereka bilang, ini kan acara ilmiah buat apa bawa-bawa Tuhan.” Walah..walaah….padahal Cuma nyebut gitu doang.
“Ya, Tuhan mereka memang sekarang ilmu pengetahuan ya Prof.”
“Ya..ya..kamu betul. Di jaman saya dulu, berhubungan suami istri sebelum menikah adalah tabu, tapi sekarang, itu sudah sangat wajar.”
“Iya Prof dunia memang sudah tua ya Prof.”
“Hehehe..si prof yang umurnya semita 70 tahunan itu pun terkekeh-kekeh. “Ya, kamu benar, dunia memang sudah tua.”

Duh, pokoknya si profesor itu baik dan rendah hati sekali. Aku sampai-sampai bilang sama beliau,”I wish you were my teacher, you are so kind and funny.” Karena beliau juga kocak, suka melucu, asyik deh.

Nah si prof tadi duduk di sebelah kananku. Di sebelah kiriku, duduk si El dan sebrangnya duduk Lin, teman Prof yang dari Norway. Aku dan N yang duduk di seberangku bersama Lin dan El, berempat kadang kami ngobrol seru seputar apaa aja. Yang lucu salah satunya, Lin cerita soal anjingnya yang menstruasi dan temanya kaget. Aku juga tentu saja kaget. Oh rupanya anjing juga menstruasi setahun dua kali selama sekira 3 hari dan mens nya tuh sedikit-sedikit gitu. Hmm….ilmu baru.

Selain itu, El juga cerita soal perbedaan hidup di Australia dan Inggris, karena Orangtua El yang satu memang Australia jadi dia sempat tinggal di Australia sewaktu kecil. Menurutnya, kalau di Australia misal nih masih sekolah udah punya mobil, wah pasti udah dikata-katain, disindir-sindir, mobil darimana tuh, masa student udah punya mobil. Kalo punya mobil bagus juga ga nyaman karena malu. Jadi di Australia orang cenderung ga mau show off dan lebih low profile. Sementara kalau di Inggris ya tau sendirilah, ada kelas-kelas berjenjang gitu, makin kaya ya makin terpandang.

Begitu deh kira-kira sebagian percakapan menarikku dengan teman-temanku selama orientasi. Makananya yummy, kotanya cantik, teman-temannya baik-baik, wah aku bahagia banget saat berada disitu. Setelah makan malam, karena sudah malam, kami pun pulang ke hotel karena besoknya masih ada acara di hari terakhir.