READ MORE >>   Tentang Aku dan ...

KETIKA AKU HARUS MEMILIH, MENGKHITAN PERTAMA KALI
(Diterbitkan dalam buku nya MCM)

Kala itu, aku sedang termangu, menatap dinding-dinding putih yang bisu. Buku yang sejak lama kubaca, tak satu pun mau menempel di kepalaku. Pasien sedang sepi. Tanggal tua barangkali. Hmm… beginilah nasib dokter baru, yang bekerja di klinik tak menentu. Kadang duduk berjam-jam hanya ditemani lalat. Tak jarang pula peluh membanjir saking ramainya kunjungan pasien. Mendadak, kesunyian itu lenyap. Serombongan keluarga tergopoh-gopoh menghampiri ruangan berdinding putih itu, ruang praktek kerjaku.

“Dok, tolong dok, ini anak nangis terus dari tadi. Sakit dok, tolong… kasihan anak ini dok…” ujar perempuan muda didepanku. Matanya menatap pilu bocah yang digendong oleh lelaki disebelahnya. Logat Jawanya begitu kental, pendatang tampaknya. Air mata mengambang di pelupuk mata perempuan itu. Seperti menahan sakit, yang menjalar juga ke relung dadanya. Pasti ibunya, pikirku. “Iya dok, itu kasihan tuh anaknya dok…” ujar salah seorang keluarga pengantar.

“Anaknya kenapa bu, sini-sini tidurin disini bu?” sahutku tenang, sambil meminta perempuan itu membawa anaknya ke ranjang pemeriksaan. Satu tahun bekerja di klinik setiap pagi dan sore cukup membuatku mampu menghadapi situasi semacam ini.

“Ealah dok..dok… yang namanya lagi sial ya begini ini dok. Tadi itu habis pipis sendiri, lagi pake celana, koq tititnya malah kejepit resleting dok… gimana ini dok… Mbok ya tolong dilepas dok, kasian nangis terus kayak gini ini dok…”

“Wah iya pasti khawatir ya bu kalau anaknya nangis terus kayak gini. Coba…sini…sini… dilihat dulu sayang yuk…” Aku menghampiri bocah lelaki itu. Tangisnya semakin keras. Tangis karena takut dan nyeri.

“Takut ya sayang ya, sakit juga ya… dilihat sebentar tititnya ya, nggak diapa-apain koq cuma dilihat…” aku tersenyum sambil berusaha menatap mata bening bocah berusia 5 tahun itu.

Airmatanya tak juga berhenti menetes, namun tidak sederas sebelumnya. Aku melihat keadaan penis anak itu, belum disunat rupanya. Potongan resleting celana tampak menjepit bagian ujung penisnya. Jepitannya begitu kuat. Tak bisa tidak, sebagian kulit penisnya harus digunting untuk melepaskannya. Menggunting kulit berarti harus melakukan anastesi. Kenapa tak disunat saja sekalian. Toh tindakan dan resikonya sama saja dengan disunat. Kesimpulan itulah yang akhirnya muncul di kepalaku.

Deg. Jantungku mulai berdegup lebih kencang. Sunat? Sanggupkah aku melakukannya seorang diri ? Atau haruskah aku merujuknya? Aku memang sudah beberapa kali mengkhitan anak-anak. Tapi aku selalu dibantu oleh dokter seniorku. Aku belum pernah melakukannya seorang diri, tanpa asisten pula. Di klinik ini hanya ada Yono, yang membantu bagian pendaftaran dan masalah obat-obatan. Hmm, kebimbangan menyergapku.

Kalau aku gagal bagaimana? Apa kata dunia? Jangan-jangan malah dituntut. Sekarang kan sedang jaman tuntut-menuntut. Belum lagi ingatan tentang kisah-kisah seniorku yang bernasib sial. Kisah senior yang diburu keluarga pasien lantaran pasiennya meninggal tak lama setelah disuntik. Cerita tentang kakak kelasku yang pasiennya mendadak tak sadar sehabis disuntik. Beragam kisah-kisah sial lainnya mendadak bermunculan di benakku. Dadaku menjadi sesak rasanya. Ah, tapi mereka kan hanya sedang sial. Kalau semua sesuai prosedur, apa yang mau dituntut? . Toh, aku sudah pernah melakukannya. Ya, tapi masalahnya, dulu selalu ada dokter senior yang membantuku dan sekaligus bertanggungjawab bila terjadi sesuatu. Sekarang, aku harus bertindak sendiri, aku pula yang harus menanggung resiko kalau terjadi apa-apa. Wuaduh…bingung…bingung… bagaimana ya?

Tapi, bukankah aku harus segera mengambil keputusan?. Oke… aku harus mempertimbangkannya masak-masak dalam hitungan detik. Kalau aku merujuk bocah ini ketempat lain, aku membuang kesempatan berharga untuk belajar mandiri. Belum tentu aku mendapatkan peluang seperti ini dilain waktu. Apakah aku hendak selalu bergantung pada dokter lain? Alasan selanjutnya, kasihan keluarga ini kalau pulang dengan tangan hampa. Malah mereka harus repot membayar uang konsultasi di tempatku dan membayar lagi di tempat rujukan nanti. Belum lagi masalah waktu, bocah itu sudah menangis sedari tadi. Ah, sebetulnya masalahnya kan cuma satu, aku belum percaya diri untuk melakukannya seorang diri, itu saja. Mmm… bagaimana ya? “Ayo Nes… kamu pasti bisa…there is always the first time Nes…Bismillah aja deh” hatiku berbisik untuk meyakinkan diriku sendiri.

“Ibu, jepiitan resletingnya kuat sekali bu, jadi tititnya harus digunting. Harus dibius dulu daerah sekitar tititnya sebelum digunting. Ibu muslim kan?” Kata-kata itulah yang akhirnya terucap dari mulutku.

“Iya dok, muslim”

“Menurut saya, karena tindakan dan resikonya sama aja dengan disunat, lebih baik sekalian disunat saja bu anaknya. Sekalian sakit bu, daripada nanti anaknya harus ngalami kayak gini lagi. Gimana menurut ibu?”

“Hah disunat dok? Lho, dokter perempuan memangnya bisa nyunat? Lagipula saya belum ada persiapan dok kalau disunat. Orang Jawa kalau sunat kan harus pake acara rame-rame dok.”

“He he, perempuan atau laki-laki kan sama-sama belajarnya waktu kuliah dulu bu” aku geli melihat si ibu yang keheranan dan menjadi sedikit ragu.

“Tapi keputusan tetap ibu yang ambil ya bu, saya kan hanya memberi saran”

“Kalau gitu saya telpon suami saya dulu ya bu dokter”

“Lho itu tadi bukan suaminya ya?”

“Bukan bu dokter, itu adek saya. Suami saya lagi kerja.”

Aku menunggu perempuan itu mengambil keputusan. Hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil. “Ya Allah, ini bukan kondisi darurat, anak itu pun baik-baik saja. Aku hanya harus mengkhitan seorang diri pertama kali. Kenapa aku deg-deg an ya Allah. Aku tak tahu, kenapa Kau hadirkan bocah ini kehadapanku. Kalau ini memang jalan dariMu agar aku belajar, mudahkanlah semuanya ya Allah, berilah aku ketenangan.” doa itulah yang akhirnya menenangkan gelisahku.

“Bu dokter, sunat aja deh bu. Kata suami saya acara rame-rame ya dibuat aja besok-besok, kasian anaknya bu. Tapi anak saya nggak apa-apa kan bu kalau disunat?”

“Iya bu, Insya Allah nggak apa-apa. Sunat itu cuma tindakan kecil koq bu, setengah jam juga beres. Tolong aja anaknya dipegang sama om nya nanti ya bu.”

Dengan tak henti-hentinya berdoa memohon ketenangan dan kelancaran, aku memulai proses mengkhitan pertama kali ini. Tanpa ada asisten ataupun penanggung jawab bila terjadi sesuatu.

Tanganku sedikit gemetar ketika jarum suntik berisi Lidocain menembus kulit diatas tulang kemaluan anak itu. Tentu saja dia menangis keras ketika jarum suntik menembus kulitnya. Untung lah anak itu termasuk ‘anak mudah’ tidak mengamuk dan menendang-nendangkan kakinya. Semua itu betul-betul memudahkanku. Lantas, aku melanjutkan proses anastesi di sekitar penisnya. Ah, berhasil juga rupanya. Tak berapa lama, tangisan anak itu berubah, bukan lagi tangis kesakitan. Hanya rengekan kelelahan dan takut.

Perlahan tapi pasti, ketenangan mulai merasuki jiwaku. Pelan-pelan kubersihkan smegma (sekret dari kelenjar sebasea, berwarna putih seperti keju) yang menempel di sekeliling pangkal penis. Dua buah klem aku jepitkan di ujung kemaluan anak lelaki itu. Akhirnya, Bismillah… aku memotong ujung kulit penis anak itu. Aku semakin merasa ringan. Pekerjaanku hampir usai, tinggal mengatasi perdarahan dan menjahit kulit saja.

“Alhamdulillah… sudah selesai. Tiga hari lagi kontrol ya bu…” Hmh… terucap juga kalimat itu akhirnya dari bibirku. Puas rasanya, lega, dan bersyukur tentu saja. Semua berjalan lancar. Dan yang teramat penting bagiku, aku telah memilih, aku juga telah berhasil mengalahkan segala rasa khawatir yang berkeliaran dalam hatiku. Hidup memang terdiri dari serangkaian pilihan. Kemampuan untuk memilih secara sadar dan bertanggungjawab adalah sebuah keahlian yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Andai saja aku memilih cara termudah- merujuk anak ini tadi, tentu aku akan kehilangan pengalaman berharga yang telah dihadirkan Allah kepadaku. Sejak saat ini, aku semakin percaya diri untuk mengkhitan. Dan tentu saja, kesadaran itu semakin merasuki relung jiwaku, kesadaran bahwa, hidup adalah sebuah pilihan!

  READ MORE >>   Tentang Aku dan ....


101 Comments on “Aku dan Kenangan Pekerjaanku”

  1. Aku jadi ingat pengalaman waktu pertama kali mengkhitan seorang diri. Bermula ketika dua sahabatku menghubungiku menanyakan kesediaan ku untuk membantu mereka mengkhitan 3 orang anak jalanan asuhan mereka. Mendengar permintaan itu aku juga jadi bimbang. Aku memang sudah pernah beberapa kali mengkhitan tapi belum pernah melakukannya seorang diri. Tapi, kebimbangan itu berhasil aku atasi, aku yakinkan diriku sendiri aku bisa melakukannnya.

    Di hari “H” hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil, pertama kali seorang diri dan langsung 3 orang sekaligus. Aku memandang wajah anak-anak yang akan ku khitan, “ah kasihan memang sudah waktunya mereka harus dikhitan, dua orang berusia 15 thn dan satu orang 16 thn,” sambil terus berdoa memohon kepada Allah kemudahan dan keselamatan. Tanganku juga gemetar ketika akan memulai. Untungnya semua pasienku sudah besar dan tenang, aku merasa jauh lebih mudah ketimbang mengkhitan anak kecil yg biasanya mengamuk dan menendang-nendangkan karena ketakutan.

    Pasien pertama dan kedua selesai dengan baik, kemudian giliran pasien terakhir yang usianya 16 thn. Dari saat pertama kali dia berbaring (selama aku melakukan proses anastesi dan membersihkan smegmanya) dia terus memandangi wajahku.. Sesaat aku sudah akan memotong foreskin-nya, dia menangis sambil menggigit bibirnya. Aku sempat berpikir “wah kok ketakutan juga ya.” Kemudian terlintas dalam hatiku “wah gawat kalau dia sampai ngamuk dan nendang-nendang, pasti lebih sulit dipegangin, apalagi hanya dengan tenaga dua orang perempuan sahabatku yg mendampinginya.”

    Salah seorang sahabatku mencoba menenangkan dia dengan mengatakan “ga sakit kok, ga lama kok.” Sahabatku yang lain pun bertanya “takut ya, sakit ya?” anak itu menggelengkan kepalanya. Kemudian aku bertanya “kalo ga takut kok kamu nangis ?” Sambil masih nangis sesegukan anak itu menjawab “bu dokter mirip ibu saya, saya sedih inget almarhumah ibu.” Saya sungguh kaget dengan jawaban anak itu. Belum hilang rasa kaget saya anak itu berkata lagi “ma kasih ya bu dokter, sekarang saya bener-bener udah jadi muslim.”

    Aku sungguh terharu dengan perkataan anak itu, dan bersyukur tentu saja karena telah Allah beri kesempatan membantu 3 orang anak laki-laki menambah kegenapan mereka sebagai seorang muslim. Aku telah memilih, aku juga telah berhasil mengalahkan kebimbangan dalam hatiku. Andai saja aku memutuskan untuk tidak membantu sahabatku, tentu aku akan kehilangan pengalaman berharga yang telah dihadirkan Allah kepadaku. Sejak saat ini, aku juga semakin percaya diri untuk mengkhitan. Dan tentu saja juga tumbuh kesadaran bahwa, hidup adalah sebuah pilihan!

    Fitri

  2. Saya memang bukan seorang dokter tapi orang tua dari bayi yang baru berumur 2 bulan yang harus menghadapi kenyataan anak saya harus dikhitan supaya anak saya itu gak kesakitan lagi kalo kencing hanya perasaan gak tega yang terus datang mbayangin anak umur 2 bulan harus dikhitan

  3. May 10th, 2005 at 8:39 am
    sri susanti says:

    Assalamualaikum WrWb,
    Salut buat Bu Dokter, nggak rugi dah berobat ke Bu Dokter, udah cakep pinter lagi :-D
    Wassalam

  4. May 10th, 2005 at 9:21 am
    Sri Susanti says:

    Assalamualikum WrWb,
    Wah mumpung ingat neh Bu Dokter, Anak aku yg ke 2 (Fadiah Dini Arifah namanya) sejak baby hingga kini (4Th) matanya kok sering keluar kotoran, kadang aku kasihan sekali tiap bangun tidur pasti matanya ceket hingga harus nunggu beberapa saat agar bisa liat.
    Tapi kalo nggak pas…nggak kumat sih bening2 aza matanya, keliatanya sensitif sekali, kalo di ajak ayahnya keluar pake motor dan duduk di depan, pasti deh besoknya keluar kotoran di pojok matanya.
    Pernah sih aku bawa ke spesialis mata dan di beri obat tetes ( polifrisin kadang polidex) tapi hasil yg signifikan kok sampe sekarang nggak ada.
    Kali aza Bu Dokter Agnes bisa ngebantu neh….
    Wassalam

  5. Halo mbak Sri, salam kenal ya, makasih lho udah nyasar ke weblogku :-).

    Nama anaknya bagus ya mbak Sri :-). Kalo menurutku sih, selama anaknya baik2 aja, penglihatan nggak terganggu, mata nggak merah (nggak ada radang atau infeksi), belekan gitu nggak masalah mbak. Mungkin saluran air mata di matanya belum berfungsi dengan baik aja mbak. Dulu anakku juga gitu pas bayi. Trus dr berbagai sumber biasanya suruh pijit2 bagian saluran air matanya biar lancar. Nggak perlu dikasih obat apa2. Ternyata alhamdulillah sampe sekarang nggak pernah lagi.

    Tapi kalo memang sangat mengganggu dan beleknya banyak sekali sampe usia 4 thn gitu, mungkin perlu ditanya ke dr Spesialis mata, ada sesuatu nggak di saluran air matanya. Cari dokter matanya yg komunikatif dan mau menjelaskan panjang lebar aja mbak, biar ke mbak nya juga lebih jelas gitu :-). Soalnya kan banyak jg dokter yang cuma kasih obat tp nggak kasih tau pasiennya ada apa dengan anaknya ya. Jd pasiennya tetep kebingungan gitu. Moga2 si kecil gpp n ga suka belekan lg ya mbak :-)…

  6. Bu dokter saya udah gede ni,dulu saya disuru khitan tapi ga mau. tapi sekarang2 ini saya kayanya pengen banget tapi malu bu.udah umur 18Thn.klo dikhitan sekarang gpp?malu ga ya ama dokternya.Tapi diri sya sepertinya pengen tuh bu.jadi sebaiknya gimana ya??.minta sarannya

  7. Dear Rudi,

    Malu ya wajar banget dong ya, kan udah gede :-). Tapi kan banyak dokter laki-laki Rud, dan alatnya jg udah canggih, ada yang pake laser segala, waktunya lebih singkat. Supaya malunya berkurang :-) kayaknya motivasinya aja diperkuat, banyak baca2 sumber ttg pertingnya khitan, kalo motivasi kuat, insya Allah halangan apapun termasuk si malu itu pasti bisa nyingkir deh :-)

    Selamat dikhitan yaa :-)

  8. Assalamualikum WrWb,

    dear dokter agnes,
    saya mau tanya, kalo secara medis sebaiknya sunat dilakukan pada usia berapa sich?? soalnya aku & suami sempet debat kapan mau sunat putra kami (8 th). suami ingin putra kami segera disunat karena tradisi di keluarganya semua disunat umur 5 th. sementara aku sendiri ga tega putra kami segera disunat. karena tradisi di keluarga ku juga, aku memaksa putra kami disunat nanti waktu dia umur 13-14 thn. suami sich akhirnya terserah aku. tapi aku jadi bingung, bener ga ya secara medis keputusanku untuk menyunatkan putra kami di usia 13-14 th. terima kasih atas tanggapannya.
    Wassalam.

  9. Dear mbak Dini,

    Kalau secara medis dan anaknya baik-baik aja, sebetulnya nggak ada batasan kapan anak harus disunat. Yang jelas, sunat itu bagus karena menghilangkan kotoran di pangkal penis. Kecuali kalo ada masalah seperti pimosis, anak jd susah kencing dan sering terkena inf saluran kencing, sebaiknya lebih cepat disunat lebih baik.

    Tapi kalo secara Islam, dari umur 7 hari jg udah disarankan disunat ya. Hubungannya secara medis ya itu mbak, jd lebih bersih, krn berarti kotorannya/smegma langsung dibuang, nggak sempet numpuk2 dan tambah banyak.

    Semoga dikit bantu ya mbak…:-)

  10. Saya dikhitan pada usia 27 tahun, pertama kali saya agak sungkan dan terus terang takut karena nggak kebayang sakitnya seperti apa, tapi karena desakan istri saya yang muslimah akhirnya saya pasrah saja dan bersedia disunat. Pelaksanaan sunat dilakukan oleh seorang dokter dan seorang perawat yang kenalan istri saya (keduanya wanita…waduh malunya), setelah sebelumnya saya diperiksa tensi, operasi sunat dilakukan setelah dilakukan pembiusan lokal. Ternyata rasa sakitnya hanya pada saat disuntik anastesi saja, selebihnya tidak terasa apa-apa, jadi bagi yang mau sunat nggak usah takut-takut deh, asal yang menangani professional dijamin tidak sakit dan cepat sembuhnya (saya sembuh setelah 5 hari lukanya kering)

  11. Assalamualaikum wr wb.

    Begini dokter Agnes yang baik,

    waktu aku disunat…kejadiannya sih baru 4 bulan yang lalu…usiaku 24 th. Waktu itu aku dinasehati sama mamaku agar mau disunat..akhirnya aku nyerah juga. dokter yang nyunatin aku namanya dokter Ratna( teman ngaji mama)…dibantu ama 2 suster…duh malunnya (maklum perempuan semua)lucunya mama ama dokter Ratna sama2 pake rok motif kotak2 dan suster yang satu..mbak hidayah malah pake terusan kotak2!…

    Aku disunat sore hari di rumah dokter Ratna(kebetulan dia buka praktek sunat dirumah) terus terang aku sempat (maaf) terangsang.tapi begitu disuruh baca syahadat, aku langsung pasrah…nggak terangsang dan nggak tegang lagi! .

    terus terang aja aku terus terusan dirayu sama mama dan suster Dewi” nggak sakit kok disunat itu”…”nurut aja ya”….pas disuntik…duh sakitnya minta ampun..aku sampai nangis keras dan berontak tapi mama dan mbak dewi dibantu mbak Hidayah megangin aku kuat kuat…aku benar benar nggak nyangka kok sakitnya seperti itu..malu sih aku tapi gimana lagi.

    Untungnya setelah kira kira 5 menitan obat biusnya bekerja jadi aku nggak kerasa sakit lagi.lalu sunatan pun dimulai oleh Dokter Ratna dibantu oleh Mbak Hidayah..kira2 45 menitan selesai…pulangnya ku pake sarung dan “petat”…sekitar jam 6 maghrib ..

    yang mau aku tanyakan sama dokter Agnes..apa benar dokter perempuan kalau menyunat…hasil sunatannya lebih rapi dibanding sunatannya dokter pria?….

    terus…waktu saya tanyakan pada mama ..kok semuannya pakai motif kotak2…jawaban mama “kata Bu Ratna…supaya pasiennya lebih tenang dan nggak takut lihat seragam formal dokter putih putih( menurut saya pribadi…sepertinya pendapat ini ada benarnya…karena saat disunat saya merasa sangat tenang!), apa dokter Agnes semdiri suka mengenakan pakaian(rok,hem) motif kotak kotak? saat praktek/nyunat?

  12. He he, saya senyum-senyum sendiri nih baca pengalamannya Anton, seru juga ya pengalaman di sunat setelah dewasa :-).

    Tentang pertanyaannya, apa hasil sunatan dokter perempuan lebih rapi? Wah ini sih ya nggak jamin, mungkin karena perempuan dikenal lebih rapi dan teliti ya jd ada anggapan seperti ini. Tapi sebetulnya sangat tergantung pada banyak faktor, banyak juga koq dokter laki2 yg rapi jahitannya.

    Tentang baju, hehe lucu jg pertanyaannya tapi memang betul Anton, kalo pake baju putih, terutama buat anak2 ya, pasti mereka lebih tegang, krn dalam benaknya putih itu identik dengan dokter atau suster yg bakal nyuntik atau ngasih obat dll yg kebanyakan nggak enaknya :-). Jd banyak dokter kalo menghadapi anak2 lebih suka nggak pake baju putihnya. Tapi menurut saya, tentu nggak diganti motif kotak2 dong ya :-), apaaja oke, asal nggak menimbulkan gambaran yg tidak menyenangkan. Cuma kebetulan aja kali pas Anton disunat mereka pada pake baju kotak2.

    Semoga yg baca pengalaman Anton dan mas Rudi juga, jd nggak takut disunat yaa.

    Makasih lho udah mau berbagi disini :-)

  13. mbak agnes saya mau minta saran ,saya berusia 19 tahun dulu waktu kelas 1 smp di suruh sunat tapi saya takut dan ga jadi tapi sekarang ini saya sadar dan jadi pengen sunat. cuma mau saya ga ketahuan sama orang tua karena malu.jadi gimana sarannya?lebih baik bilang minta sunat apa ga usah dan saya pergi sendiri aja??kira2 berapa sih besar biaya sunat pake laser mbak?mahal ga.berapa lama proses sembuhnya.

  14. Salam kenal
    Untuk melakukan khitan adalah pilihan, terutama pada khitan dewasa, untuk melakukan khitanan dewasa sebaiknya memilih dokter pria (saya non muslim tapi saya rasa aturannya sama saja agar menjauhi zinah) kecuali jika terpaksa sekali, saya sendiri adalah perawat, dan seringkali meng-asisteni khitan baik anak-anak maupun orang dewasa dengan berbagai alasan (agama, kesehatan, penyakit)baik dengan dokter pria maupun wanita, syukur sampai hari ini belum pernah terjadi pasien saya mengalami sensasi yang bukan-bukan, ada sich yang tegang pada saat mau dieksekusi, tapi akhirnya dibatalkan dan menunggu lain waktu yang tepat dengan dokter dan perawat pria tentunya. Mbak Agnes btw sudah menerbitkan buku yach (saya baca dijudul utama diatas diterbitkan dalam MCM) congrats and salut dech masih muda sudah berkarya, tapi buku tersebut (MCM) bisa didapatkan dimana?

  15. Mbak Nadya, thanks sudah berbagi pengalaman yaa :-)

    Cuma 1 judul ini aja koq Mbak yang diterbitkan, jd itu buku keroyokan. Itu jg nggak sengaja mbak, saya iseng2 ngirim ke yang mau nerbitin, eh ternyata dinyatakan layak buat diterbitkan dgn yang lain. Wah saya jg nggak tau mbak buku itu bisa didapatkan dimana, soalnya saya jauh begini. Judul bukunya saya jg nggak tau mbak hehe, soalnya saya cuma nulis 1 artikel ini sih. Doakan saya segera bikin buku sendiri ya mbak :-)

  16. mbak agnes yang baik saya mau kasih sebuah cerita yang benar2 terjadi di Tarakan seperti yg di ceritakan oleh seseorang. Cerita ini saya tujukan untuk mbak dini.

    semoga setelah membaca cerita ini mbak dini mempertimbangkan kembali untuk mengkhitan anaknya sebelum usia aqil-baliq. Karena memang demikian yang diajarkan dalam Islam (kecuali menjadi muallaf di usia dewasa) untuk menghindarkan hal2 yg tdk diinginkan.

    ceritanya begini:
    Ada cerita menarik di Rumah Sakit di Tarakan, di suatu sore sekitar pukul 17.00 sampai-sampai membuat perawatnya tertawa dan tersipu.

    Awalnya, seorang anak laki2 berusia 14 tahunan – sebut saja andi, diantar oleh ibu dan tantenya datang ke RS Tarakan untuk disunat – khitan. Anak itu lalu ditangani oleh seorang perawat perempuan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang sudah biasa melakukan tindakan khitan ditemani perawat perempuan lain sebagi asistennya. Sebelum dikhitan, karena anak itu sudah aqil-baliq asisten perawat harus mencukur rambut kemaluan anak itu lebih dahulu.

    Setelah itu penis anak itu disuntik. Penyuntikan selesai, lalu didiamkan beberapa saat dengan maksud supaya obat penahan sakit bereaksi ke semua bagian yang akan dikhitan. Setelah itu tindakan khitan dilaksanakan. Ujung kulup anak itu dipotong, setelah itu darah yang ke luar dibersihkan.

    Pembersihan itu dilakukan dengan hati-hati dan lembut untuk mencegah infeksi. Mungkin karena yang menyunat seorang perempuan dan anak itu sudah aqil balik, sehingga penis anak itu perlahan-lahan semakin membesar (ereksi). Kejadian ini membuat perawat perempuan yang menyunatnya tersipu-malu.

    “Saya menyunat orang sudah tidak bisa dihitung lagi, tapi baru kali ini Saya temukan kejadian seperti ini,” kata perawat yang saat itu mengkhitannya.

  17. mbak agnes yang baik, menanggapi cerita anton yang merasa tenang saat disunat karena dokter/perawat mengenakan rok kotak2, saya pribadi hendak membagi sedikit pengalaman saya sebagai dokter yang bertugas di sebuah klinik.

    saya sudah sering menyunat pasien baik yang anak2 maupun dewasa( biasanya mualaf). setiap menyunat saya selalu mengenakan baju dinas( baju putih dan rok hitam/putih)..namun saya memperoleh pengalaman yang merubah penampilan saya dalam penyunatan…

    saat itu saya kedatangan seorang ibu muda yang mendaftarkan anaknya untuk disunat (usia anaknya 13 tahun)..yang agak janggal..ibu tadi minta agar saat menyunat nanti saya mengenakan rok kotak2, karena anaknya takut bila saya pakai pakaian dinas medis( ibu tadi bercerita sering anaknya berontak bahkan teriak histeris saat akan disunat) …karena saya juga punya beberapa rok motif kotak2 saya pun tidak keberatan.

    pada hari yang ditentukan ibu tadi datang dengan anaknya( ibu tadi juga mengenakan rok kotak2)…setelah itu mereka masuk ke dalam ruang praktek saya…rupanya melihat saya dan mbak rima(asisten saya) mengenakan rok kotak2..anak tadi terlihat tdk takut bahkan bisa bercanda…sayapun terheran (belum pernah ada pasien yang saya tangani untuk disunat yang nggak tegang atau takut)….segera setelah dipersilahkan naik ke tempat penyunatan,saya pun mulai penyunatan dg tidak mengalami ‘ perlawanan hebat” dari si anak tadi..syukurlah sunatanya berhasil..!

    saya sempat heran..kok bisa hanya dengan kotak2 pasien saya jadi nurut?…setelah saya tanyakan pada teman saya yang psikiater…dia memberi jawaban kalau motif kotak2..itu mempunyai efek “cerah”sehingga mengurangi tekanan stres..karena itu banyak pihak menggunakannya( kantor..sekolah.dll)…dari pengalaman itu saya hingga kini tetap mengenakan rok kotak2 saat menyunat (teman teman saya seperti dr Rima,zubaidah,dewi dan rindi malah ikut2 an di tempat praktek mereka)…bahkan tirai, alas meja,seprei tempat penyunatan…saya ganti dengan motif kotak2

    mungkin sekedar info buat mbak agnes…sejak itu saya merasa lebih santai saat menyunat pasien pasien saya…!

    demikianlah pengalaman saya,terima kasihsemoga ada gunanya buat semuanya!

  18. Wah, terimakasih sekali nih mbak Ratih buat infonya, saya baru tau lo kalo ternyata ada alasan dari sisi medisnya ya. Ternyata kotak2 memang oye! :-) Ini masukan berharga mbak buat saya kalo udah balik kerja lagi nanti.

    Trimakasih juga krn udah bersedia berbagi ya mbak…

  19. Assalamualaikum wr wb.

    salam kenal mbak Agnes. boleh ya saya ikut kasih tanggapan buat mbak dini dan mbak isti.
    selain dimensi agama, sunat juga terkait dengan tradisi; sehingga pada usia berapa anak laki-laki disunat juga berbeda-beda. misalnya saja (bukan suatu generalisasi) di daerah mbak agnes (jawa barat/sunda), sudah tradisi anak laki-laki disunat pada usia pra sekolah (< 7 thn). lain halnya dengan orang jawa, anak laki-laki mereka biasa disunat pada usia sekolah (sd – smp, atau ada beberapa kasus tahun pertama di sma) karena pertama, ada kaitannya dengan ritus lingkaran hidup. sunat dianggap masa peralihan seorang anak menjadi pria dewasa, oleh karena itu sering dilakukan ketika memasuki usia sekolah. kedua,sebelum ilmu kedokteran mewarnai kehidupan orang jawa, sunat dilakukan oleh bogem (bengkong/dukun sunat)dengan prosedur yang tradisional. menggunakan sembilu, dll sebagai alat pemotongnya tanpa melalui tindakan pembiusan; menjadikan sunat adalah kejadian yang sangat menyakitkan dan menakutkan. oleh karena itu dilakukan ketika di usia sekolah, dengan anggapan anak sudah lebih siap secara mental. Tradisi ini rupaya terus melekat bahkan ketika ilmu kedokteran sudah semakin canggih, terlepas apakah esensinya diikuti atau sekedar menjalankan kebiasaan. keponakan saya juga beberapa bulan lalu baru saja disunat saat umurnya 14 thn, saya menemaninya saat itu dan apa yg diceritakan mbak isti tidak terjadi pada keponakan saya.
    Wassalam.

  20. Assalamualaikum wr wb.

    Suami saya mualaf dan belum sunat, rencana habis lebaran haji mau menikah. saya bingung suami saya apabila mau disunat anunya tegang terus, padahal sudah disuntik/ diinjeksi tingal disunat/ dipotong anunya dan pada waktu disuntik dia tenang/diam dan tidak meronta dan anunya tidal tegang tapi pas mau di sunat/ dipotong tegang baik oleh dokter wanita atau pria dan berbagai cara baik dari baju maupun dikompres. Saya jadi bingung padahal dia sudah mantap mau disunat, apakah calon suami saya disunat oleh dukun atau Bongem yang katanya proses sunatnya lebih cepat? apakah dolter punya gambar atau cd mengenahi cara / proses khitan baik cara medis (Dokter)maupun cara non medis (bogem), la;au punya tolong di email ke email lami ini.Terima lasih sebelumnya.
    Wassalam.

  21. Wa’alaikumsalam…

    Buat mbak Hesti makasih ya buat sharingnya :-) insya Allah bermanfaat buat yg baca.

    Buat mbak kartika, hmm…lucu jg ya pengalamannya :-) Tapi mbak, krn pendidikan saya adalah pendidikan profesi yg mau tidak mau menuntut untuk mengikuti aturan profesioanal, jd saya nggak bisa kasih advice cara non medis mbak.

    Kalo secara medis, saran saya, mungkin mbak bisa dateng ke dokter ahli bedah, bukan dokter umum. Ceritakan masalah mbak,dan barangkali untuk kasus spesial seperti ini dokter bisa mempertimbangkan untuk bius umum/bius epidural. Ini baru mungkin ya mbak, untuk lebih jelasnya, mbak bisa konsultasi sama dokter bedah. Kerugiannya, tentu biaya lebih mahal ya, dan ada efek samping bius semacam ini jg ada. Bius epidural itu lo mbak, bius yg sering dipakai sama ibu2 kalo mau melahirkan.

    Jadi, selamat konsultasi ya mbak, moga2 masalahnya segera terselesaikan….

    Trimakasih sudah bersedia mampir ke ‘rumah’ku :-)

  22. Assalamualaikum wr wb.
    mbak Agnes, saya org Indonesia yg lahir, besar dan tinggal di luar Indonesia selama 25 thn, dan baru tinggal di Indonesia 1 thn. kalau di negara tempat saya tinggal dulu, sunat dilakukan dgn prosedur medis yg ketat. saya ingat waktu abang saya dan bbrp teman saya disunat dulu, pada mereka harus dilakukan pemeriksaan awal (darah dll), persis spt mau dioperasi. dan disunatnya pun di ruang operasi. belakangan saya tahu pemeriksaan itu untuk melihat apakah ada yang membahayakan, seperti hemofili(darah sukar membeku; sbg antisipasi. tp saya kaget ketika di Indonesia, sunat itu dilakukan dgn tanpa ada pemeriksaan awal dan dilakukan dimana saja. dgn tanpa pemeriksaan awal apa tdk khawatir terjadi hal2 yg tdk diinginkan, soalnya teman saya bilang dulu wkt masih kecil ada sepupunya yg meninggal setelah dihitan, pendarahan hebat, belakangan baru ketahuan mengidap hemofili,tapi terlambat. saya lebih kaget lagi dgn sunataan massal, dimana sering sekali kondisi dan peralatan yg darurat (di tenda/ aula/ kelas dsb, peserta dibaringkan di atas meja/ di lantai yang diberi alas dsb) dan disaksikan banyak pasang mata. saya jd berpikir kok tdk ada privasi sama sekali ya mbak, padahal sekalipun mereka masih kecil mrk tetap butuh privasi-kan, lagi pula ada jg peserta yang usianya diatas 12 thn dan mrk perlu dan hrs diberi privasi bukan??? menurut mbak Agnes gimana??? Trimakasih.

  23. Wa’alaikumsalam…

    Hai Novie, salam kenal yaa… Iya ya, kalo kita cerita kondisi di Indo sih memang mengkhawatirkan Nov :-) Sebetulnya prosedur sebelum khitan,aturannya persis kayak yg disebut sama Novie. Tapi masalahnya, di Indo kan kebanyakan rakyat miskin kan, biaya untuk pergi ke laboratorium dan periksa darah segala macem selangit Nov. Jgnkan untuk pergi ke laboratorium, untuk sunat aja maunya yg gratisan/massal kan, lha wong buat makan aja susah. So, buat yg gratisan begini, urusan privasi juga udah menjadi faktor nomor kesekian. semua hanya berlaku untuk orang-orang yang berduit kali ya :-)

    Jadi, dokter umumnya mengantisipasi dugaan haemofili dengan anamnesa, yaitu sebelum dikhitan, ortunya biasanya ditanya dulu. Anaknya kalo habis jatuh, ada luka berdarah cepet kering apa enggak. Kalo keringnya lama, ato ada masalah dengan pembekuan darah, baru disuruh periksa ke lab. Mestinya aturannya at least begitu Nov. Tapi ya begitulah ya namanya dokter jg manusia, sering khilaf. Mungkin dokter yg nyunat sepupu itu lupa nggak anamnesa dulu ya, jdnya samsek nggak curiga haemofili dan nggak cek darah di lab. So, begitulah jadinya. Sedih jg ya memang dengan kondisi kayak gini :(

    Gitu aja sharingku ya Nov. Makasih lho udah mo berbagi cerita disini, semakin mengingatkan aku untuk berhati-hati sebagai dokter :-)

  24. Assalamualaikum wr wb
    saya punya cerita kejadian sunat anton pada waktu sepupu saya namanya ari a disunat.
    sepupu saya disunat pada umur 23 tahun. dia disunat oleh dokter cewek teman tante saya. tante saya cerita kalau anaknya takut dan tidak mau disunat . padahal dia sudah merayunya tapi gagal. akhirnya teman tante saya bersedia membantu dan membuat rencana untuk menyunat ari. begitu ari habis pulang dari kampus, dia disuruh mandi dan disuruh membersihkan burungnya. setelah mandi dia dipanggil teman tante saya dijelasin bahwa dia mau disunat, awalnya dia kaget dan takut. setelah dijelasin dia akhirnya bersedia disunat, mungkin sudah malu kali ya?. dia dipanggil ke ruang tamu, disuruh mencopot celannya dan disuruh berdiri . dokter menyuruh ari tenang, rilek disuruh nonton bola di TV. Dokter lalu memeriksa penis si ari dan bilang siap ari sambil menyuntik ujung dan batang penis ari 4 kali kalau tidak salah. suntikan pertama ari kesakitan mungkin kaget, tapi suntikan selanjutnya kami tambah bingung ari hanya meringis kesakitan pada waktu ujung jarum suntik menusuk penisnya, pas ditekan dan dijabut suntikan dia diam saja. begitu selesai disuntik dia disuruh masuk kemarnya untuk proses sunat berikutnya yaitu dokter memotong ujung kulupnya dan mengobati luka sunatanya dikamar ari. pada waktu disunat dokter bilang ari diam, tenang tanpa mengaduh kesakitan dan dia bilang ternyata sunat hanya sakit pada waktu disuntik ya? kaya kaget digigit semut saja. 3 hari jahitanya dicabut dan tepat 1 minggu sudah sembuh

  25. Dokter,saya mau tanya kalo sunat laser sembuhnya berapa lama ya? trus apakah disuntik 4 kali juga? yang disuntik apa saja?
    Terima kasih

  26. July 8th, 2006 at 7:42 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Halo Budi, sunat laser maupun sunat biasa lama sembuhnya sama aja koq asal sesuai prosedur dan nggak ada komplikasi atau keluhan lain. Kalau masalah suntiknya tergantung dokter yang melakukan. Sunat biasa pun sebetulnya nggak mesti 4 kali suntik, ada yang cukup dengan 1 kali didekat tulang kemaluan. Yang jelas meski pake laser pun pasti di suntik anestesi dulu. Disuntiknya apa saja, sekali lagi tergantung dokter nya. Begitu kira-kira. Semoga jelas ya Budi :-)

  27. Mbak Agnes yg baik, aku mo tanya donk. Kalo sunat untuk cewek gimana yach ??? Aku cewek 26 thn, muslim, akan segera nikah. Apakah khitan juga wajib untuk wanita ??? Apanya yg dipotong ??? Manfaatnya apa ??

    Kata mamaku, waktu kecil aku belum disunat karena nggak wajib. Apakah sekarang aku harus sunat ??? Apakah Mbak Agnes bisa mengkhitan perempuan ?? Di mana aku bisa menghubungi Mbak ?? Kalo emang harus disunat, aku nggak mau sama dokter cowok.

  28. July 15th, 2006 at 9:52 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Dear Enna,

    Dari penelitian terbaru sebetulnya sunat buat perempuan lebih banyak efek sampingnya. Dari agama Islam juga kan sunah aja kan, apalagi Enna dah dewasa. Menurutku mending ga usah aja Na. Malah kalo baca-baca bayi-bayi perempuan di Afrika yang disunat aduuh serem-serem efeksampingnya, soalnya yang melakukannya ga jelas. Soo… dont worry be happy, ga usah aja ya say :-) Eh iya selamat merid ya, semoga lancar semuanya :-)

  29. Sebetulnya khitan untuk wanita yg dilakukan secara benar justru bermanfaat. Khitan yg dilakukan dengan benar adalah memotong / membuang kulit penutup klitoris, bukan klitoris itu sendiri.

    Manfaatnya sama seperti sunat pada laki2, untuk kebersihan dan kenikmatan seksual yg lebih baik karena glans ( kepala) klitoris menjadi terbuka sama seperti kepala penis laki2 yg sudah disunat.

    Jika anda tertarik untuk mengerti lebih lanjut tentang khitan pada wanita yg benar, silakan bergabung di milis ini :

    http://groups.yahoo.com/group/khitancewek/

    Milis ini mempunyai sekitar 1400 member, juga ada banyak gambar dan foto.
    Milis sini dimoderasi dan bebas dari spam dam SARA

  30. Bu Agnes yth,

    Putri saya berumur 1 tahun dan belum dikhitan. Suami dan mertua menginginkan supaya putri saya itu segera dikhitan.

    Bagaimana sebaiknya bu ??? Apakah efek khitan pada perempuan seburuk itu ??? Saya sendiri juga sudah dikhitan dulu, tapi saya tidak merasakan ada masalah apaun dalam hubungan seksual dengan suami .

    Terima kasih bu,

    wassalam,

    endah

  31. July 18th, 2006 at 11:11 pm
    Anonymous says:

    Dear mbak Endah, menarik memang ya membahas sunat pada anak perempuan ini :-). Sebetulnya kalo mau diliat di seluruh dunia kasus ini (istilah medisnya female genital mutilation (FGM)), memang pro dan kontra. Ini berhubung saya belajarnya ya ilmu kedokteran yang mengacu pada Evidance Based Medicine (EBM) ya saya jujur aja bilang yang saya temukan ya mbak :-) Kalo berdasarkan Islam, setau saya juga kan nggak wajib, malah ada yang bilang ini cuma cultural aja. Nah WHO yang jadi kiblatnya kedokteran modern, dan AAP (American Academic pediatric) sudah menyatakan melarang dilakukannya FGM pada perempuan. Kenapa? Karena komplikasinya itu yang bahaya.

    Kalo dulu mbak Endah dikhitan dan sekarang fine-fine aja, mungkin jenis khitannya entah tipe yang mana (cuma digores sedikit aja ujung klitorisnya mungkin) jd ga fatal akibatnya. Walopun sebenernya resiko infeksi juga ada. Memang sih yang parah banget itu terutama kasus-kasus di Afrika. Tapi kayaknya mending cari aman aja kali ya mbak, masa depan anak gitu lo :-) Ini saya copy kan komplikasi yang ditimbulkan dlm bahasa inggris tp ya.
    The physical complications associated with FGM may be acute or chronic. Early, life-threatening risks include hemorrhage, shock secondary to blood loss or pain, local infection and failure to heal, septicemia, tetanus, trauma to adjacent structures, and urinary retention.13,14 Infibulation (Type III) is often associated with long-term gynecologic or urinary tract difficulties. Common gynecologic problems involve the development of painful subcutaneous dermoid cysts and keloid formation along excised tissue edges. More serious complications include pelvic infection, dysmenorrhea, hematocolpos, painful intercourse, infertility, recurrent urinary tract infection, and urinary calculus formation. Pelvic examination is difficult or impossible for women who have been infibulated, and vaginal childbirth requires an episiotomy to avoid serious vulvar lacerations.

    Untuk lengkapnya, mbak baca disini aja ya : http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics%3b102/1/153

    Dan di link ini ada cerita ttg pengalaman perempuan suriname/sudan yang dikhitan http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/1171359.stm

    Memang sih mbak kebanyakan khitan yang di Indo kayaknya sih nggak kayak yang di afrika. Anak saya jg dulu dikhitan, dan saya lihat cuma digores pake jarum aja, (saat itu saya belum update elmu :-)) Nah kalo saya tau komplikasinya serem kayak gini dulu pasti saya juga milih ga mau khitan anak perempuan saya, kalo saya lo ya :-)

    Begitu info yang bisa saya berikan mbak, memang sulit ya mbak kalo udah harus ‘melawan’ arus. Tapi ya begitu lah hidup memang harus memilih hehe. Selanjutnya sila didiskusikan sama suami dan ortunya mbak, keputusan tetap ada ditangan mbak sebagai ortunya kan :-) Semoga terjawab ya…

    Agnes

  32. July 18th, 2006 at 11:23 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Dear mbak putri,

    Maaf ya mbak, masalah khitan pada perempuan ini memang pro dan kontra ya :-) Dan karena ilmu saya berdasarkan EBM (Evidance Based Medicine) dimana keputusan yang diambil oleh para ahli pun sudah berdasarkan penelitian, jadi saya harus bilang apa adanya sesuai ilmu yang saya ketahui saat ini, bahwa saya lebih baik menghindari khitan pada perempuan (seperti yang saya ceritakan sama mbak Endah).

    Tentang milis yang mbak tawarkan menarik tampaknya ya :-) Cuma saya lagi mikir gimana melakukan khitan pada wanita yang benar ya soalnya dulu saya nggak pernah diajari, kalaupun ada dokter yang melakukannya, berarti mungkin dokter yang nggak sepakat sama anjuran WHO :-)

    Saya menghargai dan berterimakasih sekali atas undangan mbak, tapi boleh kan kita berbeda ya :-) Begitu aja ya mbak, mohon maaf lo kalo ada kata-kata saya yang tidak berkenan.

    Agnes

  33. Sedikit sharing pengalaman tentang khitan pada perempuan. Kakak iparku seorang wanita keturunan cina yg menjadi mualaf pada usia 25 thn. Sebelum menikah dengan kakak saya, gadis ini, sebut saja Lina menjalani khitanan terlebih dahulu. Saya sendiri yg mengantar Lina ke tempat praktek bidan untuk khitan.

    Saya tidak berani melihat langsung tapi menurut Lina ternyata proses khitan tidak sesakit yg dibayangkan sebelumnya. Pertama2 dibersihkan terus dicukur, lalu dibersihkan lagi dengan alkohol. Bidan lantas memotong sedikit kulit di bagian ( maaf ) klitoris dengan gunting kecil. Setelah 2 minggu Lina sudah bisa memakai jeans dan beraktifitas seperti biasa.

  34. Mbak agnes,

    Memang selama ini khitan wanita ditentang WHO karena prakteknya yg sangat merugikan, terutama di Afrika. Saya sendiri tidak setuju jika wanita dipotong klitorisnya. Itu sich bukan khitan / sunat tapi mutilasi.

    Sebetulnya khitan wanita secara benar adalah dengan membuang kulit yg menutupi klitoris, dan klitorisnya sendiri sama sekali tidak disentuh. Khitan seperti ini sebetulnya malah bermanfaat bagi wanita ybs, karena klitorisnya menjadi terbuka dan mudah dibersihkan, sama seperti penis laki2 yg sudah disunat. juga lebih mudah mencapai kepuasan seksual karena klitoris yg terbuka lebih mudah dirangsang

    Bahkan di negara2 barat, prosedur khitan seperti ini sering dilakukan untuk tujuan2 tsb. Cuma mereka tidak menyebutnya khitan. Biasa disebut clitoral hood removal. Biasanya pada prosedur labiaplasti yg sanagat populer di sana kulit penutup klitoris juga dihilangkan.

    Sebagai dokter wanita pasti suatu hari Mbak Agnes akan diminta untuk mengkhitan anak perempuan. Saya tahu sebab seorang teman baik saya adalh seorang dokter wanita. Awal2nya dia menolak mengkhitan anak perempuan. Tapi kemudian orangtua si anak membawa anaknya ke dukun untuk dikhitan secara tradisional dan kurang higenis. Akhirnya dengan pertimbangan lebih baik dikhitan oleh dokter daripada oleh dukun, akhirnya teman saya itu melayai permintaan khitan anak perempuan.

    Mbak Agnes ikut milisnya saja Mbak..bebas koq…sekadar buat info dan menambah pengetahuan saja..pasti suatu saat berguna ;)

    wassalam,

    Putri

  35. wanita dewasa ingin khitan
    6- 2006 oleh jona
    pak dokter,bisakah wanita dewasa dikhitan?saya wanita berumur 24 tahun,memiliki kulit penutup klitoris yang seringkali ada kotoran berwarna putih,bisakah kulit penutup klitoris tersebut dipotong agar mudah membersihkannya?mohon bantuannya pak dokter

    Jawaban:
    Kepada jona,

    Pengertian dikhitan yang berlaku selama ini adalah ”manipulasi” terhadap klitoris, bukan penutupnya. Dan saat ini hal tersebut tidak dianjurkan dari segi kesehatan. Penutup klitoris masing-masing wanita berbeda, tetapi jika masih dalam batas normal menurut saya tidak perlu ada tindakan apa-apa. Jika anda merasa hal tersebut mengganggu anda konsultasikan ke dokter Obsgyin di kota anda.

    Terima kasih

    Sumber url :

    http://www.solusisehat.net/tanya_jawab.php?id=3725

    Komentar Putri :

    Artikel tanya jawab di atas adalah copy artikel http://www.solusisehat.net yg dikelola oleh Dr. Boyke Dianugraha. Menurut saya, wanita tsb memiliki masalah kulit penutup klitoris yg terlalu panjang, atau mungkin juga phimosis.

    Solusi terbaik adalah dengan membuang kulit penutup clitoris itu. Phimosis pada penis aki2 cuma bisa diatasi dengan sunat. phimosis pada klitoris wanita bisa diatasi dengan membuang kulit penutupnya

  36. July 26th, 2006 at 2:37 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Dear putri,

    Thanks buat inputnya yaa, tapi setau saya hood removal clitoris itu nama lainnya clitoridotomy/hoodectomy, atau termasuk dalam FGM tipe I. Dan dari sumber yang saya baca hoodectomy ini memang boleh dilakukan tapi pada kasus-kasus khusus seperti klitoris yang overgrown atau klitoris yang tidak bisa retracted, termasuk yang pimosis, jadi bukan untuk semua wanita. Yang jelas dunia kedokteran mempertimbangkan risk n benefit, kalo memang tidak perlu/tidak ada keluhan, tindakan sekecil apapun termasuk clitoral hood removal kalo ga ada manfaatnya ga akan dipilih. Tentu akan bermanfaat bagi yang punya masalah dengan klitoris/hub sex, tapi apakah clitoral hood removal bermanfaat buat semua wanita? rasanya saya belum pernah baca penelitian soal ini. Kalo ada penelitian yang terbaru tolong kasih tau saya ya Put.

    Di majalah ayah bunda (artikel saya copy dibawah), ada pembahasan yang menyatakan bahwa sunat pada wanita tidak ada manfaatnya. Nah dari situ yang saya tangkep sih maksudnya sunat yg diidentikkan dengan FGM, tapi juga samsek nggak ada anjuran sunat yang diperbolehkan (hood removal clitoris misalnya), jadi saran pemerintah justru agar mengedukasi masyarakat untuk tidak melakukan sunat pada wanita. Kalo memang ada data penelitian bahwa hood removal klitoris memang bagus untuk semua wanita, milisnya putri bikin usulan aja ke depkes supaya bikin penelitian dan woro-woro untuk bikin definisi sunat dan cara sunat yang sesuai dengan kultur di Indo, bermanfaat banget kan biar ga bikin bingung masyarakat :-)

    Btw, soal temen dokter wanitanya putri, masing2 orang berhak memilih keputusan apapun kan ya. Kalo saya pribadi, saya bukan tipe yang melakukan sesuatu karena ‘dp ke dukun’ misalnya. Tapi prinsip apa yang saya pegang itulah yang akan saya lakukan. Kalau misalnya FGM itu berbahaya ya saya harus berusaha mengedukasi pasien supaya tidak melakukan FGM, dan saya tidak akan mau melakukannya walaupun pasien maksa. Kalau dia tetep keukeuh ke dukun pada akhirnya bukan tanggung jawab saya lagi, yang jelas saya sudah coba edukasi sebelumnya kan.

    Nah kalo memang pasien membutuhkan hood removal klitoris, saya cuma dokter umum, bukan kapabilitas saya untuk melakukannya, apalagi sekarang jaman tuntut menuntut, bisa berabe kalo saya melakukan yang bukan jatah saya. Kalo memang ada masalah di klitorisnya akan saya rujuk ke dokter bedah yang lebih ahli. Kalau saya nggak salah (apalagi di LN termasuk di Belanda sini) dokter umum samsek ga berhak melakukan hood removal klitoris, dan hood removal klitoris pun dilakukan bila ada indikasi/keluhan dari pasien, tapi ya di Indonesia memang ceritanya lain, apa sih yang nggak bisa dilakukan di Indo hehe… Tapi saya baca di link ini : http://www.cbc.ca/story/world/national/2005/06/02/circumcision050602.html
    dokter dan paramedis yang melakukan female circumsision di Indonesia bakal di ban lo, wah serem juga ya :-)

    Oke, sekali lagi thanks buat inputnya yaa… ini saya copy dari ayahbunda artikel soal melarang sunat pada wanita.

    Stop Sunat Anak Perempuan

    WASPADA !!!

    Beberapa komplikasi yang mungkin timbul akibat tindakan sunat pada perempuan adalah:
    • Terjadi risiko perdarahan
    • Syok akibat kehilangan darah
    • Nyeri
    • Infeksi local
    • Tetanus
    • Trauma dari bagian-bagian seputar alat reproduksi
    • Air seni tertahan
    • Timbul kista yang nyeri
    • Infeksi panggul
    • Rasa sakit saat bersenggama
    • Masalah infertilitas
    • Infeksi saluran kemih berulang

    Berbeda dengan anak laki-laki, sunat pada anak perempuan terbukti tidak ada manfaatnya secara medis. Malah merugikan!

    Bagi kebanyakan orang di Indonesia, sirkumsisi (lebih dikenal dengan sunat) pada anak laki-laki merupakan peristiwa penting. Ibarat pintu gerbang yang menghubungkan masa kanak-kanak ke masa remaja dan dewasa. Makanya, selalu ada perayaan khusus ketika
    melakukannya. Bahkan bagi penganut agama Islam, sunat pada laki-laki diwajibkan.
    Sebaliknya, tidak demikian dengan sunat pada anak perempuan. Meski banyak juga yang melakukan, tetapi di Indonesia, sunat pada anak perempuan umumnya tidak “seheboh” anak laki-laki.

    Penting Anda tahu, kalangan medis pun kini tidak lagi menganjurkan anak perempuan disunat. Tidak ada manfaatnya Menurut dr. Rini Sekartini, SpA dari Departemen Ilmu
    Kesehatan Anak FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, secara media sunat pada anak laki-laki, yaitu berupa pemotongan kulit kepala penis, memang bermanfaat.
    Ia menjelaskan, “Lapisan kulit penis terlalu panjang, sehingga sulit dibersihkan. Kalau tidak dibersihkan, kotoran yang biasa disebut smegma akan mengumpul, dan sering menimbulkan infeksi pada penis. Bahkan bisa memicu timbulnya kanker leher rahim pada perempuan yang disetubuhinya. Selain itu secara medis juga membuktikan, bagian
    kepala penis peka terhadap rangsangan karena banyak mengandung saraf erotis. Ini membuat kepala penis yang tidak disunat lebih sensitive daripada yang disunat.
    Jadi, sunat ternyata juga membantu mencegah terjadinya ejakulasi dini.”
    Di negara lain, misalnya Amerika Serikat, walau masih controversial, mereka juga melakukan sunat pada bayi laki-laku yang baru lahir. Tujuannya, antara lain untuk mengurangi risiko infeksi saluran kemih, penyakit menular seksual, dan pencegahan terhadap kanker penis.

    Nah, berbeda dengan anak laki-laki, masih menurut dr.Rini, secara medis sunat pada anak perempuan (female genetical mutilation – FGM) ini, tidak ada manfaatnya. Praktik ‘amputasi’alat kelamin perempuan yang terjadi selama ini pada dasarnya memang tidak terlepas dari nilai kultur masyarakat. Sebagian masyarakat meyakini, perempuan memiliki nafsu seksual lebih tinggi disbanding lelaki. Makanya, menurut mereka, cara
    efektif untuk mereduksi nafsu seksual perempuan ini adalah dengan melakukan tindakan sunat,” jelas dr. Rini. Di beberapa komunitas memang ada anggapan, perempuan
    tidak berhak menikmati kepuasan sekual sebab dia hanya pelengkap kepuasan seksual
    lelaki. “Di luar masalah kultur, yang pasti bila tindakan ini tidak dilakukan dengan hati-hati dan tepat, justru menimbulkan komplikasi, baik akut maupun kronis,” lanjut dr. Rini.

    Bentuk Kekerasan

    Belakangan ini beberapa organisasi Internasional, seperti Humanitarian National, The World Health Organization (WHO) dan The International Federation of Gynecology and Obstetrics, berpendapat bahwa FGM secara medis tidak diperlukan. Bahkan, The American Collage of Obstretricians and Gynecologist and the College of Physicians and
    Surgeons of Ontario, Canada, melarang anggotanya untuk melakukan kegiatan tersebut.
    Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa FGM adalah tindakan illegal, dan orang yang melakukannya dikatagorikan melakukan tindakan kriminal. Inidianut oleh negara seperti Swedia, Norwegia, Australia dan Inggris. The American Academy of Pediatrics (AAP) pun menganjurkan anggotanya untuk memberikan informasi tentang FGM dan
    komplikasinya pada masyarakat. Selain intu, AAP juga minta anggotanya untuk mengenali tanda-tanda fisik dari FGM, waspada terhadap isyu kultur dan etik yang
    dikaitkan dengan FGM, serta memberikan penjelasan/edukasi pada pasien yang ingin melakukan FGM, dan mengurangi prosedur medik yang diperlukan untuk mengubah alat genital perempuan.

    Bagaimana di Indonesia? Rini menyayangkan data di Indonesia mengenai tindakan sunat
    pada anak perempuan tidak banyak. Data yang ada adalah laporan di Somalia (Afrika)
    dan populasi Sunda, diperkirakan sekitar 100 juta perempuan menjalani tindakan sunat, dan 4-5 juta diantaranya dilakukan pada bayi perempuan. Sehubungan dengan hal itu, Rini pun menyarankan, sebaiknya dilakukan program edukasi tentang sunat pada anak perempuan ini pada masyarakat. Dalam hal ini tentu saja perlu dipertimbangkan factor
    budaya dari masyarakat yang bersangkutan. “Penjelasan secara rinci tentang anatomi genital perempuan dan fungsinya, sangat penting. Begitu juga dampak fisik dan psikologis jangka panjang dari tindakan FGM. Program ini jelas memerlukan kerja
    keras, terutama bagi dokter anak atau dokter bedah anak, dan tenaga medis pada umumnya,” katanya. Perlu Anda tahu, pemerintah Indonesia, melalui Kantor
    Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, mendukung penuh semua usaha
    untuk menghapus pelaksanaan sunat pada perempuan, terutama yang merusak organ
    reproduksi. Karena, hal ini dianggap sebagai salah satu tindak kekerasan terhadap perempuan. Apalagi, Menteri Kesehatan dr. Siti Fadilah Supari,Sp.JP(K) pun mengungkapkan, sunat perempuan tidak pernah ada dalam standar pelayanan kesehatan.

    Sumber; majalah Ayahbunda, no.18/1-14 September 2005

  37. dear mbak Agnes & all,
    ini ada beberapa link artikel. mungkin bermanfaat.

    http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/13/0306.htm
    http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=12032&no=2

  38. July 26th, 2006 at 11:47 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Buat Dian, makasih ya buat linknya :-) Saya baca itu kasusnya khitan laki-laki ya. Sebetulnya kalo khitan laki-laki malah dianjurkan dan bermanfaat banget. Kasus-kasus gagal kayak gitu memang mesti ada tapi 1diantara beberapa ribu pasien mungkin, sangat jarang. Kalo yang di nova karena alergi obat bius, dan satu lagi ga jelas penyebabnya.

    Intinya bisa jadi itu human error atau memang idiosinkrasi obat, tapi yang jelas kalo khitan pada laki-laki ga ada masalah, manfaatnya sudah terbukti dan kasus-kasus seperti diatas sangat jarang. Anyway thanks buat linknya ya, bisa membuat para dokter dan paramedis lebih berhati-hati saat mengkhitan :-)

  39. Mbak Agnes,
    Ada benarnya apa yg Mbak Agnes katakan, tidak semua peserta khitanan massal adalah orang yang tidak mampu; ada juga yang mau gratisan saja, walaupun tujuan sebenarnya adalah untuk membantu yang tidak mampu. Saya tidak mau mengomentari soal itu, tetapi pelaksanaannya.
    Pengalaman saya begini, karena kesulitan ekonomi, 15 thn lalu saya menjadi peserta khitanan massal. Saya tinggal dgn mbak saya, sementara dia hanya buruh garment. Senang akhirnya dikhitan juga sekalipun mungkin terlambat sekali karena saya sudah kelas 3 smp.
    Suasananya persis pasar saja, banyak sekali orang yang tidak berkepentingan; bahkan teman2 sekolah saya yang perempuan bisa ikut melihat. Padahal saya butuh privasi, paling tidak tanpa harus ada teman2 perempuan sebaya yang melihat.
    Hampir saya membatalkan ikut untung mbak saya yg meyakinkan untuk tetap ikut, soalnya kapan lagi bisa dikhitan. Akhirnya saya ikut juga pas sampai giliran saya, sekalipun harus menahan malu karena dilihat banyak pasang mata. Menurut saya sebaiknya hanya paramedis dan seorang kerabat saja yg boleh ada.
    Setelah proses khitan, selesai juga hubungan peserta dengan panitia. Padahal kan butuh kontrol pasca khitan juga. Untung ada bidan yang tinggal didekat kami yang mau membantu kontrol pasca khitan saya waktu itu. Ada baiknya jika ada pelayanan kontrol pasca khitan yang diupayakan oleh panitia.

    Oleh karena itu menurut saya seharusnya ada standarisasi agar lebih manusiawi dan sesuai standar medis, bukan sekedar memecahkan rekord berapa banyak anak yang dikhitan.

    Berikut saya lampirkan tanya-jawab soal khitanan massal dari KCM.

    Amankah Khitan Massal?

    Oleh: Dr Samsuridjal Djauzi

    Kasus:

    “Saya bersama teman-teman baru saja mengadakan kegiatan khitan massal. Karena kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan masa liburan sekolah, lebih dari lima puluh anak yang ikut dalam khitan massal tersebut. Acara berjalan sukses.

    Saya sudah beberapa kali ikut panitia khitan massal, saya merasakan kali ini tim kesehatan bekerja lebih profesional. Sehari sebelum mengadakan khitan massal, mereka memeriksa terlebih dulu anak-anak yang akan dikhitan, menanyakan kesiapan anak-anak tersebut dan memeriksa keadaan fisiknya.

    Pada acara khitan massal, tenaga kesehatan yang melaksanakan semuanya dokter meski banyak yang masih muda. Mereka mengarahkan pengaturan ruangan khitan secara baik sehingga tak terlalu banyak orang tak berkepentingan ada di ruangan tersebut. Alat-alat kedokteran yang akan digunakan untuk khitan jumlah mencukupi. Mereka tak bekerja terburu-buru, baik dalam mengkhitan maupun membalut. Semua tampak rapi.

    Jika saya bandingkan kegiatan khitan massal kali ini dengan yang sebelumnya, tampak perbedaan nyata sehingga timbul pertanyaan dalam diri saya; apakah kegiatan khitan massal yang biasa dilakukan di negeri kita sudah mempunyai pedoman baku? Ini saya tanyakan karena tampaknya tenaga pelaksana dan peralatan masih beragam. Tenaga pelaksana khitan tidak hanya dokter, tetapi juga perawat. Persiapan dan pemeriksaan lanjutan anak-anak yang dikhitan juga berbeda. Bahkan, ruangan tempat pelaksanaan khitan sering kali disusun seadanya.

    Mengingat yang akan dikhitan adalah anak-anak, sudah sewajarnya diatur agar anak-anak terlindung dari kemungkinan kecerobohan atau ketidakterampilan tenaga kesehatan pelaksana khitan. Meski khitan massal umumnya cuma-cuma, tetapi anak-anak berhak mendapat layanan bermutu untuk menghindari komplikasi yang mungkin timbul.

    Saya bukan tenaga kesehatan. Karena itu, saya tak memahami aturan kerja dalam layanan kesehatan. Tetapi, saya berharap kegiatan khitan massal yang merupakan kegiatan sosial ini dapat dilaksanakan secara aman. Bagaimana pendapat Dokter?”

    (M di B)

    Jawaban:

    Saya amat setuju dengan pendapat Anda. Setiap layanan kesehatan perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan rasa kemanusiaan. Meski layanan khitan massal merupakan layanan sosial, mutu layanan harus tetap dijamin.

    Setiap tahun di Indonesia ribuan anak menjalani khitan oleh dokter, perawat, bahkan masih banyak yang dikhitan oleh tenaga nonmedis.

    Pada khitan dilakukan perlukaan alat kelamin yang memungkinkan terjadinya penyulit perdarahan, infeksi, atau kecelakaan sehingga tindakan itu harus dilakukan tenaga terlatih. Tetapi, sesuai kebiasaan kita, ternyata tak semua tenaga yang melakukan khitan ini mendapat latihan yang diperlukan.

    Sebagian tenaga nonmedis melakukan khitan secara turun-temurun. Teman-teman perawat melakukannya dengan terampil, tidak semua berdasarkan pelatihan memadai. Dokter muda ikut dalam kegiatan khitan massal dengan kesadaran sosial tinggi, tetapi sebagian belum cukup terampil.

    Kita tentu semua ingin agar khitan di negeri kita, baik perorangan maupun massal, dilakukan secara profesional. Karena, jika timbul kecelakaan atau komplikasi, akan mengakibatkan penderitaan pada anak yang dikhitan.

    Belum lama ini saya mendapat kabar dari sahabat saya tentang kecelakaan pada khitan massal yang cukup serius. Sudah tentu kita semua harus mencegah kecelakaan atau komplikasi yang mungkin timbul. Sesuai dengan informasi Anda, tampaknya khitan di negeri kita perlu dibuat standarnya. Tenaga yang akan mengkhitan perlu mempunyai kompetensi yang diperlukan. Peralatan kedokteran yang diperlukan perlu disterilisasi dengan benar. Anak yang akan dikhitan dipersiapkan secara fisik maupun psikis. Tindak lanjut untuk memantau hasil khitan dilakukan dengan baik.

    Anda menginformasikan khitan kepada anak laki-laki. Patut kita sadari, khitan pada anak perempuan di negeri kita juga cukup berisiko sehingga harus dibuat standar yang melindungi anak-anak perempuan dari kemungkinan kecelakan.

    Mengingat kegiatan khitan pada anak laki-laki dan perempuan amat sering dilakukan, adanya pedoman yang Anda anjurkan amat mendesak. Siapa yang akan menyiapkan standar tersebut ? Kita berharap profesi kedokteran di Tanah Air terpanggil meningkatkan mutu layanan khitan ini sehingga keamanan khitan dapat dijamin.

    Memang benar di masyarakat kebanyakan khitan dilakukan sesuai kemampuan masyarakat. Tetapi, puskesmas atau dokter praktik swasta dapat berperan membina dan meningkatkan keamanan layanan khitan di masyarakat. Melalui pedoman tersebut, pelaksanaan pengawasan dapat dilakukan dengan baik.

    Sebagai dokter saya mengucapkan terima kasih atas kepedulian Anda pada masalah kesehatan. Anda telah menunjukkan masalah kesehatan adalah tanggung jawab kita bersama. Mudah-mudahan profesi kedokteran dapat menindaklanjuti saran Anda sehingga tak ada lagi anak Indonesia menjadi korban kecerobohan atau ketidakmampuan tenaga pengkhitan. Terima kasih. ***
    sumber: KCM, Minggu, 30 Juli 2006 – 08:46 wib

  40. August 1st, 2006 at 11:04 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Duh ga kebayang malunya ya mas Bowo :-) Sebetulnya kalau saya pribadi, andai rakyat Indonesia mampu, lebih baik nggak usah ada deh khitanan massal, bagaimanapun bahkan setiap anak punya privacy yang harus dihargai. Semoga someday lebih baik deh.

    Mas Bowo, makasih sudah berbagi, dan makasih juga buat sumbangan copy artikelnya :-)

  41. Bu Agnes, anak perempuan saya sudah telanjur dikhitan. Gimana ya ???

  42. Dear mbak Indah,

    Sama mbak, anak perempuan saya juga dulu terlanjur di khitan, karena waktu itu masih gaptek jadi ortu :-). Dan saya juga dulu dikhitan mbak sama ortu saya, alhamdulillah sih ga kenapa-kenapa. Saya pikir karena yang sering dilakukan di Indo kan yang digores aja pake jarum mbak, kayak anak saya dulu juga begitu. Kalo kata ortu jaman dulu yang sudah ya sudah, insya Allah ga akan apa-apa :-). Cuma, buat kedepannya, karena kita udah tau ga ada manfaatnya malah ada resiko, buat apa dilakukan. Jadi buat informasi teman , saudara atau buat anak berikutnya aja mbak :-)

  43. Salam kenal bu Agnes,
    Begini bu Agnes,di deket rumah saya ada sebuah RSUD,dan kebetulan saya mempunyai kost-kostan yang kebanyakan dihuni oleh perawat – perawat laki-laki yang bertugas di RSUD tsb.pernah suatu hari secara ga sengaja saya mendengar obrolan diantara mereka,yang pada intinya mereka saling menceritakan pengalaman mereka saat menangani pasien wanita,dimana mereka saling menyebut nama – nama wanita yang sudah mereka lihat alat vitalnya,beberapa diantaranya tetangga saya.Mereka juga menceritakan tugas mereka saat mencukur rambut kemaluan pasien – pasien wanita saat akan dioperasi.Pada saat itu saya sangat terkejut dengan sistem pelayanan kesehatan semacam itu,makanya saya ingin menanyakan apakah memang tidak ada kode etik dlm pelayanan kesehatan dimana pasien wanita hanya boleh diurusi oleh perawat wanita?,sehingga hal ini bisa di salah gunakan oleh pribadi-pribadi yang punya sifat iseng (mumpung ada kesempatan ).Sejauh ini yang saya masalahkan adlah perawat,bukan dokter.Kalo dokter,wanita atau pria menurut saya tidak ada masalah,karena saya percaya dengan profesionalisme dan tanggung jawab dokter yang sangat besar terhadap pasiennya.tapi kalo perawat,dari sisi tanggung jawab saja sudah beda,makanya saya mohon kepada bu Agnes agar bisa menampung masukan dari saya ini,agar saudara – saudara kita tidak ada lagi yang menjadi korban keisengan dari perawat – perawat yang tidak bertanggung jawab.Mungkin bu Agnes bisa mengusulkan hal ini pada menteri kesehatan / instansi terkait agar bisa dibuat aturan yang jelas mengenai hal ini ,terima kasih

  44. Saya setuju sekali dengan usul dewi. Sewaktu teman saya melahirkan, malah dijadikan praktikum bagi sekelompok mahasiswa kedokteran, termasuk yg laki2 juga. Memang tujuannya pendidikan, tapi hal itu dilakukan tanpa persetujuan ybs.

    Saya rasa hal itu sangat tidak etis.

    Kebetulan adik saya menikah dengan seorang lelaki mualaf. Jadi calon suaminya harus disunat dulu sebelum akad nikah. Dokternya laki2, tapi didampingi oleh 2 perawat wanita yg masih sangat muda. Tentu saja adik saya menyatakan keberatan milik calon suaminya dilihat dan dipegang2 oleh wanita lain. Wong saat itu calon istrinya saja belum pernah melihat koq !

    Saya setuju sebaiknya dibuat regulasi tentang hal ini.

    Satu lagi yg saya tidak habis pikir. Kenapa kebanyakan dokter kandungan justru laki2 ?????

  45. Wah saya baru tahu begitu ramenya pembahasan soal sunat wanita. Sudah jelas gak wajib masih saja diperdebatkan anehkan . Melakukan yg wajib aja susah kok malah yg tidak wajib.Referensi kita umat muslim jg jangan jauh-jauh, ikuti alquran dan rujukannya hadis yg shahih insyaAllah beres.Saya kira dokter-dokter Islam jg harus lebih memperdalam ilmu kedokteran dari Alquran.
    Anak perempuan saya sekarang 10 th tdk pernah saya khitan krn gag wajib dan pada keluarga saya jg sdh sy jelaskan tapi krn tradisi lebih kuat daripada Alquran mereka emoh malah menganggap saya yg “sesat”……….

  46. August 27th, 2006 at 10:39 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Dear mbak Dewi salam kenal juga :-)
    Makasih sharingnya ya mbak, hmm…dasar lelaki ya mbak hehe. Usulannya bagus mbak,tapi sayangnya saya bukan pejabat yang bisa didengar suaranya, tapi someday kalo ketemu salurannya saya akan sampaikan mbak. sekali makasih ya :-)

  47. August 27th, 2006 at 10:48 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Dear mbak Evina, wah…wah memang menyebalkan ya kalo kasusnya seperti adik nya mbak. Ya begitu lah mbak di Indonesia bidang kesehatannya juga masih carut marut, mudah-mudahan suatu saat ada aturan yang bisa tegak soal ini ya.

    Tentang dokter kandungan laki-laki, sekolah spesialisasi di bagian kandungan itu berat banget mbak. Kalo perempuan, biasanya suami dan anak jadi korban, hampir ga ada waktu buat keluarga, jadinya rawan perceraian juga, blum lagi musti siap dipanggil kapanpun. Jadi cuma perempuan2 yang mau berkorban hal ini atau yg belum berkeluarga aja yg mau jadi dokter kandungan. Kalo laki-laki kan relatif ga masalah ya, urusan anak diiserahkan ke istri, dan memang kalo laki-laki kerja nyaris 24 jam bahkan seminggu sekali pulang juga udah dimaklum, krn dia tg jawab cari nafkah. Kalo perempuan, harus punya suami, dan keluarga yang betul2 mendukung baru bisa jalan, blum lagi masalah fisik juga harus kuat. Wah pokoknya saya juga salut deh sama perempuan yang mau jadi dokter kandungan atau bagian-bagian berat lainnya.

  48. August 27th, 2006 at 10:54 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Iya ya mbak Ewi, kadang manusia emang suka membuat yang susah jadi gampang n yang gampang dibuat susah. Kalo gitu kasih bukti2 penelitian dan artikel-artikel ttg kebijakan di Indonesia aja ke keluarganya mbak, biar nggak dianggap sesat lagi, jadi malah bisa memberikan pencerahan :-). Smoga sukses yaa…

  49. MUI Tak Mempersoalkan “khitan” Bagi Wanita

    Banjarmasin (ANTARA News) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) nampaknya tak mempersoalkan ketentuan “basunat” (khitan) bagi perempuan, karena hal itu masih dianggap aman dan tak ada persoalan kesehatan terhadap yang bersangkutan.

    Seperti dikemukakan Ketua Dewan Pimpinan Pusat MUI, Drs. H. Amidhan,
    saat berada di Banjarmasin, basunat bagi bayi perempuan maupun laki-laki sebagaimana dilakukan selama ini nampaknya aman-aman saja, demikian dilaporkan, Selasa.

    “Apalagi basunat itu dilakukan bagi seorang Muslim, karena khitan selain membersihkan najis dari alat kelamin atau kemaluan, yang merupakan kewajiban terhadap setiap umat Islam, juga bisa mamacu pertumbuhan anak,” tandasnya di sela-sela Rakor MUI Wilayah IV se Kalimantan.

    Ia mengungkapkan khitan bagi bayi perempuan dan laki-laki hukumnya sunnah sejak zaman Nabi Ibrahim alaihi salam (AS) dan terus menerus dilakuan hingga masa nabi terakhir (akhir zaman Muhammad SAW), yang akhirnya menjadi sebuah budaya dan kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan bagi seorang Muslim.

    Selama ini hitanan bagi perempuan dan laki-laki tidak ada masalah, dan seandainya ada anggapan hitan akan berakibat merusak, sehingga dilakukan pelarangan, maka hal tersebut perlu pembuktian, baik secara teori kesehatan maupun teori lain serta kenyataan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Jika ada yang menyatakan hitan dapat merusak atau menghambat reproduksi, saya kira hal itu alasan yang mengada-ada. Sebab pertumbuhan yang signifikan terjadi pada penduduk Indonesia yang mayoritas muslim dan rata-rata sudah di hitan,” katanya.

    Ia menegaskan, manfaat hitan sangat besar bagi Muslim maupun muslimah karena khitan menghilangkan najis dari kemaluannya (alat kelamin). Oleh sebab itu, Islam memandang positif terhadap pelaksanaan hitan tersebut asalkan dilakukan dengan baik dan benar.

    “Sebab seorang Muslim tidak boleh salat sebelum membersihkan najisnya, dan salah satu cara menghilangkan najis tersebut dengan cara dihitan,” demikian Amidhan.

    Pendapat senada dikemukakan H. Syamsuddin Hasan, dari Presidium Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kalimantan Selatan (Kalsel), seraya menyangsikan ketentuan pelarangan hitan bagi bayi perempuan.

    “Jangan-jangan pelarangan itu mengandung misi dari kelompok tertentu yang sengaja mengintrodusir dengan dalih kesehatan, sehingga selama kaum Muslimin tak bersih dari najis karena tak dihitan, maka selama itu pula bagi kaum perempuan bisa tidak sah dalam pelaksanaan shalat,” tandasnya.

    Oleh sebab itu, mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Banjarmasin tersebut mengimbau semua pihak, terutama umat Islam yang bekerja sebagai tenaga kesehatan, harus mewaspadai dan tidak serta-merta turut mengikuti ketentuan pelarangan khitan.

    “Apalagi kalau seorang pejabat yang Muslim tanda kajian yang lebih seksama dan mendalam, ikut-ikutan menginstruksikan hitan tersebut dilarang, maka hal itu akan menjadi na`ib (tidak terpuji) dalam keislaman,” demkian Syamsuddin Hasan. (*)

    http://www.antara.co.id/seenws/?id=41063

  50. Bagaimana tanggapan teman2 tentang komentar MUI tidak mempermasalahkan khitan wanita ???

    Saya rasa sebaiknya MUI bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia untuk membuat prosedur standar khitan bagi wanita. Yg aman dan bermanfaat bagi wanita ybs tentunya

    Mungkin Mbak Agnes bisa meneruskan ke IDI ???

  51. Makasih ya buat sharing artikelnyanya. Komentar saya, sekali lagi semua kembali kepada keyakinan masing-masing kan, kita saling menghargai aja deh. Saya cuma sharing apa yang saya yakini dan saya pelajari. Karena saya belum pernah nemu hadist/ayat yang bilang kalo perempuan najis kalo ga disunat dan ga sah sholatnya. Dalam hal ini saya berbeda keyakinan dengan bapak dari Kalsel dalam artikel itu.

    Saya baru pulang ikut ESQ nih jadi inget, mendingan kita bersihkan hati dari segala prasangka lalu memohon petunjuk sama Allah aja deh biar segala belenggu lepas dan jawaban Allah muncul. Itu yang saya lakukan kalau saya harus memilih. Jadi monggo mas/mbak/bapak-bapak ibu-ibu…silahkan memilih dengan keyakinan masing-masing, karena hidup adalah pilihan dan kita sendiri nanti yang akan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan kita itu dihadapan Allah.

  52. September 13th, 2006 at 6:40 am
    Elsa Nuraini says:

    Kalo aku sich, udah telanjur disunat hehehehe..
    Tapi alhamdulilah sekarang sudah nikah gak ada problem apa2..
    Malah suamiku dulu bilang, kalo aku belum sunat, sebelum nikah harus disunat dulu..waduh, gak bisa bayangin dech…
    untung sudah sunat waktu bayi hehehe

  53. September 14th, 2006 at 9:22 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Syukur deh mbak elsa kalo ga ada apa-apa :-) Memang kalo di Indonesia sunatnya bukan tipe yang ‘mengerikan’ kayak di afrika itu. Yang disunat banyak yang bilang gapapa, yang ga disunat juga sama, harus diteliti lebih lanjut nih kayaknya kalo yang di Indo. Thanks udah mampir ya mbak :-)

  54. Dear all,
    Saya mo bagi cerita tentang sunat, saya sunat di usia 25 tahun.
    saya dari keturun keluarga yang tidak mengenal sunat, tapi di pergaulan dan permainan teman teman lihat banyak yang sunat, tapi saya tidak berani minta sunat sama orang tua,
    sejak kelas 6 sd sebenarnya pingin sunat, tapi tdk berani, jadi kalu mandi ujung kulup saya tarik kebelakang, dan di bersihkan, itu terus saya lakukan samapi akhirnya, gland penis saya ter buka, dan kulit kulup menggulung ke belakang, meme\ang waktu pertama tama kulupnya balik lagi, tapi lama lama karena saya pakai celana ketat akhirnya kulup tergulung kebelakang, waktu sma di tanya sama temen temen saya bilang sudah sunat, tapi sebenarnya cuma kulup yg menggulung, tapi kadang kala masih balik lagi kedepan dan kalu begitu ujung nya merah dan perih,
    sampai akhirnya di usia 25 thn saya mendengar ada dokter yang bisa menyunatkan dewasa, jadi saya pergi kedokter itu dan minta sunat,
    yang lucu waktu nunggu sunat saya di suruh buka celana dan baring diranjang muka saya ditutup supaya gak malu kali, terus susternya masuk begitu dia lihat ada pasien yang mo sunat di a siap siap, terus saya denger dia omong ama temen nya , ini ka udah sunat ko mau sunat lagi, dokter jawab belum tuh , jadi memang kulup saya menggulung kebelakang dan gland penis sudah terbuka bersih persis seperti sudah sunat.
    lalu rambut kemaluan di gunting dan suntik anastesi, terus ujung kulup di tarik dan di tandai, dokter bilang ini yang dipotong, gak terasa loh di potong cuma terasa di pegang pegang, dan dokter bilang sdh tinggal jahit,
    gak lama sdh selesai dan dokter bilang sdh beres saya lihat yan sudah beres dan di perban, terus bisa pakai celana dan jalan jalan, tiga hari kemudian sdh bisa naik motor , dan 7 hari setelah suant buka jahitan dan bekasnya di kasih betadine.
    Salut deh untuk dokternya. jadi sunat gak sakit.
    Saya cerita keteman yang sama suant dewasa karean mualaf, dia bilang habis sunat rasa nya di ujung gland penis terangsang terus karena gesekan ama celana, saya sih tidak karena dari kecil sdh terbiasa gland penis terbuka.

    Menjadi pertanyaan apakah gland penis yang terbuka dan ter gulung kebelakang sam seperti sunat ?.

  55. Dear all,
    Saya mo bagi cerita tentang sunat, saya sunat di usia 25 tahun.
    saya dari keturun keluarga yang tidak mengenal sunat, tapi di pergaulan dan permainan teman teman lihat banyak yang sunat, tapi saya tidak berani minta sunat sama orang tua,
    sejak kelas 6 sd sebenarnya pingin sunat, tapi tdk berani, jadi kalu mandi ujung kulup saya tarik kebelakang, dan di bersihkan, itu terus saya lakukan samapi akhirnya, gland penis saya ter buka, dan kulit kulup menggulung ke belakang, meme\ang waktu pertama tama kulupnya balik lagi, tapi lama lama karena saya pakai celana ketat akhirnya kulup tergulung kebelakang, waktu sma di tanya sama temen temen saya bilang sudah sunat, tapi sebenarnya cuma kulup yg menggulung, tapi kadang kala masih balik lagi kedepan dan kalu begitu ujung nya merah dan perih,
    sampai akhirnya di usia 25 thn saya mendengar ada dokter yang bisa menyunatkan dewasa, jadi saya pergi kedokter itu dan minta sunat,
    yang lucu waktu nunggu sunat saya di suruh buka celana dan baring diranjang muka saya ditutup supaya gak malu kali, terus susternya masuk begitu dia lihat ada pasien yang mo sunat di a siap siap, terus saya denger dia omong ama temen nya , ini ka udah sunat ko mau sunat lagi, dokter jawab belum tuh , jadi memang kulup saya menggulung kebelakang dan gland penis sudah terbuka bersih persis seperti sudah sunat.
    lalu rambut kemaluan di gunting dan suntik anastesi, terus ujung kulup di tarik dan di tandai, dokter bilang ini yang dipotong, gak terasa loh di potong cuma terasa di pegang pegang, dan dokter bilang sdh tinggal jahit,
    gak lama sdh selesai dan dokter bilang sdh beres saya lihat yan sudah beres dan di perban, terus bisa pakai celana dan jalan jalan, tiga hari kemudian sdh bisa naik motor , dan 7 hari setelah suant buka jahitan dan bekasnya di kasih betadine.
    Salut deh untuk dokternya. jadi sunat gak sakit.
    Saya cerita keteman yang sama suant dewasa karean mualaf, dia bilang habis sunat rasa nya di ujung gland penis terangsang terus karena gesekan ama celana, saya sih tidak karena dari kecil sdh terbiasa gland penis terbuka.

    Menjadi pertanyaan apakah gland penis yang terbuka dan ter gulung kebelakang sam seperti sunat ?.

  56. Assalamualaikum Bu Agnes…
    Bu aku ni mahasiswa bidan lagi mo TA..n lagi pusing-pusingnya nyari kasus.
    Bu,indah mo nanya nih..kira-kira bu Agnes mengkoleksi ato punya buku tentang sunat pada perempuan g?
    soale mo ambil kasus sunat perempuan…tapi nyari toko buku ato di perpus kok jarang ya buku tentng sunat perempuan??
    kalo misalny bu Agnes punya referensi indah boleh minta g?(yang pasti bukan minta bukunya lhooo)cum referensinya…nanti kalo bu Agnes ada bisa dikirm lewat email ini yah!!!thank banget,,,sekalian mo nanya efek sunat prempuan dilihat dari segi kesehatan tu apa aja seh??yang saya tahu cuma bisa menyebabkan infeksi n gairahnya berkurang…emang bener ya?

  57. September 25th, 2006 at 7:38 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Wa’alaikumsalam indah,

    Udah baca komen-komen sebelumnya tentang sunat perempuan? Moga-moga udah ya. Masalah ini memang jadi pro dan kontra sejak lama, bahkan walau depkes udah mengatakan bahwa sunat perempuan nggak boleh lagi, disertai dukungan ulama ahli fiqh, tetep aja aliran fiqh yang lain ga sepakat. Jadi selamat memilih yaa mau ikut yang mana. Kalau aku pribadi, aku sepakat sama WHO dll, jadi aku tidak menganjurkan sunat untuk perempuan. Kemaren di milis sehat ada penjelasan dokter wati dan detik soal ini. AKu copi di bawah yaa… semoga membantu…

    Ini petikan keterangan dari dokter Wati SpAK tentang berita dibawahnya:

    “Jadi ini merupakan hasil penelitian timnasoinal dibantu beberapa organisasi internasional seperti WHO, Unicef.

    Ada beberapa isu hasil temuan yang akan direkomendasikan ke pemerintah …antara lain soal sunat perempuan. Khusus soal sunat perempuan … DirJen BinKesMas DepKes RI sudah mengeluarkan Surat Edaran tentang L:arangan Medikalisasi Sunat perempuan bagi Petugas Kesehatan Nomor HK.00.07.1.3.1047a; 20 April 2006

    Kajian ilmiahnya bisa dibaca buku Dr Ahmad Lutfi Fathullah MA … Fiqh
    Khitan Perempuan. Di lain sisi, hasil temuan menunjukkan juga bahwa khitan pada perempuan lebih bersifat tradisi.

    Sunat Perempuan Timbulkan Komplikasi & Psikoseksual

    Ramdhan Muhaimin – detikcom

    Jakarta – Sunat umumnya dialami oleh perempuan sejak bayi hingga usia 9
    tahun. Sunat menimbulkan komplikasi dari pendarahan hingga kemandulan
    disfungsi seksual. Tidak hanya itu, sunat bisa menyebabkan trauma seksual.

    Demikian yang mengemuka dalam acara lokakarya bertajuk “Menggunakan HAM
    untuk kesehatan maternal dan neonatal” di Ruang Leimena, Departemen
    Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat
    (22/9/2006).

    Komplikasi jangka pendek akibat medikalisasi sunat perempuan adalah
    pendarahan, infeksi yang bisa menimbulkan septikemia, penyakit tetanus dan
    luka membusuk.

    Komplikasi jangka panjang adalah kesulitan menstruasi, infeksi saluran
    kemih, radang panggul kronis, kemandulan disfungsi seksual, kesulitan saat
    hamil dan bersalin dan risiko tertular HIV.

    Sunat juga mengakibatkan psikoseksual pada perempuan seperti nyeri saat
    berhubungan intim dan mengurangi kenikmatan seksual, ketakutan, depresi, dan
    konflik dalam perkawinan.(aan/sss)

    Source :
    http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/22/tim
    e/133950/idnews/680949/idkanal/10

  58. September 25th, 2006 at 7:45 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Hai giri, thanks banget ya buat sharingnya :-)

    Soal pertanyaannya, saya nggak bisa jawab dengan pasti karena saya nggak liat kondisinya :-). Tapi secara umum, tampaknya tetep beda, karena kalau sunat, ujung kulit dipotong hingga preputium (lekukan di daerah pangkal penis) disana biasanya banyak smegma (semacam ‘kotoran’ berwarna putih), dan smegma ini yang biasanya dibersihkan. Dan tujuan sunat salah satunya untuk membersihkan smegma tersebut.

    Smoga membantu yaa :-)

  59. banyak yang suka cerita tentang sunat ya mbak.
    bikin sunatan masal aja mbak.
    hehehehehehe

  60. October 16th, 2006 at 6:28 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    hehehe iya Wan, nggak ngerti nih kenapa pada suka cerita soal sunat, disini mah ga boleh Wan bikin sunatan masal :-)

  61. PBNU: Larangan Sunat Perempuan tak Benar

    Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan, larangan pemerintah soal sunat bagi perempuan karena dianggap membahayakan, tidak benar.

    “Ada tiga pendapat tentang sunat perempuan, pertama wajib, kedua sunnah dan paling rendah adalah memuliakan, tak ada yang sampai melarangnya,” ujar Ma’ruf Ma’ruf di Jakarta, Kamis (5/10).

    Menurutnya, sunat perempuan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang harus dilaksanakan, bukan malah dilarang.

    Hal serupa disampaikan Wakil Ketua Lembaga Pelayanan Kesehatan NU, dr Bina Suhendra. “Kalau nabi sudah mensunnahkan, berarti tujuannya baik. Jika permasalahannya dalam teknik penyunatan, ajari dong mereka cara menyunat dengan benar, jangan melarang sunatnya,” katanya.

    Sebelumnya, pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan (Depkes) menghimbau agar bidan atau dokter tidak melakukan khitan terhadap perempuan. “Bagaimanapun caranya, sunat perempuan sangat berbahaya karena targetnya memotong klitoris,” kata Direktur Bina Kesehatan Ibu dan Anak Depkes Siti Hermianti.

    Menurut pemerintah, berdasarkan penelitian yang diselenggarakan di daerah-daerah, ditemukan praktik sunat yang berlebihan sehingga dikhawatirkan akan membawa dampak negatif seperti kesulitan menstruasi, infeksi saluran kemih kronis, disfungsi seksual, dan peningkatan resiko tertular HIV/AIDS. (dina)

  62. October 16th, 2006 at 2:48 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Mbak Narti makasih sharingnya. Iya mbak masalah ini memang pro kons dikalangan manapun. PBNU bilang begitu tapi ada ulama lain yang membuat buku tentang lemahnya hadits sunah pada perempuan. Ada bukunya, tapi saya harus cari di arsip dulu judul bukunya.

    Yang jelas kalo dari segi kesehatan, yg paling sederhana dikhawatirkan dari tindakan sunat (walopun hanya sedikit menggores) adalah terjadinya keloid. Bakat keloid kan nggak pernah ada yang tau, nah kalo gara-gara digores sedikit aja ternyata timbul keloid di klitorisnya, kan madesu ya si baby :-)

    Akhirnya segala keputusan ada pada pilihan masing-masing mbak…biasalah..hidup memang penuh pro dan kontra karena hidup memang terdiri dari serangkaian pilihan kan. Selamat memilih :-)

  63. Penelitian di Enam Kota, 90 Persen Perempuan Dikhitan

    Laporan Wartawan Kompas R Adhi Kusumaputra

    DEPOK, KOMPAS – Penelitian yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan di enam kota di Indonesia menyebutkan 90 persen perempuan dikhitan atau disunat karena agama dan tradisi. Untuk itulah Departemen Kesehatan diminta untuk tidak melarang perempuan disunat.

    Dokter Tubagus Rachmat Sentika SpA MARS dari Satgas Perlindungan Anak kepada Kompas, Kamis (28/9), mengungkapkan kota-kota yang diteliti itu adalah Padang, Serang, Bandung, Sumenep, Makassar, dan Kutai Kartanegara.

    Rachmat Sentika yang mendampingi Staf Ahli Agama Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Prof Dr Zaitunah Subhan, itu menjelaskan pula, dalam rapat di kantor Majelis Ulama Indonesia di Istiqlal, Kamis siang, dihasilkan bahwa MUI meminta Depkes untuk tidak melarang sunat perempuan, tetapi melatih tenaga medis yang terampil. Rapat itu dipimpin KH Maaruf Amin.

    “Persoalannya adalahnya banyaknya sunat perempuan yang klitorisnya terpotong. MUI setuju yang dipotong itu dilarang, sedangkan sunat secara umum pada perempuan dengan membuka selaputnya tidak boleh dilarang. Cobalah latih tenaga medisnya agar masyarakat tidak menggunakan tenaga dukun, seperti yang terjadi di lapangan selama ini,” jelas Rachmat Sentika.

    Kompas 28 September 2006

    https://www.kompas.com/ver1/Keluarga/0609/28/185156.htm

  64. Assw.

    Makasih Mbak Agnes. Memang masih kontroversi ya.

    Mbak Agnes bisa tolong jelaskan apakah masud dokter PBNU dengan sunat yg benar ?? kalo nggak salah membuang selaput klitoris begitu ???

    Omong2 soal keloid, gimana ya kalo cowok ??? Kan lelaki wajib khitan. Kalo terjadi keloid apakah akan mengurangi kenikmatan seksualnya ??

    Terima kasih. Wassalm

  65. Berikut ini saya kutip dari sebuah milis :

    Memang selama ini khitan perempuan banyak mendapat tekanan dan
    sorotan negatif dari WHO, UNICEF, dan kaum feminis karena praktek
    pemotongan klitoris yg dilakukan di Afrika.

    Di Indonesia sendiri praktek khitan pada wanita sering kali salah
    dalam tekniknya karena cuma dilakukan secara simbolis dengan sedikit
    menggores klitoris samapi berdarah, yang pada dasarnya sama saja
    dengan tidak khitan. Untungnya praktek ini juga sama sekali tidak
    merugikan wanita seperti praktek khitan di Afrika.

    Jika dilakukan secara benar, yaitu dengan menghilangkan kulit penutup
    klitoris ( preputium clitoris )khitan justru sangat bermanfaat bagi
    wanita ybs karena klitorisnya yg terbuka menjadi mudah dibersihkan
    dan mudah menerima rangsanagan. Wanita yg belum dikhitan secara benar
    di bagian klitorisnya banyak terdapat kotoran putih yg disebut
    smegma, sama seperti kemaluan laki2 yg belum dikhitan.

    Di negara2 barat khitan perempuan semacam ini bahkan mulai populer.
    Dari mana saya tahu ? Karena saya pernah kuliah di AS. Di sana
    klinik2 kesehatan seksual secara gencar mengiklankan clitoral hood
    removal ( membuang kulit penutup klitoris ), sama seperti klinik2
    mata di Indonesia gencar mengiklankan LASIK. Mereka tidak menggunakan
    isltilah circumcision ( sunat / khitan ) karena istilah tsb sudah
    telanjur diasosiasikan dengan praktek pemotongan klitoris di Afrika.

    Semoga informasi ini bermanfaat untuk kaum wanita, terutama muslimah
    karena dalam Islam memang khitan wanita hukumnya sunnah. Apalagi jika
    dilakukan secara benar malah bermanfaat.

  66. October 17th, 2006 at 10:22 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Iya mbak memang kontroversi, lama-lama saya capek jg nih jwb pertanyan soal ini hehe. Jadi tergantung kita memandang mau pilih yg mana, kita saling menghargai aja deh ya.

    Tentang sunat yg benar menurut PBNU saya jg nggak ngerti mbak, mereka kan yg keluarkan statement, sebaiknya mbak tanya sama pihak mereka aja ya :-)

    Kalo saya sih dgn latar belakang saya dan ilmu yg saya ketahui saat ini (sangat mungkin untuk berubah krn ilmu dan penelitian berkembang demikian cepat), lebih baik menghindari sesuatu yg ga ada manfaatnya (lebih jelasnya mbak silahkan baca2 diskusi saya sebelulmnya soal ini dgn yg lain, kayaknya saya udah banyak tulis sebelumnya :-).

    Kalo menurut yg laen manfaatnya banyak ya monggo aja dianut silahkan, kan ilmu Allah jg luas ya. Karena sy berusaha profesional, mengikuti aturan kedokteran yg berlaku, yg saya pegang adalah bukti-bukti penelitian ilmiah.Kalo suatu saat di Indonesia dilakukan penelitian dan terbukti bahwa sunat pada perempuan memang bermanfaat dan sangat dianjurkan, dan tipe nya dipilih yg benar, saya juga pasti akan manut. Tapi kalo berdasarkan testimoni, banyak bgt yg bisa melakukannya mbak, saya ga percaya gitu aja, dan sangat hati2 dlm hal ini. Jadi kalo bicara ilmiah, penelitian harus jelas metoda ilmiah dll nya, makanya hasilnya harus bisa dipertanggungjawabkan krn akan dijadikan acuan banyak orang.

    Soal di Indonesia yg 90 % melakukan sunat, mungkin kebanyakan simbollik, bisa dilakukan penelitian lagi lebih lanjut berapa persen yg simbolik, dan simbolik jelas ga berbahaya. Sunat dengan menggores sedikit pun barangkali tidak berbahaya, walaupun ini jg perlu diteliti lebih lanjut. Tp sekali lagi kalo saya pribadi melihat ga ada manfaatnya (berdasarkan literatur yg saya baca) kalo ada sebagian kalangan yg bilang banyak manfaatnya sekali lagi monggo aja mbak, silahkan.

    Ini di kompas jg ada berita soal yg bahwa hadis sunat pada wanita meragukan :

    “Sebersit angin segar bertiup ketika Menteri Kesehatan melarang sunat perempuan karena alasan kesehatan. Namun, angin segar itu ternyata tidak berembus lama. Dengan sigap seorang tokoh agama menyanggah dengan alasan itu disunatkan dalam hadis.

    Barangkali hadis yang dimaksud adalah riwayat Abu Dawud dari Umi Atiyyah al-Ansariyyah yang berkata, di Madinah biasanya perempuan disunat. Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya, “Jangan dipotong terlalu banyak karena itu lebih baik bagi perempuan dan lebih diinginkan suami” (Kitab 41, hadis nomor 5251).

    Hadis ini dianggap lemah oleh Abu Dawud sendiri dan diklasifikasi sebagai hadis mursal, yaitu hadis yang kehilangan mata rantai riwayat karena tidak ditemukan di antara para sahabat Nabi. Selain itu, hadis ini hanya ada dalam Abu Dawud dan tidak ada dalam kompilasi hadis terkemuka lainnya.

    Oleh banyak kalangan Muslim, hadis ini dianggap rendah kredibilitasnya. Sayyid Sabiq, penulis kitab Fiqh-us-Sunnah, menyatakan semua hadis berkaitan dengan sunat perempuan tidak otentik. Muhammad Sayyid Tantawi, Syaikh Besar Al-Azhar di Mesir, mengatakan praktik sunat perempuan ini bukan Islami. Praktik ini dilarang Menteri Kesehatan Mesir pada tahun 1996.” http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0610/16/swara/3025326.htm

    Soal sunat laki-laki perkaranya lain lagi, sudah terbukti bahwa sunat laki-laki manfaatnya sangat banyak, literatur dan penelitian ini banyak, termasuk mengurangi kasus terjadinya Aids di Afrika. Soal keloid, kalo pun ada keloid pada bekas sunat ga akan mempengaruhi fungsi sex laki-laki mbak, dia tetap bisa horni kan penis laki-laki panjang. Sedangkan perempuan klitoris kecil sekali dan , disana terdapat banyak sekali sel-sel syaraf yg bisa membuat perempuan terangsang. Kalo ada keloid menutupinya otomatis terganggu kan mbak, wong bendanya kecil banget begitu. Ini saya pake common sense aja ya, kalo mbak ada bukti penelitian ilmiah dari literatur soal ini monggo aja kalo mau dishare disini :-)

    Intinya mbak, mendingan kita ga usah memperpanjang masalah ini kali ya, krn udah jelas2 pro kons, dan masing2 punya cara pandang sendiri dan cara berpikir sendiri. Kita berdoa aja moga2 suatu saat org2 pinter dan para pejabat itu bisa dpt jalan keluar pemecahan yg bisa bikin damai dan menentramkan semua pihak. Sekali lagi makasih atas sharingnya ya mbak :-)

  67. Saya rasa larangan sunat pada wanita adalah hasil dari tekanan negara2 barat. Wanita muslimah memang sudah seharusnya dikhitan. Pihat barat sengaja ingin meracuni kaum muslim supaya tidak mempraktekkan Islam secara benar.

    Istri saya dikhitan dan kami tidak merasa ada masalah dalam hubungan suami istri. Jika nanti saya mempunyai anak perempuan pasti akan saya khitankan.

    Saya harap kaum muslim jangan terpengaruh olah propaganda pihak barat.

  68. Lagi2 Islam vs The West……

    Kalo mo sunatin anak perempuannya silakan…kan dokter sudah dilarang mengkhitan perempuan jadi silakan pergi ke Mbah Dukun !!!! Biar dibabat klitorisnya sampe habis !!!

    Nanti kalo anaknya sudah besar, sudah nikah, baru complain !!! Dosanya Anda yg tanggung….

    That’s Y orang2 Indonesia gak pinter2….dikasih tau sama yg lebih pinter malah berontak..

  69. dear Mbak Agnes.
    kenalin, saya Andra, 27 th, di Malang, baru merit. suami saya 28 th, dan belum disunat. saya ingin dia disunat. tadinya dia keberatan dengan berbagai alasan.. tetapi setelah melalui berbagai perdebatan dan rayuan, akhirnya dia bersedia. asal saya mendampinginya pada waktu dia disunat nanti. saya sih, ok saja mendampinginya waktu disunat. tetapi masalahnya, saya risi jika harus mendampinginya disunat, tetapi yang menangani dokter pria. saya akan merasa lebih nyaman jika dia ditangani dokter & perawat wanita. apakah hal ini bertentangan dengan kode etik kedokteran?mohon informasi ya, Mbak Agnes, kira2 di mana saya bisa menemui dokter wanita yang bersedia melakukan prosedur sunat tersebut pada pria dewasa dengan didampingi istrinya. barangkali Mbak Agnes ada kolega di Malang, Mbak Agnes sendiri domisili di mana? syukur2 kalau Mbak Agnes sendiri bisa membantu saya dan suami. terima kasih banyak.

  70. December 3rd, 2006 at 11:38 am
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Salam kenal juga Andra :-)

    Waah maaf banget ya, sekarang saya lagi tinggal di Groningen Belanda, jauh banget yak hehe. Dan dulu saya tinggal di bandung, jadi saya nggak familiar sama dokter-dokter di Malang. Maaf banget ya Andra saya ga bisa bantu, atau cari aja dokter bedah perempuan di Malang, kalo dokter bedah pasti jago nyunat Andra. Met hunting dokter yaa :-)

  71. Andra sendiri udah disunat belum ???

    Sekarang kan zaman nya emangsisapi…maskudnya emansipasi..jadi cewek yg menuntut cowknya harus disunat, maka cewek itu sendiri juga harus disunat donk !!!!!

  72. Kalo cewek jadi mualaf harus dikhitan nggak ??? Aku takut neh :( soalnya calonku Muslim

  73. December 17th, 2006 at 11:43 pm
    Agnes Tri Harjaningrum says:

    Halo jenny, silahkan baca diskusi2 sebelumnya, karena masalah khitan wanita ada pro dan kontra, dipersilahkan memilih sesuai keyakinan masing-masing aja. Kalo mau ikut pemerintah ya ga perlu. Semoga membantu yaa :-)

  74. Khitan pada Wanita, Jangan Ada Intervensi Pihak Lain

    15 Maret 2007 Pukul 09:27
    Proses Berkhitan pada kaum wanita, dalam literasi Islam, adalah sesuatu hal yang dianjurkan. Selain diperkuat oleh sejumlah hadis dan mazhab dari para Imam (Syafii, Hambali dan Maliki), Khitan juga dilakukan oleh keluarga Rasulullah SAW. Namun, dalam pelaksanaannya saat ini, tidak boleh ada intervensi langsung dari orang lain terhadap seorang wanita untuk berkhitan, baik itu sifatnya menyuruh maupun melarang.

    Penilaian tersebut disampaikan H Raudhatul Firdaus Lc, Direktur Syariah Consulting Center (SCC), saat menjadi narasumber dalam dialog Ibu Teladan bertema Khitan Wanita Ditinjau dari Syar’i dan Medis yang ditayang Rtv, Rabu (14/3) pagi pukul 09.00 WIB kemarin. Dalam dialog itu, Rhaudatul yang berbicara secara Syar’i, didampingi oleh dr Rita Carmelia SPA, ahli kesehatan anak, yang berbicara mengenai tinjauan medis khitan.

    Rhaudatul memaparkan, proses berkhitan sebenarnya sudah terjadi pada abad ke-16 Sebelum Masehi, dimana ditemukan mumi perempuan yang telah dikhitan. Dalam kajian Islam, katanya, anjuran berkhitan dapat ditemukan dalam sejumlah hadist dan mazhab. “Hanya saja, mazhab yang ada memberikan tetapan yang berbeda-beda, mengenai hukum berkhitan bagi wanita. “Tergantung kepada diri kita masing-masing dalam melihatnya,”ujar Raudathul.

    Secara medis, dr Rita berpandangan bahwa khitan masih dibolehkan selama proses melakukannya dikerjakan secara benar, dan tidak menimbulkan kerugian bagi yang berkhitan. “Namun jika proses khitan menimbulkan kerugian, seperti berkurangnya rangsangan sexual, seperti yang pernah terjadi di Benua Afrika, ini dapat dikatakan sebagai bentuk kejahatan dan diskriminasi terhadap perempuan,” Sebutnya.

    Ia sendiri mengaku pernah melihat proses dilakukannya khitan, dan menurutnya khitan tak lebih dari sekedar simbol atau syarat formal semata. “Sang dokter hanya menorehkan sejenis alat yang tidak begitu tajam di suatu bagian (maaf,red)) kelamin perempuan,” sebutnya. Rita menyimpulkan, khitan seperti itu masih bisa diterima, namun lain halnya jika khitan dilakukan dengan memotong klitoris dari organ kelamin. “Ini yang dilakukan di Afrika, dimana laki-laki tidak menghendaki sang wanita ikut merasakan kenikmatan saat berhubungan intim dengan pasangannya,” ujarnya.

    Dialog yang berlangsung lebih kurang satu jam ini kemarin, tak sedikit mendapat respon pemirsa. Sugeng, salah seorang penelepon, berpendapat bahwa khitan dapat dibenarkan jika membawa manfaat bagi yang melakukannya. Bahkan, diakhir dialog Raudatul juga sempat mengemukakan hasil polling di sebuah koran harian di Riau, yang menyimpulkan 83 persen sampel polling menyetujui dilakukannya khitan pada wanita. Raudatul juga berharap kepada pemerintah, sebelum mengeluarkan keputusan resmi tentang masalah ini, hendaknya dilakukan musyawarah yang melibatkan unsur agamawan.

    Dialog ini kemarin merupakan episode ketiga dialog hasil kerjasama Rtv dan Yayasan Pengembangan Potensi Muslimah (YP2M) Ibu Teladan. Acara ini akan hadir kembali dua pekan berikutnya dengan berbagai tema aktual lainnya.(rpg)

  75. Gimana dengan teman2 di Riau ??? Sayang sekali saya nggak bisa menyaksikan acara TV itu..Apakah di Riau rata2 perempuan dikhitan ??

  76. May 6th, 2007 at 1:38 pm
    Anonymous says:

    Apa Hukumnya Wanita Tidak Khitan
    Kamis, 12 Apr 07 07:48 WIB

    Kirim teman

    Ustadz yang di rahmati Allah, saya ingin tanya apa hukumnya atau dosanya kalau seorang wanita tidak sunat rasul(khitan).

    Karena saya punya teman wanita dia seorang mualaf tetapi dia tidak sunat rasul(khitan)alasanya di negara Islam lain seperti timur tengah banyak wanita Islam tidak sunat rasul(khitan)dia bilang sunat rasul hanya wajib bagi kaum laki-laki. Sedangkan untuk kaum wanita hukumnya sunat.

    Atas jawaban dan keterangan Ustadz saya mengucapkan ribuan terima kasih.

    wassalamualikum warahmatullahi wabarkatuh.

    Hamba Allah

    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Buat sebagian kalangan ulama, sunat atau khitan bagi wanita hukumnya mandub atau sunnah. Bukan merupakan sebuah kewajiban. Sehingga pernyataan teman wanita anda yang mengatakan bahwa hukumnya sunnah, memang tidak bisa disalahkan. Paling, menurut sebagian ulama.

    Kalau kita telusuri dalam kitab-kitab fiqih, kita akan temukan beberapa pendapat ulama yang mengatakan bahwa khitan itu sunnah. Misalnya mazhab Maliki, mazhab Hanafi dan Hanbali.

    Pendapat mereka ini berlandaskan kepada dalil-dalil syar’i yang memang secara tegas menyebutkan kesunnahan khitan. Misalnya hadits berikut ini

    Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW, “Khitan itu sunnah buat laki-laki dan memuliakan buat wanita.” (HR Ahmad dan Baihaqi)

    Tetapi ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa khitan itu hukumnya wajib, bukan hanya untuk laki-laki tetapi juga untuk perempuan. Kita akan menemukan di dalam kitab-kitab fiqih lainnya, misalnya fiqih As-Syafi’i semisal kitab Almajmu’ syarah Al-Muhazzab pada jilid 1 halaman 284/285.

    Hal yang sama juga akan kita temukan di dalam kitab fiqih mazhab Syafi’i lainnya, misalnya kitab Al-Muntaqa jilid 7 halaman 232.

    Kewajiban khitan juga ada di dalam mazhab Hanbali, bila kita lihatkitab Kasysyaf Al-Qanna’ jilid 1 halaman 80 dan juga kitab Al-Inshaaf jilid 1 halaman 123.

    Mereka mengatakan bahwa hukum khitan itu wajib baik baik laki-laki maupun bagi wanita. Dalil yang mereka gunakan adalah ayat Al-Quran dan sunnah:

    Kemudian kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti millah Ibrahim yang lurus (QS. An-Nahl: 23).

    Di dalam ayat ini, Allah memerintakan kita untuk mengikuti millah (ajaran) nabi Ibrahim as. Salah satunya adalah khitan.Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits nabawi yang menegaskan bahwa nabi Ibrahim as melakukan syiar agama berupa khitan.

    Dari Abi Hurairah ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersbda, �Nabi Ibrahim as. Berkhitan saat berusia 80 tahun dengan kapak. (HR Bukhari dan muslim)

    Dan juga hadits yang berbunyi,

    Potonglah rambut kufur darimu dan berkhitanlah (HR HR As-Syafi’i dalam kitab Al-Umm yang aslinya dri hadits Aisyah riwayat Muslim).

    Dan terakhir, ada juga pendapat yang mewajibkan khitan buat laki-laki, tetapi tidak wajib bagi perempuan. Pendapat ini dipengang oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, yaitu khitan itu wajib bagi laki-laki dan mulia bagi wanita tapi tidak wajib. (lihat Al-Mughni 1-85)

    Demikian perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum khitan, khususnya bagi perempuan. Semoga bermanfaat dan menambah sedikit wawasan kita tentang ilmu syariah. Amien.

    Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc

  77. May 6th, 2007 at 1:40 pm
    Anonymous says:

    Khitan bagi Wanita Muallaf

    Ibu Herlini yang dirahmati Allah, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan :
    1.Apakah perempuan dewasa non muslim yang masuk Islam, harus dikhitan dulu ? Bagaimanakah khitan wanita menurut Islam ?
    2.Apa ada dampaknya menurut agama dan medis bagi wanita yang tidak dikhitan ?
    Adinda, Bumi Allah

    Jawab :
    Adinda sholehah,
    1-Konsesus para ulama fiqih menyatakan bahwa khitan bagi laki-laki hukumnya wajib, sedangkan bagi perempuan hukumnya sunnah. Alasan mereka adalah ketika Rasulullah saw mensyariatkan khitan kepada umat Islam, beliau mengkhususkan kaum laki-laki tidak menyebutkan kaum perempuan. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa khitan lebih utama dilakukan ketika anak masih bayi, dan wajib dilaksanakan (bila masih kecil belum di khitan) menjelang baligh. 1-Seorang perempuan yang masuk Islam ketika dewasa, menurut saya tidak perlu dikhitan, disamping hukumnya sunnah tentu saja khitan laki-laki berbeda dengan perempuan dalam bentuk, hukum dan faidahnya. Karena khitan bagi perempuan hanya memotong sedikit kulit vulvanya (memotong sedikit ujung klitorisnya), dan itu sulit dilakukan bila ia telah dewasa, beda halnya khitan bagi laki-laki yang memang harus membuang atau memotong kuluf (kulit) yang menutupi kepala penisnya.

    2-Ada sebuah riwayat dari adh-Dhahhak bin Qais dalam al-Mustadrak, bahwa seorang shohabiyah bernama Ummu ‘Athiyah (yang biasa mengkhitan anak perempuan), padanya Rasulullah saw bersabda : Potong sedikit jangan banyak, karena khitan itu menjadikan wajah berseri dan membahagiakan suami. Diantara hikmah khitan bagi wanita adalah untuk menstabilkan syahwatnya, wanita yang tidak dikhitan cenderung syahwatnya kuat sehingga jiwanya tidak tenang/gelisah. Dari sisi kesehatan paling tidak khitan ini merupakan bentuk kebersihan dan kesucian (salah satu dari sunnah-sunnah fitroh yang lainnya adalah mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan lain-lainnya).

  78. wah cerita sunat ini kaya saya yang mau sunat umur 21. belom lama ini saya juga baru sunat

  79. sallam..mualaikum

    Mbak Agnes yg baik..Saya cowok 30 tahun. Pacar saya berumur 26 tahun. Seminggu lalu waktu acara khitanan keponakan saya, saya bercanda dengan pacar saya. Saya tanyakan ” kamu sudah disunat belum ? kalo belum sekalian aja” Pacar saya menjawab kalo dia tidak disunat, karena memang tidak wajib. Terus terang saya agak kaget mendengar jawaban dia, karena dalam keluarga saya, semua laki2 dan perempuan disunat, walaupun untuk perempuan hukumnya tidak wajib.

    Apakah wanita dewasa masih bisa dikhitan Mbak ?? Bagaimana caranya meyakinkan pacar saya supaya mau dikhitan ?? Apakah dokter bedah atau dokter kandungan bisa melakukan khitan pada wanita ??

    Apa bedanya wanita yg sudah khitan dengan yg belum khitan ?? Apakah manfaatnya dari segi higine ??

    Terima kasih Mbak Agnes,

    wassalam

    Hassan

  80. saya pria usia 36 tahun (non muslim tapi dari keluarga muslim), punya problem pd kemaluan saya. Kulup penis saya agak sulit dibuka karena ujungnya terlalu panjang (dlm keadaan ereksi tetap menjulur sampai kl 1 cm). Kalau dibuka sering ada zat putih spt keju, tapi sering setiap mandi selalu saya bersihkan. Saya sering diolok-olok sama tante saya “sudah tua kok belum disunat? Tante aja yag perempuan sudah sunat masak kamu nggak disunat?”. Sebenarnya saya bersedia disunat asalkan yang menyunat itu perempuan. Apakah bisa disunat ujungnya saja (jadi masih bisa ditutup sedikit)? Apa bedanya disunat bidan dgn dokter cewek? berapa lama sembuhnya? Kalo perempuan disunat umur berapa (soalnya banyak sepupu saya, yg notabene muslim tapi nggak disunat)?

  81. Bikin sunatan massal rame2 aja buat loe dan sepupu2 loe yg cewe dan belum disunat hehehehehe..

  82. Pembeatan (Khitan Untuk Wanita) Peserta Terbanyak

    H. Adhan Dambea sealku Ketua DPD Partai Golongan Karya bekerjasama dengan DPD II Partai Golkar Kota Gorontalo menyelenggarakan kegiatan sosial yaitu Pembeatan (Khitan Untuk Wanita) dengan peserta terbanyak, 262 Peserta pada waktu dan tempat yg sama. Acara penyerahan sertifikat MURI berlangsung pada tanggal 18 Juli 2007 di Gorontalo.

    http://muri-rekor.blogspot.com/2007/08/pembeatan-khitan-untuk-wanita-peserta.html

  83. Siapa yg mau ikutan khitan massal buat wanita di Gorontalo ??? bisa masuk rekor MURI lho hehehehehe :)

    Liat fotonya dech, kayaknya cewek2 Gorontalo yg dikhitan massal itu usianya sudah agak dewasa , minimal belasan tahun, ada juga yg kelihatan 20an tahun

  84. agak keluar topik bu dokter.. Mau bertanya nih saya sekarang berumur 20 thn pertama2 si saya tidak begitu tertarik dengan topik ini..tapi sekarang2 ini mulai memperhatikan status saya sendiri yang sunat waktu kelas 4 sd.. ya gara2 situs ini.. begini bu dokter.. saya perhatikan luka bekas sunat pada kelamin saya berwarna kecoklatan dan lebar apakah ini umum terjadi? terima kasih atas jawabannya

  85. OK

  86. ini saya dpt beberapa foto sunatan massal di yayasan assalam bandung mungkin untuk pengetahuan cewek yg lum disunat supaya segera sunat

    http://funtuna.blogspot.com/2008/03/female-circumcision-in-indonesia.html

  87. Mbak Agnes,
    sya mau tanya seputar kesehatan paru ni. Sebelumnya makasih uda mau baca tulisan saya ini.
    saya merasakan nafas yang agak “ngos-ngosan” walupun baru beraktifitas sebentar. saya tidak punya penyakit batuk, tetapi saya kadang kala ngeluarin dahak. kadang walu aktivitas saya tidak butuh energi banyakpun “ngos-ngosan”nya kembali muncul. kira saya sakit apa ya?apa yang harus saya lakuin ya mbak?
    Terima kasih atas sarannya. kalu bisa tlong di kirm ke email saya di rifqi_net@telkom.net

  88. October 7th, 2008 at 7:41 pm
    Leo Sugiarto says:

    Dear Mbak Agnes,

    Mungkin sebagai dokter mbak juga harus seimbang melihat khitan sebab aku mengalami hal yang kurang enak setelah khitan dan nikah, gejalanya seperti tolong lihat di homepage: http://www.sexasnatureintendedit.com/

    Wassalam
    Leo Sugiarto

  89. Kalau soal memberi privacy pada anak laki2 saat dikhitan sepertinya bisa diusahakan kalau memang berniat demikian. Contohnya saja pada khitanan massal anak perempuan yang biasa diadakan. Ditempat dilangsungkannya kegiatan itu seluruh jendela yang ada ditutup kain rapat sekali sehingga tidak ada yang bisa melihat kegiatan khitanan yang sedang berlangsung & sama sekali tidak ada laki-laki disana baik itu paramedisnya maupun pengantarnya. Harusnya khitanan massal untuk anak laki-laki juga bisa diusahakan seperti itu untuk memberi privacy yang sama seperti yang diberikan kepada anak perempuan

  90. assalamualaikum Dokter Agnes,

    Begini Bu dokter, saya akan menikah dengan seorang gadis muslim, namun ibu mertua saya yang berprofesi sebagai bidan meminta agar saya bersedia beliau sunat terlebih dahulu sebelum menikah, istri saya juga mendukung hal ini.
    saya sempat menolak halus (jujur saya takut, bu dokter) namun ibu mertua saya ngotot dan meminta terus kesediaan saya..bahkan beliau telah memberikan saya 3 sarung yang akan saya kenakan untuk saat disunat dan masa penyembuhannya.
    rencananya saya akan disunat di klinik ibu mertua saya pada jumat depan setelah sembahyang jumat, dengan didampingi calon istri saya..sedangkan selama masa penyembuhan saya akan tinggal dirumah ibu mertua saya.
    so gimana saran dari bu Dokter?..terus terang saya kebingungan nih?
    fandiherman@yahoo.com
    fandi

  91. Mbak Agnes aku mau tanya nih.Aku cwo 32 thn dan belum disunat.Saya masih takut disunat karena kulup saya kalau ditarik kebelakang masih sakit.Apakah saya bisa disunat dengan kondisi seperti ini?
    Jujur saya malu sekali dengan ejekan dari saudara perempuan yang sebaya saya karena ia tahu saya belum disunat sampai saat ini. Sedangkan ia yang perempuan justru sudah disunat.Apakah Mbak Agnes bersedia menerima praktek sunat dirumah saya dan metode apa yang dipakai mbak Agnes?

  92. saya 20 thun.saya sangat gendut,begini dok penis saya hanya 5cm dan kalo lagi ereksi hanya 10cm.saya lum sunat.apa benar dok sunat bisa buat penis jadi besar.dan unt sunat sendiri kira2 berapa biayanya dok?dokter terima sunat ke rumah dan metode apa yg dipakai dan berapa hari sembuhnya?tolong di balas ya dok.terima kasih…

  93. Dear Mbak Agnes,
    Saya 29 tahun. sampai saat ini saya belum disunat dan ketika penis ereksi kulupnya full tergulung kebelakang dengan sendirinya sehingga kepalanya menjadi terbuka sama sekali. saya jarang melihat smegma tersisa ditekukan kepala penis. saya menanyakan apakah dengan demikian kulup harus tetap dipotong? (jikalau bukan alasan agama). sewaktu remaja memang kulupnya belum semuanya full terbuka dan karena mungkin kegiatan masturbasi segelnya menjadi terbuka seutuhnya sehingga persis seperti sudah disunat (mungkin ini namanya segel keperjakaan…). apakah secara medis kita boleh minta ke dokter untuk membuka “segelnya” saja sehingga kepala penis menjadi terbuka bebas dan menjadi mudah membersihkannya tampa disunat karena terus terang kulup bagian yang sayang untuk dipotong karena sensitif terhadap rangsangan dan bagian kenikmatan dalam berhubungan seksual. Trims ya, mbak atas infonya.

  94. saya juga ada pengalaman yg ga lupa sampe skrng ku pernah nendang anunya cewek sampe cewek tu nangis and dibawa kerumah sakit tu pasti sakit bgt

  95. saya tinggal di banjarmasin kalimantan selatan..3 bulan lalu saya khitan saat usia saya 27 tahun. Terus terang saya malu tetapi karena dorongan pacar saya akhirnya saya beranikan juga. saya disunat oleh teman pacar saya yang berprofesi sebagai bidan. Seingat saya pada saat sunat kemaluan saya ereksi..tetapi tetap aja bisa disunat..cuma setelah membaca diskusi diatas saya jadi takut nih embak Agnes ..jangan2 ada masalah ..karena habis disunat saya semalaman tidak bisa tidur..nyeri sekali apalagi pas buka perbannya..apakah saya perlu memeriksakan kembali ke dokter?

  96. Wah..kok sepi!!
    udah nggak ada tanggapanya lagi nih !!

  97. sepertinya em’bak agnes memang lagi sibuk

  98. mbak Agnes lagi sibuk nyunatin yach?